Wira merasa seperti sedang berada dalam mimpi buruk ketika Giskha datang padanya dan memberikan undangan pernikahan secara tiba-tiba dan setelah itu tidak tahu apa yang terjadi dengan Wira. Ya Wira mengalami PTSD (Post Traumatic Stress Disorder), suatu kondisi mental dimana seseorang mengalami serangan panik yang dipicu oleh trauma dari pengalaman masa lalu yang menekan emosinya.
Mengalami kejadian traumatis adalah hal yang berat bagi siapapun. Hal Itu juga terjadi 5 tahun silam saat Wira mengalami kecelakaan setelah ia bertemu Giskha yang memutuskan hubungan mereka. Wira yang saat itu tengah hancur dan patah hati mengendarai motor dengan keadaan pikiran yang kacau, hingga kemudian motornya kehilangan kendali dan bertabrakan dengan motor yang melaju dengan cepat.
Tabrakan tidak bisa di hindari, dan itu membuat Wira trauma karena motor yang menabraknya di kendarai seorang Bapak dan anak kecil yang baru berusia 3 tahun yang tewas dalam kecelakaan itu, dan Wira mengalami patah tulang dan trauma karena keluarga korban yang tidak terima anaknya menjadi korban meninggal, sejak itu Wira menjadi ketakutan luar biasa karena takut akan masuk penjara dan ia begitu takut karena telah melayangkan satu nyawa orang tidak bersalah meski pun bukan dirinya yang menabrak.
Keluarga korban membawa masalah tersebut ke jalur hukum, namun Wira tidak sepenuhnya bersalah karena motor korbanlah yang pertama menabrak, dan ada saksi yang melihat kejadian saat itu. Namun Wira begitu terpukul dan merasa selalu dihantui oleh anak kecil yang meninggal tersebut, sehingga ia sulit tidur karena merasa cemas, dan akhirnya orangtuanya membawanya ke psikiater untuk diterapi. Namun meskipun dinyatakan sembuh rupanya penyakit itu terkadang kambuh jika Wira kelelahan, seperti saat ini mimpi buruk dan ketakutan itu kembali lagi.
Wira membuka kopernya mencari obat Prazosin-nya agar ia bisa tidur, namun ia lupa karena barang-barang di angkut oleh teman-temannya obatnya lupa tidak dibawa. Wira menutup Kopernya dengan kasar, ia mengusap wajahnya gusar, ia sudah pasti tidak akan bisa tidur dan akan terus seperti ini hingga esok hari.
Wira gelisah, kedua sahabatnya sudah tertidur sejam beberapa jam yang lalu, sekarang waktu menunjukan pukul 00:15 menit. Wira sudah berkeringat dingin ia benar-benar ketakutan. Bayang-bayang saat motornya bertabrakan dan anak kecil tersebut terlempar dari motor dan jatuh ke aspal di depan mata Wira, masih terekam jelas di ingatannya. Wira melihat darah yang keluar dari kepala anak itu, dan kemudian orang-orang mulai berkerumun menyelamatkannya.
Wira mengambil jaket dan ponselnya, ia memilih berjalan keluar dari kamar penginapannya dan mencari udara di luar. Wira berjalan ke arah pantai, tidak begitu gelap karena banyak lampu yang bersinar menerangi, Wira duduk di kursi dekat pohon tidak terlalu jauh dari tempat penginapannya. Ia mengambil Rokok di saku jaketnya dan kemudian menghidupkan korek dan mengesapnya dan membuang asapnya ke udara.
"Iya teh, nanti Dira pulang kok, sekarang kan masih sibuk kuliahnya", ucap seseorang sedang menelepon.
"Yaudah teh udah malem , teteh juga besok mau kerja kan? Semangat yaa, dadah." ucapnya mematikan teleponnya.
Wira yang sedang bersandar di kursi langsung mencari arah suara yang tengah menelepon itu, Wira melihat wanita yang ia kenal. Diraya wanita yang baru saja menjadi pusat perhatiannya, Dira baru saja menelepon dengan seseorang di arah belakang tempat duduknya tepatnya di arah penginapan Dira, wanita itu sedang duduk sendirian sambil menelpon.
"Bukannya itu Diraya? Kenapa keluar malam-malam?" tanya Wira bingung.
Dira memasukan ponselnya ke saku jaket, ia kemudian menghembuskan nafasnya dengan keras sambil menatap langit, entah apa yang ia pikirkannya saat ini, seperti beban yang begitu berat ia dapatkan, hingga beberapa tetes air mata lolos begitu saja tanpa ia sadari. Ia memejamkan mata dan menghapus bulir air matanya, kemudian ia tersenyum sebelum masuk ke dalam kamarnya.
Wira hanya menatap heran dengan apa yang ia lihat, Diraya menangis tiba-tiba dan kemudian tersenyum? Ada apa? Wira bertanya-tanya tapi entah untuk apa ia peduli.
*-*-*-*-*-*
Wira sudah sampai di rumahnya, dengan badan yang masih lelah Wira memasuki kamarnya dan membaringkan tubuhnya di kasur miliknya. Wira baru sampai subuh tadi, ia memutuskan mengistirahatkan badannya sebentar sebelum kembali ke kantornya karena ada beberapa pekerjaan yang akan ia kerjakan.
"Mas Wira, bangun" ucap Maya yang langsung masuk ke kamar Wira.
"Isshh, apaan sih, Mas mau tidur!" ucapnya memeluk guling.
"Ihh Mas cepetan mandi Ayah udah nungguin tau", ucap Maya kesal.
"Mas capek mau tidur, bilang aja sarapan duluan", ucapnya dengan mata terpejam.
"Mas Wira ih cepetan, nanti kalau Ayah meledak gimana?" ucapnya sambil menggoyang badan Wira.
Wira tidak peduli pada sang adik Maya yang terus berusaha membangunkannya. Maya adik satu-satunya yang paling cantik, mukanya hitam manis dengan bulu mata lentik, ia kini menginjak kelas 12 SMA di salah satu sekolah swasta favorit. Maya yang paling dekat dengan Wira karena perbedaan usia mereka yang tidak terlalu jauh di banding kakak pertama Wira bernama Artha. Wira sangat menyayangi adiknya yang mengemaskan.
"Kamu tuh kesambet apa sih bawel banget pagi-pagi, lagian ya mana mungkin Ayah meledak kayak bom aja", ucap Wira kemudian bangun.
Maya mengerucutkan bibirnya karena kesal dengan Wira yang malah meledeknya, Wira tahu Maya akan kesal jika ia goda seperti itu.
"Udah jangan ngambek ntar tambah jelek atuh ", ucap Wira mengelus kepala Maya
"Ahh.. Mas Wira jahat" ucapnya langsung pergi dengan muka yang makin ditekuk.
Wira pun tertawa melihat tingkah adiknya yang menggemaskan itu, ia akhirnya memilih mandi dan langsung turun ke bawah untuk sarapan bersama keluarganya.
"Wira kenapa lama banget sih?" omel Bunda yang sedang menuangkan nasi di piringnya.
"Mandi dulu Bunda, tadi juga baru sampai jadi istirahat sebentar." ucapnya kemudian meminum air putih yang menjadi kebiasaannya sebelum makan.
"Gimana liburannya? Pakde sama Budhe apa kabar?" tanya Ayah dengan logat jawa yang khas sambil menutup korannya.
"Alhamdulillah baik Yah", ucap Wira tanpa menatap Ayahnya.
"Habis ini kamu antar Maya ke sekolah terus langsung pulang ya gak usah ngantor", ucap Ayah.
"Nggak mau Yah, Maya mau naik ojek aja ke sekolah", ucap Maya langsung menolak titah Ayahnya.
Bunda yang terkejut menatap ke arah Maya yang sedang mengunyah makannya sambil menatap tajam ke arah Wira yang malah santai dan mengedipkan matanya pada Maya.
"Kenapa gak mau di anterin Mas? Nanti kamu kesiangan Dek", ucap sang Bunda.
"Mas Wira tuh jahat, Adek gak mau diantar Mas", ucapnya kesal langsung menundukkan kepalanya takut Ayahnya marah.
"Lho, kenapa toh kalian berdua? Katanya kemarin Maya kangen sama Masnya sekarang Masnya udah ada malah ndak mau", ucap Ayah.
"Nggak. Adek marah sama Mas Wira"
"Wira kenapa sama Adekmu?" tanya Bunda
"Nggak tahu Bun, Adek lagi PMS mungkin", ucapnya tak peduli.
Lagi-lagi Maya menatap kesal pada kakak keduanya itu, Wira malah menatap cuek sambil tertawa jahil pada Maya yang sudah menatap tajam padanya.
"Sudah-sudah selesaikan makan kalian." lerai Ayah yang membungkamkan semuanya.
Lima belas menit sudah berlalu, meja makan sudah bersih kembali, Wira masih duduk di kursi makan bersama Ayah yang masih sibuk membalik-balikan korannya mencari berita kriminal yang menjadi hobinya.
Ayah Wira sudah pensiun dua tahun silam, ia hanya menghabiskan waktunya di rumah dan bertemu beberapa temannya yang sering mengadakan kunjungan atau reunian. Wira paling menghormati Ayahnya itu, Ayahnya memang asli Yogyakarta namun sangat tegas bahkan saat mendidik anak-anaknya termasuk Wira. Namun bukan berarti Ayahnya orang menakutkan, Ayahnya selalu mengembangkan ilmu agama pada Anak-anaknya. Dulu Wira disuruh untuk mengenyam pendidikan di Pasantren namun karena Wira tidak mau akhirnya Ayah memilih memasukan Wira kesekolah berbasis Agama hingga tamat sekolah dan terbukti Wira selalu shalat 5 waktu meskipun sering telat namun tak pernah ia tinggal, jika berada di rumah Wira akan selalu di tunjuk menjadi Imam shalat berjamaah.
"Yah, kenapa Wira gak boleh langsung ke kantor?" tanya Wira heran.
"Ayah mau ada acara nanti siang jadi kamu harus di rumah", ucap Ayahnya sambil meminum kopinya.
"Acara apa Yah? Gimana kalau Wira ke kantor dulu terus nanti agak siang Wira pulang lagi sebentar?".
"Ndak bisa nak, Ayah udah terlanjur janji sama teman Ayah, dia mau ketemu kamu", ucap Ayah kembali.
"Iya, kamu antar adekmu dulu gih, nanti langsung pulang", ucap Bunda yang menaruh camilan di meja makan.
Wira hanya menganggukan kepalanya dan langsung menemui adiknya yang sedang memakai sepatu di teras rumah.
"Pake sepatu sendiri aja lama gini, gimana nanti pakein sepatu suaminya", ucap Wira.
"Ih apaan sih Mas, ganggu aja!" ucapnya yang sudah memakai sepatunya dan merapihkan kerudungnya.
"Nih pake helmnya", ucap Wira memberikan helm pada Maya.
"Ndak mau, adek mau naik ojek aja!" ucapnya memutar bola matanya ke arah gerbang.
"Yakin? Emangnya ada Mang ojek di sini?" ucap Wira.
"Gapapa ntar jalan aja kedepan komplek banyak ojek", ucapnya langsung pergi.
Wira menatap adiknya tersenyum, kelakuan adiknya memang tidak berubah, Wira tak yakin jika Maya akan menaiki ojek karena ia terlalu penakut.
"Neng ojek Neng", ucap Wira menghampiri Maya yang masih berjalan.
Maya tak menghiraukan Wira dan langsung mempercepat langkahnya.
"Neng jangan marah-marah nanti cepet tua", tambah Wira sambil membawa motornya pelan-pelan.
"Ih Mas Wira mah nyebelin!" ucapnya berhenti dan menatap Wira.
"Udah cepetan naik, nanti kalau Mas udah nikah gak ada yang nganterin lagi", ucap Wira.
Maya malah terdiam dan menunduk, kemudian menutupi wajahnya dengan telapak tangannya, Wira yang heran langsung mematikan motornya dan berdiri ke arah adiknya itu.
"Eh kenapa malah ditutupin mukanya?" tanya Wira.
"Mas Wira mau nikah? Nanti gak ada yang nganterin adek lagi?" ucapnya menangis.
"Eh Mas tadi bercanda Dek, jangan nangis", ucap Wira langsung memeluk Maya.
"Maya gak mau kehilangan Mas Wira." ucapnya.
"Mas gak kemana-mana kan sekarang ada di depan kamu Dek " ucap Wira mengelus kepala Maya.
"Tapi katanya kalau Mas Wira nikah ntar gak ada yang nganterin Adek lagi", ucapnya tersedu-sedu.
"Mas belum ada rencana nikah, kan Mas masih muda masih cocok jadi anak SMA juga", ucapnya.
Maya menghetikan tangisnya dan menatap ke arah sang kakak yang tingginya jauh darinya, Wira menghapus air mata Maya dan langsung merapihkan kerudung adiknya itu yang hampir kusut.
"Udah atuh jangan nangis nanti tambah jelek", ucapnya.
"Gapapa jelek juga yang penting Mas Wira tetep sayang", ucapnya tersenyum.
Wira ikut tersenyum ke arah adiknya dan langsung memeluk adiknya itu sebelum memberikan helmnya pada Maya.
*-*-*-*-*
"Mas sudah ganti baju?" teriak Bunda dari luar kamar.
"Iya Bunda ini mau turun sebentar lagi", jawab Wira.
"Ayah sudah nunggu di bawah", ucap Bunda kemudian turun ke bawah.
Wira hanya menghela nafasnya, baru kali ini Wira di suruh untuk ikut bertemu dengan teman Ayahnya sampai libur ngantor. Wira sendiri tak bisa menolak permintaan Ayahnya karena katanya ini acara yang penting. Wira hanya menuruti saja, ia sudah merapihkan rambutnya dengan pomade merk hits di indonesia, ia menggukan kameja lengan panjang yang ia gulung hingga ke siku.
"Nah Ini Wira", ucap Ayah saat Wira turun menghampiri mereka.
"Lho sudah besar saja anakmu", ucap lelaki sebaya Ayah yang langsung menerima salam Wira.
Wira duduk bersama Ayah, sedangkan Bunda sibuk membuatkan minum untuk tamu. Teman Ayah usianya tampak lebih muda sedikit, ia bersama istrinya dan anak perempuannya yang berhijab tengah duduk di hadapan Wira. Perasaan Wira mendadak tidak enak tatkala memandang ke arah mereka bersama anak perempuannya.
"Wir, kamu tidak ingat sama Pak Sanjaya?" tanya Ayah.
"Nggak Yah" ucapnya tersenyum bingung.
"Sudah tidak apa, dia lupa sama saya karena sudah lama juga tidak bertemu", ucap Pak Sanjaya tersenyum pada Wira.
"Itu lho yang nganterin kamu ke rumah sakit waktu jatuh dari sepeda waktu kamu SD", ucap Bunda yang tiba-tiba datang menaruh cemilan dan minuman.
"Ayah sama pak Sanjaya sudah kenal lama, kebetulan pak Sanjaya itu Camat di kompleks sebelah", ucap Ayah.
Wira hanya mengangguk dan tersenyum kecil ke arah pak Sanjaya, sedangkan istrinya sedang asyik mengobrol dengan Bunda yang duduk disebelahnya dengan akrab.
"Hmm.. gimana Naraya sekarang sudah bekerja?" tanya Ayah pada wanita berhijab yang menunduk itu.
"Sudah Pak." ucapnya tersenyum ke arah Ayah.
Wira yang dari tadi diam menatap gadis itu yang terlihat malu-malu karena wajahnya selalu tertunduk, Wira menatap gadis itu berparas manis namun entah mengapa Wira malah mengingat wajah Diraya yang sudah malah tiba-tiba menghantui pikirannya.
"Kerja dimana Nak?" tanya Ayah.
"Di perusahaan Astra Mandiri", ucap Naraya
"Lho itu perusahaan Wira, kebetulan sekali", ucap Ayah menepuk bahu Wira yang ikut terkejut.
"Wira kamu bangun perusahaan?" tanya pak Sanjaya.
"Iya Pak, baru beberapa tahun", ucap Wira dengan canggung.
"Kamu ndak kenal sama Naraya Wir?" tanya Bunda.
"Nggak Bun" ucapnya jujur dan tersenyum kaku ke arah mereka sambil menggaruk kepala belakangnya.
"Lah kalian satu perusahaan kok gak kenal, kamu gimana toh, karyawan kamu aja gak tahu jangan-jangan di kantor kamu jadi bos yang sombong ya?" selidik Ayah.
Wira hanya diam menahan nafasnya, tiba-tiba rasa gerah ia rasakan, ia juga merasa sedikit canggung dengan situasi seperti ini.
"Ya, sudah kalian harus kenalan, gimana toh bos sampai gak tahu yang kerja di sana", ucap Ayah kesal pada anaknya itu.
"Yang nerima karyawan kan Bagian personalia Yah, Wira jarang merhatiin katyawan juga", ucapnya sopan.
"Naraya kamu sudah kenal dengan Wira?" tanya Pak Sanjaya.
"Sudah, pernah bertemu beberapa kali", jawabnya sopan
Wira menatap ke arah wanita berhijab itu, ia mengerutkan keningnya heran, apakah mereka pernah bertemu apakah wanita ini karyawannya? Ia bahkan tak pernah ingat karyawan di tempatnya kecuali jika mereka menyapanya, Wira memang cuek terlebih pada wanita karena masih merasa sakit hati dengan masa lalunya.
"Wira.. Wira, ya sudah begini saja kalian lebih baik berkenalan dulu, sesekali saling bertegur sapa, Wira jangan sombong mentang-mentang kamu bosnya." tegur Ayah.
"Iya Yah", ucapnya menunduk sambil tersenyum gugup pada Ayah.
Wira merasa tidak enak berada dalam situasi seperti ini, mengapa juga ia harus bersikap ramah pada Naraya karyawannya, namun ia tak bisa menolak permintaan Ayahnya yang ia hormati itu bagaimanapun Ayahnya mendidiknya dengan benar.
"Kalau begitu mulai besok kalian berangkat kerja bareng, Wira kamu jemput Naraya ya", ucap Bunda.
Wira yang baru saja meminum teh buat Bunda langsung terbatuk dan menatap Bunda dengan tanda tanya.
"Nggak usah, Naraya bisa berangkat sendiri tante", ucapnya.
"Ndak papa, Naraya berangkat bareng Wira aja mulai besok, lagipula rumah kamu gak terlalu jauh kan jadi sekalian lewat, Wira kamu mau kan" tanya Ayah
"Eh tapi gimana Yah kalau ada gosip gak enak nanti?" tanya Wira khawatir
"Lho ndak apa toh, kan Ayah memang mau menjodohkan kalian berdua, lagipula umur kalian itu sudah pas, apalagi Naraya cantik baik juga cocok buat kamu", ucap Ayah spontan.
Wira menatap ke arah Ayah dengan tatapan terkejut, apa maksudnya menjodohkan Wira dengan Naraya? Wira masih merasakan luka di hatinya yang belum sembuh, sekarang malah ia akan di jodohkan dengan karyawannya sendiri?
Wira menatap ke arah Naraya yang nampaknya tenang, sepertinya ia sudah mengetahui kabar ini, Wira hanya terdiam dan bingung harus menjawab apa pada Ayahnya, karena seumur hidupnya Wira tak pernah menentang atau melawan perkataan Ayahnya yang ia hormati itu.
“Cinta tak memberikan apapun, kecuali keseluruhan dirinya, utuh penuh, dia pun tak mengambil apa – apa, kecuali dari dirinya sendiri. Cinta tak memiliki ataupun dimiliki. Karena cinta telah cukup untuk cinta.” – Khalil Gibran
Ya Wira ingat sekali kata-kata bijak dari Khalil Gibran, seorang seniman, penyair, dan penulis asal Lebanon Amerika yang menjadi panutannya. Bagi Wira kini cintanya adalah keluarganya yakni Ayah, Bunda, Mas Artha dan Maya hanya itu tidak ada lagi yang lain terselip dalam hatinya. Sama halnya dengan tabrakan 5 tahun lalu yang telah merubah cintanya menjadi luka, luka fksik juga luka mental setelahnya. Wira masih takut, itulah yang dirasakan oleh hatinya.
"Wira, Ayah ingin bicara serius sama kamu", ucap Ayah setelah keluarga Pak Sanjaya pergi dari setengah jam yang lalu.
"Iya Yah?" tanyanya dengan bimbang.
"Ayah tahu kamu masih ingin hidup melajang dengan kesendirian kamu, tapi kamu tidak mungkin kan terus hidup sendiri sementara umur kamu terus bertambah tiap jam, menit dan waktu. Kamu butuh pendamping Wira, untuk mengurus kamu dan menemani masa tua kamu", ucap Ayah yang membuka kaca matanya dan mengelap dengan kain khusus pembersih yang ia ambil dari dalam kotak kacamatanya.
"Maksudnya bagaimana Yah?" tanyanya membenarkan posisi duduknya yang kini mulai gelisah.
"Ayah ingin kamu segera menikah Wira, kamu sudah cukup dewasa, umurmu juga sudah cukup untuk berumah tangga. Mulailah dengan membuka hati kamu dan memulai hidup kamu yang baru. Jangan karena traumamu dengan masalalu kamu jadi takut untuk memulainya." ucap Ayah sambil menatap serius pada Wira.
Wira hanya dapat menundukkan kepalanya dan mencermati perkataan Ayahnya. Beliau tahu hubungannya dulu dengan Giskha membuatnya trauma, dan kini Wira belum siap untuk mulai mencintai kembali.
"Boleh Wira pikirkan dulu Yah? Wira tidak mau salah memilih Yah. Wira sudah dewasa dan akan lebih baik jika memulai hubungan ini dengan tahap pengenalan dulu. Wira tidak ingin menyesal untuk selamanya karena bagi Wira menikah itu hanya sekali seumur hidup", ucapnya sambil menatap Ayah dengan penuh keyakinan.
Ayah hanya tersenyum sambil menatap Wira, kemudian menepuk bahu Wira dan beranjak pergi masuk ke dalam kamarnya. Bisa dibilang Ayahnya tidak pernah memaksanya, ia juga tidak pernah mendesaknya. Wira hanya belum memikirkan untuk menikah dalam usianya sekarang, namun Wira juga tidak mungkin terus-terusan larut dalam trauma yang ia alami di masa lalu.
*-*-*-*-*
Wira akhirnya kembali ke berkantor setelah seharian kemarin ia meliburkan diri karena sang Ayah memintanya. Wira masih terngiang perkataan Ayahnya untuk menikah, dan Wira juga masih bingung bagaimana ia akan menjawab keinginan Ayahnya.
"Pak Wira?" ucap Naraya terkejut saat Wira duduk di ruang tamu rumahnya.
"Mmm.. ayo kita berangkat", ajak Wira salah tingkah.
"Saya bawa kendaraan sendiri saja pak, gak enak nanti sama karyawan lainnya", ucapn Naraya sopan
"Saya sudah janji sama Ayah dan Bunda jadi tidak mungkin kan saya ingkar", ucap Wira.
Wira melangkah mendahului kearah mobilnya setelah sebelumnya berpamitan pada Mama dan Papa Naraya.
Hari ini Wira harus menepati janjinya menjemput Naraya karyawannya yang juga calon istri yang dijodohkan Ayahnya. Wira bukannya enggan dijodohkan dengan Naraya, jika di lihat-lihat Naraya manis dengan hijab yang ia pakai.
Badannya tidak berisi namun tidak terlalu tinggi kira-kira hanya 160an tingginya, kulitnya tidak terlalu putih namun terawat dengan baik. Naraya juga terlihat lebih lemah lembut dan sopan, jika di banding Giskha mantannya yang bak model memang jauh berbeda namun dalam tingkah lakunya Naraya benar-benar anggun.
"Maaf Pak, saya jadi merepotkan Bapak", ucap Naraya menundukan kepalanya.
Wira bingung dan salah tingkah, ia berusaha tetap fokus menyetir dan tidak mau jika Naraya berpikir yang tidak-tidak, atau bahkan menjadi takut padanya karena saat ini posisinya sebagai atasannya.
"Kamu sudah berapa lama kerja di Astra?" tanya Wira memecahkan keheningan.
"Baru mau dua tahun Pak", ucapnya.
Wira terdiam sebentar, sudah hampir dua tahun Naraya bekerja di perusahaannya, namun tak pernah Wira sekalipun melihat dan bertemu Naraya. Apakah Wira selama ini terlalu sibuk pada urusannya sendiri tanpa peduli karyawan bahkan tak tahu siapa karyawannya, Wira mencoba menelaah dirinya.
"Maaf saya tidak pernah tahu kalau kamu bekerja di tempat saya, mungkin saya selalu sibuk jadi tidak pernah memperhatikan karyawan", ucap Wira dengan tatapannya yang masuh lurus ke arah jalan.
"Tidak apa-apa Pak." ucapnya ramah.
Wira terjebak dalam kemacatan pagi ini, ia jadi makin merasa canggung berada bersama Naraya yang sedari tadi hanya menunduk sambil mendekap tasnya. Wira melirik ke arah Naraya yang memang tampak seperti anak yang baik, terlihat dari caranya berbicara dengan sopan dan santun baik pada orang tua dan padanya, Wira dibuat menjadi bimbang sendiri.
"Soal perjodohan itu, apa kamu sudah tahu?”, tanya Wira, “Apakah kamu sudah setuju?", lanjutnya setelah menjeda pertanyaannya.
"Saya sudah tahu, waktu itu Ayahnya Pak Wira datang ke rumah, hanya saja saya tidak tahu kalau beliau Ayah Pak Wira. Saya tergantung sama Papa dan Mama yang memilih", ucap Naraya sambil menatap Wira sebentar kemudian sebelum akhirnya menunduk kembali.
Wira menyenderkan badannya kebelakang, ia yakin jika keluarga Naraya pasti akan menyetujui perjodohan mereka karena Naraya hanya menuruti orang tuanya, Wira bingung bagaimana dengan hatinya.
"Saya belum terlalu mengenal kamu begitupun sebaliknya. Saya juga tidak menolak perjodohan ini hanya saja bisakah kamu sedikit bersabar dengan saya? Sekarang kita mulai saling kenal-mengenal dulu?" ucap Wira menghadap Naraya seraya memberikan tangannya untuk berjabat tangan dan Naraya dengan sopan menjabatnya seraya tersenyum pada Wira.
*-*-*-*-*
Sudah 6 bulan berlalu, kedekatan Wira dan Naraya sudah terjalin dan mereka memutuskan untuk menikah bulan depan tepatnya di awal bulan. Karyawan yang lain pun sudah mengetahui kabar tersebut beruntung tidak ada gosip yang simpang siur tentang kedekatan mereka. Naraya sendiri sudah resign dari kantor itu sebulan yang lalu.
Belum ada cinta untuk Naraya namun Wira sudah merasa nyaman denganya. Naraya selalu perhatian dan juga baik pada Wira terutama selalu sabar pada Wira yang cenderung acuh padanya dalam hal apapun. Seperti sekarang untuk persiapan pernikahannya Wira masih saja harus di suruh Ayah dan Bunda menemani Naraya pergi ke Butik memilih gaun pernikahan mereka yang akan mengandung unsur adat Sunda yang kental mengikuti adat keluarga Naraya.
"Mas Wira gak ke kantor?" tanya Maya.
"Ndak Dek, Mas mau nganterin Mbak Naraya buat fitting", ucapnya sambil bersandar di tempat tidurnya dengan memainkan handphonenya.
"Mas Wira beneran mau nikah?" tanya adiknya dengan mata yang sudah mulai berembun.
"InsyaAllah Dek, Mungkin jodohnya Mas sudah datang sekarang", ucap Wira sambil menatap sekilas adinya dan kemudian kembali fokus pada ponselnya.
"Kalau Mas udah nikah, Mas bakal tinggal sendiri, terus Mas jarang ketemu sama Adek, terus nanti Adek gak dianterin Mas lagi berangkat sekolahnya", ucapnya dengan mata yang sudah semakin berkaca-kaca.
"Dek, semua orang pasti ada jodohnya, dan ketika dia sudah ketemu jodohnya pasti akan memulai kehidupan baru dengan berumah tangga. Nanti juga Maya kan bakal punya suami, bakal punya keluarga baru juga, pasti kehidupan kita bakalan berubah", ucapnya sambil meletakan handphone dan menatap sang adik.
"Mas Wira bilang katanya gak bakalan nikah dulu, tapi sekarang malah udah nikah, Adek cuman takut Mas Wira nanti gak sayang lagi sama Maya dan cuekin Maya gara-gara udah punya istri kayak Mas Artha", ucapnya kemudian mengeluarkan air matanya.
Wira menatap Adiknya itu dan memeluknya membiarkannya menangis untuk menumpahkan apa yang ada di dalam hatinya. Bagaimanapun Wira paham ketakutan Maya, dulu sang kakak, Artha, jarang sekali berkunjung ke rumah setelah menikah. Bahkan jika pun dating ia tak pernah menyapa atau menanyakan kabar Maya juga Wira karena terlalu fokus pada pekerjaan dan istrinya. Dan kini ia sudah pindah ke Bogor bekerja di sebuah perusahaan bersama Istri dan anaknya. Maya tahu hanya Wira lah yang perhatian dan selalu menjaganya, dan ia takut jika Wira menikah Wira akan melalukan hal yang sama seperti Artha.
"Mas kalau sudah menikah mungkin gak akan tinggal di sini lagi, Mas kan sudah membangun rumah juga dan akan tinggal sama Istri Mas. Tapi bukan artinya Mas akan lupa sama keluarga, apalagi sama Adek Mas yang bawel ini. Mas mungkin nanti gak akan sedekat ini lagi, tapi hubungan kakak-adek itu gak ada akhirnya, kita tetap bersaudara. Mas saja nanti yang akan menganti status, memangnya kamu mau gitu Mas di bilang Bujang Lapuk padahal muka Mas kayak Oppa-Oppa Korea idol kamu itu lho", ucapnya.
"Ihh.. Mas gitu mah, kalau diajak ngomong serius bercanda mulu", ucap Maya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Habisnya kamu tuh nangis mulu kan Mas jadi gak tega lihatnya. Mas gak mau kamu nangis terus, kamu tuh cewek jangan nangisin hal yang gak penting. Lagian Mas juga pengen punya istri punya anak juga, nanti kalau kamu udah lulus terus nikah duluan dari Mas kan Mas nanti sendirian dan kamu ikut sama suami kamu." ucapnya.
"Maafin Adek Mas, Adek terlalu manja ya sama Mas sampai gak rela Mas Wira nikah terus berbagi kasih sayang sama perempuan lain", ucapnya menatap Wira.
Wira menatap Adiknya yang menghapus air matanya, Wira yang gemas dengan Adiknya itu malah menarik kerudung sang adik dan membuat Maya geram karena ulah jail sang Kakak yang menyayanginya itu.
"Mas ih kerudung Adek nanti kusut", ucapnya merapihkan kerudungnya.
"Bukan kerudung kamu yang kusut, muka kamu tuh kusut banget kayak kaset rusak ahh.. pokoknya lebih parah deh kayaknya", ucapnya tertawa.
Maya membelalakan matanya dengan ledekan Wira, namun semenit kemudian dia ikut tertawa dengan candaan sang kakak, ada sedikit kelegaan bagi Wira melihat adiknya tertawa bersamanya meskipun ia tahu mungkin ia juga akan kehilangan sang adik setelah menikah nanti karena mereka tidak akan sedekat ini lagi.
"Mas, Adek mulai besok gak usah diantar lagi ya, Adek mau naik ojek online aja kemaren baru lihat ada di deket sini", ucapnya.
"Lho kenapa? Gapapa kali Mas antar kan Mas belum nikah, nikahnya bulan depan", ucap Wira.
"Mas tuh Nikahnya dua minggu lagi tahu, terus kan Adek juga mau belajar berangkat sendiri tanpa Mas Wira biar terbiasa juga berangkat tanpa Mas, terus kata Bunda Mas mulai minggu depan di pingit, ", ucapnya tersenyum.
"Ah kamu gak mau nyelamatin Mas? Mas gak mau dipingit udah kayak anak kecil dihukum mendingan Mas anterin kamu sekolah aja", ucapnya merayu.
"Nggak ah, gak boleh pokoknya Mas harus setuju dipingit soalnya Adek udah janji sama Bunda mau berangkat sendiri, lagian Mas kenapa gak mau dipingit sih jangan-jangan mau kabur yaa?" selidiknya.
"Suudzon aja kamu, ya sudah gih kamu siap-siap berangkat sekolah", ucap Wira.
"Libur Mas, kan sekarang hari minggu", ucap Maya.
"Lah.. Iya yah hari minggu. Eh.. Terus kenapa kamu nanyain Mas kerja? Kan udah tahu kantor libur dek hari minggu", ucapnya setelah sadar hari ini hari minggu.
"Kan biar ada basa-basi Mas", ucapnya kemudian pergi dari kamar sambil nyengir.
Wira hanya tertawa melihat kelakuan Adiknya itu, Tanpa mereka sadari sedari tadi Bunda memperhatikan dan mendengarkan percakapan mereka di balik pintu, tadinya Bunda mau membangunkan Wira namun Maya sudah masuk duluan dan berbicara serius, Bunda yang merasa tidak enak karena Maya berbicara serius akhirnya mendengarkan percakapan kedua anaknya itu, Ia bersyukur anaknya bisa rukun dan damai dan beruntung mereka saling mengerti satu sama lain.
*-*-*-*-*
Hari ini Diraya kembali ke Bandung setelah 1 se,mester perkuliahan ia tidak pulang. Ya, Yogyakarta sudah menjadi rumah keduanya, ia berada di kurang lebih 3 tahun disana, dan kini kuliahnya hampir semester akhir dan sebentar lagi ia akan wisuda dan itu yang ia impikan, memakai toga dan tersenyum bahagia di depan kamera.
Sudah selesai UAS, Dira libur kurang lebih dua minggu, ia memutuskan untuk pulang ke Bandung terlebih sang Kakak yang ia sayangi akan menikah minggu depan dan ia tidak sabar untuk bertemu kakak kesayangannya itu.
"Assalammualaikum " ucap Diraya sambil membuka pintu.
Seperti biasa rumahnya memang selalu sepi dan ia sudah terbiasa pulang tanpa sambutan dan pelukan. Diraya terdiam sejenak kemudian mengukir senyum dan langsung menyeret kopernya ke dalam kamarnya yang ia rindukan.
Sejak kecil Mama dan Papanya selalu sibuk bekerja. Papanya yang seorang seorang penjabat jarang berada di rumah, dan Mamanya juga sering pergi untuk acara karena Mamanya juga bekerja di Instansi yang sama dengan suaminya itu.
Sejak kecil Diraya hanya dekat dengan sang kakak, karena Kakaknya yang selalu berada disisinya dan paling mengerti dirinya. Dira hanya memiliki kakaknya saja karena mereka hanya dua bersaudara, perbedaan umur mereka hanya berjarak 4 tahun dan karena itulah mereka akrab dan sering menghabiskan waktu bersama.
Semenjak ia memutuskan kuliah di Yogyakarta orangtuanya tak pernah sekalipun menanyakan kabarnya, meskipun mereka mengirimkan biaya sekolah dan makan sehari-hari untuk Diraya namun tak pernah sedikitpun Diraya gunakan uang itu karena ia tahu orangtuanya sekarang membencinya karena keputusannya berkuliah di kota yang jauh dari kedua orangtuanya.
Beruntung sang kakak selalu setia menanyakan kabarnya juga kuliahnya, terkadang Diraya ingin menghubungi orangtuanya namun panggilannya tak pernah mendapat jawaban, dan Diraya paham orangtanya tak pernah setuju dengan keputusan yang diambilnya sejak ia berkuliah.
"Teteh." teriak Dira saat Naraya baru saja datang bersama Mama.
"Dira kamu udah pulang? Kok gak kasih kabar?" tanyanya langsung memeluk Diraya.
"Suprise dong biar teteh kaget", ucapnya sambil melepas pelukan Naraya.
"Baru sampai kamu?" tanya Mama dengan nada dingin seperti biasanya.
"Iya Mah", ucapnya langsung menyalami sang Mama.
"Ya sudah kalian ganti baju dulu setelah itu makan", ucap Mama yang langsung pergi ke kamarnya.
"Teh Mama masih marah ya sama Dira?" tanya Dira pada Naraya.
"Shtt, Mama gak marah sama kamu buktinya dia nanyain kamu", ucap Naraya kemudian mengajak adiknya itu masuk ke kamarnya.
"Teh, Dira udah mau wisuda loh tahun depan, tapi Mama sama Papa gak ada nanya-nanyain, kayaknya mereka memang marah sama keputusan Dira", ucapnya menyenderkan dirinya di kasur Naraya.
"Gak boleh suudzon ah, apalagi sama orang tua sendiri, udah jangan berprasangka buruk, kamu bentar lagi selesai kuliahnya kan bakalan balik ke Bandung lagi tinggal di sini " jelasnya.
"Tapi nanti teteh udah nikah terus aku sendirian"
"Kamu juga kan nanti nikah, kita bakal punya kehidupan masing-masing", ucapnya sambil menarik dagu Diraya.
"Ehh tapi calon teteh tuh baik gak? Ganteng gak?" tanya Dira penasaran.
"Alhamdulillah baik Dek, dia juga sering silahturahmi sama Mama sama Papa, kalau Ganteng itu relatif Dek kita gak boleh membandingkan InsyaAllah kalau akhlaknya baik pasti wajahnya tampan", ucapnya.
"Teteh yakin nikah sama dia? Aku cuman mastiin aja takut teteh nanti sakit hati sama dia, pokoknya aku gak mau teteh sampai kecewa dan disakitin", ucapnya.
"InsyaAllah ini pilihan terbaik teteh, gak akan salah pilih semoga ini yang terakhir buat teteh", ucapnya menarik tangan Dira untuk meyakinkannya.
Dira hanya tersenyum pada Naraya ia sedikit tenang karena kakaknya sekarang sudah menemukan pendamping hidupnya yang ia cintai, Diraya percaya kakaknya akan bahagia setelah ini.
*-*-*-*-*
Hari pernikahan yang di nanti akhirnya datang, Wira sudah gagah dengan baju putih sedangkan Naraya terlihat sangat cantik dengan baju kebaya dengan hijab dan ditambah singer di kepalanya membuatnya tambah sangat cantik hari ini.
Dengan mantap Wira mengucapkan ijab kabul dengan satu tarikan nafas, hingga terdengar suara saksi yang mengatakan SAH dan orang-orang yang mengucapkan Hamdallah bersamaan termasuk Naraya yang juga mengucap syukur.
Dengan tangan gemetar Wira memasangkan cincin di jari Naraya begitupun sebaliknya. Dalam hati Wira ia berharap benar-benar bisa membuka hatinya untuk Naraya karena ia sudah menerima Naraya di dalam hidupnya. Ia berharap Naraya akan sabar menunggunya yang entah kapan akan mencintai Naraya.
Tak lama resepsi pun dilaksakan, undangan tamu yang tidak lebih dari seribu sudah memadati Gedung, Wira dan Naraya juga sudah mengganti baju mereka dengan warna Gold yang di pilih Naraya saat fitting baju.
"Diraya Dimana? Kita mau foto keluarga dulu", ucap Mama yang sudah berdiri di pelaminan.
"Tadi dia ngajak Faqih", jawab Naraya.
Wira hanya berdiri tenang sambil menyalami tamu-tamu, namun saat nama Diraya disebut Mama mertuanya itu entah mengapa ia merasa berdebar-debar dan merasa teringat pada Diraya yang pernah ia temui di Yogyakarta lima bulan lalu.
"Ehh itu Dira, cepetan kesini kita foto", teriak Mama.
Wira yang mendengar teriakan Mama mertuanya langsung menatap ke arah pandang yang sama, seorang gadis cantik dengan rambut di gelung dengan khiasan di kepalanya sedang berjalan mengandeng anak kecil.
Dira menatap ke arah pelaminan dan berjalan ke arahnya seraya meninggalkan anak kecil itu bersama Bundanya. Jantung Wira berdetak lebih cepat, wanita yang pernah ia kagumi saat pertama kali ia lihat sekarang berada di pernikahannya, lebih tepatnya sekarang dia menjadi adik Iparnya, Wira tidak pernah tahu jika yang Naraya ceritakan adik perempuannya bernama Diraya adalah Diraya yang ia temui di Yogyakarta saat liburan.
"Iya Mah?" tanyanya sudah naik ke atas pelaminan.
"Kita foto keluarga dulu", ucap Mama menarik tangannya.
Wira melihat Diraya yang tersenyum ke arahnya dan Naraya dan berjalan ke arah Mama mertuanya untuk mengambil posisi.
"Maaf Untuk Bunda sama Mbaknya bisa bertukar posisi sama Ayah, Mbak dekat sama Mas pengantinnya terus Bundanya di sebelahnya, Ayahnya pindah kepengantin perempuan", ucap fotografer yang akan mengambil gambar mereka.
Dira berjalan ke arah Wira, Wira memperhatikan wajah Dira yang begitu cantik bahkan dengan makeup yang tidak berlebihan, ia tersenyum pada Wira, tingginya hanya setelinga Wira, badannya memang bagus tinggi kurus, lebih tinggi dari Naraya dan lebih putih. Dira terlihat sangat cantik, Namun Naraya lebih manis dan terlihat imut di tambah lebih terlihat sopan dengan hijabnya.
"Oke tetehnya coba badannya ke samping", ucap fotografer memberikan arahan pada Diraya.
Dira pun menuruti, Wira sebisa mungkin menahan dirinya karena ia benar-benar terkejut melihat Diraya yang ia kagumi tiba-tiba berada di sebelahnya dan ia melihatnya secara langsung dan lebih dekat, dan kini kenyataannya Diraya adalah Adik Iparnya, Wira menghela nafasnya ia sedari awal hanya kagum pada paras Diraya namun sekarang Naraya menjadi istrinya tentu saja ia lebih kagum pada Istrinya sekarang yang sudah menutupi dirinya dengan hijab dan lebih terlihat damai baginya.
Setelah selesai foto keluarga, Diraya menyalami Wira dan Naraya sebelum pamit pergi menemui anak kecil tadi yang juga sepupunya. Pandangan Wira tak lepas dari Diraya, ia selalu mengembangkan senyumnya, bahkan banyak mata melirik ke arahnya dengan tatapan kagum juga suka, dia memang cantik ya Adik iparnya kini memang cantik sama seperti Maya itulah kata hati Wira.
"Wir, gawat cewek yang waktu itu ternyata adik ipar loe", ucap Hendra menyalami Wira dan berbisik padanya karena takut Naraya mendengarnya.
"Ia dia jadi Adek gue, gue juga baru tahu barusan", ucap Wira.
"Wahh awas aja kalau loe selingkuh sama Adeknya jangan ampe loe embat dua-duanya", ucap Hendra memperingatinya.
"Nggak gila aja, gue cuman kagum sama dia, lagian sekarang udah jadi adek gue", ucap Wira.
Hendrapun kemudian tersenyum dan mengangguk kemudian Oki pun turut berbisik di telinganya.
"Oke karena loe udah nikah jadi biarin Adeknya buat gue, soalnya cantik banget", ucap Oki di telinga Wira.
"Terserah loe, tapi gue gak mau iparan sama loe", ucap Wira.
Oki pun melepas jabatannya dan menyikut Wira dengan pelan sebelum keduanya tertawa berasamaan.
Dalam hati Wira dia merasa tidak tenang, dia memang belum mencintai Naraya namun ia akan berusaha membuka hatinya. Ia hanya bingung mengapa Tuhan menakdirkannya bertemu Diraya yang sempat ia kagumi dan kini menjadi adik iparnya. Wira tak pernah berpikir mencintai Diraya karena bagi Wira Naraya jauh lebih baik dari segi akhlak dan perilakunya, Wira yakin.