Bab 2

Senja membuka matanya. Ia melihat Dafa memeluk Shanum dengan posisi membungkuk. Sisi kiri tubuh Dafa berbenturan dengan bumper depan mobil.

Semua orang mulai berdatangan untuk menolong Dafa dan juga Shanum. Beberapa warga tampak mengetuk kaca jendela mobil yang menyetir dengan ugal ugalan tersebut.

Seorang pria dengan kondisi setengah sadar karena pengaruh alkoh0l turun dari mobil.

"Maafkan aku! Aku tidak sengaja."

"Bawa dia ke kantor Polisi." Senja sangat marah.

"Ya ya benar! Bawa dia ke kantor Polisi." Semua orang yang ada di sana mendukung ucapan Senja.

Tapi Dafa malah meminta hal yang sebaliknya. "Sudahlah, jangan memperpanjang masalah. Yang penting aku dan Shanum baik baik saja."

Senja dan warga sekitar, tak bisa bertindak lebih jauh. Karena Dafa selaku korban tabrakan, meminta jalan damai.

"Terima kasih Pak." Si pria mengucapkan kalimat singkat tersebut, lalu pergi begitu saja. Kerumunan warga mulai membubarkan diri.

Setelah itu Senja, Dafa dan si kembar, masuk ke dalam rumah kontrakan berukuran cukup luas tersebut.

Senja memang terkejut ketika melihat semua perabotan rumah tangga yang lengkap ada di sana. Mulai dari meja dan kursi tamu serta pendingin ruangan yang ada di sana. Tapi, saat ini ia fokus mengobati tangan dan kaki Dafa yang memar karena terkena tabrakan tadi.

"Aaa! Pelan pelan!" Dafa mengerang ketika Senja mengoleskan minyak penghangat ke area tubuhnya yang memar.

"Aku mungkin akan jadi ketagihan ditabrak mobil," tutur Dafa.

"Ngomong apaan sih Mas!"

"Ya karena perawatnya secantik kamu. Jadi bikin ketagihan ditabrak," sahut Dafa diiringi gelak tawa.

"Dasar perayu! Udah ah aku mau lihat anak anak dulu."

Anak anak Senja masuk ke dalam kamar yang letaknya dekat dengan ruang tamu. Lalu mulai melompat lompat di atas kasur empuk yang ada di sana.

"Ternyata disini juga ada tempat tidur. Apa Mas Dafa menyewa rumah ini lengkap dengan perabotannya?"

Dafa berdiri di belakang Senja dan menepuk bahu Senja.

"Gimana, kamu suka dengan rumahnya? Aku harap kamu dan anak anak betah tinggal di sini."

Senja mengangguk pelan. Dafa tersenyum sambil menatap Senja.

"Aku akan pesan makanan online saja untuk malam ini," tutur Dafa.

Dafa meraih ponselnya dan mulai menggulir layar ponselnya untuk memilih makanan.

"Aku mau makan ayam goreng!"

"Aku juga ya Om!"

Kedua anak Senja, sudah memilih menu makan malam mereka.

"Senja, mau makan apa?" tanya Dafa.

"Apapun Mas. Yang penting ada nasi."

Dafa pun memesan makanan, sesuai dengan permintaan anak anak. Ia memesan dua porsi ayam panggang dan dua porsi ayam goreng. Dafa juga memesan empat gelas jus jeruk, sebagai pelengkapnya.

Satu jam kemudian, pesanan Dafa sampai di rumah. Semua orang makan bersama.

"Enak sekali ayamnya ya, Ma!" Shanum memuji makanan yang sedang ia makan.

"Rasanya sedap." Salsa ikut bicara.

"Iya sayang. Ayo ucapin terima kasih sama Om Dafa!"

"Makasih ya Om!" Si kembar bicara dengan kompak. Dafa tersenyum sambil mengangguk.

"DuAr!" petir terdengar menyambar dengan suara yang cukup kencang.

Usai makan, Senja meminta kedua anaknya untuk mandi. Sementara Senja, akan mulai menata baju ke dalam lemari.

"Sayang, kalian mandi dulu ya. Mama mau beresin baju baju kita dulu."

"Iya, kalian mandi dulu ya. Karena di daerah ini, kalau hujan deras pasti mati lampu!" sahut Dafa.

Si kembar mengangguk dan bergegas menuju ke kamar mandi. Keduanya pun bermain air bersama sambil tertawa lepas di dalam kamar mandi.

"Sayang, mandinya yang bener ya. Jangan bermain air terlalu lama!" ucap Senja dari balik pintu kamar mandi.

"Iya Mama sayang!"

Setelah kedua anak kembarnya selesai mandi, kini giliran Senja yang mandi. Dan terakhir adalah Dafa.

Hujan di luar rumah mereka, turun makin deras. Petir juga terdengar menyambar beberapa kali. Si kembar mulai rewel karena merasa tak nyaman dengan situasi tersebut.

"Ma, aku takut!"

"Shanum juga takut!"

"Kalian lebih baik tidur. Mama akan ceritakan dongeng untuk kalian," ucap Senja.

Senja bercerita tentang kisah bawang merah dan bawang putih. Tak butuh waktu lama untuk Senja bercerita, kedua anak kembarnya sudah tertidur pulas.

Saat ini, tiba tiba saja lampu rumah padam. Kondisi menjadi gelap gulita. Senja yang phobia dengan keadaan gelap, jadi cemas. Ia meraih ponselnya dan menyalakan senter.

"Mas!" Senja memanggil Dafa.

Tapi Dafa tak menjawab panggilan dari Senja. Wanita muda dengan paras ayu nan menawan ini pun, keluar dari kamar dan meninggalkan kedua anaknya tidur di atas ranjang sendirian.

Senja berjalan ke ruang tamu dengan perlahan sembari terus memanggil nama Dafa.

"Mas Dafa!"

"Wush!" Dari arah belakang, ada nafas berat dan hangat yang mendengus dan menerpa bagian leher Senja.

Sontak, Senja pun menoleh dengan wajah ketakutan. Karena ia berpikir, jika yang sedang berdiri di belakangnya adalah hantu.

Namun dugaannya kali ini salah. Ternyata yang berdiri di belakangnya adalah Dafa.

"Mas Dafa! Bikin kaget aja!" Senja terjingkat karena kaget.

Dafa tak menjawab apa apa. Ia malah mendekatkan dirinya ke arah Senja. Lalu merengkuh tubuh Senja. Dafa memeluknya dengan erat seraya menciumi aroma wangi yang ada pada rambut Senja.

"Mas Dafa, lepasin aku Mas! Jangan begini!" bisik Senja.

"Sssst! Diam saja dan nikmatilah kebersamaan kita ini," ucap Dafa dengan tatapan dalam.

Dafa menautkan bibirnya ke bibir Senja. Keduanya memejamkan mata dan mulai terbawa suasana.

Terlebih lagi Senja yang sudah menjadi janda selama kurang lebih dua tahun, ia merasa sentuhan Dafa begitu membangkitkan gairahnya.

Tangan Dafa mulai bergerilya ke arah gunung kembar Senja. Mengusap bagian ujungnya dengan lembut, hingga membuat Senja merintih.

"Enak?" tanya Dafa.

Pipi Senja tampak memerah, ia sudah berada di ujung puncak kebahagiaan. Dafa tak mau menyia nyiakan hal ini. Ia pun menggendong Senja dan membawanya ke kamar yang lain.

"Ceklek!" Terdengar suara pintu yang terkunci.

Dafa menggunakan handphonenya sebagai senter dan meletakkannya di meja kecil dekat dengan tempat tidur. Ia kemudian, melepaskan kemeja yang dikenakan.

Senja menikmati pemandangan indah yang ada di hadapannya tersebut. Dada bidang seorang pria dengan sedikit bulu yang yang menghiasi.

"Mas," bisik Senja.

Dafa tak menjawab, ia tengah sibuk menyambar puncak gunung kembar menggunakan lidahnya. Sementara tangan kekarnya mulai meraih ke bagian hutan rimba yang cukup lebat. Jemari Dafa, merasakan ada cairan hangat yang keluar dari hutan rimba tersebut.

Keduanya mulai saling meraih dan menyentuh. Hingga keperkasaan Dafa masuk ke area paling dalam dari hutan rimba.

Suasana kamar yang tadinya dingin, berubah menjadi panas membara. Suara nafas Senja dan Dafa saling bersahutan.

Akhirnya setelah bermain beberapa saat, mereka mencapai puncak secara bersamaan. Mereka berdua kelelahan dan tertidur hingga pagi.

Keesokan paginya, si kembar bangun dari tidur lebih dulu. Mereka mencari Senja ke seluruh penjuru rumah.

"Mama!"

"Mama kemana?"

"Kok rumah sepi sih!"

Mendengar teriakan Shanum dan juga Salsa, Senja terbangun dari tidurnya.

"Shanum, Salsa!" Senja menyingkirkan tangan Dafa yang melingkar di atas perutnya.

Senja meraih bajunya yang ada di ujung tempat tidur. Lalu merapikan diri ke kamar mandi.

Senja membuka pintu kamar dan menyelinap keluar dari sana. Saat itu, kedua anaknya sudah berada di luar rumah.

"Sayang!"

"Mama! Mama dari mana aja? Kami dari tadi nyariin Mama!"

"Mama tadi ada di dapur kok!"

"Nggak ada! Tadi kami ke dapur, tapi nggak ada siapa siapa disana."

"Mama bohong ya?" tanya Shanum.

Senja jadi salah tingkah dan kebingungan, bagaimana menjawab pertanyaan kritis dari kedua anak kembarnya.

"Mama tadi di dapur, sayang."

"Lagi ngapain di dapur?"

"Bikin sarapan."

"Emangnya kita punya stok sayuran dan lauk ya Ma? Kita aja barusan pindah ke rumah ini!"

"Ehm ada kok!" Senja berb0hong.

Tanpa ia duga, kedua anaknya berlarian menuju ke dapur dan memeriksa isi kulkas.

Tepat saat mereka akan membuka pintu kulkas, Dafa sudah berdiri di dekat pintu dapur.

"Selamat pagi anak anak. Bagaimana tidur kalian semalam? Oh iya, hari ini Om Dafa ingin pergi ke rumah es krim. Apa kalian berdua mau ikut?"

"Mau!" Si kembar menjawab kompak dan melompat kegirangan. Mereka berdua pun bergegas mandi.

"Kamu juga mandi ya sayang. Dandan yang cantik. Kita jalan jalan hari ini," tutur Dafa kepada Senja.

"Kamu nggak pergi ke kantor, Mas?"

"Aku akan ambil libur untuk beberapa hari sekalian persiapan pernikahan kita!"

****

Dafa, Senja dan kedua anak kembarnya berangkat menuju ke rumah es krim yang ada di luar kota. Mereka harus menempuh jarak sekitar satu jam, agar bisa sampai ke sana.

Setibanya di rumah es krim, Shanum dan Salsa turun dari mobil dengan penuh semangat. Mereka berlarian ke arah ayunan yang ada disana. Senja pun mengikuti kedua anaknya. Sementara Dafa, sedang sibuk memesan es krim.

Ketika Dafa sedang memilih es krim yang ada di daftar menu, seorang wanita berambut keriting berjalan mendekatinya.

"Mas Dafa," ucapnya sembari menepuk bahu Dafa agak kencang.

Dafa menoleh dan melotot kaget, ketika melihat wanita tersebut. Dan si wanita, mulai memegang lengan Dafa lalu bergelayutan dengan manja.

Bab 3

"Vania, ngapain kamu di sini?" Dafa menjaga jaraknya dengan Vania agar tidak terlalu dekat.

"Lagi makan es krim lah. Oh ya Mas ke sini sama siapa?"

"Mau tahu aja kamu!" Dafa menjawab dengan ketus lalu pergi menjauhi Vania.

Vania sejak dulu menjadi penggemar Dafa, berulang kali Vania menyatakan cinta. Tapi Dafa menolaknya.

Dafa melihat ke kanan dan kiri. Ia mencari dimana keberadaan Senja.

Saat itu Senja tengah bermain ayunan bersama kedua anaknya. "Syukurlah! Senja tidak melihat Vania dan aku berduaan tadi. Kalau tidak, Senja pasti akan cemburu."

Dafa kembali lagi ke meja kasir dan mulai memesan es krim lagi. Ia membeli dua es krim rasa coklat strawberry dan dua lagi rasa coklat dengan taburan kacang almond di atasnya.

"Es krim datang!" Dafa membawa nampan berisi empat mangkuk es krim.

"Hore!" Shanum dan Salsa kegirangan.

"Ayo kita duduk di sebelah sana!" Dafa menunjuk sebuah saung yang ada di bawah pohon Eboni.

Anak anak dengan semangat berlarian ke arah saung. Sesampainya di sana, mereka makan es krim dengan lahap.

"Seneng nggak Om ajak ke sini?" tanya Dafa.

"Seneng banget!" seru Shanum.

"Besok kita ke sini lagi ya Om?" tanya Salsa.

"Ya sayang."

Semua orang berbincang sambil menikmati es krim. Suasana terasa sangat menyenangkan.

Usai menyantap es krim, mereka kembali pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan pulang, si kembar bermain dengan seru. Saling menggelitik satu sama lain, hingga suara tawa mereka terdengar cukup kencang. Dan tanpa disadari, ikat rambut milik Shanum terlepas dan jatuh ke bawah mobil.

"Sayang kalau bercanda, suaranya jangan kencang kencang dong! Nanti Om Dafa nggak bisa konsentrasi menyetir," Senja mengingatkan kedua anaknya.

"Iya Mama sayang!" Si kembar menjawab dengan kompak.

Dafa melirik Shanum dan tersenyum kepadanya.

"Kamu emang wanita yang paling hebat, yang pernah aku temui. Saat bersama kamu, aku merasa jadi lelaki yang paling sempurna," tutur Dafa.

"Ah Mas ini bisa aja! Aku itu nggak istimewa. Aku biasa saja, Mas."

"Kamu normal, kamu memiliki dua orang anak perempuan yang cantik. Dan aku bisa menjadi Ayah bagi mereka."

Ucapan Dafa, secara tidak sengaja didengar oleh Shanum dan Salsa.

"Om Dafa, mau jadi Ayah kita?" Shanum jadi penasaran.

"Iya sayang. Kalian seneng nggak kalau Om jadi Ayah kalian?"

"Seneng sekali!"

Kedua anak kecil yang masih sangat polos ini, tak begitu paham mengenai hubungan Ibunya dengan si lelaki bernama Dafa. Mereka hanya mengira jika Dafa hanyalah sebatas teman saja untuk Senja.

Tanpa terasa, mereka sudah sampai di rumah. Senja dan kedua anaknya turun dari mobil.

"Mas, nggak ikutan turun?"

"Mas mau ke rumah Ibu. Mau bicarain soal pernikahan kita. Kita nggak mungkin hidup tanpa ikatan tali pernikahan. Iya kan?"

"Iya Mas," sahut Senja sambil tersenyum.

"Oh iya, ini uang buat kamu. Kalian makan yang bener ya. Kalau nggak sempat beli gas, nggak usah masak. Beli aja makanan matang. Di sini ada banyak warung. Kalau malas keluar, kamu pesan online saja." Dafa mengeluarkan dompet dan mengambil sepuluh lembar uang seratus ribuan. Ia menyerahkan uang itu kepada Senja.

"Uang apa ini, Mas?" Senja canggung menerima uang milik Dafa.

"Uang buat jajan anak anak. Besok Mas ke sini lagi. Malam ini, Mas harus nginep dulu di rumah Ibu. Kalau nggak ada halangan, dua atau tiga hari lagi kita resmikan pernikahan kita." Dafa mengatakan hal ini sambil menatap dalam.

Senja pun mengangguk mantap. Dafa melambaikan tangan dan berpamitan. Mobil Dafa dengan cepat menghilang dari pandangan Senja.

"Sayang, ayo kita masuk ke dalam," ucap Senja kepada kedua anaknya yang saat ini tengah asyik bermain di bawah pohon ceri.

Shanum dan Salsa mengikuti ucapan sang Ibu. Mereka masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamar.

"Aku mau nonton kartun," tutur Salsa.

"Iya, ayo kita nonton," sahut Shanum.

Senja melihat raut kebahagiaan yang terpancar dari kedua wajah anak kembarnya.

"Setelah sekian lama, Shanum dan Senja bisa tersenyum dan bebas melakukan apapun yang mereka inginkan. Terima kasih ya Mas. Karena kebaikan hatimu, kami bisa sebahagia ini sekarang," ucap Senja bermonolog dalam hati sambil melamunkan Dafa.

"DRrt!" Ponsel milik Senja berbunyi.

Senja meraih ponselnya dari tas, dan melihat ada sebuah pesan teks singkat yang masuk ke ponselnya. Isi pesan itu, membuat Senja mengerutkan keningnya.

"Dasar pelac*r!"

Sepenggal kata umpatan dari nomor tidak dikenal, membuat Senja shock.

"Siapa ini? Kenapa mengolok olok aku seperti ini?" Senja mencoba untuk menghubungi si pemilik nomor.

Namun hingga berkali kali Senja mencoba untuk menelepon, si pemilik nomor tidak mau menjawab panggilan yang masuk.

"Kenapa dia mau mengangkat telepon dariku? Siapa dia ini?" Senja penasaran.

Tak selang berapa lama, nomor asing itu kembali mengirimkan sebuah pesan.

"Tenang pelac*r, aku bukanlah musuhmu. Aku ada di pihakmu!"

Kalimat yang baru saja masuk ke ponsel Senja, benar benar membuat Senja frustasi.

"Apa apaan ini! Kenapa dia terus mengirimkan pesan dengan kata kata yang tidak pantas?"

Sedetik kemudian, terdengar suara ketukan pintu.

"Paket!" seorang lelaki menggunakan jaket warna hijau berteriak di depan rumah Senja.

Senja membuka pintu rumah, ia terkejut melihat kurir pengantar paket yang membawa sebuah kotak berukuran lumayan besar.

"Paketnya Bu!"

"Tapi saya nggak pesan paket!"

"Ibu namanya Senja Maharani kan?"

"Iya, tapi saya nggak merasa pesan apa apa!"

"Ini kiriman dari Pak Dafa!"

Setelah mengatakan nama Dafa, Senja baru mau menerima paket besar tersebut.

Senja meletakkan paket itu di atas meja tamu. Dan kurir yang mengantar paket sudah pergi dari rumahnya.

"Paket apa ini?" Senja membuka paket tersebut. Setelah dibuka, ternyata isi paket itu adalah buket bunga mawar dan sekotak coklat.

Dan ada sebuah kertas yang berisi tulisan terselip di dalam kotak coklat. "Terima kasih sudah mau menjadi bagian terpenting dalam hidupku."

Senja tersenyum melihat pemberian Dafa, tapi handphonenya kembali mendapatkan sebuah pesan teks singkat.

"Pelac*r, aku akan membantumu supaya cepat menikah dengan pujaan hatimu itu!"

"Pasti hanya orang iseng." Kali ini Senja mengabaikan pesan singkat yang masuk.

"PranG!" Suara kaca yang dilempari menggunakan batu, terdengar oleh Senja.

Senja dengan buru buru keluar dari rumah. Dari kejauhan, terlihat seorang lelaki mengenakan topi baseball sedang berdiri menatap ke arah Senja.

"Siapa dia? Apakah dia yang barusan mengirimkan pesan teks itu?"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED