“Kau paham bahasa manusia, ‘kan?” Adrian memandang Briella sambil berpikir. Tatapan seriusnya selalu membuat Briella tidak mampu bereaksi. “Cepat lakukan perintah suamimu, Briella.”
“Kita memang suami istri, tapi aku … aku belum terbiasa telanjang di depan seseorang.”
Adrian seakan memaku Briella dengan tatapannya selagi dia berpikir sambil membisu dengan wajah datar. “Maka biasakanlah mulai sekarang.”
“Di-di sini?”
Adrian mengangguk dingin. “Lepaskan sekarang. Di sini!”
Tak berdaya, Briella akhirnya mengikuti kemauan Adrian. Dia membuka satu demi satu kancing piyamanya. Sekeras mungkin berusaha menyembunyikan kegugupan. Lanjut menurunkan celana piyama. Briella tidak tahu mengapa dia belum merosot ke lantai, lututnya terasa sangat lemas saat ini. Terlebih mata Adrian merayapi wajahnya.
Briella melihat Adrian tersenyum cukup lebar sampai lesung pipitnya muncul. Cepat-cepat Briella menurunkan pandangan, berharap Adrian berubah pikiran dan memintanya berhenti. Sayang sekali, harapan Briella tidak terealisasi, Adrian justru minta Briella melucuti pakaian secepat mungkin.
“Tidak bisakah kau lebih cepat?!”
Briella hampir terkena serangan asma padahal dia tidak mengidap asma karena bentakan Adrian. Pria yang dia anggap penolong karena menikahinya saat keluarganya bangkrut, ternyata memperlakukannya dengan sangat buruk. Meskipun Adrian suaminya, tetap saja, harga dirinya seakan tak dihargai sama sekali.
“Mengecewakan,” kata Adrian sambil berdiri kemudian maju sedikit lagi. “Badanmu tidak sebagus yang kubayangkan. Kupikir putri tunggal Rudolf Moretti yang dijaga seperti berlian mahal akan memiliki tubuh menakjubkan. Ternyata ekspektasiku terlalu tinggi.” Adrian jelas berbohong, tubuh Briella sangat indah. Kulit putihnya semulus porselen, ditambah kaki jenjang, perut rata, paha ramping, bokong membulat, serta sepasang bukit kembar sintal yang tidak besar tapi tidak terlalu kecil.
Sialan, dia benar-benar tipeku. Batin Adrian yang tak bisa terucapkan.
Rambut merah Briella kontras dengan kulit putihnya, rambut itu bagai gelombang yang kemilaunya membuat siapa pun ingin membelai.
“Maaf mengecewakanmu,” ucap Briella lemah dengan kepala tetap merunduk.
Adrian sulit menelan salivanya. Kerongkongannya terasa menyempit terdesak buncah hasrat yang tiba-tiba menyambar. Dia sedang menghukum Briella, tetapi seperti sedang menghukum dirinya sendiri. Menyaksikan Perempuan itu berdiri di sampingnya dalam kondisi polos tanpa busana membuat Adrian sedikit gila.
Tidak, dia rasa dia sudah benar-benar gila.
“Apa yang kau ketahui tentang malam pertama?”
Briella tercekat mendengar pertanyaan Adrian. “Te-tentang apa?”
“Lupakan. Sejauh apa kau pernah berhubungan dengan seorang pria?”
“Berteman.”
“Berteman? Aku bukan bertanya tentang status, tapi tentang …” Adrian bingung memilih kata. “Sudahlah. Sebelum ini, apa pernah ada pria yang menyentuhmu?”
“Ayahku?”
“Ayahmu? Maksudku, bukan sentuhan biasa, tapi hal-hal berbau seksual, Briella.” Adrian mulai emosi.
“Maaf, aku … aku tidak punya pengalaman sama sekali tentang hal-hal berbau seksual. Ayahku bahkan melarang aku keluar mansion. Aku tidak memiliki satu pun teman laki-laki, jadi aku benar-benar bingung ke mana arah pembicaraanmu.” Adrian berdiri, mendekati Briella. Tangannya dengan lancang meremas dan memuntir puncak dada istrinya tanpa permisi. “Akhhhhh….”
“Apakah ini pertama kali ada yang mempermainkan dadamu?”
Briella mengangguk, dia menutup mulutnya rapat-rapat, berusaha menahan diri untuk tidak berkata kasar. Bagaimanapun yang baru saja melecehkannya adalah suaminya sendiri.
Anggukkan Briella membuat Adrian makin berhasrat, dia mencengkeram segenggam rambut Briella, menarik kepala perempuan itu ke belakang selagi Adrian mendaratkan bibirnya. Cumbuan yang awalnya lembut, manis, berangsur-angsur jadi brutal dan meliar.
“Mmmpppfff,” ronta Briella ketika paru-parunya mulai kehabisan oksigen.
Adrian melepaskan pagutannya. “Apa itu juga ciuman pertamamu?”
Briella mengangguk, kali ini ada air mata membasahi pipi putihnya.
“Kau menangis? Apa aku menyakitimu?”
Menggeleng lemah, Briella tak bisa berkata jujur kalau Adrian melukai hati dan harga dirinya. “Tidak, kau tidak menyakitiku.”
Sulit untuk mengelak bahwa Briella sangat menggairahkan, kejantanan Adrian yang mengeras seperti batu menjadi saksi bisu bahwa pria ini sangat ingin mengangkangi istrinya di atas ranjang. Sementara Adrian sibuk berpikir keras terhadap reaksi aneh di tubuhnya. Briella gugup membayangkan apa yang mungkin terjadi sepanjang sisa malam nanti. Mengingat Adrian sudah melihat dirinya luar dalam, jelas malam ini mereka akan berakhir dengan hubungan suami istri. Briella gelisah karena tidak tahu kapan Adrian akan melakukannya.
Apakah dia akan siap disentuh pria asing yang hari ini sudah berstatus suaminya? Jika Adrian menikahinya karena cinta, kenapa sikap Adrian begitu kasar? Kenapa tampaknya Adrian membencinya? Haruskah dia kabur saja? Jutaan pertanyaan muncul di dalam benak Briella.
“Aku akan segera menyakitimu,” timpal Adrian sambil melepaskan kancing kemejanya. Briella tersentak, dia kembali menatap Adrian yang sudah telanjang dada. “Kamu masih perawan, bukan?”
“A-apa yang akan kita lakukan?” tanya Briella dengan kecemasan yang jelas-jelas tak bisa lagi tertutupi. Perempuan polos itu sangat terlihat gugup.
“Sudah jelas. Kau akan segera melakukan tugasmu sebagai istri. Yakni memenuhi kebutuhan biologisku.” Melalui ekor mata, Adrian bisa tahu Briella tengah mengawasinya dengan ketakutan. Namun Adrian kagum melihat ketenangannya. Briella sanggup menahan diri meski gelagatnya mengatakan dia ingin lari dari Adrian sekarang juga. “Kau pasti sudah dengar, bahwa pertama kali melakukan hubungan badan akan terasa menyakitkan. Jadi kau harus bersiaplah, tapi tenang ini hanya sakit pertama saja. Selanjutnya yang kau rasakan bukan lagi sakit, melainkan rasa nikmat.”
Briella menatap bibir Adrian, membuat pria itu secara naluriah menggigit bibir bawah. Kaki Adrian mati rasa. Mata Briella yang tajam berubah sayu dan suaranya memelan hingga tinggal bisikan. “Kebutuhan biologismu ... akan aku penuhi,” katanya pelan menjeda, lalu melanjutkan, “Sejak pamanku menerima lamaranmu, dan sejak mengucapkan janji suci di altar, aku sudah berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku akan menjadi istri yang baik untukmu. Aku akan menuruti semua perintahmu, dan memenuhi semua yang kau butuhkan. Jadi, katakan, apa yang harus aku lakukan?”
Andai Briella tahu betapa Adrian kesulitan menyimak kata-katanya, karena yang bisa dia pikirkan hanya menebak-nebak betapa lembut dan hangat liang sempit Briella. Betapa nikmat rasanya. Betapa sempurna ketika miliknya dicengkeram ketat oleh kewanitaan Briella. Adrian berharap egonya runtuh hingga dia bisa secepat mungkin mendekatkan tubuh dan menggauli istrinya bersamaan Briella mulai hanyut dalam sebuah pelukan yang hangat.
Sial! Adrian mengumpat dalam hati.
“Jawab aku, Adrian.”
“Mmm....”
“Aku harus mulai darimana?”
“Briella.” Kata-kata itu mencelos dari rahang yang mengetat. Tangan Adrian menuruni punggung Briella dengan lembut meluncur di pinggul dan terus ke paha. Briella menggeletar di bawah sentuhan jemari Adrian. “Kita pindah ke ranjang dulu.”
“Aku memang amatiran dan tidak berpengalaman, tapi aku bisa cepat belajar. Kuharap kau bisa ajari aku, agar aku tahu cara yang benar dalam melayanimu.”
Adrian mengembuskan napas kuat-kuat, ada kekesalan turut terhempas keluar. Dia benar-benar tidak mengharapkan putri Rudolf Moretti sepenurut ini. Jika saja Briella pembangkang yang menyebalkan, dia mungkin bisa lebih kejam menyiksanya. Kenapa Briella sejinak ini? Apa dia tahu kalau Adrian menikahinya hanya untuk balas dendam? Ah, tapi tidak mungkin.
“Beri aku pemanasan.” Adrian menarik diri, rebah ke tengah ranjang masih mengenakan celananya. “Kamu tahu caranya bukan?”
Ragu-ragu Briella menggeleng.
“Cepat ke marilah.”
Perempuan itu perlahan merayap ke sisi Adrian.
“Hujani aku dengan ciuman, jilatan juga bagus. Kau bisa mengulum di beberapa area sensitif, akan kuberitahu nanti.”
Adrian spontan memejam, terkesiap ketika bibir Briella menyentuh lehernya. Briella mendaratkan kecupan ringan, tepat di bawah telinga. Entah kenapa Adrian merasa seisi kamar terjungkir balik. Perlahan-lahan bibir Briella kembali ke telinga Adrian. Dia berbisik, “Apakah seperti ini? Apa kau bisa menikmatinya?”
Adrian menggeleng, meskipun hampir mengangguk. “Pemanasanmu membuatku mengantuk.”
Kekeraskepalaan membuat Adrian menyangkal.
“Aku akan berusaha lebih keras.” Briella mendekatkan bibir, mengecup pipi Adrian. Berlanjut menjatuhkan kecupan-kecupan halus sampai telinga Adrian, di sana dia berhenti dan berbisik lagi, “Apa ini juga membuatmu mengantuk?”
Seumur hidup belum pernah Adrian merasa tidak bosan seperti ini. Briella bahkan belum mencium bibirnya, tapi dia sudah merasakan ciuman paling berkesan. Adrian menggeleng, masih memejam, karena dia suka tidak mengetahui apa yang terjadi selanjutnya. “Gunakan juga tanganmu, ada banyak yang bisa dilakukan.”
Tangan Adrian menarik tangan Briella mengarahkannya ke balik celana piyama hingga jemari si istri dapat merasakan milik Adrian yang mengeras. “Aaaarrghhhh … tunggu.” Briella menjerit, sadar kalau yang barusan dipegang adalah alat kelamin suaminya.
“Apa kau baru saja melihat hantu?”
“I-itu … aku tidak menyangkan itu-mu begitu besar.”
“Dan kau bereriak karena takut atau terkesan?”
Briella mencoba menghindari tatapan Adrian. Pipinya bersemu merah karena malu, jantungnya berdebar tak karuan. Adrian akhirnya menyentuh leher Briella, dan itu membuat kulit si perempuan merinding. Ternyata satu sentuhan saja mampu menimbulkan reaksi cukup besar.
“Briella, kau sangat payah. Aku tidak tahan menunggumu melakukannya.” Dalam sekejap lidah Adrian menyapu leher Briella.
Tangan Adrian naik dari pinggang Briella ke kepala. Dia mendekatkan leher Briella ke bibirnya, kali ini dia tidak menahan diri lagi. Briella membuka mata, terkejut mendapati serangan Adrian yang sangat agresif. Adrian mencium, menjilat, merayu tiap jengkal bibir hingga dada Briella dengan kepiawaiannya. Mata Briella kembali memejam. Dia berusaha keras menahan suara erangan karena terlalu malu. Bibir Adrian turun makin jauh, dari leher, dada, perut dan turun lagi ke tempat area Briellabbisa menggeletar ketika lidahnya bermain di sana.
“Aaaakkhh, Adrian, tolong singkirkan wajahmu, aku merasa seperti akan buang air kecil.”
“Kau bercanda? Jangan bilang kau tidak tahu apa itu puncak kenikmatan?”
Adrian terbangun akibat sinar matahari yang menyapu wajahnya dengan lembut. Dia berbalik di tempat tidur dan melihat Briella tidur di sampingnya. Wajah Briella yang damai dan tenang membuat Adrian terpesona. Dalam hati, Adrian tidak bisa menolak mengakui bahwa istrinya memang sangat cantik dan menakjubkan. Rambut merah Briella terurai di atas bantal, bibirnya yang tipis sedikit terbuka, dan kulitnya yang putih bersinar di bawah cahaya pagi.
“Andai saja kau bukan putri Miles Moretti.” Sesaat, Adrian merasa hatinya melunak. Ada perasaan hangat yang mengalir di dadanya ketika dia melihat Briella. Namun, perasaan itu segera digantikan oleh kebingungan dan kekesalan. Dia tidak ingin menunjukkan kelemahan atau ketertarikan pada Briella.
Tidak, dia harus tetap kuat dan melanjutkan misinya. Adrian mengingatkan lagi dirinya, bahwa dia menikahi Briella untuk balas dendam. Tentu saja dia tidak boleh sampai jatuh hati ke perempuan ini.
Briella mulai bergerak pelan, tanda-tanda dia akan terbangun. Saat matanya terbuka perlahan, dia menangkap basah Adrian sedang memandanginya. Briella tersenyum lembut, tetapi senyumnya segera memudar ketika melihat ekspresi wajah Adrian berubah menjadi dingin dan kasar.
“Apa yang kau lihat?” bentak Adrian dengan suara yang tiba-tiba tajam.
Briella terkejut dan terdiam sejenak. “Aku ... aku hanya—”
“Kenapa kau masih di tempat tidur? Seharusnya kau sudah bangun lebih awal dan menyiapkan sarapan serta pakaian kerjaku!” Adrian bangkit dari tempat tidur dengan cepat, wajahnya penuh kemarahan.
Briella tergagap, berusaha menjelaskan. “Aku ... aku tidak tahu, maafkan aku. Aku akan segera bangun dan menyiapkan semuanya.”
“Kau pikir ini lelucon? Sebagai istri, tugasmu adalah melayani suamimu! Jangan membuatku menyesal telah menikahimu, Briella Moretti!” Adrian berjalan ke lemari dan mengambil pakaian kerjanya dengan kasar, melemparkannya ke atas tempat tidur.
Briella merasa air matanya mengalir, tetapi dia menahannya. Dia tidak ingin menunjukkan tangisnya di hadapan Adrian. Dengan cepat, dia bangkit dari tempat tidur dan mulai mengenakan pakaian sederhana. “Aku akan segera menyiapkan sarapan,” ucapnya pelan.
Adrian menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. “Lakukan itu. Pastikan ini tidak terjadi lagi.”
Briella mengangguk, lalu bergegas menuju kamar mandi dengan tubuh hanya terlilit selimut. Langkah Briella gontai, ada sensasi nyeri dan pedih masih cukup menyengat di area kewanitaannya. Jangan ditanya malam seperti apa yang Briella lewati kemarin.
Adrian tanpa ampun menyetubuhinya. Setelah merobek selaput darah keperawanan Briella dengan hentakan kerasnya, Adrian terus melakukannya lagi dan lagi sampai menjelang pagi. Briella masih ingat dengan jelas bagaimana kedua kakinya sampai gemetaran dan pandangannya berkabut karena kewalahan melayani sang suami.
Kini, pagi-pagi sekali dia dituntut untuk bangun dan menyiapkan segala kebutuhan Adrian. Jujur saja, Briella butuh sedikit lebih banyak waktu untuk memulihkan diri. Kepalanya masih sangat pusing, badannya cukup lemas. Namun, karena ingin menjadi istri dan menantu yang baik untuk keluarga Maven membuat Briella wajib tak mengeluh.
Saat Briella memasuki dapur, dia melihat Aster, salah satu asisten rumah tangga yang kemarin mengantarnya ke kamar Adrian. Aster sedang menyiapkan sarapan bersama beberapa asisten lainnya. Mengenal Aster di rumah ini adalah salah satu hal yang Briella syukuri, Aster adalah wanita paruh baya yang ramah dan penuh senyum. Dia menyapa Briella dengan hangat.
“Selamat pagi, Nyonya Maven,” sapa Aster sambil tersenyum. “Bagaimana tidurmu tadi malam?”
“Selamat pagi, Aster. Tidurku baik, terima kasih,” jawab Briella dengan suara lembut, berusaha menyembunyikan kondisinya yang tidak baik-baik saja.
“Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?” tanya Aster dengan sopan.
“Aku ingin menyiapkan sarapan untuk Adrian,” kata Briella, mencoba terdengar percaya diri meskipun hatinya masih terasa berat. “Bisakah kau membantuku?”
“Oh, tentu saja. Mari saya bantu,” jawab Aster dengan ramah, lalu mulai menunjukkan kepada Briella bahan-bahan dan peralatan yang diperlukan.
Selama proses itu, Aster memberi tahu Briella tentang makanan kesukaan Adrian, kebiasaannya di pagi hari, dan apa yang tidak disukainya. Briella mendengarkan dengan saksama, mencatat setiap detail dalam pikirannya. Dia ingin memastikan sarapan yang dia siapkan sempurna dan sesuai selera suaminya.
Dengan bantuan dan bimbingan Aster, Briella bisa cepat belajar dan dalam waktu singkat. Dia berhasil menyiapkan sarapan yang lengkap dan menarik. Roti panggang dengan mentega, telur dadar dengan sayuran, dan secangkir kopi hitam kental. Saat Adrian duduk di meja makan dan mencicipi sarapan yang disiapkan Briella, dia terlihat sangat puas.
“Apa Aster yang memasak semua ini?”
“I-itu, aku menyiapkan semua sendiri. Eumm, yah, Aster banyak membantuku untuk beberapa hal lain.” Briella mencoba mengatakan yang sebenarnya.
“Begitukah?” ucap Adrian dengan nada datar, meskipun dalam hatinya dia merasa terkesan. “Kau cukup cepat belajar.”
“Terima kasih, Adrian. Aku senang jika kau menyukainya,” jawab Briella, merasa sedikit lega.
Namun, di sisi lain, Adrian merasa kesal karena Briella begitu cepat bisa mengambil hatinya. Dia tidak ingin perasaan ini berkembang, tidak ingin kelembutan Briella mempengaruhinya. Tanpa alasan yang jelas, Adrian memutuskan untuk bersikap lebih keras.
“Setelah selesai sarapan, datang ke ruang kerja,” kata Adrian tiba-tiba.
Briella terkejut mendengar nada dingin dalam suara suaminya. “Ada apa, Adrian?”
“Aku perlu menghukummu karena kau bangun lebih siang daripada suamimu,” jawab Adrian dengan tegas, membuat Briella terdiam.
Briella merasakan ketakutan mengalir dalam dirinya, tetapi dia mengangguk patuh. “Baik, Adrian.”
Setelah selesai sarapan, Adrian pergi menuju ruang kerja, meninggalkan Briella yang masih sibuk mengatasi hatinya yang berdebar. Briella kesulitan menelan makanan karena dia tidak tahu hukuman apa yang menantinya.
“Kurasa Adrian terlalu keras padamu.” Sebuah suara terdengar, membuat Briella menoleh.
Begitu sadar bahwa ibu Adrian berdiri di belakangnya, Briella langsung berdiri dan menyapa dengan hormat. “Selamat pagi, Nyonya.”
“Kau sudah menikah dengan putraku, kenapa panggil nyonya? Panggil aku Mommy, sekarang aku menjadi ibumu juga, Briella Maven,” ujar Rosalie, ibu kandung Adrian.
Hati Briella menghangat. Dia sempat berpikir ibu Adrian akan membencinya karena dia putri dari keluarga yang sudah bangkrut, ternyata Rosalie sangat baik padanya. “Terima kasih, Mom.”
“Sekarang makanlah dengan tenang, kau butuh tenaga untuk menghadapi Adrian. Aku akan berjalan-jalan ke taman untuk melihat tanamanku.”
“Baik, Mom. Sampai jumpa.”
Rosalie pergi. Briella merasa ucapan Rosalie ada benarnya, dia harus makan yang banyak dan tetap sehat agar kuat menghadapi sosok Adrian yang hobi menyulitkannya.
Briella menghela napas panjang sebelum berdiri dari meja makan. Dengan hati yang berdebar, dia mulai berjalan menuju ruang kerja Adrian. Mansion keluarga Maven begitu luas dan megah, mencerminkan kekayaan dan kemewahan keluarga tersebut.
Langkah-langkah Briella terdengar pelan di atas lantai marmer yang dingin dan mengkilap, setiap langkahnya memberikan gema halus di lorong-lorong besar mansion. Dari ruang makan keluarga, Briella harus melewati beberapa koridor panjang yang dihiasi dengan berbagai karya seni dan perabotan antik.
Dinding-dinding dipenuhi lukisan-lukisan klasik yang menggambarkan pemandangan alam, potret keluarga, dan adegan-adegan sejarah yang megah. Beberapa patung marmer yang elegan ditempatkan dengan hati-hati di sudut-sudut ruangan, memberikan sentuhan artistik yang halus.
Saat Briella melangkah lebih jauh, dia melewati deretan jendela kaca besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit. Cahaya matahari pagi menembus kaca, memandikan koridor dengan sinar keemasan yang hangat. Melalui jendela-jendela itu, Briella bisa melihat taman mansion yang begitu indah. Taman itu dihiasi dengan berbagai jenis bunga yang bermekaran, pohon-pohon yang rimbun, dan air mancur marmer yang gemericik lembut.
Briella berhenti sejenak, terpesona oleh keindahan taman tersebut. Burung-burung berkicau riang di antara cabang-cabang pohon, dan angin sepoi-sepoi membawa aroma bunga yang harum. Taman itu begitu tenang dan damai, sebuah kontras yang tajam dengan ketegangan yang dia rasakan di dalam mansion.
Meneruskan perjalanannya, Briella melewati sebuah aula besar dengan langit-langit yang tinggi dan dihiasi lampu gantung kristal yang berkilauan. Aula ini sering digunakan untuk acara-acara keluarga dan pertemuan penting, menambah kesan megah dan mewah pada mansion ini. Langkahnya berlanjut melalui koridor lain yang dipenuhi dengan rak-rak buku kayu yang menjulang tinggi, penuh dengan buku-buku berharga dan manuskrip kuno.
Akhirnya, Briella tiba di depan pintu ruang kerja Adrian. Pintu kayu besar itu terlihat kokoh dan mengesankan, dengan ukiran rumit di permukaannya. Briella mengumpulkan keberaniannya dan mengetuk pintu dengan lembut.
“Masuk,” suara Adrian terdengar dari dalam ruangan.
Briella membuka pintu perlahan dan melangkah masuk. Ruang kerja Adrian begitu besar dan rapi, dindingnya dipenuhi dengan rak buku yang penuh dengan berbagai literatur dan dokumen. Di tengah ruangan, ada meja kayu besar yang dipenuhi dengan tumpukan kertas dan alat tulis. Adrian duduk di balik meja itu, tatapannya tajam dan penuh wibawa.
Adrian memandangnya sejenak sebelum berbicara. “Apa kau memakai celana dalam?”
“Apa? Celana dalam?” Setelah sempat terkejut, akhirnya Briella mengangguk pelan. Dia merasakan ketegangan yang semakin meningkat.
“Lepaskan celana dalammu, dan berikan padaku. Sekarang!” titah Adrian yang sontak membuat Briella terkejut bukan main.