Bab 2

James sudah rapi dengan baju kimono-nya. Rambut basah milik James semakin memancarkan aura ketegasan dan pesona yang tak bisa ditolak begitu saja untuk memanjakan semua mata wanita yang melihatnya. Termasuk wanita panggilan yang sudah ia sewa. Wanita itu ternganga melihat penampilan James. Duduk dengan degup jantung yang terus berdetak kencang tak terkendali.

     “Tuan, apakah kau mau lagi untuk–“

     “Menyingkirlah!” tepis James saat tangan wanita itu sudah meraba-raba tubuhnya. Lebih tepatnya adalah bagian dada bidang James dan perut dengan bentuk kotak yang sangat tegas. Tentu saja wanita itu sangat tahu, dan sangat menyukainya di saat permainan mereka kemarin malam.

     “Kau sudah mendapatkan bayarannya, kan? Kau bisa pergi sekarang,” usir James dengan nada kasar tanpa peduli dengan hati yang sudah tergores milik wanita panggilan di depannya. James mengambil kaos untuk dikenakan dan menggantinya dengan sembarangan, seolah di dalam kamar VIP itu hanyalah tersisa dirinya seorang.

     “Terima kasih untuk kemarin malam, Baby!” ucap James sambil mengecup singkat pipi kanan wanita panggilan yang masih terbengong atas perlakuannya yang berubah-ubah.

     “Cepat, keluar!” seru James tak berperasaan.

     ***

     “Mom, apa-apaan?!” Seorang gadis berdiri dengan dada naik-turun, menandakan jika gadis itu tengah menahan emosinya. Napasnya memburu. Pandangannya hanya mengarah pada satu orang, yaitu ibu kandungnya sendiri. Clara Mackenzie–seorang gadis penjaga kasir di minimarket. Tubuhnya yang berukuran sedang untuk gadis seumur dirinya kini menatap nanar keluarganya.

     “Aku harus berangkat kerja, Mom. Kita akan bicarakan ini nanti,” putus Clara memilih untuk meredam amarahnya daripada meneruskan berdebat dengan orang tuanya. Itu sama saja membuang-buang waktu dan tenaganya!

     “Nggak bisa, Clara! Kamu harus menuruti perintah Mommy!” sanggah sang ibu menahan Clara agar tetap berdiri di rempatnya. Menahan tangan anaknya dengan emosi yang sudah meletup-letup ingin segera dikeluarkan.

     “Ck! Apa tidak ada lagi pekerjaan yang lain, Mom? Kenapa harus menjadi mucikari? Aku sudah bekerja, dan mempunyai penghasilan! Itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kita!” pekik Clara sambil menepis tangan ibunya.

     “Cih! Sombong sekali! Kamu pikir, selama ini kamu makan dari mana, Clara? Sebelum kamu lulus sekolah dan memiliki pekerjaan seperti sekarang ini, apa profesi kedua orang tuamu, hah? Mommy bekerja sebagai mucikari hanya untuk biaya sekolahmu, dan itu terbukti! Semuanya berjalan dengan lancar! Bahkan, kebutuhan ekonomi kita lebih dari cukup setelah Mommy bekerja menjadi mucikari!” ujar ibu Clara masih memaksa sang anak agar menyetujui keputusannya.

     “Kamu harus menerima takdir, Sayang! Ikuti garis takdir! Kamu adalah garis keturunan kami. Maka, kamulah yang harus melanjutkan profesi kami ini,” ujar sang ibu seraya membelai lembut pipi anaknya yang sudah basah dibanjiri oleh air mata.

     “Besok, Mommy akan memperkenalkan kamu sebagai pengganti Mommy di club’. Jangan sampai kamu melupakan ini, Clara! Mommy hanya memilikimu, dan kamulah harapan Mommy satu-satunya! So, jangan pernah mengecewakan Mommy, ya!” tegas sang ibu membuat Clara hanya bisa mematung dengan Isak tangis yang sedari tadi Clara tahan.

     Tanpa berpamitan lagi, Clara langsung berlari meninggalkan rumah. Ia masih memiliki tanggung jawab sebagai penjaga kasir di salah satu minimarket terdekat di rumahnya. Sebenarnya, gaji yang Clara peroleh dari hasil bekerja bersih seperti itu sudah cukup memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. Namun, dengan embel-embel garis keturunan yang selalu berakhir menjadi mucikari membuat Clara tak bisa membantah.

     “Cla, kamu habis menangis?” tanya

seorang wanita yang tak lain adalah teman Clara disaat bekerja.

     “Tidak. Aku hanya kelilipan debu,” jawab Clara singkat.

     Clara melakukan tugasnya dengan baik. Clara dikenal sebagai gadis yang ramah di lingkungan kerjanya, sehingga membuat Clara selalu dipandang baik oleh semua orang. Bahkan, para pembeli pun tak jarang banyak yang menggoda Clara lantaran wajah Clara yang cantik. Bukan sekedar cantik, tetapi senyum yang Clara tunjukkan begitu manis hingga membuat mereka seolah-olah seperti tengah dihipnotis oleh tatapan dan

senyuman Clara.

     “Minimarket malam ini akan tutup lebih cepat, Cla,” ujar teman Clara membuat Clara yang sedang membuat laporan atas masuknya uang hari ini terhenti.

     “Kenapa?” tanya Clara sedikit heran. Padahal, hari Selasa sering Clara sebut sebagai hari keberuntungan minimarket ini. Karena di setiap hari Selasa, banyak pengunjung yang ramai datang untuk berbelanja. Tentu saja hal itu dapat membuahkan hasil dengan mendapatkan sedikit bonus dari atasan mereka.

     “Entahlah. Bos yang memerintahkannya,” ujarnya. Clara hanya mengangguk paham. Clara menyusun lembaran uang dollar dengan benar dan setelahnya dimasukkan ke dalam tempat penyimpanan uang kasir.

     “Malam ini kau free, Cla? Aku ingin mengajakmu makan malam,” ajak salah satu pria dengan seragam yang sama seperti Clara.

     “Free, tapi aku lelah. Maaf, ya. Mungkin bisa lain kali,” tolak Clara begitu lembut sehingga tak akan mungkin membuat sakit hati pria itu karena Clara telah menolak ajakan makan malam.

     “Tugasku sudah selesai. Aku duluan, ya? Selamat melanjutkan pekerjaan kalian!” seru Clara sambil berpamitan untuk pulang. Sesampainya di rumah, Clara langsung di gadang oleh sang ibu ketika ia hendak masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri.

     “Bagaimana keputusanmu?” tanya Ibu Clara dengan tatapan tajam.

     “Well. Jika kamu tidak mau menjawab, tak apa. Tapi, ingatlah satu hal, Clara! Mommy akan tetap menjadikanmu mucikari untuk menggantikan Mommy! Jangan pernah sesekali membuat masalah ataupun membuat malu keluarga!” peringat sang ibu.

     “Bulan ini aku sering lembur. Jadi, gajian bulan ini lebih besar dari bulan sebelumnya, Mom. Jadi, aku rasa–“

     “Masih mau bertahan pada pekerjaan yang gajiannya kecil seperti itu, huh?!” ucap sang ibu meremehkan Clara.

     “Apakah kamu memiliki pakaian bagus untuk dipakai besok, Clara? Jika kamu nggak punya, ayo, Mommy antar membelinya. Akan Mommy pastikan penampilanmu akan menarik perhatian semua orang, termasuk para pelanggan yang ingin menyewa jalang kepadamu. Strategi marketing tetap harus kau terapkan pada profesi barumu ini, Cla!” ujar sang Ibu lagi-lagi membuat Clara merasa tertekan dan mendesah lemah.

     “Mommy sudah memiliki jalang untuk kau kelola. Pastikan mereka semua mendapatkan penawaran harga yang mahal,

Cla! Jika kamu pandai bermain strategi, maka kamu akan semakin diuntungkan!

Apalagi, jalang-jalang yang sudah Mommy dapatkan adalah para jalang yang sering

melayani orang-orang kaya,” ucap ibu Clara lagi.

     “Dandananmu sudah pas. Ayo, Mommy akan membantumu memilih pakaian untuk besok kamu kenakan.” Ibu Clara menarik tangan Clara agar membantu memilih baju yang masuk ke dalam standar para mucikari untuk menarik pelanggan.

     “Ini. Kamu pakai ini saja. Mommy rasa, ini tidak terlalu terbuka, karena Mommy yakin kamu belum terbiasa memakainya.”

     Clara mengerutkan keningnya, tak suka dengan gaun pilihan ibunya. Gaun dengan bagian dada yang rendah, serta belahan paha yang sangat panjang membuat seluruh bagian kakinya pasti akan terekspos sempurna ketika Clara duduk ataupun jalan.

     “Mom, bagaimana kalau aku tidak bisa menjadi mucikari yang baik?” tanya Clara dihadiahi tatapan tajam dari sang ibu.

Bab 3

TuK!

     Suara gelas yang beradu dengan

meja marmer membuat suara khas tercipta. James memilih menghabiskan malamnya di

dalam bar bersama dengan teman-temannya. Suara tawa menggelegar. James tak lagi memedulikan suara pasangan yang sedang bermesraan di samping meja minumnya, karena sekarang mereka sedang berada di tempat umum, tempat semua orang bebas melakukan apapun. Termasuk untuk berjoget dan melancarkan aksi untuk

mendapatkan partner penghangat ranjang.

     “Ah, sialan! Kenapa wine ini sangat enak?” gerutu James. James mengusap sudut bibirnya yang sedikit menyisakan cairan wine bekasnya minum. Meletakkan gelas kosong itu di meja dan kembali mengobrol dengan teman-temannya.

     “Ya. Kualitas disini memang terbaik! Aku pun mengakuinya! Kadar alkohol, serta kriteria wanita yang disediakan benar-benar sangat sesuai dengan yang aku inginkan!” celetuk salah satu teman James dengan senyum mesum yang sudah terlihat ketika matanya melihat tubuh sempurna seorang wanita yang sepertinya akan dijadikan mangsa oleh teman James malam ini.

     “Oh, lihatlah! Bukankah gerakan badannya sangat lentur? Ah, aku tidak bisa membayangkan bagaimana gerakan yang dia lakukan ketika kami sudah melakukan itu,” ucapnya dengan mata terpejam untuk membayangkan betapa menyenangkannya bermalam dengan wanita yang sudah teman James incar.

     “Hei! Hapuslah fantasi liarmu! Kau menjijikkan!” tukas James merasa tak tertarik dengan objek yang sedang menjadi pusat perhatian teman-temannya.

     “Ayolah. Apakah kau tidak tertarik dengan wanita seperti dia? Coba kau lihat lagi, tubuhnya sangat pas dengan ukuran tangan kita yang besar ini. Bukankah itu akan sangat

menyenangkan?”

     James hanya memutar bola mata

malas mendengar penuturan temannya. Entah kenapa James sedang tidak mood untuk menghabiskan malam bersama dengan wanita malam ini. Mungkin karena ia terlalu banyak menghabiskan waktu dengan tumpukan berkas yang harus James periksa saat bekerja seharian.

     “Aku dengar, kita akan kehilangan satu mucikari? Ck! Apakah club’ ini sedang bercanda? Kenapa menghilangkan mucikari hebat seperti madam? Bahkan, dia selalu memberikanku wanita yang enak, dan tak pernah membuatku kecewa sedikit pun dengan pelayanan mereka!” gerutu salah satu teman James sangat menyayangkan dengan pembersihan mucikari di club’ langganan mereka berbuat sesuatu yang sudah tentu sangat dilarang oleh negara.

     “Siapa bilang? Tidak, bukan melakukan pembersihan, tetapi hanya mereka sedang mencari pengganti saja. Tebakanmu salah, Bro!” sahut Dandeles akhirnya membuka suara saat sejak awal memilih untuk diam dan menghabiskan minumannya seraya mendengarkan percakapan teman-temannya.

     “Darimana kau tahu?”

     “Aku ahli jika menebak hal-hal seperti ini! Makanya, James selalu mengandalkanku untuk mencari teman tidur. Ha-ha,” celetuk Dandeles yang hanya direspons oleh tatapan menghunus James.

     “Sudahlah. Kami akan berjoget sebentar, dan akan kembali lagi ke sini. Mungkin saja, ada wanita yang memberikan gratisan,” ucap mereka membuat James menyeringai penuh misteri.

     “Jangan percaya dengan yang namanya gratisan, Bro! Bisa jadi mereka sedang merencanakan sesuatu di balik kata ‘gratisan’ itu,” peringat James agar teman-temannya tidak salah dalam mengambil langkah. James sangat tahu tabiat seorang jalang. Apalagi, mereka sudah melayani banyak pria. Entah pria muda ataupun tua bangka, James yakin mereka bukanlah wanita baik-baik. Ck! Itu sudah tentu!

     James mengangkat sebelah alisnya saat wanita dengan gaun tipis yang menutupi sebagian inti tubuhnya tiba-tiba saja langsung naik ke pangkuannya dan menempelkan kepalanya pada dada bidang James. Wanita itu tersenyum untuk menggoda James. Sedikit memberikan sentuhan dengan mengusap rahang tegas James yang sangat mempesona.

     “Tuan, kau sangat tampan.” Wanita itu dengan berani mengecup bibir James tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu. Tentu saja hal itu tak luput untuk tidak di lihat oleh

Dandeles yang masih berada di dekat James.

     “Kau gila, Nona?” marah Dandeles lantaran pria itu tak tahu dari mana asal usul wanita yang kini berada di pangkuan James. Kelompok James sangat tidak suka dengan wanita yang tiba-tiba datang, dan tidak diketahui asal-usulnya. Mereka lebih memilih untuk bermalam dengan wanita panggilan, yang sudah jelas asal-usulnya, serta keinginan mereka untuk mendapatkan bayaran.

     “I love you,” bisik wanita itu tanpa menggubris Dandeles.

     “Maukah kamu bermalam denganku, Tuan? Aku sangat kesepian,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Menunjukkan betapa kesepiannya wanita cantik yang masih sangat setia duduk di pangkuan James.

     ‘Ck! Jalang!’

     James memajukan wajahnya. Senyum tipis terlihat di wajahnya. Respons yang James tunjukkan terlihat seperti persetujuan, walaupun nyatanya itu hanyalah tameng dari sikap selanjutnya yang James ambil.

     Bruk!

     “Akh!” pekik wanita itu sambil meringis kesakitan. Memegang bokongnya yang terasa sangat ngilu saat terpentok ujung meja. James tiba-tiba langsung bangkit dari duduknya tanpa aba-aba hingga membuat wanita itu kehilangan keseimbangan dan tak sempat bergerak cepat untuk menahan tubuhnya sendiri.

     “Cari mangsa lain saja, Nona! Saya sudah memesan wanita cantik untuk menghabiskan malam di sini,” ujar James

begitu dingin dan langsung melenggang pergi meninggalkan meja disusul oleh Dandeles.

     “Sialan, kau Tuan!”

     James tetap melangkah walaupun ia sayup-sayup mendengar suara teriakan wanita yang sudah James permalukan di

depan umum terus memakinya tanpa henti.

     “James. Apakah kau ingin memesan wanita?” tanya Dandeles ditengah diamnya James yang sedang mengamati semua orang. Netra pria itu bahkan tidak melirik satupun wanita yang asyik berjoget dengan gaya mereka masing-masing untuk menarik perhatian pria. Hal itu membuat Dandeles sedikit merasa khawatir, “Apakah James sedang sakit?” pikir Dandeles.

     “Hm. Aku akan menunggu kabar

madam terlebih dahulu. Tak ada mucikari yang bisa aku percaya selain dia,” ujar

James membuat Dandeles paham maksud dari diamnya James malam ini. Biasanya,

James-lah pria yang paling ingin cepat ke proses penghangatan dengan seorang

wanita panggilan daripada teman-teman yang lainnya.

     “Kenapa madam digantikan? Bukankah kinerja dia bagus? Selama aku meminta dicarikan wanita oleh dia, dia selalu memberikan yang terbaik. Bahkan, lebih dari sekedar kata ‘terbaik’, menurutku. Soalnya, semua jalang yang dia sediakan sangat bisa memuaskanku,” jujur James membuat Dandeles terkekeh.

     “Entahlah. Mungkin, karena dia sudah tua (?)”

     “Justru, kalau dia sudah tua, bukankah itu artinya dia sudah memiliki pengalaman yang sangat lama dalam merekrut jalang di luaran sana yang menginginkan uang?” James mengerutkan keningnya begitu heran.

     “Entahlah. Menurut kabar yang aku dengar, mucikari kali ini katanya, masih muda. Gadis mungkin. Ah, tidak mungkin seorang gadis. Pasti dia sudah berpengalaman dengan kekasihnya, kan,

makanya bisa mendapatkan posisi penting ini,” kalakar Dandeles.

     “Ah, bisa jadi. Bahkan lebih berpengalaman,” timpal Janson.

     “Aku hanya menyayangkan, kenapa mucikari seperti madam harus digantikan?” Dandeles sedikit kecewa untuk hal ini.

     “Menurutmu, siapa yang akan menjadi pengganti madam? Apakah dia bisa menggantikan madam? Di hari pertama

dia bekerja, kau harus mengajakku untuk berkenalan dengannya agar aku bisa menyebutkan tipe-tipe jalang yang aku suka untuk memuaskanku,” ucap James.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED