Gunawan segera mengajak Anggun untuk pulang ke kampung halamannya begitu mendengar kabar duka itu. Sepanjang perjalanan, air mata Gunawan tak berhenti menetes. Ada segumpal sesal dalam yang bersarang dalam dada saat tak bisa menemani sang ibu di saat-saat terakhirnya.
"Udah deh nggak usah cengeng. Lebay banget sih!" ketus Anggun.
Gunawan menatap sang istri sekilas. Dia kemudian mengusap air matanya tanpa merespon ucapan sang istri yang terdengar menyakitkan hati itu.
"Biarpun kamu tangisin sampai air mata kamu habis. Orang mati nggak bakalan hidup lagi," lanjut wanita bertubuh kurus itu.
Gunawan masih diam saja. Dia tak ingin meladeni ucapan sang istri yang semakin tak enak didengar itu.
"Seandainya aku tahu ibu akan pergi secepat ini… aku pasti akan sering pulang untuk menengok ibu," ucap Gunawan penuh penyesalan.
Anggun melirik malas saat mendengar ucapan sang suami. Dia sama sekali tak suka mendengar penyesalan suaminya itu.
"Lebay banget sih jadi orang," gumam Anggun.
Tak berapa lama, mereka telah sampai di rumah Gunawan. Lelaki itu segera berlari masuk ke dalam rumah. Dia tak peduli pada orang-orang yang memanggil namanya. Dia hanya ingin melihat wajah sang ibu untuk yang terakhir kali.
Anggun berdecak kesal saat melihat sang suami langsung berlari tanpa memperdulikan dirinya. Dia juga tak membalas sapaan para kerabat Gunawan yang berusaha untuk bersikap ramah padanya.
"Huh! Sombong banget sih istrinya Mas Gunawan," ucap seorang perempuan muda yang seusia dengan Anggun. Dia adalah Mira, sepupu Gunawan.
"Iya. Sombong banget. Kok bisa sih dulu Mas Gunawan nikah sama cewek kayak gitu? Udah wajahnya nggak cantik tapi gayanya sok kecakepan banget," sahut yang lain.
"Ssstt… sudah… sudah! Jangan diteruskan lagi. Nanti kalau orangnya dengar kan nggak enak sendiri," timpal seorang perempuan bergamis biru.
"Biarin aja, Mbak. Lagian sombong amat jadi manusia. Padahal Tuhan yang punya segala isi dunia aja nggak sombong. Nah ini! Baru dikasih wajah yang kayak gitu aja udah sok banget!" sahut Mira.
Perempuan bergamis biru itu hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan Mira.
Sementara itu, di dalam rumah. Gunawan ingin memeluk jenazah sang ibu. Tapi orang-orang yang ada di sana menghalanginya. Mereka beralasan bahwa jenazah sang ibu sudah disucikan dan siap untuk dikafani. Akhirnya, Gunawan hanya bisa menatap wajah sang ibu tanpa bisa menyentuh.
Anggun lagi-lagi berdecak kesal melihat kelakuan sang suami. Dia merasa sang suami terlalu berlebihan. Dia hanya kehilangan seorang ibu, bukan kehilangan istri atau nyawanya sendiri, kan? Begitu pikir Anggun.
"Aduh lebay banget sih! Enggak usah ditangisi kenapa sih? Enggak bakalan hidup juga kan!" pekik Anggun.
Orang-orang yang ada di sana kompak menoleh ke arah Anggun. Mereka menatap Anggun dengan berbagai ekspresi. Ada yang kaget hingga mengucap istighfar sambil mengelus dada.
"Heh! Bisa berempati dikit nggak sih? Mas Gunawan lagi berduka dan yang meninggal ini mertua kamu. Bisa jaga mulut nggak sih? Atau perlu aku kasih satpam buat jagain mulut kamu?" tegur Mira.
Gadis itu memang paling tak suka pada Anggun. Sejak pertama kali Gunawan memperkenalkan Anggun sebagai calon istrinya dulu hingga sekarang, Mira masih saja tak suka pada perempuan itu.
Anggun sudah akan membuka mulut untuk membalas ucapan Mira. Tapi Gunawan menatapnya dan menggelengkan kepala seolah memberi isyarat agar sang istri diam.
Anggun menatap gadis itu dengan tatapan tajam. Kemudian dia berlalu pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.
****************
Pemakaman sang ibu selesai saat menjelang sore. Gunawan masuk ke rumah setelah sebelumnya mencuci tangan serta kaki di sumur. Dia masuk melalui pintu belakang yang masih terbuka.
"Sudah pulang, Gun?" tanya seorang perempuan paruh baya padanya.
"Sudah, Bi." Gunawan menjawab sambil menatap wajah bibinya dengan tatapan sendu.
Gunawan menghela napas panjang. "Maafin aku ya, Bi. Aku jarang pulang untuk menengok keadaan ibu di rumah. Ibu sakit keras pun aku tak ada di sisinya. Sampai ibu meninggal—"
"Sudah, Gun. Enggak perlu disesali. Semua sudah takdir dari yang maha Kuasa," potong perempuan itu cepat.
"Oh iya, Gun. Nanti malam akan ada acara tahlilan. Kamu masih menginap di sini kan sampai tahlilan selesai?" lanjut perempuan paruh baya itu.
Gunawan menatap bibinya dan mengangguk. "Aku masuk dulu ya, Bi. Mau istirahat!" ucap Gunawan.
Perempuan itu mengelus pundak keponakannya dengan lembut. Kemudian dia mengangguk. Dia menatap punggung keponakannya hingga menghilang di balik pintu kamar.
Di kamar, Gunawan mendapati sang istri tengah memainkan ponselnya. Dia sama sekali tak menegur Gunawan yang baru saja pulang dari pemakaman.
Gunawan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap tak acuh sang istri. Wanita yang dinikahinya dua tahun lalu itu sama sekali tak menunjukkan rasa empatinya pada kejadian yang menimpa Gunawan.
"Mau ambil apa kok buka-buka tas?" Anggun menegur Gunawan saat melihat sang suami membuka tas ransel yang tadi dibawanya dari rumah.
Gunawan tak menghiraukan pertanyaan perempuan itu. Setelah mendapatkan apa yang dia cari, Gunawan bergegas keluar kamar.
"Bi, Bi Darni!" panggil Gunawan.
Seorang perempuan paruh baya tampak tergopoh-gopoh menghampiri Gunawan.
"Ada apa, Gun? Ada yang bisa Bibi bantu, Nak?" tanya perempuan itu. Ada gurat kecemasan dalam wajahnya.
Gunawan tersenyum. Dia lalu memberikan amplop putih yang dia bawa pada Bi Darni.
"Apa ini, Gun?" tanya bi Darni tak mengerti.
"Aku ada sedikit rezeki, Bi. Lumayanlah bisa buat tambahan untuk membeli camilan orang-orang yang ikut tahlilan nanti," jawab Gunawan.
Mata perempuan yang dipanggil Bi Darni itu berkaca-kaca. Dia merasa terharu melihat sikap sang keponakan. Dia tahu bagaimana hidup keponakannya itu di kota.
"Enak aja main kasih uang ke orang lain!" Tiba-tiba Anggun datang dan langsung merebut amplop dalam genggaman Bi Darni.
"Mas, kalau punya duit banyak tuh dikasih ke istri dulu. Jangan kamu kasihkan ke orang lain. Apalagi buat acara apa itu? Tahlilan?" Anggun berkata sambil membuka amplop putih itu.
"Tolong kembalikan amplopnya, Dek. Itu untuk acara tahlilan ibu nanti malam. Hanya itu yang bisa Mas lakukan untuk menebus rasa bersalah pada ibu." Gunawan memohon agar Anggun mau memberikan amplop itu kembali.
"Enak aja! Denger ya Mas. Mau kamu tahlilan sampai mulut berbusa, yang namanya orang mati tuh nggak bakalan hidup lagi. Orang mati juga nggak butuh duit, Mas. Yang butuh duit tuh ini!" Anggun menunjuk dadanya sembari menatap tajam ke arah sang suami.
"Astaghfirullahalazim. Istighfar kamu, Dek," ucap Gunawan.
"Enggak usah nyuruh-nyuruh orang buat istighfar kamu. Enggak usah sok paling benar kamu jadi orang." Anggun berkata dengan nada ketus.
"Uang ini pesangon kamu, kan? Pesangon kamu dari pabrik, kan?" Anggun berujar sambil mengangkat amplop putih itu.
"Sudah! Sudah! Jangan bertengkar. Ambil saja uang itu. Kami tak butuh uang dari kalian. Kami masih mampu mengadakan acara tahlilan itu dengan cara kami," ucap Bi Darni.
Anggun sudah akan membuka mulut untuk membalas ucapan Bi Darni. Tapi suara ketukan di pintu, membuat Anggun mengurungkan niatnya itu.
Gunawan membuka pintu rumah itu. Dia terkejut saat melihat siapa yang datang ke rumahnya.
"Kalian?!" pekik Gunawan tertahan.
Orang-orang yang berdiri di depan Gunawan tersenyum. Mereka semua sudah menduga jika Gunawan akan terkejut dengan kedatangan mereka semua.
"Assalamu'alaikum, Gun!" sapa salah seorang dari mereka. Dia adalah Samsul, salah satu rekan kerja Gunawan semasa di pabrik dulu.
"Wa-wa'alaikumusalam," jawab Gunawan.
"Maaf kami datangnya mendadak. Soalnya baru tahu kalau kamu sedang berduka," ucap Samsul.
"Iya, Gun. Maaf kami baru bisa datang ke sini setelah pulang kerja," sahut yang lainnya.
Gunawan mencoba tersenyum. "Enggak apa-apa. Aku senang kalian mau datang. Eh iya! Mari silakan masuk!" ajak Gunawan.
Mereka lantas masuk ke dalam rumah secara bergantian.
"Kami turut berdukacita ya, Gun atas meninggalnya Ibu kamu." Samsul berkata setelah mereka semua masuk dan duduk di lantai ruang tamu rumah itu.
"Iya, Sul. Makasih ya!" jawab Gunawan.
Mendengar suara ramai di luar, Anggun berjalan pelan menuju ruang tamu. Dia ingin tahu siapa yang datang bertamu ke rumah kumuh ini.
"Mau apa mereka ke mari? Kalau cuman mau ngucapin belasungkawa aja kan bisa lewat chat. Enggak perlu datang ke mari!" batinnya.
Setelah puas mengamati, Anggun berjalan menuju kamarnya yang terletak di samping ruang tamu. Dia berjalan dengan angkuhnya tanpa peduli ada orang yang sedang duduk di sana.
"Nggun, tolong buatkan minuman untuk tamu kita ya," pinta Gunawan pada sang istri.
Tapi Anggun tak menghiraukan permintaan sang suami. Dia hanya melirik sekilas. Dengan angkuhnya, dia masuk ke dalam sembari membanting pintu.
Gunawan hanya bisa beristighfar dalam hati. Sejujurnya dia merasa sangat malu dengan kelakuan sang istri yang tak bisa menghargai tamu.
"Em… tunggu sebentar ya. Aku buatkan minuman untuk kalian," ucap Gunawan.
Para tamu itu mengangguk. Mereka menjadi tak enak hati pada Gunawan dan keluarganya. Karena kedatangan mereka yang mendadak, membuat Anggun menjadi marah.
Gunawan berjalan menuju dapur dan mulai menyalakan kompor. Tepat saat itu, Bi Darni masuk ke dapur.
"Mau bikin apa, Le?" tanya perempuan paruh baya itu.
"Eh, Bibi! Ini Bi mau bikin minuman. Ada tamu soalnya," jawab Gunawan.
Tangannya dengan lincah meracik minuman untuk para tamu yang datang.
"Tamu siapa, Gun?" tanya bi Darni lagi.
"Teman-temanku sewaktu kerja di pabrik, Bi. Mereka datang untuk melayat." Gunawan menjawab sembari menuangkan gula ke dalam gelas-gelas yang berjejer di depannya.
Bi Darni manggut-manggut mendengar jawaban Gunawan. Dia lantas menyuruh Gunawan untuk masuk ke dalam dan menemani para tamunya. Sedangkan bi Darni meneruskan pekerjaan Gunawan untuk membuat minuman.
"Makasih ya, Bi. Maaf kalau aku selalu ngerepotin Bibi," ucap Gunawan.
Bi Darni tersenyum mendengar ucapan Gunawan. Dia sama sekali tak merasa direpotkan oleh keponakan kesayangannya itu. Dia justru senang jika Gunawan mau meminta bantuan kepadanya.
****************
Waktu begitu cepat berlalu. Tak terasa 40 hari sudah ibunda Gunawan pergi menghadap yang maha Kuasa. Gunawan kini telah kembali ke kota dan kembali berusaha untuk mencari pekerjaan baru.
"Dek, aku pamit ya. Mau cari kerjaan," pamit Gunawan pada Anggun.
"Hmm!" Hanya itu yang keluar dari mulut sang istri.
Gunawan menghela napas panjang. Dia berusaha untuk tetap bersabar menghadapi sikap sang istri yang tiba-tiba berubah dingin padanya.
Gunawan mengulurkan tangannya. Mencoba untuk bersalaman dengan sang istri seperti yang biasa dia lakukan ketika masih bekerja di pabrik dulu.
"Mau apa?" Anggun bertanya pada Gunawan dengan sinis saat melihat suaminya itu mengulurkan tangan.
"Salaman, Dek. Seperti yang biasa kamu lakukan dulu," jawab Gunawan.
Anggun memalingkan wajahnya. Dia kembali fokus pada ponselnya tanpa mempedulikan sang suami.
"Enggak usah salam-salaman segala. Kalau mau berangkat, ya tinggal berangkat aja. Enggak usah lebay pakai salam-salaman segala," ketus Anggun.
"Tapi, Dek. Itu—"
"Alah, Gun! Enggak usah lebay kamu. Anggun tuh ogah salaman sama pengangguran macam kamu. Dia alergi salaman sama suami yang nggak berguna kayak kamu." Tiba-tiba bu Ika memotong ucapan Gunawan.
Gunawan melihat ke arah sang ibu mertua. Ingin rasanya dia menjawab ucapan menyakitkan dari perempuan beralis seperti celurit itu. Tapi dia berusaha untuk menahan emosinya.
"Benar kata ibu. Kalau mau aku kayak dulu, kamu harus bisa mendapatkan uang yang banyak. Kalau perlu lebih banyak dari yang dulu," sahut Anggun.
Tanpa menyahuti perkataan kedua wanita itu, Gunawan segera keluar dari dalam rumah. Dia berjalan menuju jalan besar yang setiap hari dilaluinya.
Di tengah jalan, dia bertemu dengan salah seorang tetangganya.
"Eh, Gun! Mau ke mana?" tanya orang itu.
"Eh, Bu Ida. Ini mau cari kerjaan, Bu," jawab Gunawan.
Perempuan yang disapa bu Ida itu tersenyum. "Semangat ya cari kerjanya. Jangan menyerah," ucap bu Ida memberi semangat.
Gunawan membalas ucapan perempuan itu dengan senyuman. Setelah itu dia berpamitan untuk melanjutkan perjalanannya untuk mencari pekerjaan.
Tempat pertama yang Gunawan kunjungi adalah sebuah pabrik pengolahan ikan. Dia datang ke sana setelah diberitahu oleh temannya jika di sana sedang membuka lowongan.
"Maaf, Gun! Ternyata posisi itu sudah ada yang ngisi." Temannya berkata penuh penyesalan saat Gunawan datang ke sana.
Gunawan tersenyum. "Iya, Zis. Enggak apa-apa. Mungkin belum rejekiku aja," jawab Gunawan.
Setelah berpamitan, Gunawan melanjutkan langkahnya menuju sebuah pabrik pengolahan kayu.
"Maaf, Gun! Bosnya nyari yang lulusan SMP. Dia nggak nerima yang lulusan D1 kayak kamu," ucap temannya itu.
Gunawan menghela napas panjang. Dia kemudian tersenyum. Setelah itu, dia berpamitan dan kembali melanjutkan langkahnya menuju tempat lain.
Hari sudah beranjak siang. Tapi Gunawan belum juga mendapatkan pekerjaan sama sekali. Setiap pabrik atau toko yang dia kunjungi, selalu bilang tidak ada lowongan. Atau tidak menerima lulusan D1 seperti dirinya. Lalu, lulusan apa yang mereka cari? Lulusan sekolah dasar atau lulusan sekolah menengah yang bisa mereka kibuli?
Gunawan berhenti sejenak di sebuah warung yang tak jauh dari tempat pembangunan sebuah proyek. Kakinya sudah terasa pegal karena hampir seharian ini berjalan untuk mencari pekerjaan.
Gunawan masuk dan memesan segelas es teh. Dia juga mengambil sebungkus roti yang ada di meja warung untuk mengganjal perutnya.
"Cari kerjaan ya, Mas?" tanya sang pemilik warung.
"Eh! Iya, Bu," jawab Gunawan.
"Lulusan apa Mas?" tanya pemilik warung itu lagi.
"Kenapa, Bu?" Gunawan balik bertanya pada ibu pemilik warung.
"Enggak apa-apa, Mas. Cuman nanya aja!" jawab ibu itu.
Gunawan hanya menanggapi jawaban ibu itu dengan senyuman. Kemudian dia kembali menikmati makan siangnya.
"Lagi nyari kerjaan ya, Mas?" Seseorang yang duduk tak jauh darinya ikut bertanya pada Gunawan.
"Iya, Mas. Ada info lowongan kerja nggak, Mas?" tanya Gunawan.
Orang itu tersenyum saat mendengar pertanyaan Gunawan. Dia lantas menjawab, "kalau Mas mau, ikut kerja sama saya aja. Kebetulan saya sedang butuh satu orang pekerja."
Mata Gunawan berbinar kala mendengar tawaran itu. Dia segera mengiyakan tawaran itu tanpa memikirkan yang lainnya.
"Kalau gitu, besok kamu datang ke proyek untuk bertemu dengan saya dan mandor kepala ya," ucap orang itu lagi.
Gunawan tampak sangat senang. Dia mengucapkan banyak-banyak terimakasih pada orang itu. Kemudian dia segera berlalu dari tempat itu.
Tak berapa lama, dia sampai di depan rumah sang mertua. Dia akan memberitahukan kabar gembira ini pada mertua dan istrinya. Tapi saat akan mengucapkan salam, dia mendengar sesuatu yang membuat hatinya teriris perih.