IBUKU di JADIKAN PENGASUH ANAK ANAK KAKAKKU[2]
Brak!
Pintu kamar ibu dibuka dengan paksa.
Muncul sosok laki-laki yang kubenci, dia terlihat kaget, matanya melirik ke arah kak Sarah meminta penjelasan.
Kusunggingkan senyum sinis, ternyata ini yang membuat kak Sarah berulah...baiklah tunggu pembalasanku.
"Ternyata ini alasanmu berubah, kak, kau jadikan ibumu pengasuh dari anak laki-laki yang telah menyampakanmu begitu saja."
"Cih! Menjilat ludah sendiri rupanya." ujarku sinis.
"Tutup mulutmu, Sarah. Jika tidak tahu apa-apa lebih baik diam. Karna sebenarnya kehadiranmu tidak dibutuhkan di sini."
"Tapi uangku kalian butuhkan, bukan?" ungkapku penuh penekanan.
Wajah kak Sarah kali ini sudah merah padam. Mungkin tidak terima dengan yang ku katakan. Tapi memang itu benarkan.
"Wajar saja jika Sarah menikmati uangmu, Iren. Sebab Selama ini dia yang menjaga nenek tua itu, waktu kau sedang merantau. Bukankah kalian berdua Sama-sama menguntungkan?" sahut Toni. Dia adalah mantan suami kakaku Sarah. Mereka berdua bercerai 4 tahun lalu, pemicu perceraian mereka diakibatkan perselingkuhan Toni dengan janda muda desa sebelah.
Tidak tahu malu, beraninya sekarang dia menampakan wajah di depanku. Atau jangan jangan mereka sudah rujuk?. Ya, seprtinya begitu jika dilihat dari gerak-gerik mereka berdua.
"Ya! ya! ya! Kalian memang cocok, yang satu penjilat dan yang satu penghianat." Ejekku kepada mereka berdua.
"Lancang! Beraninya kau menghina kami, Iren. Gadis tengil sepertimu mudah untuk kami singkirkan. Jadi jangan macam-macam!" Toni berusaha mengancamku, tapi sayangnya aku tidak takut.
"Coba saja kalau bisa, justru kalian yang akan aku buat mendekam di penjara seumur hidup." Aku pun menantangnya. Dia pikir siapa bisa mengancamku.
"Ha ha ha! Lihat, Sarah, adikmu mulai gila karna terlalu lama merantau di negri orang." Tawa Toni menggelegar memenuhi seisi ruangan.
Rupanya dia meremehkanku. Kita lihat, aku atau mereka yang akan mengemis dan bertekuk lutut di bawah kaki ini.
Kusunggikan senyum penuh jijik ke arah mereka berdua. Ibu sedari tadi hanya menunduk diam. Entahlah apa saja yang sudah mereka lakukan kepada ibu. Sehingga membuat beliau begitu ketakutan.
Kak Sarah pun sama ikut tertawa bersama Toni, seolah aku ini sedang membuat lelucon di depan mereka.
"Sudahlah, Iren, jika kau masih ingin tinggal di sini bersama ibumu, maka jangan sekali kali ikut campur urusanku, apalagi membantah ucapanku." tekan kak Sarah ke arahku dengan mata melotot.
"Dan untuk ibu, segera mandikan anak-anakku, jangan buat aku dan mas Toni semakin murka, ibu akan tahu akibatnya!" Lanjutnya lagi, kali ini menyuruh ibu untuk mengurus anak-anaknya, gila! Dia benar-benar sudah gila.
"Gila kau Sarah, beliau ini ibumu, ibu kita, bukan pengasuh anakmu, harusnya kalian yang tahu diri. Dan lebih baik kalian pergi dari rumah ibu!. Biar aku yang merawatnya!." Kali ini aku harus lebih tegas, aku tidak mau ibu semakin di siksa oleh mereka.
Kak Sarah mencebikkan bibirnya ke samping. Dia dan Toni saling berpandangan saling melempar senyum licik.
"Beri tahu anak kesayanganmu itu, Bu, atau kalian pergi dari sini sekarang juga!" Kak Sarah berbicara penuh penekanan terhadap ibu.
Ibu yang sedang menunduk langsung mendongak dengan mata berkaca-kaca, sejurus kemudian dia bersimpuh di kaki kak Sarah .
"Ibu mohon, nduk jangan usir kami dari rumah ini, hanya ini satu-satunya kenangan ibu bersama almarhum bapakmu." Ibu memohon kepada kak Sarah, Tangisnya begitu pilu.
Aku sangat bingung dengan ini semua, sebenarnya apa yang terjadi, ini rumah ibu tapi kenapa kak Sarah yang seolah berkuasa.
"Bu, jangan seperti ini. Ibu tak pantas bersujud di kaki anak durhaka ini. Dan harusnya dia yang bersujud di kaki ibu." Aku mencoba membangunkan ibu, tapi ibu menolak.
"Baiklah jika jika ibu kekeh ingin tetap di sini, aku tak masalah, tapi ada satu syarat." kak Sarah memberi syarat kepada ibu.
"Apa, Nduk? Jika ibu bisa, ibu akan lakukan demi bisa tetap tinggal di rumah ini." wajah ibu begitu memelas, ah rasanya sakit sekali hatiku.
"Suruh Iren minta maaf kepadaku, dan bilang kepadanya untuk patuh dan tunduk dengan perintah kami." Kak Sarah berbicara dengan seringai licik.
Ibu menoleh ke arahku meminta persetujuan, matanya begitu menyiratkan kesedihan.
"Nduk, ibu mohon, kali ini saja turuti keinginan kakakmu." Ibu berbicara dengan menundukkan kepala.
"Aku tidak mau, Bu, ini salah! Sebenarnya apa yang terjadi?" tanyaku penuh penekanan.
"Nduk." mohon ibuku dengan mata berkaca-kaca. "Nanti kamu akan tau." lirihnya yang hampir tak terdengar.
Aku menggeleng pelan, memalingkan wajah dari pandangan ibu, aku tak kuasa menolak. Tapi aku pun bingung dengan ini semua, haruskah kuturuti mau ibu.
"Baiklah, aku minta maaf kak, aku tak akan mengulangi lagi. Tapi asal kau tau, kulakukan semua ini demi ibu." aku akhirnya pasrah dan menuruti kemauan ibu.
"Bagus." Kak Sarah tersenyum sinis ke arahku.
Setelah mengatakan itu, kak Sarah dan Toni keluar dari kamar ibu.
****
Setelah cukup tenang aku meminta ibu untuk menceritakan permasalah yang terjadi. Kenapa bisa kak Sarah menguasai rumah peninggalan ayah. Sebenarnya aku tak masalah jika rumah ini ingin dimilikinya, akan tetapi dia harus merawat dan menyayangi ibu. Tapi ini justru sebaliknya.
"Ibu bisa ceritakan kepada Iren tentang masalah yang sebenarnya? Kenapa bisa rumah peninggalan ayah dikuasai oleh mereka, Bu."
Ibu menghela nafas, menghembuskan secara perlahan, terlihat begitu berat beban yang di pikulnya. Kemudian beliau menatapku dengan pandangan nanar.
"Maaf kan ibu, Nduk, seharusnya kamu tidak perlu masuk ke dalam permasalahan ini. Ibu tidak ingin membuat hidupmu semakin susah." kali ini ibu menunduk, tak berani menatap mataku lagi.
"Ibu tidak boleh bicara macam-macam ya, sudah kewajiban Iren untuk membahagiakan ibu." Kurengkuh tubuh tuanya kedalam pelukanku. Sungguh dada ini begitu sesak.
"Begini, kalau ibu belum mau bercerita dengan Iren, aku tak masalah, yang penting ibu jawab jujur pertanyaan Iren kali ini." aku menjeda kalimat.
"Kemana uang yang Iren kirim selama ini untuk ibu, apakah kak Sarah memberikannya?"
"U-ang, nduk?" setelah mengatakan itu ibu terdiam dan sekan menerawang adegan setiap adegan yang pernah terjadi.
" Maksud mu uang tiga ratus ribu itu? Iya kakak mu selalu bilang kalau kamu mengirimkan uang untuk ibu sebesar tiga ratus ribu." jawab ibu sambil memandangku.
Aku yang mendengar pun hanya melongo dibuatnya. Sungguh kaget luar biasa, kenapa hanya tiga ratus ribu.
Dan ibu yang melihat ekspresi keterkejutan di wajah pun kembali bersuara, "Ma-af, Nduk bukan maksud ibu tidak bersyukur."
"Justru ibu kasihan denganmu, harus mengirimi ibu uang setiap bulan padahal kamu sendiri di sana sedang susah-" Ibu menggantung ucapanya, meraup udara yang menyesakan dadanya.
"Kata kakakmu Sarah, majikanmu di sana jahat dan kau jarang diberi makan?" kali ini tangannya membelai pipiku, seperti menelisik sesuatu. "Tapi-" beliau menjeda ucapnya.
Aku sungguh tidak menyangka kalau kak Sarah mampu membuat karangan cerita palsu untuk ibu, dan yang lebih mirisnya ibu percaya.
"Jadi selama ini ibu hanya diberi uang tiga ratus ribu oleh Kak Sarah?" tanyaku memastikan.
Ibu pun mengangguk meng-iyakan ucapanku. " Itu pun masih digunakan untuk keperluan rumah ini, Nduk, terkadang justru harus menombok bon di warung, makanya-" ibu berhenti sebelum menyelesaikan ucapannya.
Mataku menyipit, menelisik gerak-gerik ibu yang mencurigakan." Kak Sarah itu bohong, Bu, aku justru diperlakukan sangat baik oleh majikanku dulu, dan yang perlu ibu tahu, aku setiap bulan mengirim ibu uang 10 juta, separuh dari gajiku selama ini." ucapku yang tidak tahan, aku sungguh muak dengan kak Sarah, bisa-bisanya dia merampas hak ibu.
"Se-puluh juta, Nduk?" Ibuku bertanya dengan suara yang putus-putus, sepertinya beliau kaget dengan ucapanku. "Tapi kenapa kakak mu tidak jujur kepada ibu, Nduk?" anjut ibuku. Tubuhnya bergetar seperti ada sesuatu yang membuatnya begitu syok.
" Iya Bu, bahkan setahun lalu kak Sarah meminta uang tambahan untuk menyewa pembantu, agar ibu tidak terlalu lelah, tapi nyatanya dia bohong kepadaku." amarahku menggebu-gebu mengingat kelakuan kakakku itu.
"Ter-nyata ibu dibohongi, Nduk." suara ibu tercekat, dia berkata sambil memegangi dadanya dengan nafas yang terengah-engah. Aku yang khawatir pun lantas segera memegangi tubuh ibu yang seperti kejang. Dan tiba-tiba,,,
Bruk!
Tubuh ibu ambruk terkulai lemah di pembaringan, aku yang tidak siap pun sangat kaget. Apa yang terjadi kepada ibu kali ini. Ya Allah aku takut terjadi apa-apa.
"Bu, ibu bangun, Bu!" Kuletakkan tanganku di hidungnya, aku menarik nafas lega, setidaknya ibu masih bernafas. Aku harus segera membawa ibu ke rumah sakit.
Untuk kecurigaanku itu masalah nanti, yang penting saat ini adalah nyawa ibu. Aku akan selidiki ini setelah ibu sudah sehat
Yok jangan lupa like komennya readers sayang❤️
IBUKU di JADIKAN PENGASUH ANAK ANAK KAKAKKU[3]
"kak Sarah! Kak, ibu pingsan!" aku berteriak sekeras mungkin meminta bantuan kak Sarah. Ibu harus segera dibawa ke rumah sakit.
"Kak!" pekikku lantang.
Dum!
Seperti benturan benda keras ke dinding. Suara itu berasal dari kamar kak Sarah, disusul dengan suara tangisan anak kecil. Itu pasti anak-anak kak Sarah yang menangis.
Tidak lama kak Sarah muncul di hadapanku.
"Ada apa sih Iren teriak-teriak! Kau membuat mas Toni marah karna terganggu dengan suara cemprengmu itu!"
"Ibu pingsan, kak! Ayo kita bawa kerumah sakit! Di depan tadi kulihat ada mobil terparkir, ayo kita bawa ibu menggunakan mobil itu!"
"Hais, aku pikir ada apa? k
Kau jangan berlebihan, Iren, ibu itu sudah tua, wajar kalau hanya pingsan, sebentar juga sadar." ungkap kak Sarah acuh.
"Kak Sarah tidak khawatir dengan kondisi ibu? lihat badannya panas!"
"Halah! Itu bukan urusanku. Lagian apa kau tidak dengar anak-anakku menangis. Aku sibuk, lebih baik biarkan saja dikasih minyak angin juga nanti bangun. Tapi kalau tidak bangun pun justru bagus, sekalian saja m@ti!"
Duar!
Bagai disambar petir, ucapan kak Sarah benar-benar di luar nalar, setega itu dia mendoakan ibunya agar cepat m@ti. Apakah hatinya sudah beku?
"Bi@dab!"
Kudorong tubuh kak Sarah hingga terjerembab ke lantai, aku sudah hilang kesabaran.
"Agh! s
Sial kau, Iren!" kak Sarah mengaduh kesakitan sambil memegangi pinggangnya, lantas berusaha berdiri.
"Dasar anak durhaka! k
Kau bukan lagi manusia, Sarah! Otakmu sudah tidak waras!" makiku penuh emosi.
Kak Sarah hanya menyunggingkan senyum sinisnya. Setelah itu tak ku hiraukan lagi dirinya, aku berbalik hendak menggotong tubuh ibu, tapi tiba-tiba kepalaku ditarik ke belakang oleh kak Sarah.
Rasa panas menjalar di kulit kepalaku. Sakit dan juga nyeri. Cekalan tangan kak Sarah di rambutku begitu kuat.
"Sudah ku katakan bukan? Jangan melampaui batasanmu, Iren! Jangan sampai kubuat nyawa ibumu melayang!" bisiknya tepat di telingaku.
"Kalau aku tak takut, kau mau apa ha?" tantangku tetap tenang, tak lupa kusunggingkan senyum meremehkan untuknya.
"Kau hanya belum tau siapa aku, Iren! Hahaha!" kak Sarah tiba-tiba tertawa seperti orang gila. Kemudian dia mendorong tubuhku ke depan hingga aku nyaris saja membentur dinding, untungnya aku lebih sigap.
Kak Sarah kembali tertawa, kemudian dia melirik meja samping ranjang ibu, ternyata ada gunting yang tergeletak. Lalu diambilnya dengan seringai tipis. Kali ini dia semakin mendekat ke arahku sambil tersenyum penuh arti.
"Sepertinya kita perlu bermain, Iren!" T
tekan-nya, kini kak Sarah sudah di hadapanku.
Ya Tuhan aku seperti tidak melihat kakakku yang dulu. Yang di hadapanku saat ini seperti bukan dirinya. Apakah kak Sarah kesurupan? Ah, tapi tidak, dia bahkan sadar sepenuhnya.
"Jangan mengancamku, Kak! j
Jika kau berani berbuat macam-macam denganku, akanku balas lebih kejam!" tandasku penuh penekanan. Aku harus terlihat tenang di depannya, agar dia tak berani berbuat aneh.
"Ha ha ha ha! Waw luar biasa! Kau tahu jika ini mengenai kulitmu yang mulus itu, bisa kupastikan kau akan cacat seumur hidupmu! dan tentunya tidak akan ada laki-laki yang mau denganmu, Iren." ancam kak Sarah dengan seringainya, matanya pun melotot tajam.
Dia semakin mendekat hingga tidak adak jarak di antara kita. Terpaan hembusan nafasnya begitu terasa di hidungku.
"Kau butuh bukti adikku sayang?" kali ini guntingnya sudah menempel di kulit pipiku. Gerakanku seolah terkunci olehnya. Tapi aku tetap berusaha tenang.
"Kau sebenarnya manis, aku dulu begitu menyayangimu, tapi itu dulu, Iren! Dulu! Sekarang hanya ada rasa benci, dan ini adalah bukti rasa sayangku kepadamu."
"Aawh!" jeritku ketika guting yang dipegang kak Sarah mulai menggores pipi.
"Sarah! Sarah! c
Cepat kemari! Ini anak-anakmu tidak mau diam!" tiba-tiba suara Toni mengagetkan kak Sarah, seketika guntingnya terjatuh.
"Argh!" kak Sarah berteriak kesal.
Matanya melirik ke arahku sebelum pergi, "Urusan kita belum selesai, Iren!" peringatnya, lalu dia berbalik dan keluar dari kamar ibu.
Aku bernafas lega, setidaknya pipiku hanya tergores kecil. Tidak masalah, yang penting aku harus segera membawa ibu pergi dari sini. Setelah itu aku mengambil ponselku yang ada di tas kecil, kemudian menghubungi taxy untuk membawa ibu kerumah sakit.
****
Setibanya di rumah sakit aku langsung meminta para perawat untuk memeriksa kondisi ibu.
Sekitar sepuluh menit, keluarlah seorang pria yang mengenakan seragam dokter, kuperkirakan umumnya tak jauh dariku.
"Permisi? Keluarga pasien?"
"Saya, Dok!"
"Bisa ikut keruangan saya? Ada hal yang perlu kita bicarakan."
"Baik, Dok." aku mengangguk setuju dan mengikuti langkah dokter itu menuju ke ruangan.
Setelah sampai di ruangan, dokter mempersilakan aku untuk duduk.
"Perkenalkan nama saya Rafli, Bu, eh maksud saya mbak, karna saya lihat kita seumuran ya." ungkap dokter mengawali pembicaraan.
Aku hanya menanggapinya dengan senyuman, karna aku merasa tidak perlu berbasa basi, hanya ingin segera tahu kondisi ibu.
"Begini, Mba-?"
"Iren."
"Oh ya, Mbak Iren, ibu anda mengalami dehidrasi yang cukup berat, membuat kondisi tubuhnya lemah dan kata suster yang mengganti pakaian ibu anda tadi, sepertinya terdapat luka biru di bagian tubuhnya." papar dokter tersebut dengan jelas.
Aku pun kaget, ternyata ibu mendapat penyiksaan yang cukup berat dari kak Sarah, hingga tubuhnya biru-biru.
"Dan maaf sebelumnya, ibu anda sepertinya belum makan sama sekali yang hari ini, karna tadi dia sempat mengigau lapar." lanjut dokter lagi.
Aku sampai lupa menanyai ibu makan, saking sibuknya memikirkan masalah ini. Kasihan ibu, kak Sarah benar-benar tega.
"Maaf dokter saya juga kaget sebenarnya dengan yang di alami beliau, sebetulnya saya juga baru tau kalau ibu belum makan, sebab pagi tadi saya baru sampai di rumah setelah 3 tahun merantau." ucapku pelan, merasa sangat kalut.
"Apakah ibu anda tinggal seorang diri, di rumah selama ini?"
Aku menggeleng. "Tidak, Dok, ibu tinggal bersama kakak saya dan suaminya." jawabku menanggapi pertanyaan dokter.
"Apakah selama ini ibu anda mengalami kekerasan?"
"Sepertinya iya, Dok." jawabku singkat.
"Baiklah saya paham. Ibu anda sepertinya harus dirawat beberapa hari di sini agar kondisinya membaik dan untuk luka biru-birunya saya bisa bantu untuk melakukan visum."
Oh ya aku baru ingat, ini bisa dijadikan bukti kalau suatu saat dibutuhkan. Aku pun mengangguk setuju, setelah semua selesai aku pamit ijin keluar ruangan hendak mengurus administrasi ibu.
****
Ceklek! Kubuka pintu ruang rawat ibu, kudekati tubuh beliau masih terbaring lemah di ranjang.
"Ibu maafkan, Iren, ternyata selama ini ibu begitu menderita." kuciumi tangan keriput yang selama ini telah merawatkau dengan tulus. Aku tak bisa untuk tidak menangis, rasanya masih tak percaya, ternyata aku selama ini sudah menitipkan ibu pada orang yang salah.
Aku tertunduk lesu, membayangkan setiap hari ibu harus mengalami penyiksaan. Terbukti dengan luka lebam yang dimiliki ibu menandakan betapa sadisnya mereka semua. Saat aku larut dengan pikiran yang berkecamuk di otakku, tiba-tiba ada sesuatu yang menyentuh kepala ini.
"Iren, kamu kenapa, Nduk? Dan ibu di mana ini?" Ibu akhirnya sadar, alhmdulilah aku senang sekali.
"Iren sedih melihat ibu seperti ini, tapi sekarang ibu tenang saja ya, kita sudah berada di rumah sakit, ibu akan segera sembuh dan nanti kita akan memulai kehidupan kita yang baru." ucapku kepada ibu penuh semangat.
Ibu menggelengkan kepalanya, matanya berkaca-kaca.
"Ibu ndak ingin kemana-mana, Nduk , ibu ingin tetap tinggal di rumah peninggalan bapakmu, hanya itu kenangan yang ibu miliki bersama bapakmu." bahu ibu terguncang, matanya sudah menganak sungai, terlihat begitu rapuh.
Ah, andai ibu tahu aku pun tidak ingin pergi dari sana. Tapi tempat itu berbahaya untuk keselamatannya saat ini.
"Ibu tenang ya, jangan terlalu berfikir macam-macam. Soal rumah itu akan tetap menjadi milik ibu" ungkapnya berusaha menenangkan ibu.
Setelah kusuapi makan dengan lahap, akhirnya ibu mau beristirahat kembali.
"Bu, Iren pamit sebentar ya mau mencari keperluan yang tidak Iren bawa dari rumah" pamitku beralasan kepada ibu.
"Ibu takut, Nduk, sendirian di sini" ibu mungkin trauma dengan kejadian yang menimpanya di rumah.
"Ada suster di sini yang akan menemani ibu selama Iren di luar
." aku berusaha membujuk ibu agar beliau mau di tinggal.
Kemudian beliau menganggukkan kepala tanda setuju.
"Assalamualaikum, Bu." kusalami tangan ibu dengan takzim.
" Walaikumsalam. Hati-hati ya, Nduk"
Aku mengangguk dan melangkah keluar dari kamar inap ibu.
Sebenarnya aku berbohong kepada ibu perihal ingin membeli keperluan di luar. Tujuan utamaku adalah rumah. Aku harus segera mencari tahu rahasia besar ibu dan kak Sarah.
Taxy yang kutumpangi membelah jalanan. Tampak lenggang karna ini adalah jam kerja, jadi tidak terlalu banyak kendaraan yang berlalu lalang.
Setelah menempuh perjalan kurang lebih 20 menit akhirnya aku sampai juga. Sengaja menyuruh pak sopir untuk berhenti agak jauh dari rumah, supaya baik kak Sarah maupun Toni tak mengetahui kepulanganku.
Aku juga sengaja lewat pintu belakang, karna ada sesuatu yang harus aku selidiki. Mataku celingukan menatap sekeliling dapur, kosong, tidak ada siapa pun di sini. Kemudian aku melangkah hendak menuju kamar yang di tempati ibu, namun tiba-tiba saat melewati kamar kak Sarah, aku mendengar seperti orang sedang berbincang.
"Sarah, kenapa bisa tiba-tiba Iren kembali? Kalau begini caranya kita tidak akan mendapat transferan lagi dong!"
"Mana aku tahu mas, lagian dia juga tidak ada mengabariku perihal kepulangannya ke rumah."
"Pokoknya aku tidak mau tau, semua kebutuhanku harus tetap kau penuhi!"
"Tapi mas aku sudah tidak bisa berkerja lagi, kamu tahu'kan kalau selama ini yang mengasuh anak-anak itu ibu, dan sekarang tidak mungkin lagi, sebab Iren pasti akan menghalangi ibu untuk mengurus mereka."
"Bodoh! Kau bisa gunakan kelemahan ibu sebagai senjata untuk mengancamnya!"
"Tapi, Mas, kalau ibu Sampai tahu kita sudah membohonginya perihal rumah ini, bisa gawat!"
"Heh! Sudah kubilang jangan bahas masalah ini sembarangan, kalau ada yang mendengar akan kacau!"
Aku yang penasaran dengan obrolan mereka akhirnya berhenti menguping tepat di depan pintu kamar kak Sarah. Tidak lupa kurekam semuanya, siapa tahu nanti bisa kujadikan bukti juga.
"Tidak akan ada yang mendengar, kamu tenang saja, mas, si Iren sedang di rumah sakit bersama ibu, jadi kita aman
"
"Bagus! Sepertinya Ibu dan adikmu sama-sama bodoh, apalagi ibu tirimu itu begitu mudah di perdaya, tinggal bilang kalau rumah ini di jadikan jaminan pinjaman kepada rentenir saja sudah percaya, padahal'kan selama ini uang yang dikirim oleh Iren lebih dari cukup bahkan aku bisa mengumpulkan untuk membeli mobil." ucap Toni panjang lebar.
Tanganku mengepal, dadaku bergemuruh dengan hebat mendengar penuturannya. Bisanya-bisanya mereka memanfaatkan kebaikanku dan ibu, dasar manusia tidak tahu diri!
Klik! Rekaman berhasil kudapatkan, akanku simpan ini sebagai bukti kejahatan mereka.
Sebelum aku ketahuan karena telah menguping, lebih baik segera pergi dari tempat ini. Saat aku hendak melangkah pergi sialnya menyenggol vas bunga yang terletak di pinggir samping pintu kamar kak Sarah.
Prak! Pyar!
"Siapa di luar?" teriak kak Sarah.
Terdengar juga suara kaki melangkah, aku bingung harus bagaimana, mana tidak ada tempat bersembunyi lagi. Aku menoleh kesana kemari.
Ceklek! Pintu kamar kak Sarah dibuka, dia menyebulkan tubuhnya keluar.
Aku bernafas lega, tadi saat pintu kamar sudah mau dibuka, aku secepat kilat berlari ke arah dinding pembatas yang menghubungkan kamar kak Sarah dan ruang keluarga.
"Huft selamat." lirihku nyaris tak terdengar.
"Nadin apa yang sedang kau lakukan di sini, ha?" bentak kak Sarah ke anak pertamanya yang bernama Nadin, usianya kini 6 tahun selisih 2 tahun dengan anak keduanya yang berusia 4 tahun, namanya Danu, ketika bocah itu lahir disitulah Toni berulah dan mereka bercerai.
Kebetulan saat tadi aku bersembunyi, kulihat Nadin berjalan kevarah kamar ibunya. Jadi waktu kak Sarah buka pintu sudah ada Nadin di depan sana.
"Nadin lapar, Bu, dari tadi belum makan." bocah kecil itu justru mengeluh lapar saat dimarahi ibunya. Kasihan pastilah kak Sarah tidak mengurusnya.
"Ayo Bu ambilin Nadin makan." Nadin menarik narik baju ibunya.
"Argh! Tunggu di kamar, ibu pesankan dulu makanan."
"Hore!" teriak Nadin kegirangan.
"Gara-gara nenek tua itu aku harus repot mengurus anak! Sial!"
Aku tersenyum sinis mendengar kekesalan kak Sarah. Kalau dia tidak mau di repotkan urusan anak, kenapa juga dulu mau di kekepin Toni. Sampai anaknya dua lagi, eh giliran mengasuhnya saja dia menyuruh ibu. Dasar manusia aneh!
Aku berjingkat pelan menuju pintu belakang. Sebelum pergi aku memastikan terlebih dahulu tidak ada orang.
"Aman." aku lalu melangkahkan kaki cepat ke:arah taxy yang sudah menunggu tidak jauh dari rumah.
"Huft akhirnya." ucapku lega
****
Sebelum kembali ke rumah sakit aku mampir dulu membelikan makanan kesukaan ibu. Soto babat menjadi incaranku.
Selama di perjalanan pikiranku berkecamuk, aku ingat kata-kata Toni tadi, yang menyebutkan kata 'ibu tirimu' siapa yang dia maksud?. Apakah ibu? Tapi setauku kak Sarah adalah anak pertama ibu dan ayah. Lalu siapa yang di maksud ibu tiri oleh Toni?
Bersambung,,,,,