Bab 2

15 Menit kemudian.....Di rumah orangtua Cinta....

"Cinta.... Cinta...." Mula-mula Sekar masih memanggil dengan suara lembut.

Dibukanya kamar Cinta, ternyata kosong melompong, lalu ia beralih membuka pintu kamar mandi.

Di dalam kamar mandi itu, Cinta tetap tidak ada.

Sekar beringsut mencari ke ruang tengah dan membuka semua pintu kamar di rumah itu, Cinta tetap tidak terlihat.

Di dapur, lalu di teras belakang, sudah ia cari. Tetapi, Cinta tak berhasil ditemukan.

"Cinta.....! Cinta....!" Makin lama panggilan Sekar makin keras.

Bergegas ia menapaki tangga naik ke lantai atas, ia sudah tak peduli lagi dengan kain yang melilit kedua kakinya. Diangkatnya kain itu dengan sedikit panik, agar ia bisa melangkah dengan cepat.

Tapi sudah seluruh kamar dan ruangan di lantai dua itu ia periksa, dibuka dan ditutup kembali, namun Cinta tetap tidak berhasil ditemukan.

"Cinta! Cinta!" kini Sekar menjerit-jerit ketakutan.

Terhuyung-huyung ia menuruni tangga dengan panik seakan ingin melompat saja, lupa kalau ia sedang mengenakan kain.

Pramudya muncul mengenakan jas lengkap, terlihat tampak gagah dan berwibawa.

"Ada apa teriak-teriak begitu, Ma?" tanya pramudya dengan dahi berkerut.

"Cinta, Pa!" pekik Sekar kalang kabut. "Cinta hilang! Cinta kabur!"

"Hilang? Kabur?" ulang Pramudya kaget. "Bagaimana bisa hilang....? Bagaimana bisa kabur? Bukankah semua pintu dan jendela ini sudah kamu pasangi terali? Lalat saja tidak bisa kabur!"

"Penjara saja sering kebobolan, para tahanan sering lolos, apalagi rumah kita!",

sahut Sekar sewot.

"Percuma dong selama ini mama selalu mengamankan harta kekayaan dengan alarm dan kode rahasia, supaya maling tidak bisa menggasak habis barang-barang berharga!" sindir Pramudya sinis. "Buktinya, menyelamatkan permata hati mama saja mama tidak sanggup!"

"Pasti ada yang berkomplot, Pa." hardik Sekar kalap. "Ternyata di dalam rumah sendiri tidak menjamin bebas dari penghianat!"

Sekar melotot geram, tangannya berkacak pinggang. Ia mengawasi satu persatu orang-orang yang mulai berkerumun di ruangan ini.

"Siapa yang membantu Cinta melarikan diri?" bentak Sekar. "Cepat katakan!"

"Kalau ada penghianat yang mengaku, dunia ini aman, Ma." ejek Pramudya mencibir. "Tidak akan pernah ada penggulingan kekuasaan dan perebutan kedudukan!"

Semua orang di rumah itu berkerumun di depan Sekar. Mereka ikut terkejut dengan kekacauan yang terjadi, lalu saling menengok di antara mereka.

Saling mencurigai, saling menuduh, saling menyalahkan.

Bukankah memang seperti itu setiap kali terjadi kericuhan? Semua orang langsung lepas tangan.

Suara mereka berdengung seperti lebah, berisik sekali saat itu.

"Sudah! Sudah! Diam!" teriak Sekar. Ia berteriak sambil menutupi kedua telinganya dengan tangan. "Cukup saya saja yang bekerja pakai mulut di rumah ini! Tapi kalian.... Pakai tangan kalian, mata, kaki.... Apa saja yang kalian punya! Mengawasi satu orang saja tidak sanggup!"

.

.

.

"Mobil Limousin sudah pergi dari tadi, Bu." lapor satpam dengan kepala menunduk, didera perasaan bersalah.

Sekar menginterogasinya seolah ia baru saja ketahuan membobol brangkas uang dan perhiasan Sekar, padahal seharusnya ia yang bertanggung jawab terhadap keamanan di rumah ini.

"Kenapa tidak kau tahan?!" pekik Sekar jengkel bukan kepalang.

"Saya pikir tadi sudah bersama ibu dan bapak." sahut si satpam memberi alasan.

"Kau kerja pakai mata atau tidak sih?!" sembur Sekar kesal. "Kau lihat tidak berapa orang di dalam mobil itu! Jangan-jangan kau malah tidak pernah bisa membedakan orang yang masuk ke rumah ini, yang mana tampang orang baik dan yang mana perampok!"

Pramudya tergopoh-gopoh datang menengahi.

"Sudahlah, Ma," kata Pramudya melerai. "Berhentilah menyalahkan orang lain."

Sekar serentak berbalik menghadap Pramudya suaminya, seperti mendapat tempat untuk melampiaskan kemarahannya yang memuncak.

Matanya mendelik siap untuk mengajak perang.

"Lalu siapa yang harus kusalahkan?" semprot Sekar berang. "Diriku sendiri? Selalu aku yang menjadi biang kerok di rumah ini? Begitu maksudmu?"

Pramudya hanya diam dan tidak ingin membantah supaya emosi Sekar istrinya tidak semakin meledak-ledak.

//

Pov Sekar

Namaku Sekar Rahayu Sukmawati saat ini usiaku 47 tahun, istri dari Pramudya Adi Pratama, berusia 49 tahun.

Dari pernikahan kami yang sudah melewati usia penikahan perak. Kami berdua dikaruniai 3 orang anak, satu anak laki-laki dan dua anak perempuan.

Anak sulungku bernama Prima Sukmawan Pramudya, anak perempuan kedua kami beri nama Jelita Sukmawati Pramudya, dan yang paling bungsu kami beri nama Cinta Rahayu Sukmawati.

Anak sulungku sudah menikah dengan putri sahabatku, Dewi Safitri nama menantu perempuanku dan mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang mereka beri nama Akbar Maulana Putra berusia 3 tahun saat ini.

Begitu pun dengan Jelita anak perempuan keduaku yang juga sudah menikah dengan Hartono Ruslan teman satu kampusnya dulu dan juga anak dari kolega bisnis suamiku, sekarang Jelita sudah mempunyai seorang putra bernama Dirly Syahputra Hartono berusia 1 tahun.

Cinta Rahayu Pramudya putri bungsuku yang sangat kukasihi, kini sudah berusia 21 tahun.

Jujur aku sangat kecewa dan terpukul sekali mendengar pengakuan Cinta bahwa ia hamil, padahal selama ini aku sangat ketat mengawasinya.

Ya, semua ini gara-gara lelaki itu. Sejak awal aku memang tidak menyukai pacarnya Cinta, pria muda yang bernama Robi Hermawan terlihat masih manja dan kolokan, hanya bisa mengandalkan kekayaan orangtuanya.

Nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terjadi. Aku mesti menikahkan anakku Cinta supaya janin dalam kandungannya jelas statusnya. Tetapi, aku tidak serta merta menikahkan Cinta anakku dengan Robi melainkan aku ingin menikahkan Cinta dengan anak rekanan bisnisku yang sudah mapan. Aku tidak mau nanti Cinta anakku hidupnya menderita, walau mungkin ia tidak mempunyai perasaan cinta dengan lelaki yang akan menjadi suaminya itu.

Fredy Mulyadi nama pemuda yang akan menikahi Cinta anakku, dia sudah lama jatuh hati pada Cinta sejak anakku masih SMA. Bahkan, ia tidak mempermasalahkan kehamilan Cinta, dan tetap akan menyayanginya beserta janin yang dikandungnya.

Tapi ternyata keinginanku tidaklah sesuai dengan kenyataan, Cinta nekat kabur dari rumah, lari menghindari pernikahannya.

Aku hanya bisa menahan rasa maluku pada pihak calon besan atas kelakuan Cinta, mau bilang apalagi kalau kejadiannya seperti ini, tetapi aku juga tidak bisa menyalahkan keputusan yang ia buat, "Apakah mungkin karena sikapku yang keras selama ini kepadanya?" tanyaku dalam hati.

Tadi saja aku sempat sewot dan marah sama mas Pramudya suamiku.

"Kalau tidak ada mama, keluarga ini sudah kacau balau sejak lama, Pa! Rumah ini sudah runtuh sejak dulu!"

Kalimat itu meluncur, karena rasa kesalku atas sikap nyinyir suamiku. Padahal aku melakukan ini semua, untuk kebahagiaan mereka. Tapi, kenapa malah seperti ini?

"Apakah benar yang dikatakan suamiku, bahwa aku ini wanita bertangan besi, perfeksionis dan tidak mau dibantah atau dilawan oleh siapa pun?" kataku membatin.

Aku jadi terkenang kembali masa-masa sulit dalam kehidupan rumah tangga kami, hingga saat ini kami bisa dikatakan sukses.

Kami menikah dalam usia muda, saat itu usiaku baru 19 tahun sedangkan mas Pramudya dua tahun lebih tua dari usiaku saat itu.

Aku dan mas Pramudya memang saling mencintai dan sudah berpacaran selama 3 tahun, saat usiaku berusia 16 tahun.

Hubungan kami sama-sama direstui oleh kedua orangtua kami yang memang bersahabat sejak lama dan sudah berniat menjodohkan kami berdua, dan mungkin karena kami sama-sama saling menyukai membuat mereka semakin senang. Bahkan, mereka tidak sabar untuk segera menikahkan kami berdua, setelah aku lulus dari SMA.

Akhirnya aku resmi menjadi istri Pramudya Adi Pratama, putra tunggal Notonegoro dan Rasmi Wulandari, setelah aku lulus dari SMA.

Mas Pramudya, dipercaya oleh papa mertuaku untuk meneruskan usaha papanya. Perusahaan yang bergerak dibidang ekspor kayu yang saat itu terbesar di pulau Jawa.

Entah karena faktor pengalaman yang masih hijau dalam mengelola perusahaan, ditambah lagi perubahan peraturan pemerintah dalam hal ekspor kayu dan penebangan hutan yang mesti memerlukan banyak biaya dan proses yang panjang sehingga membuat perusahaan yang dikelola oleh mas Pramudya jadi bangkrut dan meninggalkan banyak hutang di mana-mana.

Aset perusahaan semua dijual dan hanya menyisakan rumah yang saat ini kami tempati, rumah pemberian papaku saat kami menikah 5 tahun lalu yang masih bisa kami pertahankan.

Pada saat itu kami sudah dikaruniai dua orang anak. Putra sulungku Prima sudah berusia 4 tahun dan putriku Jelita berusia 2 tahun.

Berbulan-bulan lamanya suamiku terpukul meratapi bencana yang menimpanya, seperti kehilangan semangat dan kepercayaan dirinya.

Suamiku seakan trauma untuk kembali memulai usaha baru karena takut gagal lagi, padahal papaku mau membantunya memberikan modal demi membiayaiku dan anak kami yang harus dicukupi kebutuhannya.

Aku terpaksa mengambil alih kewajiban sebagai kepala rumah tangga. Aku banting tulang mencari penghasilan dan menjual semua perhiasan yang kumiliki.

Hadiah-hadiah yang telah diberikan suamiku saat masih berjaya sebagai pemilik perusahaan, yang selalu kukenakan dengan penuh kebanggaan pada pesta dan perjamuan.

Perhiasan yang menjadi simbol dan status sosialku sebagai istri pengusaha kaya raya.

Sebenarnya aku bisa saja meminta bantuan modal sama papaku, tetapi aku tidak mau melakukannya.

Bersambung

Bab 3

Aku ingin membuktikan pada papa bahwa aku bisa mandiri dan bisa bangkit kembali seperti dulu, dengan tekad kuat aku mesti bisa mengembalikan kejayaan suamiku.

Aku tidak pernah malu, dari dulunya seorang istri yang selalu bergelimang harta dan hidup mewah, kini harus rela hidup prihatin dan irit.

Dari hasil penjualan perhiasan itulah, aku mulai berdagang pakaian. Aku mengambil dari penyalur pakaian retail yang di impor dari luar negeri.

Pakaian itu kemudian aku jajakan kepada orang-orang yang kukenal, tetangga, keluarga, dan teman-teman. Bahkan, kepada para relasi yang dulu menjadi rekanan bisnis suamiku pun tak luput menjadi incaran untuk pemasaran barang-barang daganganku.

Aku tidak mengindahkan omongan dan pandangan iba orang-orang yang membeli barang daganganku. Aku tidak mau dikasihani.

Aku berjuang gigih, tanpa merasa malu. Bahkan sambil berdagang aku menggendong Jelita yang saat itu masih balita ke sana ke mari. Sementara Prima sudah cukup besar untuk ditinggal di rumah bersama pembantu.

Tekad dan keinginanku kuat, aku harus menyelamatkan keluarga dan pernikahanku. Anak-anak membutuhkan biaya untuk sekolah dan tidak mungkin mengharapkan suamiku yang setiap hari hanya duduk termenung di teras.

Aku sadar suami dan anak-anak bertumpu dan menggantungkan nasib serta hidup mereka padaku.

Aku bertekad, suatu saat nanti jika uangku sudah cukup, aku akan memberikannya pada suamiku sebagai modal untuk membangun perusahaan baru agar kepercayaan dirinya bisa pulih kembali.

Semula orang-orang hanya membeli karena ingin menolong, lama-lama justru menjadi pelanggan tetap.

Pakaian yang kujual berkualitas bagus dan mengikuti trend paling mutakhir yang sedang in di luar negeri.

Produknya bahkan belum dijual di pertokoan elite di Jakarta. Harganya pun bersaing dan lebih murah daripada di pertokoan elite ataupun butik-butik.

Bahkan aku juga memberi kemudahan dalam pembayaran.

Pelangganku tidak perlu membayar kontan, tetapi bisa mengangsur dengan cicilan yang ringan.

Strategi itu ternyata berhasil.

Pelangganku menjadi seperti orang kalap, memborong semua pakaian yang kutawarkan.

Pelanggan tidak perlu repot ke luar rumah, aku yang mendatangi mereka dan mengantarkan pesanannya dan juga menawarkan koleksi terbaru.

Tentu saja pelayanan seperti ini membuat pelangganku merasa dimanjakan.

Kalau pada awalnya, aku mengambil barang daganganku dari pemasok. Kini sedikit demi sedikit, aku belajar mengimpor sendiri pakaian itu.

Aku mencoba berhubungan langsung dengan para penyalur di Hongkong dan China. Bahkan, aku juga mulai pergi ke negara itu untuk memilih langsung model pakaian dan negosiasi harga.

Selera serta instingku memang cukup baik bisa menangkap keinginan pelangganku, ditambah dengan kepiawaianku mengatur cash flow membuat bisnisku makin lama semakin berkembang pesat. Hingga akhirnya, aku bisa membuka kios untuk menjual pakaian dengan harga murah.

Aku juga membuka butik ekslusif untuk koleksi yang lebih mewah.

Meskipun begitu, layanan antar ke rumah tetap aku pertahankan untuk para pelanggan setiaku yang kelebihan uang, seperti ibu-ibu pejabat, artis atau istri pengusaha.

Semangat suamiku juga mulai bangkit, setelah melihat tekad dan kesungguhanku.

Ia pun tergugah untuk mencari peluang bisnis baru.

Meniru jejakku, ia mengenyahkan harga diri dan gengsinya.

Ia menemui rekan-rekan bisnisnya yang dulu untuk menjajaki kemungkinan memulai usaha baru.

Pekerjaan apapun ia ambil. Ia menjadi penyalur alat tulis kantor, mebel dan elektronik.

Dua tahun lamanya aku menyisihkan keuntungan yang kuperoleh. Setelah terkumpul cukup banyak, aku menyerahkan pada suamiku.

Dengan terharu suamiku memelukku, saat itu aku sangat bahagia sekali, perjuanganku berhasil mengangkat dan mengembalikan harga dirinya.

"Jika aku tidak memilikimu, aku tidak tahu hidupku akan seperti apa," bisik suamiku dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih untuk tetap setia mendampingiku melewati masa-masa sulit ini, Ma."

Suamiku menggunakan uang itu untuk membangun perusahaan baru. Ia tidak mau lagi menanam modal untuk bisnis yang rumit dan terlalu tinggi tingkat persaingan dan resiko kerugian tinggi. Kali ini, ia lebih hati-hati dalam menentukan jenis usaha. Ia memilih bentuk bisnis dengan spekulasi kecil tapi mendatangkan keuntungan yang banyak.

Suamiku mendirikan perusahaan ekspor pangan dan kebutuhan pokok ke negara-negara maju. Negara-negara yang tidak memiliki cukup lahan untuk menanam sumber alam, padahal mereka tetap membutuhkan sayur-mayur dan buah-buahan segar untuk makanan mereka.

Tentu saja, suamiku tidak perlu merogoh kocek yang besar untuk membeli kekayaan alam di negeri yang subur dan permai ini, bukan? Dengan mengekspornya, ia memperoleh keuntungan yang berlipat-lipat. Modalnya bisa berputar cepat.

Meski begitu, suamiku tetap tidak meninggalkan bisnis penyaluran alat tulis kantor, mebel dan elektronik. Dari bisnis ini, ia juga memperoleh tambahan modal segar.

Suamiku menyadari kesuksesannya itu diperoleh berkat bantuanku. Ia merasa berhutang budi, karena itu ia tidak pernah berani melawanku.

Di kantor, suamiku menjadi pemimpin dan orang nomor satu, tetapi bila di rumah ia menjadi suami yang patuh dan penurut.

Ia tahu diri, jika tidak ada aku istrinya, ia tidak akan bisa sesukses ini lagi dan tidak mungkin dipandang sebagai pengusaha terhormat.

Karena itu, suamiku merasa seluruh hidupnya telah dibeli olehku, harga dirinya, gengsinya, semuanya. Tidak ada lagi yang tersisa.

Aku memugar rumah lama kami, dan membeli kebun kosong di sebelah, sehingga kami memiliki lahan untuk memperbesar rumah kami.

Aku membangun rumah ini seperti layaknya sebuah istana. Megah dan luas. Seolah dengan begitu aku ingin mengatakan kepada semua orang bahwa keluarga kami telah bangkit kembali.

Hanya perlu waktu tiga tahun untuk meraih lagi semua kehormatan dan kedudukan yang sempat hilang terenggut dari mereka.

Cinta lahir setahun kemudian, melengkapi kebahagiaan kami.

//

"Jangan nangis terus, Mbak," hibur pemuda itu serba salah. "Jangan bikin saya jadi tambah bingung."

Cinta langsung menghapus air matanya dengan jengkel.

Ia memajukan tubuhnya merapat ke kursi pengemudi, lalu menatap ke spion menantang mata si supir, tepat di saat pemuda itu tengah mengawasinya dari kaca spion .

Terpaksa pemuda itu menunduk rikuh.

"Kalau kau dipisahkan dari orang yang kau cintai, lalu dipaksa kawin dengan orang lain, apa yang akan kau lakukan?" bentak Cinta geram. "Tertawa-tawa? Berteriak-teriak senang?"

"Setidaknya beritahu ke mana tujuan kita," kata pemuda itu sambil menelan ludah keluh. "Yang paling menyiksa bagi seorang supir adalah ketika tidak tahu arah yang dituju."

Cinta menghempaskan punggungnya dengan lemah ke sandaran kursi. Ia membuang pandangannya ke luar jendela dan menarik nafas dengan perasaan tersiksa.

"Bawa saya pergi jauh...." bisiknya sambil menangis lagi.

"Jauh dari rumah itu....! Itu saja yang saya inginkan."

"Apakah mbak punya alamatnya...? Rumah keluarga, atau teman," sergah pemuda itu kebingungan.

"Semua orang yang saya kenal kini menjadi musuh saya," bisik Cinta getir. "Mereka mendukung mama saya untuk menjebloskan saya ke dalam pernikahan keparat ini..."

"Lalu ke mana saya harus mengantarkan mbak?" tanya pemuda itu sambil menyeka dahinya yang berkeringat.

Meskipun AC di mobil ini dingin luar biasa, ia merasa tegang dan kepanasan.

Sejak tadi gadis yang disupirinya ini tidak memberikan jawaban yang memuaskan ke mana sebetulnya ia harus menyetir mobil. Bikin pusing dan jadi ruwet.

"Antarkan saya ke penginapan yang bisa saya tempati untuk waktu yang cukup lama," ucap Cinta akhirnya. "Supaya saya bisa menyembunyikan diri, mengasingkan diri, sampai keributan di rumah reda, dan mereka melupakan pernikahan itu."

Pemuda itu mengambil inisiatif sendiri. Ia tidak mau bertanya apa-apa lagi, daripada malah tambah rumit. Belum tentu gadis itu tahu penginapan mana yang diinginkannya.

"Lebih baik langsung saja aku yang memutuskan," pikir pemuda itu kesal. "Kalau tidak salah, diujung jalan tol Cikampek, ada penginapan yang lumayan bersih, kubawa saja gadis ini ke sana supaya persoalan ini cepat beres. Kepala'ku sudah mau pecah!"

Pemuda itu langsung membawa limousin itu melaju di jalan tol. Selama perjalanan keduanya membisu. Sesekali pemuda itu melirik ke kaca spion dan diam-diam mengagumi kecantikan gadis itu. Ia menyusuri setiap senti yang terpatri di wajah gadis itu.

Matanya yang indah dengan bulu mata yang lentik, dinaungi sepasang alis yang tebal dan hitam. Hidungnya mancung dan bibirnya tipis memerah.

Cantik sekali, dan gadis itu semakin memukau dengan riasan pengantinnya yang sempurna.

"Sayang," pikirnya. "Cantik-cantik tapi bermasalah."

Pemuda itu mengawasi Cinta yang terpekur memandangi jalan di luar sana.

Entah berapa lama Cinta termenung, matanya memang tertuju ke luar jendela, tapi pikirannya menerawang ke mana-mana. Sampai-sampai ia tidak sadar ketika mobil berhenti di depan lobi kawasan bungalo yang asri dan teduh.

"Apa mbak tidak keberatan menginap di sini?" tegur si pemuda sopan.

Bersambung

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED