Hati Selin patah dan juga hancur, remuk serasa dunianya runtuh seketika. Bagai pecahan kaca yang bertaburan di lantai, begitulah dengan perasaannya yang seakan mati. Melihat sikap sang suami yang begitu kasar, dia tahu jika Edward punya wanita lain dan menjadi duri dalam hubungan mereka.
Dia berlari menuju taman, menangis sepuasnya hingga lelah. Dia tidak menyangka, jika hubungan selama lima tahun tidak berarti apa-apa, bahkan dirinya sudah merelakan semua kepada sang suami. Bagai fatamorgana yang tak bisa disentuh,.begitulah hati Edward yang lebih memilih kekasih dibandingkan dirinya sebagai istri sah.
"Kenapa…kenapa aku yang hanya merasakan sakit hati? Mengapa ini semua terjadi kepadaku? Apa kesalahanku? Bukan keinginanku untuk menjadi istrinya, tetapi hanyalah sebuah perjodohan dengan pihak keluarga. Apa pengorbananku selama ini tidak berarti baginya?" serentetan pertanyaan yang memenuhi kepalanya, menari-nari yang seakan mengolok-oloknya.
Tiba-tiba terdengar suara petir, dan hujan turun dengan sangat deras membasahi sekujur tubuh. Tanpa berniat untuk beranjak dari tempat duduknya. Rasa dingin yang menyeruak masuk ke dalam pori-pori kulit, menembus tulang yang membuatnya kedinginan. Enggan untuk masuk ke dalam, maupun berteduh. Ingin mencurahkan seluruh perasaannya dikala turunnya hujan, yang disertai dengan tangisannya bercampur menjadi satu. Seakan alam ikut bersedih dengan apa yang dialami, nasib malang yang mencintai suaminya tapi malah dikhianati.
Cukup lama dia berada di bawah guyuran air hujan, meresapi setiap tetesan yang mengenainya. Membasahi seluruh tubuh membuat dirinya sedikit merasa tenang, dan beban di pundak berkurang. Wajah yang pucat, dan tubuh gemetaran, kedua tangan yang terlihat keriput terkena air hujan memeluk tubuhnya yang mungil. Berjalan masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju kamar.
Pandangannya ditelusuri ke seluruh ruangan yang tampak sepi, karena dia sekilas melihat suaminya yang pergi lagi. "Apa apa yang harus aku lakukan?" liriknya pelan sembari berjalan menaiki tangga dengan penuh hati-hati, tubuh yang basah membuatnya takut akan terpeleset.
Setelah membuka lemari pakaian, dan mengganti dengan piyama tidur. Segera melangkahkan kaki menuju ranjang dan berbaring dengan meringkukkan tubuhnya. Ruangan yang kosong dan juga hampa, sudah lama dia tidak mendapatkan nafkah batin dari sang suami.
Selin tidur dalam kegelapan, tidak ada cahaya di dalam ruangan itu. Sama seperti dengan keadaan yang dialami saat ini, terpuruk dalam ruang sempit dan juga gelap. Dia segera memejamkan kedua mata kalau rasanya cukup sulit menerima apa yang dihadapi dan juga lewati.
Di pagi yang indah, mentari dengan malu-malu muncul untuk menyapa. Sinar matahari yang menembus kaca, masuk ke dalam pori-pori kulit wanita yang tengah tertidur. Membangunkan Selin, seakan memberikan semangat dan awal yang baru. Dia segera melupakan kejadian semalam, segera melihat ke samping yang ternyata sudah ada sang suami dan dia tidak tahu kapan pria tampan di sebelahnya pulang.
Memandangi wajah tampan dari suaminya yang begitu teduh dan damai, membuat pagi harinya terasa indah Namun, hal itu segera diakhiri karena masih banyak pekerjaan yang menanti dirinya. Walau mempunyai beberapa pelayan, tapi tak membuatnya begitu tergantung pada orang lain, mengandalkan diri sendiri untuk melayani sang suami dengan masakannya. Dia pernah mendengar pepatah, jika ingin merebut hati sang suami lebih dulu penuhi dulu isi perut suami dengan masakan lezat.
Selin segera beranjak dari ranjang, dan segera ke kamar mandi untuk mencuci wajah dan juga menggosok gigi. Mencepol rambut dan segera pergi menuju dapur, berkutat pada penggorengan yang nanti akan dihidangkan.
Hampir satu jam, Selin berada di dapur menyelesaikan pekerjaannya sebelum sang suami bangun. Menyajikan semua masakan di atas meja makan dengan begitu rapi dan enak dipandang mata. Dia tersenyum dengan begitu tulus, masakan dengan penuh cinta yang akan disuguhkan pada sang suami.
"Akhirnya aku sudah selesai memasak, sebaiknya aku membersihkan diri dan berdandan dengan cantik. Semoga saja Edward melihat ketulusan ku dan juga perubahan penampilanku." Monolognya seraya berjalan menuju kamar.
Selin menyiapkan pakaian dan juga air hangat untuk sang suaminya mandi di pagi hari, sudah menjadi rutinitas hariannya yang selalu melayani dengan sangat baik. Memasangkan jas dan juga dasi merupakan bagian yang sangat dinantikan, bisa menatap wajah tampan sang suami dari dekat. "Apa aku hanya lah seorang pelayan baginya? Tidak menganggapku ada. Aku berada di hadapannya, tapi tatapannya lebih fokus pada ponsel di tangan."
"Malam ini aku tidak bisa pulang, banyak pekerjaan kantor yang harus aku selesaikan."
"Sudahlah, aku tahu kamu berbohong dengan beralasan pekerjaan kantor dan juga sibuk lembur. Aku tahu, jika kamu telah selingkuh dan menghianati kepercayaanku," ungkap Selin sudah tidak tahan dengan alasan yang selalu dikatakan oleh Edward.
Edward menaikkan kedua alisnya sedikit terkejut dengan wanita di hadapan, yang mengetahui hubungannya dengan wanita lain. "Bagus jika kamu mengetahuinya, dengan begitu aku tidak perlu repot-repot bersembunyi lagi di saat berkencan." Ungkapnya yang tidak peduli dengan perasaan Selin yang sangat rapuh hingga terpuruk di jurang terdalam.
Selin menghentikan untuk memasang dasi sama suami, menatap dalam mata Edward hingga keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing. "Apa makna dari pernikahan yang kita jalani selama lima tahun, apa aku tidak ada artinya di depanmu?"
Edward tak menjawab, segera menarik dasi dan memasang sendiri membelakangi Selin, dan fokus saat memasang dasinya.
"Apa yang harus aku lakukan hingga kamu melihat keberadaanku?" Selin menatap suaminya dan benar berharap, jika suatu hari nanti sang suami bisa berubah dan mengakui keberadaannya dia hadapan publik.
"Tidak ada, Aku ingin kamu tidak muncul dihadapanku berhentilah bersikap kekanak-kanakan." Ucap Edward yang pergi meninggalkan kamarnya menuju meja makan. Sementara Selin sangat sedih, dia tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi, berdoa jika suaminya bisa berubah dan melupakan hasrat terlarangnya.
Di meja makan Selin menyiapkan sarapan untuk suaminya seperti biasa, namun perhatian yang dia tunjukkan selama lima tahun tidak ada artinya apa-apa, makan dia seperti seorang pelayan di rumah yang besar itu.
"Aku harus pergi, tidak perlu menunggu ku pulang." Ucap Edward yang segera beranjak dari kursi, segera pergi tanpa menoleh membuat hati Selin lagi-lagi terluka.
"Aku harus menyelesaikan ini dengan wanita itu," gumamnya segera membersihkan meja makan dan bersiap-siap untuk pergi menemui kekasih dari suaminya.
****
Selin mencari keberadaan dari kekasih suaminya, mendapatkan informasi dari beberapa orang. Dia sekarang berada di sesi pemotretan dari kekasih suaminya, yang jadi model dalam proyek perusahaan Edward untuk brand ambassador terkenal. Dia menunggu hingga sesi pemotretan selesai, segera menghampiri wanita itu dengan baik-baik. "Aku ingin berbicara denganmu dan ini sangat penting!"
Wanita yang sebagai model itu melirik penampilan Selin yang jauh dari kata layak, tidak ada kata menarik membuatnya tersenyum miring. "Memangnya kamu siapa dan datang menemuiku?" ucapnya yang pura-pura tidak tahu.
"Ikut aku sebentar ada yang ingin aku tanyakan dan tidak akan lama."
"Baiklah," sahut wanita cantik yang bernama Tari.
Selin menarik tangan Tari dengan pelan, membawanya ke suatu tempat yang sepi dan saling berkontak mata dengan tujuan yang tersirat. "Aku ingin kamu menjauhi suamiku!"
"Maaf, suamimu yang mana ya?" celetuk Tari yang tersenyum miring.
"Jangan berpura-pura, aku tahu kalian ada hubungan dan aku melihatnya di pusat perbelanjaan. Kamu ini masih cantik, sebaiknya mencari pria lain saja. Masih banyak laki-laki di luar sana yang bisa kamu dapatkan, tetapi jangan suami orang karena karma akan berlaku."
"Apa salahku? Suamimu lah yang mengejarku, walau aku sudah berusaha untuk memutuskan hubungan dengannya. Lagipula aku juga berpikir secara materialistis, suamimu itu sangat tampan dan juga kaya. Siapa yang tidak tertarik untuk menjadi yang kedua," ungkap Tari yang tidak ingin berbasa-basi lagi, menyindir wanita yang sebagai istri sah berpenampilan layaknya seorang.
"Jangan menjadi perusak rumah tangga orang, karena suatu hari, entah kapan aku juga tidak tahu. Karma akan menghampirimu, jadi sebelum itu aku mengingatkan untuk menjauh dari suamiku."
"Kamu ini sangat lucu, datang tiba-tiba menasehatiku seperti itu. Bukan aku yang mengejarnya, tetapi suamimu, sudah aku tegaskan dan tidak akan aku ulangi lagi. Seharusnya kamu sadar, penampilanmu yang bahkan tak ada yang menarik dilihat wajah yang kusam kulit yang seperti bersisik, dan juga tangan yang kasar. Apa kamu ini seorang kuli bangunan? Jadi, di situ terlihat perbedaan antara aku dan kamu. Segera pergilah dari sini atau aku akan meminta satpam mengusirmu! "
"Karma itu ada, semoga kamu bisa menghindarinya!" Selin segera pergi dari sana menahan air mata yang menyeruak keluar, dia terus menahannya agar tidak terlihat lemah di mata sang pelakor.
"Wanita yang sangat malang, melabrak aku tapi dia yang sial." Gumam Tari tersenyum puas dapat menghina istri sah kekasihnya.
Selin pergi dengan hati yang sangat patah, mendengar ucapan dari sang pelakor yang begitu menyayat hatinya. Dia tidak mengira, jika hal ini begitu menyakitinya, padahal tujuannya untuk memperingati wanita yang merebut suaminya. Apalagi ucapan dari wanita itu masih terngiang di telinganya,ndirinya begitu minder apalagi dengan penampilan yang hanya biasa-biasa saja, bahkan jika dibandingkan wanita itu jauh lebih cantik di bandingkan dirinya. Entah apa yang diinginkan Tuhan untuk dirinya, tetapi yang jelas saat ini dia membutuhkan seseorang sebagai sandaran.
Hatinya yang begitu rapuh, dan juga tak bisa membendung air matanya lagi. Bahkan orang-orang menatapnya dengan wajah yang aneh, menebak-nebak apa yang di hadapi olehnya. Tanpa menghiraukan orang lain, Selimln segera berlari masuk ke dalam mobil, masih menahan air mata walau cukup sulit dilakukan.
"Jalankan mobilnya, Pak!" perintah Selin sembari mengambil tisu dan menyeka air matanya yang terlihat bengkak.
"Nona mau kemana?" tanya pak supir yang menoleh, menatao wajah istri bosnya dengan rasa empati.
"Antar aku ke danau hijau."
"Hem, baiklah."
Pak supir mulai menjalankan mobil yang melaju dengan kecepatan sedang, sesuai permintaan Selin yang ingin menikmati perjalanannya. Sengaja membuka jendela mobil dan membiarkan semilir angin kembali menerpa dan menyentuh kulit di wajah, begitu sejuk bahkan air mata yang sedari dia tahan keluar dengan sendirinya. Perasaan yang sakit hati, begitu terasa hingga dia tidak menginginkan apapun, suami yang tidak pernah mengakuinya di hadapan semua orang, dan tidak berperasaan.
Beberapa lama kemudian, akhirnya sampai ke danau hijau. Dia bergegas turun dari mobil, berjalan menuju danau hijau dan meminta pak sopir untuk tidak menunggunya karena dirinya ingin menghabiskan waktu dan menenangkan diri. "Jemput aku dua jam lagi."
"Baiklah, sesuai permintaan."
Selin hanya tersenyum, menganggukkan kepala dengan sekilas dan pergi. Berjalan menyusuri pinggiran danau sembari meletakkan kedua tangan memegang besi pembatas. Dia menangis sepuasnya, melepaskan seluruh beban yang ada di pundak, mencurahkan seluruh kesedihan dan juga rasa kecewa dikhianati sang suami. Berteriak sekencang-kencangnya melepaskan seluruh yang dia rasakan saat ini, sangat membantu untuk mengurangi beban. "Aku benci dunia ini, mengapa tidak ada yang mengerti perasaanku?" pekiknya dengan suara yang nyaring, dengan cepat menyeka air mata yang mengalir dengan deras, membasahi kedua pipi. Dia tidak tahan mengenai perselingkuhan suaminya, namun amanat sang ibu membuatnya tetap tegar untuk mempertahankan rumah tangga, tidak ingin kalah pada wanita yang hanya seorang pelakor alias perebut suaminya.
"Tidak, aku tidak akan kalah dengan mudah. Aku akan mempertahankan hakku yang sebagai seorang istri, aku akan bertarung untuk mendapatkan kembali hati suamiku," monolog Selin yang berhenti menangis, menguatkan hati untuk berperang agar suaminya kembali dalam pelukan.
Cukup lama dia berada di danau hijau, melepaskan seluruh keputusannua yang sekarang membuat sedikit lega. Dia melirik jam yang ada di ponselnya, dan bahkan sudah lewat dari dua jam. "Aku harus pulang, pasti Edward menungguku," gumamnya yang segera bergegas meninggalkan danau, menuju ke tempat pak sopir yang mengantarnya tadi, menunggu lama di dalam mobil.
"Maaf, Pak. Saya sedikit terlambat,"ucapnya yang merasa bersalah.
"Tidak masalah, masuklah! Karena sebentar lagi, Tuan Edward akan segera pulang."
"Hem." Selin menganggukkan kepala, menyetujui perkataan dari pria setengah baya yang menjadi sopirnya. Dia membuka pintu mobil dan masuk ke dalam, sebelum berangkat dia menarik nafas dengan dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, melakukan sebanyak tiga kali agar dirinya merasa lebih tenang dan juga baik. "Jalan, Pak!"
Di sepanjang perjalanan, Selin memikirkan beberapa rencana yang akan dia buat untuk merebut hati suaminya kembali. Sudah menyiapkan beberapa, dan akan dia lakukan setelah sampai di rumah. "Semoga saja Edward luluh dengan tindakanku, dan juga perubahanku." Gumamnya di dalam hati, sembari tersenyum tipis.
Sang sopir hanya terdiam, merasakan kesedihan yang sama karena mengetahui jika hubungan tuannya dan dengan wanita lain sudah lama terjalin, bahkan sebelum mereka menikah. Rasa simpati dan juga sedih bercampur menjadi satu, tidak bisa dia bayangkan bagaimana bahtera rumah tangga yang dijalankan oleh istri dari majikannya. Ingin sekali dia menghibur, tetapi tidak ada kata-kata yang pantas untuk diucapkan, mengingat dirinya yang hanyalah seorang supir biasa.
Saat ini, mobil telah berhenti di halaman rumah yang sangat mewah, Selin tersenyum miris dengan kehidupan yang selama lima tahun dia jalani. Dia hanya di cari saat di butuhkan sebagai pelampiasan nafsu saja, dan setelah itu mereka kembali seperti orang asing. Dia memberanikan diri untuk melangkah masuk ke dalam rumah, perlahan tapi pasti hingga dia sampai di ambang pintu.
Deg
Baru beberapa langkah, Selim melihat dua orang yang dia kenali. Kedua pupil mata yang melebar di saat melihat sang suami terang-terangan membawa wanita asing, dan bahkan bercumbu di ruang tamu. Rasa sakit yang ditorehkan sang suami membuat dadanya bergemuruh hebat, wajah yang terkejut tidak bisa dikontrol di saat kemesraan dari dua orang yang tak jauh darinya.
Tari melihat Selin yang baru pulang dan tersenyum tipis sembari memainkan gairah dan bercumbu dengan penuh hasrat. model yang terkenal seksi itu bahkan tak segan-segan melakukan hal-hal liar yang menaikkan gairah dari Edward.
Di saat Edward sudah tidak tahan lagi dengan hasrat yang ingin segera dikeluarkan, menaungi samudra cinta dalam penyatuan antara dua insan yang saling mencintai satu sama lain, tidak menghiraukan keadaan sekitar dengan sengaja mempertontonkan.
Selin sengaja menyudahi aksi mereka, yang terbilang nekat, karena keduanya diselimuti oleh gairah dan juga hasrat. Hal itu membuat Edward sangat kesal, karena dia tidak menyukai jika hubungan intim mereka ditunda. "Kenapa kamu menghentikannya? Aku sudah tidak tahan lagi."
"Lihat disana!" ucap Tari yang menunjuk Selin yang hanya berdiam diri dan juga menangis, rencananya berhasil untuk membuat istri sah kehilangan rasa percaya diri.
Edward segera melihat ke arah yang ditunjuk oleh kekasihnya, terlihat seorang wanita lusuh yang tengah menangis melihat perbuatannya secara langsung yang sedang bersikap mesra dengan Tari, sang model sekaligus sekretarisnya. Dia hanya menoleh dengan sekilas, dan mengangkat kedua bahu acuh tak acuh. "Tidak ada hubungannya dengan wanita jelek itu," ucapnya yang begitu tidak menganggap keberadaan Selin ada.
Selin hampir menyerah dengan apa yang dilihat, tekad yang awalnya membara seketika redup di dalam kegelapan. Berjalan menghampiri Edward dan ingin meminta penjelasan mengenai status dan juga hubungannya. "Apa artinya aku untukmu? Apa artinya kehidupan rumah tangga yang telah kita lewati selama lima tahun ini? Apa itu belum cukup membuktikan, bagaimana hubungan sakral dan janji suci kamu nodai dengan perbuatan yang sangat keji."
"Aku tidak meminta apapun, bahkan hubunganku dengan Tari sudah berjalan tujuh tahun. Kamu tahu 'kan? Arti dari tujuh tahun. Bahkan sebelum kita menikah aku sudah punya hubungan dengannya, suka ataupun tidak, tetapi itulah kebenaran yang harus kamu terima." Tegas Edward yang memunguti kemejanya yang ada di sofa, dan memasangnya kembali sembari menarik tangan kekasihnya, dan ingin melanjutkan hubungan terlarang mereka di kamar utama.
"Aku pinjam suami kamu dulu, hanya malam ini saja." Tari tersenyum puas, jika wanita yang menurutnya sangat kusam dan juga tidak ada daya tarik kalah dengan begitu mudah. Apalagi dirinya tidak memiliki tandingan yang begitu cantik dan juga seksi, bisa merayu beberapa lelaki menjadi kebanggaannya tersendiri.
Selin tidak bisa berbuat apapun, karena tak berdaya. Dia juga tidak mengerti apa yang harus dia lakukan, mengingat dirinya yang masih mencintai sang suami, namun rasa cinta kian hari kian mengikis. Begitu hancur reluh hatinya, mendengar perkataan dari Tari seakan dirinya hanya sebagai istri sah yang kalah, h diinjak-injak dengan begitu kejam dan juga bengis.
Bulir air mata yang membasahi pipi, berlinang begitu derasnya. Rasa sakit yang dikhianati tepat di hadapan mata, membuat jiwanya terkurung dalam ruang yang sangat gelap.
Selin sudah tidak tahan dengan perlakuan dari suaminya yang hanya acuh tak acuh, demi amanat sang Ibu rela bertahan walau disakiti dengan hasrat terlarang dari Edward. "Aku bukanlah pajangan dan juga patung, aku hanyalah wanita biasa yang membutuhkan kasih sayang Namun, hal itu tidak aku dapatkan dari suamiku sendiri. Yaa Tuhan, mau sampai kapan engkau akan memberiku ujian yang sangat berat ini? Rasanya, aku menyerah dengan semua apa yang menimpa. Tapi janjiku dengan ibu, membuat belenggu yang begitu menyiksa diri ku sendiri." gumamnya di dalam hati, sembari masuk ke kamar di sebelah, hanya itu kamar yang kosong.
Suara desahan yang nyaring terdengar sepanjang malam, dan hal itu pula tak bisa membuatnya tidur dengan alunan suara yang keluar dari mulut Tari dan juga Edward. Entah berapa kali mereka melakukan hal itu, sedangkan Selin hanya pasrah.
"Kapan ujian ini akan berakhir?"