Deon mengerahkan pengawal terbaiknya untuk mencari Sarah yang sudah terlalu jauh pergi. Bisa saja dirinya tadi menyusulnya namun Iren berusaha menghalangi langkahnya dengan cecaran dan makian yang terlontar dari bibirnya.
"Cepat cari dia, jangan sampai dia kenapa- kenapa. Jika kalian menemukannya dengan keadaan lecet sekalipun jangan salahkan saya yang akan membunuh kalian," sentak Deon dengan wajah penuh amarah, tangan pria itu terkepal kuat disana.
"Baik tuan."
"Cepat jalan, cari meskipun keujung dunia sekalipun." Bentak Deon lagi dengan suara baritonnya.
Semua pengawal berlalu pergi dengan secepatnya mendengar bentakan itu. Sudah lama Deon tak semarah ini, tapi sekarang hanya gara- gara Sarah. Pria itu membentak bahkan sikap kejamnya kembali.
"Apa sih yang kamu harapkan dari Sarah, Mas. aku istrimu berhentilah memikirkan Sarah yang sudah menjadi adik iparmu," Ujar Iren yang tiba-tiba muncul menuruni tangga.
"Jangan bicara omong kosong ,Iren. meskipun aku menikahimu tapi hatiku masih untuk Sarah. seujung kuku pun tak sudi kulitku bersentuhan dengan kulit menjijikkan mu itu," Sarkas Deon membuat amarah Iren yang tadi sudah lenyap kini kembali lagi. Wanita itu tak terima dengan ucapan Deon.
"Aku pastikan Sarah takkan sudi mengenalmu lagi Mas," Sarkas Iren membuat darah Deon mendidih, pria itu melangkahkan kakinya ke arah Iren dan mencekik lehernya dengan kuat.
"Akhh, Sa-kitt mas lep-ass" Pekik Iren ketika Deon mencekiknya.
Nafasnya Deon memburu dengan wajah penuh kilat amarah. Sudah cukup selama ini Deon tak melakukan hal bengis seperti ini. Namun saat ini, ia tak peduli, Deon ingin membunuh Iren dengan tangannya sendiri.
"Karenamu Sarahku melupakanku, karenamu Sarahku pergi. Matilah dengan semua kebusukanmu Iren, Jangan harap aku bisa mengampuni semua yang sudah kau perbuat pada gadisku," Sentak Deon semakin mengeratkan cekikannya.
"Lep-ass mas" Seru Iren dengan air mata yang sudah luruh, wajahnya seakan memerah ketika tangan kekar Deon tak melepaskan cekikannya.
Uhukk... uhukk....
Tubuh Iren meluruh di ujung tangga, kakinya lemas dengan tubuh gemetaran. Deon melepasnya, tapi tatapan mata itu masih setia menghunus ulu hatinya.
"Jika mati saat ini, aku belum puas sebelum kau merasakan penderitaan yang sesungguhnya Iren. " Ujar Deon bersedekap dada, menikmati wajah tersakiti Iren di depannya.
"A-ku tak tau mak-sutmu mas" Dalih Iren berusaha menetralkan deru nafasnya.
"kau pikir aku bodoh hah, kau lupa siapa aku Iren. aku Deon Manalow, Semua kebusukanmu sudah ada ditanganku." Imbuh Deon dengan santainya, berbeda dengan wajah Iren yang sudah pucat pasi.
"Gak, gak mungkin Deon tau semuanya. Sudah bertahun-tahun masalah ini menjadi rahasia antara aku dan___" Batin Iren tergantung ketika mengingat satu orang yang ikut serta dalam rencananya.
"Kenapa?, apa kau sudah mengingat sesuatu. Oh atau kau juga lupa ingatan seperti gadisku." Tutur Deon ketika mendapati Iren seperti susah menelan salivanya sendiri.
"Ak-ku gak tau apa- apa mas, percayalah" Bela Iren dengan tatapan memelas nya, tapi Deon hanya berdecih kecil. Memang didepannya ini adalah wanita licik yang sangat handal memanipulasi sesuatu pikir Deon.
Deon berlalu dari hadapan Iren, pria itu jengah melihat wajah Iren yang masih bisa menyembunyikan fakta yang ada. Padahal semua bukti sudah dikantongi oleh Deon. Tapi pria itu masih bungkam, belum waktunya untuk menunjukkan kuasanya.
Satu tahun menjalin hubungan rumah tangga bersama Iren tak membuatnya jatuh hati pada wanita itu. Yang ada hanya rasa jijik yang hinggap di hatinya. Entahlah.
Apalagi untuk memberikan nafkah batin untuk wanita itu. Enggan, itulah yang selalu ditanam dihati pria itu
" Malam ini aku ceraikan kamu Iren Tabitha . Pergilah dari rumahku dan jangan injakkan kakimu lagi disini. Pengawal bawa dia pergi dari rumah ini, jangan ada yang berani membukakan pintu untuknya masuk kedalam rumahku," teriak Deon ketika dua pengawal berlari menghampirinya.
"Mas, mana bisa kamu lakukan itu padaku hanya karena Sarah " Bentak Iren tak terima, wanita itu berdiri dan hendak menyusul Deon yang sudah berada di tengah-tengah tangga.
Akhh.
Iren terpekik ketika tangannya dipegang erat oleh dua pengawal yang ditugaskan Deon.
"Dia yang terbaik, dan wanita hina sepertimu harus segera dimusnahkan." Sentak Deon berlalu pergi dari sana , menaiki tangga dengan segala kegusarannya.
"Bajingan, awas kau Deon . Takkan kubiarkan dirimu bahagia dengan gadis pujaanmu," Batin Iren menjerit dengan kelakuan Deon.
"Sakit, lepas. Kalian akan saya pecat karena kurang ajar seperti ini pada nyonya kalian," Bentak Iren pada dua pengawal, apalagi keduanya menyeret Iren layaknya barang tak terpakai.
Kedua pengawal itu hanya diam, tak menjawab ucapan Iren. Mereka terlalu patuh pada tuannya sehingga tak peduli lagi akan keprimanusiaan.
Bughh
"Ahhh.. kalian keterlaluan." teriak Iren ketika tubuhnya sudah tersungkur di depan gerbang .
bughh
bughh.
Dua koper besarpun ikut mendarat disamping Iren. Lagi- lagi wanita itu hanya mengumpat dalam hati, dan secepatnya akan membalas penghianatan ini.
" Tuan kami tidak buta nona, Tidak mungkin tuan kami memilih wanita ular seperti anda," ucap pelayan yang baru saja melempar koper milik Iren.
Mendengar perkataan pelayan itu membuat Iren marah, bahkan wanita itu hendak menyerang pelayan itu namun ada gerbang sebagai penghalang.
"Dasar pembantu gak tau diuntung! awas kau ya. tunggu pembalasanku," sentak Iren dengan menatap nyalang pada pelayan yang tadi mengatainya.
Kedua pelayan yang memang ditugaskan mengemasi barang Iren hanya bisa tertawa lepas mendengarnya. Bahkan terdengar hinaan dan cacian untuk mantan nyonya yang kini sudah diasingkan tuannya.
Bagiamana tak bahagia ketika sosok yang sangat sombong sudah pergi dari rumah megah milik Deon. Ya , Iren akan menjadi pribadi yang jahat jika Deon pergi namun jika lelaki itu ada. Sikap manis Iren selalu ditujukan meskipun pada pekerja yang ada di rumah mewah itu.
"Dadah, nyonya lampir. Jangan balik lagi ya, tuanku jijik didekati situ. Mmm, Rin aku lebih suka nona Sarah dari pada nih lampir satu ," celtuk pelayan yang bernama Nina dengan dagu menunjuk ke arah Iren.
"Yaiyalah mending nona Sarah cantik, meskipun bukan model tapi dia masih bisa jaga harga dirinya daripada ini. tubuh dibuka kesan- kesini kayak obral dagangan," Sahut Rina yang juga pelayan disana.
"Heh jalang, awas saja kalian ya," pekik Iren tak terima dengan perkataan dua pelayan itu . Ingin rasanya Iren merobohkan gerbang itu dan menghajar perempuan yang sudah mengatainya.
" Sudah, kalian masuk saja. Kerjakan kerjaan kalian . Jangan sampai tuan Deon marah nanti." Tutur pengawal yang sedari tadi terdiam mendengarkan perdebatan antara dua pelayan dan mantan nyonyanya itu.
" wlee, mantan nyonya. Jangan tidur di depan ruko ya banyak nyamuk," Celtuk Rina setelah itu berlari ketika mendengar teriakan melengking dari Iren.
Dengan kaki lunglai menapaki trotoar jalanan lenggang, Air mata sekilas luruh di pipi mulus itu. Hatinya tercabik-cabik dengan perlakuan Deon namun respon tubuhnya sangat sebenarnya menyukai.
Ia teringat dengan ucapan Iren yang mengatainya jalang. Sarah merutuki kebodohannya karena dengan gampangnya menikmati sentuhan Deon meskipun bibirnya selalu saja menolak.
Tinn... tinn..
Suara klakson mobil membuat Sarah mengusap kasar air mata yang sudah luruh dipipinya. Gadis itu menoleh ke belakang, matanya memicing melihat mobil yang sangat familiar di ingatannya.
"Sarah! Kenapa ada disini? bukannya tadi aku udah nganterin kamu pulang," Tanya Gerald teman seangkatan Sarah di fakultas bisnis di kampusnya. " Kau kenapa? kamu habis menangis?" Tanyanya lagi dengan menangkup wajah Sarah dengan penuh perhatian.
Gadis cantik berusia 20 tahun itu kembali meneteskan air matanya yang sedari tadi ditahannya.
"Hiks ... hikkss... aku malu harus jadi wanita lemah seperti ini ,Ge." Sarah berucap dengan mengusap kembali pipinya dengan kasar. "Aku capek hidup kalau terus- terusan kayak gini, aku pengen jadi kayak yang lainnya. Bahagia bersama keluarga."
"Sttt..! Stop it Sarah. Ada aku disini jangan merasa sendiri. Aku akan buat kamu bahagia,"sahut Gerald membawa Sarah kedalam pelukannya. "Plis don't cry. Kamu ikut aku sekarang ya. Ceritain apapun yang ingin kamu ceritakan, Buang semua keluh kesah mu," lanjut Gerald.
Pria tampan itu melerai dekapannya dengan tangan memegang wajah Sarah dengan lembut. Tangan kekarnya menghapus air mata itu dengan penuh iba hingga membuat mata keduanya saling bersitubruk.
"Bahaya keluar malam seperti ini, terlebih kamu anak gadis. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa. Sekarang ikut aku ya?" seru Gerald penuh perhatian, Pria itu menatap teduh Sarah hingga membuat gadis cantik tersebut mengangguk kepalanya.
"Ayo"
"Apa aku merepotkan mu?"
"No, gak ada yang direpotkan disini!"
"Baiklah"
Sarah mengikuti langkah Gerald ketika pria itu menggiringnya masuk kedalam kursi sebelah kemudi. Meskipun agak ragu, Tapi Sarah menuruti ucapan yang Gerald katakan.
Berteman selam hampir lima bulan membuat keduanya sangat dekat. Bahkan kakak iparnya sendiri mengira Gerald adalah kekasihnya karena terlalu sering mengantarkan dirinya pulang dari kampus.
"Ge," panggil Sarah kala Gerald sudah melanjutkan perjalanannya.
"Iya"
"Apa kekasihmu tak marah?" Tanya Sarah hingga membuat Gerald tertawa.
"Apanya yang lucu?,"tanya Sarah lagi ketika tak ada jawaban dari Gerald." Aku tanya serius Ge, aku gak mau nanti ada salah paham diantara aku dan kekasihmu."
"Aku belum ada kekasih, mungkin beberapa hari lagi akan ada seorang wanita yang berstatus kekasihku," sahut Gerald membuat Sarah manggut-manggut mendengarnya.
"Ohh.. "
"Kenapa? Apa kamu berencana mencalonkan dirimu sebagai kekasihku," seru Gerald dengan sisa tawanya dan hal itu membuat Sarah membulatkan mata secara reflek.
"Kok aku! Jangan gila deh,Ge. Aku kan hanya bertanya saja," tutur Sarah menunjuk dirinya sendiri.
"Ya kali, Aku dengan senang hati menerimanya tanpa perlu menimbangnya lagi." sahut Gerald dengan kekehan kecil.
Sarah yang mendengarnya hanya bisa menelan ludahnya kasar. Bagaimana bisa dirinya menyatakan perasaannya terlebih dulu pada sosok pria tampan disampingnya ini. Meskipun Sarah sendiri sudah menganggap Gerald adalah temannya. Patut digaris bawahi bahwa pesona Gerald sanggup membuat para kaum hawa jungkir balik. Tak terkecuali Sarah yang pernah terpesona dengan Gerald.
Tapi, Sarah merasakan hal aneh pada rasa terpesonanya dengan Gerald. Ia merasakan ada sesuatu yang belum ia ketahui, hatinya janggal ketika ingin menumbuhkan perasaan pada seorang pria manapun.
"Yah, ngelamun," seru Gerald ketika melihat Sarah hanya diam saja.
"Kenapa? apa ucapanku mengganggu pikiranmu?" Tanya Gerald ketika Sarah masih terdiam.
"Apa kau pernah jatuh cinta sebelumnya Ge?," tanya Sarah tiba-tiba.
"Pernah"
"Bagaimana rasanya?"
"Aku bahagia melihatnya bahagia, Aku sedih ketika air matanya jatuh membasahi pipinya. Aku cemburu ketika dia bersama pria lain, Bahkan aku tak rela ketika aku berjauhan dengannya. Dan yang paling penting, Jantungku selalu berdetak tak menentu ketika bersanding denganmu ," Papar Gerald menggapai tangan Sarah dan menaruhnya didadanya .
Mata pria itu fokus kedepan, namun ucapannya sangat menyentuh bagi Sarah. "Rasakan detakan ini ,Sarah. Jantungku selalu berdetak ketika bersamamu."
Hah..
"Maksu-tnya?" tanya Sarah masih tak mengerti.
"Biarkan waktu yang menjawabnya, perasaanku pasti akan kamu rasakan nantinya."
Sarah secepat kilat menarik tangannya dari genggaman Gerald. Gadis itu tak mengerti, tapi ada makna yang sedikit dimengerti dirinya. Namun ia enggan berbesar kepala ketika Gerald meng-kode bahwa mempunyai perasaan padanya, biarkan nanti pria itu yang berterus terang secara langsung padanya tanpa adanya kode ataupun yang lainnya.
"Jantung berdebar! Apa sama seperti yang aku alami jika berdekatan dengan kak Deon?" Batin Sarah bertanya- tanya. "Jantungku tak biasa jika berdekatan dengan kak Deon. Berbeda ketika dekat dengan Gerald, hanya ada sebuah kekaguman disana," Batinnya lagi.
Sebagai gadis yang belum pernah menjalin hubungan dengan pria. Ia masih belum fasih tentang perasaannya, apalagi dengan pria yang disukainya.
"Sarah, Mau digendong apa mau di seret," Celetuk Gerald membuat Sarah terjingkat kaget . Pasalnya pria itu sudah berada disampingnya dengan pintu mobil yang sudah terbuka lebar.
Ehhh.
"Sud- ah sampai," gerutu Sarah gugup, apalagi posisi Gerald sangat dekat dengannya.
"Ge, Awas"
"Kenapa?"
"aku mau keluar ihh, minggir"
"Janji, setelah sampai didalam kamu harus cerita apapun yang kamu rasain. Aku gak mau kamu menanggung semuanya sendiri. Aku ingin beban kamu, aku juga merasakannya," ujar Gerald masih menghalangi Sarah untuk keluar dengan memposisikan dirinya di pintu mobil sebelah Sarah.
Deg..
Haruskah Gerald tau masalahnya dengan kakak maupun kakak iparnya. Apa semua itu tak terlalu berlebihan.
Tapi melihat ketulusan di mata Gerald, membuat gadis cantik itu akhirnya menganggukkan kepala. Bahkan Sarah terharu karena Gerald masih mau ikut terbebani olehnya.
Dalam perjalanan menuju apartemen milik Gerald. Tangan Sarah tak sekalipun terlepas dari genggaman tangan Gerald. Pria itu sudah seperti kekasih Sarah yang teramat posesif pada kekasihnya. Enggan melihat kekasihnya dilirik pria lain karena Sarah hanya berjalan seorang diri.
"Terimakasih, Ge," ucap Sarah ketika dirinya dan Gerald sudah memasuki lift.
"Buat?"
"Kebaikanmu, apalagi udah mau menampungku sementara waktu."
"Semoga kamu secepatnya sadar ya," Lirih Gerald hingga membuat Sarah samar mendengarnya.
"Hah, apa?"
"Apaan?"
"Salah denger kah! aku pikir kamu ngomong sesuatu," seru Sarah menatap Gerald yang tengah membuang pandangannya kearah lain.
Awal pertemuan pertama dengan Sarah membuat pria itu langsung menyukai Sarah. Apalagi melihat kelembutan dan ke kaleman yang dimiliki Sarah membuat Gerald sangat penasaran dengan Sarah.
Hingga beberapa bulan terakhir ini, membuat dirinya dan Sarah dekat. Bahkan kedekatannya membuat siapapun iri, termasuk fans dari Gerald sendiri.
bersambung...