Hari sudah mulai gelap Pukul 18.10 ayah Yui pulang dan ibunya segera menyiapkan makan malam untuk mereka. Ibu Yui sangat pandai memasak. Lauk pauk yang disajikan sangat beragam dan semuanya lezat. Yui, Kenichi, dan Imelda makan malam bersama dan sesekali mereka menanyakan keadaan Yui di sekolah.
Ayah Yui mengambil nasi dan lauk dengan porsi cukup banyak. Yang membuat ibunya heran, Yui tidak biasanya mengambil porsi nasi dan lauk sedikit, biasanya ia sangat lahap dan mengambil porsi makan besar untuk menyantap masakannya.
“Yui, kamu makan sedikit sekali sayang?” ucap ibu Yui heran. “Apa kelihatannya masakan ibu tidak enak?” tanya ibu Yui lagi sedikit kecewa.
“Ah….no, Mama!” ucap Yui sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Yui pengen makan ini,” ucap Yui sambil menunjuk video kuliner vlog di sosial media miliknya.
Ayah dan Ibu melihat video yang ditunjukkan Yui, dengan seksama mereka melihatnya, memang video kuliner vlog tersebut terlihat sangat menggiurkan. Video tersebut tidak sengaja muncul dan lewat di beranda sosial media milik Yui. Yui memang hobby mencicipi jajanan yang belum pernah ia makan sebelumnya. Jajanan yang berbalut kulit lumpia dan telur tersebut sukses membuat Yui ngiler dan ngidam. Ya, martabak telur, yang Yui belum pernah merasakannya selama di Jepang.
“Makanya Yui makan sedikit, takut kekenyangan. Habisnya… dari tadi Yui ngiler banget!” ucap Yui sambil memelas sambil melirik-lirik ibu dan ayah Yui. Ayah dan ibu Yui melihat muka memelasnya dan ayah Yui tiba-tiba tertawa.
“Hahaha…, mengapa kamu tidak bilang ke Papa kalau ingin makan martabak telur? Papa bisa membelikannya saat pulang.”
“Yui, kalau emang kamu pengen, kamu berangkat sama Papa, ya!” ucap ibu Yui khawatir, karena tidak ingin anak perempuan satu-satunya itu pergi sendiri.
“Mmm…..di seberang apartemen, sepertinya Yui melihat abang jualan martabak. Yui bisa pergi sendiri, Ma, Pa,” bujuk Yui kepada orang tuanya.
“Baiklah, Mama dan Papa ijinkan, tapi kamu langsung pulang ya!”
“Haik!” ucap Yui dengan logat bahasa Jepangnya sambil tersenyum dan menganggukkan cepat kepalanya tanda mengerti.
“Wah, jatah makan malam Papa jadi banyak, nih! Hahahaha…,” ucap ayah Yui tertawa senang dengan sedikit menggoda ibunya.
Yui segera menyelesaikan makan malamnya dan bersiap-siap pergi keluar rumah. Ini pertama kalinya Yui keluar malam sendiri. Sebelumnya selama sebulan ini, Yui selalu diantar ayahnya kemana-mana, karena Yui belum tahu jalan. Di seberang apartemen tempat Yui tinggal, memang ada sebuah mal yang di dalam area malnya terdapat ruko-ruko yang menjual makanan. Yui segera menyeberangi jembatan penyeberangan dan menuju area mal tersebut.
Sesampai di sana Yui akhirnya menemukan ruko yang menjual martabak telur. Yui segera memilih menu yang ditampilkan di depan gerobak penjual martabak tersebut.
“Bang, beli martabak telur spesial 1 ya, yang pedas!”
“Oke neng!” ucap abang penjual.
Yui duduk di bangku yang disediakan abang penjual martabak telur tersebut. Sambil menunggu pesanan, Yui men-scroll sosial medianya agar tidak bosan. Sekitar 5-7 menit Yui scroll, abang penjual martabak tersebut memanggil Yui.
“Neng….Neng….!” ucap abang tersebut memanggil Yui. Yui yang dari tadi tertunduk dan scroll sosial media tidak menyadari kalau yang dipanggil abang penjual adalah dia. Yui memang mendengarnya, tetapi Yui benar-benar tidak tahu kalau yang dimaksud panggilan ‘Neng’ tertuju kepadanya.
Akhirnya abang penjual tersebut menggerutu dan ngomel pelan, “Buset, budek banget tuh, cewek! Ketutupan rambutnya kali, ya?” Lalu abang itu pun mencoba mendekati Yui dan menepuk pundak Yui pelan. “Neng, maaf ini martabaknya udah jadi.”
Yui pun menoleh.”Ah, maaf saya tidak tahu. Mmm…maaf, apa maksud Anda panggil saya Neng?” Yui bertanya sambil mengkerutkan alisnya tanda tidak paham. Abang penjual itupun bingung, apakah Yui benar-benar nggak tahu atau tersinggung dengan panggilan neng tersebut? “Maaf, saya benar-benar tidak tahu apa artinya neng,” ucap Yui seraya menjelaskan.
“Ohhh…. Neng nggak tahu artinya, neng itu panggilan perempuan yang masih muda, di sini biasa kalau nggak tahu namanya, biasanya manggilnya neng, kaya saya nih, dipanggil abang, itu panggilan buat laki-laki, gitu Neng,” jelas abang penjual martabak dengan mengayun-ayunkan tangannya dan melihat Yui sambil heran. Yui mengangguk pelan seraya paham.
“Bukan orang sini ya, Neng?”
“Mm..bukan, saya dari Jepang,”
“Ohhh….dari Jepang, pantes Neng nggak tahu artinya. Di sini juga banyak kok, Neng, orang bule datang kemari beli martabak. Pokoknya jangan diragukan lagi deh, Neng, kalau beli di martabak telur MANG ASEP dijamin ketagihan!” ucap abang penjual martabak sambil menunjukkan spanduk tulisan martabak telur ‘Mang Asep’. Yui hanya mengangguk-angguk saja sambil pamit untuk pergi.
Yui beranjak dari tempat duduknya dan berdiri sejenak di depan ruko penjual martabak telur tersebut. Yui penasaran dan mencoba mencicipi sedikit martabak telur itu. Saat Yui mencicipi sedikit, Yui takjub dengan rasanya. Ingin rasanya Yui menghabiskan saat itu juga. Sepertinya harus masuk nih, ke list langganan jajanan Yui! Namun saat Yui menikmati martabak telur tersebut, tiba-tiba Yui melihat pintu mal dan melihat orang-orang yang nggak asing Yui lihat tadi di sekolahnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Andre dan teman-temannya, Dika, Rara, Irish, dan Bella. Yui melihat mereka sedang asyik mengobrol tertawa bersama dan berjalan menuju tempat parkir mobil.
Yui melihat mereka cukup lama dan saat mereka pergi ke arah mobil mereka, tiba-tiba tas salah satu dari mereka dicopet.
“Copet!” teriak salah satu teman Andre, Rara.
“Hah, mana…mana copet?” kata Bella gugup.
“Itu copet ngambil tas gue!!” teriak Rara sambil menunjuk copet tersebut. Mereka pun mengejar.
Yui yang dari tadi melihat mereka dari depan ruko martabak, langsung reflek mengambil bangku tempat duduk abang penjual. Abang penjual martabak tersebut terkejut sambil ingin menghalangi apa yang akan dilakukan Yui terhadap bangku miliknya. “Eh, Neng, Neng…buat apa Neng!” teriaknya panik.
Yui tiba-tiba saja melempar bangku milik abang penjual martabak dan tepat mengenai kaki pencopet itu. Pencopet itu pun tersandung bangku kursi dan terjatuh, hingga tas yang digenggam pencopet itu lepas dan jatuh ke jalan juga. “Yatta!” Yui teriak senang, karena bangku tersebut mengenai pencopet yang hampir saja merenggut tas milik teman sekelasnya itu.
Yui segera mengambil tas Rara. Pencopet tersebut jatuh lemas dan tidak mampu untuk berdiri karena kesakitan. Andre, Dika, Rara, Irish, dan Bella segera menghampiri Yui. Yui pun segera mengembalikan tas milik Rara. “Ini tas kamu,” ucap Yui sambil tertunduk dan menyodorkan tas tersebut ke Rara. Rara sempat speechless, karena gadis pendiam tersebut menolongnya. Rara mengambil tas miliknya dan tidak sempat berkata apa-apa. Yui segera berbalik arah dan lari meninggalkan mereka berlima. Andre yang melihat pencopet tersebut yang masih tersungkur kesakitan, segera memanggil satpam.
“Pak, tolong amankan orang ini, dia tadi nyopet tas milik teman saya!”
“Baik, mas!” ucap satpam tersebut dengan sigap menyekap pencopet.
“Yui! Yui! Bangun sayang, sudah jam setengah 6!” ucap ibu Yui pelan sambil menggoyang-goyangkan tubuh Yui yang tertidur pulas. Yui pun terbangun mendengar suara lembut ibunya.
“Mmhh, Mama,” ucap Yui dengan nada seraknya.
“Ayo bangun, nanti telat lo!” ucap ibu Yui dengan suara lembutnya.
“Oke, Ma.”
Yui pun segera beranjak dari tempat tidurnya dengan rasa malas dan segera bersiap-siap untuk ke sekolah dan menyantap sarapannya.
“Yui, mau dianter Papa lagi?” ucap ayah Yui.
“Nggak usah Pa, Yui udah tahu jalan sekolahnya kok, lagi pula Yui suka jalan kaki.”
“Yui, kamu masih inget nggak, teman kamu waktu kecil? Mm….namanya….,” ucap ibu Yui sambil mengingat-ingat.
“Siapa, Ma?” tanya Yui penasaran, Yui juga mulai mengingat-ingat. Saat mulai mengingat, ada seseorang yang terlintas di benak Yui. Yui kaget “Jangan-jangan”.
“Mama lupa namanya, tadi pagi ibunya menelepon Mama, katanya dia ijin anaknya buat tinggal bareng kita, soalnya anaknya mau sekolah di SMA bareng Yui.”
“Siapa sih, Ma?” tanya ayah Yui sambil meminum segelas air.
“Itu ibu Ta-keru…..Takeru siapa ya?” ucap ibu Yui mengingat-ingat lagi sambil mengetuk –ngetuk pelipis dengan telunjuknya. Yui semakin kaget benar apa yang dipikirkannya. That is Takeru Ryota! Teman masa kecil Yui semasa SD.
“Takeru….Ryo..ta?” ucap Yui menebak pelan.
“Ah, iya, Takeru Ryota! Yui ingat?” tanya ibu Yui. Yui mengangguk pelan.
Karena waktu sudah menunjukkan pukul 06.50, ayahnya segera menyelesaikan sarapan dan berpamitan dengan istrinya. “Ya udah, Ma. Papa berangkat dulu ya, udah hampir jam 7!”
“Yui juga, Ma!” ucap Yui sambil meminum segelas air putih dan segera mencium kedua pipi ibunya.
~~
Yui berjalan pelan menuju sekolah sambil mengingat-ingat wajah teman kecilnya itu, kalau nggak salah ingat temannya waktu itu agak gemuk dan pendek. Dia sering diejek teman-temannya karena fisiknya. Waktu itu Yui lah yang sering menghiburnya di kala Ryota sedih. Yui dan Ryota jadi sering main bareng di taman bermain dekat rumah mereka.
Teman-teman Ryota tidak berani menghina fisik Ryota lagi, karena Yui bersikap dingin, datar, dan terkesan menyeramkan saat menegur teman-teman Ryota. Apalagi rambutnya dan poninya yang panjang dari dulu, seperti hantu kata teman-temannya. Namun, Ryota tetap senang berada di dekat Yui.
Sampai suatu saat Ryota dan ibu Ryota berpamitan kepada Yui dan keluarga Yui untuk pindah ke luar negeri, karena Ayahnya dipindah tugaskan ke Amerika. Waktu itu Ryota memeluknya dengan sedih. Yui pun penasaran bagaimana keadaan Ryota saat ini. Masih gemukkah? Masih cengengkah dia?
~~
“Kringggggggggggg…!!!” Bel berbunyi tanda istirahat. Semua muridpun segera meninggalkan kelas.
“Bell, Rara, yuk, ke kantin! Dika, Andre, kuy!” ajak Irish.
“Oke,” ucap Rara sambil beranjak dari tempat duduk dan segera keluar kelas.
“Mau kemana loe, Ra?” tanya Andre dengan sigap menarik lengan Rara yang berada di belakang Rara.
“Kenapa sih?” tanya Rara heran sambil mengkerutkan alis.
“Loe lupa sama janji loe waktu malam minggu kemarin?” ucap Andre dengan melihat wajah Rara yang memasang wajah males.
“Say thank you!” ucap Andre kepada Rara. Rara yang melihat wajah Andre serius, segera menepis tangan Andre yang dari tadi mengenggam lengan tangannya.
“Ya udah, loe semua cabut duluan!” ucap Rara ke semua teman-temannya.
Waktu malam minggu, saat Yui menolong Rara, Andre memang sempet melihat Rara tidak berkata apa-apa ke Yui. Maka dari itu, Andre teman masa kecil Rara, mengirim pesan teks ke Rara saat semua sudah tiba di rumah.
“Ra, besok Senin ajak Yui ngobrol dan say thanks to her,okey?”
Rara yang mendapat pesan teks dari Andre tersebut, hanya bilang “Ya”, singkat, padat, dan jelas. Sebenarnya itu juga taktik Andre agar Rara bisa menerima Yui sebagai temannya dan mau mengajak Yui buat ngobrol dan kumpul bareng mereka berlima. Andre memang cowok supel, tetapi dia nggak biasanya ngomong serius tentang cewek dan seperhatian ini.
Bella, Irish, Andre, dan Dika segera menuju ke kantin sekolah untuk makan siang. Mereka akhirnya setuju buat ninggalin Rara. Tetapi, Andre masih penasaran apa yang akan dilakukan Rara dan apa yang diomongin Rara ke Yui. Andre masih kepikiran saat akan berjalan menuju kantin, tiba-tiba aja Andre nyeletuk.
”Temen-temen, kalian cabut duluan ya! Gue mau ke toilet dulu,” ucap Andre sambil berbalik arah dan berlari sambil melambaikan tangan ke teman-temannya. Sesampainya di depan pintu kelas, Andre yang penasaran, mengintip di balik pintu kelas dan berusaha mendengar obrolan Rara dan Yui.
“Yui, gue mau ngomong sama loe,” ucap Rara sedikit canggung dan suaranya yang datar sambil sesekali melihat sekitar.
“Eh, iya, gue?” ucap Yui bertanya-tanya sambil mengernyitkan alis.
“Iya, loe!” Rara sambil menunjuk ke arah Yui.
“Gu…e, loe..?” ucap Yui masih tidak paham dengan ucapan Rara. Rara sampai kesal dibuatnya. Rara pun menarik kursi di depan Yui sambil mengeja apa yang diucapkannya barusan.
“Gue…I…Loe….You,” ekspresi Rara dengan menunjukkan jari telunjuknya ke arahnya dan ke arah Yui.
“Gue… mau ngomong… sama loe….., paham?” ucap Rara mengeja dengan penuh penekanan dan sedikit kesal. Dalam hati Rara pun ngomong, “Lemot banget nih, cewek!”
“Ah, ya…ya…mau ngomong apa?” ucap Yui paham.
“Gue mau berterima kasih ke loe, soal tas gue yang dijambret."
“Jam…bret?” tanya Yui kebingungan lagi. Rara yang kesabarannya setipis tissue dibagi 100 semakin kesal dibuatnya.
“Duu-uuuhhh, loe lemot banget sih! Maksud gue jambret itu maling, PEN-CU-RI!” ucap Rara kesal.
“Ah,ya. Ma-maaf aku nggak begitu tahu,” ucap Yui sambil tertunduk.
Tiba-tiba Rara mengulurkan tangannya kepada Yui untuk mengajaknya berkenalan.
”Gue Rara,” ucap Rara mengulurkan tangan sambil sedikit cuek dengan nadanya yang judes.
“Yo…shida Yui,” ucap Yui sambil mengulurkan tangannya juga, seraya bersalaman dengan Rara.
“Oke, itu aja yang pengen gue omongin ke loe. Gue nggak mau banyak basa-basi,” ucap Rara sambil beranjak dari tempat duduknya. Andre yang tahu Rara sudah selesai ngobrol langsung pergi juga.
Di kantin Andre baru saja mengambil makanan gratis di sekolahnya disusul Rara. Seperti biasa Andre duduk di samping Dika.
“Lama banget loe, Ndre. Boker loe? Sakit perut?” tanya Dika sarkas.
Andre yang bingung mau menjawab apa, langsung disela oleh Rara,”Emang abis dari mana loe?” tanya Rara memasang muka curiga, takut kalau Andre iseng nguping percakapan Rara dan Yui tadi. Karena Rara curiga ada yang nguping dari balik pintu kelas tadi, saat Rara akan memulai mengobrol dengan Yui. Tetapi saat Rara menoleh, orang itu sekilas hilang.
“Abis dari toilet. Kan, gue bilang tadi ama Dika, sakit perut gue,” ucap Andre sambil menyantap makanannya.
“Gue udah bilang makasih sama Yui,” ucap Rara dengan nada datar.
“Oh, ya, terus?” ucap Andre pura-pura penasaran.
“Ngobrol apa aja loe ke Yui, Ra. Loe nggak canggung ngobrol sama anak Jepang itu?” tanya Bella penasaran.
“Tumben banget!” ucap Irish menyusul obrolan.
“Emang kenapa sih? Gue cuma bilang makasih doang, lebay banget!” ucap Rara sambil menyantap makanannya.
“Terus loe nggak ngajak dia gabung?” tanya Andre.
“Enggak,” ucap Rara santai sambil terus menyantap makanannya.
“Ajak lah dia gabung, yaa… itung-itung sebagai tanda terima kasih loe ke dia,” bujuk Andre seakan mendesak Rara. Rara sempat diam sejenak dan meletakkan sendok di piringnya. Irish dan Bella udah mulai merasa hawa-hawa nggak enak. Mood Rara lagi nggak bagus.
“Gue ke toilet dulu,” ucap Rara sambil beranjak dari tempat duduknya. Rara nggak cuma kesal, dia seperti
cemburu ketika Andre perhatian banget kepada Yui. Maklum, Rara sudah menyukai Andre sejak masih duduk di bangku kelas 1 SD, waktu Andre ditempatkan ibu wali kelasnya duduk di samping Rara. Rara jadi jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Andre. Sampai sekarang pun Rara masih suka, apalagi mereka 1 kompleks.
~~
Yui pergi ke toilet, karena penasaran dengan rasa sakit yang ada di jidatnya. Yui pun mengangkat poninya dan ternyata ia melihat dua benjolan merah yang sedang meradang, yang tidak lain adalah jerawat. Mungkin karena hawa di Jakarta yang begitu panas, sehingga jerawat pun bermunculan.
“Huh, Itai! “ ucap Yui kesakitan sambil memencet jerawatnya.
Tak lama kemudian, saat Yui sedang fokus dengan jerawatnya. Yui kaget, karena Rara tiba-tiba muncul di belakangnya. Yui segera menurunkan poninya kembali. Yui melihat Rara sambil menyilangkan tangannya dan bersandar ke tembok.
“Ra-rara,”
“Kenapa kaget? Gue mau cuci tangan,” ucap Rara menuju wastafel dan kemudian mencuci tangannya. Yui hanya diam.
“Kok, diem? Loe mau cuci tangan juga? Mau gue ajarin?”
Yui masih terdiam. Yui bingung mau ngomong apa, karena Rara menanyainya dengan nada jutek dan lirikan matanya yang begitu sinis. Selesai mencuci tangan, Rara menyisiri tubuh Yui dari bawah ke atas. Tiba-tiba Rara tersenyum remeh.
“Gimana bisa punya temen, kalau modelan loe kaya gini? Poni sama rambut aja hampir nutupin muka, aneh tau gak! Udah kaya Sadako aja!” ucap Rara sambil mengambil tissue toilet untuk mengelap tangannya yang basah dan kemudian meninggalkannya.
Lagi-lagi Yui hanya terdiam dan membisu, ini bukan pertama kali Yui mendapat bully verbal seperti ini. Memang dulu sempat ada teman mirip seperti Rara yang komentar pedas kepada Yui. Namun Yui merasa aneh, kenapa Rara tiba-tiba tersenyum remeh dan memaki Yui, padahal tadi di kelas dia baru saja mengobrol dan berkenalan dengan Yui.