Bab 2

"Sayang, mas pulang agak malam ya. Biasa, meeting akhir bulan. Mas harus kerja keras, supaya anak-anak kita terjamin masa depannya," ucap Bandi seraya merapikan kerah kemeja.

"Pulang jam berapa?" Dira bertanya lembut.

"Yaa, secepatnya selesai. Nanti mas telepon. "

"Hampir tiap hari mas pulang malam. Apa gak ada yang bisa gantiin tugasnya?" Lagi suaranya sangat lembut, tak menyiratkan apapun.

"Bos percaya sama mas. Ini peluang bagus, Sayang. Makin banyak kepercayaan didapat dan mas bisa kerja dengan baik, makin besar peluang mas naik jabatan."

"Tapi, rasanya berlebihan kalau mas pulang malam hampir tiap hari." Kali ini suara Dira sedikit gamang.

"Sayang, tumben kamu komplain? Sudah jangan dipikirin, biar mas yang kerja keras, kamu santai di rumah. Atau mau liburan ke mana?"

Ya, selalu seperti ini. Dira menyudahi pembicaraan dengan jawaban yang mirip dari waktu ke waktu.

Dira menghentikan kegiatan menyapukan make-up ke wajah cantiknya. Rutinitas tiap pagi ketika mengantarkan suaminya berangkat kerja, walau hanya sampai depan pintu.

Bandi Sahertian sosok perfeksionis. Dira harus selalu tampil sempurna, rapi dari ujung kaki hingga rambut. Walau hanya di rumah saja. Begitupun keadaan rumah, selalu rapi. Jangan harap menemukan barang-barang tak terpakai, masih tersimpan di lemari. Bandi akan segera membuangnya, sekalipun masih bagus.

Kadang hal itu membuat Dira lelah, tapi tak pernah diutarakannya. Disimpannya semua beban di hati terdalam, berusaha menikmati hidup dengan syukur. Banyak orang di luar sana menginginkan kehidupan seperti dirinya, mengapa ia harus mengeluh?

Ditatapnya sang suami yang terlihat gagah di usia menjelang kepala empat. Dira tersenyum, berdiri lalu memeluk Bandi.

"Mas, jangan terlalu banyak ambil kerjaan. Nanti lelah."

"Lelahnya mas akan hilang, asal liat kamu tersenyum, Sayang." Bandi mengecup keningnya, seraya mengeratkan pelukannya.

Lelaki itu memang pintar merangkai kata, bukan hanya kata tapi sikapnya yang membuat hati meleleh, beda dengan cerita teman-temannya, tentang suami mereka yang cuek bebek. Hal itu membuat Bandi kerap menjadi perbincangan di kalangan teman-teman Dira. Mengingat itu, Dira tak bisa menyembunyikan rasa bangga. Sosok sempurna Bandi di mata teman-temannya menjadi penghibur hatinya yang kerap merasa jenuh.

"Jangan lupa, ajak anak-anak jalan ntar sore, beliin mainan yang mereka suka." Keduanya berjalan bersisian ke luar kamar.

Dira mengiakan ucapan suaminya.

Seketika Dira teringat, tas kerja Bandi ketinggalan di kamar. Dira kembali sementara Bandi menuju ruang tamu dan mengenakan sepatunya.

Menenteng tas kerja berwarna hitam, Dira merogoh isinya untuk memeriksa kelengkapannya. Barangkali Bandi lupa membawa dompet, batinnya.

Kening Dira mengernyit, saat tangan memegang sesuatu berbahan lembut. Penasaran, Dira menarik barang itu ke luar, ia melongo. Bandi pasti ingin memberi kejutan semalam, tapi lupa diberikannya, batin Dira. Bibirnya tersenyum sumringah. Lelaki itu, selalu saja punya cara untuk menyenangkan hatinya. Bagaimana bisa ia mengeluh, bila ia memiliki suami yang didambakan banyak wanita di luar sana.

"Mas, ini …." Dira tersenyum malu, saat telah berada di dekat suaminya. Di tangannya, ia memegang satu set lingerie berwarna hitam masih terbungkus plastik transparan.

Entah salah lihat atau perasaannya saja, Dira melihat manik lelaki itu gelagapan. Sesaat timbul perasaan gamang di hati Dira. Apakah benda itu memang untuknya? Dira mengabaikan rasa penasaran ketika Bandi menunjukkan sikap manisnya.

"Aah, sayang. Semalam lupa mau kasi kejutan buat kamu. Ya udah simpan sana, buat nanti," cetusnya tertawa renyah, lalu menarik tangan Dira dan menangkupkan ke pinggangnya.

"Mas berangkat, Ya." Sebuah kecupan didaratkan di kening sang istri. Langkahnya terlihat agak terburu, Dira berusaha mengabaikan rasa gundah yang tiba-tiba mendera.

Bukan sekali dua kali ia bertengkar dengan Bandi perihal curiga yang tak beralasan akan kehadiran wanita lain, tetapi semua kecurigaan Dira dimentahkan oleh sikap manis Bandi. Dengan pelukan, ciuman dan hadiah, Bandi berhasil mengembalikan bahagia Dira.

Dira istri yang bahagia. Benarkah? Bila saja rumahnya tak berhadapan dengan rumah Anti, mungkin ia tak perlu membandingkan hidupnya dengan pasangan lain.

Dira menatap rumah minimalis tepat di depan rumahnya. Tinggal berhadapan dengan rumah Anti, membuat Dira tak bisa menutup mata begitu saja. Aktivitas suami istri itu sehari-hari terpampang jelas di depannya.

Rutinitas pagi, ketika Fian akan berangkat ke kantor, menjadi pemandangan yang menarik untuk dilihat.

Fian dan Anti berbicara seperlunya, mengucapkan salam, lalu Fian berangkat. Anti tetap pada kegiatan menyapu halaman atau menjemur pakaian. Ibu dua anak yang terlihat cantik dengan penampilan sederhana itu, mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga sendiri. Tiada pembantu, seperti halnya di rumah Dira. Dua orang bibi membantu pekerjaan rumah tangga dan mengurus kedua anaknya.

"Kasian kamu capek, Sayang. Biar bibi aja yang kerjain, kamu bantu sebisanya saja," ujar Bandi seringkali. Lelaki itu memang sangat perhatian. Bahkan cenderung berlebihan.

Berbeda dengan Fian, ia kerap terlihat membantu Anti mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga. Mereka jarang bersikap mesra, tapi Dira bisa melihat dengan jelas betapa sayangnya Fian pada Anti. Sementara Anti, ia adalah wanita yang tidak banyak bicara. Sulit untuk mengetahui apakah ia sedang senang atau sedih.

Sering ia berandai-andai, seandainya Bandi bersikap lebih santai, mungkin batinnya tak selelah ini. Seandainya ia tak harus selalu tampil sempurna, mungkin hidupnya lebih nikmat. Berperan sebagai istri sempurna, menampilkan setiap aktivitas atau pemberian sang suami di medsos atau sekedar story WA, hanya untuk menunjukkan betapa sempurna hidup pernikahannyanya, kadang membosankan.

Tiada yang tahu, hatinya lelah.

Entah, melihat kebersamaan Anti dan Fian yang sederhana, membuatnya iri. Dengan daster lusuh pun, Anti tetap terlihat cantik dan Fian tampak tak pernah protes. Sedangkan Fian sendiri, ia lelaki tampan yang tak pernah berupaya menunjukkan ketampanannya.

Berbeda jauh dengan Bandi. Uban tumbuh sehelai saja, seperti ayam kegencet ban sepeda. Panik, padahal cuma uban.

Sementara Fian, kadang mengenakan sepatu warna orange, celana hitam, kemeja biru, dasi merah. Nggak pusing padu padan, tapi tetap aja dia terlihat tampan. Di lain hari, dengan santainya Fian mengenakan sandal lain sebelah, berjalan menuju warung. Jangan harap itu terjadi pada Bandi. Ia mengenakan pakaian harus matching dari bawah sampai atas. Sekedar jalan ke rumah pak RT saja, seperti mau kondangan.

Pernah Dira membeli tas yang modelnya ketinggalan jaman, menurut Bandi. Terpaksa Dira memberikan tas itu ke adiknya, padahal ia suka modelnya. Huum ... hidup ini memang aneh. Dengan semua kesempurnaan yang dimilikinya, ruang kosong di hatinya semakin hari semakin lebar.

Anti, betapa beruntungnya kamu punya suami seperti Fian, batin Dira nelangsa.

[Mas udah sampai di kantor ya, Sayang. I love u.] Bandi mengirim pesan satu jam kemudian. Lelaki itu selalu mengirimkan kabar bila telah tiba di kantor, agar Dira tak perlu mengkhawatirkannya.

Setelahnya, tanpa rasa bersalah Bandi juga mengirimkan pesan pada seseorang yang lain.

[Jangan lupa sarapan. Miss u.]

Bab 3

Perasaan Fian campur aduk. Ia masih sulit memahami apa yang terjadi pagi ini. Bagaimana mungkin Anti meminta cerai, dengan alasan yang menurutnya sangat sepele cenderung tak masuk akal. Di saat dirinya berpikir selama ini rumah tangganya baik-baik saja bahkan bisa dibilang tanpa riak di dalamnya.

Beruntung, Safa dan Mila—kedua putrinya yang berusia enam dan delapan tahun—sedang menghabiskan liburan di rumah neneknya, jadi mereka tidak perlu menyaksikan drama aneh ayah ibunya.

Fian menyusul istrinya ke kamar dan mengetuk pintu yang ternyata terkunci.

"Dek … Dek, buka pintunya. Biar abang jelasin dulu," panggilnya dengan suara memelas.

"Pergi! Tinggalin adek sendiri!" sahut Anti histeris, lalu disusul suara benturan benda-benda mengenai pintu. Ternyata seperti ini kalau Anti lagi marah, batin Fian. Ia merasa seperti baru mengenal sisi lain sang istri.

"Buka dulu, abang mau ngomong sesuatu. Abang 'kan harus berangkat ke kantor juga, Dek. Ayolah, abang gak bisa berangkat dengan keadaan begini," rayu Fian tak putus asa.

Senyap, tampaknya Anti mulai tenang. Tak terdengar lagi suara barang-barang dilemparkan. Kesempatan itu digunakan Fian untuk kembali bicara, berusaha mengambil hati istrinya.

"Abang janji, akan menuruti semua kemauan adek, asal jangan ngomong cerai lagi, ya."

Pintu tak juga terbuka, suara Anti pun tak terdengar.

"Ya udah, abang gak ke kantor ya. Nungguin adek keluar kamar," pungkasnya.

Buat apa ke kantor, bila meninggalkan istri dalam keadaan emosi, pikirnya. Pekerjaannya bisa dialihkan ke anak buah untuk sementara waktu. Sebagai manajer, ia dikenal dengan kinerja sangat baik. Sekali saja ijin tidak akan berpengaruh pada pekerjaannya.

Fian menyandarkan punggung di daun pintu. Perlahan ia meluruhkan tubuh hingga terduduk di lantai dengan kaki selonjoran. Matanya menatap nanar ke sekeliling rumahnya. Rumah yang dibangun dengan susah payah, sesuai dengan keinginan Anti baik desain maupun warna. Bagi Fian, tugasnya hanya bekerja, mencari uang yang halal bagi membangun keluarga kecilnya. Selebihnya biar Anti yang mengatur.

Salahkah itu? Kenapa harus serumit ini. Rumah senyaman ini ternyata tak cukup menyenangkan hati satu-satunya wanita, selain ibunya, yang pernah dicintai selama hidupnya.

[Abang gak romantis, jarang peluk-peluk, suka lupa hari-hari penting, ulang tahun kelahiran, ulang tahun pernikahan, gak pernah ngasih hadiah. Banyak lagi sebabnya.]

Ucapan Anti baru saja melintas kembali diingatan.

Ulang tahun? Baiklah bila itu memang penting. Fian mencoba mengingat tanggal ulang tahun Anti. Tanggal belasan? Ah bukan, sepertinya puluhan. Hmm ... sepertinya di bawah tanggal sepuluh. Fian makin merasa bersalah. Kenapa bisa lupa begini?

Ia membuka dompetnya barangkali bisa menemukan petunjuk di sana. Nihil. Apa mungkin di laci meja tv ada copy KTP terselip, pikirnya. Ia bergegas menuju ruang keluarga dan membuka laci meja. Tidak ada apa-apa di sana. Kembali diedarkan pandangannya ke sekeliling dengan frustrasi, matanya tertumbuk pada buku-buku catatan di atas meja di dekat dapur. Fian ingat, Anti sering menuliskan pengeluaran di buku itu.

Mungkin ada petunjuk. Nasib baik, secarik copy KTP milik Anti terselip di dalamnya.

Seketika Fian tersentak melihat tanggal lahir tertera, berkali-kali ia mengerjapkan matanya, 3 mei 1981. Ya, tidak salah, 3 mei 1981.

"Kemarin?" Fian mengusap muka dengan lesu. Kemarin, ketika jam kantor usai, dirinya ikut merayakan pesta ulang tahun rekan kantornya. Bodohnya aku, rutuknya. Hari ulang tahun istri sendiri dilupakan, malah ikut merayakan ulang tahun teman. Sepulangnya ke rumah, ia bercerita tentang betapa meriahnya pesta itu. Ia sama sekali tak menyadari perubahan di wajah Anti.

Pantas saja Anti diam sepanjang malam lalu ngamuk paginya. Seketika rasa bersalah menggelayuti dadanya yang lumayan bidang.

Semoga saja ia diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan bodoh yang diperbuatnya.

Fian mencoba mengingat berapa lama ia melewatkan momen ulang tahun istrinya. Sepertinya sejak tahun kedua pernikahan. Kenapa Anti tak mengingatkan saja soal itu?

"Dek, selamat ulang tahun," ucapnya dari balik pintu.

"Telat." Anti mejawab ketus dari dalam kamar.

"Yaa, maaf. Kemarin abang lupa. Jalan-jalan, yuk."

"Males."

"Adek mau dibeliin hadiah apa? Mas pergi sekarang cariin," rayu Fian tak putus asa. Dari dalam kamar terdengar pergerakan, ia berharap Anti membukakan pintu untuknya. Lama menunggu tak juga pintu terbuka, suara Anti pun tak terdengar lagi.

"Dek!" Fian terus mengetuk pintu.

Sejak menikah tak pernah didapatinya Anti ngambek seperti ini. Begitu marahnya dia ternyata

Menikah? Hmmm sudah berapa lama mereka menikah? Belasan tahun, tapi … tahun berapa?

Lelaki itu kembali ke ruang tamu, berjalan mondar-mandir mencoba mengingat kapan ia merayakan pernikahan. Berkas-berkas ada dalam kamar dan kamar terkunci.

Kacau!

Fian duduk termenung. Lalu tangannya mengambil ponsel dan mulai menyentuh layar, mencari icon galery. Ia kerap memotret anak-anaknya kala beraktifitas, bermain, belajar, makan bahkan sedang tidur. Betapa dirinya sangat mencintai keduanya yang berwajah sangat mirip dengan Anti.

Anti? Hmmm. Kembali Fian mengamati setiap gambar yang tersimpan di galery. Dari sekian banyak gambar, hanya ada sedikit gambar Anti. Seketika ia merasa bersalah. Betapa lalainya ia, tidak mengabadikan begitu banyak momen yang dilewatkan istri bersama buah hatinya.

Matanya tertumbuk pada gambar berikutnya. Ah, ini ada gambar keluarga lengkap. Hati Fian membuncah, hal yang sebelumnya tak pernah terjadi. Ternyata melihat gambar keluarga lengkap sangat membahagiakan.

Tapi … hmmm ada sesuatu yang mengganggu penglihatannya. Sejenak ia termangu. Dadanya bagaikan diketuk palu.

Bulir bening pun jatuh di pelupuk matanya.

Maafkan abang, Dek. Ternyata abang sangat tidak peka, batinnya saat menatap satu persatu gambar mereka.

Terlihat, ketika berpose di depan sebuah pohon di taman, Fian meletakkan telapak tangan kanannya pada pohon, sementara tangan kiri memegang tali tas. Padahal di sebelahnya tepat Anti berdiri. Pada gambar yang berbeda, pose Fian tak jauh berbeda. Bersedekap, memegang benda lain, memasukkan tangan ke dalam kantong celana.

"Seharusnya abang bersikap lebih mesra, Dek," lirih Fian.

Ternyata, menatap kembali gambar-gambar setelah mendengar ucapan Anti, itu menjadi semacam pukulan baginya.

Tak terlihat rona ceria di wajahnya, seperti halnya istri dan anaknya. Tak terlihat keintiman seperti yang sering ditunjukkan pasangan lain ketika berpose bersama. Sosok Fian, bagaikan orang asing berwajah datar yang kebetulan ada di tempat yang sama. Tapi, inilah dirinya apa adanya, dengan ekspresi diri yang menurutnya bukan masalah, tapi justru menjadi sumber masalah bagi istrinya.

Larut dalam lamunan, melewatkan entah berapa menit bahkan jam. Rasa sesak itu makin menghimpit dada Fian, membuatnya mengembuskan napas berkali-kali.

[Gak masuk kantor?] Text masuk dari Bandi.

Bandi, si biang perkara. Lelaki dengan pencitraan sempurna yang membuat Anti minta cerai darinya. Permainan licin Bandi hingga berhasil mengelabui Dira dan juga pandangan mata Anti, membuat Fian kini muak. Bila sebelumnya ia tidak ingin ikut campur, bahkan ada upaya menutupi perbuatan Bandi, saat ini ia harus bertindak. Tidak akan dibiarkannya lebih lama lagi sahabatnya itu menjadi 'racun' dalam pernikahannya.

[Gue ijin dulu, Ban.]

[Aaah, baru aja mau ngajak pulang malam. Payah lu.]

[Besok ketemu kita harus bicara. Penting!]

Bandi tak membalas pesan Fian. Dia terlanjur mengiakan permintaan Linda kemarin untuk mencarikan teman kencan buat temannya, Meita. Mereka akan menghabiskan waktu berempat di sebuah bar malam ini.

Dengan perasaan jengkel, Fian menutup aplikasi chat. Bila bertemu besok, ia akan mengajak lelaki itu bicara baik-baik. Cepat atau lambat, Bandi harus menghentikan kegilaannya, sebelum rumah tangganya sendiri hancur. Dira perempuan pintar, entah dia memang belum menemukan kecurangan Bandi atau memang pura-pura belum tahu. Wanita penuh misteri, kedalaman hatinya tak dapat diukur. Lihat saja Anti, diam bertahun-tahun tetiba bergejolak.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED