“Fit, kok kamu sekarang seneng pake daster mini gitu sih?” tegur Mas Panji saat memergoki aku sedang mengenakan daster mini sewaktu mengerjakan pekerjaan rumah. Sebenarnya aku juga kaget dan tak menduga setelah berangkat kerja dia malah kembali lagi ke rumah. Tak biasanya ada sesuatu yang ketinggalan.
“Ribet Mas kalau kerja di dapur pake daster yang panjang dan tertutup,” jawabku beralasan.
“Kamu kan biasanya juga pake yang panjang?” Mas Panji kurang senang.
“Mas, kan aku pake pakaian begini hanya dalam rumah aja. Kalau ke warung atau keluar, gak mungkin juga make daster minim begini,” tambahku untuk meyakinkan dustaku agar Mas Panji tidak terus-terusan mempertanyakan perubahan cara berpakaianku saat dia tidak ada di dekatku.
“Iya sih, tapi kan di rumah kadang masih ada ayah, Fit,” sanggah suamiku yang sepertinya masih tetap tidak suka dengan cara berpakaianku.
“Ya ampun Mas, memangnya kenapa dengan ayahmu? Toh aku juga sudah menganggap beliau ayah kandungku. Mana mungkin dia juga berani kurang ajar sama menantunya. Ayah itu seorang yang religus, bahkan sering disebut Pak Ustad sama tetangga. Kamu tu ngaco aja.”
“Fit, setan itu gak kenal sama namanya orang soleh atau solehah, bagi mereka semua manusia itu wajib digoda hingga masuk dalam jajarannya. Ayah juga lelaki normal, Fit.” Mas Panji tetap tidak suka.
“Mas, coba deh perhatiin ayahmu. Beliau juga sepertinya cuek-cuek aja kalau liat aku pake dater begini. Mas kok ada-ada saja sih. Curiga kok sama ayah sendiri, heheheh.” Aku terus berusaha meyakinkan Mas Panji hingga akhirnya dia pun bisa menerima alasanku dengan senyum manisnya.
Jujur saja, aku ingin tertawa ngakak. Mas Panji sering menyuruh atau bajkan memintaku untuk coba-coba menggoda lelaki lain. Namun dalam kenyataannya melihatku berpakaian sedikit seksi dan minim aja, dia sudah kelabakan dan merasa cemburu. Terlihat sekali sikap tidak suka dan posesivenya.
Benar dugaanku jika keinginan anehnya itu benar-benar hanya sebatas kata-kata. Tak bisa kubayangakan bila benar hal itu terjadi, atau seenggaknya aku turuti, mungkin dia akan membunuhku dan lelaki yang meniduri itu. Untung saja aku tidak termakasn dalam jebakannya.
Namun demikian aku semakin senang karena tahu jika suamiku benar-benar bucin dan posesive akut terhadapku. Hampir setiap hari dia selalu mengingatkan aku agar jangan pernah coba-coba berpakaian minim saat sedang berada di luar rumah. Aku pun senantiasa menurutinya. Karena memang aku sendiri tidak ingin digoda lelaki sembarangan. Aku hanya ingin menggoda ayah mertuaku.
Ya obsesiku pada ayah mertuaku semakin hari semakin menggila. Sementara Pak Dahlan sendiri sepertinya sama sekali tidak tertarik dengan diriku. Apakah ibu mertuaku yang sudah setengah abad itu terlalu syuliiit untuk dilupakan, sehingga tak pernah ada sedikit pun niatan ayah mertuaku untuk mengalihkan dunianya kepadaku. Kurang apa aku ini? Menantunya yang paling cantik, muda dan seksi pula.
Ah sudahlah!
Setelah cukup lama terobsesi dalam fantasi gila yang mengombang-ambingkan diriku dalam ketidakpastian dan kegaulauan tingkat dewa, akhirnya secara diam-siam aku merancang strategi baru. Memutuskan untuk mulai memercikan bara api syahwat pada ayah mertuaku dengan cara-cara yang lebih ekstrem. Lebih tepatnya mulai melancarkan godaan-godaan yang lebih frontal.
Jarak rumah dengan kantor tempat Mas Panji bekerja cukup jauh. Dia selalu berangkat kerja sekitar pukul setengah tujuh pagi. Ibu mertuaku berangkat ke rumah makannya kurang lebih setengah jam kemudian. Terkadang juga berangkat bareng dengan Mas Panji karena searah. Sementara Pak Dahlan, biasanya berangkat kerja sekitar pukul jam sembilan pagi karena kantornya tidak terlalu jauh dari rumah, bahkan bisa ditempuh dengan jalan kaki.
Mempelajari dan melihat rutinitas orang-orang rumah seperti itu, aku mulai berpikir untuk menggoda ayah mertuaku pada pagi hari, tepatnya setelah suami dan ibu mertuaku berangkat kerja. Ya aku rasa, waktu yang tersisa dua jam itu sangat bisa kumanfaatkan dengan maksimal untuk menjalankan segala rancangan dan ide-ide gilaku dalam menaklukan Pak Dahlan, sang ayah mertua soleh nan kharismatik itu.
Ya aku memang sudah makin gelap mata. Semakin hari semakin menggila. Bayangan rudal ayah mertuaku yang tampak besar, panjang dan seksi selalu menggoda jiwaku. Bahkan sudah mulai mengalahkan gairahku terhadap suamiku. Terlebih lagi dalam beberapa bulan terakhir, Mas Panji sudah mulai sedikit lalai dalam menjalankan kewajibannya karena sibuk dengan kerjanya. Dia seolah melupakan jika Fitri, istri tercintanya ini seorang wanita yang meledak-ledak hasrat seksualnya bahkan cenderung hyper.
Pagi itu. Setelah Mas Panji dan Bu Marni berangkat kerja, aku yang semula mengenakan daster panjang, langsung menggantinya dengan daster berukuran yang jauh lebih mini dari biasanya dan berbahan katun tipis dengan bukaan leher yang lebar. Aku yakin, dengan penampilan yang semakin berani ini akan mampu menggoda dan menaklukkan ayah mertuaku.
Aku memang sengaja membeli pakaian-pakaian minim dan murahan, tanpa sepengetahuan suamiku karan kusimpan di tempat rahasia dan hanya akan aku pakai saat dia sudah berangkat kerja. Dengan pakaian super mini seperti aku akan makin leluasa melancarkan aksi menggodaan yang kuharap bisa lebih menyedot perhatian ayah mertuaku.
Bagaimana tidak? Ketika sedang menyapu, sengaja aku membungkuk dan setengah nungging, terutama saat membersihkan kolong-kolong furniture, tentu saja mempertontonkan gelantungan bukit kembar di dadaku serta bongkahan pantat seksiku. Ketika sedang mengepel lantai, aku pun selalu berjongkok memperlihatkan bagian dalam paha dan celana dalam miniku.
Ketika mencuci pakaian, aku pun sering tidak memakai beha, dan sengaja membasahi bagian atasan dasterku agar bisa memperlihatkan bentuk payudaraku dalam siluet basah. Pada saat menjemur cucian, aku sengaja memilih lokasi yang terkena sinar matahari, supaya bisa menampilkan siluet yang menerawang pada seluruh lekuk tubuhku pada Pak Dahlan yang biasanya memperjatikan aku dari ruang keluarga.
Semua itu aku lakukan demi satu tujuan, mendapat perhatian khusus dari ayah mertuaku. Dan ternyata lambat laun hasilnya pun sudah mulai kurasakan. Memang betul pepatah mengatakan ‘Tidak ada usaha yang mengkhianati hasilnya.’
Setiap kali aku melakukan pekerjaan rumah dengan cara-cara yang super erotis dan menggoda itu, aku mulai sering mendapati Pak Dahlan curi-curi pandang mengintipku. Dan ketika aku berpura-pura tak sengaja melirik ke arahnya, beliau pun langsung buru-buru mengalihkan pandangannya ke tempat lain sambil mesem-mesem.
Pernah juga aku melihat dia membetulkan selangkangannya saat aku sedang mengepel dalam posisi semi nungging di depannya. Entah apa yang ada dalam benaknya setiap kali menyaksikan aksi super nekad itu. Namun yang pasti aku sangat yakin dia mulai menikmati pertunjukan yang nyaris tiap pagi aku pertontonkan kepadanya.
Perubahan sikap lainnya, Pak Dahlan kini lebih sering berdiam diri di halaman samping ketika aku sedang beraktivitas di dalam ruangan. Sepertinya beliau mulai tak tahan dengan godaan-godaanku dan berusaha menghindarnya. Namun aku yang sudah merasa kepalang tanggung berbuat, tidak mungkin menghentikannya. Aku pun makin berani berpakaian minim mondar-mandir keluar masuk rumah.
Cukup sering aku melakukan kegiatan tak senonoh itu yang lambat laun juga mulai menjadi sebuah rutinitas yang benar-benar kunikmati dengan sepenuh hati. Dan sepertinya ayah mertuaku juga sudah mulai mengaggapnya biasa. Bahkan tak jarang dia tersenyum penuh misteri saat beradu pandang denganku. Berbeda dengan saat Mas Panji dan Bu Murni sedang ada di rumah.
Dadaku semakin berdebar-debar dan tak sabar menunggu hasil selanjutnya. Setiap melihat senyum menawan penuh misteri dari ayah mertuaku itu, aku memiliki kepuasan tersendiri yang sangat susah untuk aku ungkapkan. Aku benar-benar seperti abegeh yang sedang kasmaran atau jatuh cinta pada seorang lelaki pujaan hati yang sudah lama diidam-idamkan dan lelaki itu mulai memberikan tanda-tandanya, sehingga aku sangat meyakini ayah mertuaku yang taat beribadah itu pun mulai terbawa arus permainanku dan menikmatinya.
Hari-hari selanjutnya aku semakin sering memergoki ayah mertuaku yang sedang sangat intens menatap sekujur tubuhku. Aku selalu membiarkannya sambil berpura-pura tak sadar sedang diperhatikan, hingga dia mengalihkan sendiri pandangannya ke tempat lain, sambil membetulkan selangkangannya.
Aku mulai merasakan tatapan mertuaku itu penuh dengan birahi. Namun sepertinya dia masih sangat ragu dan malu-malu untuk mengekspresikannya atau bahkan meladeni sinyal-sinyal kuat yang senantiasa kutunjukan padanya. Dan akibat dari kegilaan itu aku pun terkena dampak yang yang luar biasa dahsyatnya. Saat sedang disetubuhi Mas Panji gairahku sangat berkobar-kobar.
Khayalan dan imajinasiku tentang Pak Dahlan terasa semakin menggila dan sempurna. Bayangan ayah mertuaku benar-benar terasa nyata, Namun sayang suamiku semakin lama semakin mengecewakan. Sebenarnya Mas Panji tidak berubah tetap perkasa di atas ranjang, hanya saja aku yang justru berubah. Aku menginginkan yang lebih darinya agar aku bisa lebih puas.
Akhirnya aku mulai sering masturbasi dengan membayangkan ayah mertuaku, ketika Mas Panji sudah benar-benar tidak lagi bisa memberikan kepuasan sebagaimana yang aku inginkan. Aku ingin diperlakukan lebih kasar, binal dan jalang, namun justru Mas Panji malah memperlakukan aku laksana putri keraton dengan segala kelemah lembutannya.
Sepertinya aku sudah mulai harus melakukan sesuatu yang lebih ekstrim lagi. Ya, aku harus lebih berani melakukan sesuatu yang jauh lebih binal lagi di depan ayah mertuaku agar dia semakin yakin jika aku memang sangat ingin disetubuhinya. Rupanya kode keras yang selama ini aku kirimkan, masih dirasa belum keras. Atau jangan-jangan Pak Dahlan ingin mengajakku bercinta di tempat lain?
Ah aku makin tersika dan tak mengerti dengan sikap ayah mertuaku yang sangat kukuh dengan pendiriannya. Aku benci dengan lelaki yang terlalu sok munafik seperti itu. Aku sudah tak sabar ingin segera membuat ayah mertuaku benar-benar tertarik dan tunduk padaku.
Aku ingin segera mendapatkan kehangatan dan kepuasan darinya, seperti yang kubayangkan selama ini. Aku ingin segera membawanya masuk ke dalam dekapanku secara nyata dan membuatnya ketagihan dengan permainan ranjangku.
Gairahku semakin hari semakin bertambah, dan aku semakin senang karena semua yang kulakukan sama sekali tidak terdeksi oleh siapapun. Tidak pernah menimbulkan kecurigaan bagi ibu mertua juga suamiku. Aku dan ayah mertuaku pun seperti sepakat untuk saling menutupi semuanya dengan cara tetap bersikap wajar dan normal di depan mereka.
Namun sejujurnya, kini aku pun mulai terombang-ambing kembali dengan perasaanku sendiri. Sepertinya ayah mertuaku pun hanya sebatas mengagumi tanpa berani bertindak, padahal tingkat kenekatanku sudah semakin jauh. Aku pun terus memeras otak agar bisa menemukan formula khusus untuk segera membawa ayah mertuaku naik ke ranjang pengantinku. Kalau perlu dia sendiri yang memaksa dan memperkosaku.
Waktu terus berlalu dan aku pun mulai bosan dan frustasi dengan segala upaya gilaku yang hanya sebatas itu tingkat keberhasilannya. Pak Dhalan benar-benar hanya sampai mengagumiku tanpa berniat berbuat lebih jauh dari itu. Aku pun segera mengurangi segala aktivitas gilaku dan kembali fokus dengan urusanku dan urusan suamiku. Mengubur dalam-dalam obsesi gilaku tentang mertuaku.
Aku tidak ingin mendewakan harapan yang hanya tinggal harapan. Namun ternyata upayaku untuk kembali normal pun sama susahnya.
Walau ayah mertuaku sepertinya mulai tak acuh lagi dengan diriku, dan aku pun mulai menyerah pasrah. Namun beberapa minggu berikutnya otakku kembali terganggu. Terus berpikir menyusun rencana bru dan mengubah strategi sekaligus menambah keberanian diri dalam menggodanya dengan cara-cara yang lebih frontal.
Entahlah aku sendiri tidak tahu seperti apa cara-cara yang sangat frontal itu. Sepertinya aku memang ditakdirkan gagal dalam menggoda dan menaklukkan ayah mertuaku yang soleh dan kahrismatik ini. Jauh lebih susah dibandingkan menaklukan kepala sekolah SMA-ku dulu. Sungguh sangat malang nasibku ini. tergila-gila oleh metua soleh yang harus rela tak mendapatkan balasan. Atiiitnya tak bisa kukatan lagi.
Hari ini, udara dingin dalam cuaca mendung yang sangat menyesakkan. Sudah dua hari matahari enggan untuk menampakkan sinarnya. Angin kencang menggoyang daun-daun kering yang tampak ringkih bertahan di dahan. Hari-hari di bulan Desember memang selalu basah dan gelap.
“Fit, mas berangkat kerja dulu, Sayang,” ucap Mas Panji saat dirinya sudah siap berangkat kerja. Dan menyodorkan tangan kanannya untuk aku cium.
“Hati-hati di jalan, jangan ngebut ya, Sayang,” balasku setelah mencium punggung tangannya. Mas Panji pun lalu memeluk kepala dan mencium keningku. Hal rutin yang biasa kami lakukan setiap hari. Itu pun kami contoh dari kedua mertuaku.
Mas Panji terlihat sangat ganteng pagi ini. Postur tubuhnya tampak kekar berisi dengan kemeja yang agak ketat. Celana bahan berwana cream serta sepatu hitam dan tas kerja kulitnya semakin menambah ketrendyannya. Mas Panji sejak dulu terkenal sangat pandai berdandan dan rajin merawat diri. Rambutnya yang hitam lurus selalu tertata rapi dengan sempurna.
“Ih, Mas Panji nakal deh.” Aku sedikit mengerling manja sambil berusaha melepasakan tangannya dari bongkahan pantatku. Aku yakin Pak Dahlan yang sedang menonton televisi di ruang keluarga pasti melihat tingkah nakal anaknya.
“Kamu cantik sekali hari ini, Fit.” Laki-laki yang tadi malam gagal memuaskan hasrat seksualku itu kembali mengecup pipi dan bibirku. Mungkin sebagai ungkapan permintaan maafnya atas kegagalannya itu.
“Sudah siang, Mas, ayo berangkat!” Aku mengingatkan suamiku, karena kalau dibiarkan, dia biasanya akan terus menggodaku. Entah mengapa sekarang aku menjadi merasa risih dengan sikap Mas Panji yang terlalu mesra. Terutama bila di depan Pak Dahlan.
“Hati-hati di rumah ya, Sayang. Jangan pakai pakaian yang terlalu minim kalau keluar.” Pesan Mas Panji yang tidak pernah berubah, setiap hari mengingatkan aku. Dan aku pun hanya membalasanya dengan anggukan kecil sambil tersenyum.
“Jangan malam-malam pulangnya, Mas.” Aku pun memberi pesan terakhir saat Mas Panji sudah duduk di belakang kemudi mobilnya. Ibu mertuaku pun ikut bareng dengannya.
Setelah Mas Panji dan Bu Marni berangkat kerja, aku pun segera menganti pakainku menjadi jauh lebih seksi dan minim. Pak Dahlan sedang menonton acara kegemarannya di televisi dan ketika dia sedang asyik-asyiknya menonton, aku pun segaja lewat mondar-mandir di hadapannya ke dapur dan ke kamar.
Saat amsuk kamar, sengaja aku membiarkan pintu kamar sedikit terbuka. Setelah berada dalam kamar, aku berjalan mondar-mandir dengan harapan ayah mertuaku mengetahui jika aku sedang sibuk dengan aktifitasku.
‘Yes!’ aku berseru dalam hati, setelah menyadari jika ayah mertuaku mulai memperhatikan kesibukanku di dalam kamar. Bibirku tersenyum mesum karena apa yang aku rencanakan berjalan sebagaimana mestinya.
Dan inilah waktu yang tepat bagiku untuk memulai aksi yang lebih gila dalam menggodanya. Ini akan menjadi pertunjukan perdana yang benar-benar mendebarkan.
Mula-mula aku memposisikan tubuhku membelakangi pintu kamar yang sedikit terbuka. Lalu aku membuka daster pendekku yang basah karena sengaja saat masuk kamar mandi aku basahi seperti saat aku selesai mencuci pakaian.
Aku mengangkat ujung bawah daster basahku hingga naik melewati kepalaku. Dan semua aku lakukan dengan gerakan yang benar-benar lambat, layaknya gerakan slow mostion di film-film. Sesekali aku mengerakan pinggang dan pinggulku dengan cara bergoyang tipis-tipis.
Setelah dasterku terlepas, aku pun tidak lantas meletakkannya di tempat cucian kotor yang ada di sudut kamar.
Aku berdiam diri untuk beberapa saat sambil tetap membelakangi pintu kamar memamerkan tubuh bagian belakangku yang hanya tertutup celana dalam dan beha pada ayah mertuaku yang aku yakini saat ini sedang menginipku dari ruang menontonya.
‘Pak Dahlan, silakan nikmati komelakan dan keindahan tubuh setengah telanjang menantumu ini,’ ucap nakalku dalam hati.
Lalu kemudian aku pun kembali mondar-madir seperti tadi, dengan harapan agar ayah mertuaku melihat sekujur tubuhku dengan leluasa dan aku tetap berpura-pura tidak tahu. Aku sangat yakin kalau dia sudah tidak berkonsentrasi lagi dengan acara yang ditontonya di televisi.
Aha sungguh tak sabar ingin sekali melihat bagaimana ekspresi wajah ayah mertuaku saat bisa melihat tubuh belakangku yang setengah telanjang ini.