"Saya membutuhkan banyak uang dalam waktu yang singkat. Dan ... hanya dengan cara menjadi seorang gigolo saya bisa mendapatkan uang tersebut."
Jawaban Bagas membuat Arta yang kelelahan itu beringsut dari posisinya dan menjadikan lengan Bagas sebagai bantalan kepalanya. Bahkan, wanita itu mendongakkan wajahnya dan menatap pada wajah tampan Bagas.
"Sudah berada lama kamu menjadi seorang lelaki bayaran?" tanya Arta lagi sembari mengusap dada Bagas dengan jemarinya yang halus.
Sudut bibir Bagas tersungging mendengarnya. "Belum sampai satu bulan, dan Nona Arta adalah pelanggan saya yang ke lima."
Mendengar jawaban pemuda tampan yang sedang berada di dalam dekapannya, Arta seolah tak percaya. Benarkah pemuda yang sudah profesional melakukan pekerjaannya itu belum lama menjadi seorang pemuas?
"Benarkah?"
"Hmmm ... belum lama, jadi maaf jika Nona tidak puas dengan pelayananku." Bagas kembali menjawab. Dada pemuda tampan itu masih naik turun tak beraturan sejak tadi.
"Kenapa memilih pekerjaan ini? Ah ... maksudku, apa kamu punya kesulitan sampai harus memilih jalan seperti ini?"
Arta kembali bertanya, ia seolah sedang berusaha untuk mengorek latar belakang dan kehidupan Bagas.
"Saya rasa, saya tidak perlu menjawab pertanyaan Nona yang satu ini," ucap Bagas dengan datar.
Ucapan Bagas membuat Arta kembali terdiam.
Keadaan di dalam ruangan yang cukup luas itu pun menjadi hening. Bagas dan Arta sama-sama diam, tidak berbicara sepatah kata pun lagi.
Hingga beberapa saat kemudian, Arta kembali berbicara. "Sisa pembayarannya akan kuberikan besok pagi."
"Hmm ...." Respon Bagas. "Oiya, Nona. Beberapa kali saya melakukan hubungan intim, tetapi hanya bersama Nona saya tidak menggunakan pengaman. Bagaimana jika No-"
"Aku ngantuk," ucap Arta. Dengan sengaja, perempuan itu memotong kalimat Bagas.
Mendengar ucapan Arta, Bagas menghela napas pelan. Pemuda itu pun mengurungkan kalimatnya.
'Terserahlah ....' batin Bagas.
"Ya sudah jika mengantuk, kita tidur sekarang," kata Bagas.
Pemuda itu mencium kening Arta dengan lembut dan mengusap rambutnya sebelum memejamkan mata. Setelahnya, ia memeluk punggung Arta dan menempelkan wajah wanita itu pada dada bidangnya.
Jam menunjukkan pada pukul 05:12 pagi, Bagas yang tertidur lelap sembari mendekap hangat tubuh polos Arta di balik selimut tebal itu tiba-tiba terbangun lantaran nendengar dering panggilan pada ponselnya.
Telapak tangan pemuda tampan itu meraba-raba sisi atas ranjang tempatnya dan pelanggannya menghabiskan malam bersama.
Setelah mendapatkan ponselnya, Bagas pun menggeser tombol hijau di layar ponsel itu dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"[Hallo, Vi. Ada apa?]" tanya Bagas pada seseorang yang menghubunginya.
"[....]"
"[Di rumah temen,]" jawab Bagas. Tampak, jika ia sedang berdusta pada orang yang berada diseberang telepon.
"[....]"
"[Kenapa?]" tanya Bagas. Keningnya berkerut, bahkan tubuhnya langsung beringsut dari posisinya berbaring.
"[....]"
"[Apa? Ya ... Mas pulang sekarang!]" pekik Bagas dengan wajahnya yang berubah panik.
Pemuda itu langsung turun dari atas ranjang kamar itu dan melangkah menuju kamar mandi. Tanpa membersihkan diri, Bagas memakai pakaiannya dan hendak pergi dari hotel tersebut tanpa menyelesaikan pekerjaannya dan Arta.
"Mau kemana?" tanya Arta pada Bagas yang kini sudah berdiri di depan pintu kamar.
Rupanya pekikan Bagas telah mengusik tidur Arta. Membuat wanita cantik bertubuh elok dan seksi itu membuka mata.
"Saya ada urusan mendesak, Nona. Jadi saya harus pergi sekarang juga," jawab Bagas dengan wajahnya terlihat cemas.
"Sisa bayaran 'mu bagaimana?" tanya Arta. Wanita itu bertanya sembari beringsut dari posisinya dan menatap pada Bagas dengan wajahnya yang terlihat begitu sayu.
Arta yang di gempur habis-habisan oleh Bagas semalam, ternyata benar-benar kelelahan.
"Nanti saja, Nona. Kita bertemu kembali setelah urusan saya selesai. Sekarang saya harus pergi, keadaan saya benar-benar sedang mendesak," jawab Bagas. "Saya permisi dulu, Nona. Silahkan lanjutkan istirahatnya, maaf jika saya telah mengusik tidur Nona pagi ini."
Sebelum pergi, Bagas menyempatkan diri untuk meminta maaf pada Arta. Lalu setelahnya, ia keluar dari kamar itu dengan tergesa-gesa dan pergi meninggalkan area hotel bintang 5 tersebut.
Sepeninggalan Bagas, Arta tidak melanjutkan tidurnya. Wanita itu kini duduk termenung dengan tubuh polosnya yang bersandar pada kepala ranjang.
Kamar hotel itu telah menjadi saksi bisu pergumulan ilegal yang telah ia dan lelaki bayarannya lakukan semalaman.
"Kita lihat saja nanti, akan aku tunjukkan siapa yang tidak berguna di sini. Aku atau kalian!" Arta berbicara sendirian, sorot matanya menunjukkan ketidaksenangan dan juga kebencian.
"Akan kubalas semua penghinaan yang telah kalian berikan padaku selama ini!"
"Akan kubalas semua penghinaan yang telah kalian berikan padaku selama ini!"
Cukup lama duduk di atas ranjang dan berperang dengan pikirannya, akhirnya Arta beranjak dari posisinya dan pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Di satu sisi, Arta masih berada di hotel. Di sisi lain, Bagas mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi menuju rumahnya yang berada di pinggiran kota.
Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu kurang lebih setengah jam, Bagas pun sampai di depan rumah sederhana.
Dengan langkah tergesa, Bagas memasuki rumah itu.
"Vita ....!" panggil Bagas pada seseorang.
"Mas Bagas!" sahut Vita, adik tertua Bagas yang kini sedang duduk di bangku kelas 2 SMA.
Gadis remaja itu menghampiri kakaknya dengan air mata berderai. Tampak, keningnya mengalami cidera.
"Ibu mana?" tanya Bagas pada adiknya.
"Di kamar, Mas. Dari tadi teriak-teriak terus dan ngamuk, kepala Vita kejedot lemari tadi," jawab Vita dengan suaranya yang serak.
"Vian dan Ana mana!" tanya Bagas lagi sembari melangkah mendekati kamar ibunya.
Kamar yang lebih pantas di sebut sebagai penjara bagi seorang wanita setengah baya yang menderita gangguan jiwa. Ya ... Ibu dari Bagas menderita gangguan jiwa sejak 2 tahun yang lalu. Saat itu, Bagas baru saja lulus dari bangku sekolah menengah akhir (SMA).
"Vian dan Mbak Ana di sini, Mas," sahut Vian. Adik bungsu dari Bagas yang duduk di bangku kelas 5 SD.
"Kalian tunggu di sana, nanti Mas mau bicara setelah nenangin Ibu," kata Bagas. Tangannya menunjuk pada kedua adiknya yang bersembunyi di samping lemari.
Kedua bocah itu mengangguk dan tetap bersembunyi di samping lemari tersebut lantaran takut pada ibu mereka yang mengamuk.
Setelah berbicara pada adik-adiknya, Bagas masuk ke dalam kamar ibunya dan berusaha untuk menenangkan wanita setengah baya itu.
"Pembunuh ... dia yang telah membunuh suamiku!" maki ibu dari Bagas dengan histeris. Matanya menatap nyalang pada Bagas yang memasuki ruangan tersebut.
"Bu, ini Bagas. Bukan orang jahat apa lagi pembunuh," ucap Bagas. Mulutnya berbicara tetapi kakinya terus melangkah mendekati sang ibu yang duduk di sudut kamar.
Perlahan, Bagas yang sudah berhasil mendekat itu menyentuh kedua bahu ibunya. "Bu, ini Bagas ...."
Cukup lama Bagas menenangkan sang ibu yang kerap mengamuk tiba-tiba. Dan setelah ibunya tenang, Bagas pun meminta wanita setengah baya itu untuk beristirahat.
"Ibu istirahat ya, jangan banyak pikiran. Bagas pasti bakalan cari pembunuh itu," ucap Bagas pada ibunya. Bu Maria namanya.
Wanita setengah baya itu menderita gangguan jiwa sejak 2 tahun yang lalu. Tepatnya setelah ia melihat kejadian memilukan yang menimpa suaminya. Suaminya menjadi korban tabrak lari dan meregang nyawa di depan mata kepalanya sendiri.
Setelah Bu Maria tenang dan beristirahat, Bagas keluar dari kamar itu dan mengunci kembali pintunya. Lalu ia menghampiri ketiga adiknya.
"Kenapa kalian gak ada yang sekolah?" tanya Bagas pada ketiga adiknya.
Ketiga adik dari Bagas tidak ada yang berani menjawab, bahkan mereka semua hanya bisa tertunduk di hadapan Bagas.
"Kenapa diam?" tegur pemuda itu.
"SPP Vita kan belum di bayar 3 bulan ini, Mas. Jadi Vita gak boleh ikut ulangan," jawab Vita dengan pelan.
Jawaban Vita diikuti anggukan kepala oleh kedua adiknya.
Bagas mengusap wajahnya dengan kasar. "Kalian bertiga gak ada yang bisu kan? Kenapa gak ngomong dari kemaren-kemaren?" kesal Bagas dengan suaranya yang sedikit meninggi.
Suara berintonasi cukup tinggi itu membuat ketiga bocah yang masing-masing duduk di bangku SMA, SMP dan SD itu menjadi takut.
"Sekarang ganti baju dan berangkat sekolah!" perintah Bagas pada ketiga adiknya.
"Tapi bayaran sekolahnya gimana, Mas? Ana dimarahin Bu Guru, katanya suruh melunasi uang bulanan yang udah nunggak."
"Mas punya uang, jadi kalian gak usah khawatir. Sekalian nanti kita masukin ibu ke rumah sakit, biar ibu bisa di rawat sampai sembuh!"
Mendengar perkataan Bagas, ketiga bocah yang berbaris seperti diagram itu pun tersenyum lega. Lalu dengan cepat ketiganya berlari menuju kamar dan bersiap untuk berangkat ke sekolah.
"Mas gak akan biarkan kalian putus sekolah, gak perduli Mas dapatkan uang dengan cara apa. Yang pasti, kalian harus jadi anak-anak yang sukses dikemudian hari." Bagas berbicara dengan pelan sembari menatap pada ketiga adiknya yang berlarian menuju kamar.