Bab 2

George hampir tak tahan lagi, dia ingin secepatnya keluar dari tempat kerja yang dianggapnya bagai 'neraka yang selalu dijaga ketat oleh malaikat pencabut nyawa'.

George bekerja sebagai seorang service cleaning di sebuah restoran cepat saji yang berlogo seorang kakek berjanggut.

Pria Amerika bertubuh atletis itu sudah tak tahan lagi mendengar omelan panjang kali lebar 'seperti sungai Amazon' dari mulut Marco, manager yang selalu mencari-cari kesalahan karyawannya. Entah mengapa dia hobi sekali memarahi George dan Sony.

Sore hari, detik-detik terakhir George hendak bersiap-siap ke toilet untuk melepas baju seragamnya dan mendatangi Marco untuk menyatakan bahwa dia ingin berhenti bekerja, seorang gadis Rusia datang ke restoran cepat saji itu dan berjalan dengan anggun menuju ruangan Marco.

Gadis seksi dengan rok mini itu menenteng sebuah map warna jingga. Kelihatannya dia melamar pekerjaan di restoran cepat saji itu.

George mengurungkan niat semulanya. Pria Amerika itu mengambil semprotan pembersih kaca dan kanebonya, dia pura-pura membersihkan pintu kaca, ruangan sang manager yang sedikit terbuka. George penasaran sekali, ingin tahu siapakah gadis cantik berkulit putih itu.

Sesekali dia mengintip dan menguping pembicaraan mereka. Namun George sedikit teledor, semprotan pembersih kaca jatuh dari genggaman tangan kirinya. "Buggg!"

Marco keluar, aksi George meniru gaya paparazzi Italia idolnya, terbongkar, gagal karena kesalahan kecilnya. Aksinya penyadapan George ketahuan oleh sang manager yang terkenal super killer itu.

"George! Lihat-lihat apa kamu!!? Ingin jadi paparazzi??? Ingin mematai-matai aktivitasku?!" omel Marco.

"Em ... tidak." George mengelak tuduhan Marco.

"Saya hanya ingin membersihkan kaca ini!" lanjutnya.

George menutupi kesalahannya dengan berpura-pura mengelus-elus pintu kaca ruang sang manager.

Dalam hati, George sedikit takut karena jika tuduhan memata-matai itu terbukti, maka detik itu dia bisa dipecat dan kecil sekali peluang baginya untuk bertemu dan berkenalan dengan gadis cantik yang sedang interview di ruangan Marco.

"Tidak memata-matai apa? Itu buktinya, pintu kaca sudah bersih kenapa kamu elus-elus terus. Sana! Bersihkan pintu kaca depan yang masih kotor itu!" bentak Marco dengan ekspresi muka, sangat marah.

"Iya ... iya ..." kata George.

"Iya ... iya ... dasar!" Marco melampiaskan seluruh kemarahannya karena dari pagi belum sempat memarahi George. Marco pun kembali ke ruangannya.

George pun memilih untuk menyingkir jauh-jauh darinya. Jika marah, Marco seperti singa terusik dari tidurnya.

George memungut kembali semprotan pembersih kacanya dan keluar untuk membersihkan kaca pintu depan restoran.

George mengelus-elus pintu kaca depan sambil bersenandung dan bersiul. George memang periang, dia selalu gembira, dia tak pernah merasa sakit hati.

Bagi George diomelin atasan adalah hal hal biasa. Sebab, sejak kecil George selalu menjadi sasaran omelan dan ocehan serta 'kotbah Alkitab' dari ibunya karena sifat teledor yang susah untuk diubah. Hampir segala yang dilakukan George pasti menimbulkan kesalahan-kesalahan kecil lalu membesar dan bisa berakibat fatal.

George kecil, tumbuh menjadi seorang periang dan tahan banting. Kebal mendapat omelan dan pelampiasan kemarahan. Dan George pun menjadi sangat ahli dalam menjinakkan orang yang pemarah.

-----

Sepuluh menit kemudian gadis berkulit putih itu keluar dari ruang Marco. Dia berjalan lurus menuju pintu keluar.

Saat dia hendak membuka pintu, George bergerak lebih cepat --seper sekian detik-- membukakan pintu untuknya. "Silakan tuan puteri!" Gadis itu tersenyum, keluar dengan anggun.

"Thank's, Sir." jawabnya.

"Maaf nona. Bolehkah saya bertanya?" kata George kepada Anda.

"Boleh. Silakan, Sir?"

"Tidak, a ... apa ... apakah nona diterima kerja di sini?" tanya George penuh harap.

"Iya. Mulai besok pagi saya masuk kerja di sini. Saya diterima dibagian kasir, menggantikan Mrs. Sinta yang akan resign besok karena dia harus mempersiapkan pernikahannya," jawab gadis itu.

"Oh ... syukurlah, saya ikut senang!" kata George.

"Ok, Sir. Saya harus pergi sekarang, mobil yang menjemputku sudah tiba."

"Ok, nona, sampai jumpa besok pagi!" kata George yang merasa bahagia bagaikan musafir yang mendapatkan mata air di tengah padang gurun yang gersang.

-----

George mengurungkan niatnya untuk berhenti kerja. Dia menjadi bersemangat kembali.

Hati George berbunga-bunga, diam-diam dia jatuh cinta pada pandangan pertama. Dia sangat tertarik dengan gadis cantik yang akan menggantikan posisi Mrs. Sinta di tempat kerjanya.

Baru kali ini George tertarik lawan jenis. Hingga jelang usia 30 tahun, George belum pernah pacaran sama sekali. Bahkan dia berniat untuk tidak menikah.

-----

Kesokan harinya, pukul 04.00 AM

Tak seperti biasa George bangun pagi-pagi buta. Biasanya dia bangun lima belas menit sebelum tempat kerjanya buka. Apartemen tempat tinggal George terbilang dekat dengan tempat kerjanya. Hanya butuh waktu 5 menit jalan kaki, George bisa sampai di sana.

Hari itu George bangun pukul 04.00 AM. entah petir mana yang sanggup membangunkannya sepagi itu.

Ternyata George tidak bisa tidur semalaman. Bayangan gadis cantik, kasir baru pengganti Mrs. Sinta membuatnya sangat bersemangat ingin datang lebih pagi.

Dia ingin berjumpa dengan bidadari yang kemarin sore telah membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.

-----

George bangun dari tempat tidurnya, lalu langsung mandi. Selanjutnya George mencukur kumis serta jamangnya agar nampak lebih rapi.

Di depan kaca, George tersenyum bangga melihat ketampanan wajahnya. "Kamu tampan sekali George, memiliki wajah mirip aktor utama film 'James Bond 007'."

-----

Selanjutnya George menyeterika baju dinasnya, seragam service cleaning berlogo kakek berjenggot dan menyemprotnya dengan minyak wangi mahal yang dibelinya sebulan lalu.

"Aku harus tampil sempurna didepan gadis cantik itu. Jangan sampai bidadari bernama .... "

"Aduh George! Mengapa kemarin kamu lupa bertanya siapa nama gadis itu?" sesalnya.

"Ahh tidak mengapa. Nanti aku pasti tahu siapa nama bidadari itu." gumam George berdiskusi dengan bayangan dirinya di kaca.

"Ok George, kamu sudah tampil sempurna, tampan sekali dan wangi. Pasti bidadari itu akan tertarik kepadamu."

-----

"Ok teman. Aku akan meninggalkanmu sejenak, nanti kita jumpa lagi. Doakan aku bisa mendekati dan mendapatkan bidadariku itu." George pun menempelkan tangannya ke bayangan telapak tangannya sendiri di kaca.

Dengan mantap George membalikkan badan dan berjalan menuju pintu keluar apartemennya.

-----

Sampai di depan lift, George berdiri dengan gagah dan penuh keyakinan.

"Hai ganteng, tumben berangkat lebih pagi, sayang?" sapa manager pengelola apartemen George. Seorang wanita paruh baya berstatus jomblo, dengan gaya rambut kribo dan bertubuh gendut.

George cuek tak menggubris sapaannya. "Iiiih jaga image banget!" kata wanita paruh baya itu, sewot.

Pintu lift terbuka, manager pengelola apartemen itu masuk lebih dulu. George belakangan. George mengingat sekali dan selalu menerapkan sopan santun ajaran orang tuanya - "Ladies First".

Di dalam lift, sang manager bertubuh besar itu mulai usil lagi kepada George. "Ganteng. Siapa namamu?" tanyanya sambil mencubit lengan kanan George.

George mengambil sikap tetap diam tak meladeni godaan wanita paruh baya yang sering menggodanya itu.

"Baru sakit gigi ya?" godanya.

"Tingggg ...!" pintu lift terbuka, mereka sampai di lantai dasar. George terselamatkan.

-----

Pria ganteng yang menyamar sebagai karyawan service cleaning restoran cepat saji itu keluar dengan lega. George berjalan sedikit tergesa-gesa menuju tempat kerjanya.

Empat menit tiga puluh detik George lebih cepat sampai tujuan. -- Record baru bagi George sampai di tempat kerjanya.--

George berdiri 2 meter dari pintu utama tempat kerjanya. Di saat yang hampir bersamaan, bidadari yang ditunggunya pun turun dari sebuah mobil BMW sport warna biru. Kaki jenjangnya terilihat seksi menawan saat turun dari mobil mewah itu, walaupun dia hanya mengenakan rok mini merah seragam restoran cepat saji berlogo kakek berjenggot itu.

Gadis itu berjalan dengan anggun ke arah George. Dia berjalan pelan, berlenggak lenggok seperti peragawati berjalan di atas Catwalk.

George menyambut kedatangannya dengan stok senyuman termanis yang dia kumpulkan selama hampir 30 tahun.

"Selamat pagi, Sir!" sapa kasir baru yang akan bekerja di tempat yang sama dengan George.

"Hai nona cantik, bidadari yang turun dari Sorga. Apa kabar?" sapa George dengan kata-kata gombal klasiknya.

"Baik, Sir!" jawabnya singkat.

Keduanya karyawan itu datang terlalu pagi. Pintu restoran cepat saji dimana mereka bekerja belum dibuka oleh Marco. Marco dan karyawan lain pun belum belum menampakkan 'batang hidungnya'.

George dan gadis cantik yang akan menggantikan kasir lama, harus bersabar menunggu kedatangan Marco pemegang 'kunci-kunci sakti' restoran cepat saji itu.

-----

"Oh iya nona cantik. Siapakah nama nona?" tanya George.

"Regina, Sir!" jawab gadis itu.

"Waoww nama yang sungguh indah. Tepat sekali sekali dengan kecantikan dan keanggunan nona." ungkap George memuji gadis cantik berkulit putih yang baru dia kenal itu.

"Terima kasih." Regina tersenyum.

George nampak sedikit melamun dia mencari kata-kata yang tepat untuk merayu gadis yang membuat jantungnya berdebar-debar.

Gadis itu pun terdiam. Sesekali dia melirik ke arah George.

-----

"Em ... boleh tahu nama Anda, Sir?" tanya Regina balik.

George tergagap mendengar gadis itu mendadak bertanya kepadanya.

"Oh, nama? Namaku? .... Em ... panggil aku George. Namaku George Washington." jawabnya dengan senyum ramah.

"Nama yang hebat. Mirip nama presiden Amerika Serikat, ya?" ungkap Regina polos.

"Iya benar, ayahku pengagum berat George Washington presiden Amerika Serikat pertama.

Karena alasan itulah aku diberi nama George Washington. Mereka berharap aku, anak laki-laki satu-satunya akan menjadi presiden Amerika jika sudah dewasa. Tetapi .... sayang sekali, kenyataan jauh berbeda dengan harapan. Sekarang seperti kamu lihat, aku hanya hanya menjadi ... karyawan cleaning service di restoran cepat saji ini," kata George dengan muka sedih.

"Tetapi tak apalah. Yang penting aku happy. Ha ha ha ...!" kata George dengan tawa lebar.

"Iya benar, yang penting Anda happy!" ungkap Regina memberi semangat.

-----

Bab 3

Tiba-tiba hujan turun. George dengan spontan melompat ke pintu depan restoran cepat saji itu. Ada ruang sedikit ke dalam sekitar satu meter.

"Regina cepat sini. Nanti bisa basah seragam kamu!" panggilnya.

Regina pun berlari ke samping George. Nampak dia sedikit menyesal sepatunya basah karena tidak berespon cepat panggilan George.

George melihat sepatu Regina sedikit basah oleh air hujan. Dia mengeluarkan sapu tangan sutera wangi dari kantung celananya. George berjongkok dan membersihkan air yang membasahi sepatu Regina. "Don't worry, ada George!" kata George sambil mengelap sepatu Regina.

"Ah tak perlu, Kak. Nanti kering sendiri," kata Regina sedikit membungkuk sambil menarik lengan George.

"Ah tak apa-apa. Tenang saja. Aku ahli soal bersih-bersih. Sayang sepatu baru basah kena air hujan," katanya dalam posisi masih jongkok membersihkan sepatu Regina.

"Nah, sudah kering, bukan?" tambahnya. George pun berdiri, rambutnya sedikit basah karena percikan-percikan air hujan.

Hujan makin deras.

"Thank's, George," kata Regina.

"Tetapi lain kali tidak perlu dibersihkan seperti tadi, sayang sapu tangan mahal milikmu!" tambahnya.

"Ah, untuk bidadari secantik kamu tidak apa-apa membuang satu dua sapu tangan. Coba lihat ini di dalam tasku masih ada selusin lagi," ungkap George sambil mengeluarkan selusin sapu tangan sutera mahal dari dalam tasnya.

"Ini beberapa lagi untuk mengeringkan rambutmu!" kata George memberikan beberapa sapu tangan sutra nan wangi.

-----

Regina sedikit terbelalak. Dia merasa aneh dengan petugas cleaning service yang ada di depannya.

"Siapakah dia? Tak mungkin karyawan cleaning service biasa mampu membeli selusin sapu tangan sutera semahal itu. Dan dari harum minyak wanginya bukan minyak wangi biasa. Minyak wangi bermerk terkenal dengan kisaran harga 2 kali gaji mereka." Regina terlihat melamun, segudang pertanyaan hilir mudik memenuhi benaknya.

"Dan dilihat dari ketampanannya tak mungkin dia orang biasa!" gumam Regina dalam hati.

Regina terdiam, berpikir keras menebak siapakah pria yang baru dikenalnya itu.

-----

George menepuk pelan lengan kanan Regina, "Regina, kamu kenapa?"

Regina tersadar. Spontan gadis itu membuat alasan kreatif untuk menjawabnya, dengan sedikit terbata-bata, "Ti .. tidak, em ... a .. aku hanya teringat jemuran di apartemenku. Pasti basah lagi karena hujan sederas ini."

"Oh, jemuran? Aku pikir kamu kenapa? Sakit, atau ... hmmm kangen dengan pacar kamu?" kata George memancing untuk mengetahui status Regina.

"Ah, aku belum punya pacar. Masih sendiri sampai detik ini."

"Oh," gumam George yang meresa lega karena masih ada peluang emas baginya untuk mendekati bidadari pujaan hatinya.

"Regina, gadis secantik kamu pasti sangat menarik bagi para pria, dan pasti banyak pria yang telah menyatakan cinta kepadamu, namun mengapa kamu belum berkeinginan memiliki pacar? Sorry aku menanyakan hal privat," tanya George.

"Iya, dulu pernah pacaran, tetapi kami putus. Maklum cinta monyet!" ungkap Regina sambil sedikt tertawa.

"Iya lucu, pacaran masa kanak-kanak, seperti monyet!" tambahnya.

"Oh, cinta waktu masih anak-anak?" ungkap George.

-----

"Bagaimana denganmu, George? Apakah kamu sudah punya istri?" tanya Regina polos.

"Istri? Ah, pacaran sekali saja aku belum pernah. Sungguh seumur hidup aku belum pernah berpacaran." ungkap George.

"Aku dibesarkan di keluarga hiper protektif sehingga tidak diijinkan pacaran sebelum lulus kuliah dan kerja." tambahnya.

"Oh. Begitu ya. Baguslah. Dan pasti gadis-gadis suka pada sosok pria sepertimu!" ungkap Regina.

-----

"Mana ada gadis yang mau menjadi pacarku, aku hanya sebagai karyawan cleaning service bergaji rendah seperti ini?" kata George.

"Sebenarnya, tak masalah bekerja sebagai karyawan cleaning service. Sebab kamu memiliki kelebihan lain, seperti : wajah tampan, postur tinggi atletis, kulit putih bersih, tampan, jujur, ramah dan wangi lagi. Pastilah semua gadis mau menjadi pacarmu!" puji Regina jujur.

"Em ... benar juga katamu," ungkap George sambil melirik ke kasir baru yang sedari tadi menatapnya tanpa berkedip.

Nampak Regina tertarik kepada George.

-----

Hujan mulai reda keduanya masih namun keduanya masih berbincang akrab.

Suasana sekitar restoran cepat saji itu masih sepi. Hujan lebat menjadikan orang malas untuk keluar. Kebetulan hari Minggu, hari libur bagi para pekerja biasa dan kantor-kantor pemerintahan.

Alam seperti berpihak kepada mereka, seolah tahu arti penting awal kedekatan seorang pria dan wanita yang berbeda negara, beda kepentingan, dan misi. Kini keduanya berada di tampat sama, berbincang akrab. Seolah New York hanya milik mereka berdua.

Dinginnya pagi kota megapolitan New York takluk oleh kehangatan mereka.

Waktu pun berpihak kepada mereka, detik demi detik seolah olah makin melambat, memberi kesempatan bagi keduanya untuk membuka ruang-ruang eksplorasi untuk saling mengenal dua insan yang mulai menemukan benang-benang pengait hubungan awal mereka.

George dan Regina saling tertarik. Bulir-bulir cinta mulai tumbuh diantara mereka.

-----

Dua jam dinding raksasa yang tertempel di gedung kembar pencakar langit, apartemen termewah dan perkantoran di New York, seberang jalan mereka berdiri berdentang 7 kali.

George tersadar. "Oh, sudah pukul 07.00 AM sekarang. Tak terasa kita berdiri di sini hampir satu jam, seperti 'boneka-boneka manequin', pejengan etalase baju branded yang tak terjangkau harganya oleh kalangan biasa!" celetuknya.

"Ya. Tetapi aku merasa sangat bahagia. Ada kebahagian berbeda saat berbincang dan mengenalmu, George. Aku tak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini."

"Ya, seumur hidupku baru bisa sebahagia seperti saat ini!" ungkap Regina.

-----

"Semua serba tersedia bagiku, orang tuaku memiliki segalanya. Ayahku salah satu konglomerat ternama di Rusia. Ibuku konglomerat di China. Dan aku anak tunggal mereka. Satu-satunya pewaris kerajaan bisnis mereka. Tetapi jujur, baru kali ini aku merasa bahagia. Disini, disinilah kudapat hal yang tak pernah aku dapatkan. 'Kebahagiaan yang sebenarnya'. yaitu berada di dekatmu!" tambahnya.

"Hmmm selamat untukmu, Regina. Kamu telah menemukan arti kebahagiaan yang sebenarnya. Bukan kebahagiaan semu yang ada di harta yang dicari dan diimpi-pimpikan oleh sebagian besar orang."

"Kebahagian hadiah terindah dari alam aku menyebutnya. Aku juga merasakan kebahagiaan yang berbeda, kebahagiaan yang tak pernah kudapat seumur hidupku. Kini kutemukan itu. Disini, saat aku bersamamu. Dan aku makin bahagia karena melihat kamu bahagia," ungkap George.

Keduanya hening sejenak. Meramu kristal-kristal kebahagiaan yang baru saja mereka berdua dapatkan dalam eksplorasi 'gunung cinta'.

-----

Kebahagiaan mereka harus berjeda, "Hai George, tumben kamu datang sepagi ini!" Dari jarak 100 meter Sony berteriak kepada George.

Sony sahabat terdekat George di restoran cepat saji itu. Sony pelayan restoran cepat saji seumuran dengannya namun dia bergaya lebih muda dengan tatto menutup seluruh leher aneka warna.

"Ketiup angin puyuh mana? Sehingga kamu berubah rajin sekali!" teriak lanjutan memecahkan suasana sepi di tempat itu.

Sony sambil melangkah mendekati George dan Regina.

"Oh ... karena nona cantik ini?" tanya Sony lebih pelan saat dia sudah berada di depan George dan Regina.

"Ini pacarmu ya, George?" tanyanya lagi.

Sony terus memberondong George dengan kalimat-kalimat pertanyaan yang belum sempat dijawab George.

"Kapan kalian jadian? Setahuku kamu belum pernah punya pacar, bukan?" tanya George entah pertanyaan ke berapa.

"George, aku heran sekali denganmu. Pria setampan kamu mengapa sangat takut dengan makhluk hidup yang berjuluk 'wanita'!" ungkap Sony jujur.

"George, kenalin denganku dong, siapakh dia? Siapakah nama bidadarimu ini? Kapan kamu berani mendekatinya, kapan kamu menyatakan cinta kepadanya?" Sony kambuh lagi rombongan pertanyaan nerocos dari mulut lebarnya.

Tak mengherankan jika Sony dijuluki 'Mr. Ask', jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia, 'orang yang hobi bertanya'.

-----

"Jangan kuatir teman, aku tidak akan merebutnya darimu. Aku tidak akan memisahkannya darimu. Aku akan ikut menjaga bidadarimu dan menghajar siapapun yang mengganggunya!" ungkap Sony.

Regina tersenyum melirik ke arah George.

-----

Sedikit memerah wajah George, dia sedikit kesal dengan sahabat terdekatnya itu namun dia senang dengan kejujuran dan sikap apa adanya, Sony.

George mengedipkan sebelah matanya kepada Sony, memberi kode agar dia jangan terlalu banyak bicara. Namun Sony tak mengerti arti kode khusus dari George yang memperingatkannya.

Dan justru sebaliknya, Sony kembali bertanya kepada George.

"George kenapa mata kananmu berkedip kedip melulu saat menatap ke arahku? Adakah debu jalanan New York ini yang menyelinap masuk ke mata kananmu?Tetapi tidak mungkin sangat tak masuk akal jika ada debu berani terbang disini, semua tempat basah oleh hujan yang saja reda, semua jalanan masih basah. Tak mungkin ada debu hadir mendekatimu. George ada apa di mata kananmu? Kenapa mata kananmu, sahabatku?" Sony memborbardir George dengan pertanyaan lanjutan.

George semakin salah tingkah, tak tahu lagi bagaimana cara memberitahu Sony. George memilih 'membeku', terdiam seribu bahasa.

-----

"George, restoran ini buka jam berapa, ya?" tanya Regina mencoba mencairkan suasana beku dalam diri George.

Saat George hendak menjawab, Sony lebih dulu menjawab pertanyaan Regina.

"Pukul 07.00 AM, nona!" celetuk Sony lebih cepat seper sekian juta detik, karena Sony tak sabar menunggu jawaban George yang dia nilai sangat lamban merespon pertanyaan Regina.

"Oh, pukul 07.00 AM?" Regina tersenyum.

"Biasanya nona, George sahabat terbaikku ini datang pukul 07.00 AM kurang 10 menit. Kadang kurang lima menit karena tak bisa keluar dari lift apartemennya. Biasa, manager pengelola apartemennya, ibu setengah baya bertubuh gendut itu selalu menghalangi jalannya. Ibu-ibu jomblo itu naksir berat kepada George, sahabat baikku yang sangat tampan ini."

"Oleh sebab itu nona, dari tadi aku sangat heran, tumben sekali George datang pagi-pagi buta?" sahut Sony.

Regina tersenyum melirik George yang menjadi salah tingkah karena sebagian rahasia pribadinya dibongkar oleh Sony yang tahu persis bagaimana kehidupan sahabatnya itu.

Beberapa detik menjadi hening.

-----

"Tumben juga, si Marco belum menampakkan batang hidungnya. Jika kita terlambat 2 detik saja bisa diomelin sepanjang hari hingga detik-detik terakhir restoran ini tutup."

"Kemana 'manager killer tetapi sangat takut dengan istrinya' itu? Coba aku telpon dia. Aku akan omelin balik sebab dia yang membawa kunci restoran ini. Ini kesalahan fatal yang dibuatnya, kesempatan bagiku untuk memarahinya balik."

"Jangan sampai dia mencari kambing hitam lagi dan menyalahkan aku dan George. Padahal kesalahan seperti ini murni kesalahannya. Kesalahan pemimpin. Kita bawahannya biasa dia salahkan dan hukum dengan memotong setengah gaji kami. Dasar 'manager killer' dan tak berkeadilan!" umpat Sony.

Sony mengeluarkan iPhone barunya yang dia beli dua hari yang lalu.

"Halo ... Sir, posisi dimana? Tumben belum datang. Apa Anda membolos kerja lagi hari ini? Dan mencoba membuat keonaran yang mengganggu kinerja restoran cepat saji ini? Bagaimana sih Anda ini? Jadi manager, atasan kami kok berkelakuan buruk seperti ini, tidak memberi contoh yang baik kepada kami, karyawan rendahan!"

Sony memanfaatkan situasi untuk balas dendam mengomeli balik atasannya. Biasanya George dan Sony, sepasang karyawan rendahan yang kerap dikambing hitamkan oleh Marco, sang manager.

"Oh ... maaf, maaf Sony, aku hubungi Fredy, hmmm ... aku sedang di rumah sakit, mengantar istriku yang akan melahirkan. Kata dokter 3 jam lagi anak pertama kami keluar."

"Dan tadi aku sudah aku menitipkan kunci-kunci restoran kepada Fredy adikku untuk mengantar dan memberikannya kepadamu atau kepada George. Aku menyuruhnya dan memberikan kunci-kunci restoran sejak pukul 06.00 AM, tadi."

"Maaf, maaf. Enak saja bilang maaf giliran kami tiada maaf bagi kami!" omel Sony.

-----

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED