Padukuhan Kebon Kelapa adalah sebuah pemukiman yang berada di bawah kekuasaan Kademangan Mandura. Selain banyak ditumbuhi pohon kelapa, padukuhan ini juga merupakan padukuhan yang menghasilkan hasil pertanian yang paling melimpah di bandingkan padukuhan lainnya.
Tetapi, setelah musim kemarau yang berkepanjangan, maka banyak warga yang kemudian mengalami gagal panen, terutama tanaman padi yang merupakan tanaman yang paling banyak ditanam para penduduk di sana.
Sehingga untuk memenuhi kebutuhan mereka, maka banyak diantara para penduduk yang kemudian meminjam uang kepada seorang saudagar kaya raya bernama Ki Sabrang, yang datang dari suatu desa yang sangat jauh. Tetapi Ki Sabrang itu, menghendaki agar pinjaman para penduduk dibayar dengan menanam tanaman lada di sawah dan ladang mereka, alih-alih menanam padi.
Mau tak mau para penduduk yang berhutang itu akhirnya terpaksa menanam lada demi untuk membayar hutang mereka. Sekaligus juga memenuhi biaya hidup.
Sementara itu di sebuah yang rumah yang terhitung paling besar dan paling luas halamannya di bandingkan rumah-rumah penduduk Kebon Kelapa lainnya. Rumah itu adalah rumah Lurah Kebon Kelapa yang bernama Ki Wira.
Di dalam rumah itu tampak seorang gadis belasan tahun berjalan masuk kedalam salah satu kamar di dalam rumahnya. Tampak olehnya seorang pemuda tampak tidur meringkuk diatas pembaringannya, padahal waktu itu matahari sudah hampir tepat diatas kepala.
“Kang. Kakang Widura. Bangun Kang.” gadis belasan tahun itu mengguncang-guncang bahu pemuda yang tengah meringkuk seperti bayi.
“Kakang, ayo bangun.” Terdengar pemuda itu berucap pelan sembari menggeliat malas, “Ada apa Wulan?”
“Apakah Kakang lupa. Bapak tadi meminta kakang menyusulnya ke sawah.”
“Untuk apa Wulan.” ucap malas kakaknya itu. Iapun terpaksa bangun juga dengan ogah-ogahan. Meskipun terlihat berantakkan, anak muda itu sebetulnya berparas sangat tampan. Hanya saja ia memiliki warna kulit yang putih tetapi agak pucat. Seolah-olah dia adalah mayat hidup. Namanya Arya Widura. Merupakan anak sulung Ki Wira. Dan kakak laki-laki dari Rara Wulan, nama gadis belasan tahun adiknya itu.
“Ya untuk membantu bapak.”
“Kenapa aku juga harus ikut ke sawah. Mana, biyung?”
“Biyung juga ikut kesawah. Sedangkan aku harus menyiapkan makanan dan minuman.”
“Aku masih mengantuk sudah harus bangun.” geremang Arya Widura.
“Salah kakang sendiri selalu pulang larut malam. Kakang ini anak seorang Lurah, anak pimpinan di Padukuhan Kebon Kelapa ini. Seharusnya kakang memberikan contoh yang baik untuk para pemuda di sini, bukannya bermalas-malasan.”
Mendengar adiknya yang terus mengoceh, Arya Widura akhirnya beringsut dari pembaringannya. Setelah mencuci muka di pakiwan, iapun pergi kebelakang untuk mengambil parang.
Rara Wulan tampak tersenyum melihat kakaknya yang tengah bersiap-siap. Tidak lupa ia memberikan caping yang cukup lebar untuk kakaknya. “Supaya kakang tidak kepanasan di jalan.” katanya.
“Terima kasih.”
Rara Wulan lalu mengantar kakaknya itu hingga ke depan pintu regol. Setelah memastikan kakaknya itu betul-betul pergi ke sawah, ia kembali berjalan menuju rumahnya. Namun tiba-tiba seseorang berseru memotong langkahnya.
“He, Wulan.”
"Aduh. Kenapa laki-laki tua ini datang lagi," berkata Rara Wulan di dalam hatinya, “mana bapak dan biyung tidak ada di rumah pula.”
Laki-laki tua itu terkekeh melihat wajah Rara Wulan yang tampak memucat. Dia adalah Ki Sabrang, saudagar kaya yang akhir-akhir ini mulai mengusik kehidupan keluarga Rara Wulan. “Rumahmu tampak sepi. Kemana orang tuamu, Wulan?”
“Bapak dan biyung pergi ke sawah, Ki.”
Ki Sabrang yang sudah berada di hadapan gadis cantik bernama Rara Wulan itu tampaknya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, “Rajin betul kedua orang tuamu itu, Wulan. Apa boleh aku menunggu mereka di rumahmu?”
“Iya, silahkan Ki. Tapi sebentar lagi saya juga akan pergi kesawah,” Rara Wulan mempersilahkan Ki Sabrang duduk di pendapa rumahnya. Sementara ia berjalan tergesa-gesa masuk kedalam rumah. Namun Ki Sabrang itu segera berseru.
“Masa tamu ditinggal begitu saja.”
“Tapi saya harus pergi ke sawah Ki. Saya harus mengantarkan makanan dan minuman.”
“Tidak baik meninggalkan tamu seorang diri. Duduk saja disini temani aku.”
“Tapi, Ki. Tapi ....”
“Duduklah disini. Orang tuamu akan mengerti jika kamu tidak pergi kesawah, dikarenakan ada tamu dirumah.” ucap Ki Sabrang dengan nada memaksa.
“Iya, Ki.” dengan langkah ragu-ragu Rara Wulan terpaksa berbalik lalu duduk di hadapan Ki Sabrang. Meskipun begitu jarak mereka memang cukup berjauhan. Bahkan Rara Wulan tampak terdiam lama tanpa berbicara sepatah katapun. Sedang Ki Sabrang menatapnya dengan pandangan yang puas.
“Berapa umurmu, Wulan?” tanya Ki Sabrang.
“Empat belas tahun, Ki.”
“Umurmu masih belum dewasa. Tapi kau sudah cantik luar biasa. Apalagi ada tahi lalat di tepi bibirmu itu.” Ki Sabrang terdengar memuji.
“Maaf Ki Sabrang. Saya harus pergi ke sawah mengantarkan makanan dan minuman. Sekalian saya akan memberitahukan kepada bapak bahwa Ki Sabrang ada di rumah.” ujar Rara Wulan yang sebetulnya tengah berusaha melepaskan diri dari laki-laki tua tidak tahu diri itu.
“Tidak perlu terburu-buru. Aku datang kesini hanya ingin bertemu denganmu saja,” kata Ki Sabrang, “setelah dari sini aku akan berdagang ke Pelabuhan Candra Baga. Tidak seperti di Muara Sungai Gomati, di Pelabuhan Candra Baga akan banyak para saudagar dari berbagai tempat bahkan dari Kerajaan Medang Jati. Nah, kau mau aku belikan apa? Apakah kau ingin baju dan perhiasan? Nanti akan aku belikan.”
“Tidak perlu Ki. Terimakasih.”
“Jangan malu-malu. Aku akan belikan baju dan perhiasan yang paling mahal dan bagus dari Kerajaan Medang Jati untukmu, Wulan.”
“Baju dan perhiasan yang saya pakai ini sudah lebih dari cukup. Saya tidak suka mengenakan pakaian dan perhiasan yang terlampau berlebihan.”
Ki Sabrang tidak berputus asa. Ia kini berani memegang pergelangan tangan Rara Wulan.
“Jangan Ki. Lepaskan tangan saya.” Rara Wulan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Ki Sabrang. Sayangnya cengkeraman tangan laki-laki tua itu terlampau kuat.
Di saat seperti itu, tiba-tiba muncul seseorang dari balik pintu regol rumah Rara Wulan. Orang itu tampak termangu-mangu sesaat, namun ia segera berdehem. Sehingga mengejutkan Ki Sabrang juga Rara Wulan. “Maaf, saya mengganggu.”
Ki Sabrang nampak kesal, “Siapa kamu?” serunya kepada pemuda belasan tahun yang tampak berdiri tegak di halaman pendapa. Iapun terpaksa melepaskan tangan Rara Wulan.
“Tidak perlu tahu. Saya hanya ada perlu dengan kakak dari perempuan yang kisanak ganggu itu.”
“Kamu?”
Melihat Ki Sabrang yang nampak tersinggung, Rara Wulan segera menyela agar laki-laki tua itu tidak berbuat ulah di rumahnya.
“Kang Batara, silahkan duduk. Kakang Widura sedang pergi kesawah. Tadi Kakang Widura bilang bahwa kalau Kakang Batara datang, ia meminta kakang untuk menunggunya.” ucap Rara Wulan. Sementara dalam hati ia memohon maaf pada Batara, karena sebetulnya ia tidak mendapat pesan seperti itu dari kakaknya.
Batara tampak mengerutkan keningnya, ia bahkan sempat memandang Ki Sabrang sekilas. Namun iapun kemudian naik ke pendapa dan bahkan dengan seenaknya duduk di sisi Ki Sabrang yang menatapnya heran.
“Kalau begitu, saya pergi.” ujar Ki Sabrang.
“Iya Ki,” ujar Rara Wulan tanpa sadar. Ki Sabrang sendiri memang sudah berdiri dan kemudian berjalan turun dari pendapa. Bahkan kakinya dengan sengaja telah menyenggol lutut Batara pula. Ia menatap Batara dengan tatapan seolah ingin membunuhnya karena telah mengganggu kesenangannya. Seterusnya Ki Sabrang melangkah turun dan keluar melewati pintu regol.
“Selamat aku.” berkata Rara Wulan di dalam hatinya. Tampak ia menghela napas lega dan mengusap dadanya yang serasa sesak untuk beberapa lama.
“Kamu selalu menjaga jarak dengan para pemuda. Tapi kenapa kamu malah membiarkan laki-laki tua itu mendekatimu bahkan memegang tanganmu?”
“Ini tidak seperti yang kakang bayangkan. Ki Sabrang itu banyak membantu warga-warga di Padukuhan Kebon Kelapa yang kekurangan uang untuk biaya hidup mereka, ketika gagal panen dulu. Jadi ... dia akhir-akhir ini sering datang kerumah kami, kang.”
Batara menyipitkan matanya. Tetapi iapun menghela napas pelan. “Aku pergi dulu.”
Rara Wulan tampak bingung menanggapi sikap pemuda aneh itu. Namun ketika Batara melangkah turun dari pendapa. Gadis belasan tahun itu segera berseru. “Kang Batara. Terima kasih. Aku ... aku ....”
“Aku hanya kebetulan melintas disini.” sela Batara.
Rara Wulan hanya berdiri diam di pendapa rumahnya sembari menatap punggung pemuda itu.
Lebih dari setahun yang lalu, pemuda bernama Batara itu datang dari suatu tempat yang sangat jauh. Dia mengatakan hendak mencari sebuah dusun bernama Dusun Sendang Karang. Membuat semua orang terkejut mendengarnya. Karena setahu mereka, Sendang Karang itu bukanlah sebuah dusun seperti yang dikatakan oleh Batara. Sendang Karang hanyalah sebuah hutan di kaki Gunung Sraya. Hutan yang bahkan sangat jarang di masuki oleh manusia. Banyak yang mengatakan kalau hutan itu sangatlah sanget dan hanya di huni kaum dhemit dan bangsa lelembut lainnya.
Tetapi meskipun begitu Batara malah tinggal beberapa lama di Mandura dan mengandalkan hidup dengan bekerja di sebuah penginapan yang berada di perbatasan kademangan. Karena sikap Batara yang begitu tenang dan tidak nganeh-nganehi, pemilik penginapan dan warga Mandura terutama para perempuan muda justru merasa senang dengan keberadaanya.
Pemuda setampan Batara yang bagaikan Sang Arjuna mencari cinta atau niscaya Sang Kamajaya turun ke alam manusia. Maka perempuan mana yang tidak akan betah berlama-lama menatap wajahnya. Bahkan, anak perempuan Demang Mandura pun, sudah beberapa kali mencoba menarik perhatiannya. Namun Batara sama sekali tidak memedulikannya.
Suatu hari, Batara yang mulai merapikan dan mengelap meja-meja yang berdebu bekas para pengunjung semalaman, tampak di hampiri oleh pemilik penginapan.
“Batara. Hari ini aku ada perlu dan mungkin akan kembali setelah lewat tengah hari. Kau dan si Bondan bekerja seperti biasa saja. Lauk yang sudah agak dingin, cukup kau hangatkan. Kalau urusan lalaban dan sambel kau bisa mengandalkan si Bondan.”
Batara hanya menganguk pelan.
Beberapa saat setelah pemilik penginapan pergi, para pengunjung yang sekedar hendak makan dan minum mulai berdatangan. Batara dan Bondan sekejap kemudian menjadi sibuk melayani pesanan para pengunjung.
Namun di hari itu, ada satu pengunjung yang menarik perhatian Batara. Seorang laki-laki tua dengan pembawaan setenang rembulan terlihat berjalan masuk kedalam penginapan yang juga menyediakan sebuah kedai. Meskipun tidak dengan menebar senyuman ramah, Batara hanya mengandalkan sikap sopannya untuk menyambut seorang pengunjung yang tidak nampak sederhana itu.
“Tolong hidangkan nasi putih beserta lauknya, daging ayam.”
Batara mengangguk tanda mengiyakan.
“Oh ... saya juga mau lalaban dan sambal ijo. Minumnya cukup air teh hangat saja.”
“Apakah masih ada yang lain?” Batara yang semula tidak berucap sepatah katapun terpancing juga untuk berbicara. Karena laki-laki tua itu dirasa terlampau banyak meminta.
“Saya juga hendak menginap satu malam. Apakah masih ada kamar yang kosong?”
“Ada. Kamarnya akan segera kami persiapkan.”
“Kalau begitu, terima kasih.”
Ketika Batara tengah menyiapkan pesanan laki-laki tua itu, maka datang pula tiga orang bertubuh tinggi besar dan nampak garang.
Tanpa basa-basi, salah seorang dari mereka langsung berseru memanggil Batara. Seruannya begitu keras hingga mengejutkan pengunjung penginapan yang tengah menyantap hidangan mereka.
“BATARA .... KELUAR KAMU BOCAH DHEMIT!!”
Bondan segera mendekati Batara yang nampak acuh tak acuh.
"Batara, kau ada urusan apa dengan para tukang pukul Ki Sabrang?" bisik Bondan sembari pandangannya mengawasi ketiga pengunjung yang tidak di kehendaki itu.
“Mana aku tahu.”
“Jadi maksudmu, mereka hanya mencari gara-gara?”
“Aku juga tidak tahu.” Batara lalu meminta Bondan untuk mengantarkan pesanan laki-laki tua itu. Sedangkan ia hendak menyiapkan satu buah kamar yang di pesannya.
Namun, ketiga orang berpenampilan sangar itu langsung mencegatnya. Membuat semua orang yang berada di dalam penginapan menjadi berdebar-debar. Hampir semua pengunjung tahu, kalau ketiga orang berpenampilan sangar itu adalah tukang pukul Ki Sabrang. Jika tiba-tiba ada orang yang di datangi ketiganya. Maka pasti orang itu telah menyinggung saudagar kaya raya itu entah seperti apapun masalahnya.
“Kau yang bernama Batara, bukan?”
“Saya sedang sibuk, kisanak. Jika ada urusan, tunggulah sampai saya menyelesaikan pekerjaan saya.” ucap tenang Batara, seolah-olah kehadiran ketiga orang itu, sama sekali tidak berpengaruh apa-apa terhadap dirinya.
•••••
“Bocah tengik, beraninya kau mengabaikanku. Kau tidak tahu siapa aku, HAH!?” Laki-laki yang terlihat lebih tua dari kedua kawannya terdengar berteriak kepada Batara yang nampak bersikap seolah tidak ada siapa-siapa di hadapannya.
Sementara itu, para pengunjung sudah mulai merasa cemas. Mereka yang penakut bahkan ada yang mempercepat makan mereka. Kemudian membayar dengan tergesa-gesa dan meninggalkan penginapan secepatnya.
Bondan sendiri, nampak berdiri dengan kedua lutut hampir gemetaran. Dalam hati ia bergeremang dan mengutuk Ki Sabrang yang memang suka berbuat seenaknya. Seolah-olah, Kademangan Mandura ini dia yang punya dan berkuasa.
Sedangkan Batara yang tengah berhadapan langsung dengan ketiganya nampak menyipitkan mata, ia betul-betul tidak ingin meladeni ketiga pengunjung yang tidak tahu diri itu.
“Kenapa menatapku seperti itu?”
“Lima kepeng.”
“Apa maksudmu?”
“Jika kisanak ingin berbicara dengan saya. Itu artinya kisanak bersedia membayar waktu saya yang seharusnya saya gunakan untuk bekerja.”
“Setan!!” Seketika laki-laki itu kemarahannya langsung meledak.
Brakkk!!
Satu buah meja yang tidak bersalah telah hancur dengan sekali hantaman tangannya yang kekar. Menandakan kalau laki-laki itu memiliki tenaga cadangan yang luar biasa. Tetapi bukannya gentar, Batara malah kembali berkata dengan nada penuh penekanan.
“Meja ini terbuat dari kayu mahoni terbaik. Kisanak, kau harus menggantinya seharga empat kepeng perak.”
“Gila!! Ringkus dia!!” Teriak laki-laki itu pada kedua kawannya.
“Hhh ... anak-anak muda. Kalian memang memiliki semangat yang menggebu-gebu. Tapi tidakkah kalian menyadari bahwa kehadiran kalian mengurangi selera kami yang tengah mengisi perut kami yang minta jatah ini.” Laki-laki tua yang baru saja memesan sebuah kamar tampak mengusap-usap perutnya.
“Diamlah kau kakek tua. Jangan sampai kami memperpendek umurmu yang tinggal sepenginang itu!!”
Laki-laki tua itu terkekeh sembari menggelengkan kepalanya. Setelah meneguk minuman teh hangatnya iapun berdiri. “Anak-anak muda. Kalian telah melanggar satu pelajaran hidup yang harus selalu kalian ingat sepanjang hayat kalian. ‘Selalu bersikap santun kepada orang tua dan jangan sesekali berani menengadahkan kepalamu dengan deksura’. Nah, jangan salahkan aku, bila aku harus menghukum kalian.”
“Gha ha ha ha. He, orang tua. Dengan tubuh ringkihmu itu kau bilang ingin menghukum kami. Gha ha ha ha.”
Wusshhh!!
Disaat ketiga orang itu masih tertawa bergelak. Maka, tamparan angin yang sangat kuat tiba-tiba saja telah menerpa ketiganya dan melemparkan mereka dengan keras. Dua dari mereka menimpa meja dan dinglik kayu hingga roboh. Seorang lagi membentur tiang penginapan dan langsung terjatuh lunglai, mengernyit merasakan nyeri di punggungnya.
Batara menghela nafas pelan. Ia sama sekali tidak tergetar melihat apa yang dilakukan laki-laki tua itu. Dengan sekali lambaian tangannya, ketiga laki-lagi garang itu telah terlempar seperti tidak berbobot dan kemudian bergelimpangan di lantai penginapan. Sedangkan para pengunjung justru menjadi takjub dengan ilmu kanuragan laki-laki tua itu yang menurut mereka terlihat ringkih dan kasihan. Tetapi ternyata memiliki ilmu jaya kasantikan.
Laki-laki tua itu tersenyum puas, namun sepertinya ia tidak berniat untuk memperpanjang masalah. Karena niatnya, cuma ingin memberi pelajaran dan membuat ketiga orang itu beranjak pergi dari penginapan.
Namun, ketiga orang berwajah garang itu ternyata belum menjadi jera. Ketika mereka dapat kembali berdiri dengan tatag, maka serempak menyerang laki-laki tua itu.
“Mati kau setan tua!!” Laki-laki yang paling tua menjulurkan tangannya yang terkepal kearah kepala laki-laki tua. Namun …
Set!
Laki-laki tua yang kembali duduk di dingklik kayu hanya menarik wajahnya kebelakang dan menangkap pergelangan tangan itu. Lalu dengan entengnya, maka tubuh tinggi besar itu telah melayang kemudian menimpa meja yang kosong. Dan kembali meja yang tidak bersalah itu ambruk. Membuat Batara mengusap wajahnya dengan pasrah, karena kerugian di dalam penginapan itu telah bertambah.
Sementara para pengunjung dan Bondan tampak menepi ke dekat dinding. Meskipun sebetulnya merasa takut, mereka juga menjadi penasaran dengan sepak terjang kakek tua tapi memiliki kesaktian itu.
Melihat gegedug mereka sudah tak berdaya, kedua laki-laki garang yang tersisa tidak lantas menyerah. Dengan teriakan nyaring dan mulut agak terbuka, mereka menyerbu laki-laki tua itu bersamaan. Kali ini laki-laki tua itu tidak menunggu keduanya mendekat, ia melemparkan tulang ayam tepat ke dahi keduanya.
Set! Set!
Pletak! Pletak!
“Aduhh ....!!”
“Alaaaahhh !!”
Meskipun keduanya terlempar keras ke belakang, untunglah tidak ada meja di sana. Sehingga keduanya telah terjungkal dan bergulingan beberapa kali di lantai penginapan.
“Ampun kek, ampun .... Ka-kami menyerah!!” ucap ketiga orang itu sembari bersujud-sujud dihadapan laki-laki tua yang kini telah berdiri dengan tatapan setajam elang mengawasi mangsanya.
“Kenapa masih juga belum pergi?”
“Ba-baik, kek. Kami pergi ....”
Ketiganya berdiri saling memapah dan segera meninggalkan penginapan.
“Hei ... tunggu ...!!” seru Batara yang hendak menahan ketiganya. Namun langkahnya terhenti oleh seruan laki-laki tua yang telah membuat keramaian di dalam penginapan.
“Biarkan saja anakmas. Mereka pasti sudah kapok.”
“Mereka belum membayar semua kerusakan yang mereka timbulkan.” Batara memperlihatkan empat buah meja dan dua buah dingklik yang telah pecah berantakkan, “semuanya bernilai 22 kepeng perak.” ucapnya lagi sembari memungut potongan salah satu kaki meja.
“Nilai 22 kepeng perak tidak sebanding dengan keselamatan bahkan nyawa orang-orang disini.”
“Baik. Kalau begitu, kenapa tidak kau saja yang membayar semua kerugian ini.”
Seketika wajah laki-laki tua itu menjadi merah, ia berbicara dengan nada hampir tidak percaya. “Yang benar saja. Aku telah mengusir orang-orang tidak tahu diri itu. Aku telah menyelamatkan kalian dari keadaan yang buruk.”
Brasshhh!!
Potongan kayu di tangan Batara seketika lebur menjadi abu. “Memangnya siapa yang perlu di selamatkan. Kalau saja kisanak tidak pamer ilmu kanuragan, maka orang-orang itu sudah aku remukkan seperti kayu ini.”
Laki-laki tua itu melebarkan matanya. “Kau ternyata pandai ilmu kanuragan?”
Batara mengulurkan tangannya seperti meminta. “22 kepeng perak. Berikan.”
“Anakmas. Kau ini betul-betul tidak memiliki hati nurani.” ucap laki-laki tua itu sembari mengeluarkan kampil di balik pakaiannya dan mengambil beberapa keping uang di dalamnya.
Batara nampak tidak peduli, tatapannya masih menuntut ganti rugi pada laki-laki tua itu. Namun ia langsung terkejut ketika menerima uang yang jumlahnya tidak sesuai dengan apa yang dia minta.
Laki-laki tua itu terkekeh dan langsung berlari menuju halaman penginapan. Seperti seekor burung sikatan, tubuhnya lalu melayang deras menuju ke arah hutan di pinggir Kademangan.
“Aku tidak jadi menginap disini!!” Teriaknya di kejauhan.
“Setan Tua. Kau jangan lari!!” Teriak Batara pula. Ia langsung mengejar laki-laki tua itu.
“Eh Batara!!” seru Bondan. Tetapi ia terlambat mengejar Batara yang tubuhnya juga melayang seperti laki-laki tua yang di kejarnya. Matanya melebar mulutnya terbuka. Tidak menduga bahwa pemuda itu ternyata seorang yang juga memiliki ilmu kanuragan yang tinggi.
Tepat saat itu, seorang gadis belasan tahun berlari-lari kearah Bondan. Nafasnya menderu dadanya turun naik. “Bondan, baru saja aku melihat Batara mengejar seorang laki-laki tua. Mereka seperti ... terbang ...?”
Melihat gadis muda itu, wajah Bondan seketika menjadi merah, jantungnya berdegupan kencang. Bertemu muka dengan gadis idaman sejak ia masih kanak-kanak, membuatnya tidak karuan rasanya. Tetapi sayangnya, jarak diantara dirinya dan gadis idamannya itu seperti langit dan bumi. Dirinya hanya sebatas pemuda biasa yang hanya mampu mencukupi kebutuhan hidupnya dengan serba keterbatasan. Sedangkan gadis idamannya adalah seorang putri tunggal Demang Mandura yang hidupnya serba bergelimang harta.
“Bondan ... Kau ini dengar atau tidak?”
“I-iya, Gandini. Maaf, tadi itu memang Batara.”
“Sejak kapan Batara memiliki ilmu kanuragan?”
“Sejak ... aku tidak tahu. Mungkin saja Batara memang memiliki ilmu kanuragan selama ini. Tapi, dia tidak pernah memamerkannya.”
Gandini, nama gadis anak tunggal Demang Mandura itu tersenyum kecil. “Memang semakin membuat penasaran saja pemuda tampan itu.”
Sementara itu, Batara masih mengejar laki-laki tua itu yang berlari secepat angin, bergerak secepat kilat. Bahkan, kadangkala ia melayang seperti burung kalangkyang. Demikian pula dengan Batara yang terus meneriakinya "Setan Tua". Pemuda belasan tahun itu ternyata mampu menyamai kecepatan gerak laki-laki tua yang tengah di kejarnya.
“He he he. Tidak kusangka, pemuda belasan tahun itu memiliki Aji Napak Mega yang sudah memasuki tingkatan yang tinggi.” kekeh laki-laki tua itu. “Nah, aku akan mempergunakan Aji Sepi Angin. Sekarang, apakah kau masih mampu mengejarku, Setan Kecil.”
Batara terkejut ketika melihat tubuh laki-laki tua itu melesat bagai bayangan dan tiba-tiba saja telah meninggalkannya jauh di belakang.
“Setan Tua. Tunggu!!” teriak Batara dengan geramnya.
“Kalau kau mampu mengejarku. Bukan saja 22 kepeng perak. Lebih dari itupun akan aku berikan. Nah, kejarlah ...!!!” seru laki-laki tua itu di kejauhan.
“Dasar Setan Tua Gila!!”
Hanya terdengar suara tawa terkekeh di kejauhan sana. Sehingga membuat Batara semakin geram di buatnya. Namun pemuda belasan tahun itu terus saja bergerak maju tanpa henti. Dan tanpa di sadarinya, ia telah mendekati pinggiran hutan yang sangat lebat. Ketika ia semakin masuk kedalam hutan itu, tiba-tiba saja tubuhnya seperti di telan rimbunnya dedaunan. Di siang buta saat matahari hampir tepat diatas kepala. Tubuh Batara, telah menghilang begitu saja dari pandangan mata.
•••••