Belum sempat Jena dan Sakha berinteraksi lebih jauh, gedoran di pintu kembali menyadarkan pria itu dari lamunannya. Ia segera bergegas membuka pintu karena Jena tak bergeming. Wanita itu masih diam terpaku di tempatnya.
Begitu pintu terbuka lebar, dua orang warga dan ketua RT setempat sudah berdiri di sana. Ketiga orang tersebut dibuat terkejut karena mendapati Sakha berada di rumah pak Rahman, padahal waktu sudah larut malam.
"Dokter Sakha, kenapa ada di sini?" tanya salah seorang warga. Karena yang mereka tahu Sakha mengontrak rumah yang berada tepat di depan rumah pak Rahman.
Mendapati Sakha hanya diam seribu bahasa, Pak RT memilih berjalan mendekat ke tempat pak Rahman berada dan menuangkan segelas air putih yang kebetulan ada di situ.
"Pak Rahman minum dulu, tenang ... ada apa ini sebenarnya?" tanya pak pria paruh baya yang dipercaya warga setempat untuk menjadi ketua RT tersebut.
Setelah meminum air putih akhirnya pak Rahman bisa sedikit lebih tenang, ia mencoba menjelaskan apa yang terjadi dan ternyata pak Rahman menganggap anak gadisnya terlalu sembrono mencari teman hingga akhirnya dilecehkan oleh dokter yang memang biasa datang ke rumah.
Akan tetapi saat mendengar pernyataan sang Ayah, Jena langsung menyangkalnya. Ia takut pernyataan itu justru akan membuat Sakha mendapat masalah. Apalagi ia adalah seorang dokter.
"Maaf pak RT tapi saya tidak dilecehkan!!"
"Kami saling mencintai dan melakukannya mau sama mau," sahur Sakha cepat. Sorot matanya menatap lurus ke manik mata Jena. Ada amarah sekaligus kecewa yang tersirat di sana, membuat Jena tak sanggup membalas tatapan mata itu.
Apa yang terjadi saat ini menimbulkan rasa bersalah yang teramat besar menyergap di hati Jena. Bagaimana tidak, Sakha adalah pria terbaik yang pernah ia temui. Ketulusan hatinya membantu sang ayah untuk berobat justru ia salah gunakan.
Mengingat akan hal itu, tanpa terasa membuat air mata Jena luruh seketika. Sedangkan Pak Rahman justru semakin murka kala mendengar penjelasan yang diberikan oleh Sakha. Kemarahan itu ia tujukan pada putrinya.
"Mau jadi apa kamu Jena?! hidupmu sudah sulit kenapa kamu justru menambah beban kesulitan di hidupmu sendiri?" lagi lagi pak Rahman memaki Jena dengan suara bergetar karena pria itu menangis.
Ia sudah bisa membayangkan bagaimana nasib putrinya, namun ditengah-tengah ricuhnya suasana dan ketegangan yang semakin melanda, Sakha berjalan mendekat ke arah pak Rahman dengan membuat satu keputusan besar dalam hidupnya.
Ia tahu benar akan akibat dari ucapannya nanti, tetapi tak ada pilihan lain lagi. Meski Jena bukanlah cintanya tapi gadis itu telah ia renggut kesuciannya. Sakha sungguh tak mau kalau hal itu justru akan menyeretnya pada masalah yang lebih sulit lagi. Ia harus menyelesaikan ini tanpa mempengaruhi karirnya sebagai seorang dokter.
Dengan kepala menunduk, Sakha duduk bersimpuh di hadapan pak Rahman. Ia meraih tangan laki laki itu dan genggamannya erat.
"Maafkan saya Pak, tapi Pak Rahman jangan khawatir, saya mencintai Jena dan secepatnya saya akan menikahinya."
Jena tentu sangat terkejut mendengar kalimat yang baru saja terlontar dari bibir Sakha.
Ia yakin kalau dirunya tak salah dengar. 'Menikah' kata itulah yang terus terngiang ngiang di benak Jena saat ini. Ia sendiri tak bisa membayangkan bagaimana nanti kehidupan pernikahannya bersama Sakha jika hal itu benar-benar terjadi.
Jena cukup sadar diri. Meski sikap Sakha begitu baik terhadapnya, Jena tahu kalau pria itu mencintai tunangannya, bukan dirinya.
Mendengar Sakha bersedia menikahi Jena, pak RT pun datang mendekat.
"Maaf dokter Sakha, demi menghindari fitnah, karena berita ini pasti akan tersebar kemana mana dan menjadi pembicaraan yang negatif, alangkah baiknya jika pernikahannya dipercepat meskipun itu adalah pernikahan siri, nanti untuk menikah secarah resminya bisa mbak Jena dan mas Sakha rencanakan lagi dengan baik."
Sebelum melanjutkan ucapannya Pak RT yang memang sangat memahami kondisi keluarga Jena, lebih mendekatkan tubuhnya pada Sakha. Barulah ia kembali bicara dengan suara berbisik.
"Begini dokter Sakha, kasihan pak Rahman, beliau sedang sakit jadi kalau dokter Sakha dan Jena saling mencintai lebih baik segera menikah, kalau melihat putrinya sudah menikah, pak Rahman pasti akan tenang."
Tanpa Jena duga, Sakha menyetujui begitu saja apa yang dikatakan ketua RT tersebut dan pada akhirnya sang ayah juga ikut memberikan restunya.
Pernikahan mereka pun benar-benar dilangsungkan keesokan paginya di kediaman Jena.
"Saya terima nikah dan kawinnya Jena Anastasya binti Arrahman dengan mas kawin tersebut di atas, tunai."
Ucapan itu sukses dikatan oleh Sakha dalam satu tarikan nafas di depan seorang penghulu dan dinyatakan sah oleh para saksi.
Mulai saat itu Jena resmi menyandang gelar sebagai istri dari pujaan hatinya yaitu Arshaka Maheswara.
Seorang laki laki tampan berusia 28 tahun yang santun dan memiliki tingkat kepedulian tinggi sebagai seorang dokter. Saat ini ia juga sedang menjalani residensi bedah umum, agar nantinya Sakha bisa menjadi dokter spesialis bedah.
Tanpa Jena sadari, pria yang menikahinya bukanlah pria sembarangan. Ia adalah putra seorang pejabat kaya raya di daerah Jawa timur yang memang dididik untuk hidup sederhana.
Selain itu Arshaka Maheswara juga merupakan anak berprestasi sejak kecil, namun dibalik semua itu, dokter Sakha yang nampak tenang adalah seorang hyper yang nantinya hanya akan nampak di hadapan Jena.
***
Hari pertama menjadi seorang suami istri, Jena kira semua akan baik baik saja tapi nyatanya, kenyataan tak seindah angan angan. Nyalinya menciut begitu berhadapan langsung dengan sang suami yang sudah bersiap menginterogasinya.
"Untuk apa kamu melakukan ini Jena? kurang baik apa aku ke kamu selama ini?"
Jena yang saat ini sedang memasukkan pakaian Sakha ke dalam almari, terdiam seketika.
"Maksud mas apa?" tanyanya pura-pura bingung sementara Sakha menanggapinya dengan tersenyum sinis.
"Jena ... Jena ... aku bukanlah orang yang bodoh sepertimu, hari itu aku tak bersama siapapun selain dirimu, kamu menaruh obat di minumanku kan?"
Pertanyaan itu membuat tubuh Jena bergetar. Tak ada jawaban yang ia berikan, bibirnya terkunci rapat.
"Jenaaaa!!" bentak Sakha yang akhirnya membuat wanita itu berkata jujur.
"Iya aku yang menaruhnya. Aku cemburu saat Mas Sakha menelpon cewek itu dan bicara mesra dengannya, aku nggak rela!!"
"Terus, dengan kecuranganmu kamu berharap bisa memilikiku? mimpi kamu Jena!!" ucap Sakha tanpa ampun tepat di depan wajah wanita itu.
Jena masih diam membisu dan memilih melanjutkan aktivitasnya, namun ucapan Sakha kembali membuatnya terguncang.
"Dengar Jena, aku melakukan ini bukan karena mencintaimu tapi aku tidak ingin menjadi lelaki bejat yang kemudian kehilangan pekerjaan. Bagaimana kalau akibat kebodohanmu, kamu hamil, dan sialnya jika hal itu sampai terjadi, aku harus terlibat di dalamnya. Aku akan mendampigimu selama dua bulan kedepan, tapi jika dalam waktu selama itu kamu nggak hamil, maka pernikahan kita selesai."
Perih dan sakit itulah yang Jena rasakan saat ini. Ia sama sekali tak berani menatap wajah pria yang berdiri di hadapannya.
"Maaf mas aku ke dapur dulu," ucap Jena kemudian.
Langkah Jena yang hendak keluar dari kamar, dihentikan oleh Sakha. Pria yang kini berstatus sebagai suaminya itu mencengkeram kuat lengan atasnya.
"Ini adalah kemauanmu Jena, jadi jangan merasa menjadi yang paling tersakiti karena korban sesungguhnya adalah aku," ucap Sakha penuh penekanan.
Jena tak menanggapi ucapan Sakha. Ia hanya menyentakkan tangannya dan semakin mempercepat langkah agar segera keluar dari kamar dan berjauhan dengan pria itu.
Sampai di dapur, dengan cepat Jena mengambil beberapa bahan makanan. Tangannya masih bergetar karena ucapan pedas Sakha yang membuatnya cukup terguncang. Ia masih tak menyangka jika wajah setampan dan sehangat Sakha, bisa menorehkan luka yang luar biasa di hatinya. Mata bening itu kini mulai berkaca kaca tapi Jena masih berhasil menahan agar cairan bening itu tak mengalir.
Sampai saat suara sang ayah mengejutkannya.
"Jena, apa semuanya baik baik saja?" tanya pak Rahman pada putrinya.
"Hahh? iya Yah Jena baik baik saja, Ayah mau dimasakin apa?"
Pak Rahman hanya tersenyum ia tahu benar siapa putrinya. Pria itu sama sekali tak melihat raut wajah bahagia di wajah anak semata wayangnya itu setelah ia menikah, tapi rasanya tak sampai hati untuk menanyakan masalah apa yang membuat Jena seperti itu. Bukankah seharusnya ia bahagia karena baru saja menikah, terlebih pak Rahman tahu benar kalau Jena sangat menyukai Sakha.
Malam itu Jena sangat gugup ketika harus makan satu meja dengan Sakha, sedangkan pria itu berusaha terlihat santai namun saat menyuapkan makanan ke mulutnya matanya langsung tertuju ke arah Jena berada.
Ia tak menyangka jika masakan wanita yang baru ia nikahi siang tadi ternyata sangat enak, selera makannya menjadi bertambah seketika, berbanding terbalik dengan Jena.
Wanita itu benar-benar kehilangan selera makan setiap kali teringat pada ucapan yang Sakha lontarkan. Beruntung ponselnya berdering dan membuatnya segera beranjak dari tempat itu.
"Halo Ra kenapa?" sapa Jena pada si penelpon. Setelahnya Jena hanya terlihat beberapa kali mengangguk anggukkan kepala, setelahnya barulah ia mematikan telepon dan kembali duduk di tempat semula bermaksud untuk berpamitan.
"Ayah Jena pamit dulu ya, teman Jena ada yang sakit jadi hari ini harus masuk kerja, tidak jadi mengambil cuti."
"Mau aku antar?" sela Sakha yang membuat Jena sedikit terkejut, namun akhirnya ia paham apa alasan pria itu melakukannya. Pasti hanya ingin menunjukkan rasa tanggungjawabnya di hadapan sang ayah.
"Nggak usah Mas, tempat kerjaku kan nggak jauh. Lagian Mas Sakha juga tahu, kalau aku sudah biasa jalan kaki menuju ke sana," jawab Jena sembari mengulas senyum tipis di bibirnya.
Tanpa banyak bicara lagi, wanita itu segera beranjak meninggalkan dua orang yang terus menatap dirinya, namun sebelum itu, Jena sempat masuk ke dalam kamar.
Diambilnya kotak kecil yang ia gunakan untuk menyisihkan uang yang akan ia gunakan untuk mengembalikan hutang hutangnya pada Hera. Hera adalah teman lamanya yang bekerja di Bar. Meski sebenarnya Jena sangat enggan berurusan dengannya tapi tak ada orang lain yang menjadi tempatnya mengadu soal keuangan selain Hera.
****
Sayangnya begitu kembali berhadapan dengan wanita itu, Jena justru kembali dimaki-maki.
"Yaampun Jena ... Jena ... kamu memang nggak niat mengembalikan, ini apa?" ucap Hera kesal setelah melihat jumlah uang yang Jena berikan padanya.
"Aku sudah berusaha Ra, kalau aku nggak niat mana mungkin aku memberikan uang itu sama kamu."
Hera tersenyum smirk mendengar jawaban yang Jena berikan. Tangannya memberikan kode pada seseorang dan beberapa detik kemudian dua orang pria berbadan tegap datang mencekal tangan Jena lalu membekap mulutnya.
Sekuat tenaga wanita itu berontak tetap saja sia sia, tenaganya tak cukup kuat melawan kedua pria itu.
"Ayolah Jena!! Nikmati saja nggak usah sok suci, layani mereka dengan baik dan kuanggap lunas semua hutang hutangmu!!" seru Jena yang membuat hati Jena memanas mendengar ucapan Hera.
Ingin rasanya ia merobek mulut wanita itu. Jena masih tak gentar ia tetap berusaha melawan karena benar benar tak ingin terlibat permainan menjijikkan yang dilakukan Hera.
Saat wanita itu berada tepat di hadapannya, Jena langsung mengayunkan kakinya sekuat tenaga hingga mengeni wajah Hera dan itu berhasil membuatnya memekik kesakitan.
Spontan dua pria yang tadi memegangi tangan Jena, langsung datang dan membantu Hera. Momon itu langsung Jena manfaatkan untuk melarikan diri. Sekuat tenaga ia mengayunkan langkahnya dengan cepat menuju ke keramaian, meski tak akan ada yang mau membantunya, setidaknya tak ada yang berani menyerang dan menculiknya di tengah keramaian seperti itu.
Setelah dirasa aman barulah Jena kembali ke rumah. Nafasnya masih berpacu cepat. Rasa takut masih ia rasakan tetapi tak tahu harus mengadu pada siapa. Dengan nafas yang masih memburu Jena mengetuk pintu rumahnya dengan keras berkali kali.
Begitu pintu terbuka, hatinya malah semakin tidak karuan. Wajah Sakha yang dingin seolah mengintimidasi dan kian mengacaukan perasaannya. Ia hanya lelah butuh tempat untuk bersandar dan bercerita.
Kali ini Jena memilih mengacuhkan pria itu dan bergegas masuk ke kamar. Penampilannya sangat kacau dan berantakan. Begitu masuk ke kamar ia dibuat terpaku di tempat saat melihat apa yang ada di hadapannya.
Sebuah koper besar tergeletak di sudut kamar. Perlahan Jena berjalan mendekat ke arah almari, tempat dimana ia menaruh pakaian Sakha, dan tak ada satupun pakaian pria itu di dalam sana, yang artinya pria itu sudah memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper.
Kali ini Jena tak bisa membendung perasaannya. Ada lelehan bening yang jatuh dari sudut matanya. Begitu hina kah dirinya sampai sampai di hari pertama menikah dia harus ditinggalkan oleh sang suami. Di saat yang bersamaan Sakha muncul dari belakangnya.
"Besok aku akan kembali ke rumahku di Jawa timur, keluargaku sudah menunggu, jika ada sesuatu yang kamu butuhkan, hubungi saja aku."
Jena memilih tak menyahut ucapan Sakha kali ini. Hati dan jiwanya lelah, benar benar lelah. Ia butuh istirahat, haruskah ia mati agar tak lagi bisa merasakan seperti ini.
"Terserah ... " jawab Jena pada akhirnya. Membuat Sakha cukup terkejut mendengar jawaban yang wanita itu berikan.
Ini pertama kalinya Jena terlihat kesal padanya. Selama ini wanita itu selalu bersikap manis dan bersemangat saat bersamanya. Wajahnya selalu terlihat ceria meski hidup yang wanita itu jalani tidaklah mudah dan hal itulah yang membuat Sakha terkesan pada gadis itu hingga membuat mereka dekat seperti layaknya sahabat.
Tetapi kali ini Jena tidak seperti Jena yang ia kenal, ada rasa tak rela saat wanita itu mengacuhkannya. Ada apa dengan hatinya. Bahkan kali ini Jena melewati Sakha begitu saja menuju kamar mandi, terdengar gemericik air dari sana yang menandakan jika Jena sedang membersihkan dirinya.
Jena meringis kesakitan saat akan menekan kran air. Pergelangan tangannya terasa ngilu mungkin terkilir saat tadi terus memberontak dari cekalan pria pria brengsek yang hampir menculiknya. Cukup lama ia berada di kamar mandi, namun saat keluar ia merasa sangat terkejut mendapati Sakha masih berada di kamarnya sedangkan pria itu tak kalah terkejut begitu melihat Jena yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya melilitkan handuk di tubuhnya.
Sakha menelan ludah kasar melihat pemandangan di depannya. Ia seolah tak percaya jika sudah pernah menjamah setiap lekuk tubuh Jena. Sakha akui, gadis di hadapannya itu memang cantik dan seksi. Itulah yang terlintas di benaknya saat ini.