“OH GOD!” seru Rhido seraya membuka matanya yang silau, pedih dan tentu saja sedikit lelah.
Atap kamar berwarna putih menjadi sasaran lamunannya pagi ini. Pandangan matanya yang belum jelas menambah kebingungan akan kesadarannya yang belum pulih.
‘Ngapa gua ngimpi gituan sama Bu Kades? Ah, sial celana gua basah gini. Gila, malu amat kalau sampai ketahuan sama bini gua!’ maki Rhido dalam hati ketika tangannya meraba celana dalamnya yang terasa basah dan lengket.
Tanpa banyak pikir, Rhido langsung bangun dari tempat tidur dan beringsut masuk kamar mandinya. Tentu saja semua dia lakukan dengan serba tergesa-gesa sebelum Lisda melihat dan mencurigainya.
Rhido langsung merendam celana dalamnya yang penuh lendir, agar tiada jejak yang bisa menimbulkan tanda tanya besar bagi istrinya.
“Ah gila, ini benar-benar gila!” maki Rhido pelan. Sepanjang dia mengenal Bu Kades baru kali ini dia memimpikannya. Mimpi basah lagi.
“Hmmm kayanya sisa-sisa semalam ini!” ujarnya pada diri sendiri sambil mengingat-ingat kembali semua kejadian yang dialaminya sejak kemarin sore yang jelas-jelas pagi ini hingga membawanya masuk dalam mimpi yang sebegitu dahsyat dan basahnya.
Tadi malam, Karang Taruna Kompleks Cendawasih, menggelar hiburan orgen tunggal dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda. Rhido, Lisda beserta hampir semua warga kompleks turut hadir. Mereka turun bergembira berjoget dan bernyanyi bersama artis-artis panggung yang diundang.
Mula-mula dalam hiburan itu mereka berjoget dengan pasangannya masing-masing. Berkat inisiatif anak-anak muda yang belum punya pasangan, mereka pun diperbolehkan joget dengan mengambil pasangan secara bebas.
Semua setuju dengan tak ada seorang pun yang merasa terganggu, cemburu atau tersinggung. Tua muda larut dalam pesta yang tetap terkontrol ketertiban dan keamanannya itu.
Menjelang akhir acara, Lisda berjoget tipis-tipis dengan Ardika, sang Ketua Karang Taruna. Sedangkan Rhido berjoget cukup heboh dengan beberap ibu kompelks termasuk Bu Kades, istri muda salah seorang penguaha ternama.
Sekilas Rhido melirik istrinya yang sedang menikmati joget kalem dengan Ardika, pemuda yang kegantengannya sempat mengalahkan ratusan pemuda dalam ajang kontes Mojang dan Jajaka Kota Hujan. Lisda pun beberapa kali memperhatikan Rhido yang tertawa gembira bersama istri mua sang pengusaha yang memiliki kecantikn paripurna.
Menjelang tengah malam acara berakhir dan semua kembali ke rumah masing-masing dengan perasaan gembira walaupun lumayan melelahkan.
Sesampainya di rumah, setelah mandi air hangat, pasangan muda paling serasi tahun ini, Lisda dan Rhido segera bernajak ke tempat tidur.
"Bagaimana tadi, Sayang?" tanya Rhido sambil memeluk istrinya dengan mesra.
"Apanya yang gimana, honey?" Lisda balik tanya sambil merebahkan kepalanya di salah satu tangan kekar suaminya.
"Ya tadi, waktu kita berjoget di panggung," terang Rhido sambil mengecup bibir mungil istrinya itu.
"Aku benar-benar sangat menikmatinya dan bergembira, Mas," jawab Lisda sambil tersenyum manis dan tangannya mengusap-ngusap dada suaminya.
“Aku agak sedikit khawatir dengan yang ini, Sayang,” balas Rhido seraya mengelus-elus perut istrinya yang baru beberapa minggu dinyatakan positif berisi.
“Hehehe, aku kan gak terlalu berlebihan jogetnya, hanya tipis-tipis aja kok, Sayang,” sanggah Lisda meyakinkan.
“I know, terima kasih telah menjaga dia untukku,” balas Rhido sambil kembali mengecup kening dan rambut di kepala istrinya.
"Harusnya sering mengadakan acara-acara seperti tadi, jangan cuma musiman aja," ucap Rhido sambil kembali mengelus-elus perut istrinya yang masih belum terlihat ada perubahan dalam bentuknya.
"Mmh, memangnya kenapa?" tanya Lisda sambil mencium pipi Rhido lalu mengecup bibirnya dengan penuh kasih sayang.
"Ya, bagi kita yang baru beberapa bulan menjadi warga sini, kan bisa bersosialisasi serta bergembira dengan semua tetangga. Jarang sekali kita bisa berjumpa atau ngumpul bareng-bareng mereka, terutama aku." Rhido berucap sambil membuka seluruh kancing baju tidur istrinya.
“Iya siiiih,” desah Lisda saat suaminya mulai menggeryangi sekujur tubuhnya. “Dan aah eeeh, kamu keliatan bahagia sekali saat joget bareng Bu Kades tadi, Mas, aaah geli…,”
Lisda menggelinjang. Birahinya menggelora saat membayangkan kembali suaminya yang begitu bergairah saat berjoget dengan istri mudanya Pak Kades.
“Hmmm kamu juga kan sangat menikmati goyangan tipis-tipisnya Ardika sang brondong super ganteng, hehehe,” balas Rhido bercanda.
“Hmmm, apakah Mas cemburu?” tanya Lisda seraya mengerling dan mengeliat manja.
“Gak lah. Kita kan jogetnya depan umum. Lagian gak ada tuh yang jogetnya berlebihan. Ardika apalagi, dia sangat kalem dan dewasa,” balas Rhido sebelum kembali melumat bagian depan tubuh istrinya.
“I…i..yaaaa sih, tapi aaaah…” Lisda tak melanjutkan ucapannya.
“Tapi, apa sayang?” tanya Rhido seraya menatap wajah istrinya yang merem melek.
“Tapi Mas beda banget saat berjoget sama Bu Kades, tatapannya terasa lain, uuuh ssst…hehehe.” Lisda kembali menggelinjang kegelian.
“Gak lah, Sayang. Biasa aja kok. Sama seperti aku maenatap Mbak Lina, Mbak Wulan atau ibu-ibu dan gadis lainnya. Sama juga seperti kamu menatap Riko, Pak Kades, Ardika atau mereka yang tadi joget sama-sama kita,” sangkal Rhido lembut.
“Oooh,” lenguh Lisda saat Rhido menciumi dan menjilati buah dadanya. Tangan Rhido pun mulai beraksi melucuti seluruh pakaian yang dikenakan oleh istri juga dirinya. Sebenarnya Rhido sudah menahan hasrat sejak tadi. Hatinya mengakui sejak berjoget dengan Bu Kades, ada letupan-letupan gairahnya yang membara.
"Oh sayangg teruuuus….," desah Lisda agak keras ketika Rhido mulai menggerakkan tubuhnya secara pelan-pelan. "Oh, enak, sayang sssst, aaaah saaaakiiit Maaaas…" jerit kecil Lisda terdengar ketika dia mencapai puncak kenikmatannya dalam waktu yang cukup singkat.
Rhido segera menghentikan semua aktifitasnya dan segera menarik batangnya dari tubuh istrinya. Tak ingin membuat istrinya kesakitan atau kelelahan, walau dirinya belum sampai pada puncak yang diinginkanya.
Kondisi Lisda yang sedang hamil muda, senantiasa membuat Rhido juga Lisda teramat berhati-hati dalam segala aktivitasnya. Terlebih Lisda sering mengeluhkan rasa sakit yang menderanya.
“Tidurlah dengan nyenyak, Sayang?” bisik Rhido penuh kasih sayang.
“Gak papa kan aku tidur duluan, Mas? Gimana dong, Mas kan belum…..?” Lisda merasa bersalah.
Sejak dirinya dinyatakan positif hamil, belum pernah memberikan pelayanan yang maksimal pada suaminya. Hal itu memang awalnya atas saran Rhido agar Lisda tidak memaksakan diri.
“Aku selalu merasa puas, Sayang. Buktinya sudah ada hasilnya,” hibur Rhido sambil kembali mengelus-elus perut istrinya, agar sang calon ibu anaknya itu tidak merasa bersalah.
Tak berapa lama kemudian mereka pun tertidur dengan lelapnya.
‘Hmmm mungkinkah karena tadi malam gua gak sampai tuntas sama istri, makanya pagi ini kebawa mimpi? Bukankah sudah sering emang selalu gak tuntas?’ tanya Rhido dalam hati sambil kembali terkekeh kecil karena merasa sangat geli bisa mimpi basah dengan seorang wanita yang sudah dia anggap ibunya sendiri.
“Ah malu-maluin aza! Dasar mimpi! hehehe,” ucap Rhido sambil terkekeh dan keluar dari kamar mandinya. Untuk saja istrinya masih berada di luar kamar. Tampaknya dia sedang menyiapkan sarapan pagi.
^*^
Dunia berputar pada porosnya hingga waktu pun terus bergulir sesuai fitrahnya.
Kehidupan Lisda sebagai seorang perempuan sangatlah sempurna. Bagaimana tidak? Saat ini dia sedang berada pada titik terindah kehidupan rumah tangganya bersama Rhido. Titik kehidupan yang tentu saja banyak didambakan oleh pasangan muda, terkhusus oleh pasangan wanitanya.
Lisda mendapatkan anugerah terindah dalam hidupnya yang hampir saja tidak ada halangan yang berarti. Semua berjalan dengan sangat alami, menyenangkan dan luar biasa. Jauh melebihi ekspetasi yang selama ini dia pintakan kepada Tuhan dalam asa dan segala doa sucinya sebagai hamba yang tak berdaya.
Dua tahun yang lalu, setelah menyelesaikan kuliahnya, Lisda langsung menikah dengan Rhido yang merupakan kekasih juga kakak kelasnya saat kuliah. Mereka bahkan nyaris tak pernah putus selama berpacaran. Rhido melamar dan menikahi Lisda secara sah, tiga minggu setelah Lisda resmi menyandang gelar Sarjana Ekonimi. Sementara Rhido sendiri sudah terbilang mapan dengan karir dan penghasilannya.
Kebahagiaan Lisda sebagai seorang istri semakin lengkap dengan kehadiran jabang bayi dalam kandungannya yang tak terasa kini telah memasuki usia sepuluh minggu. Penantian yang hampir dua tahun lamanya itu disambut suka cita oleh seluruh keluarga besar, kerabat dan sahabat mereka.
Lisda semakin mantap, optimis dan bahagia dengan keadaan rumah tangganya. Rhido adalah sosok suami yang sangat sempurna di mata Lisda. Selain pandai mencari nafkah, dia pun berpenampilan sangat gagah, berparas tampan rupawan dan ditunjang dengan keperkasaannya di atas ranjang. Namun yang tak kalah pentingnya, Rhido senatiasa melimpahkan cinta, kasih sayang dan perhatiannya pada keluarga.
Lisda tahu, jauh sebelum mereka pacaran, Rhido bukanlah lelaki yang jalan hidupnya lurus-lurus saja. Lelaki dari kalangan berada itu sempat memiliki deretan mantan yang terabaikan serta segudang masalah kenakalan remaja terutama dalam urusan ranjang. Namun Lisda tak mempedulikan itu. Dirinya menikahi Rhido yang sekarang yang siap menyongsong masa depan gemilang.
Impian Lisda untuk menjadi wanita karir pun hilang dengan sendirinya pasca dirinya dinyatakan positif hamil. Sebagai gantinya, Rhido membelikan dia rumah baru, mobil baru juga membangunkan kost-kostan di belakang rumah mereka. Pekarangan yang awalnya berupa semak belukar berganti menjadi sebuah bangunan sederhana dengan lima kamar di dalamnya.
“Biar kamu punya penghasilan sendiri, sekaligus tidak terlalu kesepian saat aku tidak ada di rumah,” ucap Rhido saat Lisda bertanya mengapa harus membangun kost-kostan sekarang.
Letak rumah mereka memang di luar kota. Namun sebagai kota berkembang yang terkenal dengan banyak kampusnya, kost-kostan itu pun dengan cepat memiliki penghuninya. Rhido pun segera menarik Bi Isah dan Mang Juni, tetangga kompleksnya untuk menemani sekaligus membantu Lisda mengurusi rumah dan segalanya.
Sebagai seorang arsitek muda yang juga pebisnis handal, Rhido terkadang terpaksa harus tidak berada di rumahnya, bahkan berhari-hari. Untung saja lingkungan tempat tinggal mereka relatif aman dan tenang. Rhido pun semakin bersemangat dalam menjalankan tugasnya mencari nafkah demi lebih memakmurkan dan mensejahterakan keluarga kecilnya.
Tak ada gading yang tak retak.
Akhir-akhir ini hati Lisda mulai gelisah dan gundah. Senantiasa dihantui perasaan bersalah dan berdosa pada suaminya. Dia merasa sudah tidak bisa lagi memberikan pelayanan yang maksimal pada Rhido saat di atas ranjang. Hal ini terjadi sejak dirinya dinyatakan postirif berbadan dua.
Entah karena sugesti kehamilan pertama, atau ada hal lain. Yang pasti Lisda selalu merasa kesakitan dan ketakutan saat bersebadan dengan suaminya. Terlebih setelah usia kehamilannya semakin bertambah. Rhido memang tidak pernah protes dengan hal itu. Namun Lisda bisa melihat raut kekecewaan pada suami gantengnya.
Selama ini Rhido tetap bersabar walau malam-malamnya selalu kentang. Dia sangat memahami keadaan fisik dan mental istrinya. Lisda sudah berkonsultasi pada dokter kandungan yang menanganginya. Namun setelah mendapat penjelasan ilmiah nan logis pun, Lisda masih belum sanggup membuang sugesti rasa takutnya akan risiko keguguran jika dia berhubungan intim.
“Ya, kalau Rhido masih bisa nerima sih gak masalah, Lis.” Bu Kades sering kali memberi masukan dan nasihan pada Lisda, seperti siang itu.
“Sebenarnya Mas Rhido gak pernah mempermasalahkannya, Bu. Tapi justru saya yang makin tersika dengan keadaan ini. Bener-bener merasa berdosa dan kasihan sama dia.”
“Hmmm,” balas Bu Kades sedikit bingung.
“Tapi ketika saya mencoba melawan perasaan aneh itu, justru Mas Rhido yang merasa tidak nyaman. Menurutnya, gak tega ngeliat saya yang sepertinya berusaha keras melawan rasa sakit dan ketakutan.” Lisda menjelaskan lebih rinci.
“Udah jalani aja seperti biasa, yang penting kalian sama-sama mengerti. Jangan ada yang merasa terpaksa apalagi tersiksa. Insya Allah semua akan baik-baik aja. Mungkin di luar sana juga ada yang mengalami hal yang sama, Ris. Ya, namanya juga kehamilan pertama selalu aja ada ceritanya, hehehehe.”
“Banyak sih yang ngalamin, tapi kata Dokter Mahfud ME, bumil yang lain itu setelah berkonsultasi rata-rata bisa bersikap normal seperti semula. Beda dengan saya.”
“Bisa jadi, kan emang masing-masing orang punya alurnya. Yang penting sekarang Lisda fokus jaga kesehatan, terutama jabang bayinya. Jangan terlalu banyak pikiran yang aneh-aneh, nikmati segala yang ada. Suamimu sudah berjuang luar biasa untuk membahagiakan kalian,” hibur Bu Kades selanjutnya.
“Siaaap Ibu, terima kasih sudah setia nemenin saya menjalani dan berusaha melewati semua ini,” balas Lisda sambil memeluk tetangganya itu.
“Ah sudahlah jangan lebay. Lisda sama Rhido sudah ibu anggap anak sendiri. Kalian kan jauh sama keluarga masing-masing. Siapa lagi kalau bukan tetangga yang jadi keluarga terdekat, iya gak?” Bu Kades membalas pelukan Lisda.
Hanya pelukan, ciuman dan air mata bahagia yang biasanya Lisda berikan pada Bu Kades. Dia benar-benar merasa sangat beruntung memiliki tetangga yang sangat perhatian pada keluarganya. Tak ada hari tanpa kehadiran Bu Kades di rumahnya, terlebih jika suaminya sedang dinas luar.
“Apa mungkin karena senjatanya Mas Rhido ya, Bun?” Tiba-tiba Lisda bertanya serius sambil melepaskan pelukannya.
“Maksudnya? Emangnya Rhido punya senjata?” Bu Kades sedikit tersentak.
“Punyalah Ibu. Kalau gak punya senjata, mana mungkin bisa besar begini perut saya? hehehe,” jawab Lisda sambil tersenyum malu-malu dan mengelus-elus perutnya yang sudah telihat buncit.
“Ooooh senjata itu ternyata, hahahaha.” Bu Kades tiba-tiba ngakak tak kuasa menahan geli, “Memang kenapa dengan rudalnya Rhido, Lis?” lanjutnya sambil mesem-mesem menahan geli.
“Hmmm apa ya, ukurannya upnormal, Bu. Jauh di atas rata-rata orang Indonesia,” jawab Lisda dengan wajahnya yang seketika bersemu merah.
“Hah!” seru Bu Kades terperangah. Lisda sudah sangat sering curhat pada dirinya dengan banyak hal. Tetapi baru kali ini membahas sesuatu yang sangat sensitif dan cukup privacy.
“Maksud saya, besar dan panjangnya di atas rata-rata orang kita. Kalau Ibu pernah lihat rudalnya orang barat, ya kaya gitu itu. Hanya mungkin agak kecilan dikit sih.” Lisda kembali menjelaskan lebih rinci.
“Hah, masa sih? Tapi kan emang sesuai juga sama posturnya tubuhnya Rhido. Tapi, eh….” Bu Kades agak gelapan, merasa canggung dan sedikit risih untuk melanjutkan ucapannya.