Di saat yang bersamaan, Dira juga keluar dari kamar mandi.
"Yok, balik. Aku udah selesai," ajak Dira. Tapi, ia malah bingung melihat orang-orang berseragam lengkap yang sedang berhadapan dengan Leo.
"Ada apa?" tanya Dira bingung sambil menghampiri Leo.
"Kalian berdua sedang apa disini?!"
tanya salah satu dari mereka dengan tampang sangar.
"Kita cuman ..."
"Tunjukkan identitas kalian," pinta salah seorang dari mereka memotong ucapan Dira.
Baik Dira ataupun Leo menurut saja. Mereka menyodorkan tanda pengenal masing-masing.
"Jadi, Anda seorang dosen, dan kamu mahasiswinya?" tanya dia menunjuk Leo dan Dira bergabtian. "Begitukah?"
"Iya," jawab Leo, sedangkan Dira memilih untuk mengangguk saja.
"Ck, dasar. Kalian berdua ikut kami!" hardiknya.
"Bentar dulu, ini sebenarnya ada apa, sih. Kenapa kami berdua harus ikut?"
"Ntar aku jelasin," bisik Leo pada Dira. Ia tak ingin Dira tau kalau mereka di grebek petugas yang lagi razia, gara-gara kedapatan berada di satu kamar tanpa adanya hubungan yang sah. Bisa-bisa Dira malah teriak-teriak jejeritan ntar.
Yap, jadilah mereka berdua menjadi salah satu di antara pengunjung hotel yang pada malam itu ikut terjaring razia. Karena status mereka yang bukan muhrim, tapi berada di satu kamar.
Hingga sampai di kantor polisi, wajah bingung Dira semakin terlihat. Di tambah lagi, ia juga merasa takut kalau sudah berurusan dengan polisi.
"Kalian sedang apa di hotel itu?"
"Kita nggak ngapa-ngapain kok, Pak. Dia cuman nemenin saya buat bersihin badan, karena tadi ketumpahan minuman," jelas Dira.
"Kalian pikir, kami akan percaya dengan alasan murahan seperti itu,"
"Terserah, mau anda percaya atau tidak. Toh, kita udah jujur," balas Leo. Leo tau, di jelaskan seperti apapun itu, petugas tak akan mungkin percaya gitu aja.
"Sekarang, silahkan hubungi wali kalian agar segera datang kesini,"
pintanya pada Leo dan Dira.
"Orang tua saya lagi di luar negri, Pak. Masa iya mereka harus pulang kampung cuman gara-gara masalah beginian doang," terang Dira. Bisa mati dia kalau orang tuanya tau, ia tertangkap di kamar hotel bersama cowok.
"Orang tua saya juga lagi di luar negri," tambah Leo.
"Apa kalian nggak punya keluarga di negara Indonesia ini? Apa kalian disini hidup hanya sebatang kara? Hello, dunia ini sudah sulit, jadi jangan di persulit lagi. Kalian masih punya anggota keluarga lain, kan,"
Dengan langkah malas, Leo beranjak dari duduknya dan pindah ke kursi tunggu. Dirapun juga mengikutinya.
"Liat kan, ini semua gara-gara kamu," dengus Dira dengan tampang kesalnya pada Leo.
"Jangan nyalahin aku,"
"Memang ini semua salah kamu,"
"Sstt ... diem,"
Leo menghubungi seseorang, tapi yang jelas bukanlah orang tuanya. Karena ia jujur, orang tuanya memang berada di luar negri.
"Nelepon siapa?" tanya Dira.
Tapi Leo tak menjawab pertanyaan Dira. Ia lebih fokus pada percakapan di telepon dengan seseorang.
"Arland, lo dimana?" tanya Leo.
"Di rumah orang tua gue. Kenapa?"
"Kebetulan. Gue sekarang lagi dalam masalah,"
"Masalah?"
"Iya. Tolong lo bilangin sama Om Alvin, buat datang ke kantor polisi. Sekarang, ya."
"Lo ngapain di kantor polisi?"
"Hhah, gue sama Dira lagi di hotel. Tiba-tiba ada razia, dan kita di tuduh berbuat yang enggak-enggak. Gue sama Dira sekarang butuh wali buat bisa bebas," jelas Leo pada sobatnya itu.
"Ya udah, ntar gue bilangin."
"Thank's."
"Jadi?" tanya Dira masih menunggu.
"Kita tunggu Om Alvin dulu," balas Leo.
"Hadeh, benar-benar hari yang sial. Ntar kalau mau ngedate, jangan pake hari minggu," keluh Dira sambil bersandar di bahu Leo.
Kira-kira 20 menitan, sobatnya Arland datang bersama istri dan juga orang tuanya, Alvin dan Kim. Leo merasa ini sangat memalukan ... seperti penjahat saja.
"Om, Tante. Maaf ya, kita ngerepotin kalian," ujar Leo merasa tak enak.
"Iya, nggak apa-apa," balas Alvin.
"Kiran!!! Gue nggak mau disini, gue mau pulang," histeris Dira sambil mewek-mewek pada Kiran, istri dari Arland yang merupakan sahabat dari Dira..
"Iya, tenang dulu," balas Kiran menenangkan Dira.
"Kalau gitu, kita temuin petugasnya dulu, ya. Biar kalian bisa cepetan bebas," terang Alvin.
Setelah sedikit perdebatan, perselisihan, negosiasi, akhirnya mereka berdua bisa bebas dan bernapas dengan Lega.
"Gue mau tanya. Kalian berdua yakin, nggak ngelakuin apa-apa di hotel?" tanya Arland sesaat setelah keluar di kantor polisi.
"Eh eh ,itu mulut bisa di kondisiin nggak. Lo kira gue cowok apaan," kesal Leo pada perkataan Arland.
"Ini semua gara-gara, Bapak," tunjuk Dira ke arah Leo masih dengan kekesalan memuncak.
Leo hanya bisa mendengus saat Dira terus menyalahkannya. Ya, ia akui semua ini memang salahnya. Tapi, bisa nggak sih, Dira tak menyalahkannya terus. Haruskah ia membuat konferensi pers, buat mengakui kalau ini semua adalah salahnya.
"Mau pulang atau enggak? Atau kamu masih betah di sini?" tanya Leo sambil membukakan mobil untuk Dira dengan tampang datarnya.
"Sampai ketemu besok, Ki," ucap Dira pamit pada Kiran.
Sambil mencak-mencak, Dira memasuki mobil Leo. Meskipun ia kesal pada Leo, tapi ia tetap cinta kok. Ia tak akan lupa perjuangannya mendapatkan Leo seperti apa.
---000---
Di saat sang mentari sudah berkelana setengah hari, Dira masih anteng berada di balik selimutnya. Bahkan asisten rumah tangganya sudah bolak balik ke kamar untuk membangunkannya. Tapi, tetap saja tak berhasil. Sepertinya, sebuah ciuman dari sang pangeran lah yang bisa membuatnya langsung melek.
"Non, ayo bangun, Non. Ini udah yang ke 99,9 kalinya Bibik bangunin ,Non. Bukannya Non Dira ada kuliah siang," terang Bibik.
Bibik kembali mencoba, siapa tau kali ini ia beruntung dan berhasil membangunkan Dira. Lumayan, bisa dapat hadiah TV LED.
"Non, bangun,"
Dira tetap tak menjawab bahkan merespon ucapan Bibik dengan sahutan kentutpun tidak. Inilah yang dinamakan mati, tapi tetap bernafas.
Saat yang bersamaan, ponsel Dira yang ada di balik bantalnya berdering. Bibik segera mengambil dan melihat nama yang terpampang di layar ponsel.
"Den Leo nelfon," gumam bibik.
Awalnya Bibik agak ragu untuk menjawab, berasa tidak sopan. Tapi, ini yang telfon adalah Leo. Amukanya lebih menakutkan daripada Dira.
"Hallo, Den Leo. Ini Bibik,"
"Diranya mana, Bik?" tanya Leo.
"Non Dira masih tidur, Den. Bibik udah bangunin dari tadi, tapi tetap saja nggak bangun-bangun,"
"Speaker-in, dan tarok ponsel di kupingnya, Bik,"
"Tapi, Den,"
"Tarok, Bik,"
Bibik pun mengaktifkan speaker, dan meletakkan ponsel dekat telinga Dira yang masih tertidur pulas.
Bibik berdoa agar majikannya tak akan mengamuk layaknya seekor macan betina yang tidurnya di ganggu.
"Dira," panggil Leo di telfon. Panggilan pertama masih lembut, tapi tak di respon oleh Dira.
"Dira! Kalau kamu nggak bangun juga, aku pastiin kamu nggak akan di wisuda tahun ini!"
Dira langsung terlonjak bangun dari tidurnya, saat telinganya mendengar sesuatu yang mengerikan. Apakah ini mimpi buruk? Tidak. Ini nyata. Seseorang seperti bicara tepat di telinganya. Sampai-sampai kupingnya berasa panas.
"Non, are you okay?" tanya Bibik.
"Aku mimpi buruk, Bik," ucapnya masih shock.
"Ketemu setan atau sejenisnya, Non?" tanya bibik ikut penasaran.
"Bukan. Tiba-tiba ada yang bicara di kupingku. Ancamannya nakutin banget. Ini aja masih terngiang-ngiang suaranya di lubang telingaku,"
"Elvio Nadira!"
"Kyaaaa!!! Itu, Bik. Dia manggil lagi," histeris Dira sambil memeluk guling. "Tapi kok mirip suaranya, Leo," heran Dira.
"I-itu memang suaranya Den Leo, Non," ujar Bibik sambil menunjuk ke arah ponsel Dira.
"Hah?" dahinya berkerut.
Bibik mengangguk. "Ada den Leo, Non," bisik Bibik kembali menunjuk ke arah layar ponsel miliknya.
"Omaigat!" gumam Dira.
"Kalau sampai kamu nggak datang, jangan harap kamu menyandang gelar sarjana tahun ini," ulang Leo dengan garang, dan langsung menutup telfon.
"Mampus!" seru Dira.
Dira langsung bangkit dari tempat tidurnya dan segera lari ngibrit menuju kamar mandi. Ternyata ancaman menakutkan itu bukan mimpi di siang bolong. Ini nyata, Beb.
"Ya ampun, punya majikan kok rada gesrek ya," gumam Bibik segera keluar dari kamar Dira.
Untung saja itu hanya gumaman si Bibik. Coba kalau bicara langsung pada Dira, bisa-bisa ia bakal langsung di drop out, atau bahkan di mutasi ke segitiga bermuda.
---000---
Setibanya di kampus, Dira langsung berlari menuju kelas. Semoga saja ia masih bisa mendahului si dosen es krim itu, masuk kelas. Kalau tidak, euh habislah ia.
Tapi, saat berjalan di salah satu lorong kampus, pandangannya malah melihat sesuatu yang benar-benar membuat hatinya patah. Bahkan, tanpa ia sadari, buku-buku yang tadinya masih ia pegang malah jatuh berserakan begitu saja di lantai.
"Aku salah jalan," gumamnya tersadar dan segera memunguti kembali buku-bukunya yang berserakan.
"Dira,"
"Dira," gumam Leo segera menghampiri Dira yang saat itu masih mengemasi buku-bukunya yang berjatuhan.
Setelah semua bukunya terkumpul, ia langsung saja berlalu pergi dari hadapan Leo tanpa meninggalkan sepatah katapun.
"Ra," panggil Leo. Tapi, tak ia hiraukan. Yakali orang lagi kesal malah nyahut 'ya, Beb,'
Awalnya Dira hendak menuju kelas, tapi sekarang ia tak berminat lagi. Ia melangkahkan kakinya menuju belakang kampus, dan menyendiri dibalik sebuah pohon besar. Untung saja bukan pohon beringin. Kalau tidak, ia pasti akan langsung menggantung lehernya di akar-akar yang berjuntaian itu.
Pandangan yang tak mengenakkan barusan, benar-benar mengganggu pikirannya. Otaknya berusaha berpikiran positif, tapi tetap saja yang namanya hati akan berpikir sejenaknya juga.
Dira tak ingin masuk kelas, tapi tiba-tiba Kiran malah mengiriminya pesan agar segera ke kelas.
Jadilah, ia harus menahan rasa sesak di dadanya untuk beberapa saat.
Ia segera menuju kelas dengan hati yang masih nyesek. Bahkan, saat masuk pun ia hanya diam. Padahal saat itu Leo sudah berada di sana.
"Saudari Dira, kenapa terlambat?" tanya Leo.
"Toilet," jawab Dira ketus sambil terus berjalan menuju kursinya, tanpa mengarahkan pandangannya pada Leo.
Leo bisa lihat kalau Dira kesal padanya, tapi ia masih mengingat kalau ini di dalam kelas. Statusnya adalah dosen dan ia harus bersikap profesional.
Kiran saja sampai terheran-heran di buatnya. Apa yang terjadi dengan sahabatnya itu?
"Lo kenapa?" tanya Kiran lewat pesan di ponselnya.
"Gue lihat Leo sama cewek, mereka lagi pelukan," balas Dira pada pesan Kiran.
Saat Kiran menerima pesan itu, jelas ia kaget dan sedikit tak percaya. Seorang Leo yang sifatnya tak jauh berbeda dengan Arland, mau-maunya disentuh wanita? Sepertinya ada kesalahpahaman. Kiran berinisiatif untuk mengirimkan bukti pesan Dira barusan, pada Leo.
Sesaat setelah Leo membaca pesan dari Kiran, ia mengarahkan pandangannya pada Kiran. Kiran mengangkat kedua bahunya pertanda tidak mengerti.
Hingga kelas usaipun, tampang Dira masih saja kecut dan selalu membuang muka saat Leo mencuri pandang padanya.
"Lo yakin, Leo pelukan sama cewek lain?" tanya Kiran yang langsung menghampiri Dira.
"Iya. Gue liat sendiri," jawabnya
"Jangan-jangan lo salah lihat."
Dira mendengus saat Kiran tak mempercayai ucapannya. "Haruskah gue ajak lo flashback ke waktu gue ngeliat itu semua? Tapi sayangnya, nggak bisa. Udah ah, gue males. Duluan ya," ucapnya berlalu pergi meninggalkan Kiran.
Dira hendak masuk ke dalam mobilnya, tapi seseorang malah menariknya masuk ke dalam mobil yang parkir di samping mobilnya.
Ia kaget, apalagi saat tau kalau yang menariknya barusan adalah, Leo.
"Bapak apa-apaan, sih. Buka pintunya sekarang. Saya mau keluar!" seru Dira. Ia tak ingin berada di situasi seperti ini.
"Bersikaplah seolah aku ini pacarmu."
"Setelah kejadian tadi, masih menganggap aku ini pacarmu?"
"Kamu salah paham. Aku nggak meluk dia, tapi dianya aja yang langsung main peluk," bantah Leo.
"Kalau memang kamu nggak memeluknya, harusnya kamu ngejar aku, yakinin aku, dan jelasin yang sebenarnya. Tapi apa, kamu bahkan menganggap seolah tak terjadi apa-apa. Kamu pikir aku tak punya perasaan?"
"Aku hanya ingin kamu mempercayaiku, tanpa harus ku jelaskan."
''Tapi aku butuh penjelasan."
"Namanya Indah, dia itu anak dari teman bisnis orang tuaku. Dia akan mulai mengajar juga di kampus ini. Sikapnya memang seperti itu, bahkan Arland juga mengenalnya,"
terang Leo pada Dira. Ia berharap kalau Dira bisa mengerti.
"Tetap saja, aku nggak suka kamu dipeluk-peluk seperti itu." Dira mendengus.
Ia berpikir, sepertinya hari-harinya bersama Leo bakalan lebih sulit dengan adanya wanita itu di kampus.
"Bagaimana kalau aku yang memelukmu?"
"Aku tidak mau," jawabnya ketus
"Oo baiklah. Aku tahu, pelukan memang tak semanis ciuman. Lain kali, aku akan memberikannya lagi." mulutnya melengkung membentuk senyuman.
Sudah ia katakan, sikap Leo sangat berbanding terbalik ketika bersamanya, dan ketika statusnya sebagai dosen ataupun ada orang lain di antara mereka. Tapi, jujur saja, Dira menyukai sifat yang di miliki oleh Leo.
"Ngomong apa, sih. Udah ah, aku mau pulang. Masih kesal sama kamu," ucap Dira hendak keluar dari mobil. Tapi, niatnya kembali tertahan. Saat ia membuka pintu mobil, ternyata masih dikunci oleh Leo. Ia kembali mengarahkan pandangan pada Leo. "Buka pintunya, Bapak. Saya mau keluar."
"Kalau saya nggak mau?"
"Leo, buka pintunya," geram Dira pada Leo yang terus mempermainkannya.
"Kita makan siang dulu," ajaknya
"Aku nggak bisa," tolaknya
"Kenapa?"
"Karena aku harus...."
'Tok-tok-tok,' Seseorang mengetuk pintu mobil. Leopun segera menurunkan kaca dan melihat siapa yang telah menggangunya.
"Ada apa?" tanya Leo yang ternyata orang tersebut adalah Indah.
"Bisa anterin aku pulang, soalnya tadi pagi berangkatnya nebeng sama Papa," jelasnya tanpa ragu.
"Ehem," Leo berdehem. "Kamu nggak lihat kalau aku lagi sama pacarku," ujar Leo menarik Dira agar sedikit mendekat padanya, "Jadi, menurut kamu, apa aku akan memilih mengantarkanmu pulang dan meninggalkan dia disini. Begitukah?"
"Oo, maaf. Aku pikir kamu sendirian," ia pura-pura tersenyum. "Kamu sudah punya pacar, dan dia seorang mahasiswi?" tanya Indah dengan wajah tak sukanya itu.
"Iya, kenapa. Ada masalah?" Leo balik bertanya.
Indah menggeleng. "Kalau gitu aku naik taksi aja, ya," ucapnya sambil berlalu pergi, meninggalkan tatapan kesalnya pada Dira. Dan Dira sendiri, bisa merasakan itu.
"Dia menyukaimu."
"Di akhiri dengan tanda tanya, atau tanda seru?" tanya Leo.
Dira memukul lengan Leo. "Jangan mengkaitkan semua ucapan dengan pelajaran."
"Lebih bagus, pelajaran itu bisa di praktekkan langsung. Biar ilmunya nggak hilang begitu saja," balasnya
"Bunuh orang, dosa nggak?"
"Tentu saja," jawab Leo cepat. "Sebelumnya kamu harus memikirkan dulu, pasal apa saja yang akan menjeratmu setelah kamu melakukan tindakan keji itu," terang Leo.
"Begitukah?" matanya menyipit, diiringi hembusan nafas beratnya menerima penjelasan Leo.
"Apa perlu ku sebutkan satu persatu pasalnya?"
"Tidak perlu. Tidak perlu," jawab Dira cepat.
Ya ampun. Saking gregetnya, Dira berasa ingin menggigit bibir Leo yang bicara masalah hukum itu. Entah apa yang dipikiran Leo, hingga otaknya malah mendarat di masalah hukum-hukuman.
"Mau ikut aku?"
"Kemana?"
"Aku ingin mengajak kamu untuk bertemu...."