“Citta!”
Mendapati namanya dipanggil, Citta pun menghentikan langkahnya yang sedikit tergesa menuju pintu utama. Ia pun berbalik ke arah sumber suara. Terlihat ayahnya, Cahyo Buwana, sedang duduk di meja makan menikmati sarapan.
“Kamu tidak sarapan?” Cahyo bertanya sambil memegang telinga cangkir yang berisi kopi pahit. Sambil menyeruput cairan hitam pekat yang masih agak mengepul, mata Cahyo tidak lepas dari memandang putrinya.
“Maaf, ya Ayah. Citta sudah terlambat. Ada kuis di jam pertama.” Citta bergerak menuju meja makan, mendekati Cahyo. Setelah mendaratkan ciuman di pipi kanan dan kiri Cahyo, Citta menyendok nasi goreng yang masih tersisa separuh.
“Ayah antar ke kampus.” Cahyo menggeser kursi yang didudukinya kemudian beranjak.
“Eh… Jangan, Yah. Ayah kan masih sarapan.” Citta berusaha menahan ayahnya agar tidak melangkah meninggalkan meja makan.
“Ayah sudah kenyang. Kamu mau menghabiskan nasi goreng Ayah?” Cahyo kembali bertanya sambil melirik ke arah piring.
“Tentu mau dong, Yah. Aku ambil kotak makan dulu ya agar bisa dimakan di mobil.”
“Iya, Ayah akan memanaskan mobil dulu.”
Kali ini Cahyo yang melangkah menjauhi meja makan.
“Ayah.” Panggil Citta cepat. Cahyo menoleh untuk melihat putrinya yang tengah memegang kotak makan plastik berwarna hijau.
“Kopinya mau dibawa juga?” Tanya Citta sambil menggerakkan gelas plastik dengan penutup anti tumpah.
“Boleh.” Jawab Cahyo sambil tersenyum. Ia pun kembali melanjutkan langkahnya, bergegas menuju garasi.
*
“Makan siang Ayah nanti bagaimana?” Citta bertanya dengan mulut penuh nasi goreng. Bukannya menjawab, Cahyo justru mengacak rambut putrinya. Ia merasa gemas dengan tingkah Citta yang masih seperti anak-anak, bicara dengan mulut penuh makanan.
"Kamu itu. Sebelum bicara, telan dulu makanannya. Kalau tersedak bagaimana?"
Ujar Cahyo sambil sesekali melihat ke arah putrinya.
"Kalau tersedak ya tinggal mengangkat lengan seperti ini, Yah." Jawab Citta sambil meletakkan kotak makan di atas pangkuannya lalu mengangkat kedua lengannya ke atas.
"Kamu itu, jawab terus kalau diberi tahu."
"Lho, Ayah tadi memberi tahu? Citta kira Ayah bertanya." Goda Citta sambil tersenyum lebar. Cahyo tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya.
"Tuh, kan Ayah belum jawab pertanyaanku? Makan siang Ayah bagaimana? Maaf Citta tidak sempat masak tadi." Citta menatap ayahnya penuh rasa bersalah. Selain karena tidak sempat memasak makanan untuk sarapan juga bekal, ia merasa bersalah telah membuat ayahnya membuat sendiri sarapannya tadi.
"Nanti siang Om Johan, sahabat Ayah, mengajak makan siang sekaligus membahas proyek baru kami."
"Om Johan siapa,Yah?"
"Johan Rustenburg."
Pandangan Citta menerawang. Otaknya berusaha mengingat nama juga sosok yang baru saja disebutkan ayahnya.
"Oh…." Refleks Citta menutup mulut yang terbuka dengan ujung jemarinya.
"Kenapa, Sayang?" Tanya Cahyo dengan nada khawatir.
"Tidak ada apa-apa, Yah. Citta hanya sedang berusaha mengingat sahabat Ayah itu, Johan Rustenburg."
"Memangnya kenapa? Kamu terlihat sangat penasaran." Pancing Cahyo yang dijawab anggukan cepat oleh Citta.
"Tetiba Citta teringat William Rustenburg, Yah. Apakah William Rustenburg masih ada hubungan keluarga dengan Om Johan? Nama belakang mereka sama-sama Rustenburg." Citta sibuk membuat analisis. Mencoba mengaitkan dua nama yang diyakininya mempunyai hubungan kekerabatan.
Cahyo terlihat sangat tertarik ketika mendengar putrinya menyebut nama William Rustenburg, putra semata wayang sahabatnya. Ingin rasanyanya Cahyo bertanya lebih jauh tentang William pada Citta. Sayangnya, perjalanan mereka telah sampai ke tujuan, yakni kampus Citta.
"Sudah sampai. Terima kasih, Yah." Citta melepas sabuk pengaman kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Cahyo. Bersiap mendapat pelukan, kecupan di pipi, dan sedikit gerakan mengacak rambut yang tampaknya sangat disukai ayahnya.
"Terima kasih untuk tumpangannya, Ayahku sayang. Hati-hati ketika menyetir ya." Kalimat Citta membuat Cahyo segera mengurai pelukannya.
"Terima kasih, Sayang." Balas Cahyo sambil tersenyum. Sebelum tangan Citta menekan tuas pintu mobil agar terbuka, Cahyo melontarkan satu pertanyaan. Cahyo berharap jawaban Citta akan memuaskan rasa penasarannya.
"Citta, ada yang ingin Ayah tanyakan."
"Apa, Yah?"
"Kamu mengenal William Rustenburg?"
Citta tidak langsung menjawab. Sepasang matanya melirik ke arah kiri atas, mencoba mengingat sesuatu.
"Mengenal secara langsung tentu tidak, Yah tapi tampaknya semua media begitu menggilainya. Hampir setiap saat wajahnya muncul di televisi, Yah. Dari acara serius sampai yang tidak serius."
"Apa maksudmu dengan acara tidak serius?" Kejar Cahyo yang tampak tidak puas dengan jawaban putrinya.
"Acara gosip, Yah. Sudah ah, Yah. Citta sudah terlambat." Citta membuka pintu mobil dan bergegas keluar. Ingin rasanya Citta berlari menuju ruang kelas. Ia tidak ingin terlambat hadir sehingga tidak bisa mengikuti kuis. Citta pun terpaksa melewatkan momen menunggu ayahnya pergi menjauh dengan mobilnya. Ia benar-benar terlambat masuk kelas.
*
“Halo.”
“Cahyo, jangan lupa nanti siang.”
Cahyo terkekeh mendengar suara sahabatnya di ujung lain telepon.
“Seharusnya aku yang bicara seperti itu, Johan.” Nada menyidir Cahyo kini membuat lawan bicaranya di telepon terbahak.
“Aku baru saja berniat mengingatkanmu.” Sambung Cahyo lagi.
“Kali ini aku tidak akan lupa, Cahyo. Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu.” Johan memberi garansi sahabatnya bahwa ia bukan lagi seorang pelupa.
“Hmm… Aku juga ingin membicarakan sesuatu denganmu, Johan. Baiklah, kita bertemu di tempat biasa saja bagaimana?”
“Ya, aku akan datang.”
Cahyo mematikan panggilan telepon setelah mendengar jawaban Johan. Ia kemudian kembali menekuni berkas-berkas yang nanti akan dibahasnya bersama Johan. Ketika sedang fokus bekerja, sepasang mata Cahyo tetiba melihat pada pigura yang terpajang di atas meja kerjanya. Foto Citta bersama dirinya ketika mereka sedang liburan ke Yogyakarta. Tangan Cahyo tergerak untuk meraih pigura itu. Sambil mengarahkan pandangannya pada foto putrinya, Cahyo menggumamkan sesuatu. Sebuah janji yang dipenuhi tekad dikatakan Cahyo dengan suara lirih.
“Kali ini pun, Ayah akan mengusahakan yang terbaik untukmu Sayang.”
Cahyo mengakhiri kalimatnya dengan senyum tipis yang menyiratkan rasa optimis.
*
“Ratih, aku dapat undangan ini. Kamu dapat juga?” Citta mengangsurkan selembar kertas yang ditekuk menjadi tiga bagian. Bagian terluar dari lipatan kertas itu menunjukkan lambang universitas serta nama fakultas.
“Surat apa ini? Masih musim ya, menyurati mahasiswa dengan kertas seperti ini. Biasanya tinggal mengirim berkas ke aplikasi pesan.” Ratih, sahabat Citta, membuka lipatan kertas itu kemudian membacanya.
“Gila, kamu terpilih untuk mengikuti program fast track, Citta. Hebat.” Ratih menepuk pundak sahabatnya. Ia tidak pernah menyangsikan apa pun bila berkaitan dengan kemampuan otak sahabatnya.
“Ya, aku pernah mendengar program itu tapi kok sepertinya aku tidak sanggup ya?” Citta tampak mengukur kemampuannya sendiri.
“Kamu pasti mampu, Citta. By the way, acara sosialisasinya nanti siang lho. Untung kita tidak ada kelas.” Ratih mengingatkan Citta setelah membaca ulang tanggal dan waktu yang tertera di undangan.
“Temani aku ya, Ratih.”
“Lha, aku kan tidak diundang. Aku tidak mau diusir dan menjadi pusat perhatian.” Ratih menolak ajakan Citta.
“Aku di ruang baca saja. Nanti kalau kamu sudah selesai, kabari aku ya. Kita bertemu di hall.” Ratih memberi ide yang mau tidak mau terpaksa disetujui Citta.
*
“Maaf sudah membuatmu menunggu, Cahyo.” Johan menyalami Cahyo kemudian memeluk sahabatnya. Cahyo tertawa mendengar permintaan maaf Johan yang sudah sering didengarnya.
“Aku maklum, Tuan Rustenburg. Mengelola perusahan multinasional pasti lebih menyita waktu. Aku justru sangat berterima kasih karena Tuan Rustenburg bisa datang ke sini." Cahyo berkata dengan mimik wajah serius, tapi bibirnya terlihat menahan tawa yang hampir meledak.
“Kamu selalu menyindirku dengan memanggilku tidak dengan nama kecilku.” Johan memperlihatkan ekspresi kesal yang membuat Cahyo semakin tertawa.
“Aku tidak menyindir. Bukankah itu fakta? Mengurus perusahaan besar sangat melelahkan. Aku saja mengurus perusahaan kecil juga sering kelelahan. Terlebih akhir-akhir ini aku merasa kesehatanku menurun. Aku jadi mudah lelah dan sering tidak fokus dalam bekerja. Terkadang, dada sebelah kiriku juga nyeri.”
Johan menatap sahabatnya khawatir.
“Kau sudah menemui dokter?”
“Belum. Aku masih bingung mengatur waktu. Jika menemui dokter pribadiku, Citta pasti akan cemas. Kau tahu kan Dokter Budi membuka praktik pribadinya malam hari.”
“Undang saja Dokter Budi ke rumah.” Johan memberi saran. Cahyo cepat menggeleng, tidak sependapat dengan saran sahabatnya.
“Kau ingin Citta semakin panik?”
“Kalau begitu undanglah Dokter Budi ke kantormu, Cahyo.”
“Tidak bisa, Johan. Dokter Budi berpraktik di rumah sakit milik pemerintah. Ia tidak mungkin meninggalkan rumah sakit di jam kerja. Kau seperti tidak tahu dedikasinya saja.” Lagi-lagi Cahyo melayangkan sindiran untuk sahabatnya. Mendengar kalimat sahabatnya, Johan terkekeh. Dalam hati ia menertawakan dirinya sendiri yang telah banyak melupakan hal-hal yang seharusnya tidak ia lupakan.
“Kalau begitu datanglah ke rumah. Aku akan mengundang Dokter Andrew untukmu.” Kalimat Johan terdengar seperti perintah yang harus dipatuhi. Kali ini ganti Cahyo yang terkekeh mendengar perkataan sahabatnya.
“Terima kasih untuk tawaran terbaikmu, Johan. Sayangnya aku tidak mampu membayar jasa Dokter Andrew. Dokter ekspatriat seperti Andrew tentunya memasang tarif yang luar biasa. Tarif yang hanya mampu dibayar oleh orang-orang seperti dirimu, sesama ekspatriat.”
Johan mendengus kesal mendengar penolakan sahabatnya. Cahyo sahabatnya tidak pernah berubah, selalu merendah.
“Andrew masih keluargaku, Cahyo. Ia juga menyandang nama Rustenburg di belakang namanya.”
Cahyo terdiam. Ia tampak menimbang tawaran Johan. Kesehatan yang akhir-akhir ini dikhawatirkannya benar-benar menyiksa dirinya. Cahyo tidak mau dirinya jatuh sakit hingga kemudian menyusahkan Citta.
“Baiklah, aku akan ke rumahmu untuk bertemu Dokter Andrew.” Cahyo menyanggupi permintaan Johan dengan suara lirih. Mendengar kesediaan sahabatnya, Johan segera meraih ponselnya yang tergeletak di sisi kirinya. Dengan cepat Johan menghubungi Andrew, membuat janji temu untuk malam ini.
“Fix, Andrew akan memeriksamu malam ini. Sekarang hubungilah Citta. Katakan padanya kau terlambat pulang.”
Cahyo mengikuti apa yang dikatakan Johan dengan gerakan perlahan. Ia mengetikkan pesan untuk Citta dengan hati tidak nyaman.
Citta Sayang, malam ini Ayah terlambat pulang karena harus membicarakan proyek dengan Om Johan.
Tanpa diduga Cahyo, putrinya membalas pesannya dalam hitungan detik.
Di mana, Yah? Apa Ayah sekaligus makan malam dengan Om Johan?
Cahyo terlihat ragu-ragu ketika hendak membalas pesan Citta. Johan yang melihat temannya tidak bersemangat kemudian meraih ponsel Cahyo. Senyum Johan terkembang demi membaca pesan yang dikirim Citta pada ayahnya.
“Putrimu manis sekali. Ia begitu perhatian padamu.” Johan memuji Citta sambil menarikan jemarinya pada deretan huruf yang mengambang di layar.
Kami membicarakan proyek di rumah Om Johan. Alamatnya di Jalan Mawar nomor 1.
Cahyo melihat balasan yang dikirim Johan. Seketika matanya terbelalak melihat jawaban Johan.
“Kenapa kau memberi tahu alamatmu? Bisa-bisa Citta menyusulku dan rahasiaku terbongkar.”
“Tenanglah, Cahyo. Aku pastikan Citta tidak mengetahui apa pun, meskipun ia datang untuk menjemputmu nanti.”
*
“Ternyata keputusan fast track itu dibuat oleh ketua program studi, Tih. Dan aku terpilih. Bye bye hidup santai.” Citta tertunduk lesu sambil menceritakan semua informasi yang diperolehnya dari acara sosialisasi program fast track.
“Maksudnya bagaimana? Kamu menulis skripsi dan tesis bersamaan?”
“Bukan begitu. Intinya aku menjalani 3 tahun kuliah di S1 kemudian lanjut kuliah S2 selama dua tahun. Secara keseluruhan aku menghabiskan lima tahun kuliah kemudian mendapat dua gelar. Tadi juga ditawarkan program double degree, tapi aku menolak.”
“Seharusnya kamu tidak menolaknya, Citta. Itu artinya kamu akan memiliki gelar tambahan yang diberikan oleh universitas partner, kan?”
“Iya, sih tapi kan tidak mudah juga menjalaninya, Tih. Aku harus pergi ke luar negeri selama satu tahun. Aku tidak bisa meninggalkan ayah sendirian di sini.” Citta menatap sahabatnya dengan pandangan sayu. Ratih yang ditatap seperti itu, iba juga. Ratih melihat cita-cita yang besar dalam diri Citta, tapi gadis itu tidak bisa meninggalkan ayahnya seorang diri di rumah mengingat selama ini mereka hanya hidup berdua.
“Aku akan mengambil program fast track itu.”
Ratih mendengar nada penuh kesungguhan dan tekad pada suara Citta.
“Iya, aku mendukungmu penuh. Ayo, kita ke kantin. Aku sudah sangat lapar.” Ratih mengelus perutnya dengan gerakan memutar. Citta terkekeh melihat tingkah sahabatnya.
“Seharusnya kamu tadi tidak ke ruang baca, tapi ke kantin.”
“Tapi, aku tidak percaya diri bila ke kantin sendirian.” Ratih memberi alasan yang terdengar konyol.
“Baiklah. Ayo, kalau kita tidak segera aku khawatir tidak ada tempat lagi di kantin.”
Citta dan Ratih berjalan dengan setengah berlari menuju kantin. Lima menit lagi jam makan siang tiba. Dan itu artinya, kantin akan penuh sesak.
*
"Tolong antarkan aku, ya Tih." Citta memandang penuh harap pada sahabatnya yang sedang mengeluarkan kunci mobil dari dalam tas.
"Ke mana?"
"Jalan Mawar."
Sepasang mata Ratih membelalak kaget. Jalan Mawar merupakan lokasi perumahan elite yang paling terkenal di kota ini.
"Mau apa ke Jalan Mawar?" Tanya Ratih penasaran. Citta tidak segera menjawab. Ia lebih memilih menghela napas dalam-dalam kemudian menatap sahabatnya.
"Kok diam?"
"Ayah ada di sana. Di rumah temannya."
"Teman ayahmu itu laki-laki atau perempuan?" Ratih bertanya dengan hati-hati setelah melihat air muka Citta yang berubah sendu.
"Laki-laki. Johan Rustenburg, ayah dari William Rustenburg."
"Wow. Keren sekali teman ayahmu, Citta. Aku akan mengantarmu, tapi aku ikut masuk ya?"
Citta menatap sahabatnya penuh selidik.
"Untuk apa?"
"Ya, aku ingin tahu saja seperti apa isi rumah keluarga Rustenburg. Dan…. Siapa tahu aku beruntung bisa bertemu William." Ratih menangkupkan kedua tangannya di pipi. Kelopak matanya berkedip lebih cepat dari biasanya. Ratih terlihat asyik membayangkan sosok William Rustenburg yang digilai para wanita.
Citta mendengus mendengar jawaban sahabatnya. Ia justru tidak ingin bertemu William Rustenburg ketika menjemput ayahnya. Membayangkan dirinya yang pasti gugup serta salah tingkah ketika bertemu William membuat Citta bergidik. Namun, ia khawatir jika mengajak Ratih, sahabatnya itu akan bertingkah yang tidak-tidak.
"Em, memang kau bisa mengantarku?"
"Pukul berapa?"
Citta melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Ia mencoba memperkirakan waktu yang tepat untuk menjemput ayahnya.
"Sekitar pukul sembilan belas."
"Yah, aku harus mengantar mama belanja do jam itu. Kenapa tidak sekarang saja sih, Citta?
"Kalau sekarang, Ayahku masih bekerja Ratih. Om Johan juga pasti masih sibuk di kantornya. Pastinya Ayahku berkunjung setelah jam kantor berakhir."
"Yah, natal deh impianku melihat langsung wajah rupawan William."
Citta meringis mendengar apa yang dikatakan sahabatnya.
"Maaf, ya Sahabatku yang baik."
"Iya, tidak apa-apa Citta. Aku akan melampiaskan kekecewaanku dengan belanja bersama mama. By the way, kau akan naik apa ke sana?
"Naik taksi online."
"Oh, ok. Hati-hati ya, Citta."
"Iya, terima kasih Ratih. Eh, kamu mau ke mana? Kan kita masih ada satu kelas lagi." Citta menahan Ratih dengan menarik lengan baju sahabatnya.
"Aku mau pulang, ah. Capek. Lagipula dosennya membosankan."
"Eh, kamu bolos lagi? Pokoknya aku tidak mau mengisikan daftar hadirmu, ya." Citta sengaja mengancam agar Ratih mengurungkan niatnya.
"Ya sudah, aku ambil jatah bolos saja." Jawab Ratih santai sambil melenggang menuju area parkir.
Tanpa berkata-kata lagi, Citta dan Ratih memutuskan untuk berpisah arah. Tentu saja Citta tidak akan mengikuti langkah Ratih sahabatnya, membolos kuliah.
***
“Cahyo, supirku akan menjemputmu.”
Suara Johan yang terdengar seperti memerintah kembali menyapa telinga Cahyo, tepat setelah lelaki berusia lima puluhan tahun itu menggeser ikon gagang telepon warna hijau pada layar ponselnya.
“Ayolah, Johan. Aku tidak selemah itu. Aku akan menyetir sendiri ke rumahmu. Apa kamu sudah berada di rumah sekarang?” Terdengar helaan napas Cahyo yang berat setelah mengakhiri kalimatnya.
“Tiga puluh menit lagi aku akan sampai di rumah. Kalau demikian, kamu berangkatlah sekarang sebelum lalu lintas menjadi semakin macet.” Johan kembali memberi instruksi. Setelah menjawab Johan dengan beberapa kata iya, Cahyo mengakhiri panggilan. Detik berikutnya, Cahyo terlihat mengemasi berkas-berkas yang berserakan di atas meja kerjanya. Ketika pekerjaan merapikan mejanya hampir selesai, Cahyo merasakan dada kirinya kembali nyeri. Perlahan, Cahyo menarik kursinya kemudian duduk. Dengan susah payah diaturnya napas yang sedikit tersengal.
Kumohon jangan sekarang, Tuhan.
Cahyo memegangi dada kirinya sambil mulutnya tak henti memanjatkan doa. Setelah beberapa menit berjuang, Cahyo mulai merasakan napasnya kembali teratur. Nyeri di dadanya juga telah menghilang. Tak ingin berlama-lama di kantor, Cahyo segera beranjak dari duduknya dan meninggalkan ruangannya.
*
"Andrew akan datang dua puluh menit lagi. Sebaiknya kita makan malam dulu." Johan mengiringi Cahyo menuju meja makan yang di atasnya telah tersaji dengan beragam hidangan.
"Aku belum lapar." Cahyo mencoba menolak. Ia sangat ingin segera bertemu Dokter Andrew kemudian segera pulang.
"Ini sudah jam makan malam." Johan terdengar enggan mendengar lagi alasan penolakan dari Cahyo.
"Seharusnya kamu makan tepat waktu. Apa Citta mengurusmu dengan baik?"
"Tentu saja." Jawab Cahyo cepat. Ya, Cahyo tidak terima jIka Citta dianggap tidak becus mengurus dirinya. Selama ini, Citta tidak pernah sedetik pun lupa untuk memperhatikannya. Sayangnya, Cahyo sendirilah yang justru abai dengan dirinya sendiri. Cahyo suka tidak jujur pada Citta, terlebih dalam urusan makan. Kebiasaan Citta yang tidak menemaninya makan dimanfaatkan Cahyo dengan baik. Setelah memastikan Citta kembali ke kamarnya, diam-diam Cahyo memanggil petugas keamanan yang berjaga di depan rumah. Piring berisi nasi lengkap dengan lauk serta sayur Cahyo sodorkan pada Pak Edi.
"Pak Edi harus membantu saya menghabiskan makanan di piring ini."
"Tapi nanti Bapak tidak makan." Pak Edi menjawab takut-takut.
"Saya sudah makan tadi, di kantor."
"Itu kan makan siang, Pak. Makan malamnya kan belum."
"Sudah, Pak Edi jangan bicara saja. Cepat habiskan makanannya."
*
"Jo, bisa kita bicara sebentar?" Dokter Andrew memberi kode pada Johan untuk keluar dari kamar tempat Cahyo diperiksa.
"Ada apa, Dokter? Tolong bicara di sini saja. Saya harus tahu apa yang terjadi pada diri saya." Suara Cahyo yang sedikit bergetar karena panik berhasil menahan langkah Dokter Andrew dan Johan. Andrew melihat sekilas pada Johan, meminta persetujuan.
"Pak Cahyo, saya menduga ada luka yang sangat serius pada lambung Anda. Apakah Pak Cahyo selama ini tidak pernah makan dengan teratur?" Tanya Andrew penuh selidik. Anggukan lemah dari Cahyo membuat Andrew dan Johan menghela napas bersamaan.
"Kenapa, Pak?" Andrew menangkap gejala depresi pada diri Cahyo. Sementara Johan menatap sahabatnya lekat, seolah takut melewatkan sebuah kata dari mulut Cahyo.
"Aku masih belum bisa menerima kenyataan bahwa aku telah bercerai. Bahwa Sekar lebih memilih meninggalkanku dan Citta.” Cahyo bicara dengan berbisik kemudian menunduk. Jelas terlihat bahwa ia sangat terpukul dengan keputusan istrinya.
“Selain itu, aku juga memikirkan Citta.”
"Kenapa dengan Citta?" Johan langsung menyambar kalimat Cahyo.
"Citta sangat mencintai belajar. Aku khawatir tidak ada laki-laki yang mau dengannya. Bulan depan ia akan genap dua puluh dua tahun, tapi hingga detik ini Citta belum pernah cerita tentang seseorang yang dekat dengannya."
"Jadi Citta tidak punya teman?" Johan mencoba menegaskan kalimat Cahyo yang baginya masih membingungkan.
"Dia punya sahabat. Ratih namanya. Sepanjang yang aku tahu, hanya Ratih yang menjadi teman Citta."
"Citta normal, kan?" Andrew bertanya dengan suara teramat lirih, khawatir menyinggung Cahyo.
Cahyo tersenyum lebar. Ia tidak marah dengan pertanyaan Andrew. Wajar rasanya bila orang yang belum mengenal Citta mempunyai berpikir jika Citta penyuka sesama jenis. Padahal, Citta terlalu asyik belajar sehingga lupa bersosialisasi dengan lebih banyak orang. Terutama laki-laki. Itulah kenapa Cahyo menyimpan kekhawatiran berlebih jika Citta akan jatuh ke tangan laki-laki yang salah. Cahyo tidak ingin Citta menderita di sisa hidupnya. Terjebak dalam ikatan pernikahan yang seperti neraka.
Seperti dirinya.
Ya, Cahyo menganggap pernikahannya seperti di neraka. Panas, penuh gejolak, dan tiada kedamaian di dalamnya.
Cahyo sangat yakin bahwa dirinya tidak pernah melakukan kesalahan. Ia bertanggung jawab pada istri dan anaknya. Cahyo juga tidak memarahi Sekar, istrinya. Pun ia juga tidak pernah menyakiti Sekar secara fisik.
Cahyo adalah lelaki yang baik, bahkan bisa dikatakan sangat baik. Sayangnya Sekar terlalu banyak menuntut. Sekar seolah tidak pernah puas dengan apa yang telah diberikan Cahyo. Ia selalu mencari-cari kesalahan suaminya. Mengada-ada tentang kekurangan suaminya pada teman-temannya. Puncaknya, Sekar memilih hidup sendiri. Terpisah dari Cahyo dan Citta. Pada sebuah pagi yang mendung, Cahyo mendapati Sekar telah pergi dari rumah.
*
Citta mengetukkan jari telunjuknya di atas meja makan. Ia sedang berpikir akan membawa apa untuk Johan. Tentu saja Citta merasa malu jika mendatangi rumah Johan dengan tangan hampa. Akhirnya, Citta pun berinisiatif membuat puding. Puding buah-buahan menjadi pilihan Citta setelah melihat buah kalengan yang tertata rapi di meja dapur. Sambil menunggu puding mengeras, Citta mengganti pakaian rumahnya dengan celana jin dipadu kaos lengan panjang warna hitam. Setelah sekali lagi mematut diri di depan cermin di kamarnya, Citta segera memesan taksi online.
Mendapati taksi yang dipesannya tak kunjung datang, Citta mengambil lagi ponsel dari dalam sling bag-nya. Ia hendak menelepon ayahnya, menanyakan apakah ayahnya masih di rumah sahabatnya atau sudah dalam perjalanan pulang.
“Halo, Ayah.”
“Ada apa, Citta?”
“Kok suara Ayah berbeda. Ayah kenapa?”
Hening. Citta semakin panik karena ayahnya tidak kunjung menjawabnya.
“Yah, Ayah.”
“Ayah tidak apa-apa, Citta. Tadi ayah baru bersin sehingga hidung Ayah berair.”
Citta menarik napas lega mendengar jawaban ayahnya. Ia benar-benar khawatir jika ayahnya sakit.
“Citta sedang menunggu taksi online, Yah. Citta akan ke rumah Om Johan sekarang, menjemput Ayah.” Citta meraih tas kertas berisi puding yang telah dimasukkan dalam kardus makanan.
“Eh, tidak perlu. Ini Ayah mau pulang.” Cahyo berusaha mencegah Citta.
“Citta sudah di jalan, Yah. Sampai nanti ya, Ayah.”
Tut… tut…
Suara panggilan yang terputus justru membuat Cahyo terlihat panik. Dengan tergesa Cahyo turun dari tempat tidur.
“Ada apa?” Tanya Johan dan Andrew hampir bersamaan.
“Citta sedang menuju ke sini.” Cahyo menatap Johan dan Andrew bergantian.
“Tolong jangan katakan apa pun pada Citta.” Cahyo memohon pada dua orang di depannya. Johan segera mengangguk, tapi tidak dengan Andrew. Dokter itu merasa bahwa Citta sebagai satu-satunya keluarga yang Cahyo miliki harus tahu kondisi ayahnya. Citta harus lebih peduli lagi pada ayahnya.
“Ayo kita ke depan.” Ajak Johan mendahului melangkah menuju pintu. Cahyo mengikuti Johan disusul Andrew yang tampak berpikir keras. Ia benar-benar tengah berusaha mencari solusi untuk masalah Cahyo.
*
“Selamat malam.” William menyapa orang-orang yang tengah berkumpul di ruang tamu. Obrolan ketiga orang dewasa itu pun seketika terhenti. Seperti dikomando, Cahyo, Johan, dan Andrew menatap William bersamaan.
“Selamat malam, William.” Cahyo membalas salam William sambil berdiri. Tanpa segan, Cahyo berjalan mendekati William kemudian mengulurkan tangannya.
“Apa kabar, Will?” Tanya Cahyo basa-basi. William menyambut uluran tangan Cahyo kemudian menjawab pertanyaan lelaki seusia ayahnya itu.
“Baik, Om. Om Cahyo sendiri bagaimana kabarnya?” William balik menanyai Cahyo.
“Om juga baik.”
“William permisi dulu.”
“Silakan.” Cahyo mengubah posisi tubuhnya untuk memberi jalan pada William.
Johan dan Andrew beranjak dari duduknya kemudian mengajak Cahyo untuk makan malam.
“Ayo, sekarang kita makan.” Ajak Johan.
“Apa tidak sebaiknya kita menunggu William?” Cahyo melirik ke arah lantai dua.
“Biar Will menyusul.” Jawab Johan.
“Kalau begitu, aku ingin menunggu Citta.” Cahyo menatap Johan, meminta persetujuan sahabatnya. Johan dan Andrew saling pandang hingga kemudian Johan mengangguk.
“Oke.”
William menuruni tangga sambil memasukkan tangannya ke dalam saku. Tepat ketika William menginjakkan kaki pada anak tangga terakhir, terdengar ketukan pada pintu utama.
“Biar Will saja.” Ujar William sambil menggerakkan tangannya, menahan ayahnya beranjak dari duduknya.
“Selamat malam.” Sapa Citta dengan senyum kaku di wajahnya yang tegang. Citta benar-benar tidak menyangka jika William Rustenburg yang membukakan pintu untuknya.
“Selamat malam.” Jawab William dengan suara datar.
“Saya putrinya Pak Cahyo.” Kata Citta lagi dengan suara bergetar. Sungguh ia benar-benar gagal menutupi kegugupannya.
“Om Cahyo ada di dalam bersama papa dan Om Andrew. Silakan masuk.” William menggeser tubuhnya untuk memberi ruang bagi Citta masuk ke dalam rumah.
“Mereka ada di ruang makan.” William sengaja mendahului Citta untuk menunjukkan arah menuju meja makan. Citta yang berjalan tepat di belakang William merasa jantungnya berdebar lebih cepat. Aroma sabun dan sampo yang segar khas pria menyergap indera penciuman Citta.
"Ah, rupanya Citta yang datang." Johan beranjak dari duduknya lalu mendekat ke arah Citta.
"Halo, Om Johan. Apa kabar?" Citta segera meraih tangan Johan kemudian menciumnya takzim. Refleks Johan mengelus kepala Citta.
"Om baik, Sayang. Citta sudah dewasa ya sekarang." Pujian Johan membuat Citta tersenyum kikuk. Beragam pikiran berkecamuk di benak Citta. Selama ini pujian yang mengatakan bahwa ia telah dewasa tidak pernah bermakna positif karena ujung-ujungnya pertanyaan kapan menikah atau sudah bekerja di mana selalu muncul. Pertanyaan yang tidak mampu Citta jawab hingga membuatnya jengah.
"Citta sudah 22 tahun, Jo. Sudah tingkat tiga." Cahyo terlihat semangat menimpali pujian Johan.
Tetiba Cahyo seperti mendapat ide setelah melihat Citta dan William muncul bersama. Rasanya Cahyo ingin menjodohkan Citta dengan William.
*
Makan malam kali ini benar-benar membuat Citta canggung sehingga seringkali bertingkah aneh. Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah William. Johan seperti sengaja mengatur tempat duduk Citta dan William agar berdampingan. Andrew yang sangat paham maksud Johan, rela untuk berpindah tempat duduk.
"Seharusnya kita bebas duduk di mana saja kan, Pa." Protes William. Suaranya yang dingin dan datar seolah mampu membekukan Citta di tempat duduknya.
Selesai menikmati makan malam, Citta menyajikan puding buatannya. Citta yang bersemangat karena akan menyajikan makanan buatannya untuk orang lain pun tidak sadar jika ia kini berdiri di antara William dan Johan. Seharusnya ia memilih sudut lain meja makan di mana ayahnya duduk. Akibatnya Citta kembali terserang gugup ketika memotong puding buah berbentuk lingkaran itu. Alhasil delapan bagian puding yang dipotongnya tidak sama besar. Citta meletakkan setiap potongan ke atas piring kecil. Ia menyerahkan potongan pertama untuk tuan rumah, Johan Rustenburg. Selanjutnya Andrew, William, Cahyo, dan terakhir untuk dirinya sendiri.
"Puding buatanmu lezat sekali, Sayang." Puji Johan tulus. Wajah Citta langsung merona menerima pujian dari Johan. Berikutnya Andrew dan Cahyo juga turut memujinya.
"Will, bagaimana puding buatan Citta?" Tanya Johan sambil melihat ke arah William. Semua mata kini tertuju pada William. Laki-laki itu kemudian memotong bagian ujung puding menggunakan garpu. Setelah bagian kecil puding mengisi mulutnya, semua masih terlihat bersabar menunggu reaksi William.
"Biasa saja. Maaf." Ujar William sambil melihat Citta sekilas.
"Aku tidak menyukai puding buah." Tambah William.
"Kalau begitu kamu suka puding apa, Will?" Tanya Cahyo cepat. William Diam sejenak untuk berpikir.
"Mungkin puding coklat, Om. Entahlah saya sendiri sangat jarang makan puding, Om."
Membingungkan. Kata pertama yang Citta pilih untuk menggambarkan jawaban William.
Jadi sebenarnya kamu suka puding atau tidak? Citta sibuk bertanya pada dirinya sendiri.
"Citta ini pandai memasak, Will. Kalau kamu mau ia bisa membuatkan makanan kesukaanmu."
"Terima kasih atas tawarannya, Om Cahyo."
William melirik papanya sekilas. Ia seperti hendak mengatakan sesuatu pada papanya, namun kedipan mata sang ayah membuatnya urung berkata.
"Maaf, Will ke ruang kerja dulu. Ada yang harus dikerjakan." William meletakkan serbet makan yang berada di pangkuannya ke atas meja. Ia kemudian berjalan menjauh dari meja makan, menuju ruang kerja yang letaknya di dekat tangga.
"Will." Panggil Johan yang serta merta menghentikan langkah William.
"Tolong nanti kau antar Om Cahyo dan Citta." Pinta Johan. William hendak menolak perintah Johan, tapi Citta sudah lebih dulu bersuara.
"Tidak perlu, Om. Saya bisa menyetir kok."
"Tapi ini sudah malam. Kamu pasti lelah."
"Aku juga lelah, Pa. Masih ada yang harus kukerjakan." William mengatakan kata demi kata dengan penekanan yang kentara. William kesal karena papanya seenaknya saja menyuruh dirinya.
"Kenapa tidak minta tolong sopir untuk mengantar?"
"Sopir akan membawa Mobil Om Cahyo. Kamu mengantar mereka dengan Mobil Papa atau mobilmu sendiri." Johan masih teguh pada pendiriannya, menyuruh William untuk mengantar Citta dan ayahnya.
"Ayolah, Will…." Johan merendahkan suaranya. William mendengus melepaskan kekesalan yang terus menghimpitnya.
"Terserah, Papa." Jawabnya sambil berlalu menuju ruang kerja.
*
"Maaf sudah merepotkanmu." Kata Citta setelah William duduk di belakang kemudi. Cahyo yang merasa sangat lelah memilih diam sambil mencoba memejamkan mata.
"Bukan salahmu. Papa memang suka memaksa." William berkata tanpa menoleh ke arah Citta.
Keheningan menyergap mereka berdua. Baik Citta maupun William tidak ada yang berkeinginan untuk memulai lagi obrolan.
"Will, usiamu berapa sekarang?" Suara Cahyo dari arah belakang memecah keheningan.
"Dua puluh enam, Om." Jawab William singkat.
"Sudah punya pacar?" Tanya Cahyo lagi. William mengeratkan genggamannya pada kemudi. Citta yang sedari tadi menyimak melihat sepasang tangan William yang memutih.
William kesal jika ditanya urusan pribadinya. Citta membuat kesimpulan sendiri setelah melihat perubahan pada sikap William.
"Maafkan ayahku." Bisik Citta. William hanya mengangguk.
"Saya tidak mau pacaran, Om. Lebih enak punya banyak teman yang bisa diajak bersenang-senang setiap hari."
Entah William sengaja menjawab seperti itu untuk membungkam Cahyo atau memang seperti itulah pilihan dan gaya hidupnya. Yang pasti, kini giliran Citta yang wajahnya pucat pasi mendengar jawaban William. Mau tidak mau, kini seluruh otak Citta tengah membayangkan sebebas apa pergaulan lelaki tampan itu.
Kejutan yang sungguh mengejutkan, Will. Batin Citta sambil kembali melirik William.
Tetiba Citta teringat Ratih sahabatnya. Dengan gerakan perlahan penuh kehati-hatian, Citta mengambil ponsel dari dalam tasnya. Jemarinya begitu lincah bergerak di atas layar ponsel yang menampilkan deretan huruf dan angka.
Aku ada berita besar untukmu. Tulis Citta. Setelah memastikan pesannya terkirim, Citta mematikan ponselnya kemudian menyimpannya kembali dalam tas.
***