Bab 2

Dendam Kebencian (2)

“Si Donny masih bisa ke rumah lu, Gin?” tanya Ivanka dari belakang kemudi.

“Bisa sih, tapi semua udah gue bilangin supaya bilang, gue gak ada kalau dia ke rumah, eh tadi malah nyari gue ke sekolah. Entar gue ngomong sama Nicko kakak gue, biar diurus sekalian supaya gak ganggu gue lagi.”

“Kan dari awal gue udah bilang, kalau si Donny itu cowok gak bener. Playboy gak jelas penggemar emak-emak! Sangan membagongkan banget kan? Ganteng tapi sukanya sama emak-emak!” geram Ivanka.

“Iya sih, tapi kan gue kira dia bisa berubah setelah gue pacarin,” sangkal Regina.

“Halah, pada dasarnya semua cowok itu sama aja kale!” Bella yang duduk di belakang bersama Jeslyn, dan selama hidupnya tak pernah punya pacar itu langsung berkomentar.

“Kalau gini terus gue jadi males pacaran sama siapapun!.”

“Gak bisa gitu juga dong, Gin, masih banyak kok cowok-cowok baik di dunia ini. Tuh si Inggar kurang apa coba?” Kini giliran Jeslyn yang berkomentar.

“Idih si Inggar teman sekelas lu itu ya, mit amit gue!” Regina langsung menolak.

“Emangnya di sekolah kita cuma ada satu cowok yang namanya Inggar ya?” Jelsyn balik tanya.

“Mana gue tahu, hehehe!” Regina terkekeh.

“Ada dua keles. Yang satu lagi anak kelas dua IPA, seangkatan lu pada, hehehe. Intinya gak semua cowok itu brengsek kaya si Mario atau lebih parah lagi kaya si Donny!” Jeslyn tetap membela.

“Iya kayak cowok lu tu, udah lama pacaran tapi lu gak diapa-apain juga kan? Hehehe,” Bella langsung menyambar komentar Jeslyn.

“Apaan sih…,” Jeslyn pun langsung menunduk malu dibuatnya.

“Jangan dengerin Bella, Jes. Lu beruntung dapetin Deni, paling gak, dia bener-bener mencintai lu bukan cuma mencintai karena ingin ngedapetin tubuh lu secara gratisan,” Regina memutar tubuhnya dan menatap Jeslyn dengan pandangan sayu.

Ucapan Regina tadi langsung membuat ketiga gadis lainnya tersentak. Mereka pun akhirnya hanya bisa membisu. Ketiganya bingung harus memberikan komentar apa terhadap perkataan sahabatnya tersebut.

Cukup lama suasana menjadi sunyi sebelum akhirnya Regina memecahkan kesunyian tersebut dengan melontarkan sebuah ide. “Gue males langsung pulang nih girls, jalan-jalan ke mall dulu yu!”

“Iya nih, gue juga bete tadi abis meres otak ulangan matematika,” Bella pun langsung mendukung ide Regina tersebut.

“Boleh juga tuh, gue setuju!” dukungan juga terdengar dari Bella dan Jeslyn hampir bersamaan.

Regina lalu menepuk pundak Ivanka. “Ya udah, ayo tancap gas Van, hehehe.”

Mobil Ivanka pun lalu melaju kencang menuju lokasi yang hendak mereka tuju. Sepanjang penjalanan terus menerus terdengar suara tawa dari dalam mobil. Mereka semua tampaknya sudah tidak ingin lagi membahas masalah-masalah yang bisa merusak suasana kebersamaan hari itu.

Paling tidak dengan tertawa mereka bisa sedikit melupakan segala kepenatan yang sempat melanda. Dan tak perlu waktu lama ketika mobil tersebut terlihat telah terparkir rapi di parkiran salah satu mall besar di kota tersebut.

Kini empat orang gadis cantik berseragam putih abu-abu itu pun dengan lincah memasuki pintu masuk mall.

“Ini bagus nih!” seru Bella .

“Nggak ah bagusan ini lebih fresh warna-warnanya,” sangkal Jeslyn.

“Yang itu kayaknya oke, tuh!”

“Mendingan yang di sana deh, lagi pada diskon tuh semuanya.”

Keempat gadis cantik itu kini tampak sedang asyik mengacak-acak beberapa counter pakaian yang ada di dalam mall tersebut. Mereka saling memilih pakaian-pakaian yang menurut penilaian mereka masing-masing bagus, untuk kemudian dapat dikomentari oleh yang lainnya.

Beberapa SPG penjaga counter-counter pakaian itu hanya bisa melongo tanpa daya melihat tingkah liar keempat gadis tersebut. Beberapa pengunjung di counter-counter pakaian itu pun juga tampak memandangi tingkah Regina dan kawan-kawan sambil sesekali berbisik-bisik.

Namun demikian, mereka berempat memang cukup menghidupkan suasana mall di siang itu. Dan ketika Regina, Ivanka dan Bella sedang asyik memilih-milih pakaian, tiba-tiba Jeslyn menyeletuk.

“Ini bagus gak kalau gue pake?” Jeslyn menempelkan sebuah baju model kemeja dengan model garis-garis kecil.

Tanpa dikomando ketiga gadis lainnya langsung saling berpandangan dan kemudian berteriak kompak, “Kagaaaaak!”

Mendengar teriakan ketiga teman Jeslyn tersebut, praktis pengunjung mall lainnya yang berada di dekat mereka langsung menoleh. Kini semua pandangan mata pun seakan-akan tertuju kepada Regina dan kawan-kawan.

Mungkin karena sudah tidak tahan lagi melihat tingkah polah keempat gadis cantik itu, SPG penjaga di counter pun terlihat mengerutkan kening dan mengacakan pinggang. Bukannya merasa malu, mereka justru tampak tertawa cekikikan dan langsung ngacir dari tempat itu untuk kemudian bermigrasi menuju ke counter lainnya.

“Nah ini baru pas banget buat Bella!” Regina mengacungkan sebuah rok mini berbahan jeans.

“Wah lu ngehina gue Gin, lu kan tahu sendiri kalau rok di lemari pakaian gue cuma yang sedeng gue pake sekarang ini aja.”

“Iya sekali-sekali pake rok lah Bel, kalau lu terus-terusan pake celana entar lama-lama lu berubah jadi cowok, baru kapok lu! hehehe.”

“Waduh kayaknya ni anak minta dihajar deh!” Bella yang pada dasarnya emang tomboy lalu menyingsingkan lengan bajunya.

“Week…!” Regina menjulurkan lidahnya dengan mantap kemudian berlari menghindari kejaran Bella. Sementara Jeslyn dan Ivanka hanya bisa tersenyum sambil menggeleng-geleng kepala melihat dua temannya berlarian di dalam counter pakaian tersebut.

Seperti SPG-SPG di counter-counter lain yang mereka kunjungi, SPG penjaga di counter ini pun juga seakan tidak bisa melakukan apa-apa, selain membiarkan keempat gadis-gadis cantik itu beraksi di tempat mereka.

“Wao… ni celana dalam renda-renda gini, apa nggak gatel ya makenya?” Bella mengambil sebuah celana dalam mini bermodel renda berwarna merah dan memperlihatkannya kepada sahabat-sahabatnya yang lain.

“Awalnya sih gatel Bel, tapi lama-lama biasa aja kok,” sahut Ivanka.

“Ah sok you know banget sih lu, Van!” sergah Bella.

“Ih dibilangin nggak percaya, hihihi…” Ivanka cekikikan.

“Emang lu pernah make yang ginian?” tanya Bella lagi sambil nunjuk benda berenda itu.

“Ya pernah lah, sekarang kan gue juga make yang model gituan,” timpal Ivanka serius. Regina, Jeslyn dan Bella sontak langsung saling pandang dan melongo mendengar pengakuan Ivanka itu.

“Serius Van, lu make celdam model renda-renda gitu ke sekolah?” Kini Regina yang mengajukan pertanyaan penuh nada ketidak percayaan.

“Iya, gak percaya amah sih dibilangan. Nih gue liatin!” kesal Ivanka, dan dengan santainya dia mengangkat rok abu-abu pendeknya di depan ketiga sahabatnya.

Mungkin karena suasana di counter pakaian dalaman itu memang terlihat sepi sehingga Ivanka berani untuk melakukannya. Kembali Regina, Jeslyn dan Bella dibuat melongo olehnya. Ternyata pengakuan Ivanka benar adanya.

Di balik rok abu-abu pendek yang telah terangkat itu kini terlihat mengintip sebuah kain mungil tipis berenda warna putih. Kain tipis tersebut full dengan renda sehingga apa yang ada di baliknya terlihat menerawang dengan jelas. Beberapa detik saja rok tersebut terangkat sebelum Ivanka akhirnya kembali menurunkannya.

“Wah lu emang udah gila ya, Van! Ke sekolah berano pake gituan, padahal rok lu pendek banget!” ujar Bella sambil geleng-geleng kepala.

Ivanka tampak tersipu malu. “Iya kan itung-itung ngebiasain diri, abisnya cowok gue suka banget sih sama model ginian. Dia tambah hot kalau liat gue pake celana ini, hehehe.” Dengan tanpa Ivanka berucap yang kian membuat tiga sahabatnya kehabisan kata-kata.

Bab 3

Dendam Kebencian (3)

Regian, Bella dan Jeslyn cukup lama tertegun.

“Ati-ati tuh sama adik kelas kita si Tondy. Dia kan terobsesi banget sama celana dalam lu, sekali dia bisa ngeliat lu pake daleman model gitu bisa pingsan bahagia tu bocil hahaha,” ucap Bella sambil tertawa kecil.

“Biarin aja, entar kalau pingsan lu juga yang ngasi napas buatan hahaha.”

“Ih najis…!!” teriak Bella keras yang langsung disambut gelak tawa oleh Jeslyn dan Regina.

“Gue beli juga ah yang model renda-renda gini buat nyenengin cowok gue hehehe.”

“Sssstt…,” Jeslyn memberi isyarat kepada Bella yang tampak heran dengan isyarat Jeslyn karena tidak mengerti maksudnya.

Sekali lagi Jeslyn memberikan isyarat dengan cara menggelengkan kepala ke arah Regina. Bella lalu menoleh ke arah Regina yang sedang berdiri di samping Jeslyn. Bella melihat wajah Regina yang tampak sedikit berkerut.

Bella pun langsung mengerti maksud sahabatnya tersebut. “Maaf ya Gin, kita-kita gak sengaja ngomongin masalah cowok depan lu.”

“Gak apa-apa kok,” ucap Regina lirih dan mencoba untuk tersenyum. Ivanka dan Bella kemudian mendekati Regina dan memegang pundaknya berusaha menunjukkan kalau mereka benar-benar menyesal.

“Udah ah kok jadi sedih-sedihan gini sih? Hehehe!” Regina menatap ke arah sahabat-sahabatnya.

Walaupun tadi sebenarnya bayang-bayang perselingkuhan Donny memang sempat melintas di kepalanya. Namun Regina berusaha menutupinya agar tidak merusak suasana yang ada. Dari semalam Regina memang sudah merencanakan untuk membalas tindakan Donny yang menyakitkannya itu.

“Maaf ya Gin, maaf banget,” kembali Bella merajuk.

“Iya gak apa-apa, kok.” Regina kembali mencoba untuk menyunggingkan senyum guna menghilangkan rasa khawatir sahabat-sahabatnya.

“Eh makan yuk! Laper banget nih….”

“Lu bener gak apa-apa kan?” Jeslyn mencoba sedikit meyakinkan kalau perasaan Regina saat ini benar-benar baik-baik saja.

“Iya bener gue gak apa-apa kok! Ayo dong, laper banget nih hehehe…” Regina menarik tangan ketiga sahabatnya bersamaan dan memasang wajah memelas.

“Iya deh…!” Ketiganya menyahut kompak.

Kini keempat siswi SMA tersebut telah berada di sebuah café. Mereka sedang asyik menikmati makanannya masing-masing. Sesekali masih terdengar suara tawa menyelingi percakapan mereka.

Suasana café itu terlihat cukup lengang tidak seperti biasanya yang cenderung ramai, mungkin karena jam makan sudah lewat beberapa jam yang lalu. Yang kini terlihat di tempat itu hanyalah geng Regina, seorang laki-laki paruh baya dan dua orang pasangan muda.

Ketika sedang asyik memakan nasi goreng pesanannya, tiba-tiba Regina merasakan tepukan tangan Ivanka di pahanya.

“Ada apaan sih, Van?” tanya Regina kaget.

“Lu duduk sopan dikit dong, Gin,” balas Ivanka sambil berbisik kembali tangannya memegang paha Regina kemudian sedikit mendorongnya.

Regina yang memang merasa kedua kakinya terbuka di bawah meja kemudian mengatupkan kedua pahanya, walau dia sendiri masih belum mengerti maksud Ivanka tadi.

“Eh kalian ngapain sih?” Bella berhenti mengunyah bakso di mulutnya. Akibat pertanyaan Bella , membuat Jeslyn juga menghentikan aktifitas makannya.

“Lu semua liat deh om-om yang makan sendirian itu,” jawab Ivanka.

Jeslyn dan Bella terpaksa menoleh kebelakang karena memang saat ini mereka dalam posisi membelakangi Om-om yang dimaksud oleh Ivanka.

“Iya, terus?” sahut Regina.

“Dari tadi tuh om-om ngelirik-ngelirik ke meja kita deh.”

“Terus emang kenapa?” tanya Regina lagi.

“Masalahnya tuh om-om gak cuma ngeliatin kita, tapi juga ngeliatin ke bawah meja kita. Gue perhatiin terus, kayaknya tuh om-om ngintipin paha lu deh, Gin.”

“Aduh masa sih?” Regina kembali melihat posisi kakinya di bawah meja.

“Serius lu, Van? Wah perlu gue damprat juga tuh om-om!” Bella hendak beranjak dari tempat duduknya.

“Udah ah Bel, lu jangan bikin ribut deh,” cegah Jeslyn.

“Om-om genit kaya gitu musti dikasi pelajaran tahu gak sih kalian!” Bella masih ngotot.

“Iya tapi gak enak nih sama yang punya café,” tambah Jeslyn lagi. “Lagian belum tentu kan om-om itu beneran berniat ngintipin Gina.”

“Gimana kalau kita buktiin aja, itu om-om beneran niat ngintipin gue apa gak?” Tiba-tiba Regina nyeletuk.

“Hah, maksud lu?” tanya ketiga temannya hampir bersamaan.

“Lu semua lanjutin makan aja deh.”

Walau masih tersimpan rasa heran dalam benaknya, namun ketiga teman Regina melanjutkan kembali aktifitas makan mereka sebagaimana dikatakan Regina tadi. Regina kembali melanjutkan makannya.

Di atas meja Regina terlihat biasa-biasa saja, namun di bawah meja secara berlahan kembali pahanya dibuka lebar, sambil sesekali melirik ke arah laki-laki paruh baya yang duduk beberapa meja di depannya.

Dan tiba-tiba saja ide gila muncul di benak Regina, ‘Kalau si Donny bisa ngegandeng tente girang, apa salahnya gue juga godain om senang, biar impas kan?’ batin Regina penuh dendam kebencian.

Ivanka yang sekilas melihat ke bawah meja langsung melotot ke arah Regina, “Ngapain sih lu?”

“Hehehe mau ngejebak tuh om om mesum, Van!” balas Regina kalem.

“Wah sakit jiwa nih anak!” bisik Ivanka.

“Apaan lagi sih?” Bella bertanya sambil berbisik pula.

“Ni anak ngangkang tambah lebar di bawah meja, gila banget kan?” Ivanka kesal.

Bella dan Jeslyn hanya tersenyum kecil mendengar omelan Ivanka. Mereka memang tahu kalau Regina terkadang suka berbuat usil menggoda cowok-cowok dengan cara seolah-olah tidak sengaja memperlihatkan bagian-bagian tubuhnya yang plaing sensitif. Bibit eksib memang sudah lama bersemi dalam diri Regina.

Namun untuk kali ini mereka cukup salut dengan keberanian Regina menggoda seorang laki-laki paruh baya yang mungkin seumuran dengan ayah mereka. Jeslyn malah berpikir jika Regina mau membalaskan dendamnya pada Donny yang telah menggaet tante-tente girang.

“Kayaknya tuh om-om beneran ngintipin gue deh, liat aja sampe salah tingkah gitu makannya, hehehe.”

“Masa sih?” Bella bertanya tanpa berani menolehkan kepalanya.

“Eh liat deh Gin, kayaknya ada yang nonjol di selakangan tuh om-om genit, hehehe,” ucap Ivanka berbisik.

“Ah gak mungkin keliatan lah Bel, model om-om kaya gitu sih biasanya kecil tuh ukuran kont….”

Ivanka langsung menutup mulut Regina sebelum gadis cantik itu melanjutkan kata-katanya lebih jauh. “Huus… ati-ati kalau ngomong, di sini kan masih ada perawan!”

Wajah Jeslyn langsung memerah mendengar kata-kata Ivanka. Memang diantara ketiga temannya ini hanya Jeslynlah yang belum pernah merasakan nikmatnya persetubuhan.

“Ups… sory, Jes! hehehe…,” bisik Regina.

Dipermainkan seperti itu, kini wajah Jeslyn pun tampak semakin memerah.

“Udahan ah, entar tu om-om beneran konak bisa bahaya lu!” Ivanka yang kemudian kembali berbisik.

“Nggak ah, gue mau ngasih tu om-om sesuatu yang lebih dasyat, hehehe.”

“Maksud lu?” tanya Bella heran. Sedangkan di sampingnya Jeslyn hanya terlihat terdiam tak berkomentar.

“Gue pinjem kunci mobil lu dong, Van.” Regina menatap Ivanka.

“Lu mau ngapain, Regina?” Ivanka kaget.

“Udah pinjem bentar,” paksa Regina.

Dengan ragu Ivanka mengeluarkan kunci mobilnya dari dalam saku roknya dan menyerahkannya kepada Regina. Sedangkan Bella dan Jeslyn hanya bisa terheran-heran melihat tingkah aneh dari kedua sahabatnya tersebut.

“Tunggu bentar ya,” dengan santainya Regina beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu keluar café tersebut.

Bella memberikan isyarat kepala kepada Ivanka seolah-olah menanyakan kemana Regina akan pergi. Ivanka lalu menggelengkan kepalanya menandakan kalau dia juga tidak tahu kemana sahabatnya yang mendadak aneh itu akan pergi.

Akhirnya mereka hanya bisa menunggu sambil menikmati minuman masing-masing yang masih belum habis.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED