Genap sudah dua minggu tanpa ibu dan benar apa kata paman dalam dua minggu aku mencoba melupakanya sejenak meski terkadang menangis sendiri jika mengingatnya bagaimanapun aku masihlah anak-anak yang menginginkan sosok ibu, namun aku juga harus menghargai usaha paman Rio menghiburku, melupakan pekerjaanya yang bertumpuk-tumpuk dan mengajak kemanapun yang ku mau tentu hanya berdua kami bercanda mengamati setiap orang-orang yang lengkap keluarganya.
"jika kau mau ibu pengganti yang sesungguhnya paman bisa mencarikanya untukmu"paman merubah panggilanya sejak dua hari yang lalu mungkin terbiasa dengan panggilanku, paman bukan ayah atau daddy atau apapun itu.
"tidak perlu, paman saja cukup menjadi ibu penggantiku"aku menikmati es krim ditangan setelah puas kesana kemari hanya membeli satu mainan murah, aku tak bohong itu murah bahkan paman menyuruhku mencari mainan yang lebih berkelas namun aku menolak bukan karna tak enak namun aku lebih menyukai yang sederhana.
"apa yang kurang dari diriku sebagai ibumu, apakah aku harus ganti kelamin juga?"aku tertawa sambil memandang satu anak kecil yang sendirian membawa boneka merah tedy bear, berkuncir dua tengah lewat didepanku senyumnya merekah membuatku terpesona beberapa saat hingga paman berbicara dan membuatku kembali fokus.
"paman cukup menjadi seorang teman bermainku saja itu lebih dari cukup"
"bagaimana jika paman mencari pasangan?, apa kau merestuinya?"
"tidak"
"mengapa?"paman menoleh menatapku penuh tanda tanya,
"karna aku hanya punya paman saat ini aku tak mau berbagi apalagi ibu tiri dia pasti kejam"
"Ha.. Ha..darimana kau mengetahui itu?"
"temanku paman, namanya Amelia dia sangat senang memiliki ibu baru saat telah resmi bersama ia diperlakukan tidak baik dan pada akhirnya sekarang ia harus tinggal dipanti asuhan karna ibu tiri itu"
"sungguh malang Amelia"
"dia sangat cantik paman, aku menyukainya"
"Ha.. Ha.. Kau masih anak-anak boy, bukan masamu tentang percintaan, kau harus belajar menjadi pria yang bisa melindungi ibumu"
"mungkin ibu saja yang tak ingin kulindungi"aku dan paman sepakat terdiam dalam sunyi entah angin apa yang membuat kamu tiba-tiba kembali teringat sosok ibu Elena aku jadi merindukanya saat ini,
"kau ingin es krim lagi Zain?"paman mencoba mencairkan lagi suasana yang keruh itu, membuatku senang entah karna apa
"tak perlu paman, aku ingin cepat-cepat pulang aku berjanji membawakan nasi padang ini untuk Miza(pembantu tertua), secepatnya"
"baiklah boy"paman berdiri membawakan mainanku yang lumayan besar, ia sama sekali tak malu membawa bungkusan makanan dan mainan yang lumayan besar berplastik hitam itu, bisa saja merusak citranya yang seorang Ceo ternama berbalut jas kerja mewah mengkilap itu, tak bohong beberapa kali paman digoda namun ia tidak tergoda.
"paman besok aku ingin ketaman bunga yang penuh bunga lili, tempat kegemaran Amelia"saat hendak berdiri tiba-tiba seseorang datang menghampiri kami, wanita itu sangat kukenal namun sepertinya ia lupa padaku, ia menangis seperti kehilangan uang milyaran rupiah, celingak-celinguk seperti mencari seseorang hingga pandanganya sangat fokus pada paman, beberapa kali ia mengatur nafasnya hingga benar-benar siap berbicara
"Tuan, apa kau tau dimana gadis kecil yang berkuncir dua?, membawa boneka tedy bear merah?"oke disini aku merasa tidak dianggap atau memang diriku yang terlalu kecil?.
"sepertinya tidak nyonya, memang kenapa?"paman sepertinya tak melihat gadis itu tadi karna paman tak kunjung memberi hal yang melegakan aku maju bak pahlawan bertopeng, yang membantu banyak orang
"aku tau nyonya, ia berlari kearah sana"wanita itu menoleh padaku yang ada disamping paman, cepat-cepat berjongkok menyelaraskan tingginya denganku, nampak sangat menyedihkan dengan buliran air mata yang terus jatuh dan hidung merah yang kentara bahkan beberapa detik aku sampai mengira bahwa itu bukan ibu tiri Amelia yang kejam dan dingin.
"nak katakan dimana kau melihat gadis itu?"
"dia berlari kearah sana kau bisa menghubungi pihak bantuan mall nyonya"aku menunjuk arah yang kuingat dengan jariku, benar kearah ekskafator yang sesak orang, kulihat ia berlari kesana beberapa menit lalu Amelia yang malang.
"terimakasih nak"wanita itu sepertinya tak mengenalku, ia berlari secepat kilat mencari anaknya yang hilang, paman mendekatiku ikut memandang punggung ibu tiri Amelia yang menjauh, beberapa saat aku teringat tentang gadis itu
"Amelia!"pekik ku kuat, benar gadis itu Amelia aku baru menyadari dari cara senyumnya meski yah bisa dibilang tempilanya berbeda, ia semakin cantik.secepat kilat aku bicara pada paman sambil menggandeng tangan kekarnya memohon
"paman, itu ibu Amelia ayo bantu dia menemukan Amelia paman"paman Rio menganguk menggendongku dengan santai karna ia tahu mungkin aku tak akan bisa berlari cepat, menggendongku yang hampir berbobot delapan belas kg sambil membawa bungkusan mainan besar paman benar-benar tak kualahan dengan itu, ia berjalan santai dengan kaki panjangnya membuatku berdegus karna tak sabaran
"paman cepat, Amelia bisa-bisa pergi semakin jauh"bukanya semakin mencepatkan langkah paman malah berhenti mematapku sejenak dengan tatapan khasnya membuatku semakin bingung
"aku yakin Amelia tidak akan jauh dari sini, kau lihat wanita itu dia telah menemukan anaknya"aku menoleh kearah tempat yang ditunjukan paman, banyak orang mengerubungi disamping ekskafator, ada ibu yang terseduh-seduh menangis sambil memegangi anaknya yang penuh darah sepertinya ia jatuh
"Amelia!"pekiku semakin yakin bahwa itu Amelia
"antar aku kesana paman!"paman hanya mengganguk sembari berlari kecil kearah ekskafator itu, ia membelah beberapa kerumunan orang yang hanya asik melihat tanpa berniat menolong membuatnya geram dan secepat kilat menaruhku aku terdiam tepat dihadapan ibu tiri Amelia yang masih setia menangis histeris, paman menaruh barang-barang ditanganya ia melepas jas dan menggendong tubuh Amelia ditanganya, ia berlari memecah kerumunan sembari berbicara singkat pada orang-orang
"jika tak berniat menolong lebih baik tak usah melihat, jangan jadi manusia bodoh"paman berlari secepat kilat membawa Amelia keruang kesehatan mal, aku membantu ibu tiri Amelia berdiri, yang sekarang kutahu namanya adalah Zahra baru kuingat sejak beberapa menit yang lalu
"Amelia... Amelia... kasian kau"Zahra hanya menangis sembari mengulang kata-kata itu berulang kali seiring dengan tangisnya yang tak pernah berhenti, aku hanya mengikuti dari belakang sedangkan ia berjalan sendiri didepan sembari menangis beberapa orang pasti mengira ia gila dengan menyebut nama orang sambil menangis belum lagi keadaanya yang acak-acakan.
__
"apa yang tejadi pada Amelia paman?"disudut ruangan yang pengap ini, paman dan aku saling terdiam kentara paman sangat khawatir pada Amelia meski tak mengenalnya namun ia mencoba profesional bersikap baik-baik saja, membuatku yang duduk disebelahnya segera bergerak melakukan sesuatu, mencoba mengajaknya bicara.hanya ada paman yang kulihat setelah sampai disini.
"lukanya sangat parah ia harus dibawah kerumah sakit agar mendapat perawatan yang tepat"aku hanya mangut-mangut paham, kasihan dengan nasib Amelia baru saja kupikirkan ia telah celaka.
"Apa Amelia temanmu?"aku mengganguk sekali lagi, menatap wajah dingin paman yang terlihat sedikit guratan sedih diwajahnya membuatku heran apa yang terjadi padanya
"jaga dia"
"tentu saja paman, itu tugas lelaki"paman mengacungkan jempolnya lalu menatap datar kursi dihadapanya yang kosong, lorong ini benar-benar jarang dikunjungi maka dari itu tempatnya sangat sepi dan mencekam meski ini masih siang hari
"aku punya anak gadis Zain, seumuran denganmu dan cantik seperti Amelia hanya saja karna aku melupakan tugasku sebagai lelaki aku membuatnya pergi kesurga dan tak akan pernah kutemui, anakku pergi istriku pun pergi, aku sendiri."
"paman sekarang punya Zain, bukanya paman yang berjanji tidak akan mengingat tentang ibu lagi?"
"bukan itu maksudku"
"aku tau paman, paman pasti menyesal telah kehilangan anak gadis paman tapi apa hubunganya dengan semua ini?"aku menatap paman Rio yang menghembuskan nafas pelan, apa salah aku berbicara seperti itu? hingga membuatnya semakin sedih.
"Amelia adalah nama anakku sama seperti temanmu, dan dia mengalami nasib yang sama dengan Amelia hanya saja dia pergi secepat itu namun Amelia berhasil selamat sedangkan anakku tidak, itu karna aku tak becus menjaganya"
"rasanya kejadian ini seperti nostalgia bagiku, mengingatkan kembali tentang tragedi itu seolah semua memang harus terjadi seperti ini entah apa maksud tuhan padaku"aku menatap wajah paman iba terlihat sekali ia menahan tangis dimatanya, bingung harus melakukan apa lebih baik mendengar cerita selanjutnya, aku memasang telinga kuat-kuat mencoba memahami perasaan paman lewat cerita yang ia bicarakan.
Flashback
"pergilah sendiri Amelia, jangan jadi anak yang manja apa kau tak lihat Mom dan Daddy masih sibuk memilih belanjaan"Sarah—istri Rio memandang Amelia singkat sebelum kembali bergelayut manja pada lengan kekar suaminya, sedikit risih pada keberadaan anaknya yang tadi merengek ingin beli es krim yang ada dilantai bawah mal, membuatnya memutar bola malas jenuh mendengar rengekan mengesalkan itu harusnya tadi ia tak mengajak Amelia ikut berbelanja kebutuhanya.
"tapi Amelia takut mom, Amelia tak bisa turun ekskafator sendiri"Amelia merengek memberi jeda pada ucapanya lalu berucap lagi dengan nada pelan"Amelia ingin ditemani Dad"
"Anak tidak tahu diri sudah kubilang berapa kali jangan ganggu Dad ketika bersamaku, seharusnya kau dirumah bersama bibi tersayangmu itu, kau hanya merusak pagi spesialku!"Sarah marah membentak dengan lantang bahkan didepan suaminya sendiri beberapa orang yang lewat bahkan menatapnya dengan gemas bagaimana ibu tega melakukam hal itu pada anaknya sendiri, sedangkan Rio disamping bingung harus membela siapa karna sejujurnya ia tak ingin membuat istrinya marah kali ini, namun ia menghela nafas pelan mencoba berbicara baik-baik
"sudahlah aku akan menemani Amelia, kau bisa menunggu sambil memilih baju yang ingin kau beli itu tak akan lama"Sarah hanya melotot tak suka ia bersendekap dada membuang baju-baju ditanganya, sungguh emosi ia kali ini sangat kesal karna sejak Amelia hadir kasih sayang suaminya kini telah turun mulai fokus menemani anak kandungnya itu, ia sangat tak suka kasih sayang Rio dibagi pun itu berlaku pada anaknya, Amelia.
"kau pilih aku atau Amelia?"Rio hanya menghela nafas kasar lagi-lagi ia harus merelakan kejantananya hilang sebagai seorang ayah, Rio berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Amelia anak gadis pertamanya yang sangat cantik dan murah senyum membuatnya tenang walau hanya melihat senyum itu
"Amelia ingin dengan Dad, kali ini saja Amelia mohon hanya beli es krim sebentar"Rio mengelus surai anaknya lalu menyelipkan dibelakang telinga, adegan seperti ayah yang sangat menyayangi putrinya
"bagaimana jika nanti?"Amelia hanya menggeleng pelan lalu merengek lagi dengan nada lebih memilukan
"hanya kali ini saja Dad, kumohon... karna Amelia tau Dad hanya berbohong pada akhirnya Amelia hanya akan pergi dengan Miza"Rio menghela nafas kasar perang batin dengan dirinya sendiri, menatap putrinya lamat ada rasa haus kasih sayang disana membuatnya seketika ingat bahwa ia sama sekali tak becus menjadi ayah ingatan itu membuat hatinya sakit, benci pada dirinya sendiri
"baiklah mari kita borong semua rasa es krim dimal ini"Amelia tertawa mengganguk singkat, tersenyum sangat lebar lalu memeluk Rio dengan sangat erat membisikan sesuatu yang membuat Rio hampir menangis itu, suaranya sungguh merdu tak akan Rio dapat dimanapun ia baru mengingat Amelia sangat memimpikan menjadi penyanyi
"Daddy adalah ayah terbaik didunia ini, Amelia sangat sayang pada Daddy kuharap Daddy pun sama"
"Daddy sangat-sangat mencintai dan menyanyangi Amelia cinta Daddy sebesar bumi dan isinya, sangat besar dan tak terhitung jumlahnya"keduanya saling tertawa singkat, lalu bersiap akan pergi membeli es krim dilantai bawah bahkan melupakan Sarah yang sekarang tengah dikerubungi api kemarahan, nampak mengebu-ngebu bahkan keluar asap seperti yang difilm-film kartun, saat satu langkah Rio akan pergi disitulah Sarah tak bisa memendung kemarahan lagi
"Jangan pergi bodoh!, jangan tinggalkan aku atau aku akan nekat"Sarah memegang cutter ditangan kananya mengarahkan pada denyut nadi ditangan kirinya, menghadang Rio yang akan lewat, baik Rio maupun Amelia sama-sama terkejut Sarah memang nekat namun tidak ditempat umum ini, masih beruntung bahwa toko ini sepi pengunjung
"Sarah!"Rio berseru marah melepas gandengan tanganya dengan Amelia dan memeluk tubuh istrinya erat hingga cutter itu jatuh dan menyisakan tangis bagi Sarah, lagi-lagi ia berhasil menipu suaminya Sarah bisa saja nekat jika itu menyangkut tentang kehidupanya inilah yang membuat Rio lebih banyak menuruti kemauan Sarah daripada memberi sedikit perhatian kecil pada Amelia, Sarah benar-benar cemburu buta pada cinta.
"jangan tinggalkan aku, aku telah sabar menunggu hari cuti ini untuk dinikmati berdua jangan sampai hanya karna ganguan kecil kau lebih memilih pergi"Sarah terisak didada suaminya ia memang paling jago berakting karna sedikit bercampur dengan perasaan membuat semua ini menjadi benar-benar profesional
"aku hanya sebentar menemani Amelia kebawah lalu kembali kesini, apa itu juga membuatmu cemburu, takut kehilanganku?"Rio menjawab dengan sedikit ketus tatapan Amelia yang terjadi beberapa menit lalu membuatnya sedikit berubah, mulai berani mengatakan apa yang harusnya ia katakan rasanya Rio mulai menyadari sesuatu
"sial"pekik Sarah dalam hati
"kumohon hanya kali ini saja besok aku akan memberimu waktu bersama Amelia berdua saja"Rio tersenyum singkat lalu melepas pelukan mereka, menghapus air mata istrinya yang masih deras menetes
"jangan terlalu banyak menangis tak baik untukmu yang sedang mengandung"Sarah menganguk menghapus air matanya sendiri
"maka jangan buat aku menangis"Rio hanya tertawa singkat lalu berjongkok menatap putrinya yang kecewa, sebelum Rio berbicara Amelia lebih dulu menyela sambil mati-matian menahan air matanya jatuh
"Daddy jahat, Amelia benci namun Amelia tak bisa melakukan itu pada Daddy, Amelia sebenarnya ingin sangat sangat ingin bersama dengan Daddy meski itu hanya satu kali dalam waktu yang lama, namun Daddy tak menyayangi Amelia seperti yang Daddy bicarakan, sebesar bumi dan isinya dan tak terhitung jumlahnya semua itu bohong daddy lebih menyayangi Mom daripada Amelia tapi tak apa... Amelia sudah biasa tanpa kehadiran daddy"baik Sarah maupun Rio hanya terdiam mendapat pengakuan dari anak mereka, Rio benar-benar bingung sang ibu sangat egois dan sedang dalam mode sensitif karna hamil sedangkan sang anak terlalu banyak mengalah mereka berdua sama-sama orang yang Rio cintai namun Rio selalu bersikap tak adil pada Amelia, Rio benar-benar bingung harus melakukan apa saat ini
"apa gunanya kau punya kaki Amelia, kau bisa kesana sendiri membeli sendiri es krim yang kau inginkan, jangan jadi anak yang manja yang terus merengek pada sang ayah"Sarah bicara ketus semakin tak punya hati pada anak kandungnya itu
"Amelia akan pergi sendiri Mom bahkan sampai kapanpun Amelia tak akan bisa pergi dengan daddy berdua"Amelia menghapus air matanya dalam sekali suap tangan, ia tak butuh orang lain untuk menghapus air matanya, Amelia berjalan sendiri membawa uang pemberian Rio tadi, ia pegang kuat-kuat sambil berjalan melewati ibunya tanpa tersenyum seperti biasanya, membuat Sarah sedikit merasakan sakit dihatinya.
Flashback off
"dan setelah itu kami bertengkar singkat hanya karna Amelia beberapa menit orang-orang mulai berlarian melihat orang kecelakaan diekskafator hanya karna bocah itu ceroboh menaruh kakinya dipijakan yang salah terpeleset kesamping dan jatuh dari lantai dua, dan detik itu aku berlari dengan cepat menerobos kerumunan yang hanya terdiam tanpa berniat menolong membuatku marah sejadi-jadinya, mengatakan apa saja sambil memeluk erat tubuh Amelia yang penuh darah dan setelah itu Amelia dinyatakan mati ditempat ini dan dokter yang sama menangani Amelia temanmu itu"hanga terdiam seribu bahasa, aku yang masih tujuh tahun ini tak paham apapun tapi melihat wajah paman Rio yang gusar aku hanya mangut-mangut meski tak paham satupun ceritanya.
"Ha.. Ha.. Maafkan aku telah bercerita hal yang seharusnya tak kau dengar Zain"
"lalu apa yang terjadi setelah itu paman?"
"kau tau Sarah sangatlah egois dan aku baru menyadari akhir-akhir ini aku menyalahkan kematian Amelia itu karnanya namun ia membantah dengan keras menangis sejadi-jadinya dan meminta cerai, diantara bingung dengan semua itu aku hanya pasrah melepaskan dan mengikhlaskan meski itu sangat-sangat berat walau terkadang aku selalu berpikir akan ada kesempatan untuk memperbaiki apa yang salah"
Author pov
Diruangan itu penuh dengan buku berjajar dilemarinya dan satu komputer yang menjadi objeknya, Rio dengan kacamata yang bertengger dihidung mancungnya sangat fokus mengetikan apa saja laporan yang diterima sekali-sekali direvisi dan dimuat ulang untuk mendapat data yang lebih akurat untuk bahan meeting minggu depan, meski punya banyak karyawan Rio tak mudah lepas tangan soal pekerjaan ia harus meneliti hingga benar-benar seperti yang diinginkan
Rio bisa pulang lebih cepat bisa juga hingga pulang pagi lagi tergantung keadaan jika dulu ia sangat sibuk kerja hingga melupakan Sarah dan Amelia sekarang Rio lebih berfokus pada kehidupan barunya bersama Zain orang baru yang menemani paginya hari ini, jika mengingat-ingat kejadian pagi tadi kembali Rio memutar memori beberapa jam yang lalu, sarapan pagi yang tak pernah ia jumpai dimanapun
Flashback
"apa kau masih yakin dengan pilihanmu?, aku tak apa jika harus pergi kau bisa membawa Amelia sendiri tanpaku"Zahra duduk disamping kasur Rio ia yang masih sibuk membenarkan dasinya, Zahra memang bisa dibilang lancang tiba-tiba masuk kamar tanpa mengetuk pintu padahal ia hanya tamu disini, namun beruntung Rio tak mempermasalahkan hal tersebut mungkin Zahra terburu-buru pikirnya.
"kau boleh tinggal disini rumah ini luas dan butuh banyak penghuni"Rio selesai dengan dasinya ia ikut duduk disamping Zahra yang terdiam gugup entah apa yang terjadi padanya, apalagi saat Rio mendekat mengambil hape yang ada disamping Zahra sambil manatap Zahra datar, wajahnya semerah udang rebus ketika mata mereka saling beradu lalu Zahra memutus tatapan mata itu
"jangan memandangku seperti itu bodoh!kau bisa semakin membuatku jatuh cinta"batin Zahra kesal dalam hati
"aku menitipkan Zain padamu kau bisa mengajaknya menjenguk Amelia"Zahra hanya menganguk singkat sambil mengalihkan pandanganya kearah lain
"dan ini"black card yang baru pertama kali Zahra lihat, kartu atm yang sangat ia impikan Zahra hampir melotot ketika Rio memaksanya menerima atm itu "anggap saja uang jajan Zain"Zahra semakin melotot, uang jajan? Padahal dijamanya dulu tak ada kartu seperti ini andai saja Zahra jadi Zain pasti hidupnya amat-amat bahagia, sejak kecil telah mendapat uang sebanyak ini.
"kau bercanda?, menurutku ini sangat banyak"
"nanti sore aku akan pulang lebih awal mengajak Zain ke taman lili dan pulang agak larut kau boleh menginap dirumah sakit untuk menemani Amelia"Rio pergi keluar kamarnya bergabung bersama Zain yang siap makan rapi dengan tampilanya yang menawan, lucu Zain sangat mirip dengan Amelia anaknya, wajahnya terpahat sempurna sangat-sangat mirip dengan Elena, mengingat Elena membuatnya teringat sesuatu tentang tadi malam
'halo a-apa ini k-kau Rio?'seseorang disebrang sana berbicara melalui sambungan telepon nadanya sangat gemetaran ditengah kebisingan suara yang beradu, nampaknya ia menangis namun berusaha ditutupi
"Elena?"Rio mematikan komputernya meninggalkan pekerjaan yang sebentar lagi selesai, telpon yang tak sengaja ia jawab ternyata dari orang penting membuatnya sedikit terkejut
"yah ini aku Elena, aku sedang emm berada di-kau tak perlu tau!, aku tak punya banyak waktu untuk berbasa-basi intinya aku ingin Zain kembali padaku"Rio hanya mengangguk sangat hafal jika ini benar-benar Elena yang asli, cerewet dan tidak jelas seperti sikapnya dulu.
"lalu?"
"aku ingin mengambil Zain"
"ohh"
"Huuh mengesalkan sekali dirimu sama sekali tak berubah, aku ingin Zain cepat kembalikan dia padaku!"Elena benar-benar sudah kehabisan kesabaran didalam keadaan segenting ini masih bisa ia hanya bersikap biasa, sungguh lelaki yang sangat dingin.
"bukanya kau yang meninggalkanya demi kehidupan pribadumu?, apa kau masih waras dengan mengatakan hal itu?"
"Rio dengar, aku tak punya banyak waktu berbicara hal yang tak penting denganmu tak sempat meladeni pertengkaran ini, aku butuh Zain aku ibunya aku berhak hidup bersamanya meski aku telah meninggalkanya"Elena menangis disebrang sana entah tangisan palsu atau asli yang pasti tangisanya jelas terdengar ditelinga Rio, ia hanya menatap datar tanpa ada rasa iba direlung hatinya
"aku tidak akan mengizinkan Zain bertemu denganmu"
Pip
Sambungan mati dan percakapan itu berakhir sedetik setelahnya telfon berdering lagi, dari nomer tidak dikenal pasti Elena ia sungguh malas berhadapan dengan wanita itu lagi segera Rio menghapus dan memblokir nomernya menaruh hapenya sembarangan dan duduk dimeja kerja pribadinya sambil mengusap wajahnya gusar,
"Elena, sampai kapanpun kau tak akan pernah bisa bersama Zain, sama sepertiku kau harus merasakan sakitnya perbuatanmu karna tak benar menjadi seorang orang tua"
"paman.."
"paman.."Zain mengadahkan tanganya mencoba membuat Rio tak lagi melamun namun beberapa panggilan tak berhasil membuatnya tersadar, Zain mengambil sendok dipiringnya mengetukanya di kepala Rio
"Aww Zain, apa yang kau lakukan?"Zain hanya nyengir lalu kembali membenarkan posisi duduknya siap makan sandwich kesukaanya melupakan Rio yang merintih kesakitan
"kenapa paman melamun, apa paman memikirkan tentang ibu?"
"iya, hanya sedikit"Zain hanya mangut-mangut sambil menikmati sandwichnya dengan lahap, rasanya sangat sepi dimeja makan yang sebesar ini namum hanya dua orang yang menempati, Zain melihat Zahra namun tak ada untuk makan bersama kemana wanita itu pergi?
"paman, aku memimpikan tentang ibu dia datang mengambilku entah mengapa rasanya aneh ketika melihat ibu"Rio seketika menoleh menatap Zain melotot, tak percaya.
"apa yang aneh darinya?"
"ibu sepertinya kembali seperti dulu, yang suka pulang dengan aroma mawar yang menyengat dan bekas merah dimana-mana, selalu pulang dipagi hari dan bangun bekerja dengan dandanan yang sangat cantik ia selalu tak memperdulikanku waktu dulu paman"Zain memang bocah pintar Rio mengakui itu bahkan diusia yang saat ini Zain mampu mendeskripsikan bagaimana kacaunya ibunya saat itu membuatnya harus menelan sakit berkali-kali pasti sulit bagi Zain, ataupun Elena dengan semua itu diusia yang masih sama-sama muda mereka berdua butuh seorang penopang.
"itu hanya mimpi Zain jangan dianggap nyata"
"aku tau paman tapi... Aku sangat rindu ibu meski dia sama sekali tak merindukanku"Zain menjeda ucapanya sebelum akhirnya mengucapkan hal selanjutnya lebih lirih dan sedih"maafkan aku paman lagi-lagi mengingat tentang ibu"
"sepertinya kau memang sulit jika tak tinggal denganya, Zain aku bisa mengantarkanmu pada ibumu"
*****
"permisi pak, ada laporan yang harus anda tanda tangani"Sila—sekertaris Rio terdiam sedari tadi melihat sang bos yang tak kunjung menjawab panggilanya, ia curiga jangan-jangan direkturnya ini sedang kerasukan sesuatu namun jika dipikir-pikir sepertinya tak mungkin, setan mana yang berani merasuki seorang presdirnya ini bahkan bisa saja mereka lari ketika melihat Rio secara banyak orang mengatakan aura dari seorang Rio sangat-sangatlah terang entah apa itu maksudnya.
"pak..."
"pak Rio..."
"pak Rio... Apa anda benar kerasukan?"Sila berdadah tepat muka Rio dan seketika itu Rio sadar dan menatap Sila datar mencoba untuk terlihat cool padahal aslinya ia bingung kenapa Sila tiba-tiba hadir diruanganya
"ada apa Sila?"
"bapak tanda tangan disini dan ini data-data pemasukan bulan ini jika ada kesalahan bapak bisa memanggilku diruangan samping"sambil menyodorkan berkas dan data dalam bentuk flashdisk sesekali Sila curi pandang menatap wajah presdirnya yang sangat tampan itu, andai saja Rio tak menikah dengan Elena dulu sudah dipastikan Sila yang akan menggantikan posisi itu, menjadi istri dari presdir tampan dan kaya raya.impian Sila sejak kecil.
"kenapa kau terburu-buru pergi Sila?"Sila hanya menahan senyum sebelum langkahnya benar-benar membuatnya tak menduduki kursi itu lagi, ia kembali terduduk berharap hal yang ia harapkan terjadi bodoamat soal punya istri selagi bisa Sila akan mencoba meski caranya salah.
"saya takut mengangu bapak bekerja"ucap Sila memang sengaja dihalus-haluskan agar terlihat lebih anggun itu pikirnya padahal dimata Rio ia seperti bicara layaknya perempuan biasa
"apa kau sibuk?"Sila lagi-lagi menahan senyum menatap wajah tampan presdirnya yang masih stay menatap laporan itu sesekali ditandatangi
'semoga pak Rio mengajakku makan siang, kabulkanlah yatuhan'Sila membatin dalam hati, ralat berdoa ia sangat berharap Rio mengajaknya makan siang bersama dan semoga tuhan mau mengabulkanya, meski kemungkinan itu hanya dua puluh persen karna Sila bukanlah anak yang rajin apalagi penurut pada orang tua sudah dipastikan doanya tidak mustajabah.
"apa pekerjaanmu telah usai?"
"masih banyak, namun saya memiliki waktu yang cukup untuk menyelesaikan pekerjaan sebelum besok"Rio hanya mengangguk paham sama sekali tak menatap Sila didepanya yang berwajah sangat-sangat penuh harapan, ia masih fokus pada apa yang ia kerjakan
"bisa kau membantuku Sila?"
"Katakan saja!"ucap Sila cepat membuat Rio mengangkat wajahnya menatap Sila, ia membenarkan kacamatanya sebelum akhirnya mengatakan hal yang membuat Sila kecewa berat bahkan marah namun tak akan mampu ia luapkan,
"buatkan aku kopi katanya kau sangat jago meracik kopi, bukanya kau dulu seorang barista?"
'sial, Rio brengsek!'pekik Sila dalam hati sangat tak habis pikir dengan ucapan presdirnya ini, yang telah membuatnya berkali-kali sakit hati namun hebatnya kembali menaruh harap dan berjuang meski Rio telah menikah
"apa tidak ada lagi pak?"
"itu saja"Sila hanya menganguk sambil hendak melangkah pergi namun teringat sesuatu, ia mengambil amplop putih disakunya memberikanya pada Rio, tadi pagi seseorang menitipkan padanya untuk diberikan pada Rio Sila tak tau siapa pengirimnya karna yang memberikan adalah serorang ojek online hanya tertulis untuk Rio didepan amplopnya
"untuk bapak"amplop itu telah dipegang Rio tugas Sila telah selesai entah mengapa ia sangat lega telah memberikan amplop itu pada pemiliknya seolah-olah didalamnya terdapat hal yang sangat penting, setelahnya Sila keluar menyisakan Rio yang termenung menatap amplop putih itu saat ia membukanya panggilan telepon tiba-tiba masuk dan menjeda aktifitasnya
"Rio, apa kau ada waktu sore nanti?"
"Sarah?"perempuan dibalik telpon itu tersenyum singkat lalu menjawab lagi dengan nada khasnya, setelah hampir dua tahun Sarah sama sekali tak menemuinya dan sekarang ia menelpon ingin bertemu sungguh kejutan yang luar biasa
"benar, ada hal yang harus aku bicarakan maaf menelponmu secara tiba-tiba"
"katakan saja"
"bisa kita bertemu?"terdiam Rio hanya termenung tanpa berniat menjawab, tubuhnya seketika gemetar pasti sesuatu terjadi pada Sarah saat ini tak biasanya Sarah menelpon secara tiba-tiba
"katakan disini aku sedang sibuk bekerja"Sarah menghembuskan nafasnya kasar ada beban yang seperti coba dikeluarkan dari nafas tersebut ketika mendapat ucapan dari Rio,
"nanti sore, kuharap kau bisa ini sangat penting bagiku"Sarah tak peduli jika ia memohon, ini sangat penting baginya dan hanya Rio yang dapat memahamimya
"maafkan aku, Sore nanti aku harus menemani Zain ke taman Lili, mungkin lain hari kita bisa bertemu"
Deg
Sarah meneteskan air matanya, apakah ini karma?, atau Rio memang terlalu benci padanya?, yatuhan Sarah ingin bunuh diri saat ini orang yang sangat-sangat ia butuhkan ternyata tak menanggapinya juga harus dengan siapa ia meminta bantuan, Sarah menyerah dibalik telpon itu ia menyilet tanganya sendiri menahan perih sambil mengingit bibir agar tak ada rintihan disana, rutinitasnya sejak dua tahun yang lalu saat perpisahanya dengan Rio
"Sarah?"
"Sarah?apa kau baik-baik saja?"Rio terdiam sambil menahan cemas, Sarah gadis itu sangat-sangat nekat meski tak ada rintihan dibalik telpon namun firasat Rio mengatakan Sarah sedang menangis sambil melukai dirinya
"Sarah!"
"Rio, siapa Zain?"
"Anakku"
"oh, kau telah memiliki istri?"
"ya"
"Ha... Ha... Lucu sekali diriku telah lancang ingin kembali padamu, maafkan kesalahanku Rio"lagi-lagi terdiam Rio benar-benar tak habis pikir dengan Sarah, wanita ini pasti sedang depresi berat membuatnya sangat-sangat cemas
"apa yang terjadi Sarah?"dibalik telpon Sarah tersenyum menghentikan aktifitasnya membuka jendela kamar dan menatap pemandangan luar, setidaknya Rio masih perhatian, benar Rio masih sangat mencintainya ia masih memiliki kesempatan dan Sarah berjanji akan memperjuangkan kehilangan tak semudah itu diiklhaskan dan mengikhlaskan tak semudah itu melepaskan, Sarah benci dirinya sendiri ia selalu bergantung dan tak bisa hidup mandiri membuatnya harus mengemis cinta lagi, untuk dikasihani dan diberi kesempatan kedua.
"Jika kau ada waktu, hubungi aku aku ingin memperbaiki apa yang salah"
"apa yang kau bicarakan?"
"aku akan menemuimu besok meski kau tak ingin kutemui"
Pip
Rio menghembuskan nafas kasar hampir saja membanting hapenya jika Sila tak segara datang, ia berkeringat dingin melihat tatapan presdirnya yang berapi-api dengan langkah sangat pelan Sila menyuguhkan kopi, menaruhnya dimeja dan terdiam beberapa menit mengatur nafas untuk menyampaikan sesuatu setelah mulai mendingin Sila angkat bicara
"nanti sore ada jadwal meeting pak, dengan client besar dan meeting ini adalah investor yang bertaruh banyak dengan harga saham perusahaan, semua data telah disiapkan, bapak bisa merevisi jika perlu"
"batalkan saja meetingnya"Sila melotot tak percaya
"apa bapak yakin"hanya anggukan yang membuat Sila semakin memanas, ini adalah kesempatan besar dan ia telah mempersiapkanya telah lama Sila tak yakin jika lelaki dihadapanya benar-benar seorang Rio
"tapi pak–"
"batalkan saja Sila, aku harus menemani Zain ketaman Lili nanti"Sila melotot hampir mengeluarkan matanya, merelakan meeting penting hanya untuk ketaman lili bersama anak tiri apakah kau bercanda?, Sila benar-benar tak habis pikir dengan perubahan Rio yang sangat drastis ia hampir pingsan namun tak jadi ia tak ingin semakin merepotkan bosnya yang sedang aneh hari ini, Sila hanya pasrah tanpa protes lalu berjalan keluar ia tak punya hak apa-apa disini, ia hanya karyawan bukan bos yang bisa berlaku apa saja.
Rio duduk dikursinya dengan frustasi, belum kelar dengan Elena sekarang Sarah datang tiba-tiba, lagi-lagi masalah tentang wanita ia bingung karna Rio sama-sama merasakan sakit hati karna dua wanita itu, Elena yang pergi tiba-tiba hanya karna sebuh masalah belaka dan Sarah yang egois dan cemburu buta kenapa tuhan selalu mempertemukanya dengan wanita-wanita yang tak sesuai dengan kepribadianya diluar terlihat seperti iblis, padahal ia berhati sangat lembut tapi kenapa tidak ada satupun yang mau mengerti dirinya, ingin rasanya ia tak mengenal tentang cinta dan wanita lagi.
Saat matanya menatap sesuatu yang belum terbuka itu, Rio mengambilnya membukanya dengan tidak sabaran karna mendapat firasat buruk tentang amplop ini, surat didalamnya terdapat kertas pink dengan sample mawar disekelilingnya Rio melotot membukanya dengan cepat, dan mengusap wajahnya kasar ketika telah membaca surat itu
Untuk cintaku
Apa kau baik-baik saja disana?....
Mama akan pulang seminggu lagi
Dilandon...
Mama selalu merindukanmu
Maka setelah tiga bulan berwisata Mama tercintamu ini akan pulang
Sambutlah Mama...
Karna jika tidak Mama akan marah
Ajaklah Sarah...
Atau siapapun itu wanitamu
Kau harus menyambut Mama dengan pemandangan keluarga yang harmonis
Karna jika tidak...
Mama akan marah
Ingatlah satu minggu lagi kau bisa mempersiapkanya
Lakukan yang terbaik buat semenawan mungkin dekor penyambutanya untuk mama...
From: Mama
Rio memijat keningnya lagi merasakan pusing kepala yang luar biasa, rasanya seperti akan pecah ia butuh koyo atau obat sakit kepala saat ini, hari kerja yang memusingkan bahkan ketika ia baru menyelesaikan satu berkas, rasanya Rio ingin pulang lebih cepat hari ini
"yatuhan masalah apa lagi selanjutnya?"