Bab 2

“Ayah aku berangkat, Assalamualaikum,” teriak Asmara berlari ke arah motor matik miliknya yang terparkir di halaman.

“Waalaikumsalam, he Nak tidak sarapan dahulu kah?” jawab Pak Banu dari arah dapur.

“Tidak keburu Ayah nanti saja di kantin sekolah beli mie. Sudah ya Asmara berangkat sekolah dahulu,” Asmara lantas melaju dengan motornya agak tergesa-gesa.

“Ya Allah ini anak kenapa kebiasaan makan mie sedari kecil belum juga hilang. Lihat istriku anak kita sudah besar, sudah gadis dan keinginanmu akan dia menjadi menantu Pak Bos akan jadi kenyataan,” gerutu Pak Banu di teras rumahnya melihat sosok putrinya yang sudah pergi.

Na, na, na, ya, Asmara berkendara sembari bersenandung ria. Tanpa sadar ia sudah berada di tikungan seratus meter dari arah sekolahan tempat ia belajar dan membina ilmu.

Secara mengejutkan ada satu motor sport yang datang searah dengan Asmara. Hendak menuju ke arah sekolah menengah kejuruan Darmawan.

Motor sport tersebut datang dari sisi gang satunya sebelah kiri. Sedang Asmara dengan motor matiknya datang dari arah gang sebelah kanan. Mereka berdua hendak masuk ke gang di depan mereka. Menuju arah yang sama dan senggolan tak terhindarkan.

Sreet, brak,

“He, wah ruwet ini, punya mata enggak kamu. Kalau tidak bisa naik motor jangan naik motor!” oceh Asmara sambil mendirikan motornya kembali dengan susah payah.

“Maaf, maaf Mbak, aku tidak sengaja dan aku terburu-buru,” ucap seorang lelaki yang tadi mengendarai motor sport dan ternyata itu adalah Arjuna.

“Kalau terburu-buru berangkat agak pagi dong. Bukannya berangkat siang, semua orang memang terburu-buru kalau pagi begini. Bukan hanya Anda saja yang terburu-buru di sini!” Asmara terus marah-marah tak karuan.

“He Nona yang cantik, sebenarnya di sini Anda yang salah. Nona terlalu ke tengah kalau berkendara jadi saya bingung mau mengambil sisi yang mana untuk menyalip Anda,” timpal Arjuna seraya melepas helm teropong yang ia kenakan.

Dalam hati Asmara sejenak berkata dan matanya agak tertegun. Saat ia melihat lelaki yang ada di depannya menurutnya teramat tampan. Tapi buru-buru ia kaburkan anggapan tersebut. Sebab ia harusnya sedang marah-marah.

“Eh main menyalahkan orang saja ya. Mas saja yang enggak bisa naik motor atau memang tidak lulus ujian surat ijin mengemudi ya. Oh ia membuat surat ijin mengemudi dengan cara curang ya. Coba biar aku periksa kartu identitas penduduk Anda,” omel Asmara dengan berani merogoh saku jaket yang dikenakan oleh Arjuna. Ternyata saat ia merogoh kantong jaket Arjuna dengan sekali ambil dompet Arjuna telah ia pegang.

“He kok Anda lancang sekali Nona,” ucap Arjuna namun segera dihentikan oleh Asmara perkataannya dengan kode telunjuk ditempelkan di bibir Arjuna. Seketika Arjuna terdiam seribu bahasa yang tak mengira akan bertemu Asmara dengan kondisi seperti ini.

“Oke kartu tanda penduduk Mas saya sita. Kalau mau ambil temui saya di sekolah menengah kejuruan Darmawan. Saya bersekolah di sana di kelas dua A jurusan Administrasi. Sampai jumpa di sana dan maaf aku tak ada waktu melayani Anda. Sebab nanti aku bisa telat pergi ke sekolah, Assalamualaikum. Oh ia kalau mencari saya tanya saja nama Asmara yang cantik jelita cetar membahana,” oceh Asmara lantas kembali pergi.

Arjuna hanya melongo menatap keberanian Asmara. Arjuna tidak menyangka bahwa Asmara yang dijodohkan oleh Ayahnya. Adalah seorang gadis yang sungguh pemberani dan tomboi. Bahkan cenderung ia gadis yang sungguh sangat aktif.

“Asmara, Asmara, Asmara, Astagfirullah Hal Adzim. Aku baru ingat ya Asmara, hai Nona Asmara!” teriak Arjuna menatap kepergian Asmara yang sempat mengejeknya sambil menjulurkan lidah beberapa kali.

“Ayah, Ayah, sebenarnya apa maumu menjodohkanku dengan gadis seperti dia. Apa satu rahasia yang hendak kau ajarkan padaku? Tentang Asmara ini. Apa tidak ada gadis lain selain Asmara ini. Bukankah banyak gadis-gadis lain di kota ini yang lebih seperti gadis. Mungkin As wajik atau As keriting, hahaha, sudahlah baiknya aku lekas ke sekolahan,” gerutu Arjuna.

Akhirnya Arjuna dan Asmara bertemu untuk pertama kalinya. Tanpa Arjuna sadari bahwa sesungguhnya mereka pernah bertemu sekali di masa kecil mereka.

Sebuah takdir kini sudah terbuka untuk dimulai dengan sebuah peran cantik antara guru dan muridnya. Dalam sebuah tragedi kecil di simpang tiga seratus meter dari sekolah menengah kejuruan Darmawan Jaya. Kisah cinta Asmara dan Arjuna akan di awali jua.

***

“Eh, sebentar, sebentar Pak Satpam jangan ditutup dahulu gerbangnya. Aku mau masuk kan kurang lima menit ini,” teriak Asmara melaju agak kencang ke arah gerbang sekolah.

“Astagfirullah Neng pelan-pelan,” ucap Pak Satpam urung menutup gerbang dan kembali mendorongnya ke sisi berlawanan untuk jalan Asmara masuk.

“Pagi Pak Satpam, hia, hay cakep deh pagi ini, hehe, terima kasih ya Pak,” ucap Asmara setelah memarkir motornya di samping pos satpam. Memang tempat parkir motor roda dua ada di sana.

“Halah Neng, Neng Asmara mengejek Bapak ini. Wong Bapak sudah tua peyot begini dibilang cakep. Sudah sana masuk kelas, nanti telat lagi,” ucap Pak Satpam yang memang selalu baik pada setiap siswi.

“Ok sampai jumpa kembali Pak Satpam yang ganteng tapi sudah tua, hehe,” ucap Asmara masih terus menggoda Pak Satpam yang hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar celoteh Asmara setiap paginya.

Sampai di dalam kelas Asmara langsung duduk di bangkunya. Mengeluarkan dua bungkus roti dari dalam tasnya. Sebab ia tadi pagi belum jua sarapan. Namun ia selalu mengambil dua bungkus roti yang ada di sebelah tempat nasi milik Ayahnya.

“Dewi kau mau roti?” ucap Asmara mengulurkan satu bungkus roti pada Dewi teman sebangkunya.

“Oh ya terima kasih Mara, eh ia apa kau tidak tahu gosip terbaru kali ini di sekolah kita?” tanya Dewi sambil membuka sebungkus roti pemberian Asmara.

“Apa itu Wi, jadi penasaran, apa ada guru baru yang ganteng yang bisa memukau mataku ini? Hahaha. Kau tahu kan seleraku masalah cowok sangat tinggi standarnya. Cowok-cowok di sekolah ini mana ada yang masuk kriteriaku. Mereka seakan bertulang lunak semua Wi,” ucap Asmara tanpa memedulikan Dewi dan sibuk sendiri dengan buku-buku pelajaran untuk pagi ini.

“Eh bukan lagi Mara, kabarnya Pak Arjuna ini sangat tampan ala-ala artis Korea begitu. Bahkan kabar yang beredar beliau ini seorang keturunan miliarder terkenal di kota kita ini. Tapi ini aku sangsi juga sih, apa ada cowok seperfek itu di dunia sekarang yang serba alai ini,” tutur Dewi.

“Assalamualaikum anak-anak maaf Bapak telat datang. Tadi di jalan ada insiden kecil, semoga kalian memaklumi. Oh ia perkenalkan nama saya Arjuna. Panggil Bapak, Mas atau sesuka kalian saja biar agak akrab. Saya guru baru menggantikan guru bahasa Indonesia sebelumnya yang dipindah ke kampung halamannya,” tutur Arjuna memperkenalkan diri yang baru saja memasuki kelas.

Seketika kelas yang sedari tadi teramat gaduh terdiam sejenak. Para siswa yang rata-rata cewek seakan terpukau dengan wajah tampannya Arjuna.

“Memang seperti artis Korea ya Mara, itu Mara lihat dulu Pak Arjuna ganteng dan imut banget kan. Mara kamu mah lihat sebentar itu,” ucap Dewi menggoyang-goyang tubuh Asmara yang asyik dengan sisa rotinya. Tanpa ia sadari dan jua tanpa disadari oleh Dewi. Arjuna sudah berdiri di samping mereka duduk.

“Ada yang bisa dibantu kelihatannya kalian berdua tengah heboh sendiri saat saya memperkenalkan diri. Apa ada yang salah dengan penampilan saya?” tanya Arjuna sambil tersenyum kecil namun menambah kesan wajahnya yang semakin memesona para siswi di kelas yang ia ajar pagi ini.

“Duh gantengnya Pak Arjuna, eh enggak Pak,” ucap Dewi.

“Kamu!” tiba-tiba berbarenganlah Arjuna dan Asmara berucap keras dan tak mengira mereka akan bertemu kembali.

“Loh, loh kalian sudah saling mengenal ya?” ucap Dewi yang tiba-tiba ikut kaget.

“Wah ruwet ini memang hari yang ruwet. Dewi titip tasku ya aku mau ke kantin dahulu. Jadi malas aku ikut kelas bahasa Indonesia kali ini!” hendak beranjak dari bangkunya. Namun diurungkannya sebab Arjuna telah menatapnya dengan wajah begitu dekat dengan wajahnya.

Sehingga membuat Asmara seketika kikuk terdiam dan kembali duduk manis. Jantungnya mulai berdegup kencang jua dan tak dipungkiri lagi. Secara otomatis naluri ceweknya mulai berjalan saat saling pandang begitu dekat dengan Arjuna.

“Asmara jangan ke mana-mana, asal kau tahu saja. Aku datang ke mari sebenarnya khusus untuk mencarimu,” bisik kecil Arjuna yang semakin membuat Dewi menjadi kebingungan dengan apa yang disampaikan Arjuna.

Bab 3

“Ah sudah di sekolah ketemu guru baru yang menyebalkan. Pulang di tengah jalan ban motorku meletus pula. Apes benar hidupku ini Ya Allah. Ingin rasanya aku ubel-ubel itu rambut Pak Arjuna yang sok ganteng sok kecakepan,” gerutu Asmara terus ngedumel tak karuan sambil menuntun motornya di tepi jalan.

Sedangkan jalanan tengah lalu-lalang beberapa pengendara dan pengguna jalan yang lain. Rupanya hari sudah teramat sore bisa dibilang sudah hampir magrib. Tentu arus kendaraan di sepanjang jalan menuju ke rumah Asmara teramat padat.

Sebab pemukiman sepanjang dari sekolahan hingga rumahnya. Termasuk dalam jalur alternatif menuju ke area ring utama pergudangan dan pabrik di ujung gang paling depan setelah area sekolahan.

“Ah kenapa malah terbayang wajah Pak Arjuna yang menyebalkan itu. Kenapa juga denganku ini, tapi benar juga kata Dewi tampan sih tapi resek. Eh, kenapa ada sedikit rasa simpati ini padanya. Tidak-tidak boleh, aku tidak boleh begitu saja terpengaruh dengan tipu-tipu dan topeng wajahnya itu,” Asmara terus mengomel sendiri di jalanan yang ramai.

“Memang aku cakep, memang aku ganteng mau apa kalai aku terlahir begini. Memangnya aku memintanya untuk diberi wajah seperti ini,” ucap Arjuna yang tiba-tiba sudah ada di samping Asmara dengan mengendarai motor sportnya perlahan. Seakan Arjuna hendak menemani Asmara yang sedang menuntun motor matiknya.

“Allahuakbar, kenapa seakan kamu ada dimanah-mana sih Pak Arjuna yang terhormat. Apa, mau mengejek saya ya menyebalkan sekali ih jadi cowok. Bantu kek, cari bantuan atau apa begitu. Enggak peka sekali jadi cowok kamu tuh,” oceh Asmara malah bertambah menyun uring-uringan.

“Mau aku bantu, minta maaf dahulu yang tadi pagi. Wong kamu yang salah kok, malah aku yang dimarahi,” jawab Arjuna memberi sarat untuk sebuah pertolongannya.

“Aah malasnya biar aku capek, keringatan menuntun motor sampai rumah biar saja. Asal aku tidak meminta maaf padamu, lah wong kamu yang salah!” balas Asmara dengan judes akan permintaan Arjuna dan kembali menuntun motornya. Setelah beberapa saat berhenti seraya mengomel pada Arjuna.

“Oh ok, selamat menuntun motor kesayanganmu itu ya Nona. Ngomong-ngomong sebentar lagi magrib ini Nona. Tahu sendiri kalau magrib bukan, anak gadis pamali berada di luar rumah nanti sawan loh. Sudah ya aku pergi Assalamualaikum,” ucap Arjuna melajukan motornya agak kencang sedikit. Namun tidak terlalu cepat masih ditahap standar. Mencoba menggoda Asmara barang kali ia memanggil kembali.

Sebab baru saja ia menakut-nakuti Asmara dengan istilah pamali waktu magrib. Kemarin Pak Banu sempat memberi tahu Arjuna tentang kelemahan Asmara. Kalau dia begitu takut mendengar cerita tentang gaib ataupun tentang hantu dan setan.

Sudah agak lama Arjuna memacu sedikit jauh meninggalkan Asmara. Walau tetap dilaju tiga puluh kilo meter per jam. Tapi hati Arjuna nyatanya tidaklah tenang dan timbul khawatir diperasanya.

Sejenak Arjuna berhenti lalu menoleh ke belakang mengecek dimanah tadi Asmara menuntun motornya. Betapa Arjuna sangat kaget ketika mendapati Asmara tergeletak di tepian trotoar.

Benar juga ternyata Asmara sangat fobia dengan cerita seram. Sehingga ia tak dapat menguasai kesadarannya lalu pingsan dengan tertimpa motornya.

“Allahuakbar Asmara kok bisa sampai begitu takutnya kamu dengan cerita-cerita yang menjurus ke arah perhantuan. Gawat ini mana tertimpa motornya lagi dia, astaga maaf ya,” ucap Arjuna begitu panik. Langsung berhenti dan menurunkan standar samping motor sportnya.

Lalu berlari menuju ke arah Asmara yang tengah pingsan. Sesaat Arjuna mendirikan motor matik Asmara sambil meraih ponsel di saku jaketnya.

“Halo Mas Rano tolong bawa armada pengangkut untuk dua motor dan bawakan saya satu mobil ya Mas. Cepat tidak pakai lama saya tunggu dan ini saya share log lokasinya. Cepat loh ya jangan pakai lama, kasihan ini calon Nyonya kalian kecapian pingsan di jalan,” ucap Arjuna pada salah satu pekerja kepercayaannya.

“Baik Tuan Muda Arjuna segera menuju lokasi. Mohon tunggu ya Tuan Muda jangan ke mana-mana saya akan ke sana dengan cepat,” jawab Rano lekas menutup ponselnya.

Tak beberapa lama sekitar lima belas menit berselang. Satu mobil pikap besar yang biasa digunakan untuk mengangkut mobil mewah. Telah datang dan berhenti di samping Arjuna yang tengah memangku Asmara yang masih pingsan.

Ada satu mobil mewah yang baru datang jua setelah mobil pikap. Kini berhenti pas di belakang mobil pikap. Satu orang tua sebaya usia empat puluh lima tahun. Tiba-tiba turun dari dalam mobil mewah berplat mobil khusus ciri khas keluarga Darmawan.

“Tuan Muda apa kau tidak apa-apa? Apakah ini Nyonya yang Anda bicarakan beberapa malam yang lalu. Kenapa beliau sampai bisa pingsan seperti ini?” ucap Pak Rano berjongkok di depan Arjuna.

“Sudah jangan banyak tanya bantu aku membuka pintu mobil. Jangan lupa bawa motorku dan motor Nyonya. Satu lagi tolong hubungi Pak Banu, katakan pada beliau tidak usah khawatir Asmara bersama saya,” perintah Arjuna bagaikan satu titah Raja bagi Pak Rano.

“Baik Tuan Muda Arjuna,” jawaban singkat yang selalu terucap di bibir tua Sang asisten pribadi dan sekaligus sudah seperti Ayah sendiri sebenarnya oleh Arjuna. Sebab Pak Rano bekerja dengan keluarga Darmawan semenjak Arjuna masih bayi.

Lekas Pak Rano bergegas memberi komando pada beberapa orang di bawahnya. Agar segera mengangkut motor Arjuna dan motor Asmara ke dalam mobil pikap.

Tak lupa ia membantu Arjuna membuka pintu mobil mewah. Agar Arjuna dapat memasukkan Asmara di jok samping pengemudi yang sudah dibuat rendah untuk merebah.

Bruk, suara pintu mobil tertutup agak pelan. Setelah semuanya terangkut, Pak Rano memberi komando agar mobil pikap lekas pergi menuju kediaman keluarga Darmawan.

“Pak Rano terima kasih atas bantuannya. Oh ia Pak Rano lekas hubungi Pak Banu ya. Jangan sampai beliau khawatir akan keadaan Nyonya. Pak Rano lekas temui saya di ruang makan keluarga. Saya ingin merundingkan sesuatu dengan Pak Rano malam ini. Satu lagi panggil Dokter Han ke rumah untuk memeriksa Nyonya. Baik saya pergi dahulu hati-hati Pak Rano,” ucap Arjuna lekas melajukan mobil mewahnya.

Pak Rano sesaat terlihat masih berdiri memandangi kepergian Arjuna dengan mengendarai mobil mewahnya. Sampai ada tiga motor petugas keamanan setempat yang selalu membantu keluarga Darmawan mengamankan laju lalu lintas. Saat ke mana saja anggota keluarga Darmawan bepergian.

“Mari Pak Rano?” ucap Pak Kapolsek Miko mengulurkan helm pada Pak Rano. Sehingga Pak Rano lekas naik dibonceng oleh Pak Kapolsek untuk segera mengawal laju mobil mewah Rano.

Tanpa mereka sadari agak di kejauhan. Ada salah seorang teman dari Asmara yang tengah mengawasi. Bahkan dia sempat merekam secara jelas bagaimana berlangsungnya jalur evakuasi keluarga Darmawan.

“Asyik pasti besok jadi gosip terhangat ini. Ternyata Pak Arjuna itu anak dari konglomerat Darmawan. Seorang yang kaya raya di kota ini, bisa jadi topik terinding nomor satu minggu ini. Sebab Asmara tengah dibawa oleh mereka. Jangan-jangan Asmara diculik lagi, atau Asmara telah menjual dirinya,” ucap seseorang di tepi jalan seberangnya lagi yang rupanya salah satu teman sekelas dari Asmara.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED