Serpihan air hujan yang masuk dibawa angin, dibiarkan begitu saja. Menerpa wajah Barra yang kini menatap lurus pepohonan di halaman rumah.
Lampu kuning keemasan yang menyala di atas pagar terlihat serupa rembulan yang bersembunyi di balik kegelapan. Rasanya malam ini tak jauh berbeda, kecuali perasaan hampa juga kosong setelah ditinggal pergi oleh ayah ibunya, untuk selama-lamanya.
Barra yang semula hanya berniat memeriksa Khanza dari balik pintu kamar, tiba-tiba harus merangsak masuk setelah ia mendengar rintihan-rintihan kecil dari dalam sana.
Adiknya mengigau. Suhu tubuh Khanza meninggi menyebabkan tubuh gadis itu terasa sangat panas saat Barra meletakkan punggung tangannya di kening sang adik.
"Ibu ... Ayah ... " Selama beberapa saat Barra hanya mampu terdiam. Mencerna rasa kehilangan yang sedang Khanza rasakan. Sebelum kemudian ia bergerak mengambil air hangat juga kain yang kemudian Barra balurkan di tubuh Khanza, berharap agar demam adiknya bisa sedikit mereda.
Selama berulang kali Barra mengganti air dalam mangkok kecil itu. Akan tetapi demam Khanza tetap tinggi dan tidak turun sama sekali.
Melihat sejenak ke arah jarum jam yang kini sudah menunjukkan pukul dua petang, akhirnya Barra membawa gadis itu ke luar. Memasukkannya ke dalam mobil, lalu mencari rumah sakit terdekat yang bisa menangani Khanza.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, Dokter berkata bahwa kondisi tubuh Khanza memburuk akibat rasa kehilangan yang begitu mendalam.
Gadis itu sudah mengalaminya selama beberapa kali. Dan kehilangan ayah ibunya kali ini membangkitkan trauma Khanza kecil akibat kecelakaan yang menimpa gadis itu beberapa tahun yang lalu. Yang naasnya itu juga merenggut nyawa orang tua kandung Khanza.
"Saya sudah memberi obat penenang juga pereda demam. Namun, meski kondisi Khanza mungkin setelah ini akan terlihat membaik, ia harus tetap mendapat penanganan dari psikiater," ucap Dokter pada Barra yang hanya mendapat anggukan pelan dari pemuda itu.
Pekatnya langit malam seolah tengah mendeskripsikan perasaan dua kakak beradik yang masih berada di dalam ruang perawatan. Dokter benar, Khanza sudah merasakannya lebih dari satu kali. Yaitu saat ayah ibunya meninggal akibat kecelakaan yang akhirnya mengantarkan Khanza ke keluarga ini. Juga saat orang tua mereka pergi beberapa hari yang lalu.
Karena hal itu, wajar bila Khanza akhirnya menjadi seperti ini.
"Kakak ... "
"Khanza, kau sudah sadar?"
Tatapan gadis itu terlihat sayu ke arah Barra. Di mana pemuda itu langsung menggenggam tangan adiknya dan tersenyum agar Khanza merasa lebih baik setelah melihatnya.
"Jangan khawatir, kakak ada di sini. Lekaslah pulih."
.
Setelah kejadian hari itu. Sekilas tak tampak ada yang berbeda dari keluarga mereka. Selain Barra yang harus menyiapkan segala jenis keperluan untuk Khanza. Mulai dari sarapan, bekal makan siang. Lalu beberapa hal yang biasanya dilakukan oleh ibu mereka, kini harus Barra yang menggantikannya.
"Mulai besok Khanza saja yang membuat sarapan. Kakak tidak perlu lagi bangun pagi pagi hanya untuk memasak," ucap Khanza pada Barra saat mereka hendak melakukan sarapan pagi bersama-sama di meja makan.
"Kenapa? Masakan kakak tidak seenak ibu ya?"
Gadis itu selama beberapa saat termenung. Menatapi Barra dengan sorot yang tak dapat Barra mengerti.
"Kakak, kakak juga bersedih kan, atas kematian ayah dan ibu?"
Pertanyaan Khanza membuat Barra terdiam. Yang membuat Khanza akhirnya melanjutkan kalimat yang selama ini begitu ingin ia katakan. Namun, tertahan di benaknya.
"Semenjak kepergian ayah dan ibu, Khanza tak pernah melihat kakak menangis. Kakak selalu terlihat tenang. Seolah tanpa mereka pun kehidupan kita masih bisa terus berjalan. Apa kakak tidak merasa kehilangan sama sekali? Apa ... Kepergian ayah dan ibu tak mengubah hidup kakak sedikit pun?" Kali ini Khanza mengatakannya sambil berurai air mata. Rasanya begitu menyedihkan saat ia hanya merasa kehilangan sendirian.
Di hadapan Khanza, kakaknya selalu bertindak seolah semua baik-baik saja. Bahkan Barra bisa tersenyum dan tertawa ceria bersama Daris di rumah mereka. Sementara Khanza, untuk bertahan sampai sejauh ini ia merasa begitu kesulitan. Malam-malam nya terasa sangat panjang. Jika bukan karena terapi dan obat yang Psikiater beri, sepertinya Khanza masih merasa sulit untuk tidur sampai saat ini.
"Kau benar. Kehidupan harus terus berjalan walau tanpa ayah dan ibu," jawab Barra. Meletakkan air mineral di hadapan Khanza.
"Manusia tidak bisa terus hidup dalam rasa kehilangan. Sekuat tenaga, walaupun susah, mereka harus bangkit untuk menghadapi esok hari. Tersenyumlah. Ayah dan ibu juga tidak suka melihatmu seperti ini." Tangan Barra menghapus air mata Khanza. Membuat gadis itu tak bisa menjawab apa-apa.
Mungkin benar yang dikatakan Barra. Manusia tak bisa terus terpaku dengan rasa kehilangan mereka. Harus melakukan sesuatu agar kekosongan itu terisi kembali dengan semestinya. Yaitu menjalani hari seolah semuanya tak terjadi apa-apa.
Menghapus sisa-sisa air matanya sendiri, Khanza memasukkan makanan dengan begitu lahap. Berusaha mengenyahkan bayangan ayah dan ibunya, yang biasanya selalu ada bersama mereka menikmati makanan di pagi hari. Meskipun hal itu membuat air mata Khanza menetes lagi. Dan lagi.
.
Suara aliran sungai di belakang rumah, adalah satu-satunya hal yang dapat menenangkan Barra dari riuhnya suara dalam kepala.
Sebatang rokok dihisap kuat oleh pemuda itu, hingga kepulan asap mengudara sesudahnya.
Sementara di samping Barra, seorang sahabat yang telah lama membersamai pemuda itu juga terlihat. Daris. Mereka memperbincangkan suatu hal. Tentang apa saja yang akan Barra lakukan setelah semua properti dan aset yang orang tuanya miliki terjual untuk menutupi hutang.
"Jadi, kau mau membuka usaha di dekat kampus kita?"
"Ya. Masih ada sedikit sisa tabungan untuk aku dan Khanza. Aku akan menggunakannya menjadi penghasilan utama untuk memenuhi kebutuhan kami ke depan."
"Mau tidak mau kau memang harus melakukan itu, Barra. Tapi tenang saja, aku bisa menjadi asistenmu nanti."
Hal itu membuat Barra tertawa. Ia mengalihkan pandangan ke arah lain. Kembali memperbincangkan hal-hal yang membuat tawa mereka semakin terdengar keras dari arah kamar Khanza.
.
Selayaknya sosok pengganti orang tua. Seiring bertumbuhnya Khanza saat ini, Barra mulai dengan tegas mengajarkan nilai-nilai kehidupan pada gadis itu. Tentang apa saja yang boleh dilakukan, juga yang dilarang untuk seorang perempuan.
Meskipun tidak ada lagi sosok ayah dan ibu di dalam rumah mereka, Barra memastikan bahwa Khanza ... Tak akan kehilangan rasa kepercayaan.
Di bawah teduhnya mentari sore, Barra mengajari gadis itu pelatihan seni bela diri. Yang nantinya ia yakin akan sangat berguna untuk kehidupan Khanza ke depan.
Bersama dengan gugurnya dedaunan, Khanza merenggangkan otot-otot tangan, memukul udara, melayangkan tendangan. Kemudian Barra membenahi letak posisi tangan gadis itu, menunjukkan padanya bagaimana posisi yang benar. Lalu memerintah Khanza untuk mengulangi gerakan yang salah, seperti yang telah ditunjukkan oleh Barra.
Pantulan sinar matahari yang masuk melalui ventilasi kamar membuat mata Khanza menyipit karena silau.
Gadis itu mengucek matanya perlahan lalu menatap sekeliling dengan pandangan yang masih buram. Tatapan Khanza terhenti pada jam di dinding yang kini telah menunjukkan pukul sembilan pagi. Ia terkesiap. Buru-buru bangkit dari kasur dan setengah berlari membuka pintu.
Di ruang tamu terlihat Barra tengah membersihkan kaca jendela setelah membuat sarapan untuk mereka. Khanza berjalan mendekat. Duduk di sofa yang tersusun membentuk hurup L di ruang tamu. Memandang kakaknya dengan penuh arti. Sosok yang menjadi pengganti orang tuanya selama ini.
"Kenapa tidak membangunkan Khanza, kak? Khanza kan jadi tidak enak bangun kesiangan."
Mendengar suara sang adik, pria itu menoleh. Menatap seorang gadis bermata cerah. Dengan bibir mengembang yang sempurna. Tidak terasa, waktu terus berjalan hingga kini Khanza telah duduk di bangku SMA kelas tiga. Sementara Barra, setelah menyelesaikan pendidikan sarjananya, pria itu menjadi guru di sekolah Khanza.
"Mandi sana. Kakak sudah menyiapkan sarapan," ucap Barra.Yang membuat Khanza sejenak terdiam.
"Hari ini kakak mau ke mana?" tanya gadis itu.
"Ke toko. Ada apa?"
Senyuman yang semula masih merekah di bibir Khanza perlahan memudar. Tatkala ia mendengar bahwa di hari minggu pun Barra masih tetap tak berada di rumah.
Kesibukan Barra selama ini ... telah mengukur jarak di antara keduanya. Sehingga terkadang membuat Khanza begitu merindukan momen-momen saat mereka masih sering bersama dulu.
Namun, sudahlah. Khanza juga tidak mau mendramatisir suasana. Bagaimanapun Barra berjuang keras sampai sekarang itu demi kehidupan mereka.
"Tidak apa-apa. Nanti Khanza akan bawakan bekal."
Menanggapi itu, Barra hanya terdiam. Sedikit memperlihatkan senyuman.
.
Suara gebrakan meja yang terdengar di sudut kantin sekolah, membuat seisi ruangan menoleh dan mendapati seorang siswi dikerumuni oleh beberapa gadis lain dan tengah dirundung oleh mereka.
Raisa yang merupakan ketua dari gadis-gadis itu menyiram minuman ke atas rambut Diana. Lalu memukulinya secara brutal. Membuat seisi kelas spontan melongo dan menatapi Diana dengan raut wajah entah. Antara kasihan juga kebingungan, karena tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Alasannya jelas, karena yang melakukan itu semua adalah Raisa, putri salah satu pejabat di kota mereka yang memiliki pengaruh besar di sekolah.
Merasa ada yang tidak beres, Khanza yang tadinya hanya sedang berdiri di depan etalase untuk memesan makanan, akhirnya mendekat untuk mengetahui lebih jelas apa yang terjadi.
Dan tindakan yang ada di hadapan Khanza, membuat gadis itu tanpa pikir panjang langsung masuk ke kerumunan untuk menghentikan Raisa.
"Apa yang kau lakukan?" Raisa menatap tajam Khanza dengar raut wajah tidak suka.
"Harusnya aku yang bertanya. Apa yang sedang kau lakukan?" Khanza balas menatap gadis itu. Tanpa takut sama sekali.
"Jangan ikut campur. Ini urusanku dengan dia."
"Kau melukainya. Itu sudah menjadi urusan sesama manusia."
Mendengar itu Raisa spontan tertawa. Sementara ke tiga temannya sudah melakukan ancang-ancang untuk menyerang Khanza, namun, masih di tahan oleh Raisa.
"Khanza. Walau kakakmu salah satu guru di sekolah ini. Itu tak menjamin bisa melindungi mu. Kau tau siapa ayahku, kan?"
Sejenak Khanza terdiam. Ia tentu tahu siapa ayah Raisa. Serta risiko berurusan dengan gadis di hadapannya adalah dikeluarkan dari sekolah. Akan tetapi, melihat ketidak adilan berada di depan mata Khanza, itu membuat jiwa kemanusiaan Khanza sangat terluka. Ia tidak bisa membiarkan Raisa bersikap semena-mena. Apalagi yang Khanza tahu, Diana bukanlah siswa yang suka mencari masalah.
"Aku beri kesempatan padamu. Jangan ikut campur. Kau tak akan dalam masalah."
Terdiam. Khanza menyempatkan diri berpikir sejenak. Namun ...
"Terserah kau mau melakukan apa. Yang jelas aku hanya mau menolong salah satu temanku." Gadis itu buru-buru menarik tangan Diana, akan tetapi pergelangan tangannya tiba-tiba dijegal.
Melihat bagaimana Raisa kemudian mengangkat tangannya lalu hendak melayangkan pukulan kepada Khanza.
Untungnya Khanza adalah atlet bela diri di sekolah mereka, sehingga bisa dengan mudah gadis itu menahan pergelangan Raisa. Bahkan saat teman-teman Raisa melemparkan benda apa saja ke arah Khanza. Gadis itu bisa dengan cepat menangkis itu semua.
"Hentikan, Raisa. Kau tau, aku bukan lawan yang sepadan untukmu," tukas Khanza yang membuat Raisa semakin murka. Apalagi tangan Khanza yang sudah berhasil mengunci Raisa di belakang tubuhnya, sehingga gadis itu tak bisa melakukan pergerakan apapun lagi.
"Brengsek kau, Khanza! Tak ada takutnya sama sekali!" ucap Raisa terdengar kesal dan tidak terima.
Akhirnya karena sedari awal Khanza memang tak berniat mencari keributan, gadis itu melepaskan Raisa. Membiarkan gadis itu dihampiri oleh teman-temannya dan menatap nyalang Khanza seolah ingin menerkam.
Namun, Khanza tidak peduli. Yang ia lakukan kemudian hanyalah menatap Raisa sekilas lalu membawa Diana pergi.
Khanza membantu mengeringkan rambut Diana yang basah akibat air yang Raisa tumpahkan. Gadis itu juga mengobati luka-luka kecil di wajah Diana menggunakan obat merah yang tersedia di Unit Kesehatan Sekolah.
"Khanza, terima kasih," ucap Diana menundukkan kepala.
"Kenapa mereka merundungmu?" tanya Khanza. Akan tetapi Diana tak menjawabnya.
"Mengatakannya atau tidak, tidak akan merubah Raisa sama sekali. Ia bisa saja datang lain kali dan kemudian menyakitimu lebih dari pada ini." Gadis itu menjelaskan sambil menoleh pada anggota PMR yang menanyakan Khanza suatu hal.
"Raisa selalu ingin aku mengerjakan PR-nya. Biasanya aku kerjakan, tapi, kemarin sore aku sakit, jadi tidak bisa datang menemuinya saat Raisa meminta. Oleh sebab itu dia marah."
"Jadi selama ini kau yang selalu mengerjakan PR Raisa?"
Diana mengangguk.
Pantas saja di satu bulan terakhir, nilai ulangan Raisa memang selalu lebih tinggi dari pada Khanza. Itu karena Diana--penerima beasiswa di sekolah mereka--yang mengerjakan tugas-tugas Raisa.
"Setelah ini kau bisa melaporkannya pada guru. Buat bukti visumnya juga kalau perlu."
Mendengar itu raut wajah Diana tampak berubah, seperti ada sesuatu yang menahan Diana untuk melakukannya.
"Kenapa?"
"Tak perlu memperluas masalah ini, Khanza. Dan sebaiknya kau juga jangan ikut campur. Melihat Raisa tadi, sepertinya dia benar-benar marah padamu. Aku tidak mau hanya karena aku kau jadi dikeluarkan dari sekolah."
Menanggapi hal itu Khanza tersenyum. Menyentuh kedua pundak Diana lalu menatap wajah polos gadis itu.
"Tidak perlu mencemaskan aku. Kau pikirkan saja dirimu sendiri. Aku tidak yakin setelah ini Raisa akan melepaskanmu kalau kau tidak membuat peringatan padanya. Setidaknya biarkan para guru tahu bagaimana perilaku buruk Raisa."
Hening. Diana lebih memilih untuk tidak menjawab. Sementara Khanza, gadis itu mulai bangkit berdiri.
"Terserah apapun keputusan mu, Diana. Aku tidak akan memaksa. Tapi kau harus belajar melindungi dirimu dengan baik. Jangan biarkan mereka melakukan hal ini lagi."
Ucapan gadis itu membuat Diana termenung sejenak. Mempertimbangkan apa yang Khanza ucapkan. Sebenernya apa yang dikatakan Khanza memang benar. Namun, Raisa takut hal ini hanya akan mempersulit kehidupannya ke depan.