“Jia…” Panggil Liu di seberang jalan. Jia yang melihat Liu datang menjemputnya, langsung menghampiri Liu.
“Kak Liu,” panggil Jia dengan semangat.
“Apa kakakku sibuk?” tanya Jia.
“Tidak, kakakmu sudah pulang, tapi kak Liu ingin menjemputmu hari ini, karena besok kakak harus pergi,” ucap Liu. Mendengar ucapan Liu, Jia langsung menghentikan langkahnya.
“Kakak mau pergi kemana?” tanya Jia.
“Kakak harus ke Shanghai untuk melanjutkan sekolah kakak, jadi Jia mulai sekarang karena Jia bukan anak kecil lagi, Jia harus menjadi gadis yang mandiri dan membantu kakak Chen. Pekerjaan rumah, dan sekolah, harus Jia atasi sendiri. “ ucap Liu.
Jia mengangguk dan menatap Liu dengan meneteskan air mata.
“Gadis pintar, seminggu ini Kak Liu akan menemanimu, Jia mau kemana akan Kak Liu temani,” ucap Liu.
“Jia ingin bermain di taman,” pinta Jia.
“Baiklah, ayuks kita pergi sekarang,” ucap Liu, sambil menggandeng tangan Jia seperti adiknya sendiri.
***
Di taman, Jia bermain dengan riang, mencoba beberapa wahana mainan, dan camilan yang Jia sukai. Liu dengan sabar menemani Jia.
“Kak Li, ayukss kita kesana,” ajak Jia sambil menarik tangan Liu. Liu mengikuti langkah kaki Jia yang berlari kearah komedi putar dan kemudaian beralih ke tempat foto box.
“Kak Li, kita foto yuks, agar nanti Kak Liu tidak melupakan Jia, dan selalu mengingat wajah Jia,” ucap Jia polos. Liu terkejut mendengar ucapan Jia, bagaimana bisa berbicara seperti itu.
Liu jarang menunjukkan sisi ramah dan lembutnya keada orang lain, namun kepada Chen dan Jia terkecuali. Liu salalu merasa nyaman dan bahagia saat bersama mereka.
Ketika Liu dan Jia sedang asik duduk, seorang lelaki paruh baya tiba-tiba menghampiri mereka.
“Mianhua?” ucap lelaki paruh baya itu yang tiba-tiba memegang bahu Jia. Jia sangat ketakutan ketika tiba-tiba di pegang oleh lelaki itu. Liu secara spontan menarik tangan Jia dan menyeretnya ke balakang tubuh Liu.
“Maaf tuan, mungkin anda salah orang,” ucap Liu mencoba menguasai situasi.
“Tidak, aku tidak salah orang, dia sangat mirip dengan Mianhua kecilku, dia sangat mirip dengan ibu nya Feng Ying,” ucap lelaki itu.
“Namaku Jia, bapak salah orang,” ucap Jia menangis ketakutan.
“Kita pergi Jia,” ajak Liu. Liu akhirnya menggendong Jia dan mengajaknya pergi. Lelaki itu berteriak memanggil-manggil nama Mianhua.
“Mianhua tunggu,” teriak lelaki itu.
Liu berlari dengan menggendong Jia yang menangis.
“Aku takut Kak,” rintih Jia sambil memeluk Liu.
“Tenang Jia, Kak Liu tidak akan membiarkan orang lain menyakitimu,” ucap Liu.
Beberapa saat, lelaki itu sudah tidak kelihatan lagi, dan Liu membawa Jia pulang di gendongannya. Chen melihat Liu yang menggendongnya dan mengambil tubuh Jia beralih kedalam gendongannya. Jia tertidur selama di perjalanan pulang. Chen menidurkan Jia di kamarnya.
“Apa yang terjadi, kenapa mata Jia sembab?” tanya Chen menghampiri Liu yang duduk di teras.
“Saat kami bermain di taman, ada seorang lelaki paruh baya yang mendekati Jia dan memanggilnya Mianhua. Karena lelaki itu tiba-tiba memegang bahunya, Jia terkejut dan ketakutan,” ucap Liu menjelaskan.
“Siapa dia?” tanya Chen.
“Entahlah, aku sendiri tidak mengenal orang itu, sepertinya dia bukan orang sini,” jawab Chen.
“Apakah mungkin dia keluarga Jia?” ucap Liu mencoba menebak.
“Tidak mungkin, selama 12 tahun tidak ada orang yang mencari Jia, bahkan di lokasi kecelakaan mobil itu. Tidak ada yang mencarinya, kini setelah 12 tahun tiba-tiba muncul orang asing, sangat tidak mungkin,” ucap Chen mencoba mengelak.
“Chen…” ucap Liu lirih untuk menyadarkan keegoisan Chen.
“Pulanglah, besok aku akan mengantarmu ke bandara,” ucap Chen mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Aku pulang dulu,” ucap Liu menepuk bahu Chen.
“Hati-hati,” jawab Chen dengan sedikit acuh.
Chen duduk di dekat tempat duduk Jia, dia melihat wajah Jia yang sedang terlelap dalam dunia mimpinya. Dia teringat saat pertama kali dia menemukan Jia. Malam itu, hujan lebat dan tidak ada seorangpun lewat di jalan itu. lampu jalanan yang padam membuat suasana semakin mencengkap. Chen yang saat itu pulang dari kerja, mengayuh sepeda bututnya untuk pulang ke rumah. Jarak rumah Chen dan tempat kerja cukup jauh dan melewati jalanan yang panjang. Membutuhkan waktu 30 menit untuk Chen mengayuh sepeda bututnya. Di pertengahan jalan, Chen melihat sebuah mobil yang menabrak pagar jalan. Mobil itu hampir jatuh ke jurang. Seorang wanita terlihat terluka parah, dan di sampingnya ada seorang anak kecil yang menangis tiada henti. Chen menghampiri mobil itu dan melihat anak kecil yang menangis itu. Chen berusaha membuka pintu mobil, namun tidak bisa. Chen mengambil batu kecil dan membuat titik di jendela mobil untuk memecahkan jendela. Chen berhasil memecahkan jendela itu dan berusaha menyelamatkan wanita itu, namun ketika Chen berusaha membuka sabuk pengaman, tangan lemah wanita itu mencengkram tangan Chen.
“Selamatkan putriku,” ucap wanita itu.
Chen kemudian membuka kunci pintu dan mengangkat anak kecil itu. Chen meletakkan anak itu di dekat sepedanya dan menutupinya dengan jaket, agar tidak terkena hujan. Chen kembali ke mobil itu, sebelum samapi ke mobil, mobil itu sudah terjun ke dalam jurang.
Chen sangat tertekan melihat itu, dan kemudian membawa anak kecil itu pulang bersamanya. Chen merawat Jia dengan sangat baik, selama ini dia terbiasa merawat orang tuanya yang sakit sebelum mereka meninggal, sehingga merawat Jia bukanlah hal yang sulit untuk Chen. Chen melaporkan kejadian itu kepada pihak polisi, dan memberi tahu mereka, telah terjadi kecelakaan malam itu. namun Polisi tidak mempercayai ucapan Chen, karena tidak ada bukti kecelakaan sama sekali. Pagar jalan yang tertabrakpun menjadi utuh kembali keesokan harinya. Chen mengira, ada perencanaan di balik kecelakaan itu. Sejak saat itu, Chen tidak lagi melaporkan keberadaan Jia, dan hanya menyembunyikan identitas Jia sebagai adik kandungnya.
***
Sinar mentari pagi menerobos selah selah dinding yang rapuh, Jia terbangun dari tidurnya dan melihat kakaknya tidur di samping tempat tidurnya.
“Kakak,” panggil Jia Lirih mencoba membangunkan Chen.
“Kamu sudah bangun?” ucap Chen yang terbangun setelah Jia menyentuh wajahnya.
“Siap-siaplah, kita harus mengantar Kak Liu ke bandara,” ucap Chen.
“Emmm,” jawab Jia menganggukkan kepala.
Di bandara, Liu menggendong Jia, dan Chen membawakan barang milik Liu.
“Ingat Jia, kamu harus menjaga kakakmu selama Kak Liu pergi, jadi gadis yang pintar dan mandiri. Jika ada orang asing yang mendekatimu seperti kemarin, kamu harus teriak dan meminta pertolongan dari orang sekitar, mengerti!” tutur Liu.
“Siap Kak,” jawab Jia.
“Anak pintar,” ucap liu sambil mecubit hidung Jia.
“Kakak juga harus janji, kakak tidak boleh melirik wanita lain, Kakak hanya milik Jia,” ucap Jia polos. Liu langsung tertawa mendengar ucapan Jia.
“Tunggu Jia 7 tahun lagi setelah Jia berumur 20 tahun, Jia akan menjadi gadis yang sangat cantik dan cerdas, dan siap mendampingi Kak Liu,” ucap Jia.
“Baiklah, Kakak akan menunggu itu,” ucap Liu.
Chen hanya adegan itu dengan geleng kepala, entah apa yang dua orang ini bicarakan, obrolan menghayal Jia yang ditanggapi oleh Liu.
Liu menurunkan Jia dari gendongannya dan memegang tangan Jia.
“Jia jadi anak yang baik yaa, jaga Kakak Chen, dan terus belajar,” ucap Liu.
“Emm,” jawab Jia.
“Aku pergi, jaga dirimu baik-baik, jangan sampai kamu jatuh sakit, oke,” ucap Liu sambil menepuk bahu Chen.
“Emm hati-hati,” jawab Chen.
Liu pun pergi meninggalkan Jia dan Chen dan pergi ke Shanghai untuk mengejar mimpinya.
1 tahun Kemudian
Jia kini duduk di bangku sekolah menengah awal, menjadi siswa yang cantik dan cerdas. Chen juga menjaga Jia dengan sangat baik. Ketika Jia hendak pulang, Dia melihat kakaknya di seberang jalan, Jia hendak menghampiri kakaknya, namun langkahnya terhentikan.
“Jia ini untukmu, apa kamu mau jadi pacarku” ucap seorang teman sekelas Jia. Jia menatap teman sekalasnya itu, dan kemudian tersenyum.
“Aku akan menerima ini sebagai hadiah, tapi maaf aku tidak bisa menjadi pacarmu,” ucap Jia santai.
“Kenapa?” tanya teman sekelasnya dengan penasaran.
“Karena aku sudah memiliki tunangan,” jawab Jia dengan santai. Jia kemudian meninggalkan teman sekelasnya itu dan menghampiri kakaknya Chen.
“Kakak, tumben kakak jemput Jia?” tanya Jia sambil memakan hadiah yang diberikan temannya tadi.
“Kebetulan kakak tadi ijin pulang duluan,” jawab Chen.
“Kenapa? Apa kakak sakit?” tanya Jia cemas dan memegang dahi Chen. “Kakak demam,” ucap Jia setelah memeriksa dahi Chen.
“Tidak apa-apa, hanya kelelahan. Apa dia tadi menembakmu?” tanya Chen mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Emm,” jawab Jia santai.
“Wahh adik kakak banyak penggemar ternyata,” ucap Chen sambil mengacak-acak rambut Jia.
“Ihhh kakak, berantakan tau rambut Jia,” gerutu Jia.
“Iya iya maaf,” ucap Chen dengan mengacak-acak rambut Jia kembali. Jia menggerutu tanpa berhenti karena ulah Chen.
Chen memandangi Jia yang berjalan di depannya. Kini Jia sudah beranjak menjadi gadis remaja yang cantik dan cerdas, ada sedikit rasa takut dan juga rasa bersalah, karena Chen belum memberi tahu Jia tentang identitas dia sebenarnya.
“Jia,” panggil Chen saat Jia dengan santainya berjalan di depan Chen.
“Iyaa,” jawab Jia berhenti dari langkahnya.
“Kamu sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik, akankah kamu meninggalkan kakak suatu saat nanti?” tanya Chen dengan ekspresi yang tidak biasa.
“Kenapa Jia harus meninggalkan kakak? Bahkan jika Jia menikah dengan Kak Liu nanti, Jia akan tetap tinggal dengan kakak seperti dulu. Dan keluarga kita akan lengkap seperti dulu,” ucap Jia penuh dengan keyakinan. Jia menghampiri Chen yang terdiam mendengar ucapannya.
“Ayuks, Jia sudah lapar,” ucap Jia dengan senyuman manisnya.
“Bagaimana jika kenyataannya kita bukan keluarga?” ucap Chen dengan tatapan kesedihan yang tidak bisa di artikan oleh Jia.
“Apa yang kakak bicarakan? Bagaimana kita bukan keluarga, bahkan kita sudah hidup bersama selama 13 tahun. Kakak juga yang selama ini merawatku, kalau bukan keluarga, apa namanya?” ucap Jia mencoba untuk mengelak.
“Emmm kamu benar, kamu adalah adikku,” ucap Chen sambil membelai rambut Jia.
Ada sejuta pertanyaan yang ada di benak Jia, namun Jia sama sekali tidak berani menanyakan itu kepada Chen. Jia hanya merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh kakaknya selama ini.
“Kenapa kakak semakin kurus dan pucat, apa pekerjaan kakak berat akhir akhir ini? Jia akan buatkan sup sampai di rumah nanti,” ucap Jia mencoba mencairkan situasi.
“Kakak hanya lelah,”jawab Chen.
Sesampainya di rumah, Jia masuk ke kamar dan berganti pakaian, Chen meletakkan tas dan jaketnya di kursi dan tertidur di kursi setelah beberapa saat. Jia bersiap membuat sup untuk Chen, namun melihat Chen tertidur, dia mengambil selimut dan melepas sepatu Chen. Sepatu yang sudah kusam, bahkan sudah tidak layak pakai. Jia memandangi wajah Chen yang semakin pucat dari hari ke hari, namun dia belum menemukan penyebab wajah Chen yang pucat.
Jia mengambil tas dan jaket Chen untuk di taruh di kamar Chen, namun tanpa sengaja, selembar kertas jatuh dari dalam tas Chen.
Hasil pemeriksaan rumah sakit, yang mengatakan bahwa Chen mengalami pembengkakan limpa yang cukup parah. Membaca hasil pemeriksaan itu, Jia meneteskan air mata.
“Jia,” panggil Chen yang mendapati Jia berdiri dengan memegang lembaran hasil pemeriksaannya. Dengan segera Jia menghapus air matanya.
“Aku akan membuatkan kakak sup dulu, kakak istirahatlah,” ucap Jia dengan menahan kesedihannya. Chen menghampiri Jia dan memeluknya.
“Tidak apa-apa, kakak akan baik-baik saja,” ucap Chen.
“Hiks..hikss…hikss…apa yang kita lakukan sekarang kak?” ucap Jia dengan terisak di pelukan Chen.
“Tidak apa-apa, jangan khawatirkan kakak,” ucap Chen menenangkan Jia.
Jia masih belum bisa menghentikan tangisannya.
***
Shanghai
“Tuan, ini hasil penyelidikan kami mengenai informasi yang saya dapatkan tentang Nona. Berdasarkan keterangan penduduk desa, lelaki yang merawat Nona bernama Chen, seorang yatim piatu. Selama ini, penduduk desa, mengira Nona adalah adik Chen, karena Chen merawat Jia sejak kecil,” ucap Anming yang merupakan Asisten kepercayaan Huanran.
“Apa kamu sudah mendapatkan hasil DNA nya?” tanya Huanran.
“Ini tuan,” ucap Anming sambil menyerahkan hasil DNA Jia.
“Hasil DNA menunjukkan 99% Jia adalah Nona Mianhua yang hilang 13 tahun yang lalu,” jalas Anming.
“Siapkan penerbangan ke Xianjiang, aku ingin pergi mala mini juga,” perintah Huanran.
“Baik Tuan, akan saya siapkan,” jawab Anming.
Huanran sudah menunggu lama untuk moment ini, setelah informasi dari salah satu paman Huanran tentang seorang gadis yang mirip dengan Feng ying, membuat Huanran tidak bisa tenang. Setelah kecelakaan yang terjadi pada istri dan anaknya 13 tahun yang lalu, Huanran seperti kehilangan kehidupannya.
“Feng Ying, akhirnya aku bisa menemukan putri kita,” ucap Huanran sambil memandang foto Feng Ying istrinya.
9 jam kemudaian
“Tuan, malam ini kita menginap di hotel terlebih dahulu, sebelum berangkat ke daerah pegunungan Tianshan,” ucap Anming.
“Kita lanjutkan perjalanan,” perintah Huanran. Anming pun tidak bisa menolak perintah tuan nya.
“Baik Tuan,” ucap Anming.
Beberapa jam perjalanan darat melintasi jalanan yang gelap. Huanran kembali ke kampong halaman Feng Ying. Dia melihat bayangan-bayangan masa lalu nya bersama Fen Ying di daerah pegunungan ini. Hingga fajar menyingsing, mobil Huanran sudah terparkir di seberang rumah Chen. Huanran mengamati rumah tua yang bahkan tidak layak huni. Hati Huanran merasakan sakit melihat keadaan yang dihadapi putri tercintanya selama ini.
“Mianhua, seperti apa kamu sekarang,” batin Huanran dalam hati.
Jia keluar dari rumah dengan mengenakan seragam sekolahnya, dengan rambut yang di kuncit, jaket berwarna hitam dan sepatu hitam, Jia siap berangkat ke sekolah. Jia melambaikan tangan kepada Chen yang saat itu hanya mengenakan kaos dan jaket lusuh. Dari penampilan yang di lihat Huanran, Huanran mengambil kesimpulan bahwa Chen merawat Jia dengan baik. Biarpun penampilan Chen lusuh, penampilan Jia berbeda dari Chen. Seolah semua yang dimiliki Chen diberikan kepada Jia.
Ketika Jia sudah meninggalkan rumah, Huanran menghampiri Chen.
“Selamat pagi, perkenalkan saya Huanran, ayah dari Mianhua, gadis yang bersamamu tadi,” ucap Huanran dengan tegas.
Chen memandang Huanran dengan khawatir, namun ada tatapan yang tidak bisa di ucapkan.
“Mungkin kamu salah orang,” ucap Chen mengelak.
Anming mengeluarkan hasil tes DNA yang membuktikan Jia adalah Mianhua. Melihat hasil DNA itu, Chen terdiam lemas.
“Masuklah,” ucap Chen mempersilahkan Huanran masuk kedalam rumah.
Huanran memperhatikan setiap sudut rumah Chen, bahkan bangunan ini hampir roboh. Chen mengambilkan minum untuk Huanran. Huanran melihat berbagai prestasi dan piala milik Jia. Huanran tersenyum dalam hatinya. Biarpun putrinya hidup dalam kemiskinan, namun kepintarannya benar-benar tidak diragukan. Dia melihat foto Jia, Chen dan seorang pemuda seusia Chen.
“Itu Liu, dia juga yang selalu membantu merawat Jia selama ini,” ucap Chen menjelaskan.
“Dimana dia sekarang?” tanya Huanran.
“Dia di shanghai untuk melanjutkan kuliahnya,” jawab Chen.
“Apa yang akan kamu lakukan sekarang? Apa kamu akan membawa Jia pergi?” tanya Chen kepada Huanran dengan tatapan khawatir.
“Apa Mianhua mau meninggalkanmu?” tanya Huanran.
“Jia tidak tahu, aku bukan kakak kandungnya,” jelas Chen.
“Apa kamu akan memberitahunya?” tanya Huanran.
“Beri aku waktu satu bulan, tepat tanggal 1 nanti, kamu bisa membawa Jia pergi,” ucap Chen.
“Baiklah, aku akan kembali satu bulan lagi,” ucap Huanran.
Huanran keluar dari rumah Chen dan mengajak Anming untuk kembali ke Shanghai.
“Tetap awasi Chen dan Mianhua dari kejauhan, aku tidak mau Mianhua hilang lagi,” perintah Huanran.
“Baik tuan,” jawab Anming.