Bab 2

Fakhri keluar dari ruang atasannya. Langkahnya agak terburu seperti biasa kalau dia sedang sibuk mengurusi sesuatu. Penugasannya sebulan lalu di sebuah perguruan tinggi swasta untuk memberikan jasa konsultansi implementasi standar mutu di lembaga pendidikan itu tidak bisa ditanganinya sendiri. Sebenarnya, Fakhri sudah memprediksi itu akan terjadi, tetapi atasannya memaksa untuk hanya menugaskannya sendiri untuk menekan biaya. Setelah menjalani satu kali kunjungan ke perguruan tinggi itu, Fakhri memiliki argumen yang tak bisa ditolak atasannya bahwa perlu tenaga tambahan untuk membantunya di sana.

"Mbak lagi sibuk?" tanya Fakhri ketika tiba di meja kerja Watining. Perempuan yang usianya dua tahun lebih tua darinya itu sudah seperti saudaranya sendiri. Pembawaan Watining yang supel membuat Fakhri selalu nyaman saat bersama Watining.

"Ndak juga. Aku cuma lagi meriksa laporan yang baru selesai kubuat. Ada apa?" tanya Watining dengan suaranya yang lembut dan berlogat Jawa.

Fakhri menarik kursi di hadapan Watining, lalu duduk di sana. "Mengenai pekerjaan yang ditugaskan ke aku di Pagaralam itu, waktu itu aku, 'kan, pernah cerita kalau aku enggak bisa tangani sendiri, tapi bos maksa menugaskan aku sendirian. Setelah dari sana, ternyata memang keteteran aku kerja sendiri. Aku minta tambahan tenaga dan aku usulkan Mbak untuk bantu aku. Mbak mau enggak bantu aku?"

Watining tampak berpikir beberapa detik. "Perguruan tingginya besar?"

"Enggak terlalu besar, tapi kan tahu sendirilah ada banyak unit yang perlu diberi pelatihan dan bimbingan untuk implementasi. Kalau kita berdua yang tangani, kita bisa berbagi. Jadi, pekerjaannya bisa lebih cepat selesai. Tapi, mesti keluar kota dua kali sebulan. Gimana, Mbak?" Fakhri menatap wajah Watining yang tampak berpikir.

"Sebenarnya ndak ada masalah. Aku juga sudah biasa tugas ke luar kota, 'kan?"

"Aku agak ragu karena enam bulan ke depan, kita mesti ke sana dua kali sebulan. Itu artinya Mbak bakal rutin ke luar kota. Bakal lebih sering meninggalkan anak-anak."

"Memangnya, berapa hari sekali kunjungan?" Mata Watining yang berbinar indah tampak lebih indah kalau dia sedang berbicara serius.

"Jatuhnya tiga hari. Dua hari, perjalanan pergi dan pulang. Satu hari, tugas di sana. Kita bisa berangkat akhir pekan. Hari Jumat, kita berangkat. Sabtu, tugas di sana. Minggu pagi, kita pulang. Gimana menurutmu, Mbak?"

Watining menyandarkan punggungnya lebih ke belakang di sandaran kursi kerjanya. Dia langsung menjawab, "Ndak masalah sih. Aku bersedia."

Fakhri tersenyum. "Makasih, Mbak."

"Ngomong-ngomong, di sana enak ndak sih?"

"Namanya di kaki gunung, tempatnya sejuk. Kotanya kecil jadi enggak bisa kita samakan dengan di sini. Menghadapi orang-orangnya juga mesti agak sabar. Secara kompetensi, mereka sebagian agak kurang."

"Tapi, kelihatannya menarik. Kita bisa menyegarkan pikiran di sana. Anggap saja liburan," ujar Watining diikuti tawa kecilnya. Fakhri merasa lega. Tampaknya Watining tidak menganggap pekerjaan itu sebagai tugas yang berat.

"Iya. Sebenarnya pekerjaannya enggak berat. Cuma mesti bersabar saja menghadapi mereka kalau agak lambat mengerti."

"Di kota besar juga, ndak selalu ketemu orang-orang yang gampang ngerti kalau kita jelasin, 'kan? Jadi, biasa sajalah."

"Oke. Kalau begitu, aku ke bagian keuangan dulu ngurusin masalah tambahan personel. Makasih, ya!" Fakhri meninggalkan meja kerja Watining.

"Bentar!" ujar Watining menahan langkah Fakhri dan membuatnya membalik badannya, "Apa yang mesti aku siapin?"

"Nanti, aku email rinciannya, ya?"

"Oke, Bos!"

Fakhri sebenarnya sudah bisa menduga bahwa Watining tidak akan menolak penugasan itu. Dia sudah mengenal baik perempuan itu sejak lama. Sejauh ini, Watining belum pernah menolak setiap kali Fakhri meminta bantuannya.

Fakhri sudah mengenal Watining sejak Fakhri masih duduk di bangku SMA. Suatu hari, Heru, saudara angkatnya, mengajak Watining ke rumah orang tua Fakhri dan mengenalkan perempuan itu sebagai pacarnya. Perempuan ayu dengan suara lembut berlogat Jawa itu mencerminkan perempuan Solo yang lembut. Fakhri menilai Watining cukup sepadan dengan Heru yang cukup ganteng.

Heru berasal dari Sleman. Orang tuanya petani. Ketika lulus SMP, dia merantau ke Palembang dengan alasan mencari pengalaman dengan melanjutkan sekolah di sini. Berbekal alamat kerabat jauh yang memang sudah lama tinggal di Palembang, Heru memberanikan diri menyeberang pulau demi keinginannya itu.

Fakhri mengenal Heru dari temannya, Anto, yang tak lain adalah kerabat jauh tempat Heru tinggal. Seringnya mereka mengobrol saat Fakhri berkunjung ke rumah Anto membuat Fakhri dekat dengan Heru.

Seiring waktu, Heru sering berkunjung ke rumah Fakhri dan sesekali menginap di sana di akhir pekan. Hubungan pertemanan Fakhri dengan Heru yang dua tahun lebih tua darinya itu semakin erat. Melihat pembawaan Heru yang sopan dan pintar membawa diri, orang tua Fakhri suka dengan kehadiran Heru dan menganggap Heru sebagai anak angkat mereka.

Heru mengenal Watining ketika mereka sama-sama menjadi mahasiswa baru di Jurusan Arsitektur. Sebagai sesama perantau dari Jawa, keduanya jadi berteman. Watining pindah ke kota ini saat naik kelas dua SMA mengikuti orang tuanya. Papinya yang pegawai negeri dipindahtugaskan ke Palembang.

Kedekatan Heru dan Watining menumbuhkan rasa cinta di antara mereka yang membuat mereka menjalin kasih. Dua tahun setelah lulus kuliah, keduanya memutuskan untuk menikah. Saat itu, Watining yang cerdas meniti karirnya sebagai dosen di almamaternya sedangkan Heru lebih memilih menjadi pegawai negeri.

Watining hidup bahagia bersama Heru. Mereka dikaruniai tiga orang anak—dua orang putra dan seorang putri. Karir keduanya juga menanjak dan kondisi ekonomi mereka meningkat. Sepuluh tahun bekerja, Heru diangkat sebagai kepala seksi dan mulai terlibat di proyek-proyek di dinas tempatnya bekerja. Sementara itu, Watining menjabat sebagai sekretaris jurusan.

Ketika perguruan tinggi tempatnya bekerja akan mengimplementasi standar mutu, Watining terpilih untuk menjadi salah satu dosen yang akan ditugaskan mengikuti pelatihan manajemen mutu. Watining yang cerdas dengan serius menjalaninya dengan kesungguhan. Setelah selesai menjalani tugasnya, Watining ditunjuk sebagai Kepala Badan Kendali Mutu di perguruan tinggi tempatnya bekerja.

Penugasannya di jabatan yang baru membuat Watining berhubungan dengan orang-orang dari lembaga sertifikasi mutu. Bukan hanya yang bekerja sama dengan perguruan tinggi tempatnya bekerja, melainkan juga dengan orang-orang yang sempat dikenalnya saat mengikuti berbagai pelatihan manajemen mutu. Hal itu membuat dirinya memiliki koneksi dan jalinan pertemanan yang lebih luas.

Watining mulai merasa lebih nyaman dengan kegiatan pengendalian mutu dibandingkan kegiatannya sebagai dosen. Itulah sebabnya ketika Watining ditawari untuk pindah bekerja oleh seorang petinggi di salah satu lembaga sertifikasi mutu, Watining memutuskan untuk pindah. Meski jabatan awalnya di lembaga itu tidak terlalu menggoda, Watining menerima tawaran itu. Itu tak jadi masalah baginya. Dunia manajemen mutu terasa lebih mengasyikkan baginya.

* * * * *

Fakhri baru saja selesai mengurus penambahan personil untuk penugasan yang sedang dijalaninya. Penambahan Watining untuk membantu tugasnya itu harus disertai pengajuan dokumen penawaran baru sebagai tambahan atas kontrak yang sudah berjalan.

"Terima kasih, Bu," ujar Fakhri sambil beranjak dari duduknya setelah selesai urusannya dengan kepala bagian keuangan. Fakhri berjalan keluar ruangan itu menuju meja kerjanya. Dia senang Watining bersedia membantunya dan urusan penambahan personil yang diajukannya disetujui.

Dia bersyukur bisa bekerja di tempatnya bekerja sekarang. Segala sesuatu ditangani secara profesional tanpa birokrasi yang berbelit-belit. Keputusannya untuk pindah bekerja dari tempatnya semula adalah keputusan yang tepat. Itu bisa terjadi tak lain atas bantuan Watining juga.

"Fakhri, gimana kerjaanmu?" tanya Watining suatu saat ketika mereka bertemu di acara keluarga. Mereka duduk bersila di sudut ruangan bersama Heru.

Watining dan Fakhri kerap berbincang tentang pekerjaan saat mereka bertemu. Sebagai sesama dosen, obrolan mereka sejalan. Fakhri saat itu masih bekerja sebagai dosen di Jurusan Teknik Industri di perguruan tinggi swasta yang berbeda dengan tempat Watining pernah mengajar.

"Yah, begitulah. Aku mulai enggak betah sebenarnya. Aku enggak suka dengan intrik-intrik dan sikut-sikutan yang sering terjadi."

"Biasalah. Hal-hal begitu juga terjadi di jurusanku dulu. Untunglah aku sekarang ndak nemui masalah kayak gitu di tempatku sekarang." Watining berusaha menenangkan.

"Kondisi seperti itu bikin aku enggak fokus bekerja. Setiap kali aku bikin sesuatu, ada saja yang mempermasalahkan dan menebar omongan enggak sedap."

"Jeng, bukannya di tempatmu kerja lagi butuh auditor?" timpal Heru yang biasa memanggil istrinya dengan panggilan Ajeng.

"Eh, iya." Mata Watining membesar. Kedua belah alis lebatnya terangkat. Raut wajahnya terlihat bersemangat. "Gimana kalau kamu ikut jejakku saja? Kamu, 'kan, pernah ikut pelatihan auditor juga dulu? Pindah saja ke tempatku! Gimana?"

Fakhri merasa ragu. Hampir sepuluh tahun mengajar telah membuatnya betah berprofesi sebagai dosen. Dia malah menjabat sebagai kepala Jurusan Teknik Industri sekitar delapan bulan terakhir. Fakhri hanya merasa sangat tidak nyaman dengan berbagai upaya sebagian rekan-rekan kerjanya yang bagi Fakhri mengarah kepada upaya untuk menjatuhkannya. Hal itu mulai Fakhri rasakan ketika membuat berbagai perubahan di jurusan yang dipimpinnya.

"Kok malah diam?" tanya Watining yang menunggu respons Fakhri.

"Mendingan kamu pertimbangkan," timpal Heru.

"Iya," lanjut Watining, "di tempatku enak loh. Orang-orangnya semua bersikap profesional. Kamu pasti betah."

Fakhri masih diam sambil memperhatikan kedua suami istri itu meyakinkannya. "Kapan aku mesti bikin keputusan?" Fakhri mulai menanggapi.

"Secepatnya. Entar malah diambil orang." Watining terkesan mendesak.

"Besok sore, aku kasih kabar, ya."

*** Bersambung ***

Bab 3

Menjelang waktu makan siang, Fakhri mendatangi meja kerja Watining. Dia mengajak Watining makan siang sekaligus membicarakan tentang keberangkatan mereka dua hari lagi. Perempuan itu terlihat murung dan hanya mengangguk ketika Fakhri mengajaknya pergi ke kafetaria yang ada di seberang kantor mereka.

Fakhri merasa ada yang tak beres pada Watining, tetapi agak ragu untuk menanyakan hal itu. Fakhri khawatir kalau apa yang dialami Watining adalah hal yang terlalu pribadi untuk ditanyakan. Meski sudah seperti saudaranya sendiri, Fakhri membatasi diri untuk tidak masuk ke wilayah privasi Watining, kecuali perempuan itu yang mengizinkannya.

Seorang pelayan mengantarkan dua gelas es teh manis pesanan Fakhri dan Watining. Fakhri sengaja minta didahulukan minuman pesanannya karena biasanya pesanan makanan akan datang agak lama di waktu istirahat yang ramai pengunjung seperti itu.

"Terima kasih, Mbak," ujar Fakhri ketika pelayan itu meletakkan minuman pesanan mereka.

Watining masih diam. Sesekali, dia melakukan sesuatu di ponsel yang dipegangnya. Rasanya, Fakhri ingin membiarkan Watining sampai perempuan itu buka suara. Namun, Fakhri tak bisa menahan diri untuk tak menanyakan mengapa Watining bersikap begitu. Kalau Watining tetap berdiam diri, Fakhri merasa kurang enak harus membicarakan rencana keberangkatan mereka.

"Ada apa, Mbak?" Fakhri mulai buka suara sambil memandang Watining yang tertunduk sambil memandangi ponselnya. Tak lama, perempuan itu mengangkat wajahnya sambil menghela napas panjang.

"Hari ini, tepat tiga tahun Mas Heru meninggal. Ndak terasa ... rasanya baru beberapa bulan lalu," ujar Watining lirih.

"Iya, Mbak. Aku juga kehilangan. Kita kirim doa saja." Fakhri agak berhati-hati dan membatasi tanggapannya. Watining sangat sensitif kalau menyangkut masalah Heru sejak suaminya itu meninggal dunia.

"Ada hal yang aku mau ceritakan sama kamu. Cerita yang belum pernah aku ceritakan sama siapa pun." Nada bicara Watining masih tetap lirih. Fakhri membiarkan perempuan itu berbicara tanpa menanggapinya. Dia melihat gurat kesedihan di wajah ayu itu. "Tapi ... aku ceritanya nanti saja, ya? Kalau kita di luar kota," lanjut Watining. Apa yang hendak diceritakannya tampaknya merupakan hal yang cukup berat untuk diceritakan. Fakhri hanya mengangguk menanggapinya.

"Makanan kita sudah datang," ujar Fakhri mengalihkan pembicaraan ketika pelayan mendekati meja tempat mereka duduk dan menyajikan pesanan mereka.

"Terima kasih," ujar Fakhri pada pelayan itu. "Mari, Mbak, kita makan!" ajak Fakhri pada Watining.

* * * * *

Fakhri dan Watining mengikuti petugas hotel yang mengantarkan mereka ke kamar tempat mereka menginap. Kamar yang dipesankan untuk mereka berupa kamar-kamar yang berjajar menghadap ke taman di bagian tengah dan memiliki teras di bagian depan setiap kamar.

"Kamarnya yang ini dan itu," ujar petugas hotel ketika berdiri di depan kamar 103 dan menunjuk ke kamar 104 di sebelahnya. Petugas itu lalu membukakan pintu dan menyilakan masuk.

"Terima kasih, Mas." Fakhri memberikan uang tip dan petugas itu meninggalkan mereka setelah mengucapkan terima kasih.

"Mbak di sini, ya!" ujar Fakhri.

"Yang mana saja. Di sini juga boleh." Fakhri lalu mengangkat tas bawaan Watining dan meletakkannya di dekat lemari pakaian. Ketika Fakhri membalikkan badannya, dia melihat Watining tampak mencari-cari sesuatu.

"Mbak cari apa? Remote AC?"

"Iya," jawab Watining singkat sambil terus mencari. Fakhri merasa geli. Dia juga mengalami hal yang sama ketika menginap di situ sebelumnya.

"Di sini, dingin, Mbak. Enggak perlu AC. Lihat tuh!" ujar Fakhri sambil menunjuk sisi-sisi ruangan, "enggak ada AC-nya."

Watining tersenyum malu. "Aku konyol, ya?"

"Aku enggak bilang begitu," ujar Fakhri sambil menenteng tas bawaannya dan bersiap keluar kamar itu. "Aku ke kamarku dulu."

"Makasih, ya. Entar kabari saja kalau mau keluar!"

Sambil berjalan ke kamarnya yang letaknya bersebelahan dengan kamar yang ditempati Watining, Fakhri sempat menoleh dan mendapati Watining masih berdiri di ambang pintu melihat dirinya. Fakhri segera membuka pintu kamar dan meletakkan tas bawaannya di dekat lemari. Ditutupnya pintu kamar, lalu bergegas menuju kamar mandi. Sejak tadi, dia sudah menahan untuk buang air kecil.

Fakhri mengamati kamar yang ditempatinya. Sebuah kamar yang tampak sederhana dan tak seperti kamar-kamar hotel yang pernah dia tempati. Itu hotel yang sama yang ditempatinya pada kunjungan sebelumnya. Merasa tubuhnya letih setelah perjalanan selama delapan jam, Fakhri membaringkan tubuhnya. Diambilnya ponsel yang sebelumnya diletakkannya di kasur. Dia baru ingat untuk mengabari Arianti bahwa dia sudah sampai di hotel. Setelah mendapat balasan dari Arianti, Fakhri meletakkan kembali ponselnya di kasur dan memejamkan matanya.

Fakhri rasanya baru saja setengah tertidur ketika notifikasi pesan di ponselnya berbunyi dan mengagetkannya. Jam di ponselnya menunjukkan pukul lima. Tak terasa dirinya sudah tertidur selama lebih dari setengah jam. Fakhri membaca pesan yang masuk dari Watining. Perempuan itu memanggil Fakhri ke kamarnya untuk bercerita.

Sebenarnya, Fakhri masih merasa akan melanjutkan tidurnya, tetapi ditepiskannya keinginan itu. Fakhri menduga mungkin Watining akan menceritakan apa yang waktu itu akan dikatakannya ketika mereka makan siang. Fakhri beranjak dari tempat tidur, lalu bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya. Setelah merasa segar dan merapikan rambutnya, Fakhri meninggalkan kamarnya menuju ke kamar Watining.

Fakhri baru saja akan mengetuk pintu kamar yang ditempati Watining ketika pintu itu tiba-tiba dibuka. "Ayo, masuk!" ajak Watining.

Watining membiarkan Fakhri masuk, sementara dirinya menutup kembali pintu kamar. Fakhri langsung duduk di kursi yang ada di dekat meja yang bersisian dengan tempat tidur. Watining duduk di tepi tempat tidur menghadap ke arah Fakhri.

Watining terdiam sejenak sambil memandangi wajah Fakhri. Apa yang akan dikatakannya tampak berat untuk meluncur dari lidahnya. Fakhri hanya menunggu dengan sabar tanpa berkata apa-apa.

"Fakhri, aku minta kamu janji untuk ndak ngomong sama siapa-siapa tentang apa yang akan aku ceritakan ini." Fakhri mengangguk meski belum tahu apa yang akan dikatakan Watining.

"Dua hari setelah Mas Heru meninggal," Watining memulai ceritanya, "aku mendapat telepon dari seorang perempuan. Dia mau ngomong sama Mas Heru. Aku bilang Mas Heru sudah meninggal karena serangan jantung. Setelah tahu kalau aku istrinya Mas Heru, dia minta izin untuk datang ke rumahku. Aku persilakan dia datang." Watining terdiam sejenak. Dia tampak mengatur napasnya.

"Besoknya, dia beneran datang. Dia cerita tentang hubungannya dengan Mas Heru yang sudah berlangsung enam bulan lebih. Dia bilang Mas Heru akan menikahinya dalam waktu dekat. Karena dia ndak bisa nelepon ke ponsel Mas Heru, dia nelepon ke rumah." Suara Watining tertahan. Matanya mulai basah. Pundaknya mulai berguncang-guncang ringan. Kepalanya tertunduk. Air mata tak kuasa untuk ditahannya lagi dan meleleh di pipinya.

Fakhri beranjak dari tempat duduknya dan berpindah ke samping kiri Watining. "Sabar, ya, Mbak!" ujarnya sambil menepuk-nepuk pundak kiri Watining.

Tak lama, perempuan itu mengangkat wajahnya dan menatap wajah Fakhri yang masih menepuk-nepuk pundaknya. Tiba-tiba, Watining memeluk tubuh Fakhri. Dia menangis sejadinya. Fakhri tak tega melihat Watining yang larut dalam kesedihannya.

Fakhri balas memeluk tubuh Watining dan membiarkan perempuan itu terus menangis dalam pelukannya hingga pundaknya terasa basah oleh air mata. Setelah beberapa menit, tangis Watining reda. Namun, Watining tetap membenamkan wajahnya di sekitar pundak Fakhri yang terus mengusap-usap punggung perempuan itu untuk menenangkannya.

Watining mengangkat wajahnya, "Makasih, ya, sudah mau denger ceritaku dan nenangin aku." Fakhri mengangguk sambil tersenyum.

Sebenarnya, Fakhri merasa jantungnya berdegup kencang merasakan tubuh Watining dalam pelukannya. Dia merasa sedih bercampur gugup. Namun, Fakhri membiarkan sampai perempuan itu bergerak melepaskan diri dari pelukan.

Watining mulai tenang. Disekanya air matanya. "Aku mohon kamu jangan cerita ke siapa pun tentang masalah ini. Biar cukup kita yang tahu. Kadang, aku pikir Mas Heru memang lebih baik meninggal daripada tetap hidup dan kawin lagi dengan perempuan itu. Kedengarannya jahat, ya?" Watining kembali menyeka air matanya yang meleleh begitu saja dengan tisu.

"Kamu tahu ndak, apa yang paling menyakitkan? Aku ndak bisa tanya masalah ini ke Mas Heru karena dia keburu meninggal. Itu yang paling menyakitkan. Aku ditinggal dengan masalah yang aku sendiri ndak tahu pasti kebenarannya." Meski suaranya masih parau karena menangis, Watining sudah kelihatan lebih tenang dibanding sebelumnya.

Fakhri beranjak ke meja dan mengambil sebotol air mineral. Setelah dibukanya segel dan tutupnya, disodorkannya botol minuman itu ke Watining. "Minumlah, biar Mbak lebih tenang!"

Setelah Watining tenang, Fakhri mohon diri. "Mbak, aku mau mandi dulu. Entar habis magrib, kita makan."

"Fakhri," panggil Watining ketika Fakhri sudah mencapai pintu kamar. Fakhri membalikkan tubuhnya menghadap Watining yang sudah ada di belakangnya. Watining kembali memeluk tubuh Fakhri. "Makasih, ya. Aku lega sudah bisa menceritakan masalah yang lama kupendam."

"Iya, Mbak." Fakhri melepaskan tubuhnya dan meninggalkan Watining selagi bisa menguasai dirinya sendiri.

*** Bersambung ***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED