Bab 2

Julie, Olivia, dan Caitlin mengurus pemakaman ibu mereka dengan dibantu warga sekitar. Sedangkan, Burhan kemana? Dia pergi tanpa ada yang tahu kemana perginya. Jangankan membantu mengurus pemakaman, peduli pada istrinya sendiri saja tidak. Bahkan di pemakaman tak terlihat batang hidungnya.

“Mah… Kenapa Mamah pergi secepat ini,” ucap Olivia sambil menangis di batu nisan ibunya.

“Maafin Julie ya Mah karena Julie belum bisa membahagiakan Mamah,” ucap Julie yang sudah meneteskan air mata.

Begitu juga dengan si bungsu Caitlin yang sangat sedih “Mah, mamah yang tenang disana ya.”

*****

Setelah dari pemakaman, mereka pulang ke rumah. Tak terima dengan kematian ibunya, Caitlin ingin kedua kakaknya bertindak tegas untuk menjebloskan ayah tirinya sendiri, Burhan ke penjara. Hal ini karena Burhan lah yang melakukan pembunuhan kepada ibu mereka.

“Kak Olivia, kak Julie, kita harus jeblosin Burhan ke penjara karena dia udah bunuh Mamah kita!” ucap Caitlin.

“Jangan asal menuduh Cait,” ucap Julie.

“Aku gak nuduh kak. Aku punya buktinya. Kalau kakak gak percaya kakak lihat sendiri aja,” ucap Caitlin sambil menunjukkan video cctv yang sudah ia pindah ke ponselnya.

Melihat itu, Julie dan Olivia kaget ternyata memang benar Burhan lah yang menyebabkan ibu mereka meninggal. Olivia sangat menyesal karena ia tak bergerak cepat untuk membuat ibunya berpisah dengan ayah tirinya. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa karena semuanya sudah terjadi.

“Ya ampun. Papah tega banget sama Mamah,” ucap Julie.

“Aku nyesel gak bisa bikin Mamah pisah sama pria yang gak baik buat Mamah,” ucap Olivia.

“Pokoknya kita harus melaporkan Burhan ke polisi. Aku gak terima dia bisa hidup tenang setelah menghancurkan keluarga kita,” ucap Caitlin.

Beberapa saat kemudian, Rendra, kekasih Olivia tiba di rumahnya. Sebenarnya, Rendra ingin datang lebih awal tetapi karena ia ada meeting dengan klien penting, ia tak jadi datang dan tak bisa ikut ke pemakaman ibu Olivia.

“Oliv, maaf ya aku baru dateng. Soalnya tadi aku ada meeting penting sama klien,” ucap Rendra.

“Gak apa-apa kok,” ucap Olivia.

“Kak Julie, Oliva, Caitlin, aku turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya tante Rosmala (ibu Julie, Olivia, dan Caitlin). Semoga almarhumah diampuni segala kesalahan dan ditempatkan di tempat terbaik di sisiNya,” ucap Rendra.

“Aamiin,”

Melihat kepedulian Rendra terhadap keluarganya membuat Julie iri. Rendra yang masih berstatus pacar saja sangat peduli dengan keluarganya, sedangkan suaminya, Willy sama sekali tidak menunjukkan kepeduliannya terhadap keluarganya. Padahal Julie sudah berkali-kali menelpon dan mengabari Willy tapi Willy malah mematikan telponnya.

“Rendra yang masih berstatus pacar aja kelihatan peduli banget sama keluargaku. Sedangkan, suamiku sendiri, Willy malah acuh sama keluargaku. Padahal kita kan udah menikah seharusnya dia gak bersikap kayak gitu,” batin Julie.

“Kak Rendra, kakak harus bantuin kita jeblosin Burhan ke penjara. Kita yakin kakak pasti bisa bantu kita,” ucap Caitlin.

“Maksud kamu Om Burhan ayah tiri kamu?” tanya Rendra.

“Maaf ya Ren kalau kesannya Caitlin gak sopan. Aku udah sering ngasih tahu dia tapi dia gak pernah mau denger,” ucap Olivia.

“Berarti yang Caitlin maksud itu benar ayah tiri kalian?” tanya Rendra.

“Iya Ren. Aku udah sering ceritain ke kamu kan gimana sikap ayah tiriku sama Mamah, aku, dan Caitlin? Ya gitu deh pokoknya. Kita gak nyangka kalau Papah tega melakukan perbuatan sekeji itu,” ucap Olivia.

“Aku juga gak nyangka kalau Om Burhan bisa senekat itu sama Tante. Kalau udah kayak gitu, kita gak bisa diem aja. Om Burhan harus mempertanggung jawabkan perbuatannya,” ucap Rendra.

“Nah itu kak Ren. Kita harus laporin Burhan secepatnya sebelum dia kabur semakin jauh,” ucap Caitlin.

“Iya. Nanti kita pikirkan lagi sama-sama gimana baiknya,” ucap Rendra.

“Kok nanti sih kak? Udah jelas ini ada buktinya ngapain coba nunggu-nunggu nanti segala,” ucap Caitlin.

Olivia memasang wajah jutek dan meminta Caitlin untuk diam, “Caitlin.. Diem, oke!”

“Hemm,” ucap Caitlin berdehem.

Di Rumah Julie

Karena Julie sudah membangun rumah tangga, Julie pun pamit sebentar untuk pulang ke rumahnya. Sesampainya dirumah, Julie melihat suaminya, Willy bersantai-santai di sofa sambil memainkan ponselnya. Entah mengapa Willy tega melakukan itu disaat istrinya berduka.

“Mas, kamu kemana aja sih? Tadi pagi aku nelponin kamu tapi malah kamu matiin telpon dari aku,” ucap Julie.

“Aku pikir gak penting,” ucap Willy santai dengan wajah yang tetap menghadap ke ponselnya.

“Aku gak mungkin nelpon kalau gak penting. Kalau aku udah berkali-kali nelpon kamu itu artinya penting!” ucap Julie.

“Emang ada apa sih?” tanya Willy.

“Mamahku meninggal,” ucap Julie.

“Oh,” jawab Willy singkat.

“Kok oh doang sih?” tanya Julie.

“Ya terus aku harus gimana? Nangis-nangis di sepanjang jalan gitu? Kan enggak,” ucap Willy.

“Aku mau kamu datang dan ikut ke pemakaman Mamahku. Rendra yang masih pacaran sama Olivia aja nyempetin waktu ke rumah masa kamu yang udah jadi suamiku malah gak peduli sama keluargaku!” ucap Julie.

“Yang meninggal kan mamah kamu bukan mamah aku. Jadi urus sendirilah,” ucap Willy.

“Tega ya kamu ngomong kayak gini sama aku. Kita kan udah menikah dan jadi suami istri yang sah. Berarti mamahku itu juga jadi mamahku,” ucap Julie.

“Iya,” ucap Willy.

“Kamu denger aku gak sih!” ucap Julie.

“Kalau aku gak denger mana mungkin aku jawab kamu,” ucap Willy.

“Tapi gak kayak gini juga dong. Dari tadi kamu main hape mulu tau gak!” ucap Julie.

“Hape hape aku ya terserah aku dong,” ucap Willy.

“Bener-bener ya!” ucap Julie merebut ponsel Will dari tangannya.

Tak terima, Willy merebut ponselnya lagi “Kamu apa-apa sih? Ngambil hape orang sembarangan!”

“Kamu yang apa-apaan! Kamu lebih fokus sama benda itu dibanding aku istrimu sendiri,” ucap Julie.

“Udah ya jangan bikin aku emosi. Aku lagi capek karena banyak kerjaan di kantor jadi kamu jangan bikin aku tambah capek,” ucap Willy.

“Aku cuma ingin pengertian dari kamu aja. Gak lebih,” ucap Julie.

“Terserah kamu aja deh,” ucap Willy kemudian pergi ke kamarnya.

“Willy. Kenapa kamu berubah? Kamu bukan Willy yang dulu aku kenal. Dulu kamu selalu bilang sayang sama aku, selalu perhatian sama aku, dan selalu ngertiin aku. Tapi kenapa sekarang berbeda? Apa kamu udah gak cinta lagi sama aku?” batin Julie ketika melihat Willy berjalan ke kamarnya.

Julie sangat sedih melihat sikap Willy yang sekarang. Julie kecewa karena Willy terlihat seperti tidak mencintainya lagi. Hal ini membuat Julie bertanya-tanya apakah ada yang salah dari dirinya? Jika iya, kenapa Willy tidak mengatakannya saja.

Bab 3

Beberapa hari kemudian, tepatnya di malam hari, teman-teman Caitlin datang ke rumahnya tetapi dengan penampilan yang tidak sopan. Bukannya ingin melayat, mereka malah ingin menjemput Caitlin untuk diajak ke club malam. Mereka terpaksa ke rumah Caitlin karena sedari tadi pagi nomer ponsel Caitlin tak bisa dihubungi.

Caitlin membuka pintu dan melihat teman-temannya datang dengan penampilan tak sopan, “Kalian ngapain ke rumah gue?” tanya Caitlin.

“Habisnya nomer lo gak bisa dihubungi sih,” ucap Erina, teman Caitlin.

Caitlin menarik kedua sahabatnya itu ke halaman rumahnya, “Lo berdua ngapain ke rumah gue pakai penampilan kayak gini!”

“Apa yang salah dari penampilan kita? Perasaan penampilan kita biasa aja,” ucap Steffi, teman Caitlin.

“Penampilan kalian biasa buat pergi ke clubbing tapi gak sopan kalau pergi ke rumah duka. Kalian mikir dong masa kalian ke rumah duka pakai penampilan kayak gini? Malu sama tetangga gue yang lagi yasinan di dalem,” ucap Caitlin.

“Rumah duka? Emangnya siapa yang meninggal?” tanya Steffi.

“Nyokap gue,” ucap Caitlin.

“Oh nyokap lo,” Erina.

“Ya udah sekarang lo ganti baju gih terus ikut kita ke restoran buat nyari makan. Habis itu jam 11 malem nanti kita ke klub,” ucap Steffi.

“Gila lo ya? Udah tau gue lagi berduka tapi kok bisa-bisanya sih lo berdua ngajakin gue ke clubbing,” ucap Caitlin.

“Justru karena kita tahu lo lagi berduka cita makannya kita mau ngajak lo bersuka cita. Paginya lo boleh sedih tapi malemnya lo harus happy-happy,” ucap Erina.

Sementara itu, sedari tadi Olivia tak melihat kemana perginya Caitlin. Oleh sebab itu, Olivia mencari tahu kemana perginya Caitlin. Setelah dicari-cari, Olivia akhirnya menemukan Caitlin yang sedang berada diluar. Olivia pun menyusulnya dan memintanya untuk segera masuk ke dalam rumah.

“Cait, kamu ngapain disini?” tanya Olivia.

Begitu melihat kedua teman Caitlin, Olivia terkejut dan menjewer telinga Caitlin “Didalam rumah lagi pengajian kamu malah ngobrol sama temen kamu diluar, mana pakaiannya gak pantas lagi.”

“Aduh..duh.. lepasin kak.. Malu sama temenku,” ucap Caitlin dan Olivia melepaskan tangannya dari telinga Olivia.

“Maaf kak kita gak tahu kalau lagi ada pengajian di dalam,” ucap Steffi.

“Kalian gak lihat ada bendera kuning didepan rumah?” tanya Olivia.

“Gak kelihatan kak,” ucap Erina.

“Lagian kalian ngapain sih kesini pakai baju kayak gini? Apa yang kalian kenakan gak pantas untuk melayat,” ucap Olivia.

“Kita kesini bukan mau melayat kak tapi mau ngajak Caitlin ke klub,” ucap Erina keceplosan.

“Kenapa malah lo kasih tau sih!” ucap Caitlin pada Erina.

“Apa ke klub? Jadi selama ini kalian sering ke klub sama Caitlin?” tanya Olivia.

“Enggak kok kak baru kali ini aja,” ucap Erina.

“Gak mungkin kalau baru sekali pasti udah berkali-kali kan? Kalian pikir saya gak tahu? Udah-udah mendingan kalian pulang sekarang dan jangan temui Caitlin lagi. Saya gak mengizinkan adik saya temenan sama kalian lagi,” ucap Olivia.

“Kak, aku tahu mereka salah tapi jangan marahin mereka juga dong kak. Mereka temen yang baik kok,” ucap Caitlin.

“Kalau mereka temen yang baik, mereka gak bakal ngajak kamu ke tempat yang gak baik. Udah mendingan kamu masuk dan biarkan mereka pergi,” ucap Olivia.

“Oke. Kita pergi,” ucap Steffi dengan wajah kesal. Kemudian ia pergi bersama Erina.

“Kenapa sih kakak selalu aja ikut campur sama kehidupan aku? Biarkan aku melakukan apapun yang aku suka selama itu gak merugikan kakak!” ucap Caitlin.

“Kakak adalah kakak kamu, jadi kakak berhak mengatur kehidupan kamu supaya gak terjerumus ke pergaulan yang salah. Kakak gak mau kamu temenan sama orang yang cuma bawa pengaruh buruk buat kamu!” ucap Olivia.

“Kakak jahat!” ucap Caitlin kemudian masuk ke dalam rumah.

*****

Waktu menunjukkan pukul 22 malam. Setelah warga pulang, Olivia melihat kakaknya, Julie termenung sendirian. Julie terlihat menangis di pojokan entah apa yang membuatnya menangis seperti itu. Olivia pun mempertanyakan hal apa yang membuat sang kakak menangis.

“Kak Julie kenapa?” tanya Olivia.

“Kakak lagi sedih liv,” ucap Julie.

“Sedih kenapa kak? Cerita aja sama aku,” ucap Olivia.

“Yang pertama, kakak sedih karena Mamah udah gak ada. Yang kedua, kakak sedih karena sikap Willy. Kakak ngerasa Willy udah berubah,” ucap Julie.

“Perasaan kakak aja kali,” ucap Olivia.

“Bukan sekedar perasaan kakak Liv tapi itu kenyataan. Semakin hari, sikap Willy semakin berubah. Kakak melihat Willy yang sekarang bukan Willy yang dulu lagi,” ucap Julie.

“Jangan buru-buru menilai kak Willy. Coba kakak bicarakan baik-baik dulu sama kak Willy,” ucap Olivia.

“Kakak udah pernah ngomongin soal apa yang kakak rasakan sama Willy tapi dia malah marah dan bilang kalau kakak gak pengertian sama dia,” ucap Julie.

“Kakak yang sabar ya,” ucap Olivia kemudian memeluk Julie.

Julie berkata, “Aku capek nikah sama orang yang gak pernah menganggap aku ada Liv. Apapun yang aku lakukan gak pernah ada artinya di mata Willy. Aku buatin sarapan gak pernah dia makan, aku bikinin minum gak pernah dia minum, bahkan aku tanya aku harus apa, pun tetep gak dia gubris.”

“Willy jarang ada dirumah tapi sekalinya dia dirumah dia cuma fokus sama hapenya. Setiap aku ajak ngobrol dia gak pernah mau denger dan tetap fokus sama hapenya. Aku bingung harus gimana lagi ngadepin Willy. Aku selalu menjalankan kewajibanku sebagai istri tapi Willy gak pernah menghargai itu,” imbuhnya.

“Sebagai adik, aku gak terima sama sikap dan perlakuan kak Willy sama kak Julie. Aku pikir kak Willy pria yang baik tapi apa yang ada di pikiranku ternyata salah. Aku gak nyangka ternyata kak Willy bisa bersikap seburuk itu sama kakak,” ucap Olivia.

Julie berkata, “Pas awal-awal pernikahan, hubungan kita baik-baik aja. Kita selayaknya suami istri pada umumnya. Tapi seiring berjalannya waktu, semua berubah dan Willy yang sekarang seperti bukan Willy yang dulu aku kenal.”

“Tadi kakak bilang kalau kak Willy jarang di rumah kan? Dan pas di rumah kak Willy malah sibuk sama hapenya. Kok aku jadi curiga ya. Coba deh kakak periksa hapenya kak Willy siapa tahu ada sesuatu yang bikin dia gak berhenti mantengin hape,” ucap Olivia.

“Diam-diam aku udah pernah ambil hapenya dan mau aku cek tapi keburu ketahuan sama dia. Pas dia lihat aku megang hapenya, dia langsung ngambil hapenya dari tanganku. Terus dia marah-marahin aku dan bilang kalau aku gak boleh sentuh hapenya lagi,” ucap Julie.

“Kayaknya emang ada yang kak Willy sembunyikan dari kakak deh. Kalau emang gak ada yang kak Willy sembunyikan, seharusnya kak Willy gak perlu sekhawatir itu pas kakak megang hapenya,” ucap Olivia.

“Aku mikirnya juga gitu Liv,” ucap Julie.

“Kakak gak boleh diem aja. Kakak harus bertindak supaya kakak tahu apa yang sebenarnya terjadi sama kak Willy!” ucap Olivia.

“Gimana caranya Liv?” tanya Julie.

“Nanti kita pikirkan lagi kak. Yang penting sekarang kakak tenangin diri kakak dulu,” ucap Olivia.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED