Bab 2

Suara ketukan di pintu depan terdengar pelan namun pasti.

Citra yang baru saja selesai membereskan meja makan menoleh cepat. Jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam. Siapa yang datang malam-malam begini?

Ia mengusap tangannya dengan lap, lalu berjalan ke pintu. Ketika membukanya, dunia seolah berhenti berputar.

"Maya?" bisiknya, nyaris tak percaya.

Wanita di hadapannya berdiri angkuh dengan rambut panjang yang tertata sempurna dan gaun hitam selutut. Bibir merahnya melengkung membentuk senyum tipis yang asing. Mata itu-mata yang dulunya penuh semangat dan keceriaan-kini tajam seperti belati.

"Hai, Adikku sayang." Maya melangkah masuk tanpa diundang. "Kamu terlihat... dewasa."

Citra mundur pelan. Hatinya berdebar. "Kamu... ke mana saja selama ini?"

"Ke tempat yang jauh dari tekanan keluarga, dari lelaki cacat yang dipaksa menikah denganku, dan dari rumah penuh sandiwara ini," jawab Maya enteng.

Citra mengepal tangannya. Sakit hati mendengar kata "cacat" yang dilontarkan Maya tanpa rasa bersalah.

"Aku mencintai Bagas," katanya lirih. "Kamu tidak bisa datang dan merusak semuanya."

Maya terkekeh. "Cinta? Jangan bercanda, Citra. Kamu itu hanya boneka. Dipaksa menikah karena Ayah takut kehilangan harta. Tapi sekarang aku kembali. Dan aku akan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku."

Sebelum Citra sempat menjawab, langkah kaki berat terdengar dari arah lorong. Bagas muncul, bertongkat seperti biasa. Wajahnya kaku, dingin, namun matanya melebar saat melihat siapa yang berdiri di ruang tamunya.

"...Maya?" ucapnya pelan.

Maya menoleh dengan senyum yang dibuat-buat. "Lama tak bertemu, Bagas."

Bagas menatap Citra, lalu kembali ke Maya. Tak satu kata pun keluar dari mulutnya. Namun dalam diamnya, ada badai yang mulai terbentuk.

Makan Malam Penuh Ketegangan

Malam itu, entah bagaimana, Maya tetap tinggal. Citra memaksa dirinya tetap tenang, memasak makan malam untuk tiga orang. Ruang makan yang biasanya menjadi tempat nyaman berubah menjadi arena ketegangan.

"Aku dengar kamu sudah sukses sekarang," kata Maya sambil menyuap daging ke mulutnya.

Bagas mengangguk singkat. "Usaha restoranku cukup stabil."

"Oh, bagus," jawab Maya santai. "Kita bisa bekerja sama, kamu tahu? Aku punya koneksi di Singapura. Bisa bantu ekspansi internasional."

Citra menatap Maya tajam. "Kita?"

Maya menoleh. "Tentu. Aku kan calon istri Bagas."

Sendok di tangan Citra jatuh, membentur piring. Ia memandang Bagas, mengharapkan sanggahan. Namun Bagas hanya menatap makanannya.

Citra berdiri. "Maaf, aku tidak lapar."

Ia meninggalkan meja, berjalan cepat menuju kamar. Di balik pintu, ia menangis diam-diam.

Desakan Ayah

Keesokan harinya, telepon berdering. Citra melihat nama Ayah di layar dan menarik napas panjang sebelum mengangkatnya.

"Citra, bagaimana keadaan Maya? Sudah bertemu, kan?"

"Iya, dia datang tadi malam."

"Bagus. Sekarang waktunya kamu mundur. Ini bukan lagi soal cinta atau perasaan. Ini bisnis."

"Ayah... aku istri sah Bagas. Kami sudah menikah empat tahun. Aku mencintainya."

"Dan kamu pikir cinta bisa membayar utang-utang kita? Maya bisa membuka jalan ke investor internasional. Keluarga Wirawan lebih suka Maya. Kamu hanya pengganti sementara."

Citra menahan isak. "Aku bukan barang. Aku tidak bisa dibuang begitu saja."

"Tapi kamu akan melakukannya. Karena kamu anakku."

Klik. Telepon ditutup. Citra terdiam. Tangannya gemetar, namun matanya mulai dipenuhi tekad.

Permintaan Bagas

Malam ketiga setelah Maya datang, Bagas mengetuk pintu kamar Citra.

"Boleh bicara?"

Citra membalikkan tubuh dari jendela. "Tentu."

Bagas duduk di tepi ranjang. Suaranya pelan namun pasti. "Aku akan menikahi Maya. Tapi aku ingin tetap bertanggung jawab atas hidupmu."

Citra menatapnya dengan tatapan kosong. "Kamu akan menceraikanku?"

"Jika kamu mengizinkan," kata Bagas, menunduk. "Aku tahu ini tidak adil. Tapi aku... aku punya alasan."

Citra menggigit bibirnya. "Aku tidak mau jadi beban. Tapi aku bukan boneka, Bagas."

"Bukan." Bagas mengangkat kepalanya. "Kamu perempuan paling kuat yang pernah aku kenal."

Citra menghela napas. "Lakukan apa yang kamu mau. Tapi aku tidak akan menunggu."

Kejutan di Balik Diam

Tiga hari kemudian, Citra diam-diam meninggalkan rumah. Ia membawa dua koper, satu tas jinjing, dan satu niat: memulai hidup baru.

Yang tidak diketahui siapa pun, sebelum pergi, ia sudah mengajukan permohonan cerai dan mencairkan sebagian saham milik bersama mereka di restoran.

Ia tidak mengambil semuanya-hanya bagiannya.

Dan ia juga telah menyimpan dokumen: bukti surat kabur Maya, kontrak pernikahan yang diajukan tergesa-gesa, dan rekaman suara ayahnya yang memaksa. Semua ia simpan rapi. Jika mereka berniat mempermainkannya, ia siap menyerang balik.

Lima Bulan Kemudian

Citra kini tinggal di sebuah kota kecil di tepi pantai. Ia membuka toko bunga sederhana, bernama "Matahari Pagi".

Ia tersenyum setiap kali menyusun bunga mawar atau lili. Pelanggannya menyukai ketelatenan dan ketulusannya.

Namun di balik senyum itu, Citra menyimpan luka.

Setiap malam, ia masih memikirkan Bagas.

Satu hari, seorang pria paruh baya datang ke tokonya. Wajahnya asing, tapi sikapnya ramah.

"Bu Citra?" tanyanya.

"Ya, saya sendiri."

"Saya dari firma hukum Wirawan. Ada sesuatu yang perlu kami sampaikan."

Surat dari Masa Lalu

Citra duduk terpaku di meja. Pria itu menyerahkan sepucuk surat, tertulis tangan, dengan cap keluarga Wirawan.

Citra,

Aku tidak tahu apakah ini akan sampai padamu, tapi aku harap kamu membacanya.

Aku tahu aku pengecut. Aku membiarkanmu pergi, karena kupikir aku melakukan hal benar. Tapi ternyata, aku kehilangan segalanya.

Maya hanya datang untuk warisan. Setelah mendapatkan separuh saham restoran, dia pergi lagi. Kali ini bersama pria kaya lain.

Ayahmu terkena stroke. Aku juga kehilangan sebagian kepercayaan publik. Tapi semua itu bukan apa-apa dibanding kehilanganmu.

Jika kamu bersedia, aku ingin memulai dari awal. Tapi jika tidak, setidaknya kamu tahu bahwa aku mencintaimu. Bukan Maya. Bukan siapa pun. Hanya kamu.

-Bagas

Tangis Citra pecah di sana.

Akhir atau Awal?

Hari berikutnya, ia berdiri di tepi pantai. Angin menerpa rambutnya. Di tangannya, surat itu masih tergenggam.

Ia bisa saja membuangnya. Melupakan semuanya. Tapi hatinya... belum selesai.

Perlahan, ia membuka ponselnya. Jemarinya menekan sebuah nomor yang sudah lama tidak ia hubungi.

"Bagas?"

Suara di seberang sana langsung menjawab, pelan tapi penuh harap. "Citra..."

Bab 3

Suara ombak di pantai kecil itu menjadi satu-satunya irama yang menemani detik demi detik hening di antara mereka. Citra masih berdiri dengan ponsel menempel di telinganya. Pipinya basah oleh air mata, dan angin laut mengibarkan ujung kerudungnya yang sudah kusut.

"Citra..." suara Bagas terdengar berat di ujung telepon. "Kamu di mana sekarang?"

Citra menggigit bibirnya. Ia ingin mematikan telepon. Ingin menghapus nomor itu lagi seperti ratusan kali sebelumnya. Tapi kali ini, ia tak bisa.

"Di kota kecil di pesisir selatan," jawabnya akhirnya, suara parau. "Aku buka toko bunga di sini."

Sejenak hening.

"Aku bisa ke sana?"

Citra terdiam lama sebelum menjawab pelan, "Aku tak tahu apakah itu ide yang bagus."

"Aku tidak akan memaksa. Tapi aku akan tetap datang."

Klik. Sambungan terputus.

Citra memandang layar kosong ponsel. Suara Bagas masih bergema di telinganya. Setelah sekian lama, nada itu tidak terdengar dingin. Tidak datar. Tapi penuh rasa bersalah dan... rindu?

Kedatangan yang Mengguncang

Dua hari kemudian, hujan turun deras membasahi atap toko bunga Citra. Ia sedang merangkai bunga anggrek putih ketika pintu terbuka dan lonceng kecil di atasnya berbunyi.

Seorang pria bertubuh tinggi berdiri di ambang pintu, mantel panjangnya basah, dan tongkat di tangan kanannya menjejak lantai kayu dengan suara berat.

Citra menghentikan gerakannya.

"Bagas..." ucapnya nyaris tak terdengar.

Pria itu hanya berdiri, memandangi wajah Citra. Sorot matanya begitu asing namun begitu familiar. Ada luka di sana, sama dalamnya seperti yang dimiliki Citra.

"Aku datang bukan untuk memaksamu kembali," katanya akhirnya. "Aku hanya ingin bertemu."

Citra memaksakan senyum. "Kamu basah kuyup. Duduklah sebentar."

Ia mengajaknya masuk ke ruang kecil di belakang toko. Disana, Citra menyeduhkan teh hangat dan menyodorkannya tanpa bicara.

Bagas meminumnya perlahan. Mereka duduk berhadapan, namun tidak saling menatap.

"Setelah kamu pergi, semuanya berubah," ujar Bagas pelan. "Restoran menurun, Maya menjual sahamnya diam-diam, dan Ayahmu..."

"Sudah kubilang sejak awal, Maya bukan wanita yang bisa dipercaya," potong Citra tajam.

Bagas mengangguk, menerima. "Dan aku terlalu bodoh untuk menyadarinya. Aku pikir aku berutang sesuatu padanya. Tapi ternyata aku... kehilangan segalanya."

"Kamu tidak kehilangan apapun," Citra bangkit. "Kamu hanya kembali ke titik awal. Dan aku... bukan bagian dari titik itu lagi."

Bagas menunduk. "Apa kamu bahagia di sini?"

Citra menatapnya lama, sebelum menjawab, "Tenang. Tapi bukan berarti sembuh."

Luka yang Tidak Sembuh

Bagas tidak langsung pergi hari itu. Ia menyewa kamar kecil di penginapan dekat pantai, dan selama tiga hari berturut-turut ia datang ke toko bunga hanya untuk duduk diam dan melihat Citra bekerja.

Warga kota kecil itu mulai berbisik. "Itu siapa?" tanya seorang pelanggan tua. "Suamimu?"

Citra hanya tersenyum. "Bukan. Mantan."

Hari keempat, Citra tak tahan lagi. Ia menghampiri Bagas saat toko mulai sepi.

"Kamu tidak bisa terus begini," katanya tegas.

"Aku tidak bisa pergi tanpa tahu kamu benar-benar baik-baik saja."

"Dan kamu pikir kamu bisa menebus semuanya hanya dengan duduk diam di toko bungaku?"

Bagas menatap Citra dalam-dalam. "Tidak. Tapi aku bisa mulai dari situ."

Citra terdiam.

"Kamu tidak harus mencintaiku lagi," lanjut Bagas. "Tapi izinkan aku mencintaimu, walau dari jauh."

Kilas Balik Cinta yang Hilang

Malam itu, Citra duduk di jendela kamar kosnya, memandangi lampu pelabuhan dari kejauhan. Ingatannya melayang ke malam-malam pertama pernikahan mereka.

Bagas yang dingin, kaku, selalu menjaga jarak. Tapi ia tidak pernah menyakitinya. Ia sopan. Bertanggung jawab.

Dan lama-kelamaan, dingin itu mencair. Ada teh hangat di pagi hari, selimut tambahan di malam hari, dan sesekali pijatan ringan di kaki Bagas saat nyerinya kambuh.

Cinta itu tumbuh diam-diam. Perlahan. Tapi nyata.

Hingga Maya kembali, dan semuanya runtuh.

Citra memejamkan mata, menahan tangis.

Konfrontasi

Pagi hari, saat membuka toko, Citra dikejutkan oleh suara keras.

"Aku tahu kamu di sini!" suara itu-tajam dan penuh emosi.

Maya berdiri di depan toko, mengenakan pakaian mewah dan kaca mata hitam. Di belakangnya, mobil sport berhenti dengan sopir menunggu.

Citra menahan napas. "Maya?"

"Kamu pikir kamu bisa sembunyi di kota kecil ini? Aku tahu kamu mengambil sebagian saham itu!"

"Aku hanya mengambil bagianku."

Maya mendekat, wajahnya penuh amarah. "Kamu pikir kamu bisa menang? Bagas kembali padamu? Dia bukan milikmu! Dia milikku!"

"Kalau begitu kenapa kamu tinggalkan dia lagi?" serang Citra.

Maya menamparnya.

Bagas yang tiba-tiba muncul dari balik gang langsung berlari memisahkan mereka. "Cukup!" teriaknya.

Maya menatap Bagas, tangisnya meledak. "Aku mencintaimu, Bagas!"

Bagas menatap Maya dengan mata kosong. "Tidak. Kamu mencintai uangku. Kekuatanku. Kamu tak pernah mencintaiku."

Ia menggandeng tangan Citra dan membawanya masuk ke toko.

"Jangan pernah datang lagi," katanya dingin pada Maya.

Dan untuk pertama kalinya, Maya tak bisa membalas. Ia hanya berdiri, lalu pergi.

Menata Ulang

Hari-hari berikutnya, Citra dan Bagas mulai berbicara. Tentang masa lalu. Tentang rasa sakit. Tentang kesalahan.

"Mungkin aku terlalu banyak diam," kata Bagas suatu malam.

"Mungkin aku terlalu banyak berharap," balas Citra.

Mereka tertawa, kecil, getir.

Bagas membantu Citra merapikan toko, membangun ulang ruang belakang menjadi ruang konsultasi bunga untuk acara pernikahan dan pemakaman.

"Kita pasangan yang aneh," ujar Citra suatu siang sambil menyiram bunga.

"Tidak. Kita pasangan yang nyata," balas Bagas.

Pilihan

Satu sore, Bagas membawa Citra ke tepi pantai.

"Aku tidak tahu apakah kamu bisa memaafkanku," katanya sambil menatap matahari terbenam. "Tapi aku ingin menebus semuanya. Bukan dengan janji kosong. Tapi dengan tindakan."

Citra terdiam.

"Aku ingin menikah lagi," lanjut Bagas. "Tapi kali ini... karena cinta. Karena kamu."

Citra menatap wajah pria itu. Masih ada luka. Tapi juga ada harapan.

"Jika kamu mau... kita bisa mulai dari awal."

Citra tersenyum, mata berkaca-kaca.

"Bagas, kita tak bisa menghapus masa lalu. Tapi mungkin... kita bisa menulis bab baru."

Dan saat ombak menyapu kaki mereka, dua hati yang terluka saling menemukan kembali jalannya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED