Bab 2

1 MINGGU SEBELUM ACARA PERNIKAHAN

Jelita Cahaya Mentari gadis berusia 19 tahun itu tengah berjalan kaki di trotoar seraya ngedumel sendiri, ini adalah hari ketidak beruntungnya. Pengumuman kelulusannya di tunda sampai lusa, padahal ia sudah sangat bersemangat sekali tadi pagi sampai berangkat lebih awal ke sekolah setengah jam setelah selesai shalat subuh. Tapi pengumuman malah diundur dan apesnya lagi ia ketinggalan angkutan umum yang biasa ditumpanginya, membuat Jelita harus berjalan kaki sampai ke rumahnya di bawah cahaya matahari yang cukup terik itu.

"Awas mang Asep ya, teganya mamang ninggalin Lita!" Gerutu Jelita seraya menghentakkan kakinya, ia mulai mengomel sendiri, merasa kesal pada sopir langganannya. Saking asyiknya marah-marah Jelita sampai tak memperhatikan langkahnya. Ia menginjak ujung rok seragamnya sendiri, membuat tubuhnya oleng dan mendarat di aspal. Tepat sekali pantat yang lebih dulu mencium aspal namun ia berhasil menopang tubuhnya sehingga ia tak berbaring di sana. Beruntung aspal tempatnya terjatuh tidak dalam keadaan panas walaupun siang itu sangat panas, karena ada pohon besar yang ada di pinggir trotoar.

"Astaghfirullah Lita Lita untung lu nggak dilindas kendaraan yang lewat." Gumam Jelita seraya bangkit dari duduknya. Pantatnya begitu terasa nyut-nyutan dan panas. Baru saja ia berdiri tegak, sebuah suara klakson mobil dan juga decitan rem mengagetkannya. Bukannya menghindar Jelita malah menoleh ke belakang, mobil mewah itu tepat berhenti di belakangnya dengan jarak yang cukup dekat bahkan hanya seinchi saja dari roknya.

"Heh bocah suram, kamu tuli ya!" Sentak pria yang kini turun dari mobil mewah itu, seketika Jelita menoleh ke sumber suara.

"Wah kurang asem aku dikatain bocah suram!" Gerutu Jelita dengan tatapan tajamnya, pandangan mereka kini bertemu. Mata indah dan wajah tampan pria itu membuat Jelita mematung di tempatnya, gadis itu tengah takjub menikmati makhluk ciptaan Tuhan yang begitu indah di depan sana.

Pria itu berjalan mendekat, "malah dia bengong, heh bocah labil kamu nggak lihat ini jalan raya. Pakai acara main jatuh-jatuhan di sini. Ini bukan lagi main sinetron, kamu sengaja mau buat saya masuk penjara!" Sentak pria itu dengan kasar seraya menarik lengan Jelita ke arah trotoar.

"Eh maaf pak, saya juga tidak sengaja terjatuh ke jalan." Lirih Jelita yang akhirnya tersadar. "Kasar amat sih nih orang!" Gerutunya dalam hati.

"Hah bapak? Memang tampang saya seumuran bapakmu apa?" Ketus pria itu lagi.

"Kalau mau buang nyawa jangan di depan saya. Ngerti!" Lanjutnya lagi dan berjalan pergi meninggalkan gadis itu, sebelum memasuki mobilnya ia bahkan mengeluarkan sapu tangannya dan membersihkan kedua telapak tangannya itu. Jelita hanya bisa menatap tajam menyaksikan orang sombong itu.

"Cih sombong amat, emangnya anda kira saya kotoran pakai tangannya di bersihkan segala lagi. Dasar wajah tampan tapi kelakuan kayak seten. Astaghfirullah." Gerutu Jelita seraya menghentakkan kakinya.

"Idih amit-amit dah ketemu cowok kayak begitu lagi. Kasar amat mulutnya ngalahin ghibahan tetangga." Lanjutnya lagi masih mengomel.

Tiiiiiiiiiiiinn.

Suara klakson mobil yang berkepanjangan itu membuat jantung gadis itu hampir copot. Ya siapa lagi yang menjahilinya kalau bukan pemilik mobil yang hampir menabraknya itu.

"Dasar bapak-bapak kurang ajar. Awas aja nanti kalau ketemu, aku kempesin itu ban mobil." Teriak Jelita yang langsung mengundang tatapan sinis dari para kaum lelaki yang mendengarnya. Bahkan sampai-sampai pengandara motor yang berjalan di belakang mobil pria tadi pun ikut membunyikan klaksonnya seraya menatap tajam ke arah Jelita.

Jelita hanya bisa nyengir dan mengangguk sungkan. "Ya Allah apes bener dah hari ini. Sial amat akuh." Batinnya yang langsung mempercepat langkah kakinya. Ia tak ingin sampai di keroyok masa nanti karena menyoraki nama bapak-bapak.

Sementara itu pria tampan tadi hanya melihat jejak gadis yang hampir saja di tabraknya itu melalui kaca spionnya. "Dasar gadis aneh, mau mati saja malah hampir bawa petaka buat orang lain."

*****

Sementara di waktu dan tempat berbeda, terlihat seorang remaja SMA tengah berjalan dengan wajah bahagianya.

"Bergembiralah wahai jiwa dan raga, karena masa putih abu-abu sudah terlewati. Ooohh bahagianya hati ini di hari kelulusan ku." Jelita begitu sapaannya mulai bersenandung ria dengan lirik yang asal ia buat sendiri. Gadis berwajah kusam dengan seragam putih abu-abunya, rambut pendek hitam lurus dengan poni Dora yang menjadi ciri khasnya kini tengah berbahagia.

Gadis itu tengah berjalan dalam kegembiraan seraya membawa sepucuk amplop di tangan kanannya. Bagaimana gadis itu tak bahagia akhirnya hari ini ia telah menerima pengumuman kelulusannya. Setelah dua hari lalu sempat tertunda.

Beberapa langkah lagi Jelita akan sampai di halaman rumahnya yang penuh dengan kandang ayam bertingkat bak penghuni rumah rusun itu.

"Assalamualaikum." Sapa Jelita memberikan dengan suara riangnya. "Siapa yang bertamu di jam seperti ini? Keliatannya mereka orang elit semua. Sendal dan sepatu mereka saja terlihat mewah." Gumam gadis itu setelah memperhatikan barisan sepatu dan sendal berhak tinggi di depan pintu teras rumahnya.

"Wa'alaikum salam." Jawab orang-orang yang sudah berkumpul di kursi bambu ruangan berukuran pas-pasan itu. Karena empunya rumah memang bukan lah orang kaya melainkan hanya seorang petani di sebuah pedesaan kecil.

"Sudah pulang nak, sini duduk di dekat ibu!" pinta Rukyah.

Jelita langsung berjalan perlahan ke arah sang ibu dengan tubuh gemetarnya, wajahnya tertunduk namun ia sempat mencuri pandang pada ketiga tamunya itu, amplop yang sedari tadi ia bawa kini sudah kusut dalam remasan tangannya. Wajah tiga orang asing yang belum pernah ia temui, tapi tunggu sepertinya pria yang dudu sendiri di sana tak asing baginya. Pria dengan tubuh kekar yang mengenakan kaos polos longgar berwarna putih namun nampak sebuah gambar entah apa itu di permukaan kulitnya, tepat dibawah lengan bajunya. Wajahnya yang dingin, wajah tampan yang tidak sangat tidak ramah itu.

"Siapa lelaki itu? Sepertinya aku pernah melihatnya, dimana ya?" Gumam Jelita dalam hati seraya mengingat dimana ia pernah berjumpa dengan pria menyeramkan itu.

"Nak kenalin ini sahabat lama ayah dari kota, itu pak Bagaskara dan istrinya ibu Kartika. Sedangkan yang duduk sendiri di sana adalah putra tunggal mereka namanya Kenzo. Kamu salim dulu gih!" pinta Kusman.

Jelita mengangkat mulai mengangkat wajahnya, memberikan senyuman pada pasangan suami-istri yang terlihat begitu serasi. Dan kini ia mengalihkan pandangannya pada sang pria di sana,

"Kamu!" Pria itu melebarkan matanya, terkejut melihat wanita di hadapannya namun ia langsung menetralkan diri. Sementara Jelita yang sudah mengingat siapa pria itu langsung menelan salivanya.

"Dia kan bapak-bapak yang waktu itu, aduh mampus akuh." Batinnya cemas.

"Kalian sudah saling mengenal?" tanya Kartika seraya menatap bergiliran dua insan yang akan di jodohkan itu.

"Tidak." Jawab Kenzo singkat dan dingin.

"Cih. Dia ngapain sih ke sini!" Batin Jelita.

"Ayo nak salim dulu!" Rukyah mengingatkan, Jelita menurut.

Istri pak Bagas begitu cantik awet muda tak seperti ibunya yang sudah nampak jelas kerutan di wajah lelahnya itu. Dengan sopan gadis itu mencium punggung tangan mereka secara bergantian seraya menyebutkan namanya untuk memperkenalkan diri. Baru saja ia berbalik dan berniat untuk tidak menyalami lelaki dingin bertato itu eh malah langsung di cegah oleh pak Bagas.

"Loh nak nggak kenalan dulu sana anak bapak? Jangan malu-malu dia nggak gigit kok." Sergah pak Bagas dengan suara lembutnya.

Jelita pun kembali membalikkan tubuh kecilnya itu dan menggeser langkahnya untuk menyalami pria dingin itu. Kenzo hanya menatap tajam padanya. Tapi pria itu terpaksa mengangkat lengan kekarnya menyambut tangan Jelita namun ketika gadis itu akan mencium punggung tangannya dengan cepat pula ia menarik tangannya kembali.

"Ish kasar amat sih jadi cowok, dasar om om bertato!" Jelita hanya bisa ngedumel dalam hati.

"Aku kira kamu sudah mati, ternyata masih hidup sampai sekarang. Dasar bocah suram, burik lagi." Desis Kenzo dengan suara sinisnya yang hanya terdengar oleh Jelita.

Gadis itu langsung melebarkan kedua matanya, tapi apalah daya ia hanya bisa melotot saja tanpa berkata-kata apa-apa.

"Kasar amat tuh mulut, awas saja kamu nanti." Ancam Jelita dalam hati.

"Jangan coba macam-macam kamu bocah pembawa petaka!" Kenzo pun memberikan tatapan lebih tajam lagi seakan ia mendengar apa yang Jelita katakan.

Baru kenalan saja bendera perang sudah mulai berkibar.

"Mulai sekarang kalian harus saling menyayangi satu sama lain ya!" Ucap Mama Kenzo dengan senyum bahagia.

"Apaaa? Nggak salah dengar kan aku?" Pekik Jelita dalam hati seraya berjalan kembali ke tempatnya.

"Ibu Kartika benar kalian harus mulai terbiasa saling menyayangi dan melindungi satu sama lain. Terutama bapak berharap nak Kenzo bisa menjaga Jelita untuk seterusnya. Karena dua minggu lagi tanggung jawab bapak pada Jelita akan berpindah ke nak Kenzo." Tambah pak Kusman.

Seketika itu juga tubuh Jelita lemas dan ambruk tepat di atas kursi bambu itu, menimbulkan suara decitan yang cukup mengganggu pendengaran.

"Berlebihan sekali sih bocah labil satu ini, baru mendengar kata begitu saja sudah pingsan!" celetuk Kenzo dengan suara baritonnya.

"Sayang kamu tidak boleh gitu dong. Ya wajar saja kalau nak Jelita terkejut karena perjodohan kalian juga mendadak." Kartika menegur anaknya sementara Kusman dan Rukyah hanya saling pandang.

Jelita sudah tidak bisa berkata-kata, nyawanya seakan keluar meninggalkan tubuhnya itu.

"Maafkan anak kami ya Man, dia memang begini kalau berbicara suka seenak jidatnya tapi percayalah dan aku juga menjaminkan diri ku untuknya kalau dia akan sangat bertanggung jawab pada istri dan keluarganya nanti." Tambah Bagaskara.

Kusman dan Rukyah tersenyum lebar seraya menganggukkan kepalanya.

"Jelita hanya terkejut saja karena memang aku belum pernah membahas tentang perjodohan mereka sebelumnya." Kusman malah merasa tak enak hati.

"Maaf Bu Pak, saya harus pamit dulu karena memang sudah ada janji sebelumnya yang tidak bisa saya batalkan!" pamit Kenzo dengan sopan yang kini bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah calon mertuanya itu untuk berpamitan.

"Ya nak yang terpenting kita sudah bertemu dan membicarakan niat baik ini." Jawab Kusman dengan senyum mengembang.

"Kalau begitu pertemuan kali ini kita cukup kan saja dulu, sementara menunggu nak Jelita tenang dulu. Satu Minggu lagi kami akan kembali untuk melamar nak Jelita secara resmi." Bagas pun ikut berpamitan.

Kusman dan Rukyah hanya bisa menerima niat baik keluarga Bagaskara itu dengan senyuman kebahagiaan. Dua orang tua itu pun berdiri, dengan tubuh yang masih lemas Jelita tetap ikut berdiri.

"Akhirnya ya bu kita bisa besanan secepat ini." Kartika tidak bisa menyembunyikan wajah bahagianya seraya memeluk erat tubuh Rukyah.

Sementara pak Bagas dan juga Kusman tak mau ketinggalan, mereka berdua berpelukan. "Semoga rencana pernikahan ini lancar ya Man agar kita juga cepat menimang cucu." Bagas menepuk pundak sahabatnya itu.

"Ya aku juga sudah tidak sabar melihat putriku jadi Pengantin yang cantik." Tambah Kusman.

Benar-benar keluarga yang aneh, biasanya yang akan kegirangan membahas cucu dan pernikahan anak-anak adalah para wanita ini malah pihak lelaki yang kegirangan dan semangat membahas cucu. Ingin rasanya Jelita pura-pura pingsan saat itu, tapi apalah daya gadis berambut Dora itu.

"Sayang mama pamit dulu ya!" Kini Kartika memeluk Jelita.

"Ya tante hati-hati di jalan." Jawab lirih gadis itu seraya mencium kembali punggung tangan wanita cantik itu.

"Eh jangan panggil tante dong, mulai saat ini juga kamu harus panggil aku mama nak!" Kartika memaksa.

"Eh ya maaf mama." Jawab Jelita gugup.

"Mulai hari ini persiapkan diri ya nak, setidaknya kamu harus sedikit berpenampilan lebih cantik agar Kenzo terpesona melihatmu!" Bagas menambahkan, lihat malah sang papa mertua yang memberikan wejangan menohok itu.

Jelita sedikit terkejut mendengar pesan itu seraya mencium punggung tangan pak Bagas.

*****

"Syukur lah akhirnya Kenzo mau setuju dengan perjodohan mendadak ini ya pah tanpa perlu curiga pada kita." Ucap Kartika pada suaminya itu ketika mereka sudah berada di dalam mobil.

"Ya mah, semoga semua acaranya lancar sampai hari H. Supaya Kenzo juga cepat mengakhiri sandiwaranya di depan Khanza." Saut Bagas dengan senyum mengembang di wajahnya.

Ya ini lah alasan mereka menjodohkan putra satu-satunya dengan sahabat lama yang tak sengaja Bagas temui ketika mengantar istrinya ke pasar. Dua orang tua itu pun menjalankan misinya untuk menikahkan anak mereka, dan juga membantu Bagas untuk mengembalikan putranya itu ke jalan yang benar. Agar ia menghentikan sandiwaranya yang berpura-pura menjadi suami dari adiknya sendiri yang sudah memiliki dua orang anak kembar itu.

Bab 3

Kenzo nampak tengah melamun dengan wajah lesu di meja kerjanya setelah pertemuannya dengan Jelita dan keluarganya. Pria itu kini memikirkan bagaimana respon sang adik kesayangannya itu nantinya. Walaupun Khanza terlihat baik-baik saja tadi pagi, tapi tentunya hatinya juga akan kecewa.

Flashback On

Disebuah ruangan yang cukup besar dan mewah nampak seorang pria tampan dengan rahang tegasnya dengan kedua tangan yag dimasukkan ke dalam saku celana panjangnya, tengah berdiri di dekat jendela kaca besar itu menyorot bentangan layar lebar lukisan keramaian kota dari lantai teratas bangunan pusat perbelanjaan terbesar di kota itu.

Matanya terlihat sayu, namun pandangannya kosong. Pikiran dan perasaannya sedang tak karuan karena sang mama memintanya untuk bertemu dengan keluarga seorang gadis yang akan dijodohkan dengannya. Pernikahan mereka juga akan dilangsungkan dalam dua Minggu lagi.

"Dady Dady Dady." Pekik suara dua anak perempuan dengan pakaian dan gaya rambut yang sama, memasuki ruangan itu dan berhamburan ke arah Kenzo Putra Bagaskara, karena keasyikan melamun pria itu sampai tak sadar ada yang memasuki ruangannya.

Kenzo pun langsung berbalik dan menyambut pelukan kedua putri kembarnya yang cantik itu. Ia berjongkok dihadapan dua gadis cantik itu, memeluk mereka dengan hangat.

"Hallo sayang. Kenapa tidak mengabari Daddy kalau kalian akan kemari?" tanya Kenzo seraya mencium lembut pipi kedua princess itu bergantian, setelah itu melepaskan pelukannya.

"Maaf mas, mereka sangat merindukan mu dan memaksa ku untuk mengantar mereka kemari." Jawab seorang wanita cantik dengan gaun putih seksi di atas lutut menampakkan kaki jenjangnya yang mulus. Rambut bergelombang yang tergerai indah, berdiri di belakang dua anak kembar itu.

Kenzo berdiri lalu berjalan membelah jarak melewati kedua putrinya, dan kini memeluk serta mencium kedua pipi wanita itu.

"Terimakasih sudah mengantar mereka kemari." Bisik Kenzo didekat telinga wanita itu seraya melepaskan tangannya dari pinggang seksi wanita yang bernama Khanza itu. Walaupun ia sudah melahirkan dua anak kembar namun tubuh indahnya tak berubah sedikit pun bahkan lebih terlihat berisi.

Kenzo kembali menghampiri dua gadis kecil itu, berjongkok di hadapan mereka.

"Bukan kah kalian harusnya ada disekolah?" ucap lembut Kenzo seraya memegangi kedua pipi putrinya.

"Kami mau di antar Deddy saja ke sekolah hari ini." Jawab Shakaela dengan wajah memelas.

"Kami tidak mau di antar mommy. Mommy nakal hari ini." Tambah Shakeena dengan wajah cemberutnya.

Ternyata kedua gadis kecil berusia lima tahun itu tengah merajuk pada sang Mommy. Khanza hanya tersenyum mendengar dua putri kembarnya yang tengah mengadu dengan kedua tangan menyilang di bawah dada.

"Baik lah kalau begitu Daddy dan Mommy akan mengantar kalian." Seru Kenzo seraya memegang kedua pucuk kepala putri-putrinya, meraih tangan kecil mereka dan membawanya berjalan mendekati Khanza.

"Bukan kah hari ini mas ada janji dengan mama dan papa!" Ucap Khanza merasa tak enak hati.

"Tidak apa-apa, lagi pula ini masih pagi. Aku masih punya banyak waktu, dan itu juga hanya pertemuan biasa. Ayo sekarang kita pergi antar mereka, aku tak mau mereka kecewa." Tutur Kenzo seraya berlalu meninggalkan ruangannya diikuti Khanza yang kini berjalan di belakang mereka.

Flashback Off.

*****

"Kok lemes begitu bro, kan baru ketemu calon istri. Harusnya semangat dong. Ini malah kayak agar-agar kelebihan air." Celetuk Arka melihat bosnya yang tak bersemangat.

Kenzo kini sudah sampai kembali di ruangan tempat dimana ia menjalankan kekuasaannya. Kenzo merupakan pemilik salah satu pusat perbelanjaan terbesar dan juga pemilik dari beberapa hunian elit yang ada di kota itu, lelaki yang kini berusia 30 tahun itu memang sudah mengetahui dirinya telah di jodohkan dengan gadis kampung yang merupakan putri dari sahabat papanya. Hanya saja yang dia tak terima adalah gadis itu baru berusia 19 tahun dan baru lulus SMA, sedangkan dia adalah pria dewasa yang setiap saat dikelilingi banyak wanita cantik dan seksi.

"Sekali lagi kamu bicara kurang ajar, aku lempar kamu dari sini!" ancam Kenzo.

"Lah kok marah sih. Eh bagaimana calon istrimu cantik dan seksi tidak?" Arka malah tak ada takutnya dan semakin mengajukan pertanyaan ekstrim.

"Cantik dan seksi dari mana? Dia jauh dari itu semua, bocah ingusan begitu. Yang ada dia burik sudah kayak itik buruk rupa!" jawab Kenzo ketus dengan wajah terlipat.

"Ya elah tidak usah menghina begitu. Kalau kamu tidak ingin menikah dengannya kenapa kamu tidak tolak saja perjodohan ini." Saran Arka.

"Bagaimana aku bisa menolak jika ini ada permintaan mamah." Kenzo memasang wajah pasrah.

"Tidak apa sekarang si itik buruk rupa nanti kamu yang percantik dia menjadi ratu angsa." Arka menurun naikkan kedua alisnya.

Kenzo menatap sinis, tapi yang dikatakan asistennya memang benar, "Bocah burik begitu mah mau dipermak kayak bagaimana juga tetap tidak bisa berubah jadi princess bro. Mana bentukannya kayak Dora yang gagal berpetualang pula." Ucap Kenzo merendahkan. Ia jadi ngeri sendiri membayangkan wajah kusam dan poni Jelita yang ia lihat tadi. "Badannya juga sudah kayak sapu yang gagal produksi. Lurus seperti rel kereta." Tambahnya lagi mengingat tubuh lurus kecil kerempeng gadis itu.

"Parah kamu bro, ngatain anak orang sampai segitunya. Awas nanti beneran cinta mati kamu sama dia baru tau rasa. Lagian ya kata-kata yang lagi hits sekarang itu wanita akan jadi ratu bila jatuh di tangan pria yang tepat. Nah karena kamu bermodal ya bisa saja nanti calon istri kamu bakalan berubah dari itik buruk rupa menjadi angsa cantik yang sangat indah di lihat." Arka mulai memberikan ceramah.

"Sudah lah jangan bahas gadis burik itu dulu. Sekarang fokus ke meeting yang sebentar lagi kita mulai. Pembicaraan tidak penting kita sudah terlalu banyak menghabiskan waktu." Ucap Kenzo mulai merasa kesal.

Pembahasan dua lelaki itu pun berubah lagi dan fokus ke pekerjaan mereka. Selang lima belas menit berlalu meeting mereka pun di mulai tapi pikiran Kenzo malah berjalan-jalan ke tempat lain.

"Oh Tuhan kenapa malah bayangan bocah burik itu yang selalu muncul dipikiran sih. Mengganggu saja." Desis Kenzo seraya mengacak rambutnya sendiri.

"Anda baik-baik saja tuan?" tanya seorang wanita berpakaian seksi yang duduk di hadapannya.

"Eh maaf Bu Sarah, kepala sedikit gatal. Silahkan di lanjutkan!" bohong Kenzo.

"Maklum Bu, bos saya jarang keramas." Tambah Arka dengan santainya.

"Dasar asisten sialan, awas saja kamu." Gerutu Kenzo dalam hati.

Wanita bernama Sarah itu pun kembali fokus mendengarkan isi kontrak kerja sama mereka di mall itu bersama Arka. Sedangkan Kenzo masih sibuk dengan pikirannya, dan di saat itu pula ada sebuah pesan masuk di ponselnya dan itu dari sang mamah Kartika.

Mamah:

Belikan Jelita ponsel, dia pasti butuh itu untuk berkomunikasi, dan juga belikan pakaian yang cocok untuk dia lengkap dengan make up serta perawatan wajah biar dia tampil cantik di hari spesial kalian nanti. Jangan lupa tanyakan sama pegawai tokonya Skincare yang cocok buat remaja tapi tidak sampai menimbulkan masalah ketika dia akan di make up pas acara nikahan kalian nanti.

"Ini pesan apa koran sih panjang benar! Kenapa tidak langsung di bawa ke klinik kecantikan saja sih dari pada repot-repot buat beli perawatan. Mama mah ada-ada saja bikin ribet orang." Gerutu Kenzo.

Dia pun dengan cepat membalas pesan itu agar sang mamah tidak menerornya nanti kalau dia telat memberikan balasan.

Kenzo.

Siap laksanakan komandan. Tenang saja mamah ku sayang, bila perlu semua isi mall ini aku bawakan buat calon menantu kesayangan mamah itu.

Mamah

(Membalas hanya dengan emoticon love)

Begitulah Kenzo yang tak pernah bisa menolak perintah dari wanita yang telah menghadirkannya ke dunia, wanita yang merupakan cinta pertamanya itu. Tentu saja pernikahan ini juga terpaksa ia harus terima karena permintaan sang mamah. Kelihatannya saja dari luar Kenzo pria sangar dengan wajah preman tapi hatinya kayak Tweety eh salah Hello Kitty maksudnya.

"Kalau tidak karena mamah yang minta perjodohan ini aku tidak bakalan mau nikah sama bocah itu. Membayangkan wajah anak itu saja aku tak sanggup!" batin Kenzo.

"Terimakasih pak Arka dan pak Kenzo untuk kerjasama ini. Semoga hubungan kita kedepannya semakin baik dan kerjasama sama ini berjalan lancar selalu." Ucap Bu Sarah seraya bangkit dari duduknya dan menyalami Arka.

Kenzo yang masih sibuk dengan pikirannya sampai tak menyadari kalau meeting itu sudah berakhir. Melihat kelakuan sang bos yang masih melamun Arka pun tidak mau mengusiknya dan mewakili acara perpisahan pertemuan itu.

"Lah mana itu ibu ibu ganjen Ka?" tanya Kenzo. bingung melihat sofa di depannya sudah kosong. Sebenarnya Kenzo juga sengaja tidak terlalu memperdulikan wanita tua itu karena sedari tadi Bu Sarah mencuri pandang genit dengannya.

"Sudah pulang." Jawab Arka seraya membereskan berkas-berkasnya.

"Syukurlah. Sekarang kamu temani aku beli ponsel sama tetek bengek peralatan anak gadis buat itu bocah burik!" Kenzo yang malas berdebat pun kini bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan ruangannya itu.

"Siap komandan." Jawab Arka menyusul Kenzo.

Setelah berjam-jam lamanya terbuang sia-sia dua pria tampan itu pun kembali ke ruang kerja mereka.

"Ya ampun bro ini sudah jam berapa, dari sore sampai mall ini mau tutup kita cuma keluar masuk doang di semua toko yang ada di sini. Kamu cari apaan sih sebenarnya? Cari harta peninggalan raja Fir'aun apa cari barang buat itu bocah? Kagak ketemu-ketemu perasaan? Sudah dipelototi sampai kering ini mata ujung-ujungnya kagak jadi. Atau jangan-jangan kamu tidak punya uang?" Sentak Arka yang melakukan aksi protesnya yang sungguh merasa kesal dengan kelakuan bosnya itu, dia setengah hari cuma di ajak keluar masuk di semua toko yang ada di mall besar itu. Kebayang bagaimana capeknya mereka berjalan berkeliling di 6 lantai mall itu.

"Bawel amat sih kamu kayak emak-emak arisan aja, kamu tinggal ikuti aku saja susah. Lagian itu gunanya aku gaji kamu dengan nominal besar ya buat melakukan hal semacam ini. Sesekali keliling di mall kita kan tidak masalah, bila perlu sampai kamu hafal setiap sudutnya." Sentak Kenzo tak kalah galaknya.

"Lah apa hubungannya coba sama gaji aku. Ayo lah mau sampai kapan kita di sini? Lima belas menit lagi sudah jam tutup nih Ken." Arka mengingatkan.

"Lah ini mall punya siapa?" tanya Kenzo dengan memicingkan mata.

"Ya punya kamu."

"Ya sudah terus kenapa harus heboh mall mau tutup sebentar lagi. Bila perlu hari ini mall di buka dua puluh empat jam karena aku belum selesai mencari apa yang aku butuhkan." Tegas Kenzo.

"Ya tidak bisa begitu dong tuan muda Kenzo Bagaskara. Mereka itu punya jam kerja yang sudah jelas di kontrak mereka masing-masing dengan bos-bos mereka. Lagian mereka juga punya keluarga, punya anak, istri, dan suami yang menunggu di rumah. Lain lagi halnya sama kita yang masih bebas keliaran cari tempat singgah kayak kupu-kupu malam." Ucap Arka dengan bijaknya.

"Oh oh oh. Bijak sekali anda, kalau begitu kamu belikan semua barang yang tadi kita pelototi sampai berjam-jam itu. Batas waktu mu sampai mall ini tutup dan semua barang sudah harus kamu beli serta bawa ke ruangan ku ini!" Titah Kenzo dengan melemparkan kartu hitamnya pada sang asisten somplak itu.

"Eh eh kok malah jadi begini sih!" Arka jadi panik sendiri tapi dengan tepat menangkap kartu itu.

"Sudah pergi sana, jangan banyak bicara lagi. Bukan kah waktu mu terbatas, kalau sampai kerjaan mu tidak beres aku pastikan kamu akan menjadi penghuni tetap mall ini selama sebulan!" Ancam Kenzo seraya berlalu pergi menuju ruangannya.

"Wah ternyata dia meremehkan ku, yang aku khawatirkan bukan ancaman kecil mu itu. Hanya saja kamu harus bersiap-siap kehilangan delapan sampai sembilan digit angka dari kartu kesayangan mu ini." Ucap Arka menyeringai seraya menatap kartu yang kini ada di tangannya.

Kenzo memang salah menantang orang dia tidak tau bagaimana kehebatan asistennya itu. Tanpa menunggu lama lagi Arka pun beraksi dengan keahlian yang ia miliki. Ia juga tak perlu bersusah payah keluar masuk lift untuk menjelajah seluruh lantai mall itu. Seperti di serial dongeng anak Arka kini menjadi seorang peri penyelamat dadakan. Tinggal mengangkat tongkat sihirnya maka semua akan terkabul. Ya begitu lah singkatnya.

Tepat ketika pengeras suara yang menginformasikan kalau jam pengunjung mall telah habis alias mall akan segera tutup dan mengingatkan pengunjungnya untuk bersiap-siap meninggalkan pusat perbelanjaan itu, Arka dengan langkah gagahnya di ikuti para barisan pramuniaga yang berjejer rapi di belakangnya sudah sepanjang jalan kenangan dengan membawa paper bag cantik di tangan mereka masing-masing.

"Oke ladies letakkan semua barang-barang itu di sini!" Ucap Arka yang mengangkat kedua tangannya dan memberikan isyarat dengan bertepuk tangan dan bergaya di sana.

Benar saja ruangan itu kini penuh dengan tas belanjaan yang membuat si empunya membelalakkan mata tak percaya. Kenzo hanya bisa duduk mematung dengan mulut terbuka.

"Terimakasih ya semuanya, kalian bisa langsung kembali ke tempat masing-masing ya sweety." Arka menyampaikan rasa terimakasih dengan sedikit membungkuk kan badan sementara sang bos masih dalam keadaan belum sadar dari pemandangan yang ada di hadapannya. Kini seluruh sudut ruangan itu sudah penuh dengan belanjaan yang entah apa mungkin isinya.

"Bagaimana tuan muda yang terhormat sesuai permintaan anda. Semua telah aku beli dalam waktu dan tempo yang sesingkat-singkatnya." Arka mengacungkan black card yang ada di tangannya.

"Kamu sudah gila ya kenapa kamu beli barang sebanyak ini?" Sentak Kenzo dengan suara menggelegar memenuhi seluruh ruangan itu sampai Arka hampir saja menjatuhkan kartu kecil pipih itu beruntungnya dia masih bisa menangkapnya. Kalau tidak tamat lah riwayatnya harus mencari itu kartu di tumpukkan paper bag itu karena kini bahkan seluruh inci lantai ruangan itu juga penuh dengan jejeran paper bag tadi.

Arka menarik nafas dalam, sebelum memberikan jawaban. "Aku hanya mengikuti perintah mu saja besty tapi kenapa kamu malah meneriaki ku. Sudah ini kartu mu dan aku harus pulang. Bye." Ucap Arka tak kalah galak dan tegasnya cuma dia orang bisa dan berani memarahi bosnya. Arka bersusah payah menyingkirkan barang-barang itu setelah meletakkan kartu hitam berharga itu di atas meja kaca ruangan itu.

"Ya Allah bagaimana aku harus membawa ini semua. Dasar asisten somplak." Kenzo merasa frustasi dan geram sendiri seraya menjambak rambutnya itu. Ia tak bisa menyalahkan Arka, karena itu memang permintaannya sendiri. "Dasar goblok kenapa aku sampai lupa dia bukan asisten yang bodoh seperti asisten ku sebelumnya." Gerutu Kenzo merasa frustasi sendiri, ya karena asisten pertamanya memang begitu bodoh, bahkan lelet seperti siput sehingga ia terpaksa mengangkat Arka sebagai asisten barunya sampai mereka menjadi sahabat dekat, padahal dulunya Arka merupakan musuh Kenzo selama bertahun-tahun di bangku SMA. Sampai mereka kuliah di satu universitas yang sama pun Arka dan Kenzo masih tetap bermusuhan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED