Bab 2

Aries mengerutkan keningnya, apakah dia bermimpi mendengar yang Alin katakan? Wanita yang mati-matian memintanya untuk menjadikan dia satu-satunya milik ternyata dengan begitu entengnya mengatakan ingin dia kembali bersama dengan Elisa.

Apa Alin waras? Atau justru wanita itu telah merencanakan sesuatu dibalik keikhlasannya memberikan kesempatan untuknya kembali lagi bersama dengan Elisa.

"Jangan menatapku curiga seperti itu? Aku serius dengan ucapanku. Aku sadar jika hatimu bukanlah untukku, melainkan untuk Elisa. Aku menjadi orang ketiga di dalam rumah tangga kalian, menusuk sahabatku sendiri dari belakang. Aku dengan teganya merebut pria yang Elisa cintai, sekarang aku sadar dan aku ingin mengembalikan keadaan menjadi seperti semula lagi," ujar Alin menjelaskan seolah dia mengerti dengan yang dipikirkan oleh Aries tentang dirinya.

Aries menatap lekat wajah Alin. Mencari kebohongan atas setiap kata yang terlontar dari mulut wanita itu padanya.

Perselingkuhan di antara dirinya dan juga Alin bukanlah sepenuhnya kesalahan wanita itu. Dia pun turut bersalah karena sebagai seorang pria, dia tak bisa setia pada satu orang wanita.

Nafsu belaka yang dia rasakan pada Alin, kini telah menghancurkan segala mimpi yang dirajut bersama dengan Elisa dulu. Menyesal itulah yang Aries rasakan. Ingin rasanya mengembalikan keadaan seperti dulu lagi, dimana dirinya dan Elisa merajut rumah tangga bahagia, sedangkan Alin hanyalah orang asing yang dibantu oleh sang istri dan memberikan tumpangan pada Alin untuk tinggal di rumah mereka.

"Apa kamu benar-benar ingin mengembalikan keadaan seperti dulu lagi Alin? Dimana aku bersama dengan Elisa dan kamu bukan siapa-siapa bagi kami berdua?" tanya Aries.

"Jika itu bisa membuatmu bahagia, maka aku akan melakukannya. Aku ingin menebus kesalahan yang pernah aku lakukan pada sahabatku," jawab Alin dengan yakin.

Sekarang Aries yang menjadi serba salah saat mendengar yang dikatakan oleh Alin barusan. Apa dia menjadi orang yang jahat, mengorbankan Alin demi kebahagiaannya?

Tapi sejak dari awal, seharusnya hubungannya dan Alin tidak pernah terjadi. Aries tahu semua itu salah, tapi dia tetap melanjutkan hubungan terlarang itu. Jika sudah seperti ini, siapa yang harus disalahkan. Dirinya atau Alin? Atau mereka berdua memang sama-sama telah bersalah.

"Mas, aku tidak pernah memilih pada siapa cintaku ini berlabuh. Tapi dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku tidak pernah merasa menyesali telah mencintai pria sepertimu Mas. Walaupun aku tahu, awal dari hubungan kita itu memang salah," ucap Alin.

Alin meraih tangan Aries, mengusap punggung tangan pria itu dengan lembut. Alin terisak, dia menatap lekat wajah Aries yang tak ingin menatap dirinya.

"Aku setuju jika kamu menceraikan aku, setelah bayi ini lahir aku benar-benar akan pergi dari kehidupanmu Mas. Aku berjanji tidak akan pernah mengganggumu ataupun Elisa lagi. Tapi jika boleh aku ingin meminta satu hal padamu, selama hubungan kita masih berstatus sebagai suami istri, tolong perlakukan aku dengan baik selayaknya seorang Istri sama seperti dulu kamu memperlakukanku Mas," ujar Alin.

Aries menghembuskan napas kasar, sadar jika saat ini Alin memang membutuhkan perhatian darinya sebagai seorang suami. Aries seharusnya tidak egois, di dalam kandungan Alin ada anaknya dan dia harus memperhatikan darah dagingnya terlepas dari bagaimana perasaannya pada Alin saat ini.

"Maafkan aku Alin. Maaf karena aku telah menyakitimu," kata Aries.

Alin tersenyum, "Tidak apa-apa Mas. Beri aku kesempatan untuk merasakan menjadi istrimu sampai perpisahan di antara kita benar-benar akan terjadi," kata Alin.

Tanpa menjawab, Aries menarik Elisa ke dalam pelukannya. Bingung harus bereaksi bagaimana, hatinya tidak ingin kembali lagi bersama dengan Alin. Tapi tanggung jawabnya sebagai seorang suami dan juga calon ayah, membuat perasaannya menjadi serba salah sekarang.

"Aku akan berusaha, tapi aku minta padamu Alin. Tolong jangan lagi menganggu Elisa, biarkan dia hidup dengan tenang," ucap Aries memperingati.

"Iya Mas, aku tidak akan pernah menganggu Elisa lagi. Aku tidak akan mengecewakanmu."

Alin berkata dengan sungguh-sungguh, dia memeluk buku Aries. Tentu saja dia tidak akan mengganggu karena bukan dirinya yang akan menangani wanita itu. Tapi ada orang lain yang akan membalaskan rasa sakit hatinya pada Elisa, karena lagi-lagi wanita itu menjadi penghalang untuk dia bisa memiliki Aries seutuhnya.

***

Neta kini dipanggil untuk datang oleh Alvaro ke rumahnya. Masih ada hal yang mengganjal dipikirkannya, dan harus dia tanyakan pada wanita itu.

Alvaro tidak ingin menuduh, tapi dia hanya ingin memperingati saja. Jangan sampai Neta membocorkan dimana dia dan Elisa sekarang tinggal pada orang lain.

"Al, aku minta maaf. Bukan maksudku untuk berkata lancang. Hanya saja aku ..."

"Katakan saja Net, apa kamu yang memberitahu pada Aries di mana kita tinggal sekarang?" desak Alvaro meminta Neta untuk mengakui semuanya.

Neta menganggukkan kepalanya pelan, tidak memiliki pilihan lain lagi selain mengakui kesalahan yang dia lakukan pada Elisa dan juga Alvaro.

Dia memang bersalah, tapi tidak pernah bermaksud untuk memberikan peluang pada Aries mendekati Elisa lagi. Neta hanya ingin Aries dan Elisa menyelesaikan masalah yang terjadi di antara keduanya.

Tapi Neta tidak menyangka niat baiknya tidak sebaik yang terjadi. Ia berpikir Aries memang benar-benar ingin menyelesaikan masalahnya dengan Elisa dan meminta maaf pada wanita itu atas apa yang dilakukan. Namun, nyatanya Aries datang untuk meminta Elisa kembali lagi bersama dengannya.

"Al, maaf ... Aku memang memberitahu Aries alamat rumah kalian. Aku bermaksud baik dan tidak menyangka Aries menginginkan hal lain, bukan untuk meminta maaf padamu," sesal Neta.

"Tapi Net, tidak seharusnya kamu melakukan semua itu. Kamu sadar karena sikap lancangmu itu, Aries ..."

"Al." Elisa menegur, tidak ingin sampai Alvaro tidak bisa mengendalikan emosinya dan sampai mengatakan hal-hal yang buruk pada Neta.

Alvaro berdecak kesal, ingin rasanya dia marah pada Neta. Tapi sadar jika Neta adalah orang yang selama ini membantunya dan Elisa.

Tidak ada gunanya juga jika dia marah pada wanita itu, Aries sudah tahu di mana mereka tinggal sekarang. Tidak ingin bersembunyi terus dan menghindar dari Aries, Alvaro akan menghadapi pria itu dan memperketat penjagaan pada Elisa demi menghindari kegilaan Alin yang bisa saja mencelakakan Elisa lebih dari yang pernah wanita itu lakukan.

"Aku minta maaf Elis, Al," ujar Neta tak henti-hentinya mengucapkan kata maaf karena dirinya, Aries kembali membuat ulah dengan ingin menghancurkan hubungan Elisa dan Alvaro.

Hubungan yang dengan susah payah, Alvaro bangun demi mendapatkan kepercayaan dari seorang Elisa, wanita yang pernah tersakiti karena pernikahan yang dijalinnya dengan Aries.

"Sudahlah Net, jangan meminta maaf seperti itu terus. Semua sudah terjadi dan yang terjadi bukan sepenuhnya kesalahan dirimu," kata Elisa menenangkan Neta dan meyakinkan wanita itu jika semuanya akan baik-baik saja.

"Elisa benar Net. Kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Untuk masalah Aries sepertinya aku sudah tidak bisa menghindar lagi, aku akan menghadapinya," ujar Alvaro.

Bab 3

"Sepertinya kamu masih memiliki nyali untuk bertemu denganku setelah apa yang telah kamu lakukan Alvaro. Menyembunyikan Elisa secara diam-diam dariku," sindir Aries.

"Kamu tahu jelas apa alasanku melakukan itu semua. Jika bukan karena istrimu itu, aku tidak akan menyembunyikan Elisa. Alin telah menyakiti Elisa dan membuatnya hampir saja kehilangan nyawa, bahkan anak yang dikandung olehnya," kata Alvaro membalas telak ucapan yang terlontar dari mulut Aries.

Aries tersenyum sinis, pantas saja Alvaro merasa kehilangan dengan bayi yang saat ini dikandung oleh Elisa karena anak yang dikandung oleh istrinya itu adalah darah dagingnya Alvaro.

Ingin sekali Aries menghabisi Alvaro saat mengingat tentang kenyataan jika Elisa mengandung darah daging dari orang lain.

"Itu semua kamu lakukan karena kamu memang mencintai Elisa, atau merasa bertanggung jawab atas yang terjadi pada?" Aries sinis.

"Aku paham kamu khawatir, karena Elisa memang mengandung anakmu," sahutnya lagi.

Alvaro tertawa, menertawakan kebodohan seorang Aries yang merupakan pengusaha ternama, terkenal pintar namun bodoh untuk mengungkapkan suatu kenyataan dan melihat kebenaran yang ada di depan matanya.

"Jika Elisa memang mengandung anakku saat itu. Aku pasti sudah membunuhmu saat Elisa kehilangan janinnya," cibir Alvaro.

"Apa maksudmu?" Aries menatap tajam Alvaro.

Alvaro tertawa, "Haruskah aku bahagia atau tidak saat Elisa kehilangan janin yang dia kandung?" tanya Alvaro. Terdengar jahat, tapi semua itu sengaja dia lakukan untuk membuat Aries sadar, akan kesalahannya.

"Apa maksudmu?" Lagi-lagi hanya itu yang dapat Aries katakan.

"Bukannya maksudku sudah jelas, dengan hilangnya janin yang dikandung Elisa berarti saat itu juga dia melepas semua kenangan yang menyangkut tentang dirimu. Termasuk darah dagingmu yang ada di dalam rahimnya," ungkap Alvaro.

"Cih, kamu sengaja mengatakan hal itu semua untuk membuatku menyesali semuanya? Aku tidak akan mudah percaya dengan semua tipu muslihatmu Alvaro," tawa Aries, ia berusaha untuk menyembunyikan ketakutan dan juga kekhawatirannya.

Bagaimana jika apa yang Alvaro katakan itu benar, janin yang dikandung oleh Elisa waktu itu adalah darah dagingnya. Berarti secara langsung, dia telah menelantarkan anaknya sendiri.

"Untuk apa aku melakukan semua itu? Aku hanya ingin kamu tahu kenyataan dan juga kebenarannya Aries. Walaupun setelah kamu mengetahui semuanya, keadaan tidak akan lagi menjadi sama. Elisa sekarang sudah menjadi milikku, dan kamu tidak akan bisa mengambilnya lagi dari tanganku," ujar Alvaro tersenyum mengejek pria di hadapannya.

Aries menggeleng, "Tutup mulutmu!"

Menyesal, apa sekarang dia merasakan hal itu? Aries menyesali semuanya? Ini tidak mungkin, dia tidak sebodoh itu. Percaya begitu saja pada apa yang Alvaro katakan. Pria itu pasti sengaja membuatnya marah, merasa menang karena saat ini berhasil merebut Elisa darinya.

"Kenapa? Apa sekarang kamu menyesal?" tanya Alvaro.

"Tidak pernah ada penyesalan di dalam hidupku," jawab Aries.

Alvaro mengangguk, memang tidak ada gunanya bicara dengan Aries. Pria itu mempertahankan prinsipnya walaupun itu salah. Tapi, Alvaro tidak ingin perduli dengan hidup Aries, yang harus dia pastikan saat ini jangan sampai Aries mengganggu lagi hidup Elisa.

Alvaro tidak ingin Aries atau pun Alin mendekati Elisa lagi. Jika sampai hal bodoh yang Alin lakukan pada Elisa terulang lagi, maka Alvaro tidak akan segan-segan untuk menghabisi nyawa Alin jika sampai wanita itu berani menyentuh kekasihnya.

"Setidaknya aku masih menghargaimu sebagai mantan sahabatku Aries. Aku datang untuk memperingatimu sekali lagi, jangan pernah mendekati Elisa untuk alasan apapun. Aku tidak ingin kamu menemuinya lagi seperti yang kamu lakukan tempo hari," ucap Alvaro memberikan peringatan pada Aries.

"Kenapa? Apa sekarang kamu sendiri yang takut Elisa meninggalkanmu dan kembali lagi bersama denganku?" ujar Aries.

"Jangan mencoba untuk menantangku Aries?!" geram Alvaro.

"Aku tidak menantangmu, aku hanya bicara sesuai kenyataan Alvaro. Lima tahun Elisa bersama denganku, tidak mungkin semudah itu dia melupakan aku," kata Aries.

Tak bisa dipungkiri oleh Alvaro, lima tahun kebersamaan Elisa dan Aries tidak akan semudah itu dilupakan. Tapi, Alvaro percaya pada kesetiaan Elisa, wanita itu tidak akan mungkin mengkhianatinya.

"Aku takut kamu akan kecewa Aries," balas Alvaro dengan sengit.

Setelah apa yang dilakukan olehnya pada Elisa, berani sekali Aries berkata dengan sangat yakin seperti itu, berkata dengan begitu percaya dirinya jika Elisa tidak akan semudah itu melupakan dirinya yang jelas-jelas telah menyakiti hati wanita itu selama berbulan-bulan lamanya.

"Kita lihat saja nanti Aries. Apa aku atau kamu yang akan kecewa saat Elisa memutuskan untuk kembali lagi bersama denganku. Aku bersumpah akan merebut Elisa dari tanganmu, sama seperti apa yang pernah aku lakukan dulu," kata Aries dengan sangat yakin jika Elisa masih mencintai dirinya.

Saat ini Elisa hanya marah kepadanya, tak pernah bermaksud wanita itu untuk pergi apalagi berpisah dengan dirinya. Elisa hanya ingin menenangkan dirinya, masih marah atas sikapnya yang telah menduakan wanita itu dengan sahabatnya sendiri.

Tapi Aries percaya, setelah amarah Elisa meredah wanita itu akan kembali lagi bersama dengannya seperti dulu. Aries percaya pada cinta Elisa padanya.

"Waktu itu pasti akan tiba, dan aku merasa tidak sabar melihat wajah kekalahanmu untuk yang kedua kalinya," ejek Aries.

"Apa kamu yakin aku pun akan mengalah seperti dulu lagi?"

"Kenapa tidak? Dari dulu kamu tetap sama Alvaro, kamu tidak akan pernah bisa melawanku. Baik kita bersaing secara sehat, atau pun secara licik," ucap Aries.

"Iya kamu benar, aku tidak akan pernah bisa melawanmu dalam hal apapun," ucap Alvaro membiarkan Aries membanggakan dirinya sendiri.

Tapi satu hal yang harus Aries tahu, tak selamanya kebahagiaan yang dia dapatkan dengan cara yang salah dan juga licik, selamanya akan berakhir dengan bahagia.

Lima tahun kebahagiaan itu ternyata dengan begitu mudahnya dihancurkan, bahkan oleh dirinya sendiri.

"Sebelum kamu sibuk mengurus kekasihku. Lebih baik kamu cari bukti tentang kebenaran siapa istrimu itu," ujar Alvaro.

Sebelum pergi, Alvaro mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya untuk dia berikan pada Aries. Daripada pria itu sibuk mengurus urusannya dengan Elisa, lebih baik pria itu menyelsaikan masalahnya sendiri dengan Alin.

"Buka lah Aries, anggap saja ini sebagai bentuk kebaikan hatiku padamu," ujar Alvaro.

Alvaro menepuk pelan bahu Aries, seperti yang Elisa katakan. Tidak ada gunanya dia bertengkar ataupun bermusuhan dengan Aries hanya karena dirinya. Untuk saat ini Elisa adalah miliknya, dan tak ada lagi yang Alvaro takutkan tentang hal itu semua.

"Apa ini?" Aries meraih amplop coklat yang ditinggal oleh Alvaro di depannya.

Meskipun enggan untuk menyentuh amplop itu, tapi Aries merasa penasaran dengan isi di dalam benda berwarna coklat itu.

Dengan rasa penasaran yang tinggi, Aries membuka amplop di tangannya, melihat apa isi di dalam amplop tersebut.

"Apa-apaan ini?"

Aries menggeram kesal, emosinya meluap tak bisa terbendung lagi saat mendapati kenyataan yang diperlihatkan oleh Alvaro di hadapan matanya.

Sungguh selama ini dia memelihara ular di rumahnya, memberikan kehidupan mewah dan juga nyaman pada seseorang yang tak pantas mendapatkan kebaikan hatinya.

Aries bersumpah akan membalas Alin, dan membuat wanita itu menyesal selamanya.

### Tamat ####

Balas dendam Aries pada Alin akan dilanjutkan di buku yang lain ya, juga tentang hubungan percintaan Elisa dan Alvaro. Ikuti kisah mereka berempat di buku berikutnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED