Bab 2

Malam menyelimuti desa dengan sunyi yang mencekam. Di langit, bulan tertutup mendung tipis, hanya menyisakan cahaya pucat yang tak mampu menghangatkan. Angin malam menusuk kulit, membawa serta bisikan ketakutan yang tak terlihat.

Bella berdiri di balik pintu rumahnya yang reyot, mengenakan jaket lusuh milik ayahnya dan membawa tas ransel kecil berisi dua potong baju, satu pasang sandal cadangan, dan sedikit makanan kering. Di tangannya yang bergetar, terselip amplop berisi sisa uang dari hasil penjualan motor Chiko. Uang itu tak banyak, tapi cukup untuk satu tiket kereta ekonomi dan harapan baru.

Dari balik jendela, Bella menatap ayahnya yang tertidur pulas di dipan, napasnya berat karena mabuk. Sang ibu duduk di pojok dapur, memandangi putrinya dengan mata sembab, seolah tak mampu menahan segala beban yang menimpa keluarga mereka.

"Ma... aku pergi," bisik Bella, suaranya tercekat.

Ibu mengangguk perlahan, lalu berdiri dan memeluk Bella erat. Tak ada kata-kata yang diucapkan, hanya pelukan dan air mata yang cukup untuk mewakili perpisahan.

Di luar, Chiko sudah menunggu dengan motor pinjaman. Jaketnya lusuh, ransel di punggung dan helm cadangan tergantung di setang. Tatapannya tegang tapi penuh tekad.

"Cepat," katanya singkat begitu melihat Bella keluar.

Bella melompat ke atas motor dan memeluk pinggang Chiko dari belakang. Tangannya gemetar, tapi ia tak berkata apa pun. Ini bukan saatnya ragu. Ini tentang menyelamatkan dirinya sendiri. Tentang memperjuangkan hidup yang lebih dari sekadar takdir muram di bawah ancaman lelaki keparat bernama Tuan Jo.

Mereka melaju dalam gelap, melewati jalanan desa yang berkelok dan sunyi. Suara jangkrik berpadu dengan deru motor tua, menjadi simfoni perpisahan antara Bella dan dunia kecil yang telah lama mengekangnya.

Di perempatan terakhir sebelum menuju stasiun, Chiko berhenti sejenak. Ia menoleh ke belakang, menatap wajah Bella yang setengah tersembunyi di balik helm.

"Aku bakal kangen kamu," ucapnya pelan.

Bella menarik napas panjang. "Aku juga... Tapi aku harus pergi. Kalau aku tetap di sini, hidupku habis."

Chiko mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Jaga dirimu, ya? Di kota banyak orang jahat. Jangan mudah percaya siapa pun."

"Termasuk cowok?" Bella mencoba tersenyum.

Chiko tertawa pendek, lalu menggenggam tangan Bella. "Termasuk cowok. Kecuali aku."

Motor kembali melaju, kali ini lebih cepat. Menembus angin, menembus kecemasan yang menggumpal di dada mereka berdua. Hingga akhirnya, lampu-lampu stasiun kota kecil itu mulai terlihat dari kejauhan.

Stasiun tampak lengang. Jam menunjukkan pukul 03.45 dini hari. Tak banyak orang yang berlalu-lalang. Beberapa penumpang duduk terkantuk-kantuk di kursi tunggu, membawa koper atau buntalan kain. Kereta ekonomi ke Jakarta dijadwalkan berangkat pukul 04.10.

Bella berdiri di dekat peron, menggenggam tiket kereta dengan tangan gemetar. Chiko berdiri di belakangnya, tak berkata-kata. Saat pengumuman keberangkatan mulai terdengar dari pengeras suara, suasana makin menyesakkan.

"Waktunya," gumam Chiko.

Bella menoleh. Mereka saling berpandangan.

"Kalau kamu udah dapat kerjaan... kabarin aku," pinta Chiko. "Aku janji, aku akan kejar kamu. Aku akan lulus jadi tentara. Kita nikah, Bella."

Bella menggigit bibir bawahnya. "Aku percaya kamu."

Kereta berhenti dengan derit besi yang panjang. Bella memeluk Chiko untuk terakhir kalinya, pelukan yang lama dan erat, seolah mereka tak ingin melepaskan.

"Aku pergi, Chik..."

"Jangan lupa aku."

Kereta mulai bergerak. Bella naik dengan langkah tergesa, menoleh ke arah Chiko yang masih berdiri di ujung peron. Lelaki itu melambaikan tangan, dan Bella membalas dengan senyum penuh air mata.

Pintu menutup. Dunia di luar menjauh.

Dan Bella... resmi melarikan diri dari neraka kecilnya.

Di dalam kereta, Bella duduk di bangku keras kelas ekonomi, memandangi jendela gelap. Di luar, pepohonan dan rumah-rumah mulai tertinggal. Masa lalunya juga. Tapi entah kenapa, hatinya justru semakin berat.

Ia tak tahu apa yang menantinya di kota. Ia hanya tahu satu hal: ia harus bertahan hidup.

Dengan atau tanpa cinta.

Dengan atau tanpa keluarga.

Dengan atau tanpa dirinya yang lama.

Kereta terus melaju, berganti menjadi bus ekonomi saat Bella turun di stasiun transit dan mencari tumpangan menuju pusat kota. Hari mulai terang, namun langit tetap kelabu. Seperti suasana hatinya yang penuh kekhawatiran dan was-was. Ia baru saja melarikan diri dari satu bahaya, kini melangkah ke dunia yang sama sekali asing.

Bella duduk di bangku tengah, merapat ke jendela. Ransel kecilnya dipeluk erat, satu-satunya yang ia punya kini. Bus perlahan terisi. Udara pengap dan suara deru mesin membuat matanya berat. Tapi ia berusaha tetap terjaga.

Seseorang duduk di sampingnya. Seorang pria berkemeja lengan panjang, tampak rapi dan cukup berumur, mungkin awal empat puluhan. Wajahnya terlihat ramah. Senyumnya hangat.

"Kamu sendiri aja, Dek?" tanyanya, suaranya lembut.

Bella mengangguk singkat tanpa menoleh. Ia tak ingin memulai percakapan. Namun pria itu terus mencoba.

"Kamu dari desa ya? Kota ini keras, harus hati-hati. Banyak orang jahat."

"Ya," jawab Bella pelan.

"Kalau butuh bantuan, Om tinggal nggak jauh dari sini. Bisa bantu cariin tempat tinggal. Atau kerja ringan..."

Bella hanya mengangguk sopan. Dalam hatinya, ia mulai waspada. Tapi saat bus mulai berguncang, kepalanya tiba-tiba terasa berat. Pandangannya berbayang, suara orang-orang mulai menjauh, seperti terendam air.

"Nggak... enak... badan..." gumamnya.

Pria di sampingnya menyambut tubuh Bella yang limbung. "Tidur aja, Dek. Kamu kecapekan."

Wajah pria itu menjadi kabur, seperti bayangan di balik kaca berkabut. Lalu semuanya menjadi gelap.

***

Bella terbangun dengan kepala berdenyut hebat. Udara pengap memenuhi rongga napasnya. Sekelilingnya asing. Ia berada di bangku bus yang kini kosong, hanya tersisa beberapa penumpang di ujung. Pria tadi sudah menghilang. Tasnya masih di pangkuan, tapi saat ia membuka, dompet kecil berisi uang tunai... hilang. HP-nya pun lenyap.

Tangan Bella menggenggam dadanya. Napasnya tercekat. Ada rasa tak nyaman di tubuhnya, perasaan dingin dan lengket, seperti habis disentuh tanpa izin. Tubuhnya bergetar. Ia menunduk, berusaha mengingat.

Sekilas ingatan muncul - tangan kasar menyentuh pipinya, suara napas memburu, lalu kegelapan dan rasa takut yang membekas di balik kulit.

Air mata Bella jatuh tanpa suara.

Ia tidak ingin mengingat lebih banyak.

Ia merasa kotor.

Dilecehkan.

Dan sekali lagi, dikhianati dunia yang bahkan belum sempat ia kenal.

Dengan tangan gemetar, Bella turun dari bus di terminal terakhir. Langkahnya lemah, tapi ia tetap berjalan. Seperti hantu yang kehilangan arah.

Ia sendiri.

Tanpa uang.

Tanpa HP.

Tanpa siapa-siapa.

Namun di kejauhan, kerlap-kerlip lampu kota masih menyala - seolah menyiratkan bahwa di balik gelap, masih ada ruang untuk bertahan.

Dan Bella, dengan sisa harga diri dan tekadnya, bersumpah dalam hati:

"Aku akan hidup. Apa pun caranya."

Bab 3

Langkah Bella makin gontai saat matahari tenggelam sepenuhnya di balik gedung-gedung tua kota. Kaki kurusnya terus menapaki trotoar yang lembab, tubuhnya bergetar bukan hanya karena dingin, tapi juga rasa takut yang terus menggerogoti pikirannya. Tubuhnya masih terasa asing bagi dirinya sendiri, masih menyimpan jejak kejadian di bus yang tak ingin ia ingat.

Ia tersesat di sebuah kawasan yang tak dikenalnya, lampu jalan remang-remang, suara kendaraan sayup dari kejauhan. Tempat ini... suram. Seperti dunia yang tak lagi punya tempat untuk gadis sepertinya.

Perutnya perih. Sudah lebih dari satu hari ia tak makan. Ia duduk sejenak di bangku taman kecil di pinggir jalan, mencoba menarik napas, menenangkan diri. Tapi suara langkah dan tawa menggema dari sudut gelap membuat bulu kuduknya meremang.

Empat pria mabuk muncul dari gang sempit, berjalan sempoyongan namun tatapan mereka tajam, liar. Salah satu dari mereka menunjuk Bella.

"Eh, ada cewek sendirian, bro..."

Bella berdiri cepat, bersiap kabur. Tapi langkah mereka lebih cepat. Salah satu dari mereka menahan lengan Bella kasar. "Mau kemana, manis? Malam-malam begini sendirian? Bahaya, tau."

"Lepaskan aku!" teriak Bella, panik, matanya membelalak mencari jalan keluar.

Mereka tertawa, aroma alkohol menyengat. Tangan-tangan kasar mulai merenggut kerudung dan menarik lengan bajunya. Bella berteriak. Ia mencakar, menendang, tapi tenaganya tak cukup.

"Berisik amat sih... kita temenin aja biar hangat malam ini."

Tangannya diseret ke gang gelap, tubuhnya dijepit ke tembok lembab. Air matanya mengalir deras. Kali ini tak ada harapan. Tak ada siapa pun...

Sampai sebuah suara berat memecah udara.

"Lepaskan dia."

Suara itu seperti petir di tengah malam.

Para preman menoleh. Seorang pria berdiri beberapa meter dari mereka. Tegap, berwajah tampan dengan rahang tegas dan mata tajam. Jaket kulit hitamnya memantulkan sinar lampu jalan. Pria itu melangkah pelan, satu tangan di saku, satu lagi menggenggam sesuatu.

Salah satu preman mencibir, "Siapa lo? Mau sok jadi pahlawan?"

Tanpa menjawab, pria itu mengayunkan tongkat baja teleskopik dari balik punggung. Gerakannya cepat, tegas. Dalam hitungan detik, dua preman tersungkur, meringis kesakitan. Yang lain mencoba melawan, tapi dengan satu tendangan keras, pria itu menjatuhkannya ke tanah.

Pria terakhir kabur terbirit-birit.

Bella terduduk di tanah, tubuhnya menggigil hebat. Rambutnya berantakan, baju kusut, bibirnya pecah. Ia menatap pria itu dengan campuran takut dan lega.

Pria itu menyimpan tongkatnya. Ia jongkok di hadapan Bella, matanya tak lepas dari wajah gadis yang terluka itu. "Kamu nggak apa-apa?" tanyanya, suaranya tenang namun serius.

Bella hanya menggeleng, air mata kembali tumpah. Ia mencoba bicara, tapi suaranya tercekat di tenggorokan.

"Ayo, aku antar kamu ke tempat aman," katanya lembut.

Bella duduk di kursi penumpang mobil sedan hitam milik pria itu. Jaket pria itu kini menutupi tubuhnya. Mobil melaju tenang, musik jazz mengalun pelan. Bella masih diam. Ia menatap tangannya yang gemetar di pangkuan.

"Namaku Reno," ucap pria itu tanpa menoleh.

Bella akhirnya bicara pelan. "Bella..."

"Hidup sendiri di kota sebesar ini berbahaya," lanjut Reno. "Kamu kabur dari rumah?"

Bella menatap keluar jendela. "Ada hal yang... nggak bisa aku tinggal diamkan. Tapi sekarang aku bahkan nggak punya apa-apa lagi."

Reno menoleh cepat, sekilas menyapu wajah Bella yang pucat. "Kalau kamu mau, aku bisa bantu. Aku kenal seseorang yang bisa kasih tempat tinggal sementara. Dia perempuan, jadi kamu nggak perlu khawatir."

Bella mengangguk pelan. Dalam hatinya, dia tak tahu harus percaya atau tidak. Tapi dia tahu satu hal: untuk pertama kalinya hari itu, dia merasa... aman.

"Terima kasih," bisiknya pelan.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak pelariannya, Bella bisa memejamkan mata di atas kasur. Meskipun asing, meskipun penuh luka, tapi setidaknya... tidak sendirian lagi.

Dan pria bernama Reno itu - entah siapa dia sebenarnya - telah menjadi penyelamat pertamanya di tengah gelap dunia.

***

Malam semakin larut saat Reno memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah kecil dua lantai yang tampak rapi dan hangat dari luar. Bella menatap bangunan itu dengan mata sembab. Emosinya campur aduk-masih ada sisa takut, masih ada trauma dari bus dan preman tadi, tapi di balik semua itu, juga muncul rasa hangat dari sosok pria yang kini duduk di belakang kemudi.

"Ini alamat yang kau maksud, kan?" suara Reno memecah keheningan. Lembut, penuh perhatian. Mata tajamnya menatap Bella, bukan dengan keingintahuan, tapi dengan kekhawatiran yang dalam.

Bella menunduk, membenarkan letak handuk kecil yang tersampir di pangkuannya-satu-satunya peninggalan dari tante yang memberinya alamat ini sebelum ia kabur dari desa. "Iya... ini rumah Tante Rani."

"Bagus." Reno membuka pintu dan bergegas menghampirinya. "Aku antar sampai pintu."

Bella ingin menolak, merasa sungkan. Tapi langkahnya goyah. Kakinya masih lemas sejak insiden tadi. Maka dia hanya mengangguk, membiarkan Reno menuntunnya dengan satu tangan di punggungnya.

Sentuhan itu hangat. Tegas namun hati-hati, seolah Reno tahu betul kalau dirinya rapuh. Di titik itu, Bella merasa hatinya bergetar aneh. Sudah lama sekali sejak ada pria yang menyentuhnya dengan tulus, bukan dengan maksud kotor.

Mereka berdiri di depan pintu. Bella hendak menekan bel ketika Reno berbicara lagi, pelan namun mantap. "Kalau tidak ada orang, atau kau butuh waktu, kau bisa menginap di tempatku malam ini. Aku tahu kau takut. Aku hanya ingin kau aman."

Bella menatapnya. Dalam cahaya lampu teras, wajah Reno terlihat berbeda. Tidak hanya tampan-ada semacam keteduhan yang sulit dijelaskan. Dahi yang kokoh, mata yang tajam namun menyimpan luka, dan senyum samar yang entah kenapa membuat dada Bella sesak.

"Aku... terima kasih," ucapnya lirih, lalu menekan bel.

Tunggu punya tunggu, tidak ada jawaban. Bella menekan bel lagi. Masih sepi.

"Dia tidak ada," bisik Bella akhirnya, suara patah.

Reno diam sejenak. Kemudian dia menarik napas dan berkata, "Oke. Kamu ikut aku malam ini. Tenang saja. Rumahku tidak jauh. Kamu bisa mandi, tidur, dan besok kita pikirkan langkah selanjutnya."

Bella membuka mulut untuk menolak, tapi kelelahan telah membuatnya tak punya kekuatan. Akhirnya, dia hanya mengangguk pelan.

***

Rumah Reno berada di area perumahan elit, namun tidak megah seperti istana-justru terasa sangat hangat dan tenang. Saat masuk, Bella langsung mencium aroma kopi dan wangi kayu manis samar dari pengharum ruangan.

"Aku tinggal sendiri," ujar Reno sembari menyalakan lampu ruang tamu. "Jadi kau tak perlu cemas. Ada kamar tamu di atas."

Bella berdiri kikuk di ambang pintu, merasa kotor dengan pakaian yang belum berganti, tubuh yang lelah, dan pikiran yang kacau. Reno menyadari itu.

"Aku siapkan air panas untukmu. Mungkin mandi bisa bantu kau merasa lebih baik."

Bella menunduk, mengangguk. "Makasih, Mas Reno..."

Namanya keluar begitu saja dari bibir Bella. Reno menoleh, sejenak terdiam. "Panggil aku Reno saja. Tanpa embel-embel."

Bella mengangguk lagi, kali ini dengan senyum tipis.

Beberapa saat kemudian, Bella berdiri di ambang kamar mandi dengan handuk terbalut di tubuhnya. Dia menatap dirinya sendiri di cermin. Ada lebam di bawah matanya, rambutnya awut-awutan, tapi ada juga secercah cahaya baru di sana-semacam harapan yang ditanamkan oleh seseorang bernama Reno.

Saat membuka pintu, Bella terlonjak. Reno berdiri tepat di depan kamar mandi, membawa secangkir teh hangat.

"Maaf, aku tak bermaksud mengagetkan." Reno buru-buru menunduk, lalu memalingkan wajahnya. "Ini... teh. Biar kamu lebih tenang."

Bella tersipu. Dia mengambil teh itu dengan tangan bergetar. Saat jarinya menyentuh tangan Reno, ada percikan hangat aneh yang menari di tulang-tulangnya. Reno juga tampak terdiam sesaat, namun cepat-cepat menarik tangannya.

"Aku taruh di meja saja, ya." Suaranya berat.

Bella menatap punggung Reno yang menjauh ke ruang tamu. Entah kenapa, dia ingin mengikuti. Dia ingin berada di dekat pria itu, meski hanya untuk malam ini.

Dia duduk di ujung sofa, memeluk teh di tangan. Reno sedang membaca sesuatu di laptop, tapi saat menyadari kehadiran Bella, dia menutupnya dan menoleh.

"Sudah mendingan?" tanyanya.

Bella mengangguk. "Mas... eh, Reno... kenapa nolongin aku?"

Reno tersenyum kecil. "Aku tahu wajah orang yang sedang takut. Aku pernah ada di posisi itu juga."

Bella menatapnya dalam. "Kamu pernah ditakuti?"

"Lebih parah," ucapnya pelan, "aku pernah kehilangan segalanya dalam satu malam. Jadi... aku tahu rasanya butuh seseorang untuk hanya... hadir."

Hening. Hanya suara detik jam yang terdengar.

Kemudian Reno menggeser duduknya, hanya sedikit lebih dekat. "Tapi sekarang kamu aman, Bella. Kamu boleh percaya itu."

Bella menunduk. Jantungnya berdetak cepat. Satu sentuhan lembut menyentuh pundaknya-tangan Reno, memberi kekuatan tanpa banyak bicara.

Ketegangan menggelayuti udara. Pandangan mereka bersitatap beberapa detik terlalu lama. Ada sesuatu yang menari di udara-bukan cinta, tapi semacam magnet yang belum bernama. Bella ingin menangis, ingin bicara, ingin menyentuh balik... tapi ia hanya duduk membeku dengan jantung yang gemetar.

"Kamu boleh tidur sekarang," bisik Reno akhirnya, menarik tangannya perlahan. "Kalau ada apa-apa, panggil aku saja."

Bella mengangguk, tak sanggup berkata-kata. Saat masuk ke kamar tamu, ia menyadari satu hal-untuk pertama kalinya sejak pelariannya, ia merasa... aman. Dan mungkin, tanpa disadari, hatinya mulai membuka sedikit celah untuk pria bernama Reno.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED