Di rumah megah milik Vina, Gadis itu berlari masuk ke dalam, berteriak memanggil papanya.
"Pa! Pa. Aku keterima!!" ucap Vina, berlari masuk ke dalam kamar papanya, dia tidak melihat siapapun di sana.
"Pa! Papa di mana? Vina ingin bertemu dengan papa... Pa! Kaluarlah."
"Papa di mana? Padahal Vina mau bicara jika Vina diterima magang, pa!!" lanjut Vina semakin khawatir, dia mencari di setiap ruangan kamar papanya itu.
Di setiap sudut ruangan di rumahnya tidak ada siapapun, Vina membuka lemari papanya. Seketika tubuhnya lemas, tersungkur ke lantai dengan tangan memegang pintu lemarinya, "Pa.. Kenapa papa pergi meninggalkan Vina sendiri? Kenapa pa?" Vina menundukkan kepalanya dengan ke dua telapak tangan menempel di lantai, menahan tubuhnya.
"Vina sudah janji akan menjadi anak yang baik. Tapi kenapa Papa pergi meninggalkan Vina.. Vina tinggal dengan siapa, pa? Vina hanya punya papa... " Gadis kecil itu mulai menangis tersedu-sedu.
Hiks.. Hikss.
"Pa!! ..." ucap Vina lirih, tubuhnya semakin lemas seakan lunglai tanpa tulang, ia terjatuh terbaring di lantai, dengan ke adaan tak sadarkan diri.
------------
Vina yang baru tersadar, ia memutar matanya dengan pandangan mata sedikit menyipit melihat kamar yang begitu luas , bernuansa serba putih dan hiasan berwarna emas, dan renda putih melingkar di ranjangnya, kamarnya sangat megah, bahkan lebih besar dari kamarnya.
"Aku di mana?" ucap Vina, menarik tubuhnya, bersandar di kepala ranjang dengan ukiran klasik yang sangat unik.
"Kamu sudah sadar?" ucap lembut seorang wanita membuat Vina mengerutkan keningnya.
"Apa aku di surga? Kenapa ada suara yang mirip dengan mamaku;" gumamnya. Tanpa menatap ke samping.
"Vina!! Kamu sudah sadar?" tanya wanita itu, duduk sembari tangan kanan memegang lengan Vina, membuat Vina tersadar dari lamunannya.
Vina menoleh, seketika mengerutkan dahinya semakin ke dalam, "Eh... Kamu siapa?" tanya Vina, mengernyit tak kenal. "Bukanya aku tadi sudah di surga?" lanjutnya, menarik bibirnya sinis.
"Haha.." wanita itu tertawa. "Apa yang kamu katakan?" lanjutnya.
"Kita sekarang ada di rumah suami aku. Jadi jangan kira kamu sudah meninggal!!" ucap Wanita cantik dengan balutan gaun putih selutut miliknya.
Dia sangat cantik, wajahnya begitu bersih. Sangat beruntung laki-laki yang mendapatkan bidadari seperti dia.
"Kamu sangat cantik, seperti peri surga!!" ucap Vina, dia mencoba menyentuh wajah wanita di depannya dengan samar-samar penuh keraguan.
"Istri siapa?" tanya Vina lirih. Wajahnya mengernyit.
Apa papa menikah lagi? Tapi kenapa dia tidak bilang?
"Apa papa aku menikah lagi? Tapi ini bukan rumahku?" gumam Vina penuh yanda tanya di otaknya, menarik tangannya lagi.
"Dia istri aku, kamu sekarang di rumah aku!!" suara berat serak seorang laki-laki membuat dunia pembicaraan mereka teralih, semua menatap ke sumber suara.
"Om Alex?" ucap Vina terkejut, ke dua alisnya tertaut.
"Jadi om sudah menikah? Dan ini istri om?" tanyanya.
"Iya!! Kami baru menikah." ucap Alex berdiri di samping istrinya, dia mengusap lembut rambut panjang terurai istrinya. Wanita cantik itu mengangkat kepalanya, menatap wajah Alex.
"Oo.."
"Oya, mulai sekarang kamu tinggal di sini, lagian aku tidak mau jika kamu tinggal sendiri di rumah kamu itu!!" ucap istri Alex.
Ternyata Om Alex sudah menikah, aku kira dia masih muda. Hah... Wajah tuanya di balut dengan wajah tampan membuat wajahnya yang tua tak terlihat.
"Vina!" panggil Istri Alex, menepuk lembut bahu Vina.
"Eh.. Iya, tante!" Vina tersenyum ramah. "Oya, nama tante siapa?" lanjutnya.
"Berlina Melinda Carlos" ucap jelas Istri Alex. "Carlos adalah marga keluarga aku,"
"Jadi tante anak dari pendiri perusahaan carlos di bidang perfileman itu?" tanya Vina antusias.
"Iya!! Memangnya kamu mau jadi artis?"
Vina menunduk, menguntupkan bibirnya. "Maunya iya, tante. Tapi sekarang semua sia-sia aku harus menjadi seorang pengusaha juga sana seperti papaku!!" gumamnya lirih.
"Oo.. Ya sudah!!" wanita itu mengusap lembut rambut Vina seperti anaknya sendiri. Meski umur dia hanya berjarak beberapa tahun darinya
"Oya, kamu jadi tinggal di sini?" tanya Berlina.
Vina hanya diam, menimang-nimang penawaran yang Berlina dan Alex. Sebelum membuat keputusan.
"Kamu gak mau tinggal di sini?" tanya istri Alex. Menyentuh pundak kiri Vina.
"Tapi.. Aku gak mau tinggal di sini tante. Takutnya merepotkan kalian. Lebih baik aku cari ayah aku!!" ucap Vina beranjak berdiri, mencoba melangkahkan kakinya pergi. Dengan sigap Alex menghalangi jalan Vina, dia berdiri di depannya. Dia mencoba meraih lengan tangan Vina.
"Ikut aku sekarang!! Ada yang ingin aku katakan padamu," ucap Alex.
Hembusan napas Vina tak bisa terkontrol saat melihat ke dua mata om Alex mampu membiusnya.
Sial perasaan apa ini.. Aku gak mau jadi yang ke dua. Jangan sampai aku suka dengannya. Gumam Vina menggelengkan-gelengkan kepalanya.
Vina berjalan mencari di mana Alex berada, langkahnya terhenti pandangannya tertuju pada om Alex yang duduk sendiri di ruang keluarga.
"Ini dari papa kamu," kata Alex tanpa menatap ke belakang, seakan dia sudah sadar jika Vina datang mendekatinya, dia mengulurkan secarik kertas untuk Vina.
"Mulai sekarang kamu tinggal di sini," lanjutnya.
Ke dua tangan Vina gemetar seketika, tubuhnya terasa kaku setiap dia menggerakkan tangannya membuka secarik kertas yang membuat jantungnya berdegup sangat kencang, perasaan cemas mulai menyelimuti hatinya.
"Lihatlah surat Ini," Alex memberikan secarik kertas pada Vina, tanpa menoleh ke arahnya.
"Apa ini, om?" tanya.
"Baca saja!"
Vina menghela napasnya, dengan ke dua tangan yang masih bergetar, dia membuka secarik kertas itu.
Vina maafkan papa, papa harus pergi meninggalkan kamu. Papa tersandung masalah korupsi Negara. Ada orang yang fitnah papa. Dan sekarang papa ingin pergi menyelesaikan masalah ini secepatnya. Dan aku harap kamu mengerti papa, sekarang aku titipkan kamu pada om Alex, dia yang akan menjaga kamu. Kamu ikutlah kemana dia pergi, aku percayakan kamu padanya.
Papa sayang kamu.
Tunuh Vina lemas seketika, ke dua kakinya gemetar, dengan bibir ikut gemetar ketakutan. Wajah cantiknya terlihat pucat pasi.
"Om... Apa ini mimpi," tanya Vina dengan wajah kosong.
Alex yang sadar jika Vina ketakutan, dia beranjak berdiri memeluk tubuh Vina sangat erat. Mengusap punggung dan kepala belakangnya.
"Kamu tinggalah sama om, dan tante."
Vina merembak, sesegukan.
Deg!
Jantungnya berdetak saat sentuhan lembut jemari tangan laki-laki itu menyentuh kepalanya, baru kali ini Vina merasakan kembali rasa nyaman berada di pelukannya.
Jantungnya seketika tersentuh, dia mengusap ke dua air matanya dengan punggung tangannya. "Tapi om kenapa begitu baik denganku?" ucapnya, membalas pelukan hangat laki-laki itu.
Alex melepaskan pelukannya, memegang ke dua bahu Vina, lalu mengeluarkan sapu tangan di saku celananya.
"Usap air mata, mu. Setelah itu baru bertanya lagi," wajahnya kembali datar, selesai memberikan sapu tangan dia kembali duduk di sofa dengan kaki kanan di tekut di atas kaki kirinya.
Vina hanya diam menatap sapu tangan itu, dia mencium harum parfum wanginya menyeruak masuk dalam penciumannya, terasa sangat jelas di sapu tangan Alex.
Entah kenapa aku merasa nyaman berada di sampingnya? Siapa dia?
Setelah kejadian kemarin, Vina merasa sudah lega berada dalam dekapan ketenangan tubuh Alex, di saat itu entah dari mana datang pikiran untuk menjadikan dia sebagai kakaknya. Kakak yang selalu ada buat dia dan melindungi dia. Apalagi bagi gadis manja seperti dia yang membutuhkan seorang kaka yang selalu ada buat dia.
------
Sampai di sebuah kantor megah dengan dua gedung yant berjejeran menjulang tinggi, sebuah mobil mewah berwarna hitam lekat, itu berhenti tepat di depan pintu kantor. Semua pegawai sudah siap menyambut kedatangan bosnya dengan raut wajah senang dan penuh senyum terukir di bibir para pegawainya.
Dengan segera sopir membukakan pintu untuk tuanya. "Biar aku saja yang buka pintu, Vina!" bisik Alex menepuk pundak sopirnya, yang baru saja membuka pintu itu.
Semua menyambutnya dengan sebuah senyuman manis, tidak sedikit yang berdesas-desus di belakangnya. Melihat ada seseorang lagi di samping tuanya duduk.
dan tak kalah membuat semua orang tercengang seketika. Saat Alex sendiri yang membukakan pintu dan mempersilahkan Vina wanita yang baru bekerja sebagai anak magang di kantornya dengan sangat spesial. Bahkan seperti sorang putri raja yang baru turun dari keretanya.
"Apa yang ingin kamu katakan, baby?" tanya Alex, menyentuh dagu Vina, wanita itu seketika gugup, dia berjalan ke belakang hingga terpojok di pinggiran mobil.
Ke dua matanya menjelajahi setiap orang di sekelilingnya yang menatapnya tak suka. "Jangan gugup di apa yang aku lakukan, anggap saja aku kakak kamu," ucap Alex mendekatkan wajahnya dengan tangan kiri menyandarkan di atas mobilnya. Ke dua mata mereka saling bertemu, tubuh Vina yak hentinya semakin bergetar hebat.
"Lagian kita juga akan terus seperti ini nantinya."
Hah! Kenapa om jadi seperti ini. Padahal aku hanya ingin bisa tebang kerja di sini.
"Ma--maaf!! Jangan sentuh aku;" ucap Vina
Alex tersenyum simpul, dia menarik bibirnya tipis. Mendekatkan tubuhnya dan berbisik. "Kenapa aku tidak boleh menyentuh kamu , padahal aku aku hanya ingin melihat wajah kamu dari dekat. Aku jangan perduli dengan apa yang di Katakan orang lain." bisiknya Jemari tangannya menyilakan helaian rambut tipis yang menutupi dahinya ke belakang telinga.
Deg!
Oh.. Tuhan. Semoga saja orang ini bisa sadar jika dia punya wanita. Apalagi dia sudah punya istri.
"Apa itu istri barunya?"
"Mungkin?"
"Tapi gak mungkin,"
Suara desas desus itu terdengar jelas di telinga Vina, membuat wanita itu mengerjapkan matanya sekilas, lalu mendorong tubuh Alex pelan menjauh darinya.
"Maaf!!" ucapnya sembari menundukkan kepalanya takut.
"Kenapa kamu harus minta maaf?" tanyanya.
"Tolong jangan dekati aku, Om .. Emm Maaf.. Maksud aku tuan Alex sudah punya istri. Takutnya nanti banyak gosip bertebaran tentang kita," jelas Vina menundukkan kepalanya, dia keramas ke dua jari-jari tangannya yang sudah mulai basah.
"Baiklah!! Aku harap kamu di sini lebih profesional nanti. Karena papa kamu telah menitipkan kamu. Maka dari itu aku tidak mau kamu sedikit manja nanti," jelas Alex.
"Di kantor aku adalah bos kamu, di rumah kamu bisa menganggap aku kakak atau om, terserah kamu." lanjutnya tersenyum datar.
Vina hanya mengangguk mengerti, tanpa menatap ke dua mata Alex secara langsung.
"Baiklah!! Ayo cepat masuk, banyak tugas yang akan kamu mulai nantinya, "
"Siap tuan Alex;" jawabnya antusias.
Alex berjalan lebih dulu masuk ke dalam kantor, dan di ikuti Vina yang berjalan di sampingnya.
Vina berjalan beriringan dengan Alex, langkah hentakan kaki mereka selaras. Baru pertama kali masuk dalam perusahaan milik Alex, terdengar desas-desus di balik ujung pojokan ruangan pegawai. Vina hanya diam menunduk berjalan di sampingnya, wajah yang terlihat begitu cemas, dan takut itu mulai memucat.
"Eh.. Itu karyawan baru, ya."
"Iya bukanya tadi dia yang menggoda boss kita,"
"Iya, katanya dia tinggal di rumah tuan Alex," sambung yang lainya tak kalah heboh.
"Jangan-jangan nanti jadi pelakor,"
"Hussstt... Dia masih kecil. Gak mungkin begitu."
"Kalau pelakor gak memandang kecil atau besarnya, tua atau muda. Lagian dia cantik, pasti dia dekati tuan Alex karena uang,"
"Bentar!! Memangnya tuan Alex sudah menikah?"
"Entah!! Dari gosipnya katanya dia sudah menikah, tapi tidak ada yang tahu tentang hal itu,"
Vina menuduk, telinganya terasa sangat geram mendengar itu semua. Dia menarik napasnya dalam-dalam, menehannya, lalu mengeluarkan secara perlahan. Vina mencoba untuk tetap sabar menghadapi ucapan gosip bibir lebih dari mereka.
"Ini ruang kerja kamu, kamu harus bisa menyesuaikan dengan keadaan kantor di sini!!" ucap Alex, setelah mengantar Vina di raungannya, dia pergi tanpa sepatah kata lagi keluar darinya.
Hufftt Dia begitu aneh.. Kenapa kemarin baik, kalau di kantor wajahnya terlihat sangat datar. Vina terus bergumam dalam hatinya.
Dia tersenyum dan mulai duduk, si sebuah kursi pertama kali dia bisa merasakan kerja di kantor. Meski bukan milik papanya, tapi setidaknya dia merasa tenang di tempat kerja papanya.
Papa aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Dengan ini kelak nanti aku bisa membantu perusahaan papa aku. Vina bergumam dalam hatinya.
-------
Berjajam-jam dia duduk, bahkan kepalanya tak hentinya terus menoleh ke arah jarum jam di pergelangan tangannya, masih sama menunjukan pukul 11 siang. Satu jam lagi adalah jam istirahat. Vina yang sudah sangat lapar sudah tak sabar menunggu jam istirahat itu.
Vina menguntupkan bibirnya, dengan wajah mengernyit, dia meletakkan kepalanya di meja, dengan ke dua tangan di lipat di atas meja, untuk menjadi tumpuan kepalanya. "Ahh... Kenapa belum juga istirahat. Aku capek!!" ucapnya, sembari menghentakan kakinya kesal.
"Oh.. Tuhan... Aku sangat lapa,"Desahnya menghela napasnya kasar.
"Vina kamu ke ruanganku sekarang," suara serak, berat khas laki-laki membangunkan Vina dari lamunannya. Dia sotak terkejut
"Iya, pak!!" pungkas Vina menunduk.
Alex memegang duduk di mejanya, tanganya meraih dagu Vina mengangkatnya menatap tepat ke arahnya. "Jika bicara denganku jangan menunduk, mengerti!!" pekik Alex lirih, mendekatkan wajahnya, hembusan napas mereka saling berpacu, dengan ke dua mata saling bertemu dalam diam.
Vina memutar ke dua matanya melihat sekelilingnya, banyak pegawai lain yang memelototi tajam dirinya. Melihat kejadian itu bukanya semua pegawai diam, tapi mereka tidak terima boss sekaligus tuan tampannya itu di dekati wanita lain. Apalagi jika bossnya di kabarkan sudah menikah.
"Maaf om, jangan menyentuhku. Banyak orang yang melihat kita di sini," Vina menepis tangan Alex dan kembali fokus menatap komputernya. Memalingkan pandangan matanya dari wajah Alex.
"Baiklah! Sekarang ke ruanganku!!" Alex bangkit dari duduknya, dia merapikan jasnya dan melangkahkan kakinya pergi.
Vina sontak menghela napasnya lega, melihat kaki jenjang itu perlahan sudah berjalan menjauh darinya.
"Eh.. Vina, tadi boss ngomong apa sama kamu?" tanya teman kerjanya.
Dia Sisil, teman kerjanya satu tepat di samping dia duduk. "Gak bisara apapun, hanya saja dia menyuruhku untuk mengerjakan semua ini," Vina menunjukan tumpukan berkas di mejanya. Padahal dari tadi pagi tumpukan berkas itu sepertinya memang sengaja sudah di letakkan di mejanya. Agar dia sangat sibuk tak bisa berkutik dari mejanya.
"Oya, kamu gak usah dengar tentang ucapan orang-orang di luaran itu."
Vina hanya tersenyum, sembari menganggukkan kapalnya kecil. "Pasti!!" jawab Vina singkat.
"Oya, cepat pergi. Nanti boss Alex marah," Sisil menepuk bahu Vina.
"Sebenarnya dia kalau di kantor panggilannya apa, tuan atau Boss?"
"Dia di panggil apa saja, asalkan jangan panggil dia kakak," goda Sisil, di sambut dengan tawa kecil dari mulut Vina.
"Ya, sudah aku pergi dulu. Aku titip berkas ini ya. Nanti aku kabari lagi!!"
"Baiklah!! Tapi jangan goda dia," Sisil mencubit lengan Vina.
"Kenapa kamu mencubitku?" tanya Vina kesal.
"Lihatlah tatapan tajam mereka?" jawab Sisil.
Vina memutar matanya sekilas, melihat mereka yang sudah siap menerkamnya. Seketika dia langsung menunduk lagi. "Cepat pergi sana, sebelum mereka memakan kamu nanti," bisik Sisil.
"Em.. Oke, oke baiklah!!" Vina memelankan suaranya, dan segera berlari kecil pergi ke ruangan Alex yang tak jauh dari tempat dia. Bahkan ruangan Alex berada tepat di depannya, dan hanya terhalang sebuah tembok kaca yang bisa menembus langsung menatap ke arahnya.