Bab 2

Hari ini, rencananya Anyelir akan bertemu dengan Serkan di jam makan siang, namun karena Anyelir ada jadwal kuliah pagi, jadi dia akan ke kampusnya lebih dulu. Anyelir mengambil jurusan management bisnis, karena dia berharap bisa membantu papahnya mengelola perusahaan, karena Anyelir adalah anak tunggal.

"Mah,Pah Anyelir pamit ya," ucap Anyelir setelah menyelesaikan sarapannya.

"Nak, kamu yakin akan bertemu tuan Serkan?" Irawan mencoba memastikan sekali lagi.

"Iya Pah, Anyelir sudah memutuskan, jadi Anyelir tidak akan mundur." Jawab Anyelir yakin.

"Nak, apapun yang akan kamu hadapi tidak akan mudah, kalau kamu ragu, maka jangan diteruskan, toh kita juga belum terlalu jauh kan?" ucap Kirana mencoba menasehati Anyelir. Kirana tak tega melihat putri semata wayangnya yang dia besarkan penuh kasih sayang berkorban sejauh itu, ibu mana yang rela melihat putrinya menikah dengan lelaki yang tidak dicintai, apa lagi menjadi istri kedua.

Anyelir tersenyum kearah kedua orangtuanya, senyum teduh yang selalu Anyelir berikan selalu berhasil membuat kedua orangtuanya tenang

"Mah, Pah ... kalian nggak perlu khawatir, Anyelir yakin Anyelir bisa kok, lagipula mungkin ini yang sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa untuk hidup Anyelir, mungkin tuan Serkan adalah jodoh Anyelir," ucap Anyelir, jujur saja mengatakan Serkan mungkin adalah jodohnya, sangat berat bagi Anyelir. Wanita yang dengan percaya dirinya mengatakan suami orang lain adalah jodohnya. Namun, hanya kata-kata itu yang nampak bisa membuat kedua orang tua Anyelir tak ragu lagi.

"Baiklah, nanti kalau ada apa-apa kamu hubungi Papah ya?" pinta Irawan dengan pandangan sendu kearah Anyelir.

"Iya Papah," jawab Anyelir seraya tersenyum, seakan dirinya tak mempunyai beban sedikitpun. Setelah itu, Anyelir pun berpamitan kepada Irawan dan Kirana untuk berangkat ke kampus.

Anyelir masuk kedalam mobil, dan menumpahkan seluruh beban dihatinya, tangis yang dia tahan sekuat tenaga agar tidak luruh dihadapan kedua orangtuanya kini dia tumpahkan, rasa sesak di dadanya menandakan bahwa Anyelir sudah tak mampu lagi berpura-pura.

"Ya Allah, jika memang ini jalan hidupku yang sudah Engkau gariskan, aku mohon kuatkan lah aku," batin Anyelir.

Tidak mau orang tuanya curiga, Anyelir pun segara melajukan kendaraannya pelan, selama perjalanan Anyelir terus memikirkan bagaimana caranya mengakhiri hubungannya dengan Erland. Ya Anyelir memang sudah memiliki kekasih bernama Erland Prasetyo, hubungan mereka sudah terjalin selama 2 tahun.

"Alasan apa yang harus aku katakan kepada Erland nanti?" batin Anyelir. Tidak terasa,kini dia sudah berada di parkiran mobil. Anyelir pun turun dari mobilnya, namun ada satu pemandangan yang membuat hati Anyelir sakit, tanpa sadar air mata mengalir di pipi mulusnya.

"Erland," Anyelir menepuk pundak Erland yang tengah bercumbu mesra di sudut tembok cukup sepi. Anyelir sangat paham bahwa itu adalah Erland, kekasihnya dia tidak mungkin salah.

"A.. Anyelir," gagap Erland terkejut setelah dia melihat Anyelir dibelakang tubuhnya.

Anyelir menatap nanar kedua pasangan yang ketahuan mesum itu, "menjijikkan," ucap Anyelir. Dan satu tamparan cukup keras pun mendarat di pipi Erland, bahkan sampai dua kali Anyelir menghadiahkan tamparan tersebut.

"Anyelir loe gila ya?" ucap Indah, wanita yang tadi tengah bermesraan dengan Erland.

"Gue gila? loe berdua yang gila, bisa-bisanya kalian menjalin hubungan dibelakang gue," seru Anyelir.

"Dan loe," Anyelir menunjuk wajah Indah yang tengah mengecek wajah Erland yang terkena tamparan Anyelir. "Loe cewe yang gak tahu malu, loe tahu kan Erland itu udah punya pacar!"

"Gue tahu," jawab Indah seraya bersedekap dada.

"Dan harusnya loe introspeksi diri dulu, kenapa Erland bisa berpaling ke gua, itu karena loe sendiri, salah loe Anyelir," Indah bergantian menunjuk wajah Anyelir tanpa raut bersalahnya.

"Loe terlalu munafik, Erland bahkan nggak pernah sekedar cium loe, dengan alasan loe mau jaga diri loe buat suami loe kelak, harusnya loe sadar, kata-kata loe udah sama aja gak yakin kalau kalian bakal nikah," seru Indah membela diri.

Anyelir tersenyum remeh, "pemikiran loe dangkal banget deh, gue jatuh cinta Indah tapi gue gak bodoh, yang tunangan aja belum tentu nikah, apalagi gue yang baru status pacaran? dan satu lagi, gue bukan loe yang bisa dengan mudah ngasih segalanya sama cowok, apa lagi kehormatan," Anyelir menekan kata kehormatan didepan wajah Indah.

Indah mengepalkan tangannya kuat, sebisa mungkin dia menahan amarahnya karena ada Erland, "tapi loe lihat kan sekarang, Erland berpaling ke gue, dan gue yakin Erland lebih milih gue," ucap Indah seraya tersenyum penuh kemenangan.

"Gue gak perduli, kalian berdua emang cocok, sama-sama mementingkan nafsu, itukan alasan kalian bersama, jadi kalian ya cocok," ucap Anyelir.

Kali ini Indah ataupun Erland tak bisa lagi menyangkal, Erland mendekati Indah memang karena dia ingin menyalurkan hasratnya yang tidak dia dapatkan dari Anyelir, sedangkan Indah, dia adalah wanita yang memang sudah menyukai Erland sedari lama, namun Erland lebih memilih Anyelir. Namun indah tak pernah menyerah, dia terus menggoda Erland, Erland adalah lelaki yang normal, tentu saja dia tergoda, merekapun sering berkencan dibelakang Anyelir, bahkan hubungan mereka sudah terjalin selama 6 bulan ini.

Hubungan Indah dan Erland tak jauh dari sekedar kebutuhan ranjang, Erland akui Indah memang partner yang sangat memuaskan, selain itu body Indah juga sangat menarik, sedangkan Indah memberikan tubuhnya kepada Erland secara senang hati, bahkan Indah memberikan keperawanannya kepada Erland.

Anyelir menatap Erland dengan pandangan kecewa, "hubungan kita selesai," ucap Anyelir, setelah mengatakan itu diapun bergegas pergi meninggalkan dua sejoli itu.

"Anye ... Anyelir!!!" seru Erland, dia mencoba mengejar Anyelir, namun langsung ditahan oleh Indah.

"Udahlah Erland, nggak perlu dikejar, lagian apa yang bakal kamu dapet dari dia?" ucap Indah mencoba memanasi keadaan, "ayo kita pergi, biar aku obati luka kamu," ajak Indah, mengobati luka? lebih tepatnya mengobati di atas ranjang. Tentu saja Erland tak menolak, dia pun mengajak Indah masuk kedalam mobil dan melakukannya meninggalkan kampus.

Anyelir sendiri menahan tangisnya, dia masuk kedalam toilet dan menumpahkan semuanya, dia tak menyangka lelaki yang dia cintai tega menyakiti hatinya sedalam ini.

"Ya Allah, apa ini jalan yang Engkau berikan?" batin Anyelir, dia mencoba mengontrol emosinya agar tak terisak kembali, setelah itu dia pun keluar dari toilet untuk membasuh wajahnya.

Namun secara tak sengaja, Anyelir bertemu dengan sahabatnya yaitu Indira, Anjani, dan Vania. Mereka semua terkejut melihat mata Anyelir yang nampak sembab.

"Anye? kamu kenapa?" tanya Indira dengan khawatir. Sontak saja, Anyelir kembali terisak diperlukan Indira, dan itu semakin membuat ketiga sahabatnya bingung.

Setelah cukup tenang, Anyelir pun bercerita kepada ketiga sahabatnya, tentang yang dia lihat pagi ini.

"Apa? jadi Erland selingkuh sama Indah?" tanya Vania kesal. Anyelir pun hanya mengangguk sebagai jawaban.

"Anye, gue minta maaf yaa, gara-gara Indah, loe jadi putus sama Erland," ucap Indira merasa bersalah, karena Indira dan Indah adalah saudara kembar, namun wajah mereka sama sekali tak mirip.

"Nggak papa kok, gue jadi ngerti sekarang, seperti apa brengseknya Erland, setidaknya gue udah lepas dari dia," ucap Anyelir mencoba menenangkan Indira.

"Bener Nye, cowok brengsek kaya dia emang nggak pantes buat dipertahankan," ucap Anjani mendukung jawaban Anyelir.

"Bener apa kata Anjani, jadi loe jangan ngerasa bersalah ya Ra," ucap Anyelir.

"Iya Nye," jawab Indira, setelah itu Anyelir pun membasuh wajahnya dan kemudian mereka berempat pun pergi menuju kelas.

Bab 3

Serkan tengah berkutat dengan berkas-berkasnya, karena hari ini dia akan bertemu dengan Anyelir, jadi dia harus sedikit mengerjakan lebih cepat. Namun, tiba-tiba saja pintu ruangannya terbuka, dan menampilkan seorang wanita cantik bermake-up cukup tebal dan berpakaian cukup ketat masuk kedalam ruangan Serkan seraya membawa kue.

"Happy anniversary pernikahan kedua tahun sayang," ucap Felly seraya mencium pipi Serkan.

Serkan tersenyum kearah istrinya, "oh ya? hari ini tepat dua tahun ya?" ucap Serkan.

"Kamu lupa?" wajah Felly cemberut dan berbicara dengan nada manja.

"Tentu saja tidak," Serkan membuka laci mejanya, dan memberikan satu kotak merah kepada Felly.

"Apa ini?" tanya Felly dengan mata berbinar.

"Bukalah," ucap Serkan.

Felly pun membuka kotak tersebut, dan ternyata itu berisi satu set perhiasan berlian, tanpa sungkan Felly pun langsung memeluk Serkan dengan manja.

"Terimakasih sayang," ucap Felly.

"Sekarang mana hadiahku?" tanya Serkan seraya menaikkan satu alisnya.

"Hadiah? eemm maaf sayang, aku sedang datang bulan, jadi aku tidak bisa memberikan kamu hadiahnya," ucap Felly dengan raut wajah sendu, dia pikir Serkan meminta hadiah di atas ranjang.

Serkan tersenyum mendengar jawaban Felly, "sebenarnya aku tidak meminta itu."

Alis Felly bertaut bingung ,"lalu?" tanya Felly.

"Kabar bahagia, tentang kehamilan kamu, tapi dengan jawaban kamu yang mengatakan kamu datang bulan, itu sudah menjawabnya," ucap Serkan.

"Maafkan aku ya sayang," Felly memasang wajah sedihnya, Serkan memang selalu menanyakan tentang kehamilan, karena Serkan sangat ingin memiliki keturunan.

Serkan bangkit dari duduknya dan berjalan kearah jendela, matanya menatap kearah luar jendela dimana kendaraan berlalu lalang, satu tangannya dia masukkan kedalam saku celana, sedangkan satu tangannya lalu memegang jendela kaca.

"Sudah 2 tahun Felly, dan selama itu aku memberikan kamu kesempatan," ucap Serkan.

"Sayang, tapi aku juga sudah check ke dokter kandungan kok, dan aku sehat, rahimku baik-baik saja," ucap Felly.

"Lalu kamu menyalahkan aku?" ucap Serkan seraya berbalik menatap Felly.

"Bu.. bukan begitu maksudnya, tapi mungkin kita belum diberi kepercayaan sayang," ucap Felly halus, dia mencoba menenangkan Serkan yang nampak mulai kesal.

Serkan menghela napas kesal, kemudian dia melemparkan pandangan nya lagi kearah luar jendela, "Kamu masih ingat bukan perjanjian pernikahan kita?" tanya Serkan.

Seketika wajah Felly berubah, dia menundukkan pandangannya, "iya aku ingat," jawab Felly.

"Apa bunyinya?" tanya Serkan.

"Kalau dalam 2 tahun aku tidak bisa memberikan kamu keturunan, maka aku harus siap dipoligami, dan jika aku menolak, maka aku akan diceraikan," jawab Felly sendu.

"Lalu kamu memilih yang mana?" tanya Serkan sembari sembari bersedekap dada, kini posisinya sudah berhadapan dengan Felly.

Bibir Felly tiba-tiba saja kelu, keduanya tak ingin Felly pilih, Felly tak rela jika harus berbagi suami, namun jika Felly menolak itu berarti dia harus siap diceraikan oleh Serkan, dan dengan begitu maka Felly harus siap kehilangan semua kemewahan yang selama ini sudah Serkan berikan padanya.

"Aku siap untuk dimadu," jawab Felly.

"Bagus, hari ini aku akan bertemu dengan calon istri kedua ku," ucap Serkan seraya tersenyum sinis.

Sontak Felly langsung menatap Serkan tak percaya, "kamu sudah menemukan calon maduku?" tanya Felly.

"Iya, aku sudah mempersiapkannya, dan aku akan memeriksanya kesehatan nya lebih dulu, jika semua cocok maka aku akan menikahinya dalam waktu dekat," jelas Serkan.

Felly hanya diam, dia tidak tahu harus berbuat apa, percuma juga jika dia marah kepada Serkan, karena itu tidak akan berarti apapun.

"Kau mau ikut?" tanya Serkan.

"Aku harus lihat, seperti apa calon maduku nanti, aku yakin dia akan kalah jauh dari ku," batin Felly.

"Iya, aku ikut, aku juga ingin berkenalan dengannya," jawab Felly.

"Baiklah sebentar lagi kita pergi, kau duduklah dulu."

"Aku ke toilet sebentar ya?" ucap Felly meminta izin. Serkan pun mengangguk sebagai jawaban.

Felly pun keluar dari ruangan Serkan langsung menuju toilet yang berada di lantai ruang kerja CEO, jadi tidak ada pegawai yang akan datang, kecuali sekretaris atau Leo sang asisten Serkan.

Felly menatap pantulannya di cermin, tangannya terkepal erat kala mendengar penuturan Serkan yang akan menikah lagi.

"Aku tidak akan membiarkan siapapun merebut posisi ku," ucap Felly penuh amarah.

"Aku akan menghancurkan wanita itu," batin Felly.

Jam 11 siang Anyelir sudah selesai kelas, dia pun bergegas untuk membereskan buku-buku nya, karena asisten Serkan sudah menghubungi Anyelir beberapa menit lalu, memberitahukan tempat mereka akan bertemu.

"Loe mau kemana Nye?" tanya Anjani yang melihat Anyelir nampak tergesa-gesa.

Anyelir lupa, bahwa teman-temannya tak tahu menahu tentang persoalan nya, jadi dia harus mencari alasan yang tepat.

"Gue mau anter nyokap, kerumah temennya yang sakit, gue balik duluan ya," bohong Anyelir, tapi syukurlah semua temannya percaya.

"Ya udah hati-hati," seru Indira, karena Anyelir sudah berlari keluar kelas.

Anyelir mengemudikan mobilnya disalah satu rumah sakit yang sudah diberitahu kan oleh Leo, sebenarnya Anyelir bingung kenapa mereka harus bertemu di rumah sakit.

Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam,. Anyelir pun sampai dirumah sakit tempatnya bertemu dengan Serkan, saat Anyelir baru turun dari mobil, dia didatangi oleh 2 orang yang berpakaian serba hitam.

"Siang, apa betul anda nona Anyelir?"

"Betul," jawab Anyelir.

"Kami ajudan tuan Serkan, dan kami disuruh menjemput nona."

"Oh baiklah, terimakasih," ucap Anyelir.

"Mari nona."

Anyelir pun mengikuti kedua ajudan serkan memasuki rumah sakit, Anyelir masih belum tahu apa yang akan Serkan lakukan sebenarnya, kenapa Anyelir dibawa kerumah sakit. Didepan rumah sakit, terlihat seorang pria mengenakan jas, kedua ajudan tadi pun menunduk hormat.

"Apa dia tuan Serkan?" batin Anyelir.

"Silahkan nona, tuan Serkan sudah menunggu."

"Oh iya," jawab Anyelir, dia pun melangkah masuk kedalam ruangan.

"Tuan Serkan, nona Anyelir sudah datang."

Serkan menoleh kearah Anyelir, tatapannya menilai dari atas hingga bawah membuat Anyelir tak nyaman.

"Ternyata dia tuan Serkan, lalu siapa wanita itu?" batin Anyelir bertanya soal Felly.

"Kau bisa keluar Leo," ucap Serkan kemudian.

"Baik tuan."

"Duduklah," ucap Serkan kepada Anyelir. Anyelir pun duduk di sofa yang berhadapan dengan Serkan dan Felly.

"Saya Serkan, dan ini istri saya Fellysia."

"Saya Anyelir tuan," jawab Anyelir.

"Baiklah, langsung saja. Saya membawa kamu kemari, untuk medikal check up kesehatan kamu, apalagi rahim kamu, karena alasan saya menikahi kamu adalah, karena saya ingin memiliki keturunan." jelas Serkan.

Jantung Anyelir langsung berdetak tak beraturan ketika mendengar penjelasan Serkan, "apa anak?" batin Anyelir takut.

"Kamu paham maksud saya kan?" tanya Serkan.

"Saya paham tuan," jawab Anyelir.

"Bagus," ucap Serkan puas, dia pun meminta Leo untuk memanggil dokter.

"Ini demi mamah dan papah, kalau aku menolak maka papah akan dipenjara, dan semua yang sudah papah bangun akan hancur dalam sekejap," batin Anyelir. Dengan mengingat kedua orangtuanya, itu membuat Anyelir menjadi yakin dengan langkah yang akan dia ambil.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED