Bab 2

Vera terdiam di tepi jendela kamar hotel, menatap keluar tanpa benar-benar melihat apapun. Matanya berkabut, pikirannya berlarian tanpa henti, berusaha merangkai setiap potongan kenyataan yang terpecah-pecah. Semalam-semuanya terasa seperti mimpi buruk yang tak pernah berakhir. Ada yang tidak beres. Bagaimana bisa dirinya, yang begitu membenci Dante, terjatuh ke dalam pelukannya dengan begitu mudah? Sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan dalam seribu tahun. Dia, yang dulu merasa takut dan terhina oleh perundungan yang diterimanya, kini terjebak dalam kenyataan bahwa pria itu-pria yang membuat hidupnya berantakan-baru saja menyentuhnya dengan cara yang tidak bisa ia jelaskan.

Ketika ia mencoba untuk mengingat, ia hanya bisa merasakan kepalanya berdenyut keras. "Apa yang sebenarnya terjadi kemarin malam?" gumamnya, suara itu hampir tidak terdengar oleh dirinya sendiri. Semakin ia berpikir, semakin hatinya terasa sesak. Semalam bukan hanya tentang kebencian yang lama terpendam, tetapi juga tentang kekosongan yang ia rasakan dalam dirinya. Seperti ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya, dan Dante-meskipun tidak pernah ia inginkan-seakan menjadi bagian dari itu. Mungkin karena kebencian itu begitu dalam, hingga ia tidak tahu lagi apakah ada ruang untuk perasaan lain.

Vera menggelengkan kepalanya. Itu tidak bisa terjadi. Ia harus tetap kuat. Ia harus mengingat siapa dirinya. Bukankah ini adalah alasan mengapa ia datang ke Paris? Untuk lari dari masa lalu, untuk melupakan semuanya? Lalu kenapa malah kembali terjerat dalam benang kusut yang lebih rumit? Apa yang salah dengannya?

Suara pintu yang terbuka menyadarkannya. Dante muncul di ambang pintu kamar, mengenakan pakaian yang tampak masih rapi meskipun sepertinya ia baru bangun tidur. Wajahnya yang tampan terlihat tak tergerak, matanya memandang Vera dengan kedalaman yang terasa sulit untuk dibaca. Ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya, seperti ada lapisan lain yang tidak pernah ia perhatikan sebelumnya.

"Kau sudah bangun?" suara Dante berat, dan Vera merasa jantungnya seolah melompat keluar dari dada.

"Kenapa kau di sini?" Vera berkata dengan suara yang lebih tajam dari yang ia inginkan. Ia berusaha untuk tidak menatap Dante terlalu lama, tapi kenyataannya, ia tidak bisa mengabaikan pria itu. Kehadirannya di sini adalah kenyataan yang tidak bisa ia hindari.

Dante melangkah lebih dekat, matanya tak pernah meninggalkan Vera. "Aku kira kita sudah melewati pembicaraan itu kemarin malam, Vera," ujarnya pelan, seolah-olah apa yang terjadi semalam adalah hal yang paling wajar di dunia ini. "Kita berdua tahu ini bukan hanya tentang kebencianmu terhadapku."

Vera menggigit bibirnya, menahan amarah yang mulai mendidih di dalam dada. "Kau pikir ini tentang apa, Dante?" tanyanya dengan suara bergetar. "Kebencianmu yang membuat hidupku hancur? Semua itu sudah cukup, kau tidak perlu datang ke sini dan membuat semuanya lebih buruk."

Dante menghela napas, duduk di tepi tempat tidur dengan gerakan yang penuh ketenangan, meskipun dalam dirinya ia tahu bahwa ada ketegangan yang tak terlihat di antara mereka. "Vera, aku tahu aku tidak punya hak untuk meminta maaf atas masa lalu kita. Aku tahu betapa banyak luka yang aku timbulkan padamu. Tapi malam itu... kita berdua tahu kita tidak bisa menghindarinya."

Vera merasa tersentak. Kata-kata itu menusuk langsung ke dalam hatinya, membangkitkan segala kenangan buruk yang ia coba kubur dalam-dalam. Tetapi saat yang sama, ada bagian dalam dirinya yang terasa bingung. Apakah benar ada sesuatu yang lain di balik semua ini? Apakah semua kebencian yang ia rasakan selama ini sebenarnya hanya penutupan bagi sesuatu yang lebih dalam?

"Jangan coba menjelaskan apa yang sudah terjadi," Vera menegaskan, matanya penuh dengan ketegasan. "Aku tidak ingin mendengarnya. Aku hanya ingin pergi."

Dante mengangguk perlahan, seolah memahami keputusan Vera yang tetap ingin menjauh. "Kau bisa pergi kapan saja, Vera," jawabnya tenang. "Tapi ingat, aku tidak akan pergi begitu saja. Aku tahu ini bisa membuatmu marah, tapi kenyataannya... kita berdua tak bisa menghindari satu sama lain."

Vera menatapnya dengan penuh kebingungan. "Kamu... Apa maksudmu?"

Dante menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, menatap Vera dengan intensitas yang membuat Vera merasa seolah ia sedang dipahami, meskipun tak ada kata-kata yang bisa menjelaskan semuanya. "Aku tahu kamu hamil, Vera."

Vera merasa seolah dunia berhenti berputar. Ia menatap Dante dengan mata terbuka lebar, mencoba mencerna kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya. Hamil? Tapi... bagaimana Dante bisa tahu tentang itu? Dia sendiri bahkan belum mengonfirmasi apapun. Bagaimana dia bisa tahu begitu banyak, sementara dirinya merasa tidak tahu apapun tentang apa yang terjadi di sekelilingnya?

"Kau... bagaimana bisa kau tahu?" Vera terbelalak, suara itu terdengar lebih rendah, hampir seperti bisikan.

Dante menghela napas, matanya berubah lebih tajam. "Aku tahu karena aku melihat perubahan padamu, Vera. Dan aku tahu dari sikapmu, dari cara tubuhmu berperilaku. Kamu tidak bisa bersembunyi dariku-kita tidak bisa menghindari kenyataan."

Vera merasa kakinya lemas, dan tanpa sadar ia bergantung pada meja di sampingnya untuk menahan tubuhnya yang hampir jatuh. "Ini gila... ini tidak mungkin." Rasa panik mulai merasuki dirinya, tubuhnya yang baru saja mengalami perubahan fisik, kini terasa semakin nyata.

"Kenapa tidak mungkin?" tanya Dante dengan suara yang tenang namun penuh makna. "Kita berdua terperangkap dalam sesuatu yang lebih besar daripada yang bisa kita hindari, Vera."

Vera merasa dindingnya mulai runtuh. Ini tidak hanya tentang kebencian atau cinta. Ini lebih rumit daripada itu. Ini lebih dalam, lebih gelap. Sesuatu yang sudah lama terkubur kini muncul kembali ke permukaan, dan semuanya terasa seperti mimpi buruk yang tak akan berakhir.

"Apa yang sebenarnya kamu inginkan, Dante?" tanya Vera, suaranya penuh dengan frustrasi.

"Aku tidak tahu," jawab Dante, "tapi kita berdua harus mencari tahu, bukan?"

Di luar jendela, hujan mulai turun, menciptakan suara lembut yang menghantui seluruh ruangan. Suasana antara mereka terasa seperti badai yang akan datang-tidak bisa dihindari, semakin mendekat. Dan Vera, entah bagaimana, merasa seolah ia terjebak dalam pusaran yang tidak bisa ia keluarkan dirinya sendiri.

Bab 3

Hari-hari berlalu dengan perlahan, terasa berat seperti beban yang tak kunjung hilang. Vera merasa seperti sedang berjalan di atas tali yang rapuh, tanpa tahu kapan ia akan jatuh. Setiap langkahnya terasa penuh dengan keraguan, sementara di dalam hatinya ada dorongan yang kuat untuk pergi, untuk melupakan semuanya, namun kenyataan terus mengejarnya, tak pernah memberi ruang untuk bernafas.

Kehamilannya, yang awalnya ia anggap sebagai mimpi buruk, kini semakin menjadi kenyataan yang tak bisa dihindari. Setiap pagi, tubuhnya terasa semakin berubah, semakin nyata. Bagian-bagian tubuhnya yang dulu ramping kini mulai melengkung, dan meskipun ia mencoba untuk menyembunyikannya, ada sesuatu yang tak bisa ia tahan lagi. Kehamilan ini bukan hanya fisik, tetapi juga emosional. Ia merasa terperangkap, tidak hanya oleh bayi yang sedang tumbuh dalam rahimnya, tetapi juga oleh bayang-bayang masa lalu yang terus menghantui.

Di sisi lain, Dante tidak pernah jauh. Meskipun Vera berusaha menjauh, berusaha untuk tidak terlibat lebih dalam, pria itu selalu ada. Setiap kali mereka bertemu, ia tampak lebih tenang, lebih memaksa untuk menyelami perasaan yang tak terungkapkan. Mungkin dia tidak pernah benar-benar memahami kedalaman perasaannya terhadap Vera, tapi satu hal yang pasti-Dante tidak bisa menjauh. Terlalu banyak benang yang mengikat mereka, dan meskipun Vera berusaha untuk memotongnya, ia tahu itu bukan hal yang mudah.

Pada suatu sore yang mendung, Vera duduk di balkon hotelnya, menatap langit yang gelap. Udara Paris terasa segar, tetapi hatinya terasa sesak, dipenuhi dengan tanya yang tak terjawab. Kehamilannya, hubungan dengan Dante, dan perasaan yang terus mengganggunya-semuanya seperti angin ribut yang tidak pernah berhenti mengamuk. Ia menatap ke bawah, melihat hiruk-pikuk kota yang berjalan seperti biasa, sementara ia merasa semakin terasing dari dunia itu.

Saat itulah suara pintu terbuka, dan Vera tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Langkah kaki itu sudah terlalu dikenalnya.

Dante berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ada ketegangan di udara, sesuatu yang tak terucapkan, namun ada di antara mereka, mengikat mereka dalam jaring yang semakin rapat. Vera merasa perutnya bergetar, bukan karena takut, tetapi karena perasaan yang begitu kuat, yang selama ini ia coba hindari.

"Vera," kata Dante, suaranya lebih lembut dari yang ia duga. "Kita perlu bicara."

Vera menutup matanya sesaat, berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk menghadapi apa yang pasti akan datang. "Tentang apa, Dante?" tanyanya, suaranya datar namun sarat dengan emosi yang tak terucapkan.

Dante melangkah maju, menghentikan langkahnya tepat di depan Vera. Ia berdiri cukup dekat, cukup dekat untuk membuat Vera merasa panik, tetapi ia tidak mundur. Ada sesuatu dalam tatapan Dante yang menggetarkan, seolah pria itu berusaha menyampaikan segala sesuatu tanpa kata-kata.

"Kamu tahu kenapa aku di sini," kata Dante perlahan, suara itu mengandung ketegasan yang tidak bisa ia hindari. "Karena aku tidak bisa membiarkan kamu menjalani ini sendirian."

Vera menatapnya, merasakan perasaan yang lebih dalam dari yang ia ingin akui. "Aku tidak membutuhkanmu, Dante," jawabnya tajam, berusaha menjaga jarak. "Aku tidak butuh bantuanmu atau kehadiranmu dalam hidupku."

Tapi meskipun kata-kata itu keluar begitu mudah, hati Vera terasa sebaliknya. Ia butuh seseorang, terutama setelah semua yang terjadi, tetapi apakah orang itu harus Dante? Apakah ia harus menerima kenyataan bahwa ia kembali terjebak dalam hidupnya? Itu yang tidak bisa ia jawab.

Dante menghela napas, tampaknya memahami bahwa Vera tidak akan mudah menerima bantuan darinya. "Aku tahu ini sulit bagimu, Vera," katanya, suaranya tetap lembut namun penuh penekanan. "Tapi kamu tidak bisa terus bersembunyi. Kau sedang hamil. Ini bukan sesuatu yang bisa kamu tangani sendirian."

Vera merasa dadanya bergetar, dan untuk pertama kalinya sejak kemarin, air matanya hampir tumpah. "Aku tahu," jawabnya, suara itu hampir tidak terdengar, penuh dengan keputusasaan yang tersembunyi. "Tapi aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tak tahu harus bagaimana."

Dante menatapnya dengan tatapan yang lebih lembut. "Kamu tidak harus melakukannya sendirian. Aku tahu kita punya sejarah yang buruk, aku tahu kamu membenciku, tapi... aku tidak akan biarkan kamu menghadapi ini tanpa bantuan."

Vera menunduk, mengumpulkan kekuatan yang ia rasa mulai hilang. Hatinya berat, dan pikirannya terus berputar-putar, mencoba mencari jalan keluar dari situasi ini. Tapi semakin ia berpikir, semakin ia merasa bahwa keluar dari lingkaran ini bukanlah hal yang mudah. Dante sudah menjadi bagian dari hidupnya yang tak bisa ia tolak. Apakah itu kebencian? Ataukah sesuatu yang lebih gelap, yang telah lama terpendam?

"Aku..." Vera mulai berbicara, namun kata-katanya terhenti. Ada begitu banyak hal yang ingin ia ungkapkan, begitu banyak perasaan yang ingin ia sampaikan, namun semuanya terasa begitu rumit. Ia tidak tahu harus mulai dari mana.

Dante tidak menunggu lama. Ia melangkah lebih dekat, memberikan ruang bagi Vera untuk merasakan kehadirannya. "Kamu tidak perlu berkata apa-apa sekarang, Vera. Aku hanya ingin kamu tahu, aku akan tetap ada. Untuk kamu, dan untuk bayi ini."

Vera menatap Dante, dan untuk sesaat, ia merasa seperti sebuah dunia baru terbuka di hadapannya. Apakah ia bisa mempercayainya? Apakah ia bisa menerima kenyataan bahwa ia tidak bisa menjalani ini sendirian, meskipun itu berarti harus berhadapan dengan Dante?

Malam itu, saat Vera berbaring di tempat tidurnya, perasaan itu semakin kuat-benang-benang yang mengikatnya dengan Dante semakin erat, dan ia tahu ia tidak bisa terus menghindari kenyataan ini. Meskipun ia berusaha untuk menutup mata dan berlari, takdirnya telah diputuskan. Kehamilan ini, masa lalu mereka, dan hubungan yang semakin rumit ini-semuanya adalah bagian dari puzzle yang harus ia pecahkan.

Namun, seperti yang sudah diketahui, hidup tidak selalu menawarkan jawaban yang jelas.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED