Bab 2

Flashback 10 tahun lalu ….

Daun-daun kering berhamburan terkena hembusan angin dari hentakan kedua kakiku yang bergerak sangat cepat. Suara raungan hewan buas kian bertambah nyata semakin aku dekat dari desa. Burung-burung berterbangan menjauh, asap bertambah tebal.

Teriakan, tangisan dan suara reruntuhan rumah dapat aku dengar dalam jarak yang cukup jauh. 

Namaku Indra, ibuku sudah meninggal, dan aku yakin ayahku lah pembunuhnya. Aku benci dengannya, selain pembunuh dia juga tidak kreatif memberikan nama untuk anaknya. Nama itu diambil dari indera pendengaranku yang istimewa. Telingaku sensitif, dapat mendengar dari jarak jauh sekalipun.

Aku tinggal di dalam hutan kehidupan, dimana hutan ini mempunyai peraturannya sendiri. Tumbuhannya tidak akan pernah habis, jika di tebang, mereka akan tumbuh dengan cepat.

Tapi jangan sesekali membunuh hewan atau manusia yang tinggal di dalam hutan ini. Kalau kamu hanya sekedar memanah untuk melatih bakatmu dan mengganggu hewan atau membunuhnya, maka hutan ini akan membalasnya yang setimpal padamu.

Hutan kehidupan memiliki roh yang memberikan kami makanan juga memberikan kami hukuman jika melanggar aturannya.

Aku tinggal disini bersama ras Triton. Meski berbeda mereka menyayangiku layaknya keluarga. Bola mataku berwarna merah. Rambut dan alis berwarna hitam tebal. Aku akui tubuhku pendek itu sebabnya mereka memanggilku si pendek, tapi jangan bandingkan kekuatan fisikku dengan mereka. Sangat jauh. Aku bisa mengangkat batu besar, memukulnya hingga hancur berkeping-keping. Sedangkan ras Triton tidak bisa melakukannya, mereka hanya mampu mengeluarkan batang pohon dari tangannya, lalu mata dan rambut yang berwarna hijau itu menyalah terang.

Awalnya aku kaget dengan kekuatan yang dimiliki ras Triton. Kenapa mereka bisa mengeluarkan batang pohon dari tangan, akar-akar merambat dan bahkan ada juga yang bisa memunculkan daun. 

Aku berlatih setiap hari. Mengangkat beban, melompat-lompat, belajar bela diri. Dampaknya, tubuhku menjadi kekar, pukulanku kuat, lompatku tinggi, dan yang paling hebat, staminaku besar. Namun, aku tidak bisa melakukan apa yang bisa dilakukan ras Triton.

Kata kakek jangan pikirkan hal itu. Dunia ini bernama Nobel, terbuat dari sihir. Apa yang tidak masuk di akal ada di sini. Ada pendekar pedang, monster, para ras yang berkemampuan unik dan  juga iblis.

Aku melompat, kakiku berlari di udara, menapak pada batang pohon. Aku termenung melihat kondisi desa dari atas pohon. Rumah-rumah hancur berantakan, pepohonan roboh, api buas membakar rumah warga. Penduduk desa berhamburan menarik anak mereka menjauhi pertempuran.

"Buuhhhh." Seekor beruang raksasa sedang mengamuk menyerang, dia menghancurkan segalanya yang berada didekatnya. Para pria berusaha melawan beruang itu dengan kemampuan mereka.

Ras Triton menyatukan kekuatan. Mereka menghalangi jalan beruang raksasa dengan batang pohon yang terbentang membentuk dinding. Rambut dan mata hijau mereka menyala terang, akan tetapi dinding yang terlihat kukuh itu dengan mudah dihancurkan oleh sang beruang. 

Sebagian pria ras Triton bergegas mengeluarkan akar dari tangan mereka. Melilit kaki beruang raksasa itu. Tetap saja, dengan sekali ayunan kaki, berlapis-lapis akar pohon yang mengikatnya, dia dengan mudah melepaskan diri. Hutan kehidupan bergabung dalam pertempuran, ia harus membenahi keributan ini yang akan merusak ekosistem. Hutan ini menyerang raksasa itu dengan akar berduri.

Beruang raksasa itu belum puas memporak-porandakan desa ras Triton. Hukuman dari hutan kehidupan tidak dapat menghentikannya. Dia menangkis dan dapat menghindari serangan akar berduri.

Guru menyerang beruang itu dari jarak dekat, dia berlari menaiki tubuh raksasa itu kemudian memukul wajahnya. Serangan guru berhasil menaruh luka di pipi berungan itu. Tapi balasannya sangat dahsyat. Dia terkena hembusan angin dari pukulan beruangan. Tubuh guru terbanting ke tanah.

Pria itu tidak menyerah, sambil menghindari pukulan beruang, ia terus menyerang wajah lawannya. Aku melihat satu pukulan yang sangat kuat membuat lawan marah. Namun, balasannya sangat dahsyat. Dia terkena hembusan angin dari pukulan beruang. Tubuhnya terbanting ke tanah, cukup kuat, membuat debu berhamburan.

Aku segera melompat, memastikan keadaannya.

"Guru, kamu tidak apa-apa?" tanyaku sambil mengibas kepulan debu.

Guru batuk darah, memegang perutnya. Ia tidak bisa bangkit lagi. "Indra." bisiknya.

Aku langsung memeluk guru. Rambut dan matanya berhenti menyala.

"Hanya kamu yang bisa mengalahkannya, Indra." ucapnya.

Aku melirik beruang raksasa itu yang sedang asik menghancurkan desa. Memukul, menendang siapapun yang menghalangi jalannya sambil menangkis akar berduri yang membuatnya semakin marah. Walaupun Dia besar, ganas, dan kekuatannya sangat hebat. Aku tidak akan gentar melawannya.

"Indra, walaupun kamu pendek. Percayalah dengan kekuatanmu."

Sejak tadi api dalam tubuhku berkobaran, tekadku meluap-luap. Aku mengepal jemari kuat-kuat, mata hampir copot seiring melihatnya leluasa menghancurkan desaku. Aku pasti bisa mengalahkannya, dia itu tidak lain dari batu besar yang aku hancurkan berkeping-keping.

Banyak sekali korban berjatuhan. Bukan hanya pria ras Triton, anak-anak dan perempuan tidak luput dari hantaman beruang raksasa itu.

Suara tangis dan teriakan meramaikan pertempuran itu, darah bermuncratan dari tubuh korban. Mereka tidak mati, hanya terluka parah. 

Aku mempercepat lariku, kemudian melompat ke punggung beruang, berpegangan erat pada bulunya. Ia tidak menyadari kedatanganku. Tubuhku berterbangan ke kanan ke kiri, anginnya cukup kuat.

Aku berusaha naik ke atas kepalanya, kemudian memukul matanya. Dia meraung kesakitan, mulai menyadari ada aku ditubuhnya.

Tangan raksasa itu menghampiri, sangat besar, tubuhku layaknya jari kelingking baginya. Aku melompat, tubuhku meluncur cepat ke bawah, baju membubung.

Aku merentangkan tangan, air mata berterbangan, rambut hitamku ke atas terbawa angin. Melirik pada perut beruang raksasa itu. Ini kesempatan. Kurai satu helai bulu yang paling panjang. Tubuhku bergelantungan, memanjat satu helai bulu untuk mendarat di perut beruang itu. Setelah sampai, aku langsung memukul perutnya sekuat tenaga 

Ia meraung kesakitan. Menurutnya aku sudah jatuh atau terpental sangat jauh. Dia sangat meremehkan mentalku. 

Ia menelisik tubuhnya, mencari keberadaanku. Kulitku yang putih sulit menyamar di bulunya yang hitam, dia mudah menemukanku. Kedua tangannya menyerang, aku segera lompat turun. Serangannya mengenai tubuhnya sendiri.

Aku layaknya nyamuk menghisap darah, kemudian terbang jika sebuah tangan menyerang. Ia memukulku saat aku berada di tangan kirinya. Aku melompat ke pundang. Dia meluncurkan serangannya ke pundang, aku kembali lompat ke tangan kiri raksasa itu.

Entah kenapa semakin aku fokus gerakan beruang raksasa ini semakin lambat, aku dengan mudah  menghindari serangannya, bahkan sebelum pukulannya sampai aku sudah menebak kemana ia akan menyerang.

Raksasa beruang itu mengibaskan tangannya. Aku terhempas ke udara, sangat jauh. Lalu ia meninggalkanku begitu saja, berjalan, kembali menghancurkan desa. Padahal serangannya tadi menguntungkan aku untuk memukul kelemahannya.

Selama dalam posisi melayang akar berduri meluncur cepat di hadapanku, menyerang beruang itu. Aku naik di punggung akar. Perhitunganku tepat, ia pasti dapat menghindar serangan, tapi tidak menyadari ada aku di akar itu.

Aku segerah lompat tepat ke wajahnya, kemudian memukul satu matanya. Sangat kuat, ia meraung kencang, membuat burung-burung dan hewan yang berada dekat tempat lokasi pertempuran berhamburan ketakutan.

Aku melompat. Selama di udara, raksasa itu menyerang. Sudah kubilang pukulannya lambat, aku mudah menghindarinya. Tubuhku berputar di udara lalu melompat lagi memukul hidungnya.

Anak-anak ras Triton mengendap di balik kaki ibunya saat mendengar raungan kesekian kalinya dari raksasa beruang itu. Mereka tersenyum simpul semenjak sedari tadi ketakutan. Para pria menghembus nafas panjang, mereka sudah memperkirakan siapa yang akan menang.

Aku naik ke atas hidung raksasa itu, berlagak di depan matanya. "Jangan macam-macam dengan Indra, walau dia pendek, tapi kekuatannya besar. Aku tidak sombong, aku memang kuat. Mau merasakan pukulanku sekali lagi." Aku mengangkat tangan, menunjukkan otot tangan padanya. 

Kemudian aku menyentuh dahinya. "Kamu itu seperti boneka beruang raksasa yang suka dipeluk oleh para wanita saat tidur." Itu yang aku tahu dari buku yang kubaca. 

Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Di bola matanya yang besar ada genangan air mata yang perlahan menetes. Ia menangis.

"Terima kasih." 

Aku terkesiap. Tanganku reflek melepas bulu yang aku cengkram. Tubuhku jatuh ke bawah. Tangan beruang itu dengan cepat menangkap.

Sekitarku gelap. Sial, aku lengah, ini kesempatan dia untuk menghabisiku. Ia menggenggam lebih kuat, aku semakin terdesak, sulit bernapas. Tubuhku akan dihancurkan seperti wafer yang di remes.

Bab 3

Beruang raksasa itu tidak membunuhku melainkan membawaku ke depan wajahnya. Kakiku menerima lembut bulu tangannya.

"Terima kasih, kamu sudah menyelamatkan aku."

Ia bisa berbicara, aku yakin tidak salah dengar.

"Kamu sudah membebaskanku dari virus iblis." Suaranya bergemah.

"Virus iblis? Apa yang kau maksud?" Aku tidak yakin dia bisa mengerti bahasaku.

"Virus iblis adalah virus yang dapat menyerang orang atau hewan yang jiwanya memiliki rasa dendam, kebencian, energi negatif yang berlebihan."

Dia menjawabnya itu berarti beruang ini mengerti bahasaku.

"Anak-anakku membutuhkanku, jika aku mati tidak ada yang merawatnya, maka izinkan aku hidup dan pergi dari sini."

Dia seorang ibu, anak-anaknya akan sedih jika ibunya tiada. Aku sangat memahami itu. Lalu bagaimana dengan kerusakan ini. Hutan kehidupan sudah pasti memaafkannya, tapi ras Triton terluka parah, desanya hancur, mereka tidak mudah mengikhlaskan perbuatan beruang ini.

Jika aku punya ibu, pasti ibuku sangat menyayangiku, dia akan melakukan apa saja demi anaknya. Ibu akan mencari ramuan supaya tubuhku lebih tinggi.

"Aku memaafkanmu, pergilah." ucapku setelah memikirkannya.

"Kamu memang anak yang baik, Indra, atas kebaikanmu, aku memberikan Anugerahku padamu."

Beruang itu mengeluarkan cahaya putih, lalu cahaya itu merasuki tubuhku melalui tangan. Selama dua detik, kedua tanganku panas, terasa tertusuk-tusuk, aku tidak kuat menahannya, menjerit sekencang-kencangnya. Apa yang dia berikan padaku?

Beruang itu menyusut. Ukuran tubuhnya menjadi normal. Matanya yang hitam legam berubah coklat, begitu juga dengan bulunya.

Beruang itu berlari meninggalkan desa. Ras Triton terdiam, puluhan mata memandangku. Desa kami hancur, puluhan orang terluka parah, lalu pelakunya dibiarkan pergi begitu saja. Respon mereka padaku sudah sangat wajar.

"Kau membiarkan dia pergi." Guru berbicara sambil mengatur nafasnya, matanya layu menatapku.

Mereka terdiam sunyi, tidak ada sambutan untuk kemenangan ini. Mereka yang terluka perlahan bangkit, mengatur napas. Pohon-pohon yang tumbang dan hancur mulai tumbuh kembali, begitu juga dengan luka di tubuh mereka, sembuh dengan cepat.

"Beruang itu bisa bicara, dia minta tolong padaku untuk membebaskannya. Anak-anaknya sedang menunggu. Jika ia mati, kasihan mereka. Betapa sedih anak-anak itu jika ibunya tiada, aku sangat memahami perasaannya." Semoga kata-kata dan wajahku yang memelas bisa membuat ras Triton bersimpati pada beruang itu.

"Kami tidak berhak menghukum dia. Hutan kehidupan ini hakimnya, jika ia memaafkan berungan itu, kami dengan senang hati menerima keputusannya." Salah satu ibu berbicara.

Aku dapat bernapas lega. Mereka tidak marah padaku. Hutan kehidupan ini sudah pasti memaafkan beruang itu. Lihatlah, dia tidak tercekik oleh akar berduri, atau terpukul oleh batang pohon besar.

"Aku berjanji, apabila beruang itu datang lagi aku akan membunuhnya. Kalian tahu kan aku ini hebat, aku bisa menghancurkan batu besar dengan sekali pukul."

"Si pendek memang hebat."

"Jangan memanggilku pendek!"

Mereka tertawa.

Tidak sulit bagi mereka untuk mengembalikan kerusakan ini seperti semula. Tumbuhan yang rusak akan menyembuhkan dirinya sendiri, batang pohon yang bolong mulai tertutup, tumbuhan tumbang kembali hidup.

Ras Triton menggunakan sihir mereka untuk membuat rumah, tinggal meletakkan tangan mereka ke batang pohon, batang itu terbuka layaknya sebuah tirai yang ditarik.

Ras Triton tidak bisa meninggalkan hutan kehidupan. Karena pendahulu mereka tercipta di dalam hutan ini. Hidup mereka sudah diatur. Hutan ini yang memberikan mereka segalanya.

Untuk merayakan kemenanganku, mereka mengadakan makan malam besar-besaran di halaman. Berbagai sayur-mayur terpampang di atas meja panjang.

"Ayo bersorak untuk Indra."

"Iya, untuk si pendek."

Mereka bersorak-sorai mengangkat sendok dan garpu. Tertawa terbahak-bahak melihat wajahku yang masam. Anak-anak berlarian di sekitar pesta.

"Krok-krok."

"Krok-krok."

"Krok-krok."

"Nago berbunyi, nago berbunyi." Anak-anak mendekati patung katak besar di sudut desa. Benda itu mengeluarkan kertas dari mulutnya.

"Biar aku lihat." Guru mengambil kertas itu dari tangan anak-anak yang terdahulu mengambilnya.

"Ada berita apa?"

Mata guru menyelisik membaca berita tersebut.

"Putri Kerajaan Manggo hilang, mereka memberikan hadiah seribu bat bagi siapapun yang menemukannya."

Seribu bat, itu banyak sekali. Aku sepontan berdiri, lalu bertanya. "Apa ada gambar wajah putri itu?" Kalau aku bisa menemukannya aku akan menjadi kaya.

Guru menggeleng.

"Bagaimana kita mencarinya kalau tidak ada gambarnya." Aku kecewa, kembali menghempaskan punggung di kursi kayu.

"Kita tidak membutuhkan uang itu. Hutan kehidupan sudah memberikan segalanya untuk kita."

"Iya benar. Ayo kita bersorak lagi untuk si pendek."

"Yaaaaa!"

Mereka kembali tertawa meramaikan pesta.

"Kenapa wajah kamu murung, Indra." Guru menarik kursi di sampingku. "Apa memikirkan undian itu?"

Aku tidak terlalu peduli dengan undian yang menggiurkan itu, pasti banyak sekali yang mencari putri Kerajaan Manggo, dia akan cepat ditemukan. Tapi ada yang mengganggu pikiranku, mengenai beruang raksasa itu.

"Apa guru tau tentang virus iblis?" Aku langsung bertanya apa yang aku pikirkan sejak tadi.

Sudah aku duga, guru pasti mengetahuinya, dia mengangguk dengan mata kosong memandang meja kayu.

Pagi hari, sebelum matahari bangun seutuhnya. Aku melakukan aktifitas yang sudah lama aku tekunin, yaitu berlatih bersama guru. 

Aku mengingat perkataan kakek waktu aku malas berlatih, dia kata. "Ilmu itu tidak ada batasnya, jika kamu berpikir bahwa dirimu sudah hebat, itu adalah awal kesombonganmu mulai tumbuh."

Aku tidak mengerti yang kakek katakan, aku memang hebat, pukulanku kuat, bisa menghancurkan batu besar sampai berkeping-keping.

"Coba kamu daki pohon ini sampai kepuncaknya, Indra." ucap guru.

"Aku sudah pernah memanjat pohon itu, guru. Waktu latihan pertama, apa guru tidak ingat?" tanyaku.

"Saat itu kamu tidak menyadari apa yang ada di atas sana. Kamu ingin tahu dari mana virus iblis itu. Jawabannya ada di atas sana."

Mendaki pohon adalah latihan yang sangat membosankan, bagaimana tidak. Jika kamu sudah berhasil memecahkan teka-teki, kamudian kamu di perintah menyelesaikan teka-teki itu lagi, kamu tidak akan sebahagia saat pertama dulu.

Namun, untuk mengetahu jawab yang aku cari, aku harus memanjatnya. Memang ada apa di atas sana selain awan dan burung-burung yang terbang bebas.

Sampai di puncang pohon tertinggi di dalam hutan kehidupan. Mataku menyapu sekitar, mencari jawab itu. Tidak ada yang berbeda, dari dulu mataku hanya melihat burung, awan dan matahari yang perlahan mendaki langit.

"Apa kamu melihatnya, Indra?" Guru berteriak di bawah sana.

Aku melambaikan tangan, memberi isyarat.

"Coba kamu lihat dengan teliti ke seluruh arah."

Aku kembali menyari, terus mencari, keseluruhan kawasan yang bisa mataku jangkau, sampai aku menemukan sesuatu yang menarik.

"Aku melihat ada pohon yang lebih tinggi, guru, sampai menembus awan." teriakku.

"Penglihatanmu sungguh buruk, Indra. Itu menara, bukan pohon." Guru memberi isyarat, menyuruhku turun.

"Kenapa menara itu sangat tinggi? Siapa yang membuatnya?" tanyaku setelah sampai ke tanah.

"Benda itu lah yang menyebarkan virus iblis. Namanya menara Olympus. Mata Iblis membuatnya untuk menyegel Deadwan. Kakekmu sudah menceritakannya kan."

Aku mengangguk, tapi kakek tidak menceritakan virus iblis ini. 

"Mata Iblis merasa terdesak sebab kehidupan di Nobel semakin berkembang banyak, oleh karena itu dia meminta bantuan Deadwan untuk menyebarkan virus iblis kepada kita. Virus itu menyerang seseorang yang memiliki dendam, kebencian dan orang-orang yang mempunyai energi negatif berlebihan. Siapa yang sudah terinfeksi oleh virus ini, dia akan kehilangan kesadarannya, kekuatannya dapat berlipat-lipat ganda, dan  tidak bisa mengendalikan tubuhnya." Guru menjelaskan.

"Kenapa tidak ada yang ingin menghancurkan menara terkutuk itu. Aku yakin di luar sana banyak orang hebat."

"Menara itu kukuh, tidak sembarang orang bisa menghancurkannya, lagi pula letak menara itu berada di kediaman bangsa iblis, sebelum sampai ke sana, mereka akan mati dibunuh iblis."

Aku bersandar ke pohon, menatap langit. Sudah ribuan tahun Nobel menjadi rebutan antara manusia dan iblis. Kenapa tidak hidup berdampingan saja. Seperti manusia, hewan dan tumbuhan yang ada di hutan kehidupan ini.

"Indra, usia kamu sebentar lagi 17 tahun. Kemampuan bertarungmu sudah hebat, maka pergilah mencari ayahmu. Apa kamu tidak ingin melihat ayahmu?"

"Aku tidak peduli dengan dia, tanpanya aku bisa hidup." Aku melempar kerikil ke sembarang arah. "Tapi guru, aku ingin membebaskan negeri ini dari bangsa iblis. Aku akan menghancurkan menara Olympus itu."

"Memang seharusnya kamu harus pergi dari hutan ini, Indra. Temui ayahmu maka kamu akan mengetahui asal-usulmu." 

Aku pergi bukan untuk mencari pria brengsek itu. Aku adalah keluarga ras Triton, tidak peduli dari ras apa aku lahir.

"Indra, aku memberimu buku setiap hari supaya kamu tahu isi dunia ini. Menjadi bekal pengetahuan kamu untuk menjelajahi Nobel, tapi kamu tidak pernah menyelesaikan buku yang kamu baca sampai akhir."

Aku mengangguk. Setiap hari guru memberiku sebuah buku, padahal aku bukan orang yang suka membaca, tetap saja dia memaksa untuk membacanya sampai habis. Itu percuma, aku tidak dapat menemukan Ras bermata merah di setiap buku yang aku baca.

Para warga melambaikan tangan menemani kepergianku. Ini pertama kalinya aku melihat dunia luar hutan kehidupan. Dari buku yang aku baca. Nobel adalah dunia peperangan. Aku sangat antusias ingin melawan orang-orang hebat di dalamnya.

"Selamat jalan, Indra."

"Hati-hati di jalan ya."

"Aku pasti kangen denganmu."

"Tanpa si pendek makananku akan tahan sampai satu bulan. Selera makanmu yang kuat itu membuat aku selalu kangen padamu, pendek."

"Jangan memanggilnya pendek, dia akan marah. Kita harus membuatnya senang untuk terakhir kalinya."

"Sampai jumpa semuanya!" Aku berteriak sambil melambaikan tangan. Mereka baik, sedangkan aku selalu menyusahkannya.

Aku naik ke batang pohon, melompat dari batang pohon satu ke batang pohon lainnya. Semangatku berkobaran, tidak tahan ingin melihat dunia luar.

Dibawah sana seekor rusa sedang memakan rumput dengan santainya, sementara di sampingnya ada singa yang sedang mengawasi. Singa itu tidak berselera makan daging rusa, ia memilih mengunyah rumput di depannya.

Hewan di dalam hutan kehidupan tidak ada yang karnivora, mereka semua herbivora, pemakan tumbuhan, begitu juga dengan aku dan ras Triton. Oleh sebab itu kami tidak saling membunuh, hidup berdampingan dengan alam.

Aku lompat dari pohon, sandalku menindih rumput. Sebentar lagi sampai di kerajaan Manggo, aku tidak ingin mereka terkejut ada manusia yang bisa lompat jauh.

Dalam perjalanan gerombolan lebah mengikutiku di atas kepala, aku tahu mereka akan menyerangku. Hewan yang licik, jika berani lawan satu-satu denganku.

Aku tidak menghiraukannya. Suaranya memekakkan telinga, berisik sekali. Aku terus berjalan santai, sebentar lagi juga lebah-lebah ini akan mati.

Benar saja, hutan kehidupan ini akan melakukan tugasnya, melindungi aku. Akar-akar berduri menyerang lebah itu, menusuknya satu persatu. Aku tetap jalan, tidak menghiraukan pertempuran yang sedang terjadi di atas kepalaku.

Tidak lama, lebah-lebah itu mati, tubuhnya tertanam di batang pohon. Hutan kehidupan ini mempunyai aturannya sendiri, jika kamu sopan dia akan segan.

Aku berhasil keluar dari hutan. Lihat lah, pemandangan yang belum pernah aku nikmati terpampang indah di hadapanku.

Bukit-bukit berbaris rapi melingkari Kerajaan Manggo, air jernih mengalir di sungai yang terbentang ke seluruh daratan Manggo. Air itu jatuh dari tebing tempat aku berada. Pemandangan hijau, tanah tertutup rerumputan.

Ada bukit paling tinggi diantara yang lain, di atas bukit itu berdiri istana kukuh dan megah. Di samping istana itu ada patung raksasa, tingginya melebihi istana. 

Patung raksasa itu mempunyai dua tanduk besar. Mata, hidung dan bagian-bagian wajahnya diukir sempurna, sangat nyata.

Rumah mereka tidak seperti ras Triton yang tinggal di dalam pohon. Tempat tinggal mereka pendek, dari batu-batu yang disusun menjadi satu dan atap yang berbentuk segitiga.

Aku menarik napas, menghirup udara segar, sangat damai. Telingaku bergerak-gerak, menangkap suara dari kejauhan.

"Tolong! Tolong! Jangan mendekat!" Suara teriakan seorang wanita, keberadaannya tidak jauh dari tempatku berada. 

Aku segera lompat dari tebing, menelusuri suara itu. Dia dalam bahaya, aku harus menolongnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED