Sore itu, aku dan Dela berdiri tercekat di sebuah bukit kecil yang tak seberapa tinggi, mungkin hanya lima meteran dari tanah datar di bawah sana. Angin sore membawa aroma dan daun cabai yang baru saja tersiram air.
Seketika kami sama-sama terdiam, saat pandangan kami tak sengaja tertumbuk pada sebuah bangunan reot di pinggir kebun cabai. Sebuah jamban sederhana, berdinding bilik bambu tanpa atap, yang tampak lapuk dimakan usia. Refleks, Dela menarik tanganku mengajak bersembunyi di balik batang pohon yang tumbuh miring di sana.
Dari celah pepohonan itu, pandanganku jelas tertuju ke arah jamban. Jantungku berdegup kencang ketika menyadari apa yang sedang berlangsung di sana. Dari posisi kami, terasa aman namun setiap pergerakan di sana bisa terbaca dengan jelas karena posisinya dari samping.
Shifa nungging di depan, tubuhnya hanya terhalang samar-samar oleh bilik bambu yang renggang. Kulitnya berkilat lembap, entah karena keringat atau percikan air. Di belakangnya, Pak Sihab berdiri di belakangnya, selangkang lelaki tua itu menempel erat pada pantat Shifa. Sesekali bahunya tampak bergerak-gerak, seperti mengikuti irama genjotan yang hanya mereka berdua rasakan.
Aku menahan napas dan menelan ludah. Batang Pak Sihab tampak jelas keluar masuk tubuh Shifa dari arah belakang, sesuai gerakan keduanya yang maju mundur berlawannya. Pemandangan yang dalam seumur hidupku baru kusaksikan secara langsung, di alam terbuka, bawah cahaya langit sore yang cerah.
Lenguhan dan desahan mereka saling bersahutan tertahan, bercampur dengan suara bambu jamban yang berderit dan jeritan tonggeret dan serangga hutan lainnya. Dela di menggenggam lenganku erat, seolah memastikan ini bukan sekadar ilusi.
Dari celah bambu, pemandangan itu begitu jelas, terlalu gamblang untuk sekadar salah sangka. Kebun cabai ini seketika berubah mendebarkan sekaligus menggetarkan, membuat aku dan Dela hanya bisa saling berpandangan tanpa kata-kata. Jantungku berdegup kencang, seolah setiap ketukan ikut mengikuti ritme yang terjadi di sana.
Shifa membungkuk kepalanya menunduk, rambutnya berantakan di punggungnya. Sementara Pak Sihab berdiri menempel rapat dari belakang, tangan tuanya mencengkeram pinggang Shifa dengan kuat. Gerakan mereka tidak pelan, tidak malu-malu, justru liar, berani, seolah dunia di sekitar tak pernah ada.
Dinding bambu berderit, bergoyang mengikuti hentakan maju mundur selangkangan Pak Sihab. Sesekali, lenguhan Shifa lolos terdengar lebih keras dan jelas, lalu disusul erangan berat yang kian menekan. Aku hanya bisa terus menelan ludah. Ada rasa panas menjalar ke seluruh tubuhku, bertarung dengan rasa bersalah karena menjadi saksi sesuatu yang tak seharusnya kulihat.
Dela mencengkeram tanganku, bahkan kini jemarinya menusuk kulit lenganku, seolah ia ingin memastikan dirinya tetap sadar. Dari wajahnya, aku tahu ia sama terkejut antara takut, bingung, dan entah kenapa ada keterpakuan yang tak bisa dijelaskan. Seharusnya dia tidak seterkejut itu, karena katanya sudah pernah main dengan Andri, kekasihnya.
Shifa tiba-tiba melepaskan diri dari pelukan Pak Sihab. Ia balik badan mengahadap Pak Sihab. Batang lelaki tua itu kini jelas terlihat sepenuhnya dari arah samping. Bulu kudukku sedikit meremang karena bentuknya yang hitam, besar, panjang dan kepalanuya yang lebih besar, tampak kokoh dan arogan. Dela pun tampak terkesima.
Sejurus kemudian ia berjongkok tepat di depan selangkangan Pak Sihab. Lantas menggenggam batang itu dan memasukan ke dalam mulutnya. Gerakan kepalanya maju mundur begitu berani, begitu lepas dari rasa takut atau malu. Iramanya berlawan dengan hentakan Pak Sihab, hingga ia tampak terangkat-angkat.
Lelaki berambut putih itu terus mendesah-desah, kedua tangannya mencengkeram kepala Shifa, mengarahkan, menekan, dan membantu batangnya masuk semakin dalam. Tak lam tubuh tuanya menegang, bahunya bergetar sepertinya menahan gelombang yang sudah mulai tak tertahankan. Ekspresi wajahnya berubah, seperti menahan antara sakit dan nikmat yang tak terkatakan.
Aku menahan napas, sekujur tubuh terasa panas, darah mengalir cepat hingga membuat kulitku merinding. Ada sensasi menggigil yang membuat kakiku lemas, seakan ikut terseret dalam pusaran gairah yang mereka rasakan. Sementara Dela menggenggam lenganku erat, wajahnya kaku tapi matanya tak bisa lepas dari apa yang dilihatnya.
'Yeeees Shifaaaaaa..." Tiba-tiba Pak Sihab mengerang sangat kuat, tubuhnyua menengang hebat, lalu melengkung ke depan dan belakang, sementara Shifa tetap melanjutkan hisapan dan gerakan maju mundur kepalanya seakan ingin menelan seluruh kenikmatan yang baru dia dapatnya.
Aku terpana, waktu seolah berhenti. Yang tersisa hanyalah suara napas kami yang memburu, bercampur dengan erangan, desahan dan gerakan liar mereka yang mulai melandai.
Aku dan Dela segera mundur perlahan, lalu berbalik arah. Tubuh kami sama-sama gemetar, kaki kehilangan tenaga. Jalan kami sempoyongan, saling berpegangan untuk memastikan tidak terjatuh.
Anehnya, rasa ingin buang air kecil yang tadi memaksa kami untuk datang ke tempat ini, hilang sirna. Lenyap, terkubur oleh apa yang baru saja kami saksikan.
Sesampainya di area perkemahan, tenda-tenda sudah tampak dari balik pepohonan. Kayu bakan untuk api unggun kecil sudah menggunung di tengah lapangan. Wajah Destri dan Tiara langsung menoleh begitu melihat kedatangan kami.
"Heh, kenapa lu pada pucat kayak habis lihat hantu?" Destri bersuara, nada bercandanya tidak bisa menutupi kekhawatirannya.
Tiara ikut menimpali sambil mengernyit, "Makanya gue bilang juga apa, jangan sok jagoan! Ini hutan loh! Ketemu penunggunya baru tahu rasa lu!"
Aku dan Dela hanya saling pandang sejenak, lalu menunduk. Tidak ada kata yang bisa menjelaskan apa yang barusan kami lihat. Bukan hantu, bukan pula bayangan, tapi sesuatu yang jauh lebih mendebarkan dan menyesakkan untuk diungkapkan.
Dengan langkah lemas, aku dan Dela masuk ke tenda. Kami duduk selonjoran, punggung menempel pada dinding kain, tubuh dan wajah masih panas, bibir kelu. Tiara menyodorkan dua botol air mineral.
"Nih, minum dulu. Kayak orang kesambet aja kalian!" katanya sambil menyipitkan mata penuh curiga.
"Gue... sama Erina, barusan ngeliat Shifa sama Pak Sihab lagi begituan..."
"Dimana?" Tiara menganga.
"Jamban tengah kebun cabai."
"Hah!" Destri dan Tiara langsung berseru kaget, spontan menutup mulut masing-masing.
"Gila, baru kali ini feeling gue meleset," Destri mendengus panjang, matanya membulat.
"Gue tuh curiganya Pak Sihab ada main sama si Dita. Eh, kok malah sama si Shifa? Jangan-jangan salah lihat? Itu Shifa apa Dita?"
"Shifa!" tegasku, nyaris memotong kalimatnya. "Masa aku salah lihat? Kan beda banget. Lagian si Dita tadi ke warung sama si Lukman, aku lihat sendiri!"
Dela mengangguk pelan, wajahnya makin memerah. "Sebenarnya bukan cuma Shifa yang mengherankan, Pak Sihab juga," sambung Dela.
"Gue sih pernah denger kalau Pak Sihab emang hobi kawin siri, gak terlalu heran sih," timpal Tiara dengan suara rendah, masih tak percaya dengan Shifa.
"Lebih heran lagi, Pak Sihab masih perkasa. Lama banget dia mainnya, bikin iri aja," Dela sepertinya kagum pada keperkasaan Pak Sihab. Namun tetap masih tak percaya dengan Shifa.
"Kalian sadar nggak, kenapa kita gampang banget nuduh Dita?" Dela mencondongkan badan, suaranya nyaris bisikan.
Destri mengangguk cepat. "Ya iyalah, semua orang juga tahu, siapa Dita. Kalau ada gosip atau skandal di sekolah, nama dia pasti muncul duluan."
Aku menelan ludah, lalu ikut menunduk. "Tapi Shifa... beda banget, kan? Kayak dari dunia lain. Kalau di sekolah kaya akwat, seperti bukan siswa sekolah umum."
"Iya... tapi yang kita liat di jamban itu... gila banget, Er!" Dela menahan napas, matanya membesar, suaranya bergetar sedikit. "Selama ini kita mikir mereka itu kayak malaikat. Tapi ternyata... liar banget, berani banget!"
Destri hampir tersedak sendiri mendengar itu. "Iya, kita aja yang nggak alim-alim banget, mungkin mikir dulu kalau di alam terbuka gitu, apalagi sore-sore. Mereka emang udah gila kali ya!" Suaranya nyaris menggeram, campuran antara kaget dan geli.
"Iya... kalau nafsu setan kan emang nggak pilih-pilih mangsa," Tiara menimpali, nada suaranya pasrah tapi tak bisa menyembunyikan rasa penasaran.
Yang kami kenal Pak Sihab, Cuma guru agama yang kaku, dingin, dan terlihat renta. Bahunya bungkuk, langkahnya berat, wajahnya keriput menandakan masa pensiunnya tinggal menghitung hari.
Tapi di jamban itu... ia bukan lelaki tua. Masih perkasa, bergairah, tubuhnya bertenaga lebih dari lelaki muda di bawahnya. Batangnya... hitam, besar, panjang... bikin dada berdesir sendiri membayangkannya. Apalagi buat aku yang baru pertama kali melihat batang laki-laki.
Destri menatap Dela, suaranya hampir berbisik, "Sekarang gue jadi bener-bener penasaran sama Pak Sihab..." matanya mengkilap campuran takut dan ingin tahu.
Dela menahan tawa, setengah menggoda, setengah gemas. "Ya, keturunan Arab emang beda, Des... ukurannya spektakuler dan kekuatannya masih bisa diandelin walau udah bau tanah, hihihi."
Ada jeda sebentar. Sunyi. Tapi masing-masing dari kami terasa seperti sedang menahan napas, membayangkan sesuatu yang gila, liar, dan mustahil, sambil tak bisa menghindar dari rasa penasaran yang makin membara.
Aku, yang selama ini selalu menjaga mata dan pikiranku dari hal-hal yang tidak senonoh, justru harus menyaksikan sesuatu yang jauh lebih gelap dari sekadar "tidak senonoh." Itu benar-benar tidak masuk akal.
Hari ini, aku dan teman-teman sedang mengikuti kemping penutupan pelatihan pramuka. Semacam perpisahan, karena tahun depan, kami tidak akan lagi terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler ini.
Acara kempingnya singkat; kami berangkat pagi tadi dan akan kembali besok siang. Lebih banyak bersantai, hanya empat guru yang menemani. Salah satunya Pak Sihab, yang kebetulan bertugas sebagai pembina mental dalam kuliah umum setelah shalat Maghrib dan Subuh berjamaah.
Aku tidak tahu bagaimana jika bertemu Shifa dna Pak Sihab di sekolah setelah hari ini. Untungnya, Pak Sihab hanya mengajar di kelas satu, dan sebentar lagi purna tugas. Besar kemungkinan, aku tidak akan berjumpa lagi dengannya.
Meski begitu, perasaan ini tetap berat, antara terguncang, bingung, dan sedikit takut. Semua terasa terlalu nyata untuk sekadar dilupakan, terlalu gelap untuk diabaikan.
Semoga itu menjadi pengalaman pertama dan terkahir.
^*^
Hujan turun deras sore itu. Aku dan Dela berdiri di tepi jalan, basah sampai ke sepatu. Kami menunggu angkot pedesaan, rit terakhir hari ini. Tapi sepertinya hujan deras membuat sopirnya terlambat kembali ke kota.
"Aduh, kalau nunggu terus bisa masuk angin," gumam Dela sambil menggigit bibir.
"Kita naik ojek aja, yuk?" usulku, tapi langsung kami berdua menggeleng hampir bersamaan. Hujan terlalu deras, jas hujan pun rasanya percuma. Anginnya dingin sekali.
Tiba-tiba sebuah pick-up melambat di depan kami. Kaca jendela sisi sopir turun, dan muncullah wajah Pak Darma. Ia tersenyum lebar.
"Lho, kalian ngapain di sini, keujanan begini?" suaranya terdengar riang.
"Nunggu angkdes, Pak Haji," jawab Dela sambil setengah berteriak karena suara hujan menutupi segalanya.
Pak Darma tertawa kecil. "Waduh, sampai malam pun belum tentu lewat. Ayo ikut aja sama Haji."
Aku dan Dela saling pandang. "Beneran gak merepotkan, Pak Haji?" tanyaku ragu.
"Lho, masa kalian tega biarin Haji jalan sendirian? Ayo, cepat naik, keburu banjir!" godanya sambil menepuk pintu mobil.
Dela masuk duluan, aku menyusul duduk di sisi pintu. Begitu mobil melaju, aroma kabin yang hangat bercampur bau hujan membuat kami sedikit lega.
Pak Darma tampak seperti biasa, flamboyan dan gagah. Ia melirik kami lewat kaca spion. "Dua gadis manis diselamatkan dari hujan deras. Wah, pahalanya dobel ini," ujarnya sambil terkekeh.
"Pahala atau kesempatan, Pak Haji?" Dela ikut menggoda.
Pak Darma hanya tertawa lebih keras. "Dua-duanya boleh. Yang penting kalian selamat sampai rumah. Kalau enggak, nanti yang panik siapa? Ibu kalian kan!"
Kami ikut tertawa, sedikit lupa pada dinginnya hujan.
Sebenarnya, kalau saja sendirian, aku pasti akan menolak ajakan ini. Ada sesuatu dari lelaki berusia di atas lima puluh tahun ini yang membuatku selalu ingin menjaga jarak. Gelarnya Haji, sikapnya santun, penampilannya pun rapi dan religius, tapi aku tahu semua itu tak lebih dari topeng.
Di balik senyum ramahnya, dia adalah pengusaha kampung yang punya tangan di banyak bidang, sekaligus rentenir yang hobi kawin-cerai. Lebih buruknya lagi, hampir semua perempuan yang pernah dinikahinya adalah istri orang, janda atau gadis yang dipaksa menikah karena hutang. Kabarnya rumahnya ada di mana-mana, seperti jejak yang tak pernah bisa dihapus.
Aku teringat, orang tua Dela pun salah satu nasabahnya. Hutang mereka sudah lama tak lunas. Semoga saja Dela tak menjadi korban berikutnya. Pikiran itu membuatku melirik sahabatku sekilas, bertanya-tanya apakah ia sadar bahaya yang mungkin mengintainya.
Sejak lama Pak Darma menaruh hati padaku. Sorot matanya tak pernah bisa menipu. Aku selalu pura-pura tak melihat, berharap orang tuaku pun tidak sampai tersangkut dalam urusan apa pun dengannya.
Mobil pick-up itu berguncang pelan melewati jalanan becek. Suara hujan di atap membuat suasana jadi hening. Pak Darma sempat melirik lewat kaca spion, senyumnya tipis.
"Waduh, kalian basah semua ya. Nanti masuk angin, repot," katanya ramah.
"Sudah mendingan, Pak Haji. Untung tadi Bapak lewat," sahut Dela sambil mengusap rambutnya yang lepek.
"Namanya juga rezeki, Del," ucap Pak Darma, nada suaranya seperti menggoda. "Kalau hujan-hujanan terus bisa sakit. Kalau sakit, siapa yang repot? Haji juga yang harus jenguk."
Aku ikut tersenyum kecil, meski dalam hati rasanya tak tenang. Ada sesuatu dari caranya bicara yang membuatku selalu waspada.
"Bapak dari mana?" tanyaku, sekadar memecah keheningan.
"Dari meriksa gudang di kota sebelah. Tenang aja kalian Haji antar sampai rumah, ya." katanya.
"Wah, makasih banyak, Pak Haji," jawab Dela dengan senyum lebar.
Pak Darma tertawa kecil. "Iya lah. Masak Haji tega biarin kalian dua gadis manis ini kedinginan di pinggir jalan? Kalau sampai sakit, yang rugi siapa? Calon mertua kalian nanti marah sama Haji."
Dela spontan tertawa, sementara aku hanya menunduk, pura-pura merapikan tas. Aku tahu betul Pak Darma sedang melemparkan umpan.
"Kalian kelas dua, ya?" tanya Pak Darma, suaranya agak meninggi untuk mengalahkan suara hujan.
"Betul, Pak Haji," jawab Dela santai. "Baru aja selesai ulangan semester. Sebentar lagi pindah kelas tiga."
"Wah," Pak Darma terkekeh. "Berarti sebentar lagi siap-siap nikah, dong? Atau mau lanjut kuliah?"
"Maunya sih kuliah, Pak Haji," jawab Dela sambil tersenyum lebar. "Tapi ya lihat sikon ortu dulu. Lagian kan baru mau naik kelas tiga, hehehe."
Pak Darma ikut tertawa. "Ya semoga aja bisa kuliah, ya. Kalau perlu nikah sambil kuliah juga enggak masalah. Anak Haji juga, si sulung, baru masuk kuliah tahun ini."
Aku hanya melirik sekilas. Pak Darma memang selalu menyebut dirinya dengan "Haji," seakan ingin semua orang mengingatnya sudah menunaikan rukun Islam kelima.
"Oh, Pak Haji punya anak yang sudah kuliah?" Dela tampak terkejut.
"Ada, cowok," jawabnya santai. "Tapi dia nggak tinggal sama Haji, kost dari kelas dua SMA. Tepatnya sejak Haji cerai sama mamanya."
"Kenapa kost? Mamanya ke mana?" Dela semakin penasaran.
"Pulang ke Manado," jawab Pak Darma ringan.
"Oh, istri Pak Haji orang Manado?"
"Mantan istri pertama," koreksi Pak Darma sambil tersenyum kecil. "Kalau Haji asli sini."
Obrolan mereka terus berlanjut, sementara aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Seragamku masih lembap, tas juga terasa berat.
"Kalau Erina gimana?" Tiba-tiba suara Pak Darma menembus lamunanku.
"Eh? Gimana apanya, Pak Haji?" tanyaku gugup. Aku jelas tidak menyimak obrolan mereka.
"Udah punya calon suami belum?" tanyanya lagi sambil terkekeh.
Aku ikut terkekeh canggung. "Hehehe... udah, Pak Haji," jawabku cepat-cepat, sekadar mengakhiri topik.
"Orang mana?" tanyanya lagi, nada suaranya seperti benar-benar ingin tahu.
"Orang jauh... tapi dekat, hehehe." Aku sengaja menggantung jawabanku.
"Alah, baru juga mahasiswa," sela Dela sambil mencibir. "Lagian mereka udah putus kemarin, Pak Haji."
"Beneran, Er?" tanya Pak Darma, suaranya seperti mencampur rasa penasaran dan godaan.
Aku tersenyum hambar. "Hehehe, iya, Pak Haji. Saya mau fokus belajar dulu."
"Bagus itu," kata Pak Darma sambil mengangguk kecil. "Belajar yang rajin. Biar nanti enggak nyesel."
Mobil kembali hening sejenak, hanya suara hujan yang terdengar. Aku menarik napas pelan, berharap perjalanan ini cepat selesai.
Dela dan Pak Darma terus mengobrol sepanjang jalan. Topiknya lompat-lompat-dari sekolah, cerita masa kecil, sampai gosip ringan tentang orang kampung. Sesekali aku hanya ikut tersenyum, lebih banyak menjadi pendengar setia.
Beberapa kali mata Pak Darma tertangkap sedang melirikku lewat kaca spion, seakan menunggu aku ikut nimbrung. Tapi aku memilih diam, berpura-pura sibuk menatap jendela, memperhatikan hujan yang mulai reda.
Tak terasa, mobil sudah berhenti di depan rumah Dela.
"Nah, sampai juga. Untung tadi kalian ketemu Haji di jalan," ucap Pak Darma sambil tersenyum lebar.
Aku dan Dela mengucapkan terima kasih hampir bersamaan. Aku ikut turun, walau rumahku sebenarnya masih sekitar setengah kilometer lagi. Tapi aku merasa lebih aman jalan kaki dari rumah Dela daripada harus berdua dengan Pak Darma di mobil.
Pak Darma langsung memutar setir, balik arah. Rumahnya memang sudah terlewat tadi-rumah paling besar dan paling mencolok di kampung kami.
Aku menatap punggung mobil yang menjauh, entah kenapa dada terasa sedikit lega. Hujan sudah berhenti, udara sore jadi dingin dan segar. Aku menarik napas panjang, bersyukur perjalanan tadi berakhir tanpa hal yang tak diinginkan.
"Eh, Er, kamu beneran mau liburan di rumah nenekmu?" tanya Dela sambil menatapku penuh rasa ingin tahu.
Aku mengangguk pelan. "Iya, kayaknya mau di sana. Udah lama banget nggak ke kampung nenek."
"Wah, enak dong bisa liburan," sahut Dela sambil senyum-senyum.
"Enak apanya?" aku terkekeh. "Sama aja, rumah nenekku kan di kampung juga. Mainnya ya ke sawah, ke kebun, atau ke hutan. Paling banter mancing di empang."
Dela ikut tertawa. "Ya setidaknya beda suasana lah, Er. Aku mah kayaknya nggak bisa liburan, harus cari kerja sambilan."
"Kerja sambilan itu?" aku menoleh, penasaran.
"Iya, kemungkinan jadi, Er. Lumayan kan, kita libur sebulan. Aku mau bantu-bantu ortu. Kebetulan abis lebaran gini, banyak ART yang belum balik dari mudiknya. Nah, rencananya aku mau jadi pembokat dadakan, hehehe."
Aku menepuk bahunya ringan. "Ya udah, hati-hati ya, Del. Aku juga paling besok atau lusa ke rumah nenek. Dianter sama Bapakku."
"Sama-sama, Er. Kamu juga hati-hati. Di kampung nenekmu itu banyak cowok mata keranjang, lho." Dela menggoda sambil menyipitkan mata. "Jangan sampai si Alfian tahu kamu liburan di sana. Bisa-bisa dia nyusul!"
"Aman, Ciin," jawabku sambil tertawa.
Kami berpelukan seperti teletabis, seolah-olah akan berpisah lama sekali, padahal paling juga ketemu lagi setelah libur. Ada sedikit perasaan hangat sekaligus sedih yang menggantung di dada.
Tak lama, Mang Jana, tetanggaku melintas dengan motornya. "Eh, mau sekalian nebeng, Er?" tanyanya.
"Boleh, Mang!" seruku senang. Untunglah, jadi aku tak perlu jalan kaki dari rumah Dela. Sambil melambaikan tangan, aku pamit pada Dela.
"Jangan lupa kabar-kabarin aku, ya, Ciiin!" teriak Dela dari teras.
Aku hanya mengacungkan jempol sebelum motor melaju pelan, meninggalkan rumah Dela dan sisa hujan sore itu.
Sesampainya di rumah, aku langsung disambut dua adik jagoanku, Erwan dan Enda. Mereka berlari kecil sambil teriak, "Mbak Er! Mbak Er!" seperti sudah lama sekali tidak bertemu.
Baru beberapa menit ngobrol, mereka dengan semangat mengumumkan kalau mereka juga mau ikut liburan ke rumah nenek.
Aku langsung tepok jidat. "Ya ampun... bukannya liburan, ini namanya jadi emak dadakan seharian!"
Mereka hanya cekikikan, jelas senang bisa ikut. Aku mendesah, setengah pasrah. Ya sudahlah. Meski repot, aku tetap senang. Setidaknya, ada yang bisa jadi teman main sekaligus bodyguard selama di sana.
Dan yang pasti, mereka nggak bakal betah lama-lama di rumah nenek yang nggak ada televisi apalgi sinyal. Paling dua hari juga mereka sudah kabur lagi, pulang.
^*^
Bersiaplah! Fakta di bab selanjutnya akan membuatmu menahan napas.