Malam ini cukup berbeda dengan malam sebelumnya. Langit malam memang selalu gelap, namun kali ini sangat berbeda karena adanya angin kencang dan sedikit petir yang menandakan akan segera ada badai yang cukup kencang. Seorang wanita yang tinggal di salah satu lantai atas Apartemen besar itu memerhatikan cuaca sangat buruk dan berusaha menutup jendela yang tadinya dia buka. Dia berjalan dengan agak susah payah karena perutnya terlihat sangat besar. Ya, wanita itu sedang hamil tua dan mungkin saja akan segera melahirkan.
Angin begitu kencang sampai ia kesulitan menutup jendela apartemennya. Karena berada di ketinggian, pastilah angin jauh lebih kencang. Angin itu bertiup jauh lebih kencang lagi sampai akhirnya menjatuhkan sesuatu.
‘PRANG!’
Wanita itu terkejut saat menoleh dan melihat foto pernikahannya terjatuh tertiup angin badai yang sangat kencang itu. Sebisa mungkin, ia menutup jendela dan berjalan untuk melihat foto pernikahannya yang kacanya sudah berserakan. Jantungnya berdegup sangat kencang saat melihat pecahan itu seakan memisahkan foto dirinya dengan sang suami.
‘ Apa ini sebuah pertanda buruk?’ batinnya langsung berusaha mengutip kaca itu supaya tak terus berserakan dan akan berbahaya. Dia punya seorang putri kecil yang biasanya berlarian di sini. Ini sudah larut malam dan memang dia tak bisa tidur karena menunggui sang suami yang akan pulang dari luar kota. Putri kecilnya sudah tidur sedari tadi.
“ Awwhh!!!” Ujung jarinya berdarah saat mengutip pecahan kaca itu. Tak lama, pintu apartemen terbuka dan menampilkan seorang pria yang sedari tadi dia tunggu. Tiba – tiba, sebuah rasa sakit luar biasa mendera wanita itu karena ia merasakan keram di perutnya.
“ Akhhh!! Marcel! Tolong aku!” pintanya lemah dan segera mungkin pria itu menghampiri dirinya.
“ Kaela? Ka – kamu akan melahirkan? Ayo, kita ke rumah sakit secepatnya!” ujar pria itu langsung membawa istrinya – Mikaela ke rumah sakit. Menurut hitungannya, ini masih delapan bulan masa kandungan sang istri. Tapi bisa saja, anaknya agak cepat lahir. Yang jelas, Marcel terlihat sangat khawatir dan berusaha sebisa mungkin membawa Mikaela ke rumah sakit walau agak sulit. Ia harus berhati – hati untuk tidak melakukan kesalahan agar tidak menyakiti anak yang dikandung istrinya. Yang dia kira sebagai anaknya.
Tak terasa, sampailah mereka di rumah sakit dan segera mungkin Marcel memanggil dokter. Untung saja, para perawat dan dokter stand by di jam yang menjelang subuh ini. Marcel ingin menemani, tapi entah apa yang tiba – tiba menghalanginya. Ternyata, keadaan Mikaela agak kritis karena mengalami pendarahan. Marcel pun tak bisa menemani istrinya saat melakukan persalinan. Ia menunggu saja di luar sambil menghubungi keluarganya.
“Ma, malam ini Kaela merasa keram dan kemungkinan dia akan melahirkan,” katanya kepada sang ibu yang mengangkat panggilannya.
“Apa? Melahirkan? Harusnya dia melahirkan satu bulan lagi kan? Apa dia premature?” tanya sang ibu dari sana.
“Mungkin saja, Ma. Tadi saat pulang aku melihat dia terjatuh dan kesakitan. Ini salahku karena tidak menjaganya dan terlalu sibuk bekerja.” Marcel menjelaskan keadaan sesuai pra-duganya.
“Baiklah, Nak! Kami akan segera ke sana! Kami harap, istrimu dan bayi kalian baik – baik saja ya,” harap Ribka dan kemudian sambungan telepon terputus.
Suara dari ruang persalinan kedap suara dan ia sangat penasaran dengan apa yang terjadi di dalam. Pria itu bolak – balik berjalan di koridor rumah sakit karena merasa sangat khawatir. Tiba – tiba, ia teringat sesuatu! Ia belum mengabari mertuanya soal persalinan Mikaela. Maka dengan cepat, ia mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi keluarga Djuanda.
“ Ada apa kamu menghubungi tengah malam begini, Nak?” tanya Adinata dari sana,
“ Pa, saat ini Kaela sedang melahirkan! Kami di rumah sakit dan aku sedang menungguinya! Oh iya, Selena juga sendiri di apartemen. Tadi aku terlalu panik karena Mikaela kesakitan. Aku harap, kalian bisa datang secepatnya ya!” katanya memberi tahu kepada sang mertua dengan penuh semangat. Dia merasa, kalau dia akan menjadi seorang ayah lagi. Marcel akan menyambut anak yang akan dilahirkan oleh Mikaela.
“Baiklah! Kami akan segera ke sana dan aku akan suruh Heinry membawa Selena ikut juga,” balas Adinata dan kemudian sambungan telepon selesai. Beberapa waktu berselang, akhirnya Ribka datang bersama suaminya, Elmand. Mereka di sini untuk menemani Marcel sekaligus menyambut cucu mereka yang akan segera dilahirkan.
“Ah, anak kalian kembar pengantin ya? Ah, aku tidak sabar memberi nama cucu laki-lakiku nanti,” ujar Elmand dengan senyuman bangga.
“Ya, harus ada laki-laki karena Michael juga punya bayi perempuan. Tidak masalah sebenarnya, tapi kita kepingin kan,” kata Ribka pula.
“Aku juga tak sabar, Ma!” Marcel tersenyum dengan penuh kebahagiaan.
Mereka masih menunggu dan satu jam kemudian, pintu ruang persalinan dibuka. Sang dokter dan perawat keluar sambil membuka masker bedah mereka. Marcel dengan sigap menghampiri untuk mengetahui bagaimana keadaan istri dan kedua bayinya.
“Dokter, bagaimana istri saya?” tanyanya dengan sangat antusias.
“Selamat Pak! Anaknya lahir normal dan sehat! Tapi, istrinya akan kami bius dulu karena mungkin beliau kelelahan melahirkan anak kembar secara normal. Anaknya laki-laki dan perempuan ya! Selamat sekali lagi!” kata sang dokter membuat Marcel sangat senang. Ia melihat kedua orang tuanya dan sang ayah langsung memeluknya. Tapi tidak dengan ibunya.
“ Mama kenapa?” Marcel bingung.
“Prematur bisa melahirkan normal dan anaknya sehat? Marcel… kamu apa gak merasa aneh?” tanya Ribka yang sedari tadi memikirkan perkataan dokter. Dia adalah wanita yang pernah dua kali melahirkan dan tahu benar teori mengenai persalinan. Sangat jarang kasusnya anak yang lahir premature itu sehat dan dilahirkan dengan normal. Itu nyaris tidak mungkin!
“Kamu kenapa sih? Syukurlah kalau cucu kita sehat! Kamu mau cucu kita penyakitan?” Elmand menegur istrinya yang menurutnya agak berlebihan. Marcel juga mengangguk sebagai tanda setuju kepada papanya.
Tak lama dua bayi kecil yang sudah dibersihkan dimasukkan ke dalam box bayi dan kemudian dbawa oleh seorang perawat keluar dari ruang persalinan. Marcel yang melihat kedua bayi itu dibawa, langsung antusias untuk melihat bagaimana rupa anaknya. Pertama, ia melihat bayi perempuan yang cantik dan sangat mirip dengan ibunya.
“Putri keduaku cantik sekali!” kagumnya melihat bayi itu dan kemudian melihat bayi laki-laki di sebelahnya. Saat melihat bayi laki-laki itu, Marcel terdiam dan jantungnya berhenti. Ia memundurkan langkahnya sampai terduduk di kursi tunggu.
“Ada apa, Pak?” tanya perawat yang membawa box bayi laki-laki itu.
Elmand dan Ribka langsung melihat bayi laki-laki itu dan terdiam seketika. Pemikiran Ribka benar! Ada yang salah dengan kehamilan Mikaela! Mereka berdua tak menduga kalau yang begini bisa terjadi dan yang benar saja, emosi Elmand langsung naik ke ubun-ubun.
“Bawa bayi – bayi itu menjauh dari kami!” kata Elmand dengan penuh kekesalan. Sedikit terkejut, sang perawat langsung meletakkan kedua bayi itu ke ruang bayi. Dia tak mengerti apa yang terjadi dengan keluarga yang baru saja mendapat anggota keluarga baru ini.
“Mata itu! Anak itu… bukan anakku!” ujar Marcel sambil menarik rambutnya sendiri. Dia pucat dan tak menyangka, kalau selama ini anak yang dikandung oleh Mikaela bukan darah dagingnya. Padahal, dialah yang memberi kasih sayang dan perhatian untuk bayi itu saat masih dikandung oleh ibunya.
“Jadi… saat di Boston, Mikaela berselingkuh dengan pria itu?” tanya Ribka dengan nada tak percaya pula. Dia tak bermaksud memanasi putranya, tapi Marcel benar – benar panas saat mendengar kalau Mikaela berselingkuh. Ia lupa, kalau Mikaela sudah pernah mengakui kalau waktu itu Ares pernah menyentuhnya. Marcel terima itu dan berharap Mikaela tidak mengingat semua itu. Walau begitu, bagaimana mungkin Marcel bisa menerima kalau istrinya mengandung anak orang lain? Dan bahkan, orang itu adalah sosok yang paling dia benci dalam hidupnya?
“Aku… tidak bisa menerima ini! Tidak bisa!” teriak Marcel dengan nada kesal.
Melihat putranya sangat sedih dan kecewa, Ribka langsung memeluk Marcel. Ia juga tak mau melihat putranya begini. Dan memang, Elmand juga tak bisa lagi menahan kesabarannya. Ia merasa sangat dipermalukan dengan cara Mikaela membohongi mereka semua. Ia merasa sangat kecewa karena menantunya melahirkan anak dari musuh putranya. Siapa pun tidak akan terima, terlebih lagi keluarga Buana memiliki ego setinggi langit.
“Bagaimana keadaan Kaela? Apa anaknya lahir dengan selamat?” tanya Adinata yang baru saja sampai di rumah sakit. Elmand langsung memicing ke arah besannya itu lalu berkata,”Aku tidak menyangka, pria terhormat seperti anda membesarkan seorang pelacur!” Perkataan sinis itu sontak mengejutkan Adinata yang datang ke sini dengan perasaan bahagia.
“Apa maksud anda, Tuan Buana?” tanya Adinata yang jelas tak suka dengan cara Elmand berkata.
“Anda mau tahu kenapa? Putri anda berselingkuh saat bersama pria lain dan mengandung anaknya! Dan dengan seenaknya dia membohongi kami semua kalau ayah dari anak itu adalah Marcel! Cih! Putrimu itu sama sekali tak punya kehormatan!” jawab Ribka dengan nada arogan sambil mendecih.
“Apa maksudmu menghina putriku? Mikaela tidak seperti itu!” Adinata tak bisa menahan emosinya saat mendengar hinaan soal Mikaela. Tapi Ribka adalah seorang wanita, jadi dia berusaha sebisa mungkin menahan semua amarahnya.
“Tidak percaya? Lihat saja di ruang bayi, kalau anak yang dilahirkan Mikaela memang bukan anaknya Marcel! Sekali lihat, orang akan tahu siapa ayahnya! Terlebih bayi laki-laki itu!” tantang Ribka membuat Adinata terdiam.
Pria itu diam dan langsung berbalik untuk memastikan apakah perkataan Ribka benar atau hanya bualan semata. Sementara, Mikaela dipindahkan ke ruang rawat tapi Marcel tidak mau menemani istrinya. Hatinya sakit dan mrasa sangat dikhianati. Dan ketika Adinata melihat kedua cucunya, ia tak lagi bisa menyangkal perkataan Ribka. Bayi laki-laki yang sangat mirip dengan oang itu, Ares Pratama.
“Aku tidak menduga… yang seperti ini sampai terjadi! Kenapa kau diam saja selama ini, Kaela?” tanyanya dengan penh nada penyesalan.
Besannya kecewa dan itu wajar. Tapi tetap saja, bayi kembar itu adalah cucunya dan dia akan menyayangi mereka. Walau kenyataan yang lebih buruk mungkin saja akan terjadi. Adinata tak tahu, bagaimana nasib putrinya ketika sadar nanti mengetahui semua ini. Dan Marcel yang sangat kecewa, memutuskan untuk langsung pulang tanpa memedulikan Mikaela. Dia merasa cukup dengan semua penghianatan ini. Bukan saja penghianatan, menurut Marcel ini juga penghinaan. Dan dia takkan menerima kedua anak itu.
“Nak, lebih baik kamu ke mansion dulu ya? Mama dan Papa akan bawa Selena juga. Kamu harus menenangkan dirimu,” ujar Ribka mengelus punggung putranya. Ibu mana yang sanggup melihat anaknya terhina seperti ini. Sampai kapan pun, mereka tak akan mau mengerti dengan situasi yang sebenarnya. Dan inilah, awal mula dari mimpi buruk yang membawa sebuah kegilaan.
Mansion Buana
“Eh, kakak sudah pulang aja? Bagaimana bayi kembar kalian? Pasti lucu kan?” sosor Michael saat melihat kakaknya yang datang bersama kedua orang tua mereka.
“Diam kau, Michael!” Elmand memperingatkan dan langsung membuat si bungsu Buana itu terdiam. Dia baru sadar, kalau wajah kakaknya sangat lesu dan terlihat sangat syok. Dari kejauhan, Michelle yang baru saja selesai menidurkan anaknya melihat Marcel yang pulang tapi tidak bersama dengan Mikaela.
‘Ada apa ini?’ pikirnya dan tak lama sang suami menghampiri dirinya.
“Mike, ada apa dengan kakakmu?” tanyanya langsug.
“Entahlah, Michie! Aneh sekali kan? Padahal, aku tadi mendengar istrinya baru saja melahirkan? Atau jangan – jangan, anaknya meninggal ya?” jawab Michael sambil menduga. Michelle yang mendengar itu terdiam.
Penjara Kelas I
Dua orang kini saling berhadapan satu sama lain. Yang satu sudah berkepala enam dan yang di hadapannya masih hampir kepala tiga satu tahun lagi. Kedua pria itu sama – sama menatap serius ke arah papan catur. Ya, mereka tengah bermain catur untuk mengasah otak masing – masing. Tak lama, pria tua menggerakkan bidaknya dan yang lebih muda menyeringai karena merasa menemukan cara untuk mengalahkan pria tua di hadapannya.
“ Skakmat!” ujarnya langsung mengejutkan pria tua itu. Dia memerhatikan, kalau saat ini dia sudah benar – benar terkepung dan dikalahkan oleh pria muda itu lagi.
“ Sial! Sudah tiga kali bermain denganmu aku malah kalah!” rutuknya karena dia suah berkali – kali kalah.
“ Sudah kubilang Pak Satnof, otak orang luar itu jauh berbeda. Makanya, Ares bisa menjadi pengusaha muda yang sukses,” ujar pria tua lainnya yang juga merupakan penghuni penjara ini.
“ Ah, maafkan aku ya, Paman. Mau bagaimana lagi, aku selalu menemukan cara untuk menang,” kata Ares dengan senyuman santai sekaligus tersemat ejekan kepada Pak Satnof.
“ Kau katanya bisa menemukan berbagai cara untuk menang. Lantas, kenapa kau tidak membebaskan diri dari pengadilan? Kau menyuap seratus miliyar dan mereka pun akan membebaskanmu tanpa syarat,” balas Satnof membuat Ares mendengus.
“ Aku menerima hukuman ini karena seseorang. Lagipula, tinggal di sini tak buruk juga!” jawab Ares membuat Pak Satnof dan yang lain menyeringai.
“ Kau benar! Penjara yang fasilitasnya tak kalah dengan apartemen mewah ini hanya bisa ditempati oleh orang – orang yang sudah membayar mahal sebelumnya. Dan di sini, bisa – bisanya kau yang paling muda mendapat kamar VVIP.” Satnof membenarkan pernyataan Ares.
“ Ya, begitulah! Di mana – mana, hukum itu bisa dibeli, bukan?” Ares menambahkan pula.
Tak lama, dua sipir penjara datang ke tempat istirahat para narapidana. Mereka langsung membungkuk hormat kepada para narapidana yang ada di situ. Dan khususnya, mereka ingin bicara dengan Ares Pratama.
“ Tuan Pratama, Helios sudah datang ke sini.” Mereka melapor dibalas anggukan oleh Ares.
“ Baiklah! Aku harus menemuinya dulu. Aku tunggu tantangan Paman lagi kalau bisa mengalahkanku dalam permainan ini ya,” pamit Ares dan ikut dengan kedua sipir itu untuk bertemu dengan Helios. Oh, kedua sipir itu sama sekali tidak memborgolnya dan malah berlaku seperti pengawalnya saja. Ya, ini lah bedanya kalau masuk ke penjara dengan membayar. Benar – benar mendapat perlakuan yang jauh berbeda. Bisa dibilang, Ares bergabung dengan para tahanan yang adalah koruptor. Mau bagaimana lagi, hanya penjara koruptor lah yang mewah.
“ Hai, Helios! Bagaimana kabarmu? Wah, wajahmu kelihatan lelah ya,” sapa Ares dengan senyumannya lalu duduk di sofa yang tersedia untuk menyambut tamu.
“ Anda benar, Tuan! Saya melakukan semua sendirian dan itu sangat melelahkan. Dan lagi, saya menemukan masalah dalam membalik nama Perusahaan atas nama anda.” Helios melapor tanpa banyak basa – basi.
“ Masalah apa? Para kepala cabang yang tidak menerimaku atau para pemilik saham yang meributkannya?” tanya Ares.
“ Mereka takkan berkutik sedikit pun, Tuan. Tapi, semua aset yang anda miliki atas nama Tuan William Simon. Itu masalahnya!” jelas Helios membuat Ares mengernyit bingung.
“ Lantas? Tinggal ubah kan? Dulu, aku membuat nama Simon, karena dia lah yang memang sah memiliki semua itu. Aku kan sudah mengurus kewarganegaraanku dan tercantum sebagai saudaranya. Apa yang sulit?” Ares masih bingung.
“ Satu setengah tahun yang lalu, Tuan William Simon sudah memberikan semua asetnya atas nama Mikaela Cassandra Djuanda sebagai pewarisnya.” Helios memberi tahu alasannya dan itu membuat Ares membelalak terkejut. Oh, dia ingat kalau Mikaela pernah membicarakan soal harta Willy hampir setahun yang lalu. Helios langsung memberi salinan surat wasiat yang didapat dari pengadilan yang mengurus hal itu. Ares terdiam! Dia sama sekali tak menduga kalau Willy menulis, ‘Semua aset yang beratasnamakan William Simon’.
“ Oh! Aku benar – benar bodoh! Padahal, waktu itu Mikaela mau mengembalikan semua kepadaku. Aku pikir, hanya hartanya yang bertotalkan 25 juta dollar itu. Ternyata, ada sambungannya kalau semua yang atas nama dia. Simon tidak tahu kalau aku membuat semua asetku atas nama dia. Aisshh! Sialan!” kesalnya karena ini benar – benar menjadi kesulitan yang membuatnya harus mengurusnya langsung dengan Mikaela. Tapi Ares yakin, Mikaela tak mau bertemu dengannya.
“ Mungkin, jika berurusan dengan Nona Mikaela takkan sesulit itu. Tapi ada masalah lain lagi, Tuan.” Helios berkata dan membuat Ares membelalakkan matanya. Oh! Dia tidak tahu kalau semua harta yang dia kumpulkan sekaligus dia rebut dari sang paman benar – benar akan bermasalah seperti ini.
“ Apa lagi?” tanyanya dengan nada mulai kesal.
“ Ternyata, harta yang diberikan oleh Mr. Harold hanya sebagian atau lima puluh persennya saja. Dan dia memang hanya memberikan bagian milik ayah anda. Karena sebagian lagi sudah dia yang atas namanya sudah dia balik nama kepada orang lain. Dan ini semua terjadi sebelum kematiannya,” jelas Helios semakin membuat Ares tak menyangka. Pria itu terkejut, ternyata pamannya tidak sebodoh itu. Pasti lah, Harold akan sadar kalau Ares memang akan mengkhianatinya suatu hari nanti.
“ Dia memberi sebagian lagi kepada orang lain? Siapa orangnya?” tanya Ares sangat penasaran.
“ Ah, setelah saya cari tahu, orang itu sudah meninggal dunia. Namanya Sandara Pranesti. Mungkin saja, itu adalah kekasih atau seseorang yang penting bagi Mr. Harold.” Jawab Helios benar – benar membuat Ares kesal setengah mati. Lima puluh persen harta yang dia miliki itu atas nama orang lain dan lagi orangnya sudah meninggal? Ares harus repot mencari siapa yang akan mewarisi itu semua lalu mengambil apa yang selayaknya dia miliki. Karena memang, dia lah yang bekerja sehingga bisa menghasilkan semua ini.
“ Kau tidak tahu siapa pewarisnya, Helios?” Ares bertanya lagi dan berharap Helios bisa menyelesaikan semua ini dengan cepat.
“ Sayangnya, ini lah yang baru ingin saya selidiki dan memberi hasil secepatnya kepada anda.” Helios menjawab. Oh, Ares harus menahan emosinya dan pria itu pun menarik napasnya dalam – dalam supaya dia tak tenggelam dalam dunia penuh emosi. Dia harus belajar mengendalikan diri supaya tidak menjadi manusia bar – bar lagi.
“ Cari tahu, siapa pewaris dari Sandara Pranesti! Dengan begitu, aku bisa langsung bernegosiasi dengan orang itu! Kalau dia menolak, akan kuhabisi!” perintah Ares langsung diangguki patuh oleh Helios. Maka, setelah pembicaraan serius itu, Helios undur diri. Ares kembali ke dalam sel atau kamar pribadinya sambil terus berpikir dengan semua yang terjadi.
‘ Si tua bangka sialan itu mungkin punya kekasih atau bahkan seorang anak ya? Ah, aku tidak tahu harus berkata apa kepada orang yang sama – sama terlahir dari darah Simon yang kotor sepertiku. Dia saudaraku ternyata!’ batin Ares.
Ya, kebenaran yang mengejutkan bahwa nyatanya di luar sana ada seseorang yang masih punya hubungan keluarga yang dekat dengan Ares Pratama. Hampir berumur tiga puluh tahun, dan baru sekarang Ares mengetahui semua ini. Ini bukan kebetulan atau drama yang disengaja. Ini terjadi karena memang masalah warisan harus mencari tahu siapa pemilik yang mendapatkannya. Karena hal itu. Ares terpaksa harus tahu siapa orang yang selama ini punya ikatan darah dengannya selain adiknya sendiri. Oh, ini pasti akan sangat menarik!
***
Rumah Sakit
Mikaela masih terbaring lemah dan belum sadarkan diri. Untung saja, semalam dia bisa melahirkan dengan normal walau taruhannya adalah nyawanya sendiri. Para dokter bisa menyelamatkannya sehingga tidak kekurangan darah yang akan menyebabkan dia meninggal dunia. Kedua anaknya selamat dan kini hanya ada Adinata dan Heinry yang menatap sendu kepada Mikaela. Suami yang dia cintai, kini tidak menemaninya di saat seperti ini.
“ Aku tak bisa berkata apa – apa kepada Marcel, Nak. Dia pasti sangat kecewa mengetahui semua ini.” Adinata benar – benar berpasrah. Ia tak lagi bisa berkeras karena kini jelas kalau Mikaela yang salah. Putrinya itu menyembunyikan identitas bayi yang jelas bukan milik Marcel.
“ Aku sudah melakukan pengecekan, hasilnya memang negative, Pa. Bayi kembar itu bukan anaknya Marcel.” Heinry juga menambahkan. Mengingat apa yang terjadi kepada Mikaela, semakin besar lah kebencian Heinry kepada Ares. Pria yang sudah benar – benar mengacaukan kehidupan Mikaela sampai luluh lantak.
“ Apa Mikaela bisa bertahan setelah ini? Aku sengaja menyuruh dokter membiusnya lebih lama lagi supaya tidak langsung syok dengan apa yang terjadi, Heinry! Aku tidak kuat!” ujar Adinata dengan nada penuh kesedihan. Dia tak bisa membayangkan kalau Mikaela syok lalu harus kehilangan nyawanya. Oh, Mikaela adalah peninggalan istri tercintanya. Putri yang terlahir mirip dengan istrinya itu takkan dia biarkan terluka dan hidup dengan penuh penderitaan. Tapi sepertinya, kenyataan malah berkata sebaliknya.
“ Pa! Kita harus kuat! Karena jika Marcel membuang Mikaela, kita lah yang harus berada di sisinya. Jangan tunjukkan kalau kita lemah dan tak berdaya!” ujar Heinry sambil memeluk ayahnya. Sebagai kakak, dia juga tersiksa melihat adik yang sangat dia sayangi harus mengalami hal yang seperti ini. Tapi sebisa mungkin, dia harus kuat karena Mikaela akan semakin sedih jika mereka hancur.
***
Mansion Buana
“Rosemarry Angelica Buana! Nama putri kita memang bagus sekali ya, Michie!” ujar Michael setelah mengambil akte kelahiran yang dia urus. Michelle tersenyum melihat suaminya yang bahagia sambil berjalan ke arah dirinya yang baru saja menidurkan bayi kecil mereka yang cantik.
“ Astaga! Anak ini sangat mirip dengan Papanya,” kata Michelle tersenyum memandangi wajah imut bayi yang baru berusia tiga bulan itu.
“ Hahaha! Tapi bentuk mantanya sangat mirip dengan Mamanya. Dia memang anak yang mendapat kedua gen orang tuanya kan,” balas Michael diangguki mantap oleh Michelle. Ah, mereka merasa kalau keluarga mereka sudah cukup lengkap karena keberadaan Rose di antara mereka. Walau begitu, entah kenapa Michelle masih merasa tidak benar – benar bahagia. Kenapa? Karena dia ingin memiliki semua harta kekayaan keluarga Buana. Ia ingin membalaskan dendamnya di masa lalu kepada mertuanya. Michael tak tahu, ternyata dendam itu sudah menjadi ambisi di dalam hati Michelle.
“ Hahh … aku terkejut ketika Papa memberi tahu kalau ternyata Kak Kaela tidak melahirkan anaknya Kak Marcel.” Michael berujar dan hal itu membuat Michelle terbelalak.
“ Maksdunya bagaimana? Kak Kaela selingkuh?” tanyanya ingin mengorek informasi mengenai berita ini. Tadi malam, Marcel kembali ke mansion dengan keadaan kacau balau dan tidak keluar dari kamarnya sampai jam segini. Padahal, hari sudah sangat siang dan nyaris sore.
“ Aku tak tahu bagaimana kejadiannya. Tapi bisa saja kan, kalau Kak Kaela adalah korban pemerkosaan. Kalau Kak Kaela memang selingkuh, kenapa dia harus kembali kepada Kak Marcel? Bukannya Ares jauh lebih memiliki segalanya. Aku mungkin bisa meluruskan semua ini kepada Kakak,” ujar Michael berpendapat. Bukannya apa, dia hanya ingin rumah tangga kakaknya juga aman dan damai.
“ Mike! Aku rasa itu tidak perlu! Kak Marcel itu pasti sudah memikirkan semua itu. Menurutku, kita fokus saja dengan keluarga kita. Rumit juga kalau kita ikut campur, bukan?” Michelle memberi saran dan itu membuat Michael terdiam sambil berpikir sejenak.
“ Ah, benar juga ya! Aku harap, tidak ada lagi masalah yang melanda keluarga Buana.” Michael hanya bisa berharap.
“ Michie, aku pergi bekerja dulu ya! Karena tidak ada Kakak, aku harus melakukan semuanya sendiri. Sampai nanti!” pamitnya sambil mengecup kepala istri tercintanya. Setelah Michael pergi, Michelle menyeringai licik.
‘ Tanpa campur tanganku pun, Mbak Kaela sudah hancur! Ah, aku akan semakin mengacaukan mereka!’ batinnya.