Kaluna meletakkan selembar kertas di meja kerja sang Manajer restoran. Dengan hati yang berat, ia berkata, "Saya ingin mengajukan pengunduran diri, Pak. Terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan selama ini."
Manajer restoran itu menatapnya sejenak, terkejut dengan keputusan mendadak tersebut.
"Kenapa? Ada masalah apa? Kamu bisa ceritakan, kita bisa coba cari solusi."
Kaluna menggeleng pelan sambil tersenyum manis. "Nggak ada masalah apa-apa, Pak. Saya cuma pengen fokus ke skripsi aja, biar cepat lulus."
Manajer itu tampak merenung sejenak, lalu menghela napas. "Baiklah, kalau begitu. Saya mengerti, skripsi itu memang penting. Kamu sudah memberikan kontribusi yang baik di sini, dan kami sangat menghargainya."
Kaluna mengangguk, merasa sedikit lega. "Terima kasih banyak, Pak. Ini bukan keputusan yang mudah bagi saya, tapi saya rasa ini yang terbaik."
Manajer itu tersenyum, meskipun ada kesan kecewa di wajahnya. "Semoga skripsimu berjalan dengan lancar. Jangan ragu untuk kembali jika ada kesempatan."
Kaluna tersenyum tulus, merasa nyaman dengan respon manajernya. "Terima kasih, Pak." Setelah memberikan salam perpisahan, Kaluna keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan campur aduk.
Di luar, teman-temannya sudah menunggu dengan wajah penasaran.
"Lun, kamu habis ngapain?" tanya wanita bertubuh gemuk.
Kaluna tersenyum tipis. "Resign," jawabnya santai, tanpa beban. Mendengar itu, ketiga temannya langsung membulatkan matanya lebar.
"S-serius?" tanya wanita bertubuh pendek dengan wajah tak percaya.
Kaluna hanya mengangguk. Sedetik kemudian, ia langsung berteriak kencang saat mendapat pukulan-pukulan ringan dari ketiga temannya.
"Bisa-bisanya lo resign tanpa kasih tahu kita!"
"Tega-teganya lo ninggalin kita di sini!"
"Katanya pengen ngumpulin banyak uang? Kenapa malah resign, Luna?!"
Kaluna hanya tertawa kecil sambil berusaha menghindar. Kemudian ia berlari keluar dari restoran sembari melambaikan tangannya.
"Bye, guys! Gue mau menjemput rezeki besar!" teriaknya sambil tersenyum lebar.
Teman-temannya hanya memandanginya dengan wajah kecewa sambil menghela napas. Mereka tidak bisa mengerti alasan Kaluna begitu tiba-tiba mengambil keputusan besar seperti itu.
Sementara itu, Kaluna yang sudah mantap dengan keputusannya, naik ke angkutan umum menuju alamat yang ia tuju. Di sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan tentang masa depannya. Namun, kali ini ia merasa lebih tenang, seolah setiap langkah yang diambilnya sudah berada di jalur yang tepat.
Setibanya di tujuan, Kaluna turun dari angkutan umum dan memasuki sebuah perumahan yang sangat sepi. Dengan langkah mantap, ia mendekati salah satu rumah yang terlihat megah dan modern.
"Kayaknya benar deh ini," gumamnya sambil memeriksa kembali alamat yang tertulis di kertas kecil yang ia bawa.
Tak lama kemudian, pintu gerbang terbuka, dan seorang satpam mendekat menghampirinya.
"Permisi, apakah Anda calon ibu susu Tuan muda?" tanya satpam tersebut dengan sopan. Sedangkan Kaluna hanya mengangguk pelan.
"Silakan, ikuti saya. Tuan muda sudah menunggu di dalam," ujar satpam itu sambil membukakan pintu dan mengarahkan Kaluna menuju rumah megah yang ada di depannya.
Setelah melewati pintu utama, Kaluna melangkah masuk ke dalam rumah yang terasa sangat luas dan elegan. Interiornya yang modern dengan sentuhan klasik membuatnya merasa sedikit canggung dan tidak pantas menginjakkan kaki di sini.
"Tuan muda dan Tuan Liam ada di ruang keluarga. Anda bisa berjalan ke sana," "Tuan muda dan Tuan Liam ada di kamar. Anda bisa berjalan ke sana," ujar sang satpam sambil menunjuk ke arah kamar dengan pintu berwarna biru.
Kaluna mengangguk dan melangkah dengan hati-hati. Ia menghela napas berkali-kali karena merasa gugup. Begitu ia memasuki kamar tersebut, suara tangisan bayi yang nyaring langsung menyambutnya.
Ia melangkah lebih dekat dan melihat pria yang ia temui kemarin sedang berusaha menenangkan bayi yang tengah menangis dengan dibantu oleh seorang suster.
Liam yang menyadari kedatangan Kaluna langsung menoleh sambil tersenyum lembut.
"Kemarilah," perintahnya dengan suara tenang.
Kaluna melangkah maju, mendekati Liam dan bayinya yang masih menangis.
"Ini Ibu susu Tuan muda?" tanya sang Suster.
Liam mengangguk, sedangkan Kaluna hanya terdiam.
Suster itu kemudian menyerahkan bayi kecil itu kepadanya dengan lembut. "Tolong disusui sekarang. Dia sudah lapar, semua susu sudah dicoba, tapi tidak ada yang diterima. Siapa tahu susu anda lebih cocok untuknya," ucapnya.
Kaluna mengangguk, lalu dengan hati-hati menerima bayi itu dalam pelukannya. Bayi yang sebelumnya rewel dan menangis kini tampak lebih tenang, memandanginya dengan mata besar yang penasaran.
Melihat ekspresi itu, Kaluna tak bisa menahan tawa kecil. Ia merasa gemas melihat wajah tampan bayi ini. Tanpa sadar, ia mengusap perlahan pipi bayi yang halus itu, seolah berusaha memberi kenyamanan. Dengan hati-hati, ia membawa bayi itu ke kursi yang telah disediakan di dekatnya.
Kaluna duduk dengan perlahan, memastikan agar posisi bayi itu nyaman. Sementara itu, Liam dan sang Suster hanya tersenyum lega melihatnya. Hampir satu jam mereka berusaha menenangkan bayi itu, namun tidak berhasil. Ajaibnya, begitu Kaluna menggendong bayi itu dengan lembut, tangisannya langsung mereda, dan bayi tersebut tampak lebih tenang dalam pelukannya.
"Emh... permisi, apakah Anda bisa keluar sebentar? Saya ingin menyusui Tuan Muda," ujar Kaluna sambil menatap Liam dengan senyum canggung.
"Tidak perlu. Untuk apa saya keluar? Saya harus tetap mengawasi anak saya ketika menyusu. Karena ini pertama kalinya anda bekerja bersama saya," balas Liam.
Kaluna menghela napas pelan, merasa canggung dengan situasi itu. Lalu, sang Suster menyahut, "Ada baiknya jika kita keluar terlebih dahulu, Tuan. Kita harus memberi ruang privasi untuk Tuan muda dan Ibu susunya."
Liam mendengus kesal, namun melihat tatapan penuh harap dari Kaluna, ia akhirnya memilih untuk mengalah. "Baiklah, saya akan keluar. Jika butuh bantuan, panggil saja," ucapnya.
Setelah itu, sang Suster dan Liam pun keluar dari ruangan, meninggalkan Kaluna dan bayi tersebut. Kaluna sedikit bernafas lega meski masih merasa gugup. Ia menatap bayi itu dengan lembut, memastikan posisi bayi dalam pelukannya nyaman. Ini adalah pertama kalinya ia menyusui bayi, jadi ia merasa jantungnya berdebar-debar.
"Hey, udah lapar ya?" tanyanya sambil menepuk-nepuk bibir mungil bayi itu dengan lembut.
Kaluna tertawa kecil. Kemudian ia mengeluarkan payudaranya dari dalam bajunya, dan mengarahkan putingnya ke mulut kecil bayi itu.
Kaluna langsung meringis ngilu ketika putingnya dihisap dengan kencang. Hisapannya begitu cepat, seolah-olah tidak makan sejak kemarin.
"Aduh, pelan-pelan, Dek," keluh Kaluna. Ia kemudian mengulurkan tangannya untuk mengusap kening bayi itu yang berkeringat.
Bayi itu terus menyusu dengan tenang, namun seiring berjalannya waktu, kekuatan hisapannya mulai berkurang. Dan dalam waktu setengah jam saja, ia berhasil membuat bayi itu tertidur pulas di pangkuannya.
Kaluna menatap bayi itu dengan lembut, merasa lega sekaligus terharu melihatnya tidur dengan nyenyak.
Malas memindahkan bayi itu ke tempat tidurnya, Kaluna memilih untuk memangkunya di kursi itu. Ia kemudian membuka ponselnya dan melihat beberapa pesan yang masuk.
Tata:
[Lun, di sini udah mulai ada gosip kalau lo pernah hamil di luar nikah.]
Setelah membaca pesan itu, tubuh Kaluna langsung menegang. Ketakutan yang besar langsung melanda pikirannya. Bagaimana jika berita itu benar-benar tersebar di kampus?
Beban pikiran semakin menumpuk, membuat hati Kaluna terasa semakin berat. Ia kembali dilanda kesedihan mendalam. Selama ini, ia yakin aibnya telah terkubur rapat. Namun kini, kenyataan pahit mulai mengusik. Gosip itu perlahan menyebar, mengancam ketenangannya.
Bayangan buruk mulai memenuhi pikirannya. Bagaimana jika ia dikeluarkan dari kampus di saat ia hanya tinggal selangkah lagi untuk lulus? Semua kerja kerasnya akan hancur begitu saja.
Tok tok tok...
Lamunannya terhenti saat mendengar suara ketukan pintu.
"Apakah sudah selesai?" suara Liam terdengar dari luar kamar, membuat Kaluna tertegun sejenak. Ia buru-buru merapikan bajunya dan menarik napas panjang untuk menenangkan diri.
"Sudah!" sahutnya dengan suara yang cukup keras.
Pintu kamar perlahan terbuka. Liam melangkah masuk dan berjalan mendekati Kaluna.
"Sudah tidur?" tanya Liam, suaranya terdengar lembut saat ia menatap bayi yang terlelap di pelukan Kaluna.
Kaluna hanya mengangguk pelan, kemudian menyerahkan bayi itu kepada Liam dengan hati-hati.
Liam mengambil alih dengan cekatan, menggendong bayinya dengan penuh perhatian.
"Saya boleh pulang sekarang?" tanya Kaluna tanpa basa-basi.
Liam memandangnya sejenak, lalu mengajukan pertanyaan balasan. "Kalau kamu pulang, siapa yang akan menyusui anak saya nanti?"
"Sebentar saja. Ada yang harus saya selesaikan di rumah."
Liam menghela napas panjang, lalu mengangguk kecil. "Baiklah, tapi jangan lama-lama. Nanti kalau kembali ke sini, bawa bajumu sekalian. Mulai hari ini, kamu tinggal di rumah ini bersama saya."
Kaluna tertegun mendengar ucapan itu. "Nggak usah, Pak. Saya masih punya tempat tinggal," tolaknya dengan nada sopan.
"Terus kalau anak saya nangis malam-malam, saya harus pergi ke rumah kamu dulu gitu?" balas Liam dengan nada tajam.
Kaluna menghela napas. Bingung juga kalau dipikir-pikir. Ia bukan tidak mau tinggal di rumah orang, hanya saja ia merasa sedikit canggung, meskipun statusnya di sini adalah bekerja.
"Saya nggak keberatan kalau kamu membawa anak kamu ke sini. Bawa saja," ujar Liam tiba-tiba.
Kaluna tersenyum kecut. Boro-boro membawa anak, ia bahkan tidak tahu di mana anaknya berada sekarang. Yang ia tahu hanyalah, anaknya dibawa ke panti asuhan oleh bidan yang menolongnya waktu itu. Miris sekali, bukan? Namun, inilah kenyataan pahit yang harus dijalani oleh Kaluna.
"Simpan nomormu di sini. Kalau ada apa-apa, saya tinggal menghubungi kamu," ujar Liam sambil menyerahkan ponselnya pada Kaluna.
Kaluna menerima ponsel Liam dengan ragu, menatap layar ponsel yang ada di tangannya sejenak. Tanpa berlama-lama, ia segera mengetikkan nomor ponselnya dan menyerahkan ponsel itu kembali kepada Liam.
"Siapa namanya?" tanya Liam.
"Kaluna," jawabnya.
Liam mengangguk pelan. "Nama yang bagus," pujinya, disertai senyuman tipis.
Kaluna hanya tersenyum kecil, merasa sedikit canggung. "Terima kasih," ucapnya pelan, lalu menunduk.
"Silakan jika ingin pergi. Nanti saya hubungi kalau anak saya nangis," ujar Liam.
Kaluna mengangguk pelan, lalu segera beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari kamar.
*****
Tempat yang menjadi tujuan Kaluna selanjutnya bukanlah rumah, melainkan kedai kopi. Ia sudah ada janji dengan Tata, temannya, untuk bertemu dan membicarakan beberapa hal penting mengenai gosip yang sedang beredar di kampus.
Sesampainya di kedai kopi, Kaluna langsung menghampiri Tata yang sudah menunggunya di salah satu meja pojok dekat jendela.
Tata tersenyum ketika melihat Kaluna mendekat. "Akhirnya datang juga," ucapnya.
Kaluna duduk dengan wajah gelisah. Tanpa berlama-lama lagi, ia langsung bertanya, "Gimana?"
"Sabar dulu. Minum ini dulu," ujar Tata seraya mendorong satu gelas minuman ke depan Kaluna.
Kaluna menghela napas, lalu mengambil gelas itu dan meneguknya perlahan. Setelah beberapa detik, ia kembali menatap Tata dengan penuh harap.
Tata menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya mulai berbicara. "Gue dikasih tahu sama Vinda, anak-anak Ekonomi semester lima banyak yang ngomongin lo di kampus."
Kaluna langsung terdiam, hatinya terasa berat mendengar kabar itu. "Soal hamil di luar nikah?" tanyanya, suaranya terdengar datar meski ada kekhawatiran yang mendalam.
Tata mengangguk pelan. "Iya. Kata Vinda, yang nyebarin gosipnya itu adek sepupunya Bela," jawabnya.
Kaluna menghela napas panjang, wajahnya seketika berubah murung. Bela. Nama itu mengingatkannya pada banyak hal buruk. Bela adalah mantan teman baiknya sekaligus pacar dari mantan pacarnya yang sekarang menjadi suami orang lain. Kaluna tak merasa heran jika wanita itu yang menyebarkan gosip ini. Dari awal mereka bertengkar, Bela memang pernah mengancam untuk membuat hidup Kaluna sengsara dengan cara apa pun, dan sekarang ancaman itu sepertinya mulai menjadi kenyataan.
"Manusia kalau udah kerasukan iblis emang kayak gitu," gumam Kaluna dengan pandangan kosong.
"Perasaan lo diam aja. Kenapa diusik mulu sama Bela, ya?" tanya Tata heran. Namun Kaluna masih melamun sambil meremas struk pembayaran dengan kesal.
"Dakjal emang gitu. Dia yang salah, dia yang banyak tingkah," lanjut Tata.
Kaluna menatap Tata. "Terus gimana? Banyak yang percaya?" tanyanya.
"Katanya sih, iya. Bahkan ada juga yang mau lapor Dekan," jawab Tata.
Kaluna tertawa pahit. "Kurang sengsara apa hidup gue ini? Hamil di luar nikah, tapi nggak ada yang mau tanggung jawab. Di saat gue lagi terpuruk, teman baik gue malah tega ngerebut pacar gue. Tapi gue berontak nggak? Enggak, kan? Gue cuma marah doang. Mereka aja yang kepanasan sampai sekarang, padahal gue nggak nuntut tanggung jawab," ucapnya panjang lebar.
Tata menghela napas panjang. "Herannya, padahal mereka udah kerja, udah punya kesibukan, tapi masih sempat-sempatnya ngusik lo. Kelihatan banget nggak bahagia hidupnya," timpalnya.
Kaluna tersenyum tipis. "Emang mereka kerja di mana?" tanyanya penasaran.
"Katanya sih, masih magang di Zenith Insurance," jawab Tata.
Dulunya, Kaluna, Tata, Amar dan Bela adalah teman seangkatan. Namun, Kaluna terpaksa cuti hampir setahun karena hamil, sementara Tata cuti karena sakit. Akibatnya, mereka lulus lebih lambat dari teman-teman seangkatan lainnya.
"Menurut lo, kalau berita gue udah sampai ke Dosen sama Rektor, gue bakal di-DO nggak?" tanya Kaluna.
"Kata gue sih enggak, Lun. Lo kan bentar lagi lulus. Masa iya, mereka tega?" jawab Tata, mencoba meyakinkan Kaluna. Namun, ada sedikit kekhawatiran yang tersirat dari suaranya.
Kaluna menghela napas berat, tatapannya kembali kosong.
"Oh iya, lo udah nggak kerja di Crispy Kingdom lagi?" tanya Tata.
Kaluna menggeleng pelan. "Enggak," jawabnya singkat.
Tata melanjutkan, "Terus sekarang lo ngapain di rumah? Jadi pengangguran?"
Kaluna tertawa sinis. "Seorang Kaluna dibilang pengangguran? Sehari nggak kerja aja, tangan rasanya gatel."
"Terus kenapa resign?"
Kaluna menatapnya sejenak, lalu menjawab, "Karena ada pekerjaan dengan gaji yang lebih menggiurkan."
Tata mengerutkan keningnya bingung. "Masa? Nggak percaya gue. Lo aja belum dapat gelar, masa udah dapat pekerjaan yang lebih mapan?" tanyanya tak percaya.
Kaluna tertawa kecil. "Tapi kenyataannya emang gitu. Gue dibayar 50 juta per bulan, dan kerjanya nggak berat, cuma duduk doang di kamar," ucapnya santai.
Mata Tata langsung membulat lebar, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengar. "Sumpah lo?! Ajak gue, anjir! Lo kerja di mana? Jangan bilang jadi simpanan om-om pejabat?" tuduh Tata, membuat Kaluna langsung memukulnya pelan.
"Sembarangan banget kalau ngomong!" sentak Kaluna dengan tatapan tajam.
Tata menyengir lebar. "Terus kerjanya ngapain sampai bisa dapat uang sebanyak itu?" tanyanya penasaran. "Ajak gue, please... gue capek jadi rakyat kismin."
"Lo harus hamil dulu kalau mau pekerjaan ini," celetuk Kaluna, yang berhasil membuat mata Tata kembali melotot dengan bibir yang menganga lebar.
"Stres lo! Gue hamil sama siapa, anjir? Sama kucing? Pacar aja nggak punya!" balas Tata sewot.
Kaluna tertawa kecil. "Orang gue kerjanya nyusuin bayi. Emang lo mau?" tanyanya.
"Ya kagak kalau itu. Mau disusuin pakai apa? ASI-nya aja belum keluar."
Kaluna kembali tertawa. Di saat mereka sedang asik bersenda gurau, tiba-tiba ponsel Kaluna bergetar. Ada pesan masuk dari nomor yang tidak ia simpan.
085704******
[Selamat siang, Mahasiswa atas nama Kaluna Pranatha besok disuruh menghadap ke Dekan Fakultas]
Kaluna berhenti tertawa seketika. Wajahnya yang ceria mendadak berubah jadi murung. Ia tersenyum kecut, sepertinya kehancuran sudah terlihat di depan mata.