Dering ponsel masih terdengar, kupercepat langkah menuju kamarku. Jemariku menggeser tombol hijau di layar ponsel, setelah sebelumnya pintu kamar ku pastikan tertutup rapat dan terkunci.
°°°KhaRa_Asha°°°
"Assalamu'alaikum …," Suara serak khas Bang Anto terdengar diseberang telepon.
"Wa'alaikumsalam …," sahutku sembari duduk di sofa dalam kamar.
"Sudah dibaca belum pesanku di aplikasi hijau, Dena? Harusnya Deli sudah ada di rumahmu, kan, sekarang?" Bang Anto seperti sedang mengintrogasiku.
"Baru saja selesai baca, Bang Anto sudah telepon. Alhamdulillah, Kak Deli sudah ada di rumah Dena sekarang," jawabku setenang mungkin.
"Kenapa kamu nggak menolak kedatangan Deli?" Nada suara Bang Anto terdengar seperti sedang kesal. Apa dia sedang kesal padaku?
Pertanyaan Bang anto terdengar sangat tidak masuk akal menurutku. Bagaimana bisa menolak Kak Deli yang ingin datang ke rumahku. Kak Deli hanya memberitahukan bahwa dia sedang dalam perjalanan, tak sedikitpun terlintas pikiran buruk atas kedatangannya yang begitu tiba-tiba.
Awalnya kupikir, mungkin dia akan datang bersama Bang Anto, atau anak dan menantunya. Ternyata dugaanku salah, Kak Deli hanya datang sendirian.
"Aku sudah hubungi Bapak tadi malam, setelah tahu Deli berangkat tanpa izin dariku. Bapak sangat kaget, ada pesan dari beliau yang harus aku sampaikan!" ungkap Bang Anto, suaranya terdengar emosi.
"Tu–tunggu sebentar, Bang! Dena nggak paham apa yang barusan Bang Anton sampaikan! Pesan yang tadi juga, Dena benar-benar nggak mengerti!" jelasku kebingungan.
"Sekarang dimana Deli? Tolong berikan ponselmu ke Deli, aku mau bicara! Dari tadi malam aku nggak bisa menghubungi Deli, sepertinya nomer ponselku di blokirnya!" resah Bang Anto.
"Tolong Abang jelaskan dulu, sebenarnya ada apa? Pesan apa dari Bapak yang mau Abang sampaikan?" tanyaku penuh rasa ingin tahu.
Bang Anto adalah suami kedua Kak Deli, mereka baru menikah dua bulan lalu. Aku turut serta menghadiri acara lamarannya waktu itu. Tapi saat pernikahan mereka tak bisa hadir, karena Nisa harus mengikuti lomba di sekolahnya.
"Deli nggak cerita apapun sama kamu, Den?" tanya Bang Anto.
"Nggak cerita apa-apa, Bang! Tadi malam Kak Deli menelpon Dena. Kak Deli bilang dia sedang dalam perjalanan ke sini, cuman itu! Dena nggak berani menyanggah atau bertanya, takut Kak Deli tersinggung dan marah. Saat sampai tadi, Kak Deli terlihat sangat tenang dan santai, seperti sedang tidak ada masalah apapun," jelasku.
"Kakakmu meminta cerai padaku! Aku ingin menyelesaikan semuanya baik-baik, tapi Deli malah pergi melarikan diri begini! Kemarin sore dia pulang ke rumahnya setelah kami bertengkar hebat, ku kira dia hanya ingin menenangkan diri sementara di sana," ungkap Bang Anto lantang.
Mataku membulat, kepalaku rasanya tiba-tiba sangat pusing. Kenapa tiba-tiba jadi begini, sebenarnya apa tujuan Kak Deli datang ke rumahku? Benarkah dia sedang lari dari masalah rumah tangganya?.
"Bisa kamu tolong bujuk Deli, kami berdua harus bicara!" desak Bang Anto.
"Bang Anto tenang dulu, ya! Kak Deli sedang istirahat di kamar Nisa, nanti biar Dena coba bicarakan ini sama Kak Deli. Tentang pesan dari Bapak, apa terkait masalah ini juga, Bang?"
"Baiklah, Den. Semoga Deli mau mendengarkan kamu. Soal pesan dari Bapak, kata beliau kamu harus bisa tega dan tegas meminta Deli untuk pulang kembali ke kampung. Agar masalah ini tak berlarut-larut, Bapak sangat malu pada keluarga besar di kampung." papar Bang Anto.
Ingin sekali rasanya bertanya lebih banyak lagi pada Bang Anto, tapi ku urungkan niat itu. Alasan apa yang bisa ku gunakan agar Kak Deli mau pulang ke kampung? Nanti saja ku minta bantuan Bang Hasyim untuk bicara lagi dengan Bang Anto.
"Maaf, ya, Den! Abang malah jadi mengganggu dan merepotkan kamu, hubungi Abang secepatnya, ya! Aku sudah nggak tahan menanggapi pertanyaan semua keluarga di kampung," keluh Bang Anto.
"Insya'Allah … Dena nggak merasa terganggu atau direpotkan, semoga masalah ini bisa cepat terselesaikan, ya, Bang! Aamiin …."
"Aamiin … Assalamu'alaikum!" Bang Anto mengakhiri panggilan.
"Wa'alaikumsalam …," jawabku. Terdengar nada panggilan terputus, ku buka kembali pesan dari Bang Anto sekedar ingin memastikan .
[Assalamu'alaikum Dena, Deli sekarang ada di rumahmu kan? Harusnya kamu menolak kedatangan Deli dengan alasan apapun, jadi dia nggak punya tempat untuk melarikan diri!]
Ku letakkan ponsel di nakas. Bismillah … kucoba menjernihkan pikiran dengan membaringkan badan di ranjang, tanganku memijat kepala yang tiba-tiba saja terasa sakit karena masalah Kak Deli.
Usia Kak Deli sudah lima puluh tahun, wajahnya cantik, tubuhnya langsing dan sangat terawat. Dari pernikahan pertama, Kak Deli dikaruniakan dua orang putra. Anak pertama bernama Bian, sudah menikah dan memberikan dua orang cucu untuk Kak Deli. Bian tinggal bersama di rumah Kak Deli, dia juga membantu Kak Deli mengelola usaha warung makan. Sedangkan anak kedua bernama Leon bekerja di kota, sudah menikah tapi belum memiliki anak.
Suami pertama Kak Deli meninggal dunia dua tahun lalu karena sakit, pernikahan dengan Bang Anto terjadi karena perjodohan yang dilakukan oleh saudara Bapak. Entah apa alasannya sehingga Kak Deli menerima perjodohan itu.
Awalnya aku mengira Kak Deli tidak akan mau menikah lagi, selain usianya yang sudah berumur, yang kutahu rasa cinta dan baktinya pada almarhum Bang Muhsin sangat besar. Saat mendapat kabar dari Kak Deli bahwa aku harus hadir di acara lamarannya, aku sangat kaget dan nggak percaya tapi hanya berani mengiyakan dan menuruti semua apa yang disampaikannya diseberang telepon.
Ternyata rasa gengsi dalam diri yang terlalu besar, seolah mengharuskan Kak Deli membuat acara layaknya lamaran wanita yang belum pernah menikah. Rumahnya dihias mewah, di depan rumah dipasang dua buah tenda untuk menampung semua tamu. Bahkan Kak Deli dirias oleh make up artist yang lumayan terkenal di kampungku.
Ternyata untuk acara pernikahan dilaksanakan lebih mewah lagi, aku tahu semua itu dari foto-foto yang dikirimkan Kak Deli setelah selesai acara resepsi pernikahannya. Ku lihat dari video yang juga dikirimkan, semua keluarga besarku begitu riang gembira menari mengikuti irama musik organ tunggal. Deretan makanan prasmanan tersaji begitu banyak dan menggugah selera melihatnya. Entah berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan Kak Deli dan Bang Anto untuk acara itu.
Suara Zio mengucap salam terdengar dari arah pintu samping rumah memecah lamunanku, mungkin sudah selesai gotong royong dan pasti dia sangat lelah. Merapikan sedikit sprei yang bergeser dan menyalakan pendingin ruangan, juga menutup semua jendela kamar. Bergegas ke dapur untuk menyiapkan makanan.
Baru saja selesai menghidangkan makanan di meja makan, kulihat Zio keluar dari kamarnya. Wangi harum aroma sabun tercium sampai dihidungku, rupanya begitu datang tadi Zio langsung mandi
"Mak … lapar. Zio boleh makan duluan?" ringis Zio. Kedua tangannya meremas perut dengan ekspresi memelas.
"Bapak mana, Zio? Panggil Kak Nisa dulu, ajak makan bareng. Selesai makan, langsung sholat!" titahku pada Zio yang wajahnya kini terlihat begitu memelas.
"Bapak lagi ngobrol di teras sama Bapaknya Imran. Dimana Kak Nisanya, Mak? Zio capek banget nih, Mamak aja lah, ya, yang panggilkan," pinta Zio seraya duduk di kursi meja makan.
Baru selangkah aku akan beranjak mencari di mana Nisa berada, terdengar suara sendok dan garpu yang berjatuhan di meja makan. Zio tersenyum kecut menatapku, tangannya yang tak sengaja menyenggol tempat sendok kini terlihat sibuk membereskannya kembali ke tempat semula.
"Mak … Zio makan duluan, ya? Setelah makan mau tidur sebentar, soalnya nanti sore sudah janjian mau main sepak bola sama teman-teman," dalih Zio. Belum sempat aku menjawab, Zio sudah membuka tudung saji dan mulai mengisi piringnya dengan nasi dan lauk pauk.
"Sudah cuci tangan, belum? Mau kerupuknya, nggak? Kalau mau, ambil di lemari dekat kulkas, ya," tunjukku mengarah ke lemari dapur. Zio sangat suka makan kerupuk, makan apapun pasti selalu mencari kerupuk. Setiap hari, aku selalu memastikan stok kerupuk yang sudah di goreng tersedia di lemari dapur.
"Iya, Mak. Zio makan yang ada aja, udah lapar banget," sahut Zio sebelum memulai makannya. Senyumku mengembang melihat Zio yang begitu lahap makan.
Langkahku terhenti lagi, bergegas kembali ke kamar karena mendengar dering ponsel. Belum sempat menekan tombol hijau, panggilan masuk di ponselku sudah terhenti. Ku usap layar ponsel, tertera nama Rima di panggilan tak terjawab. Tak berselang lama ponselku kembali berdering, ternyata Rima lagi yang menelpon.
Rima adalah keponakanku, anak dari sepupuku Yuni. Rima juga tinggal di kota yang sama denganku. Aku baru teringat telah memesan salah satu produk yang dijual di toko onlinenya, sesuai balasan pesannya di aplikasi hijau kemarin, hari ini Rima berjanji akan mengantarkan produk itu ke rumahku.
"Assalamu'alaikum Tante Dena!" Salam Rima dengan suara riang diseberang telepon.
"Wa'alaikumsalam … Rima jadi mau datang ke sini, kan? Gimana produk pesanan Tante, sudah ada atau belum?" cecarku. Aku sudah membayangkan akan mencoba produk yang ku pesan dari Rima, karena wajahku mulai ada sedikit flek hitam. Semoga saja cocok dan kulitku semakin sehat setelah menggunakanya.
"Tante Deli ada di rumah, ya, Tante? Produknya besok Rima kirimkan pakai kurir aja, ya? Tadi pas Rima mau ke rumah Tante, Mama telepon ceritain sesuatu. Maaf, ya, Tante. Mama melarang Rima ke rumah Tante Dena, kata Mama nanti jelasin sama Tante lewat telepon," ungkap Rima.
Aku termenung sesaat, mencoba mencerna apa yang diucapkan Rima barusan. Sederet prasangka mulai terbersit di benakku, rasanya semakin aneh saja semua yang terjadi setelah kedatangan Kak Deli.
Kenapa Kak Yuni sampai melarang Rima ke rumahku, hanya karena Kak Deli ada di sini. Apa sih sebenarnya yang dilakukan Kak Deli di kampung, begitu banyak kah masalah yang dilakukan Kak Deli hingga dia harus melarikan diri ke rumahku?.
Sekarang bukan hanya kepalaku yang sangat pusing, perutku tiba-tiba mulas karena merasa cemas. Apakah semua masalah yang Kak Deli timbulkan akan berdampak juga padaku?.
Sekarang bukan hanya kepalaku yang sangat pusing, perutku tiba-tiba mulas karena merasa cemas. Apakah semua masalah yang Kak Deli timbulkan akan berdampak juga padaku?.
°°°KhaRa_Asha°°°
"Loh … ke sini aja, Rima! Bawa produknya ke rumah, Tante udah janji sama ibu-ibu tetangga yang ada di komplek sini. Apa dong alasan Tante nanti sama mereka, kalau tiba-tiba saja acaranya dibatalkan. Siapa tahu nanti ada yang tertarik juga beli produk jualan kamu," bujukku penuh harap.
"Waduh … gimana, ya? Rima takut, Tante! Mama bisa marah besar nanti, kalau tahu Rima tetap pergi ke rumah Tante!" tolak Rima tapi terdengar ragu-ragu.
Otakku berpikir keras, gimana caranya aku tetap bisa membantu Rima memajukan usaha onlinenya dengan promosi ke tetangga di komplek tempat tinggalku ini. Dua bulan lalu, Rima menjadi salah satu yang harus terkena dampak pengurangan karyawan di Perusahaan tempatnya bekerja.
Atas usulku, Rima mau memulai usaha berjualan online produk kecantikan dan kesehatan. Bahkan kali ini aku sengaja membuat acara rujakan biar tetangga mau datang, sangat tidak mungkin juga kalau dibatalkan tiba-tiba karena semuanya sudah ku siapkan sesuai rencana.
"Nanti biar Tante yang jelaskan lewat telepon ke Mama kamu, ya! Rima berangkat ke sini sekarang, tapi berhentinya jarak dua rumah dari rumah Tante. Yang warna orange cat rumahnya, oke?" Aku berharap Rima mau menuruti saranku, dan semoga Amel si Tuan Rumah bercat orange bersedia menolongku.
"Oke, Tante Dena. Bener, ya, nanti jelasin sama Mama! Semoga saja ibu-ibu tetangga Tante ada yang berminat dan mau membeli produk jualan Rima, Aamiin ….."
"Aamiin … Tante tunggu, ya! Hati-hati di jalan!" tegasku. Dalam hati berucap semoga niat baik ini dilancarkan dan dimudahkan, aamiin.
"Iya, Assalamu'alaikum!" Rima mengakhiri panggilan teleponnya.
"Wa'alaikumsalam …." Terdengar nada panggilan yang diakhiri. Aku memutuskan untuk langsung ke rumah Amel saja, bergegas mengganti daster dengan gamis biru tua kesukaanku tak lupa hijab instant warna senada.
Saat baru saja keluar dari kamar, ku lihat di ruang keluarga tak ada Nisa. Melangkahkan kaki sedikit ke depan kamar Nisa, kemudian membuka sedikit pintu kamarnya yang ternyata tidak dikunci. Hanya ada Kak Deli di dalam kamar, di mana sih Nisa?.
"Assalamu'alaikum …." Ku kenali itu suara Nisa yang sedang dicari sedari tadi.
Suara Nisa mengucap salam terdengar dari arah teras rumah, pergi kemana dia siang-siang begini. Bahkan tidak ijin dulu seperti biasa kalau dia mau keluar rumah. Ku susul Nisa yang masih berada di teras rumah, dia duduk di kursi dan sepertinya sedang melamun. Satu tangannya menopang dagu, pandangannya seperti kosong menatap ke arah jalan di depan rumah. Tak biasanya Nisa seperti ini, sehari-harinya dia selalu riang ceria dan gembira.
"Wa'alaikumsalam! Dari mana, Nisa? Mamak cari kamu dari tadi, mana nggak bilang kalau mau pergi keluar rumah!" cecarku dengan tatapan heran.
"Nisa ijin kok sama Bapak. Waktu Nisa mau pergi keluar, kan, ada Bapak sama Bapaknya Imran di sini. Nisa tadi pergi ke rumah Lusi sebentar, ternyata Lusinya lagi pergi sama Papanya," celoteh Nisa dengan wajah masam.
"Oh, iya, ya? Tapi Tante Amelnya ada, kan? Kebetulan Mama mau ke sana nih, acara rujakan kita jadinya di rumah Tante Amel saja. Sekarang Nisa makan bareng Bapak, ya! Zio sudah duluan makan. Sekalian tolong bilang ke Bapak, Mamak pergi ke rumah Tante Amel sebentar," jelasku memberi pengertian pada Nisa.
"Iya ... nanti Amel boleh nyusul ke sana, kan? Menyebalkan nggak bisa masuk ke kamar Nisa sendiri!" gerutu Nisa. Aku jadi merasa bersalah, Kak Deli tak memperbolehkannya masuk ke kamar miliknya sendiri.
"Loh … kan besok Tante Deli sudah pindah ke kamar tamu, sabar, ya! Kalau sudah selesai makan, tolong langsung dicuci peralatan makannya. Jangan lupa sholat. Kalau mau nyusul Mamak, tolong sekalian bawakan 5 toples nastar sama 3 botol sirup yang di lemari dapur." Nisa berlalu tanpa menjawab, hanya anggukan kepala dan senyum tipis di wajahnya. Membuatku terdiam sesaat, rasa bersalah pada Nisa memecah konsentrasiku.
Astagfirullah … aku berusaha menguasai pikiran dan hati. Sekarang aku harus fokus tentang Rima terlebih dahulu, insya'Allah nanti malam akan ku ajak bicara lagi Nisa.
Ku percepat langkah menuju rumah Amel, begitu sampai di depan pagar, mobil yang biasa digunakan Rima berhenti tepat dihadapanku. Terdengar suara pintu rumah Amel dibuka, di depan pintu Amel memandang heran padaku dan juga mobil yang baru saja terparkir di depan rumahnya.
"Assalamualaikum … Amel," sapaku ramah.
"Wa'alaikumsalam … Dena mau ambil pesanan rujaknya, ya? Kebetulan udah selesai disiapkan, ayo masuk," ajak Amel padaku yang masih berdiri di depan pagar rumahnya. Sebenarnya aku sedang menunggu Rima yang masih berada dalam mobilnya.
Saat Rima keluar dari mobilnya, ku susul dia yang sedang melangkah menuju bagasi untuk mengambil barang bawaannya.
"Tunggu sebentar, Amel! Aku mau bantu Rima dulu mengambil barangnya. Nanti ada yang mau aku bicarakan sama kamu, Mel," terangku.
"Kalau begitu, sini aku bantu juga!" Amel mendatangi kami yang kerepotan membawa banyak barang, dia mengambil dua kotak barang dan membawa ke dalam rumahnya.
Aku dan Rima sudah di dalam ruang tamu Amel, barang-barang Rima pun sudah tersusun rapi di sudut ruangan. Ku lihat Amel hendak beranjak pergi dari ruang tamu.
"Mel … bisa bicara sebentar. Kamu kayaknya sudah paham, ya, jadi tanpa bertanya padaku langsung membantu kami membawa barang-barang ini masuk ke rumahmu?"
Amel tersenyum manis. "Kata Nisa kamu lagi ada tamu di rumah, jadi begitu melihat Rima keponakanmu bawa barang-barang ke sini aku langsung paham. Aku nggak keberatan kok kalau acara rujakannya pindah ke rumahku, kan masih ada waktu satu jam lagi buat siapin semuanya. Ayo ikut ke dapur, bantu aku, ya, Dena," ungkap Amel.
Aku mengikuti Amel ke dapurnya, kami mulai menyiapkan segala yang diperlukan. Sesekali kami saling mengobrol dan bercanda, sejenak terlupakan masalah yang sedang ku hadapi saat ini.
Aku dan Amel berteman akrab, usia kami hanya terpaut satu tahun. Kami mempunyai hobi yang sama, memasak dan makan. Anak-anak kami pun juga bisa saling akrab sama seperti kami. Terdengar deru mesin mobil berhenti di halaman rumah Amel, sepertinya Bang Lucky suami Amel yang datang.
Amel bergegas ke luar rumah, tak lama dia sudah kembali ke dapur membawa beberapa kantong belanja. Aku hampir lupa belum mengabari tetangga yang lain, kalau acara rujakannya pindah ke rumah Amel. Ku ketik pesan di grup aplikasi hijau di ponsel, masih ada waktu setengah jam lagi.
[Assalamu'alaikum, sebelumnya saya mau.minta maaf dan memberitahukan bahwa acara rujakan hari ini pindah ke rumah Amel. Terimakasih atas perhatiannya]
Tak lama ponsel ku berdenting terus tanda balasan dari grup apilkasi hijau. Ku baca satu per satu pesan balasan dari anggota grup komplek. Amel yang sedang berada di dekatku juga ikut membalas pesan yang ku kirim tadi, dengan senyum jahil ku senggol lengannya. Alhamdulillah, mereka tidak mempermasalahkan hal itu. Semoga niat baikku diberi kemudahan dan kelancaran, Aamiin.
Lusi datang dari arah pintu garasi, ditangannya memegang tas berisi botol sirup. Ternyata di belakang Lusi ada Nisa yang tangannya tampak kepayahan membawa 5 toples nastar di dalam kardus agak besar.
"Kamu langsung bawa semua tadi, ya, Nisa? Kasihan pasti kerepotan, maaf, ya! Harusnya kamu minta bantu Zio atau Bapak." Aku menggeleng-gelengkan kepala, nggak bisa ku bayangkan kalau botol sirup dan nastar itu berjatuhan di jalan saat Nisa memaksa langsung membawa semuanya.
"Repotlah Mak kalau Nisa harus balik rumah lagi, kan bisa langsung dibawa semua begini! Nisa mau ikut Lusi ke kamarnya, ya? Kalau Mamak nanti butuh bantuan, panggil aja Nisa, oke!" Nisa memamerkan deretan giginya yang putih, menggandeng tangan Lusi dan melangkah bersama Lusi keluar dari dapur.
"Oke, terimakasih sudah dibantu bawakan sirup sama nastarnya." Aku mulai mengeluarkan nastar dan sirup, hendak menata nastar dalam toples lebih kecil yang sudah Amel sediakan. Baru selesai satu toples yang ku isi nastar dan ingin menutupnya, Nisa datang dan tiba-tiba memelukku dari belakang.
Alhamdulillah toples kaca kecil itu terjatuh di pangkuanku yang sedang duduk di kursi plastik, aku mengurut dada karena sangat kaget dan takut memecahkan barang kepunyaan Amel.
"Sama-sama Mamak, boleh dong satu toples nastarnya buat Nisa sama Lusi," tanya Nisa tanpa rasa bersalah.
"Astaghfirullah … Nisa, kebiasaan banget suka kagetin Mamak begini. Iya, nih bawa aja. Bisa jantunganlah Mamakmu dikagetin terus" gerutuku dengan wajah masam.
"Hehehe … maaf, tapi Nisa tahu tadi Mamak lagi melamun, kan?" Nisa mengambil toples dari genggamanku, mencium pipiku dan berlalu menuju kamar Lusi.
Tahu saja Nisa apa yang Mamaknya rasakan, nanti malam aku harus menceritakan semuanya pada Bang Hasyim. Aku butuh pendapat dari suamiku, bagaimanapun ini adalah masalah besar. Harus dipikirkan dan dicarikan solusi yang terbaik, semoga Allah berikan jalan dan kemudahan untukku.
Bahu kiriku ditepuk pelan Amel, ternyata aku melamun lagi. Nggak bakalan selesai nih menata nastar dalam toples, Amel saja sudah siap menyajikan sirup lemon dan stroberi di atas meja.
"Melamunkan apa, sih? Kayaknya banyak banget yang dipikirkan, tinggal setengah jam lagi acaranya mulai, loh," seloroh Amel.
"Maaf, ya, Amel! Nanti kalau sudah waktunya pasti aku ceritakan, terimakasih sudah sangat perhatian dan selalu membantuku!" Amel mengusap bahuku pelan menenangkan, tangannya cekatan membantuku agar cepat selesai.
Ku letakkan toples-toples nastar di ruang keluarga Amel, karpet-karpet tebal dibentangkan. Satu meja panjang besar diletakkan di ujung ruangan, di atasnya sudah tertata rapi rujak beserta sambal, minuman dan camilan lain yang dibeli Amel tanpa memberitahuku. Aku sangat bersyukur bisa mempunyai tetangga sekaligus teman yang sangat baik dan berhati mulia seperti Amel.
Terasa getar ponsel di saku gamisku, Kak Deli mengirimkan pesan. Aku membacanya seraya menepuk dahiku, bergegas menuju rumah sampai lupa berpamitan pada Amel.