Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden tebal, membangunkan Arabella Alexandro dari tidurnya yang singkat. Tubuhnya terasa pegal, namun ada kehangatan yang asing memeluknya. Ia membuka mata perlahan, dan jantungnya serasa berhenti berdetak. Ia berada dalam pelukan seseorang. Arkan Stevanno Orlando. Lengan kekar pria itu melingkar erat di pinggangnya, menariknya mendekat hingga dada bidangnya menempel di punggung Arabella. Napas teratur Arkan terasa hangat di tengkuknya.
Arabella menatap lengan Arkan yang kokoh, lalu wajahnya yang tenang dalam tidur. Di bawah pengaruh alkohol semalam, Arkan tampak begitu buas dan mendominasi. Namun kini, dalam tidurnya, ia terlihat lebih damai, bahkan sedikit rapuh. Ingatan tentang apa yang terjadi semalam menyerbu benaknya, membuat pipinya memanas. Perasaan campur aduk antara jijik, malu, dan sedikit kebingungan menyelimuti dirinya. Ia, Arabella Alexandro, seorang mahasiswi yang berjuang mati-matian, tidur di pelukan salah satu pria terkaya dan paling berkuasa di kota ini.
Tidak lama kemudian, Arkan menggeliat pelan. Matanya mengerjap, perlahan terbuka. Pandangannya yang masih sedikit mengantuk bertemu dengan punggung Arabella. Ia mengerutkan kening sejenak, seolah berusaha mengingat kejadian semalam. Kemudian, kesadaran penuh menghantamnya. Arkan segera melepaskan pelukannya, menarik lengannya dengan cepat seolah Arabella adalah bara api. Ada sedikit ekspresi terkejut dan mungkin, penyesalan samar di wajahnya.
Ia bangkit dari ranjang, duduk di tepi, membelakangi Arabella. Ada jeda hening yang canggung di antara mereka, hanya terdengar suara napas mereka yang teratur.
"Mulai sekarang," suara Arkan terdengar serak, dingin, dan tegas, memecah kesunyian. Ia tidak menoleh ke arah Arabella. "Apa pun yang terjadi semalam, rahasia ini tidak boleh keluar dari kamar ini. Apa pun. Mengerti?"
Arabella merasakan darahnya berdesir. Kata-kata Arkan seperti tamparan keras yang menyadarkannya pada kenyataan. Tentu saja, ini hanya transaksi. Tidak lebih. Ia mengangguk, meskipun Arkan tidak melihatnya. "Mengerti," jawab Arabella dengan suara pelan, nyaris berbisik.
"Bagus," Arkan mengangguk tipis. "Nomor rekeningmu?"
Arabella terdiam sejenak. Ia terkejut dengan permintaan Arkan yang langsung ke intinya. Tidak ada basa-basi, tidak ada pertanyaan pribadi. Hanya transaksi murni. Ia menyebutkan nomor rekening banknya, masih merasakan dinginnya nada suara Arkan.
Setelah mendapatkan nomor rekening, Arkan segera meraih ponselnya yang tergeletak di nakas. Jemarinya lincah mengetik, melakukan transfer. Arabella bisa mendengar suara ketukan keypad yang cepat. Beberapa detik kemudian, ponsel Arkan berbunyi, menandakan transfer berhasil. Arkan tidak menyebutkan berapa nominal yang ia kirimkan.
"Sudah kutransfer," katanya datar, lalu turun dari kasur. Ia mulai memungut pakaiannya yang berserakan di lantai-kemeja, celana panjang, dan pakaian dalamnya-dengan gerakan gesit dan rapi. Dalam sekejap, ia sudah mengenakan semuanya, kembali menjadi sosok CEO berwibawa yang selalu tampil sempurna.
Tanpa menoleh lagi, tanpa sepatah kata perpisahan, Arkan berjalan menuju pintu kamar. Ia membuka pintu dan keluar, meninggalkannya begitu saja, sendirian di kamar yang sunyi. Suara pintu yang tertutup pelan adalah tanda berakhirnya malam itu.
Arabella terdiam, menatap pintu yang kini tertutup rapat. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di samping bantal. Notifikasi dari bank muncul di layarnya. Saat ia membuka aplikasi, matanya membelalak, napasnya tertahan.
Rp 50.000.000,00.
Lima puluh juta rupiah.
Jumlah itu jauh, jauh di atas ekspektasinya, bahkan melebihi dua kali lipat dari harga termahal yang pernah ia terima. Ini gila. Ini jumlah yang sangat besar. Lima puluh juta. Untuk satu malam. Otaknya berputar cepat. Dengan uang sebanyak ini, ia bisa membayar sebagian besar utang orang tuanya, membayar sewa kos untuk beberapa bulan ke depan, dan bahkan membeli buku-buku kuliah yang ia butuhkan.
Ada rasa lega yang melanda, namun juga kegetiran yang mendalam. Harga dirinya... ia telah kehilangan keperawanannya untuk pria ini, pria yang bahkan tidak meliriknya setelah semuanya selesai, pria yang hanya memandangnya sebagai alat pemuas hasrat. Ironisnya, untuk hal yang begitu sakral baginya, ia mendapatkan bayaran yang sangat fantastis.
Arabella bangkit dari ranjang, tubuhnya masih terasa lemas dan sedikit sakit. Ia berjalan gontai menuju kamar mandi. Di depan cermin, ia menatap pantulan dirinya. Matanya sedikit bengkak, sisa-sisa riasan semalam masih menempel di wajahnya. Ia menyalakan keran, membiarkan air hangat membasuh tubuhnya. Ia menggosok kulitnya, seolah ingin menghapus setiap jejak sentuhan Arkan, setiap kenangan pahit dari semalam.
Setelah mandi, Arabella merasa sedikit lebih segar. Ia melilitkan handuk ke tubuhnya, lalu kembali ke kamar. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Ia harus segera berangkat ke kampus. Dengan uang sebanyak ini, ia tidak boleh melewatkan kuliah.
Ia membuka lemari, mencari pakaian. Pilihan jatuh pada sebuah dress pendek berwarna merah marun yang sedikit ketat, menonjolkan lekuk tubuhnya yang langsing dan seksi. Ia memadukannya dengan heels hitam dan tas tangan kecil. Arabella tahu bagaimana memadukan penampilannya agar terlihat menarik, bahkan setelah malam yang panjang. Ia memoles sedikit riasan di wajahnya, berusaha menutupi jejak kelelahan. Saat ia memandang dirinya di cermin, ia melihat seorang wanita yang kuat, yang mampu bertahan dalam badai.
Jalanan Jakarta pagi itu dipadati kendaraan. Macet parah di mana-mana. Arabella yang sudah keluar dari hotel dan memesan taksi online, kini terjebak di tengah lautan mobil yang tak bergerak. Jarum jam terus berputar, dan ia tahu ia akan terlambat untuk mata kuliah pertama, "Pengantar Hukum Bisnis." Dosennya terkenal sangat disiplin dan tidak mentolerir keterlambatan.
Kecemasan mulai melandanya. Ia terus melihat jam tangannya, menggerutu dalam hati. Setibanya di kampus, ia langsung melompat dari taksi, bahkan sebelum taksi berhenti sempurna, dan berlari secepat kilat menuju gedung fakultas hukum. Napasnya terengah-engah, jantungnya berpacu kencang. Ia menyusuri koridor, meloncati anak tangga dua-dua, hingga akhirnya tiba di depan pintu kelas.
Dari balik kaca pintu, ia bisa melihat dosen sudah berdiri di depan kelas, menjelaskan materi. Mahasiswa-mahasiswi lain duduk rapi di kursi mereka, mencatat dengan saksama. Arabella menghela napas, mengumpulkan keberanian. Ia harus masuk, meskipun telat.
Dengan tangan gemetar, ia mendorong pintu kelas yang sedikit terbuka. Suara engsel yang berderit menarik perhatian seisi kelas. Semua mata tertuju padanya. Termasuk mata sang dosen.
Arkan Stevanno Orlando.
Dunia Arabella serasa runtuh. Jantungnya mencelos hingga ke ulu hati. Lelaki yang semalam tidur bersamanya, lelaki yang telah merenggut keperawanannya, lelaki yang memberinya lima puluh juta rupiah, kini berdiri di hadapan kelasnya sebagai dosen! Rambutnya yang tertata rapi, kemeja putihnya yang bersih dan tanpa cela, celana bahan hitam, dan sorot mata dinginnya-semuanya identik dengan Arkan yang baru saja meninggalkannya di hotel.
Kenapa dia ada di sini?!
Pertanyaan itu berteriak dalam benak Arabella. Ia merasa seperti sedang berada dalam mimpi buruk. Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa?
Arkan menatap Arabella dengan tatapan datar, tanpa ekspresi, seolah ia adalah orang asing. Tidak ada kilatan pengakuan, tidak ada emosi apa pun di matanya. Ia bahkan tidak menunjukkan sedikit pun tanda bahwa mereka baru saja menghabiskan malam bersama. Profesionalisme ataukah memang ia pandai menyembunyikan diri?
"Sudah telat," suara Arkan terdengar dingin dan tegas, bergema di seluruh ruangan yang mendadak hening. "Silakan keluar dari kelas ini."
Kata-kata itu menghantam Arabella seperti palu. Rasa malu, marah, dan bingung bercampur aduk. Ia tidak bisa menerima ini. Diperlakukan seperti ini di depan teman-temannya, oleh pria yang sama yang...
"Tapi, Pak!" Arabella keberatan, suaranya sedikit bergetar karena emosi yang tertahan. "Tadi saya telat karena terjebak macet. Saya tidak sengaja." Ia berharap Arkan akan berbaik hati, mengingat apa yang terjadi di antara mereka.
Namun, Arkan tidak menunjukkan tanda-tanda peduli. Wajahnya tetap datar, tak ada sedikit pun simpati. "Saya tidak peduli dengan alasanmu," katanya dengan nada dingin, suaranya menusuk. "Aturan adalah aturan. Kamu melanggar. Sekarang, keluar dari kelas ini dan lari keliling lapangan sebanyak 30 kali!"
Arabella terkesiap. Tiga puluh kali?! Itu hukuman yang sangat berat. Ia hanya telat beberapa menit, dan ia adalah seorang wanita. Terlebih lagi, ia baru saja melewati malam yang menguras fisik dan emosi.
"Apa?! Tiga puluh kali?!" Arabella tak dapat menahan amarahnya lagi. Suaranya sedikit meninggi. "Saya hanya telat sedikit saja, Pak! Ini tidak adil!"
Mata Arkan menajam. Ada kilatan berbahaya di sana. Ia tidak suka dibantah. "Kamu mau mengikuti hukuman, atau nilai mata kuliahku akan berkurang?" Ancamannya jelas, tanpa kompromi. Ia tahu betul bagaimana menghancurkan masa depan akademik seseorang.
Arabella terdiam, lidahnya kelu. Ancaman Arkan bukan main-main. Jika nilainya berkurang, beasiswanya bisa terancam, dan mimpi kuliahnya akan pupus. Ia tidak punya pilihan lain. Harga dirinya kembali terinjak-injak, kali ini di depan banyak orang. Pria ini... pria ini adalah iblis bertopeng malaikat.
Ia menatap Arkan dengan mata berkaca-kaca, penuh kebencian yang mendalam. Arkan balas menatapnya tanpa ekspresi, seolah ia hanyalah seorang mahasiswa bandel biasa yang pantas mendapat hukuman.
Dengan berat hati, Arabella berbalik. Ia mendengar bisikan-bisikan dari teman-temannya, namun ia mengabaikannya. Ia melangkah keluar dari kelas, meninggalkan Arkan dan tatapan sinisnya. Setiap langkah terasa berat, membawa beban penghinaan dan amarah yang membara. Ia tahu, hidupnya baru saja menjadi jauh lebih rumit, dan Arkan Stevanno Orlando adalah penyebab utamanya. Di bawah terik matahari, Arabella mulai berlari mengelilingi lapangan kampus, air mata yang tak terbendung akhirnya menetes membasahi pipinya. Ini adalah harga yang harus ia bayar. Harga yang sangat mahal.
Terik matahari pagi semakin menyengat, menembus kulit Arabella Alexandro yang pucat. Setiap langkah yang diambilnya untuk mengelilingi lapangan terasa seperti siksaan. Ia sudah menghitung, ini putaran kesepuluh. Napasnya terengah-engah, paru-parunya serasa terbakar. Keringat membasahi dahi dan membasahi poni rambutnya. Perutnya bergejolak, kosong. Ia belum sempat sarapan pagi ini. Rasa pusing mulai menyerang, pandangannya sedikit buram. Dunia di sekelilingnya tampak berputar, dan kakinya terasa lemas.
"Sialan kau, Arkan!" gumamnya di antara napas terputus-putus, melampiaskan amarah dan frustasinya pada pria yang telah menghukumnya. Penghinaan ini, rasa sakit ini, semua karena dia. Pria yang semalam begitu dominan di atas ranjang, kini begitu kejam di depan kelas.
Arabella berusaha memaksakan diri untuk terus berlari, namun tubuhnya mulai menyerah. Ia melambat, lalu berhenti total, membungkuk dengan tangan bertumpu pada lutut, mencoba menormalkan napasnya yang terputus-putus. Kepalanya berdenyut-denyut hebat, dan mual yang luar biasa menyergapnya.
Dari jendela kelas, Arkan Stevanno Orlando mengamati. Ia melihat Arabella berhenti, membungkuk, dengan bahu bergetar. Meskipun wajahnya tetap datar, ada sedikit kilatan di matanya yang tak bisa dimengerti. Ia keluar dari kelas, berjalan ke tepi lapangan dengan langkah tenang namun berwibawa.
"Hei! Apa yang kau lakukan?!" Suara Arkan memecah keheningan lapangan, terdengar dingin dan keras. "Jangan berhenti! Lanjutkan hukumanmu! Jangan harap aku akan memberimu kelonggaran!"
Mendengar suara Arkan, amarah Arabella kembali memuncak. Ia mendongak, menatap Arkan dengan mata merah menyala. "Pak, saya sudah tidak kuat!" teriaknya, suaranya serak. "Ini terlalu berat! Saya belum sarapan!"
"Aku tidak peduli!" balas Arkan, suaranya tetap tanpa emosi. "Itu bukan urusanku. Kamu yang melanggar aturan. Sekarang, lanjutkan, atau nilai mata kuliahku akan kujadikan nol!"
Ancaman itu membuat Arabella kembali terpojok. Ia mengepalkan tangannya erat-erat, kuku-kukunya menusuk telapak tangannya. Dengan sisa tenaga yang ada, ia memaksakan kakinya untuk kembali berlari. Setiap langkah terasa berat, seperti menyeret beban ribuan kilogram. Dunia di sekelilingnya semakin berputar. Jantungnya berdebar tidak karuan, dan rasa mual itu kini menjadi tak tertahankan.
BRUK!
Tiba-tiba, pandangan Arabella gelap. Kepalanya berputar hebat, dan kakinya kehilangan pijakan. Tubuhnya limbung, dan dalam sepersekian detik, ia merasakan tanah mendekat. Kemudian, semuanya menjadi gelap. Arabella pingsan, jatuh tak sadarkan diri di tengah lapangan yang panas.
Arkan, yang tadinya berdiri tegak dengan wajah dingin, terkejut melihat Arabella ambruk. Matanya membelalak, ekspresi datarnya runtuh, digantikan oleh gurat kepanikan yang samar. Ia tidak menyangka Arabella akan selemah itu, atau sekeras kepala ini hingga benar-benar ambruk. Tanpa membuang waktu, Arkan berlari, langkahnya cepat dan panjang, mendekati tubuh Arabella yang tergeletak tak berdaya.
Para mahasiswa yang tadinya menyaksikan hukuman Arabella dari kejauhan, kini berbisik-bisik, beberapa bahkan berteriak kaget. Mereka melihat dosen killer itu, Arkan Stevanno Orlando, berlari mendekati mahasiswi yang baru saja dihukumnya.
Arkan berlutut di samping Arabella. Wajah Arabella pucat pasi, bibirnya sedikit membiru, dan keringat dingin membasahi dahinya. Arkan menyentuh lehernya, memeriksa denyut nadinya. Lemah, namun masih terasa. Tanpa ragu, Arkan menggendong tubuh Arabella dalam pelukannya. Tubuh Arabella terasa ringan di tangannya, seolah tak berbobot. Aroma parfumnya yang manis bercampur dengan aroma keringat, menciptakan perpaduan yang aneh namun familiar.
Semua mata tertuju pada Arkan dan Arabella. Para mahasiswa saling berpandangan, tak percaya dengan apa yang mereka saksikan. Dosen yang terkenal dingin dan tak tersentuh itu, kini menggendong seorang mahasiswi yang baru saja dihukumnya, seolah-olah ia adalah orang yang paling penting di dunia.
Arkan melangkah cepat, menggendong Arabella keluar dari lapangan, menuju gedung utama. Ia mengabaikan tatapan heran dan bisikan-bisikan dari para mahasiswa yang kini berkumpul, penasaran. Prioritasnya saat ini adalah membawa Arabella ke tempat yang lebih aman.
"Minggir!" desis Arkan dingin, saat beberapa mahasiswa menghalangi jalannya. Mereka segera menyingkir, memberikan jalan.
Arkan tahu persis ke mana ia harus pergi. Ia membawa Arabella menuju Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Pintu UKS terbuka. Seorang perawat yang sedang membereskan peralatan, terkejut melihat Arkan masuk dengan menggendong Arabella.
"Astaga, Tuan Arkan! Ada apa ini?!" seru perawat itu panik, segera mendekat.
"Dia pingsan di lapangan," kata Arkan dengan suara datar, namun ada nada urgensi yang samar di sana. "Tolong periksa dia."
Arkan membaringkan Arabella dengan hati-hati di ranjang UKS yang bersih. Perawat segera bertindak, memeriksa denyut nadi dan napas Arabella. Ia juga mengambil alat pengukur tekanan darah.
"Sepertinya dia kelelahan dan dehidrasi, Tuan Arkan. Ditambah lagi, sepertinya dia belum sarapan," jelas perawat setelah melakukan pemeriksaan singkat. "Tekanan darahnya sedikit rendah."
Arkan hanya mengangguk, ekspresinya sulit dibaca. Ia berdiri di samping ranjang, menatap Arabella yang terbaring lemah. Ada perasaan aneh yang bergejolak di dadanya. Rasa bersalah? Mungkin. Ia telah menghukum gadis itu terlalu keras, tanpa mempertimbangkan kondisi fisiknya.
Perawat segera menyiapkan segelas air gula dan biskuit. "Tuan Arkan bisa menunggu di sini. Saya akan coba menyadarkannya."
Arkan tetap diam, tidak bergerak. Ia mengamati perawat yang dengan cekatan menekan beberapa titik di tubuh Arabella, mencoba menyadarkannya. Dalam keheningan UKS, hanya terdengar suara napas Arabella yang samar dan gerakan perawat yang sibuk.
Arkan kembali memikirkan kejadian semalam. Wanita ini... Arabella. Wanita yang terlihat begitu tangguh di balik riasan tebal dan gaun minimnya, namun kini terbaring tak berdaya di depannya. Ia ingat setiap sentuhan, setiap desahan, setiap detail dari malam mereka. Meskipun mabuk, ingatan Arkan tentang Arabella sangat jelas. Ia adalah wanita yang berbeda. Ada sesuatu dalam dirinya yang menarik Arkan, sesuatu yang lebih dari sekadar daya tarik fisik. Mungkin itu adalah kesedihan yang samar di matanya, atau mungkin keteguhan yang ia rasakan dalam setiap gerakannya.
Tiba-tiba, Arabella menggeliat pelan. Matanya mengerjap, perlahan terbuka. Pandangannya yang masih buram menatap langit-langit UKS, lalu beralih pada sosok yang berdiri di samping ranjang.
Arkan.
Wajahnya terpampang jelas di hadapannya. Ekspresinya yang dingin dan tanpa emosi membuat Arabella kembali teringat akan hukuman yang diberikannya. Seketika, rasa marah dan malu kembali menyergap. Ia ingin berteriak, ingin menanyakan kenapa pria ini begitu kejam padanya.
"Kau sudah sadar?" Suara Arkan memecah keheningan. Nada suaranya sedikit lebih lembut dari sebelumnya, namun tetap datar.
Arabella mencoba bangkit, namun tubuhnya masih terasa lemah. "Kenapa... kenapa saya di sini?" tanyanya dengan suara serak. Ia merasakan tenggorokannya kering.
"Kau pingsan di lapangan," jawab Arkan singkat. "Perawat bilang kau kelelahan dan belum sarapan."
Perawat segera menyodorkan segelas air gula. "Minum ini dulu, Nak. Lalu makan biskuitnya. Kamu butuh energi."
Arabella menerima gelas itu dengan tangan gemetar. Ia menatap Arkan lagi, matanya penuh dengan pertanyaan dan amarah. "Mengapa... mengapa Bapak menghukum saya seberat itu? Saya hanya telat..."
"Aturan tetap aturan," potong Arkan dingin, meskipun ada sedikit nada yang menunjukkan ia mempertimbangkan pertanyaan Arabella. "Saya tidak mentolerir keterlambatan. Jika saya memberi kelonggaran padamu, maka semua orang akan ikut-ikutan."
Arabella ingin membantah, ingin mengatakan bahwa ia tidak akan pernah melanggar lagi, bahwa ia berjuang sangat keras untuk kuliah. Tapi ia menahan diri. Arkan tidak akan peduli.
"Istirahatlah dulu," kata Arkan, lalu berbalik. "Aku harus kembali ke kelas."
Perawat menahan Arkan. "Tuan Arkan, sepertinya dia harus istirahat lebih lama. Dan mungkin butuh sarapan yang layak."
Arkan terdiam sejenak. Ia melihat ke arah Arabella yang masih terbaring lemah. "Baiklah. Kalau begitu, izinkan dia untuk tidak mengikuti mata kuliah selanjutnya. Pastikan dia makan dan minum yang cukup."
"Baik, Tuan Arkan," jawab perawat patuh.
Arkan berbalik, berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia melirik Arabella sekali lagi. Ada sesuatu di matanya, sesuatu yang tidak bisa Arabella pahami. Lalu, ia pergi, meninggalkan Arabella sendirian di UKS, dengan pikiran yang kalut dan hati yang penuh dengan kebencian dan kebingungan.
Arabella memaksakan diri untuk menghabiskan air gula dan biskuit yang diberikan perawat. Tubuhnya perlahan terasa lebih baik, namun pikirannya terus berkecamuk. Arkan. Pria yang sama. Malam ini ia membookingnya, pagi ini ia menghukumnya, lalu menggendongnya saat pingsan. Siapa sebenarnya pria ini? Mengapa takdir seolah mempermainkan dirinya dengan cara ini?
Ia tahu, pertemuannya dengan Arkan Stevanno Orlando jauh dari kata selesai. Ini baru awal dari sebuah drama yang tak terduga dalam hidupnya. Dan ia, Arabella Alexandro, harus mempersiapkan diri untuk apa pun yang akan terjadi selanjutnya. Ia harus kuat. Demi masa depannya, demi melunasi utang-utang itu, dan demi bertahan di tengah badai yang diciptakan oleh takdir dan seorang pria bernama Arkan.