Vivianne tidak tahu apakah hari itu nyata atau hanya mimpi buruk yang terlalu panjang. Bahkan saat cincin pernikahan melingkar di jari manisnya, dia masih berharap seseorang akan menghentikan semua ini-bahwa seseorang akan berteriak kalau ini hanya lelucon kejam.
Namun, ketika Kieran Lancaster menggenggam tangannya dengan erat-begitu erat hingga jari-jarinya terasa mati rasa-Vivianne sadar, ini nyata.
Dingin. Itulah yang pertama kali dia rasakan saat melihat mata suaminya. Mata yang tidak menyiratkan kebahagiaan atau kelembutan, melainkan kebencian yang membara.
Saat pendeta mengucapkan kalimat terakhir, Kieran tidak menunggu. Tanpa memandangnya, pria itu menarik tangan Vivianne dan membawanya keluar gereja. Mereka tidak melewati jalur utama, tidak ada penyambutan, tidak ada perayaan. Pernikahan ini bukan sesuatu yang patut dirayakan.
Mobil hitam menunggu di luar, pintunya terbuka. Tanpa berbicara, Kieran mendorong Vivianne masuk sebelum membanting pintu di belakang mereka.
Vivianne berusaha mengatur napas, mencoba menenangkan dirinya di dalam mobil yang kini hanya berisi dia dan Kieran. Atmosfer di dalam terasa begitu menyesakkan, seakan udara pun enggan berada di antara mereka.
Lalu, suara rendah itu terdengar.
"Kita sudah menikah. Tapi jangan pernah berpikir kalau aku akan menganggapmu sebagai istriku."
Vivianne menelan ludah. Dia sudah menduga pria itu tidak akan menyambutnya dengan tangan terbuka, tapi mendengarnya langsung dari bibir Kieran tetap terasa menusuk.
Dia berani menatapnya, meskipun suaranya terdengar lemah, "Aku tidak pernah meminta ini."
Mata Kieran berkilat. "Tapi kau menerimanya."
Vivianne terkesiap ketika Kieran tiba-tiba mendekat, membatasi ruang geraknya di dalam mobil yang sempit. Nafas pria itu hangat di kulitnya, tapi tidak ada kehangatan dalam tatapan matanya.
"Aku ingin kau mengingat satu hal, Vivianne." Suaranya rendah, seperti desisan ular yang siap memangsa. "Setiap kali kau melihat wajahku, ingatlah siapa yang kau gantikan."
Hatinya mencelos.
"Eleanor seharusnya di sini, bukan kau," lanjutnya. "Dia yang seharusnya bersamaku, dia yang seharusnya hidup. Tapi sekarang dia mati... dan kau ada di sini."
Vivianne tidak bisa menjawab.
Bagaimana dia bisa?
Dia tidak memiliki kendali atas situasi ini. Dia hanya seorang wanita yang dipaksa menikah demi menyelamatkan ayahnya. Tapi di mata Kieran, dia adalah pengganti yang tidak diinginkan.
Ketika mobil akhirnya berhenti di depan sebuah mansion megah, Kieran keluar tanpa sepatah kata pun, meninggalkannya sendirian di dalam mobil.
Vivianne menggigit bibirnya, merasakan dadanya semakin sesak.
Selamat datang di neraka.
Vivianne tahu hidupnya akan berubah setelah pernikahan ini, tapi dia tidak menyangka secepat ini.
Ketika dia akhirnya masuk ke dalam rumah megah keluarga Lancaster, dia langsung disambut oleh Evangeline Lancaster.
Wanita itu menatapnya dengan mata tajam, seakan melihat sesuatu yang hina. "Pernikahan sudah selesai. Sekarang, kau tahu apa yang harus kau lakukan, kan?"
Vivianne mengernyit. "Apa maksud Anda?"
"Diam." Evangeline mendekatinya, suaranya penuh perintah. "Kau akan menjadi istri Kieran hanya di atas kertas. Kau akan menutup mulut dan melakukan apa yang diperintahkan. Jangan berani-berani menuntut apa pun, apalagi berpikir untuk mendapatkan tempat di keluarga ini."
Vivianne mengepalkan tangannya. "Aku tidak pernah meminta semua ini."
Evangeline mencibir. "Tapi kau tidak menolaknya, kan? Kau menerima peran ini."
Vivianne menahan napas. Dia ingin membantah, ingin berteriak bahwa dia tidak punya pilihan. Tapi untuk apa? Wanita ini tidak akan peduli.
"Mulai sekarang, kau tidak lebih dari bayangan di rumah ini," kata Evangeline. "Jangan pernah berharap mendapatkan tempat di hati Kieran."
Vivianne mengangkat dagunya, meskipun hatinya bergetar. "Aku tidak mengharapkan apa pun darinya."
Senyum dingin muncul di wajah Evangeline. "Bagus."
Setelah itu, wanita itu berbalik, meninggalkannya sendirian di aula luas yang dingin.
Vivianne akhirnya sadar bahwa dia benar-benar sendirian.
Malam pertama mereka tidak seperti dongeng.
Vivianne berdiri di dalam kamar pengantin yang besar dan mewah, tapi terasa begitu dingin dan asing. Kieran ada di sana, berdiri di depan jendela dengan segelas anggur di tangannya.
Suasana hening.
"Tempat tidur itu milik Eleanor," suara Kieran akhirnya terdengar. "Jangan sentuh apa pun."
Vivianne mengertakkan giginya.
"Baik," katanya pelan.
Dia melangkah ke arah sofa panjang di sudut ruangan. Jika pria itu tidak ingin berbagi tempat tidur, dia tidak keberatan.
Tapi baru saja dia akan duduk, suara dingin Kieran menghentikannya.
"Kau tidur di lantai."
Vivianne membeku. "Apa?"
Kieran berbalik, menatapnya dengan ekspresi yang nyaris penuh hinaan. "Kau pikir aku akan membiarkanmu tidur di sofa? Kau tidak pantas mendapatkan kenyamanan di rumah ini."
Vivianne menatapnya, berusaha mencari sedikit belas kasihan di wajah pria itu. Tapi tidak ada.
Dia tidak punya pilihan.
Dengan hati yang berat, dia turun ke lantai yang dingin, membiarkan dirinya berbaring di atas permadani tebal.
Kieran menghabiskan anggurnya, lalu berjalan menuju tempat tidur besar di sudut ruangan. Tanpa melihatnya lagi, pria itu mematikan lampu dan membiarkan mereka tenggelam dalam kegelapan.
Vivianne menutup matanya, mencoba mengabaikan dinginnya lantai di bawahnya.
Air matanya jatuh tanpa suara.
Hari-hari berlalu, tapi kebencian Kieran tidak pernah pudar.
Pria itu tidak pernah berbicara padanya kecuali untuk memberikan perintah. Dia tidak pernah menyentuhnya, kecuali untuk menyakitinya dengan kata-kata tajam.
Jika mereka bertemu di rumah, Kieran selalu memastikan untuk mengingatkannya bahwa dia bukan siapa-siapa.
"Jangan sentuh barang-barang Eleanor."
"Jangan duduk di tempat ini."
"Jangan berpikir kalau kau bisa mendapatkan apa pun dariku."
Vivianne menahan semua itu. Dia tahu ini akan terjadi, tapi tetap saja, rasanya menyakitkan.
Namun, ada satu hal yang tidak dia duga.
Tatapan orang-orang di sekitar mereka.
Pelayan di rumah Lancaster selalu memandangnya dengan penuh hinaan. Para tamu yang datang selalu berbisik di belakangnya.
"Dia bukan siapa-siapa."
"Dia cuma pengganti."
Vivianne berusaha mengabaikan mereka, tapi kata-kata itu terus menusuk hatinya.
Suatu malam, ketika dia baru saja masuk ke dalam kamar, dia mendengar suara tawa.
Pintu kamar mandi terbuka, dan seorang wanita keluar.
Vivianne membeku.
Wanita itu-berambut pirang dengan gaun sutra merah-tersenyum penuh kemenangan. Dia berjalan ke arah Kieran, lalu menempelkan bibirnya ke pipi pria itu.
"Aku akan menunggumu besok, sayang."
Setelah itu, wanita itu berlalu, meninggalkan Vivianne yang masih berdiri terpaku.
Kieran hanya menatapnya sekilas sebelum berkata, "Jangan tatap aku seperti itu. Aku tidak pernah berjanji akan setia padamu."
Vivianne mengepalkan tangannya.
Hatinya sakit. Dia tahu Kieran tidak pernah menganggapnya sebagai istri, tapi melihatnya membawa wanita lain ke rumah mereka?
Kieran berjalan mendekat, menatapnya dengan mata penuh penghinaan.
"Apa? Kau cemburu?"
Vivianne menegakkan punggungnya, berusaha menyembunyikan rasa sakitnya.
"Tidak," katanya dengan suara bergetar. "Aku tidak peduli."
Kieran mencibir. "Bagus. Karena aku tidak akan pernah mencintaimu."
Vivianne menatapnya, lalu berkata pelan, "Aku tidak butuh cintamu, Kieran. Aku hanya ingin bertahan hidup."
Kieran tertawa kecil, tapi tatapannya tetap dingin.
"Kalau begitu, bertahanlah. Karena aku tidak akan membuatnya mudah untukmu."
Vivianne tidak tahu berapa lama dia bisa bertahan dalam pernikahan ini. Setiap hari terasa seperti hukuman. Setiap langkah yang dia ambil di rumah megah itu seakan dihitung, setiap napasnya terasa diawasi.
Kieran Lancaster tidak pernah melewatkan satu kesempatan pun untuk menyakitinya-baik dengan kata-kata maupun dengan tindakan. Dan yang lebih menyakitkan lagi, pria itu tidak pernah menyentuhnya seperti seorang suami.
Tidak.
Kieran lebih memilih menghabiskan malamnya dengan wanita lain, membawa mereka masuk dan keluar dari rumah mereka seakan keberadaan Vivianne tidak berarti apa-apa.
Suatu malam, Vivianne duduk di sudut ruangan, mendengarkan suara tawa dari lantai bawah.
Lagi.
Seorang wanita lain.
Dia tidak ingin tahu siapa. Tidak ingin melihat wajah siapa kali ini yang dibawa Kieran ke dalam rumah ini.
Namun, ketika langkah kaki terdengar menaiki tangga dan suara lembut seorang wanita bergema di lorong, Vivianne mendapati dirinya berdiri.
Hanya untuk melihat.
Pintu kamar mereka terbuka, dan di sanalah Kieran, dengan seorang wanita berambut merah menempel di lengannya, tertawa dengan suara manja.
Lalu mata pria itu bertemu dengan matanya.
Sejenak, keheningan menyelimuti ruangan.
Tapi kemudian, sudut bibir Kieran terangkat dalam senyum yang sangat menghina.
"Kau masih terjaga?" katanya santai. "Menungguku, sayang?"
Vivianne menggigit bibirnya. Dia tidak ingin menjawab, tidak ingin memberikan Kieran kepuasan melihatnya terluka.
Tapi wanita di sampingnya justru tertawa.
"Astaga, jadi dia benar-benar ada?" gumamnya, menatap Vivianne dari kepala hingga kaki dengan tatapan meremehkan.
Kieran hanya tersenyum. "Oh, jangan pedulikan dia."
Vivianne mengatupkan tangannya erat-erat.
Dingin.
Rumah ini sangat dingin.
Wanita itu tertawa lagi, lalu menarik Kieran ke dalam kamar.
Mereka tidak menutup pintu.
Vivianne memalingkan wajahnya, berjalan menjauh sebelum dia benar-benar muntah karena mual yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Hatinya mencelos.
Dia sudah tahu bahwa Kieran tidak menganggapnya sebagai istri. Tapi ini...
Ini terlalu kejam.
Hari berikutnya, Vivianne memutuskan untuk meninggalkan rumah itu.
Bukan untuk pergi sepenuhnya-dia tidak bisa, tidak dengan ancaman yang menggantung di atas kepalanya.
Tapi dia butuh udara. Butuh melarikan diri dari semua ini meskipun hanya sebentar.
Dia keluar tanpa mengatakan apa pun. Tanpa pengawal, tanpa mobil mewah. Hanya dia sendiri, berjalan tanpa tujuan di tengah kota.
Orang-orang berlalu-lalang di sekelilingnya, kehidupan berjalan seperti biasa. Tidak ada yang tahu bahwa wanita yang berdiri di sana sedang tenggelam dalam pernikahan tanpa cinta, terjebak dalam kehidupan yang tidak pernah dia pilih.
Dia terus berjalan sampai menemukan sebuah taman kecil yang sepi. Dengan napas gemetar, dia duduk di bangku kayu, membiarkan angin sore menerpa wajahnya.
Lalu, tanpa bisa ditahan, air matanya jatuh.
Dia tidak pernah menangis di depan Kieran. Tidak pernah membiarkan pria itu melihatnya lemah.
Tapi di sini, sendirian...
Vivianne akhirnya menangis.
Dia tidak tahu berapa lama dia duduk di sana, terisak dalam diam. Yang dia tahu, langit semakin gelap.
Dan tiba-tiba-
Sebuah tangan mencengkram pergelangan tangannya.
Vivianne tersentak, mendongak dengan mata membelalak.
Kieran berdiri di depannya, tatapannya hitam seperti badai.
"Apa yang kau lakukan di sini?" suaranya dingin, penuh kemarahan yang ditahan.
Vivianne menelan ludah. "Aku hanya ingin-"
"Pergi tanpa izin?" Kieran memotongnya, mencengkeram tangannya lebih erat hingga nyeri menjalar ke tulangnya.
"Aku hanya ingin udara segar."
"Kau istriku, Vivianne."
Vivianne menatapnya. "Benarkah? Aku pikir aku bukan siapa-siapa bagimu."
Tatapan Kieran semakin tajam. "Aku tidak peduli seberapa buruk aku memperlakukanmu. Tapi aku tidak akan membiarkan dunia melihat bahwa istriku berjalan sendirian seperti gelandangan."
Vivianne tertawa sinis. "Oh, jadi sekarang kau peduli dengan citramu?"
Kieran menegang.
"Ayo pulang."
Vivianne menggeleng. "Tidak."
Dia tidak ingin kembali. Tidak ingin lagi masuk ke rumah itu hanya untuk melihat wanita lain keluar dari kamar mereka.
Mata Kieran berkilat. "Aku tidak sedang memberimu pilihan."
Sebelum Vivianne bisa bereaksi, Kieran menariknya berdiri dan menyeretnya menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan.
"Lepaskan aku!" Vivianne meronta, tapi cengkeraman Kieran seperti baja.
Tanpa basa-basi, pria itu mendorongnya masuk ke dalam mobil, menutup pintu, dan melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi.
Selama perjalanan, mereka tidak berbicara.
Tapi atmosfer di dalam mobil begitu pekat dengan kemarahan yang tidak tersampaikan.
Vivianne menatap keluar jendela, mencoba mengatur napasnya.
Ketika mereka sampai di rumah, Kieran tidak berkata apa pun. Hanya membuka pintu dan menatapnya tajam, memberi isyarat untuk keluar.
Vivianne menggigit bibirnya sebelum akhirnya keluar dari mobil, berjalan melewati pintu masuk tanpa melihat ke belakang.
Tapi sebelum dia bisa menaiki tangga menuju kamar mereka, suara Kieran menghentikannya.
"Vivianne."
Dia berbalik, jantungnya berdegup kencang.
Kieran berdiri di sana, wajahnya dingin tapi matanya menyimpan sesuatu yang gelap.
Lalu dia berkata dengan suara pelan tapi tajam, "Jangan pernah mencoba lari lagi."
Vivianne merasakan tubuhnya membeku.
"Karena jika kau melakukannya..." Kieran berjalan mendekat, suaranya nyaris seperti bisikan. "Aku akan memastikan bahwa kau tidak akan punya tempat untuk kembali."
Vivianne menahan napas.
Ancaman itu tidak perlu dijelaskan lebih lanjut.
Dia tahu persis apa yang dimaksud Kieran.
Ini bukan hanya tentang dirinya.
Ini tentang ayahnya.
Tiba-tiba, dia merasa seolah udara telah dihisap dari paru-parunya.
Dia tidak bisa lari.
Tidak bisa meninggalkan semuanya.
Karena jika dia melakukannya, ayahnya akan membayar harganya.
Vivianne mengepalkan tangannya, lalu mengangkat dagunya, menatap Kieran dengan penuh kebencian.
"Aku tidak akan lari," katanya pelan. "Bukan karena ancamanmu. Tapi karena aku ingin melihat sampai sejauh mana kau bisa menyiksa dirimu sendiri dengan kebencian ini."
Kieran terdiam, matanya berkilat dengan emosi yang tidak bisa dijelaskan.
Tapi kemudian, dia tersenyum.
Senyuman yang tidak membawa kehangatan sama sekali.
"Kita lihat saja," katanya sebelum berbalik pergi.
Vivianne berdiri di sana, dadanya naik turun dengan emosi yang tidak bisa dia kendalikan.
Malam itu, dia sadar satu hal.
Dia tidak akan pernah bisa melarikan diri dari neraka ini.
Dan lebih dari itu...
Kieran Lancaster akan memastikan bahwa neraka ini hanya akan semakin membakar dirinya.