Galih telah kembali untuk sementara di rumah orang tuanya. Januar dan Rahayu ingin memastikan pernikahan Galih dan Mona berjalan dengan baik.
"Gila ya, tujuh tahun hilang, ternyata masuk hotel prodeo, terus tahunya nikah bulan depan," kata Tristan, sepupu Galih sekaligus teman SMA lelaki itu.
Tristan sudah biasa menginap dan tinggal di rumah Galih. Orang tuanya yang sama-sama dokter, kerap membuat Tristan merasa kesepian sewaktu sekolah hingga memutuskan sering main ke rumah Galih.
"Kau akan datang bukan?" tanya Galih hanya tersenyum mendengar celotehan Tristan yang frontal. Bahkan tidak segan mengungkit masalahnya yang pernah masuk penjara.
Tristan mendesah. "Kau juga mendadak nikah. Bulan depan aku sudah harus residen," jawabnya membahas tentang Pendidikan Dokter Spesialis yang mesti diikutinya sesuai arahan orang tuanya.
"Tapi katanya dia ... janda?" Tristan bertanya hati-hati. Meski Galih telah mengetahui dan terbiasa dengan sifat bar-barnya dalam berkata sesuatu, tapi tak jarang dirinya merasa Galih cukup seram jika marah.
"Suaminya meninggal setelah seminggu menikah," jawab Galih menuntaskan rasa penasaran Tristan. Ia kemudian mengambil sebatang rokok, lalu membakar ujungnya.
Tristan terdiam. Pria itu awalnya berpikir bahwa calon istri Galih adalah wanita yang bercerai dari suaminya, karena menikah muda.
"Lalu apa alasanmu setuju menikah dengannya?" tanya Tristan masih tidak habis pikir bahwa Galih tidak mempermasalahkan dinikahkan dengan wanita yang bahkan tidak dikenalnya.
"Dia cantik. Sepertinya akan menjadi istri yang baik," jawab Galih mulai menyesap rokok yang diselipkan antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Ia tidak berbohong ketika mengatakan bahwa Mona adalah wanita yang cantik. Namun memang itu saja faktor untuk menikahi seseorang?
Tristan mendengkus pelan. Meski reputasi Galih dulu tidak seburuk dirinya mengenai wanita, tetapi Tristan sangat mengenal tipikal wanita idaman Galih.
"Aku bertemu dengan Intan sebulan yang lalu pada acara pernikahan seniorku," ujar Tristan bangkir berdiri. Bersiap kembali ke rumah sakit, setelah menghabiskan waktu istirahatnya mengunjungi Galih yang sedang bersantai di kafe.
Galih memicingkan matanya memandang ke arah Tristan. Ia masih setia menghirup tembakau bercampur nikotin yang terkandung dalam rokok di tangannya.
Tristan seolah membeku pada tempatnya mendapati tatapan dingin dan tajam Galih kepadanya. Ia tadi tidak sadar membahas tentang Intan, wanita seolah menjadi luka abadi dalam hati Galih.
Konon, cinta yang paling amat menyakitkan adalah cinta yang tak tergantikan.
"Segera lah kembali ke rumah sakit. Aku juga sebentar lagi mau pulang," balas Galih memalingkan wajahnya.
"Oh baiklah. Hubungi aku kalau kau sudah akan kembali ke Kota Tembagau," ucap Tristan mengambil kunci mobilnya di atas meja, lalu menepuk bahu Galih sekilas sebelum beranjak keluar dari kafe.
Sedangkan Galih menghabiskan sisa rokok di tangannya. Ia kemudian ikut beranjak, lalu membayar minumannya dengan Tristan. Tanpa pergi ke lain tempat, Galih langsung pulang ke rumah orang tuanya.
"Kau darimana lagi? Nanti malam kita akan kedatangan Mona dan Ibunya," ujar Rahayu melihat Galih baru kembali.
"Mereka ke sini?" Galih terkejut karena tidak mendengar kabar kedatangan Mona dan Ibu wanita itu.
"Biasa, pihak wanita akan membeli kain untuk dibagikan ke keluarga perempuan mereka," balas Rahayu menjadikan Galih hanya mengangguk singkat.
Galih tidak paham akan adat atau kebiasaan orang-orang dalam pernikahan. Ia juga tidak mau pusing memikirkannya. Memaklumi bahwa keluarga Mona berasal dari kota yang lebih kecil dari Jakarta, sehingga adat juga masih dipegang teguh.
"Baiklah. Ibu, aku ke kamar dulu," pamit Galih kepada Rahayu.
"Iya Sayang. Istirahatlah, sebab kita akan makan malam bersama Mona nanti," ujar Rahayu yang terdengar antusias.
Galih hanya terdiam, lalu mulai melangkah menuju kamarnya.
"Galih, Ayah mau bicara." Januar duduk di sofa tengah ketika melihat anak laki-lakinya itu melintas.
Galih kemudian berhenti dan duduk di hadapan Januar. "Ya?"
"Kau yakin hanya ingin tinggal berdua dengan Mona?" Januar masih sulit memikirkan permintaan Galih kepadanya, sebagai salah satu bersedia menikah dengan Mona.
"Tentu saja. Pak Handoko juga telah setuju," balas Galih yang telah mendiskusikannya terlebih dahulu kepada ayah Mona.
Meski nantinya Galih akan tinggal di Kota Tembagau, tetapi dirinya tidak akan satu atap dengan mertuanya alias orang tua Mona.
"Lalu apa yang akan kau kerjakan? Mau ayah beri modal usaha?" Januar tentu tidak ingin membuat menantunya nanti kelaparan, karena anaknya tidak memiliki pekerjaan atau usaha.
Galih tersenyum tipis. "Ayah lupa siapa aku?"
Januar menghela napas. "Kadang Ayah merasa ragu dan tidak percaya dengan apa yang kau katakan."
"Ayah tidak perlu khawatir. Mona ... tidak akan kekurangan hal dalam finansial," balas Galih mulai bangkit dan beranjak menuju kamarnya, seperti rencana semula.
"Pastikan ... Mona tidak tahu. Atau dia bisa batal mau menikah denganmu," ujar Januar tidak ingin sampai pernikahan Galih sampai batal. Susah payah, dirinya mengusahakan Galih mau menikah.
♡♡♡
Mona hanya banyak diam selagi ibu dan tantenya sibuk memilih kain kebaya untuk dijahit nanti. Tangannya sudah penuh dari belanjaan toko sebelumnya dan ia tak melihat ujung dari belanjaan hari ini. Selalu saja ibunya berkata, masih ada yang kurang.
"Ibu, ini bukan pernikahan pertamaku."
Kaila, saudara Masita-Ibu Mona berkacak pinggang. "Mona, aku sudah menikah tiga kali bukan? Seluruh pestanya tetap meriah," ujarnya seolah tidak malu dengan fakta bahwa dirinya telah menikah sebanyak tiga kali.
Masita mendekati putrinya itu dan memegang pundak Mona. "Ini mungkin bukan yang pertama, tetapi akan menjadi terakhir ... selamanya."
Mona hanya terdiam mendengarnya. Ia tahu bahwa dirinya tidak akan pernah bisa menang tentang filosofis yang ada dalam keluarganya. Oleh karena itu, dibanding pusing memikirkan persiapan pernikahan yang sudah pasti akan diurus oleh ibunya, Mona memilih menguatkan mentalnya. Ia mungkin sudah pernah menikah, namun tidak berjalan dengan baik. Bahkan berakhir menyedihkan.
Setelah membeli kain dan pernak-pernik untuk membuat gaun pesta, Kaila langsung mengantar Masita dan Mona menuju kediaman Januar. Ia sendiri tidak bisa bergabung, karena memiliki banyak pekerjaan sebagai pemilik salah satu toko kue.
"Nikmati makan malam kalian dan Mona ... cobalah mengobrol dengan Galih juga nantinya," ujar Kaila menurunkan kaca mobilnya setelah Masita dan Mona keluar dari sana.
Mona hanya tersenyum, lalu melambaikan tangannya sebagai tanda pamit. Setelah mobil yang dikendarai Kaila menghilang dari pandangannya, ibunya mulai mengajaknya untuk menuju gerbang rumah Galih.
Mona bisa melihat bagaimana besar dan megahnya rumah Galih. Bahkan mungkin dua kali dari ukuran rumahnya di Kota Tembagau. Setelah berbicara kepada satpam rumah, mereka lalu diantar langsung hingga ke depan pintu depan rumah.
"Ibu Masita, Mona?" Rahayu yang membuka pintu langsung bersorak bahagia melihat kedatangan calon besan dan menantunya.
"Ayo masuk."
Rahayu langsung mengarahkan Masita dan Mona untuk menuju meja makan. Sejumlah hidangan yang dimasak dengan bantuan koki kemudian telah tersaji di atas meja.
Bahkan Mona merasa sangsi bahwa makanan tersebut bisa habis nantinya. Ia kemudian mulai duduk di sebelah ibunya, sedangkan Rahayu mulai pergi memanggil suami dan anaknya.
"Selamat datang ke rumah sederhana kami," ujar Januar memasuki ruang makan dan duduk di hadapan Masita.
"Pak Januar ini bisa saja merendah. Rumah sebesar ini kok disebut sederhana," balas Masita lalu mendapat kekehan dari Januar.
Galih juga mulai ikut bergabung dan duduk di hadapan Mona. Mata keduanya lalu bertemu dalam keheningan, sebelum Rahayu datang dengan berbagai pertanyaan seputar aktivitas Masita dan Mona seharian.
"Ayo Ibu Masita di makan, Mona juga," ajak Januar dengan senyuman lebar.
"Iya makasih loh undangan jamuannya," balas Masita melirik Mona sekilas.
Rahayu yang memilih duduk di sebelah calon menantunya, lalu mulai mendekatkan berbagai makanan ke hadapan Mona.
Mona merasa sedikit sungkan, bukan kepada Januar atau Rahayu, tetapi Galih. Meski lelaki itu hanya menatapnya datar saat mengambil makanan. Setelah sekian lama, Mona merasakan kecanggungan berada di dekat seorang pria kembali.
"Oh Bu, kamar mandinya mana ya?" tanya Mona setelah menghabiskan makanannya.
"Galih, antar Mona," ujar Rahayu menyuruh anaknya itu menunjukkan kamar mandi kepada Mona.
Galih hanya mengangguk singkat, lalu mulai bangkit dari kursi. Mona juga mulai mengikuti lelaki itu dari belakang.
Setelah beberapa langkah, Mona baru menyadari betapa luasnya rumah Galih. Bahkan untuk menuju kamar mandi saja, dirinya membutuhkan tenaga.
"Di sini," tunjuk Galih pada sebuah pintu yang dalam keadaan tertutup.
"Makasih," balas Mona segera masuk.
Mona hanya membutuhkan lima menit di dalam kamar mandi, sebelum akhirnya keluar dari berniat kembali ke ruang makan. Namun dirinya dikejutkan oleh Galih yang menunggunya di luar. Bersandar pada dinding sambil menatap layar ponsel.
"Kau mau menghirup udara segar?" ajak Galih melihat Mona sudah berdiri di hadapannya.
Mona hanya bisa mengangguk pelan. Tidak mungkin dirinya menolak perkataan lelaki yang rumahnya ditempatinya makan malam.
Mona kembali terperangah bahwa halaman belakang rumah Galih tidak kalah luas dari halaman belakang. Terdapat gazebo dan air mancur di sana. Ia kemudian duduk di dalam gaezo berbentuk lingkaran. Begitu pula dengan Galih.
"Aku sudah mengatakan kepada Ayahku bahwa kita akan hidup terpisah dari rumah orang tuamu. Sesuai syaratmu dulu," ujar Galih membuka obrolan.
Mona meneguk salivanya, karena hidup terpisah dari orang tuanya adalah syarat yang diajukannya kepada Galih untuk menerima pernikahan tersebut.
Mona dan Galih memang belum pernah bertemu, sebelum lamaran dilakukan. Namun kedua sudah pernah berkomunikasi sekali, lebih tepatnya Galih yang menghubungi Mona bahwa dirinya akan melamar wanita itu. Lamaran yang bahkan telah disetujui oleh Handoko, sebelum memberitahukannya kepada Mona.
"Lalu kau sendiri, kenapa mau dinikahkan denganku? Bukankah ... kau masih pria lajang?" Mona sangat tahu bahwa statusnya dan Galih jelas berbeda. Apalagi lelaki seperti Galih juga pasti ingin menikahi dengan seorang gadis.
Galih menatap dalam Mona. "Karena permintaan Ayahku dan ... perintah Ayahmu?" balasnya acuh tak acuh dan mulai merogoh sekotak rokok dalam saku celananya.
Mona tahu bahwa Galih dititipkan kepada ayahnya, tetapi bukan berarti lelaki itu harus menuruti perkataan ayahnya bukan?
Galih mulai membakar rokok dengan pematik yang juga berada dalam sakunya. "Aku tahu pernikahan ini hanya kamuflase untukmu agar bisa lepas dari pengawasan ayahmu," ucapnya membuat Mona terkesiap. Motif wanita itu tertangkap mudah oleh Galih.
"Tetapi sepertinya perhitunganmu salah, karena sekarang kau berada dalam pengawasanku," lanjut Galih mulai mengembuskan asap dari hidung juga mulutnya.
Raut wajah Mona menjadi tegang. Ia kemudian menutup hidungnya dengan tangan, karena terpaan asap rokok Galih tang dibawa angin.
"Satu, jangan pernah merokok di dekatku. Penambahan syarat dalam pernikahan ini," ujar Mona bangkit dari bangku gazebo lalu beranjak pergi meninggalkan Galih seorang diri.
Galih tersenyum kecil melihat kepergian Mona. "Dia menambahkan syarat sesuka hatinya," katanya mulai melihat sifat lain dari Mona. Namun bukan berarti dirinya akan menurut begitu saja. Apalagi setelah menikahi wanita itu nantinya.
♡♡♡
Pernikahan sejatinya harus dilakukan atas dasar dua orang saling mencintai. Kalaupun belum, setidaknya keduanya telah saling mengenal dengan baik. Siap menerima kekurangan masing-masing dan melengkapinya. Namun hal berbeda justru terjadi pada Mona dan Galih. Mereka menikah tanpa perasaan cinta atau telah saling mengenal.
Mona telah menunggu di dalam kamar. Ia telah memakai gaun pengantin yang begitu indah, berwarna putih seolah dirinya akan kembali suci sebagai pengantin baru. Meski bukan pertama kali memakainya, tetapi tetap saja Mona merasa gugup.
Saat ini rumah Mona hanya dipadati oleh kaum perempuan, karena sebagian besar para pria telah menuju masjid untuk melangsungkan akad nikah yang akan dijalani oleh Galih di sana. Barulah setelah akad nikah dilakukan, maka Galih akan menuju rumah Mona untuk menjemput istrinya itu.
Masita memandang wajah putrinya yang telah dihias dengan baik. "Sayang, sebentar lagi kamu akan menjadi milik Galih."
Mona tersenyum tipis. "Aku masih tetap milik Ibu juga."
Masita tidak dapat menahan rasa harunya. Ia langsung memeluk lembut Mona. Pada satu sisi dirinya merasa sedih harus melepas Mona setelah apa yang terjadi pada wanita itu, tetapi ia juga bahagia bahwa Mona bisa menikah lagi.
"Meski kau masih tinggal di Tembagau, tetapi jarak rumah kita akan cukup jauh," ujar Masita melepas pelukannya.
"Aku akan berkunjung setiap akhir pekan," balas Mona tidak mau membuat ibunya merasa sedih.
Kepala Masita mengangguk pelan. "Tentu saja." Ia kemudian bangkit dari tempat tidur. "Kalau begitu Ibu keluar dulu. Sepertinya ... akad nikahnya sudah selesai dan mereka dalam perjalanan ke sini."
Mona hanya mengulum senyum mendengarnya. Ia kemudian melihat ibunya mulai keluar dari kamar. Sudah banyak anggota keluarga dan teman-temannya, khususnya tetua wanita yang mendatanginya sejak pagi. Memberi nasihat akan kehidupan pernikahan serta ucapan doa dan harapan.
Masita adalah orang terakhir yang mengunjungi Mona, sebelum Galih dan rombongan akan segera datang. Setelah itu, acara pesta pernikahan akan segera digelar di salah satu hotel pada malam harinya.
Mona menarik napasnya. Ia bangkit dan menuju salah satu laci dekat tempat tidurnya. Membuka isi laci tersebut dan mengambil sebuah buku berjudul Laut Bercerita yang di bawahnya terdapat buku berjudul Madilog.
Tangan Mona perlahan membuka buku Laut Bercerita. Pada bagian sebuah halaman yang ia berikan tanda pada kalimat "ketidaktahuan dan ketidakpastian kadang-kadang jauh lebih membunuh daripada pembunuhan," ada sebuah amplop yang terselip di sana.
Napas Mona menjadi berat, kala tangannya mulai membuka isi amplop tersebut. Sebuah surat yang ditulis tangan oleh Angga kemudian mulai dibacanya. Sebenarnya Mona telah menerima surat itu sejak jasad Angga dipulangkan, tetapi dirinya tak pernah sanggup membukanya. Lebih tepatnya Mona belum bisa menerima kematian lelaki itu.
Kepada Mona, istriku tercinta. Umur memang tidak ada yang tahu, ketika aku menuliskan surat seperti ini, berarti aku akan menjalani tugas yang berat.
Menaruh surat ini dalam loker, berharap bisa kembali dan merobeknya. Namun jika pada akhirnya surat ini sampai di tanganmu dan dibaca olehmu, berarti aku telah tiada.
Ada banyak hal yang ingin kuceritakan, tetapi tebalnya buku-buku sejarahmu mungkin tak akan sebanding dengan ceritaku. Oleh karena itu, biarkan aku mencoba sepatah kata saja.
Bahwa betapa bahagia dan beruntungnya aku bertemu denganmu. Bisa menerima cintamu dan akhirnya menikahimu.
Terima kasih kepada Ayahanda yang telah mempertemukan kita. Salam kepada Ibu yang selalu menganggapku sebagai putranya sendiri dan ... aku untukmu sendiri, cintaku padamu tak akan lekang oleh waktu bahkan mungkin akan abadi.
Jika memang umurku panjang, maka jangan biarkan kisah kelam ini menenggelamkanmu ke dalam jurang kesedihan dan kehilangan tak berujung.
Jika ada lelaki yang bersedia menikah denganmu, rela menerimamu sebagai istrinya, maka terima lah dia.
Maafkan aku tidak bisa menepati janji untuk pulang dan mendengar cerita sejarah yang senang kau tuturkan.
Suamimu, Angga.
Hancur sudah perasaan Mona setelah membaca surat tersebut. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan lagi. Ia berpikir isi surat itu hanya untaian kalimat romantis yang dikutip oleh Angga pada sebuah buku. Namun nyatanya jauh lebih mendalam.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Buru-buru Mona memasukkan kembali surat tersebut ke dalam amplop. Tetapi ia tidak sempat menaruhnya ke dalam buku jadi Mona langsung menyelipkannya ke bawah bantal.
Pintu mulai terbuka dan rombongan keluarga Galih masuk, termasuk sang mempelai pria. Tampak Rahayu berada paling depan dan langsung menuntun putranya untuk melangkah lebih dekat kepada Mona.
Suara riuh yang sebagian besar menyerukan nama Mona dalam sukacita menjadikan wanita itu mengulas senyuman tipis. Meski di hadapannya kini telah ada suami sahnya, tetapi dalam pikirannya ia masih mengingat surat dari Angga. Hatinya bergejolak merasakan kebahagiaan semu dan kesedihan yang belum memudar.
Galih selalu tenang, bahkan ketika ijab kabul yang dilakukannya di hadapan ayah Mona tadi. Baginya pernikahan ini sudah terjadi dan tidak ada jalan lagi untuk lari darinya. Namun samar ia bisa melihat bekas tanda menangis pada mata Mona.
Galih belum sempat bicara dengan Mona, karena langsung diarahkan oleh Ibu dan keluarganya dari pihak wanita untuk segera membawa Mona keluar dari kamar. Keduanya kemudian menuju ruangan yang telah disiapkan untuk menandatangani buku nikah. Namun sebelum itu mereka melakukan doa nikah.
"Silakan kedua mempelai saling bertukar cincin."
Darah Mona berdesir kala mengulurkan tangannya. Apalagi melihat Galih seolah tanpa ragu menyematkan sebuah cincin emas padanya. Ketika ia mendongak, mata Galih menatapnya dalam.
Alis Galih terangkat melihat Mona hanya menatapnya dalam diam. Ia kemudian memicingkan mata agar wanita itu balik memasangkan cincin padanya.
Mona yang tersadar langsung meraih cincin yang terbuat dari titanium yang ada dalam kotak cincin. Ia menarik napas panjang sebelum merasakan jemarinya menyentuh jari Galih.
Ketika cincin berhasil lolos ke dalam lingkar jari Galih, suara sorakan dari para tamu mulai terdengar. Menjadikan pasangan pengantin baru tersebut hanya mengulas senyuman tipis.
"Kedua mempelai, hadap sini," ujar fotographer yang jasanya telah disewa.
Galih dan Mona kemudian menghadap menuju kamera sambil memamerkan cincin di jari mereka. Jepretan demi jepretan foto mulai diambil entah dari lensa kamera secara langsung atau kamera ponsel para tamu dari pihak keluarga kedua belah pihak.
Dalam pikiran Mona adalah dirinya benar-benar telah menjadi istri dari Galih, bukan lagi janda dari Angga. Ia berdebar memikirkan status terbarunya, tidak bisa menebak bagaimana kehidupan rumah tangganya dengan Galih.
♡♡♡
Enam jam berlalu sejak acara akad nikah. Anggota keluarga kedua mempelai mulai menyiapkan diri ke acara selanjutnya, yaitu pesta pernikahan. Begitupula Mona dan Galih diberi kesempatan untuk beristirahat sejenak dalam kamar Mona.
"Mona, satu jam lagi kau akan dihias jadi cepatlah bersihkan dirimu," ujar Masita begitu mendapati Mona keluar dari kamar untuk mengambil minum.
"Baik Ibu," balas Mona kemudian masuk kembali ke dalam kamar.
Di sana telah ada Galih berbaring di atas tempat tidur. Memakai baju kaus yang digantinya sejak acara akad nikah selesai.
"Kau tidak bersiap?" tanya Mona melihat Galih mana fokus menatap layar ponselnya.
Mata Galih melirik Mona sekilas. "Kau mau mandi bukan? Duluan saja. Jika aku yang selesai duluan ... kau mungkin masih akan malu berganti pakaian di hadapanku." Ia memperhitungkan apabila Mona telah selesai mandi, maka selanjutnya dirinya bisa nelakukannya dan sementara itu Mona bisa berpakaian.
Mona terkesiap mendengarnya. "Kau kan bisa keluar dari kamar."
"Tidak. Aku merasa sangat lelah sejak tadi pagi bersiap. Jika aku keluar, maka mereka akan mulai mengajakku mengobrol," balas Galih tidak berusaha bersikap ramah, seolah dalam keadaan apapun bahkan kelelahan sekalipun dirinya akan meladeni orang-orang.
Mona hanya terdiam. Ia kemudian mulai beranjak menuju kamar mandi yang berada dalam kamarnya. Mengambil baju mandi dan berharap guyuran air bisa menghilangkan rasa pegal dan lelah dalam dirinya.
Setelah mendengar pintu kamar mandi tertutup. Galih ikut mematikan ponselnya untuk mengisi baterainya. Ia kemudian mulai mengedarkan pandangannya, memandang kamar Mona secara saksama. Entah hanya pikirannya atau memang indra penciumannya dapat merasakan setiap jejak aroma Mona pada kamar tersebut.
Galih kemudian beralih melihat jas tuksedo yabg telah disiapkan oleh ibunya. Tergantung pada pintu lemari Mona. Ia menghela napas pendek, lalu mulai bangkit meraih dan membuka plastiknya. Tanda bahwa pakaian pesta pernikahan dirinya masih lah baru.
Namun ketika membukanya, Galih terlalu keras melakukannya, sehingga dasi kupu-kupu yang hanya menempel seadanya di kantung depan tuksedo tersebut menjadi jatuh.
Galih berusaha meraih dasi kupu-kupu itu yang berada dekat ranjang. Ia menunduk mencoba mengambilnya, namun sesuatu menarik perhatiannya. Amplop putih yang berada tak jauh dari dasinya itu.
Galih melirik sekilas ke arah kamar mandi dan masih mendengar suara keran shower masih dinyalakan, artinya Mona masih mambasuh dirinya. Tangan Galih kemudian ikut meraih amplop bersama dasinya.
Perhatian Galih lebih tertuju kepada amplop tersebut. Ia kemudian membukanya dan menemukan sebuah surat di dalamnya. Perlahan matanya menatap isi surat tersebut. Setiap kata demi kata dibacanya dalam hati secara cepat dan membuatnya sadar bahwa inilah mungkin penyebab kenapa Mona seperti habis menangis tadi.
Galih meneguk salivanya sambil memejamkan matanya sekilas. Dengan cepat ia memasukkan amplop itu ke dalam saku jas tuksedo yang akan dipakainya nanti. Ia kemudian mendengar pintu kamar mandi telah terbuka.
Awalnya Galih ingin langsung masuk ke dalam setelah menggantung kembali jas tuksedonya, tetapi ia terpaku melihat Mona dalam balutan baju mandi. Rambut wanita itu masih basah dan samar ia bisa nelihat wajah Mona merona.
"Masuklah. Sebentar lagi penata riasku akan datang," ujar Mona mencoba menghindari kontak mata dengan Galih.
Galih menahan napasnya untuk sesaat dan mulai melangkah, namun ketika berada sejajar dengan Mona, kakinya berhenti bergerak.
"Aku mandi dengan cepat. Jadi kau harus juga cepat berpakaian jika tidak mau ... aku melihatnya."
Galih kemudian menyeringai pelan. "Meski pada akhirnya aku akan tetap melihatnya bukan?"
Ucapan ambigu Galih semakin membuat Mona merasa wajahnya memerah. "Tapi tidak akan terjadi malam ini."
"Tentu saja. Karena malam ini akan terlalu singkat untuk malam pertama kita."
♡♡♡