Perkenalkan namaku intan, intan yang saat itu baru ber umur 9 tahun harus hidup sendiri karna di tinggal mati orang tuanya akibat kecelakaan yang merenggut nyawa mereka, itan yang saat masih kecil tidak tau harus berbuat apa saat sudah hidup sendiri karna orang tua intan ayahnya anak tunggal dan kakek dan neneknya telah meninggal sedangkan dari ibunya seorang yatim piatu.
Intan yang tidak tau harus bagaimana saat itu dan bengong tanpa harapan hidup di lihat keluarga dari satria, Rita yang kasian akan nasib intan, iya pun meminta izin ke satria untuk membawah intan ke rumahnya untuk di besarkan, saat umur intan 15 tahun intan sudah tidak enak hati untuk tinggal lebih lama di rumah , dia pun pernah meminta izin untuk pulang kembali di rumah lamanya peninggalan kedua orang tuanya, tapi ibu Rita dan pak satria melarangnya untuk pulang.
Tidak lama kemudian datang lah keponakan pak satria dari sang adik yang sedang bertugas di kirim di negara konflik, sang adik yang sudah menyandang status duda akibat istri yang meninggal pas mau melahirkan anak kedua mereka, nama anak dari adik pak satria bernama flora yang seumuran denganku, aku pun menjadi akrab dengan flora selama tinggal di rumah pak satria.
Aku yang merasa ada teman sebaya dan di suruh menemani flora setuju untuk tetap tinggal di rumah pak satria dan ibu Rita, kami pun masuk di sma sama dan satu kelas sama jadi aku sering membantu flora belajar dalam materi yang dis tidak paham.
Dari ide flora lah aku berani bikin buka les, awalnya sempat bingung mau buka di mana dan ada rencana di rumah peninggalan orang tuaku, tapi ternyata pak satria dan ibu Rita menyuruhku untuk buka di rumah mereka saja pake bangunan tidak terpakai dekat pagar untuk jadi tempat lesku.
Akupun sedang dengan begini dapat mengumpulkan modal untuk biaya kuliahku nantinya, pak satria dan Bu rita yang melihat prestasi sekolahku cukup bagus mereka menawarkan aku untuk kuliah tapi aku tidak enak membebani mereka lagi dalam biaya pendidikanku.
Les yang aku dirikan sudah berjalan 3 tahun dan banyak anak- anak yang les sama aku dari SD sampai dengan SMP, aku bersyukur dengan lesnya ini dia perlahan - lahan berhasil mengumpulkan uang untuk dia lanjut kuliahku nantinya.
Setelah pengumuman lulus ternyata aku harus berpisah dari flora karna flora memutuskan ingin melanjutkan kuliahnya di Jogja dekat dari keluarga ibunya disana. Aku sempat sedih saat memikirkan aku yang akan di tinggalkan sama flora karna sudah tidak ada lagi teman yang bisa ku ajak cerita karna aku hanya memiliki flora dan Siska sebagai temanku.
Pak satria dan ibu Rita telah deluan berangkat ke Jakarta untuk menemani kak Rini yang akan mengada malam ke seratus suaminya sehingga di rumah tersisa aku sama flora, flora tidak ikut acara karna flora akan di jemput ke esokan harinya setelah pak satria dan Bu Rita berangkat ke Jakarta.
Flora yang telah di jemput omnya dari pihak ibu untuk ke Jogja sempat mengajakku ikut tapi aku menolak karna tidak mau mengganggu waktu flora kumpul dengan keluarga ibunya
" Tan yakin tidak ikut sama aku" ucap flora kepadaku
"Tidak flo" jawab ku
" Ayolah Tan ikut supaya kamu bisa liburan" ucap flora kepadaku
" Tidak bisa Flo aku masih mau ajar les, next time aku kesana yah kita ketemu" ucapku
" Baiklah next time kamu harus kesana kita ngumpul lagi" ucap flora
" Iya Flo" ucapku
Setelah kami mengobrol kami pun keluar kamar dan menuju teras tempat om flora menunggu
" Bagaimana Flo apa semua sudah siap" ucap om flora
" Sudah om" ucap flora
" Baiklah ayo kalo begitu kita jalan" ucap om flora
" Iya om" ucap flora
Aku dan floraoun berpelukan untuk sebelum terpisah setelah puas berpelukan florapun naik ke mobil.
Mobil pun mulai jalan dan meninggalkan rumah pak satria setelah mobil sudah hilang dari pandangan intan masuk ke dalam rumah untuk membersihkan rumah dan halaman rumah walaupun itu bukan pekerjaannya, di rumah pak satria ada dua 1 pembantu dan 1 sopir mereka suami istri dan sedang pulang kampung, karna intan tinggal sendiri dan mengisi waktu luangnya dia membersihkan rumah.
Setelah membersihkan rumah pak satria tepat pukul tiga murid- murid lesnya telah tiba , dan intan pun mulai mengajarkan lesnya hingga pukul lima sore , pada saat kelas lesnya bubar, intan mendapat telpon dari Bubrita yang bertanya apa flora sudah di jemput sama omnya apa belum.
Setelah intan menjawab telponya Bu rita dia merapikan ruangan lesnya setelah membersihkan dia masuk ke rumah dan membersih diri, tepat pukul 7 malam dia ke dapur dan mulai masak makanan yang akan dia makan, setelah makan dia pun kembali ke kamarnya dan tidur.
Tiba ke esokan paginya dia mulai beraktivitas membersihkan rumah setelah membersihkan dia memasak setelah selesai masak dia pun menghidangkan masakannya di meja setelah selesai masak dia pun mandi sebelum makan, karna dia hanya tinggal sendiri intan hanya memakai celan pendek di rumah dan memakai tank top menampil body yang agak seksi di umurnya 18 tahun, pada saat dia akan makan tiba-tiba tiba bunyi bel depan rumah, intan pun kaget dan mencoba cek ke depan dan ternyata ada se sosok laki- laki dan memakai pakaian TNI berdiri depan pagar rumah Bu Feni, dia pun lari ke arah pagar dan bertanya
" Cari siapa yak pak" tanyaku pada orang tersebut karna aku tidak tandai wajahnya
" Saya om Bayu tan" ucap orang tersebut
Aku pun langsung ingat om Bayu papa flora
" E iya om maaf intan tidak kenal" ucapku sambil membuka pagar untuk om Bram, setelah membuka pagar ok Bram masuk aku pun menutup kembali pagar dan aku menuju ke dalam rumah, setelah sampe di teras aku mengajak om Bram untuk masuk
"om bram silakan masuk" ucapku sambil berjalan masuk ke rumah
" Kok sepi rumah" ucap om bram pas sudah masuk kedalam rumah dan menarok tasnya di ruang tamu,
" Bapak sama ibu ke Jakarta om urus pindahan kak Rini" ucapku
" Kalo flora mana tan" ucap om bram
" Sudah di jemput sama ipar om kemarin" ucapku
" Wah berarti saya terlambat datang" ucap bram
" jadi kamu tinggal sendiri yah" ucap om bram lanjut bicara
" Iya om, mari makan om intan habis masak" ucapku pada om Bram
" Iya kamu sudah makan" ucap om bram
" Belum om baru tadi mau makan" ucapku
" Baiklah ayo kita makan sama- sama" ajak om bram
Merekapun berjalan menuju ke meja makan setelah sampe di meja makan intan mengambil piring dan melayani om bram, bram yang merasa di layani seperti punya istri tersenyum setelah hampir 4 tahun dia di tinggalkan istrinya meninggal saat melahirkan buah hati mereka yang kedua.
Setelah intan memuatkan makan pada piring om Bram dia berencana makan di belakang karna tidak enak makan sama om bram di atas meja, Bram yang melihat intan akan makan di belakang dia menahan intan
" Mau makan dimana tan makan disini saja sama saya" ucap om bram pada intan mereka pun makan bersama dia ruang makan setelah makan om Bram kembali ke ruang tamu dan intan ke dapur membawah piring kotor dan membuatkan kopi untuk om bram setelah membuat kopi intan membawahkan ke ruang tamu
"Om apa mau menginap" tanya inem
" Iya tan rencana saya mau menginap disini tapi karna ada kamu aja, nanti saya nginap di luar" ucap om bram
" Nda usah om intan bersihkan kamar tamu dulu" ucaku kepada om bram karna meresah bersalah jika mengusir om Bram karna kelihatannya om Bram yang kecapean dari raut wajahnya.
Bram merupakan seorang perwira, ia berpangkat Kolonel sekarang. Umur bram empat puluh tujuh tahun dan ia duda satu anak, istrinya meninggal saat melahirkan anak kedua mereka lima tahun yang lalu sebelum dia di kirim di negara berperang. Orangnya tinggi besar dan gagah Tingginya 178 Cm dengan berat badan seimbang dengan tubuh begitu profesional. Kulitnya agak hitam karena banyak terbakar matahari di daerah konflik sana.
Saat intan berdiri dan mau mengambil tas om Bram dan membawah masuk di bawah tamu intan kira tasnya ringan pas dia mau angkat dia kehilangan keseimbangan dan jatuh akibat tidak kuat menahannya dia tidak sengaja jatuh di pangkuan om bram, om Bram yang sudah lama tidak merasakan kenikmatan dan saat intan duduk pas di paha om Bram dan diatas penis om Bram intan yang telah terduduk berdiri dan memohon maaf pada om Bram " maaf om intan tidak sengaja" ucap intan
" Tidak apa- apa nem tidak usah bawah tasku kamu ke kamar tamubaja bersihkan nanti aku bawah sendiri" ucap om bram, bram yang habis mengirup tubuh intan sesaat tadi jatuh di atas tubuhnya mulai memiliki niat untuk menikmati intan, intan pun meninggal om bram di ruang tamu dan jalan ke kamar tamu tempat biasa di pake om Bram setiap kali datang ke sini, bram yang sudah tidak kelihatan menutup pintu depan dan menyusul inem ke kamar tamu untuk memulai aksinya.
Intan yang telah tiba di kamar dan sedang memasang seprei pas bagian pojok kasur dia membelakangi pintu saat dia sedang membungkuk membenahi seprei tempat tidur yang dipakainya dia terkejut ketika tiba-tiba dua tangan kekar memelukku dari belakang.
Intan tidak mampu meronta karena dekapan itu begitu kuat. Terasa ada dengusan napas hangat menerpa pipi nya . Pipinya tiba di dicium sedangkan dua tangan kekar mendekapku dan kedua telapak tangannya saling menyilang di pinggang kanan-kiri ku yang ramping. Aku memberontak, namun apalah daya intan tenaganya tidak sekuat Tenaganya yang di lawan. Setelah kutengok ke belakang ternyata Om Bram yang sedang memelukku dan mencium pipiku.
"Om ngapain! Lepasin Oom!" ucap intan sambil masih berusaha memberontak berteriak agar dilepaskannya.
Karena terus terang intan belum pernah yang namanya dipeluk laki-laki selain almarhum ayahnya yang sudah lama meninggal Apalagi pakai dicium segala! Tubuhku gemetar ketika tangan kokoh Om bram mulai bergerak ke atas dan mulai meremas bola-bolak dari luar tank topku. Bukannya berhenti tetapi justru Oom Bram semakin menggila!
"Diam intan biarkan saya merasakan " bisik om bram dengan suaranya di telingaku membuat aku geli dan takut setelah mendengar suaranya yang tegas saat ada dengusan nafas hangat menyembur bagian sensitif di belakang telingaku.
Dekapannya semakin ketat sampai aku merasakan ada semacam benda keras menempel ketat di belahan pantatku. Aku semakin menggelinjang kegelian saat bagian belakang telingaku terasa digelitik oleh benda lunak hangat dan basah! Ooh.. Rupanya om bram sedang menjilati bagian belakang telingaku. Tanpa sadar aku melenguh.. Ada rasa aneh menjalar dalam diri intan. Ini terbukti bahwa intan yang belum pernah bersentuhan dengan lelaki merasa begitu nyaman dan merasakan kenikmatan diperlakukan seperti itu.
"Ja.. Jangan Oomhh!" intan mendesis antara menolak dan enggan melepaskan diri.
Bibir Oom bram semakin menjalar ke depan hingga akhirnya bibirnya mulai melumat bibirku. Seprei yang tadinya kupegang terlepas sudah. Tanganku sekarang bertumpu memegang kedua punggung tangan Oom Bram yang sedang sibuk meremas dan mendekap kedua bola-bolaku.
Napas Om bram semakin menggebu cepat. Lidahnya mulai bergerak-gerak liar menyelusup ke dalam rongga mulutku. Akupun tak tahan lagi.. Tubuhku seolah mengawang hingga ke awan. Kakiku limbung seolah tanpa pijakan. Sekarang tubuhku sudah bersandar sepenuhnya bertumpu pada Oom bram yang terus mendekapku. Mataku terpejam merasakan sensasi yang baru pertama kali ini aku alami. Tanpa terasa lidahku ikut menyambut serangan lidah Om Bram yang bermain di dalam mulutku.
lidah Oom bram yang bergerak-gerak liar. Selama beberapa saat lidahku dan lidah om Bram saling bergulat di dalam mulutku, aku belum pernah melakukan ini malah ke enakan beradu lidah sam om bram .
Aku membuka mata, wajah Om bram sangat dekat dengan wajahku dan tangannya merangkul dan meremas kedua bola-bolaku. Anehnya, setelah itu aku tidak berusaha menghindar ataupun merasa risih. Aku merasakan ada sesuatu yang mendesak-desak dan harus tersalurkan. Kubiarkan saja tangan Oom bram saat mulai menyusup ke balik tank topku dari bagian bawah.
Aku semakin menggelinjang saat tangannya mulai meraba perutku yang masih rata. Perlahan namun pasti tangannya mulai merayap ke atas dan ke bawah. Tangan kanan Oom bram mulai menyentuh bola- bolaku yang terbungkus BH tipis itu, sementara tangan kirinya mulai menyusup ke balik celana pendek ketatku. Aku tak sadar tanganku bergerak ke belakang dan mulai meremas rambutnya.
Tubuh kami masih berhimpit berdiri menghadap searah. om Arya masih tetap mendekapku dari belakang. Bibirnya melumat bibirku sementara kedua tangannya mulai meraba dan meremas bagian- bagian sensitif tubuh perawanku. Akupun tak tinggal diam tanganku tetap meremas-remas rambutnya yang cepak itu.
Untuk beberapa lama, Oom bram masih melumat bibirku. Aku harus jujur bahwa aku juga ikut menikmatinya hal pertama kali menikmati. Bahkan beberapa saat secara tak sadar aku juga membalas melumat bibir Om bram. Aku masih tetap belum menyadari atau mungkin terlena hingga tak menolak saat tangan Om bram mulai menyusup ke dalam BH-ku dan menyentuh apa yang seharusnya ku jaga. Nafasku semakin memburu dan aku mulai merasakan bagian lubang dagimgku mulai basah. Apalagi saat ibu jari dan telunjuk Om Bram mulai mempermainkan sumber susuku yang sudah semakin mengeras. Tubuhku semakin bergerak liar hingga benda keras yang menempel ketat di belahan pantatku kurasakan semakin mengeras.
Desakan aneh semakin kuat mendorong di bagian bawah. Tubuhku semakin melayang saat tangan kiri arya dengan lembut mulai memijit-mijit dan meremas lubang dagingku.
Tubuhku semakin liar bergerak saat jari Om arya mulai menyentuh belahan hangat di lubang daging ki. Jari-jarinya terasa licin bergerak menyusuri belahan hangat di selangkanganku. Rupanya aku sudah begitu basah.. Dan Om bram tahu kalau aku sudah dalam genggamannya. Aku memang sudah menyerah dalam nikmat sedari tadi. Apalagi aku memang juga ada rasa kagum akan dirinya yang mengabdi pada negara.
Tubuhku bergersk gelisah liar seperti ikan kurang air saat jemari Oom bram mempermainkan tonjolan kecil di bagian atas luang dagingku. Jarinya tak henti-hentinya menggocek dan berputar liar mempermainkan kelentitku.
"Akhh.. Oomphf.." desisanku terhenti karena bibirku keburu dikulum oleh bibir Om bram yang di tumbuh bulu- bulu.
Aku sudah merasakan terbang mengawang. Desakan yang menuntut pemenuhan semakin membuncah dan akhirnya dengan diiringi hentakan liar tubuhku aku merasakan ada sesuatu yang menggelegak dan aku mengalami orgasme!! Aku semula tak tahu apa itu orgasme, yang jelas aku merasakan kenikmatan yang amat sangat atas perlakuan Om bram itu. Tubuhku terasa ringan dan tak bertenaga sesudah itu.
"Gimana sayang?" bisik Om bram di telingaku sambil lidah bermain di telingaku.
"Enak sayang?" lanjut tanya om Bram padaku
Aku hanya terdiam dan ada sebersit rasa malu. Seharusnya ini tidak boleh terjadi, kataku dalam hati menahan rasa malu dan sungkan yang menggumpal dihatiku. Tetapi rangsangan dan stimulus yang diberikan Oom bram terlalu hebat untuk kutahan. Akhirnya aku hanya pasrah saja saat tangan Oom bram mulai melucuti pakaianku satu per satu. Mula-mula dari tank topku dilepasnya hingga bola- bolaku yang masih kencang terlihat terbungkus BH merah yang seolah-olah tak mampu menampungnya. Padahal ukurannya sudah tiga empat c di umurku yang baru delapan belas tahun dan termasuk besar di kalangan umurku.
Tubuh bagian atasku sudah setengah telanjang. Sementara aku yang sudah lemas tetap berdiri dipeluk Om bram dari belakang. Kembali tangannya mengelus perutku yang putih rata itu. Tanganku menutup bagian dadaku karena malu dan jengah harus terlihat laki-laki dalam keadaan begini. Lalu dengan terburu-buru Oom bram melepaskan pakaian seragamnya hingga aku merasakan rambut dada bidang om bram tumbuh bulu yang cukup lebat menempel punggungku yang telanjang. Lagi-lagi aku merasakan sensasi yang lain-daripada yang lain.
memelukku dari belakang. Aku terlalu malu untuk membuka mataku. Aku hanya memejamkan mata sambil menikmati sensasi dipeluk laki-laki perkasa. Dengan tangan mengelus perut dan dadaku Oom bram kembali menciumi ku. Kali ini punggungku dijadikan sasaran serbuan bibirnya yang panas. Kumisnya yang tipis terasa geli saat menyapu-nyapu punggungku yang terbuka. Aku menggelinjang hebat. Apalagi saat lidah Oom Bram mulai merayap di tulang belakangku.
Tubuhku semakin liar bergerak