Upacara sudah selesai dan para peserta yang terdiri dari para murid mulai meninggalkan lapangan sesuai dengan kelasnya masing-masing.
"Mau ke kelas, gak?" tanya Sifa yang sudah bangun dari duduknya.
"Kelas aku ada di sebelah mana, sih?" kata Kaila balik bertanya.
"Astaga Kail, masa kelas kamu sendiri gak tahu. Kebangetan kamu," tegur Sifa.
"Bukan gitu, aku memang belum sempat cari tahu. Maklum efek baru pulang," jawab Kaila menolak terima salah.
"Alasan aja. Kelas kamu ada di lantai 2, paling ujung," beritahu Sifa.
"Kelas kamu sendiri ada di mana," tanya Kaila lagi.
Sepertinya dia tidak rela harus berpisah dengan teman-temannya.
"Kaila, kenapa belum ke kelas?" suara guru yang selalu membuat Kaila tidak bisa tidur menyentuh pendengarannya.
"Maaf, Bu. Ini baru mau ke kelas," jawab Kaila pelan.
Kenapa di sekolahnya dia selalu bertemu dengan guru-guru yang selalu membuatnya tidak bisa tidur nyenyak.
Dia adalah siswi yang lebih sering memilih belajar santai, tetapi karena kebetulan nilainya yang tinggi dan mampu mengalahkan setiap anak yang rajin belajar, hingga dirinya mendapatkan perhatian lebih.
Dengan langkah kaki yang terasa berat, Kaila membawa tas punggungnya menuju kelas yang sudah di sebutkan oleh Sifa sebelumnya.
Berhenti di depan kelas yang begitu sunyi seperti tanpa kehidupan membuat Kaila menatap nama kelasnya. Tidak yakin bahwa di berada di tempat yang tepat.
Meletakkan tangannya di gagang pintu, Kaila mendorong pintu dan melihat isi kelas yang semuanya tertuju pada dirinya.
"Maaf, kalau mengecewakan kalian," sapa Kaila berjalan masuk.
Seperti makhluk asing dan sebagai satu-satunya yang memiliki kehidupan, Kaila menatap nanar.
Dimana dia mau duduk? Hanya ada satu bangku kosong dan tempat tersebut berada di samping Deniz.
Lambaian tangan Deniz membuat Kaila berjalan menghampirinya.
"Thank, ya," kata Kaila pada Deniz yang cengengesan.
"Heran aku. Ngapain betah banget di UKS. Emang enak di sana?" tanya Deniz begitu Kaila duduk. Bahkan Kaila belum memperlihatkan gaya duduknya yang paling manis.
"Aku ngantuk," jawab Kaila singkat.
"Eh, serius? Emang ngapain semalem ngapain? Ronda?" ledek Deniz.
Mulut Kaila bergerak maju saat dia menoleh untuk melihat wajah Deniz, tetapi tidak ada suara yang keluar dari dalam mulutnya seolah menunggu saat yang tepat.
"Mau ngomong apaan?" tanya Deniz lagi.
"Gak ada," sahut Kaila lemes.
"Gak semangat bangat kamu," tegur Deniz lagi.
"Den, kamu sadar gak, kalau di kelas ini aku seperti makhluk asing," kata Kaila mengeluh.
"Baru makhluk asing, kan, belum jadi makhluk astral," sahut Deniz lagi.
"Garing," sahut Kaila disambut tawa keras Deniz.
Tidak peduli suara tawanya sudah menyebabkan semua siswa memandang mereka.
"Aku pikir di kelas unggulan gak ada makhluk aneh seperti mereka," suara sumbang terdengar dari arah depan.
"Aku mikirnya justru mereka sudah menyulap nilai mereka," sahut yang lainnya.
"Benar, juga. Eh, kenapa kamu gak tanya ke guru yang bersangkutan aja," teriak Kaila tanpa akhlak.
"Bukan aku yang tanya, tapi orang tua kami. Aku akan sampaikan pada orang tuaku kalau ada murid yg menyulap nilainya supaya masuk kelas unggulan," sahut siswa yang duduk di barisan depan dengan wajah juteknya.
Kaila sudah mau membalas ucapan siswa yang jadi teman sekelasnya. Sayang, ucapan Deniz membuatnya cemberut.
"Ciri khas cewek gak punya nalar begitu, tuh. Ngapain juga ngeladenin mereka, udah punya mulut lebih?"
Sembarangan. Kaila tahu maksudnya Deniz, tapi gak rela banget Kaila kalau membiarkan bacot teman-temannya yang gak punya etika bicara seperti itu.
Kembali Kaila mendengar ejekan dari beberapa teman sekelasnya, tetapi tidak perlu lama, karena seorang guru sudah berjalan masuk.
"Kenapa harus Pak Dwi yang masuk. Gak mungkin kalau dia yang jadi wali kelas, kan," batin Kaila tidak rela.
Pak Dwi, guru yang selalu menyuruhnya belajar dan belajar.
"Apes kalau dia wali kelasnya," gumam Kaila pelan.
"Kamu kayanya anti banget sama Pak Dwi. Punya story di hukum?" kata Deniz pelan.
"Gak, lah. Lihat aja, sebentar lagi dia pasti panggil namaku," katanya dengan mulut yang komat-kamit.
"Kaila Maharani, silahkan maju ke depan!"
Suara bas Pak Dwi terdengar ditengah kesunyian kelas setelah mengucapkan sambutan pada tahun ajaran baru.
Kaila dan Deniz tidak tahu apa saja yang sudah diucapkan oleh guru di depan kelas, tetapi perintah Pak Dwi, terpaksa harus dipenuhi oleh Kaila.
Kembali banyak suara yang menyatakan keheranan mereka karena guru mereka langsung memanggil Kaila sementara mereka bahkan belum mendengar guru mengabsen nama mereka.
"Ya Pak," sapa Kaila mengangguk hormat.
"Kalian hari ini sudah berada di kelas unggulan. Saya yakin semuanya menginginkan berada di kelas ini dan Kaila adalah pengecualian."
Suara riuh kembali terdengar sedangkan wajah Kaila tiba-tiba berseri.
"Saya mau dikembalikan ke kelas yang saya mau, ya, Pak?"
Dari sekian banyak pertanyaan yang ada dj otaknya adalah kalimat tersebut.
Sayang, dia tidak bisa mengatakannya karena dia adalah murid yang mengerti tata tertib di sekolah.
"Kaila, katakan pada teman sekelas kamu alasan mengapa kamu bisa berada di sini?"
Kaila memandang Pak Dwi seolah guru tersebut adalah manusia aneh seperti dirinya.
"Alasan saya berada di kelas ini karena kelas yang saya inginkan sudah penuh semua," jawab Kaila.
Bagaimana pun kalimat tersebut adalah yang diberikan oleh pimpinan sekolah pada saat semua guru tidak bisa meluluskan permintaannya.
"Benar. Sekarang kamu jelaskan mengapa kami, para guru dan pihak sekolah tidak menginginkan kamu pindah kelas!"
"Karena nilai saya cukup bagus. Tapi saya juga yakin kalau saya berada di kelas yang tepat, nilai saya semakin bagus," jawab Kaila.
Dari 30 siswa yang ada di kelas sepertinya hanya Deniz yang melihat Pak Dwi berulang kali menghela nafas.
Tidak ada seorang murid pun mengenal siapa Pak Dwi kecuali Kaila karena di setiap lomba yang harus Kaila ikuti, Pak Dwi adalah satu-satunya guru pembimbing yang serba bisa.
Bagi sebagian besar murid di kelas mereka saat ini, Pak Dwi adalah guru yang sangat tampan dan seringkali menebar senyum, tetapi bagi Kaila? Seperti yang sudah dia keluhkan sebelumnya, adalah nasib apes yang harus dia lalui selama dia duduk di kelas XI.
"Saya akan mengenalkan kalian pada teman perempuan kalian yang bernama Kaila Maharani."
"Bagi kalian yang tidak mengenalnya, dia adalah murid yang selalu cari masalah dengan membuat kegaduhan."
"Saya sebagai guru tentu tidak menyukainya apabila dilakukan di dalam kelas pada saat jam pelajaran sedang berlangsung."
"Sayangnya, Kaila melakukannya sebelum atau sesudah jam pelajaran selesai sehingga dia tidak perlu mengganggu siapa pun."
Perhatian semua murid kini tertuju pada Kaila.
Diantara semua murid, hanya Deniz yang tidak terkejut. Baginya prestasi Kaila tidak memiliki pengaruh apa-pun.
Deniz mengenal Kaila karena gadis itu adalah satu-satunya murid yang selalu dia temui setiap kali terlambat.
Deniz pernah berpikir kalau hoby Kaila adalah membuat dirinya nyaris dihukum. Benar hanya nyaris karena Kaila sebagai pelajaran teladan tidak akan membiarkan ibunya datang ke sekolah.
Di depan kelas, Kaila mulai jenuh. Dia bukan murid yang suka diperhatikan. Baginya lebih baik tidak dikenal sehingga dia nyaman melakukan yang dia inginkan.
"Serius dia sepintar itu? Atau...kau tahu ucapan yang aku katakan tadi, kan?" bisik siswi yang sebelumnya berdebat dengan Kaila.
"Seperti-nya, iya. Maksudku dia memang murid berprestasi. Kau tahu, kan, kalau orang pintar kadang kelakuannya aneh," balas temannya terkekeh.
"Kalian berdua, siapa nama kalian!"
Suara Pak Dwi kembali membahana mengagetkan semua yang ada.
"Saya, Pak," jawab siswa tadi.
"Ya, siapa nama kamu," jawab Pak Dwi.
"Nama saya Michella dan teman saya Rasya," jawabnya.
"Apa yang kalian tertawakan. Apakah kalian kira bapak sedang melawak?"
"Tidak, Pak."
Kepala Michelle dan Rasya menunduk, tidak berani menatap guru mereka.
Tidak seperti dugaan Kaila dan Deniz yang berpikir mereka bisa pulang lebih cepat. Mereka harus kecewa karena hari pertama belajar, ternyata mereka tetap pulang seperti biasanya. Tidak ada yang berbeda sama sekali.
Melihat wajah Kaila, Deniz nyaris tertawa kalau saja dia tidak melihat mata Kaila yang melotot galak.
Akhirnya Kaila hanya bisa pasrah mengikuti jam pelajaran. Dalam hati dia mengutuk mengapa dirinya harus masuk kelas unggulan sementara dari luar dia melihat kedua temannya sengaja melemparkan topi mereka yang sudah sangat dikenal Kaila.
“Kaila, kamu mau pulang sekarang? Kamu boleh keluar sekarang tetapi besok orang tua-mu menghadap saya,” terdengar suara Pak Didi di telinga Kaila.
“Berhubung orang tua saya di luar kota, berarti tidak ada keharusan mereka harus datang, kan, Pak?” tanya Kaila sambil mengangkat tangannya.
“Woi, kalau mau gila jangan di sini,” bisik Deniz pelan.
Belum pernah Deniz melihat seorang murid apalagi murid perempuan bisa bicara seenaknya bahkan terhadap gurunya sendiri. Apa karena Kaila murid jenius hingga dia berpikir bisa melakukan apa pun?
“Kalau begitu kau bisa masuk kembali nanti setelah orang tua-mu pulang,” sahut Pak Didi.
Sama seperti Deniz dan semua murid kelas unggulan yang lainnya, mereka juga tidak percaya kalau Kaila sangat berani bahkan melakukan penawaran. Apa yang sebenarnya terjadi?
Tadi pagi begitu mereka tiba dari bandara, Kaila baru diberitahu bahwa hari ini adalah acara lamaran kakak perempuannya yang super cantik dan dia ingin bertemu dengan kekasihnya yang selalu dibanggakan oleh Dwina, kakaknya.
Namun, semuanya terpaksa Kaila lupakan karena waktu sekolah yang diperpanjang. Sementara keluarga kekasih Dwina akan datang jam 10.
“Kail, kenapa sih?” tanya Deniz curiga.
“Kesal. Besok aku harus pindah dari kelas ini,” sahut Kaila.
“Coba kamu bayangin hari ini baru hari pertama masuk sekolah tapi kelas ini udah sibuk dengan segala macam materi yang harus kita pelajari. Memangnya gak bisa besok setelah jadwal mata pelajaran sudah di susun,” omel Kaila tidak masuk akal.
Tidak masuk akal karena hanya Kaila yang protes sementara yang lainnya seolah bangga mendapat perhatian dari para guru.
“Kaila! Kalau kamu tidak betah berada di kelas ini silahkan keluar. Jangan kamu kira sebagai murid jenius kamu tidak memiliki sikap hormat pada guru.”
Peringatan kedua sudah diberikan oleh Pak Didi dan sekali lagi Kaila harus menahan sabar sementara murid yang lainnya tidak ada yang berani bicara.
“Sepertinya Pak Dwi baru memuji sebagai murid berprestasi yang tidak pernah membuat ulah di jam pelajaran. Ternyata tidak api jauh dari arang,” ucap salah satu siswa yang namanya tidak diingat Kaila.
“Udah, sabar. Gak sampe sejam lagi udah pulang kok,” hibur Deniz.
Sebenarnya sama seperti Kaila, dia juga sudah menahan emosinya. Kenapa semua guru mata pelajaran seperti berlomba memperkenalkan diri pada hari pertama mereka masuk sekolah dan hanya pada kelas mereka saja. Tidak heran Kaila yang sejak awal tidak suka dengan kelas unggulan semakin membencinya.
Wajah Kaila yang memerah membuat Pak Didi marah dan mendekati Kaila. Baru pertama kali dia merasa ditantang oleh seorang murid dan murid tersebut adalah seorang murid perempuan.
“Kau mau menantang saya. Kau tahu saya sangat tersinggung dengan sikapmu. Saya larang kamu ikut pelajaan saya selama 2 kali pertemuan.”
“Maaf, Pak. Sepertinya sekarang sudah bukan jam bapak lagi sejak 45 menit lalu. Jadi kalau ada tindakan saya yang kurang berkenan sama sekali tidak berpengaruh pada Bapak,” jawab Kaila berani.
“Saya masih berada di sini jadi berarti masih waktunya saya.”
“Maafkan saya, Pak. Di depan sekolah dan di depan setiap kelas ada peraturan sekolah yang harus di ingat oleh pengajar dan pelajar. Tidak ada yang boleh dirugikan. Apakah bapak bermaksud mengambil hak kami mendapatkan pelajaran yang lain?” jawab Kaila berani.
Kaila sangat yakin dirinya akan dikeluarkan dari kelas ini dan memang tujuannya agar dirinya tidak layak masuk kelas unggulan tersebut.
Pak Disi sebagai guru mata pelajaran Matematika harus sabar menghadapi Kaila yang memberikan fakta yang tidak bisa dibantah olehnya. Sebelumnya dia berharap tidak ada murid yang menyadarinya, sayang seorang siswa yang terkenal jenius justru berhasil memancingnya sehingga para siswa mulai menyadarinya.
“Baiklah. Ketua kelas silahkan disiapkan kawan-kawannya untuk pulang dan Kaila, saya tidak suka dengan sikapmu dan saya tunggu di ruang BP setelah ini,” ucap Pak Didi tegas.
“Iya, Pak.”
Percuma pulang buru-buru untuk bertemu dengan kekasih kakaknya kalau dia yakin di rumahnya sudah sepi karena sekarang sudah jam 3 sore.
“Kail, perlu ditemani, gak?” tanya Deniz pada Kaila yang berjalan menuju ruang BP.
“Boleh. Temani aku ya, walaupun hanya menunggu di luar,” jawab Kaila.
“Sip. Kamu dijemput, gak?” tanya Deniz lagi.
“Engga tahu. Aku telepon sopir dulu,” kata Kaila mulai mengeluarkan ponselnya.
“Sip. Sopir aku ternyata udah ada di parkiran. Mama aku bingung kenapa aku belum pulang dan mama kirim sopir untuk jemput aku,” jawab Kaila.
“Ya sudah. Cepat temui guru BP, aku tunggu di sini,” kata Deniz begitu mereka sudah tiba di depan ruang BP.
Banyak penjelasan yang diberikan oleh Ibu Sri begitu juga dengan Kaila yang memberikan argumennya. Inti dari keinginan Kaila adalah dia tidak cocok berada di kelas unggulan dan menginginkan dirinya masuk ke kelas sesuai dengan pilihannya.
“Kalau begitu ibu akan bicarakan dengan orang tua-mu dulu tentang keinganmu. Kamu tidak keberatan, bukan?” bujuk Bu Sri.
“Tapi yang sekolah, kan, saya, Bu,” jawab Kaila.
“Sabar , ya,” bujuk Bu Sri.
Akhirnya keinginan Kaila kembali tidak dapat dipenuhi dan dia hanya bisa menunggu. Sangat mengetahui pendapat orang tuanya. Mereka tidak akan membiarkan Kaila berbuat semaunya karena mereka menginginkan Kaila menjadi wanita yang sukses dalam akademik sama seperti mereka.
“Gimana, Kail, jadi pindah kelasnya?” tanya Deniz begitu Kaila keluar.
“Gak. Mereka malah mau bicara dengan orang tuaku dulu. Kalau bicara sama mereka pasti sama pendapatnya. Sebenarnya siapa yang sekolah, kenapa aku harus mengikuti semua keinginan orang dewasa,” keluh Kaila hingga Deniz tidak tega melihatnya.
“Kau tidak menyukainya karena mendapat tekanan dan kenapa tidak kau manfaatkan tekanan tersebut dengan cara yang menyenangkan,” usul Deniz.
“Menyenangkan? Maksudmu?”
“Maksudku, kelas kita sekarang adalah kelas unggulan, lalu kenapa hanya dirimu yang harus mengikuti semua kompetisi sementara yang lainnya tidak. Bukankah kita semua sama, berada di dalam kelas tersebut. Jadikan kontes bergilir sehingga semua siswa dapat merasakan menjadi siswa yang dikenal. Dan aku yakin kau bisa mengatakan usulmu pada Pak Dwi,” beritahu Deniz.
“Keren. Aku gak sempet mikir ke arah sana. Terima kasih, Den. Besok aku sampaikan usul kamu itu,” jawab Kaila kembali ceria.
Akhirnya ada keadilan juga dan dia tidak harus hidup dalam tekanan dengan belajar secara terus menerus.