Duh, kenapa setelah melihat camilan yang dibawa Lili, malah menjadi teringat-ingat dengan perkataannya itu. Aku baru sadar, ia sebelas dua belas dengan Nisa; ratu bucin. Bedanya, kalau Lili lebih sopan disertai malu-malu kucing. Sementara Nisa ceplas-ceplos dengan suara cemprengnya yang khas.
Akan tetapi, kalau disuruh memilih, tak ada yang kuberatkan. Alasannya? Keduanya sama-sama wanita di luar kriteriaku. Bukan soal kasta atau keturunan, apalagi seperjuangan, melainkan tidak ada rasa untuk mereka.
Akan tetapi, kalau dipaksa, aku lebih memilih Lili. Aku menggeleng, tidak mungkin. Ia sudah memiliki kekasih, aku pun tidak ingin dicap sebagai perebut pasangan orang.
Jadi, apakah harus memilih Nisa? Oh, belum tentu. Masih banyak perempuan dewasa di luar sana.
"Den, dipanggil Nyonya," ucap pekerja tukang kebun atau suami Mbok Dami. "Didawuhi ke ruang tamu."
(Dipanggil ke ruang tamu)
"Baik, Pak. Terima kasih," balasku disertai anggukan.
Bangkit dari duduk, kuputuskan menaruh nampan di dapur sebelum melangkah ke rumah bagian depan.
Setelah sampai di dapur, kulihat wajah Lili yang cemberut. Kenapa dia?
"Kenapa monyong gitu, Li? Lagi ada masalah sama pacarnya?" tanyaku, membuatnya melengos.
"Ndak kenapa-kenapa." Ia menaruh sendok di meja keramik dengan keras. "Tahu begini, ndak akan pernah menaruh perasaan."
"Menaruh perasaan ke siapa?"
"Ah, pingin tahu saja. Sudah, sana keluar, ditunggu Ibu dari tadi!"
Aku menuruti perintahnya, tetapi rasanya ada yang berat. Serasa aku yang dimaksud ucapannya. Ya, bukan ke-PD-an, lebih ke menebak saja. Kalau memang iya, berarti aku salah dan tidak seharusnya memberi ruang untuk pengharapannya.
Seraya berjalan ke depan, aku menggeleng cepat. Mungkin yang dimaksud itu orang lain.
"Ilyas!" panggil Mama, tersenyum ke arahku.
Bukan menanggapi panggilan Mama, justru fokusku pada gadis di depannya yang mendongak, lalu tersenyum ke arahku. Manis, semanis warna jilbab dan baju panjangnya yang berwarna merah muda.
"Si–siapa dia, Ma?" bisikku, mendekat pada Mama.
"Anak teman Mama. Kamu mau kenalan? Dia baik, lho."
"Jadi, sekarang masih kuliah?"
Gadis bernama lengkap Alesha Najma yang kuketahui dari Mama itu mengangguk dengan pandangan menunduk.
"Tinggal sama Mama Papa?"
"Ha!" Ia tersentak, menatapku dengan pipi merona.
Apakah pertanyaanku salah?
"Ti–tinggal sama mama papa saya."
Aku mengembuskan napas. Menatap depan dengan datar. Sepertinya ia menangkap maksud lain dari pertanyaan tadi.
Suasana kembali canggung, aku tak tahu lagi harus membahas apa. Ia pendiam, introvert sepertinya. Berbeda jauh dengan Nisa yang bawel dan bisa mencairkan suasana kelas, meski sering menyebalkan.
Eh, kenapa malah teringat Nisa?
Kutarik napas dalam-dalam, mengurangi kejenuhan yang mendera. Ini gara-gara Mama, meninggalkanku dengan perempuan yang masih menunduk itu. Alasannya ingin membuatkan minum, padahal ada Lili atau Mbok Dami yang bisa membuatkan.
"Emm, Mas Ilyas sudah lama di rumah?" Akhirnya, Alesha memberi pertanyaan juga.
"Sudah. Sekitar tiga bulan di sini."
"Oh."
Lagi, setelah menjawab dengan dua huruf itu, ia kembali diam seribu bahasa. Sementara aku sibuk dengan pikiran sendiri, mencari topik untuk dibahas. Namun, entah sudah berapa puluh detik, tidak ada satu kata pun melintas di pikiran.
Sangat canggung. Rasanya bukan menjadi Ilyas yang biasanya.
Apa karena dia cantik, aku menjadi grogi?
"Lho, kalian kenapa cuma diam saja?" Mama datang membawa tiga gelas minuman. "Kamu itu biasanya banyak omong, kok, malah cuma diam, Yas?"
Aku yang salah? Padahal, gadis itu juga sama; hanya diam. Bahkan ia membalas dengan satu kata pendek yang jelas, padat, dan singkat. Memang, ya, laki-laki itu serba salah. Diam salah, banyak bicara juga salah.
"Ini, diminum, Nak Lesha. Kuenya juga dicicipi. Buatan Tante sendiri, loh." Mama duduk di sampingku, tetapi wajahnya tak berpaling menatap wanita itu.
"Baik, Tante," jawab Alesha sambil tersenyum.
Sangat kalem. Kriteriaku sekali. Perempuan berjilbab yang diharap mampu menjaga harga dirinya, bisa menjaga setiap tutur kata, dan tentunya anggun.
Terlalu berlebihan sepertinya. Belum tentu juga ia mau denganku.
"Besok libur, kan, Yas?" tanya Mama yang kubalas dengan anggukan.
"Kalau gitu, tolong temani Alesha seminar, ya."
Aku terbelalak, begitu pun dengan gadis itu. Tak sengaja, mata kami berserobok, lalu sama-sama memalingkan wajah.
"Tidak usah, Tante. Nanti merepotkan," tolak Alesha. Lalu memandang Mama dengan tatapan tak enak.
"Nggak apa-apa, Sayang. Lagian Ilyas juga libur, daripada berangkat sendiri. Tante yang akan minta izin sama mamamu. Pasti dibolehkan."
"Alesha sendiri saja, Tante, supaya Mas Ilyas bisa istirahat."
"Sudah, nggak apa-apa. Kamu bisa, kan, Yas?"
Aku mendadak tidak bisa menjawab. Tidak menolak, tidak juga mengiyakan. Namun, demi menyenangkan Mama, aku mengangguk saja.
Mama tersenyum.
Tiba-tiba bayangan wajah siswi itu hadir begitu saja. Ada rasa yang tidak bisa dijelaskan. Seperti takut ia akan ... ah, peduli apa? Kenapa harus muncul di saat-saat seperti ini? Lagi pula, aku tidak akan mungkin mau dengannya. Kalau sampai kami bersama, apa nanti kata para fans?
"Ilyas bisa, kok. Kamu tenang saja, Lesha. Nggak ada yang merasa direpotkan."
"Eh! Emm, maksudnya bisa apa, Ma?"
Kedua wanita itu menatapku bersamaan. Tatapan Mama tajam, sedangkan Alesha menampakkan raut kecewa.
Bisa apa? Membuka hati untuknya? Kalau itu, aku belum siap. Semuanya butuh waktu, bukan?
"Mengangguk tanda setuju, jadi Mama anggap kamu bisa mengantarkan Alesha besok menghadiri seminar di gedung dekat pendopo kota. Jangan ada penolakan!"
"Kalau Mas Ilyas tidak bisa, sebaiknya Alesha sendiri saja, Tan."
"Bisa! Iya, kan, Yas?"
"Emm ...."
"Iya. Bisa, kok."
Pasrah sudah.
Menurut saja perintah orang tua. Hanya mengantarkan, tak masalah, 'kan?
Ponselku bergetar, menandakan pesan masuk melalui aplikasi hijau. Penasaran, segera kubuka.
[Pak Sayang!]
Mataku langsung melotot mendapati nomor baru mengirimkan pesan tersebut. Tidak ada sopan sama sekali. Aku ini seorang guru, bukan bapak kesayangannya.
Sebelum membalas, aku pamit pada Mama untuk ke kamar. Beliau sempat memicingkan mata, tetapi kuusap pundaknya meyakinkan bahwa aku lelah.
Setelah sampai, kurebahkan diri di kasur. Memandang langit-langit yang terlukis estetik. Teringat pesan tadi, jariku meluncur pada chat yang masuk.
[Siapa?]
Terkirim.
Tak lama, ponselku bergetar lagi. Segera kubaca balasan dari sana.
[Calonnya Bapak. Masak lupa? Atau pura-pura nggak tau biar saya yang menjelaskan pakai kata-kata romantis?]
Haish!
Bar-bar sekali dia. Aku yakin, seseorang di balik nomor tak dikenal itu pasti Nisa. Anak bucin kelas kakap yang tergila-gila padaku.
Tak salah lagi, profil WA terpasang fotonya dengan pose berdiri, sedang tangan satunya menenteng pinggang.
Sempat speechles, tetapi buru-buru kutekan tombol kembali. Pesonanya jangan sampai mengalihkan perhatianku.
[Kok, cuma di-read, sih, Pak? Masih ngerangkai kata-kata buat reply, ya? Jangan sungkan, hati saya terbuka buat Bapak kok. Oh ya, besok kan libur, CFD yuk!]
Membaca pesan itu, membuat bulu kudukku merinding.
Baru kali ini dibucinin anak didik sendiri, apalagi diajak jalan. Makan apa dia bisa se-bar-bar itu?
Anehnya, kenapa ada yang berdesir di dalam sini?
[Saya nggak bisa!] balasku.
[Kenapa? Nggak bisa nolak, ya?]
Elah!
Ini anak siapa? Awas saja besok, nilainya kukurangi. Salah siapa sudah lancang dengan gurunya.
[Pak, bisa, dong. Penting banget, nih.]
Penting apanya?
[Saya sudah ada janji sama orang lain.]
Mengirim itu, ada rasa tidak enak. Takut mengecewakannya. Kalau dia nekat, bisa-bisa menghadangku di sekolahan.
Huh! Kenapa harus memikirkan itu? Bodo amat bagaimana perasaannya. Siapa suruh dia begitu? Aku juga tidak mengharapkannya.
[Sekali aja, Pak. Pliss!]
Gadis ini ... memang keras kepala. Apakah ia saudaranya batu?
[Kalau penting, bicarakan di sini saja.]
Setelah menekan tombol send, aku memutuskan membersihkan diri. Meraih handuk yang tergantung di tempat jemuran, lalu masuk kamar mandi.
Beberapa menit, aku telah mengenakan kaos putih dan celana santai. Duduk di samping kamar sembari menunggu magrib tiba.
Memandang senja pun sangat mudah karena kamarku terletak di sayap kiri yang artinya sebelah belakang. Berhadapan langsung dengan sawah yang terbentang luas juga tempat terbenamnya matahari.
Aku melongo setelah membuka ponsel yang ternyata ada panggilan tak terjawab. Mengecek nomornya, lagi-lagi Nisa.
Niat mengabaikan, tetapi jari malah menekan pesan masuk darinya.
[Nggak bisa, Pak. Nisa mau ngomong langsung. Ini menyangkut hati, perasaan, dan masa depan. Tolong Bapak mengerti.]
[Kenapa nggak bales? Udahlah, bisa, ya. Plisss.]
[Pak.]
[Pak Sayang.]
[Tuh, kan, dicuekin. Bapak gitu amat sih jadi guru. Nggak takut karma? Oh, jangan-jangan mau ngasih kejutan besok ya. Makanya cuek dulu, perhatiannya besok. Iih, Bapak so sweet banget, sih.]
[Ya udah. Aku tunggu jam enam pagi di alun-alun, ya, Pak. Bye-bye!]
Ya Tuhan!
Aku harus bagaimana? Gadis itu memang terlalu berani. Terlanjur banyak berharap pula.
Dia menyukaiku, tetapi bukan berarti aku harus membalas perasaannya, bukan? Pantang bagiku mencintai siswa. Bagiku, ia atau siapa pun siswa itu masih memiliki masa depan yang cerah. Masih panjang perjalanan yang harus dilalui untuk mencari jati diri.
Tak salah memang ketika masa sekolah merasakan jatuh cinta sebab beranjak dewasa. Namun, bukan cinta buta seperti ini yang kumaksud. Bukan merasa sok-sokan dengan jabatan atau pendidikan, aku hanya tidak ingin membuat gadis itu makin terpelosok pada hal asmara.
Mungkin, kalau tidak mengiyakan suruhan Mama, sudah pasti kutemui gadis itu dan mengatakan penolakan perasaannya. Aku ingin dia menjauh. Tidak pantas rasanya seorang siswa menyukai pengajar, bagiku siswa tugasnya belajar bukan mengejar cinta gurunya.
Magrib tiba, aku langsung masuk kamar, lalu mendirikan salat tiga rakaat. Setelahnya, berzikir dilanjut membaca al-qur’an. Semua itu kulakukan dengan rutin. Sehari tidak melakukannya, terasa ada yang kurang.
Menjelang malam, mengoreksi tugas para siswa atau sekadar membuka WA grup untuk memberi tugas pada mereka. Aku memang berbeda dengan guru yang lain. Selalu memberi tugas dadakan melalui grup. Namun, tetapi esoknya tetap kuberi di sekolah agar tidak ada yang beralasan tidak membuka grup atau kuota habis.
Kalau sedang bosan, aku membuka sosial media di aplikasi Facebook. Menyapa teman-teman FL atau di grup menulis besar. Tak jarang pula, aku mem-posting cerita pendek, puisi, atau sekadar quotes.
***
"Ilyas, bangun, Nak!" Aku menggeliat, mendengar teriakan Mama dari luar.
"Iya, Ma."
Melihat jam menunjukkan pukul 04.00, aku bergegas bangun, lalu mengambil air wudu. Seperti biasa, setelah salat Subuh, olahraga di samping kamar. Jadi, jangan heran kalau tubuhku ideal, perut six pack, dan terlihat selalu bugar.
Tak satu hari pun kulewati berolahraga. Kebiasaan ini sudah kumulai sebelum Papa meninggal beberapa tahun yang lalu.
Selesai melakukan rutinitas dan siap-siap mengantar Alesha, kuturuni anak tangga satu-persatu.
"Sudah siap? Ditunggu Alesha dari tadi, lho, kamu ini."
Pandanganku tertuju pada perempuan yang duduk di sebelah Mama.
Alesha?
Ia terlihat semakin manis dengan gamis hitam serta jilbab lebarnya. Belum lagi senyum memabukkan itu, sungguh memesona.
Namun, rasanya biasa saja. Berbeda saat melihat senyum manis Nisa. Eh, anak itu, semoga tidak nekat datang ke alun-alun. Bukan salahku, kalau sampai dia nekat datang yang sudah jelas-jelas kutolak semalam.
"Makan dulu, Yas," perintah Mama, langsung kuturuti.
"Nanti, jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya."
"Mobil?"
Mama mengangguk. "Mau pakai motor butut milikmu itu? Apa kata mama Alesha nanti, Yas. Masak wanita secantik Alesha dibonceng pakai motor bututmu itu."
Aku hanya bisa menghela napas. Lagi-lagi harus menuruti permintaan Mama.
Usai makan, aku dan Alesha langsung berangkat. Menembus jalanan kota yang padat kendaraan. Maklum, ini hari Minggu. Para pekerja dan anak sekolah pun libur.
Beberapa menit di jalan, kami telah sampai. Mobil kuparkirkan di depan pendopo, tempat seminar yang diadakan.
"Makasih, ya, Mas."
Kuacungkan jempol sambil tersenyum.
"Kalau Mas mau pulang, silakan. Nanti saya pulang sendiri saja."
"Saya tunggu. Ini pesan Mama."
Ia mengangguk. "Ya sudah, saya masuk dulu, Mas. Assalamu’alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Selepasnya, ia membuka pintu mobil dan berjalan ke dalam.
***
Tidak ingin perempuan itu mencariku di mana-mana, maka kuputuskan menunggu di mobil saja. Meski bosan karena hanya duduk seraya mendengarkan murotal, aku akan tetap di sini. Kalau sampai Alesha mencari dan tidak ketemu, lalu ia pulang sendiri, aku yang dimarahi Mama.
Pukul 11.00, akhirnya perempuan itu keluar dengan menenteng paper bag yang kutebak itu souvenir dari panitia seminar. Ia sempat celingukan mencari mobilku yang terparkir, tetapi akhirnya berjalan ke sini setelah kulambaikan tangan.
"Mas menunggu saya di sini?"
Aku mengangguk. "Daripada merepotkanmu harus mencari di mana-mana, lebih baik menunggu di sini saja."
"Oh. Terima kasih."
Kuputar balik mobil, lalu membelah jalanan lagi.
"Mas bisa temani Lesha ke Perpustakaan Daerah, nggak?"
"Bisa."
Lima belas menit di perjalanan, kami sampai di parkiran perpustakaan. Aku memutuskan menemaninya sampai dalam, kebetulan ada buku yang kucari.
Di dalam, aku dan Alesha sibuk membaca buku masing-masing, setelah melaksanakan salat Zuhur di musala gedung ini. Awalnya tenang, tetapi lama-lama sepi dan membosankan. Meski dengan obrolan kaku, setidaknya ada topik pembicaraan.
Hingga tak sadar, waktu menunjukkan pukul 15.00. Aku menengok pada gadis itu yang kini sibuk kembali dengan buku di tangan.
“Sudah sore. Pulang, ya?”
Alesha mendongak, lalu mengangguk.
Ketika sampai di tempat parkir, aku segera melajukan mobil. Membelah air yang turun membasahi bumi. Menembus angin sore yang dinginnya menembus kulit.
"Mas, mampir beli cilok di alun-alun, ya. Hujan begini sepertinya enak makan yang hangat-hangat," pinta Alesha yang langsung kusetujui.
Kebetulan jalan pulang melewati alun-alun kota.
Hujan masih tersisa rintik gerimisnya. Aku turun mobil, lalu mendekati pedagang kaki lima yang menjual cilok.
"Pak, cilok lima bungkus, ya," ucapku, diangguki sang penjual.
Saat mataku menyapu sekeliling, ada satu titik yang mengalihkan perhatian. Gadis yang duduk di bawah patung durian itu ... aku menyipitkan mata.
Nisa?
Masih tidak percaya, aku berkali-kali mengucek mata dan mencari celah untuk melihatnya lebih dekat.
Deg!
Dadaku nyeri. Benar. Perempuan itu Nisa.
Jangan-jangan ... ia menungguku sejak pagi.