Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya.
Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah.
Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran kontol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. Kontol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang kontol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule.
Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung kontol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?
Nafasku menjadi berat. Tanganku hanya diam saja menggenggam kontol ayah. Entah kenapa aku jadi bingung dan takut. Ini sama sekali di luar dugaanku. Sebenarnya aku ingin mengocok kontolnya tapi aku tidak berani. Ini adalah hal yang salah. Aku takut semakin meminta lebih. Maka segera aku menarik tanganku keluar dari sarung ayah. Aku belum berani untuk melangkah lebih jauh.
Kami berdua langsung canggung. Ayah menundukkan kepalanya dan langsung minta maaf. Dia langsung keluar dari kamarku. Aku terdiam sambil membayangkan apa yang baru saja terjadi.
Aku menceritakan kejadian itu pada sahabatku, Vita. Vita tidak menyangka bahwa kejadian seperti itu bisa terjadi.
"Beneran?"
"Iya, Say. Aku beneran ga nyangka."
"Fix sudah kalo gitu." katanya.
"Apanya yang fix?"
"Ayah mertuamu itu, juga punya hasrat seks yang sama."
"Maksudmu dia juga bernafsu ke aku?"
"Iyalah, say," kata Vita. "Kalo ngga, ga mungkin dia ngaceng lihat belahan dadamu."
Aku mulai kepikiran dengan ucapan Vita. Apa benar ayah mertuaku punya hasrat seksual kepadaku? Seperti aku pada dia? Kalau iya, apakah mungkin akan berlanjut pada tahap yang lebih? Ah, aku tidak ingin memikirkannya. Kejadian itu sudah cukup membuatku bingung dan takut.
Saat aku sudah membaik dari sakitku, saat aku sedang memasak, ayahku tiba-tiba menghampiriku.
"Rin," sapa Ayah.
"Iya, Yah?" jawabku.
Semenjak kejadian kemarin, kami memang menjadi canggung. Kami tidak saling bertegur sapa. Bahkan aku sering menghindari momen di mana ada ayah di situ.
"Soal kejadian kemarin, ayah minta maaf. Ayah bener-bener khilaf. Ga seharunya ayah bersikap kaya gitu."
"Udahlah, yah. Ga usah dibahas lagi."
"Iya, tapi ayah merasa sungkan dan malu sama kamu, Rin."
"Udah terjadi kok, Yah. Jangan dipikiran terus. Ririn paham kok ayah sebagai pria yang masih punya hasrat."
"Tapi kamu maafin ayah, kan?"
"Iya, Yah," jawabku. "Lagian kan cuma pegang doang."
Deg!
Astaga. Cuma? Kenapa aku bilang seperti itu? Kenapa aku seolah mengatakan itu adalah hal yang biasa? Aku tidak bisa mengontrol omonganku. Mendengar itu ayah seperti sedikit berpikir. Entah apa yang dia pikirkan, aku tidak tahu.
"Makasih, Rin." Jawab ayah. Dia langsung meninggalkanku sendiri di dapur.
*****
Tidak ada rasa canggung lagi antara aku dan ayah mertua semenjak ayah meminta maaf dan aku juga sedikit ‘memaklumi’. Namun, meskipun begitu tidak ada sikap kurang ajar dari ayah yang mengarah pada kejadian serupa. Kami tetap berhubungan seperti biasanya. Hanya saja, ayah sekarang sering terasa lebih terlihat bahagia. Entah karena apa, aku tidak tahu. Walaupun sebenarnya, jika mau diakui, sekarang aku juga sedikit merasa senang selama ada di rumah. Apalagi bila ada ayah. Mungkinkah kejadian kemarin yang menyebabkan aku demikian? Dan jujur saja, sebenarnya aku memang tidak masalah dengan kejadian itu. Meskipun aku takut, tapi semacam ada tantangan dalam diri untuk mengulanginya lagi.
Hingga pada akhirnya, kesempatan untuk melakukan hal yang sama kembali terulang.
Suatu pagi, aku baru selesai mandi. Suami sedang mengantar kerupuk, ayah pergi ke sawah dan anakku, seperti biasa, sudah pergi bermain dengan teman-temannya. Karena tak ada orang, maka aku memberanikan diri hanya mengenakan handuk sehabis mandi menuju ke kamar. Pada saat baru masuk ke dalam rumah, tanpa sengaja aku terjatuh karena lantai yang licin. Akhirnya aku pun terjatuh di lantai.
“Awww...” pekikku.
Tiba-tiba ada suara orang berlari dari arah ruang tamu menuju ke belakang.
“Kenapa?” katanya. Ternyata yang datang adalah ayah mertua.
“Lho, ayah kok di rumah?” tanyaku dalam hati. “Bukannya ayah di sawah?”
Pada saat melihatku sedang terduduk di lantai, ayah sempat tertegun menatapku. Awalnya aku heran karena tatapan ayah mencurigakan. Tapi akhirnya aku sadar ternyata aku hanya mengenakan handuk dan parahnya handuk itu kini terlepas.
“Astaga,” ucapku dalam hati. “Bodohnya aku.”
Aku berusaha bangun dan membetulkan posisi handuk, namun tidak kuat karena sakit di kakiku.
Mungkin karena menyadari kondisiku, ayah langsung menghampiriku. Tanpa ragu, ia yang membetulkan posisi handuk. Tentu saja ia menyentuh bagian payudaraku. Malahan ia langsung membopong diriku.
Aku benar-benar tidak menyangka dengan perlakuan ayah mertua kali ini. Anehnya, malah tidak ada penolakan apa pun dariku. Aku malah hanya diam saja seolah semuanya ini hal yang biasa. Aku seolah tidak sadar bahwa yang menggendongku adalah mertuaku sendiri. Apalagi dia menggendong diriku dengan kondisiku ‘terbuka’.
“Tapi, ayah mertuaku ini cukup kuat ya,” kataku dalam hati.
Ayah membawaku ke dalam kamar. Dan langsung menidurkanku di kasur. Aku berusaha menutupi bagian selangkanganku karena posisinya sangat minim.
Begitu meletakkanku, kami langsung terdiam. Seolah udara di sekitar kami membeku. Hanya deru nafas kita yang terdengar. Nafas yang kurasakan semakin memberat. Untuk menghilangkan rasa kebekuan ini, aku memberanikan diri memulai bicara.
“Makasih, pak.”
“Iya,” jawab ayah pelan.
Tapi tak berlangsung lama. Setelahnya, rasa canggung kembali hadir di antara kami. Entah bagaimana aku harus kembali memecahkannya.
Tiba-tiba saja kurasakan ada tangan yang langsung meraba pahaku. Seperti ada aliran listrik yang menyengat di sekujur tubuhku. Perlahan aku mulai menyadari bahwa tangan itu adalah milik ayah mertua. Tangan yang kasar khas seorang pekerja sawah. Tangan yang setiap hari memegang cangkul. Tangan itu kini bergerak perlahan menuju ke arah selangkangan.
Nafasku semakin berat menyadari bahwa ayah mulai melalukan hal yang berani dan merangsang. Anehnya aku menikmati setiap inchi dari pahaku yang dilalui oleh tangannya. Tapi begitu akan sampai di pangkal paha, aku menghentikan perbuatan ayah.
“Pak,” kataku sambil menggelengkan tangan. “Aku takut.”
Ayah mertua langsung menghentikan gerakan tangannya. Ia tidak memaksa. Tangannya perlahan diangkat dari pahaku. Aku bisa bernafas lega.
Tetapi, ternyata aku salah menduga.
Meskipun tangan ayah sudah tidak ada di pahaku, tetapi tangan itu sudah bergerak untuk melepaskan kaitan handuk di dadaku. Lagi-lagi aku hanya diam saja. Ada apa dengan diriku? Apakah karena bagiku ini serba terlalu cepat? Atau juga aku sebenarnya menginginkan momen ini? Ah, entahlah.
Yang jelas kini handuk yang kukenakan sudah lepas. Tampaklah tubuhku tanpa sehelai benang yang menempel terpampang di depan ayah mertua. Tubuh dari istri anaknya sendiri sudah ia lihat dengan jelas di depan matanya.
Aku melihat ayah. Ia tampak terpesona melihat tubuhku yang sudah telanjang. Sempat kulihat juga ia seperti menelan ludah. Apakah begini kondisi duda yang sudah lama ditinggal istrinya? Ia sudah sangat menginginkannya?
Bersambung
Tak lama kemudian, sudah kurasakan tangan kanan ayah berada di payudaraku. Ia mulai melakukan rabaan di sana. Rabaan itu perlahan-lahan berubah menjadi remasan. Nafasku semakin tidak karuan. Biar bagaimanapun aku masih memiliki nafsu yang apabila dirangsang maka akan melahirkan birahi yang menagih untuk dipuaskan.
Remasan tangan ayah semakin lama semakin membuatku nyaman. Nafsuku mulai bangkit dan kini aku hanya memejamkan mata. Apalagi saat ayah memainkan puting susuku dengan jemarinya. Ah, itu makin membuat geli keenakan. Ingin rasanya aku memegang milik ayahku, tapi aku tak berani. Apalagi ayah makin pintar merangsangku dengan puting susuku. Kurasa selangkanganku basah.
Sialnya, tanpa melepaskan remasannya, tangan kirinya berusaha membuka pahaku. Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, aku hanya menuruti saja apa yang diperintahkan: aku pun membuka pahaku. Kini tampaklah memekku di depan ayahku. Memek yang belum aku rapikan bulunya. Sialnya memekku ini sudah basah karena rangsangan ayah sebelumnya.
Kulihat ayah seperti seekor singa hendak menerkam begitu ia melihat area terlarangku. Lalu kurasakan tangan kirinya mulai menyentuh memekku. Ah, ayahku sekarang tahu bahwa di sana sudah basah. Betapa malunya aku.
Perlahan kurasakan jari ayah bergerak naik turun bermain di bibir vaginaku. Aku juga tak bisa menyembunyikan responku atas hasil rangsangan itu.
"Ahhh...ahhh...ahhh..." Aku mulai mendesah.
Sementara jari ayah terus bermain di sana. Bahkan ayah mulai menyentuh klitorisku. Aku makin tak kuat untuk tidak mendesah.
"Ahhh....ahh...."
Aku hanya bisa memejamkan mata merasakan kenikmatan ini. Kupastikan bahwa memekku sudah makin basah. Apalagi tangan kanan ayah tetap tidak lepas dari payudaraku dan putingku.
Oh, ingin rasanya aku memegang milik ayah mertuaku. Aku ingin tanganku masuk ke dalam sarungnya dan menemukan barang paling berharganya. Barang yang selama ini sering hadir dalam imajinasiku. Saat aku membuka mata dan kulihat sarung ayah, rupanya sudah tercetak jelas bahwa kontolnya sudah tegak berdiri.
Sepertinya ayah paham apa yang aku mau. Ia mendekatkan duduknya agar aku bisa meraih selangkangannya.
Kini, tanpa arahan darinya lagi, aku sudah langsung menyingkap sarung ayah dan memegang kontolnya. Kontolnya sudah mengeras. Bentuknya sempurna: panjang dan besar. Perlahan aku mulai mengocoknya.
"Ah...enaknya..." kataku dalam hati. Ayah mertua kini mulai memasukkan jarinya ke dalam lubang memekku. Dalam bayanganku, buka jarinya yang masuk melainkan kontol yang aku pegang. Apa aku jujur saja pada ayahku?
Tapi aku belum cukup berani.
Pinggulku perlahan melakukan gerakan mengimbangi permainan tangan ayah. Nikmat rasanya. Sejujurnya aku sudah ingin disetubuhi. Tapi ini tak mungkin dilakukan karena sangat berbahaya. Lagi pula aku belum punya cukup keberanian untuk itu. Sementara gerakan mengocokku di kontol ayah juga makin cepat seiring permainan tangan ayah di selangkanganku.
Semakin lama kenikmatan ini makin membuatku melayang. Aku merasa sebentar lagi akan mencapai orgasmeku. Apalagi kelihaian jemari ayah makin membuatku tak tahan.
"Ahhh...aaa...yaahh..." desahku.
Tapi tiba-tiba perbuatan kami itu harus terhenti karena ada suara kedatangan anakku.
"Ibuu..."
Kami langsung menghentikan kegiatan kami. Aku langsung buru-buru melepaskan tangan dari kontol ayah dan langsung memasang handukku. Sementara ayah meninggalkan permainan tangannya di tubuhku. Ia dengan cepat beranjak dari kasur dan keluar dari kamar. Tak lama kemudian anakku datang dari luar.
"Kakek mau ke mana itu, Bu?" tanya anakku yang ternyata melihat kakeknya keluar dari kamar.
"Ke kamarnya," jawabku sekenanya. "Kamu kok sudah pulang?"
"Rizal mau minta uang. Mau beli layangan."
Setelah anakku kembali pergi, dengan kaki yang masih sakit, aku beranjak dari kasur dan segera mengenakan pakaian. Apa yang kurasakan sedikit menjengkelkan: aku harus berhenti setelah hampir akan mencapai orgasme. Padahal aku sudah berharap sesuatu yang lebih akan terjadi.
Bagaimana dengan ayah? Kurasa dia juga merasakan hal yang sama. Aku ke luar kamar dan mencari ayah. Aku ke kamarnya dan tak menemukan siapa pun. Ke mana ayah? Apakah dia langsung ke sawah? Aku ke arah kamar mandi dan kudapati pintunya tertutup. Apakah ayah di dalam? Aku mengintip dan kulihat ayah memang di dalam. Ia sedang mengocok.
Kulihat tangannya bergerak maju mundur di kontolnya. Sementara kepalanya mendongak seperti menahan kenikmatan. Aku fokus pada kontolnya yang tegak berdiri itu. Perlahan birahiku kembali bangkit. Tanganku perlahan turun ke arah selangkangan dan aku mulai melakukan masturbasi sambil tetap mengintip ke dalam kamar mandi. Aku membayangkan ayah sedang menggagahiku dengan kontol kudanya itu.
Tidak lama kemudian, kulihat kocokan ayah mertua makin cepat. Sampai akhirnya, aku lihat kontolnya menyemburkan sperma. Kudengar ayah mendesah. Spermanya banyak sekali dan berjatuhan di lantai. Sementara aku terus saja melakukan masturbasi. Jariku sudah keluar masuk di memekku.
Tanpa kuduga, kulihat ayah sudah akan keluar dari kamar mandi. Buru-buru aku merapikan baju dan segera masuk ke dalam kamar dan melanjutkan masturbasiku di sana. Kulakukan sampai aku mencapai orgasmeku.
Tentu saja dengan bayangan ayah mertuaku yang sedang menindihku.
Selepas itu, aku duduk di pinggiran kasur. Membayangkan apa yang barusan sudah terjadi. Kenapa aku bisa melakukan hal seberani itu bersama ayah mertua? Kenapa aku juga hanya diam saja ketika ayah mulai bertindak nakal padaku? Mungkin benar, aku juga menginginkannya. Aku menginginkan ayah mertuaku sendiri.
Ah, aku benar-benar sudah gila.
*****
Kejadian pada saat aku terjatuh kemarin bagai lampu hijau bahwa hubungan itu bisa berlanjut ke arah yang lebih. Setidaknya itu yang aku rasakan. Keberanian ayah mertuaku menunjukkan bahwa pada suatu saat bisa saja ia melakukan hal yang lebih. Sedangkan diriku, tidak melakukan perlawanan apa pun terhadap perlakuan dari ayah. Kurasa jika ayah melakukan hal yang lebih, aku juga tidak akan melawan. Aku harus berani mengakui bahwa diriku merasa senang melakukan hal seperti di kamar kemarin.
Meski aku merasa bahagia dengan kejadian kemarin, tapi aku tidak menunjukkan di depan siapa pun. Suamiku atau bahkan ayah mertuaku. Aku tidak ingin terlihat sebagai pihak yang paling bahagia dengan kejadian kemarin. Bukan karena aku takut ayah akan semakin nakal padaku, tapi ini soal rasa gengsi semata. Kurang elok rasanya jika wanita terlalu tampak rasa inginnya.
Aku sendiri tidak tahu bagaimana perasaan ayah. Ia tidak menujukkan gelagat apa pun. Tapi kurasa ia juga bahagia dengan kejadian kemarin.
Suatu siang, pada saat aku di dapur, ayah baru datang dari sawah. Sebelum ia membersihkan diri, ayah menghampiriku.
"Rin," sapa ayah. "Ayah minta maaf soal kejadian kemarin. Sekali lagi ayah sudah kurang ajar."
"Iya, yah. Aku juga salah kok."
"Ayah ga bisa bohong, Nak," kata ayah. "Sebagai laki-laki dan seorang duda, ayah tidak kuasa menahan nafsu. Apalagi melihatmu seperti kemarin."
"Sudahlah, yah," jawabku. "Semua udah terjadi. Apalagi ayah udah mau bantu aku kemarin."
"Oh ya, kakimu udah membaik?"
"Sudah, yah."
"Syukurlah kalo gitu."
Malam harinya, tepat pada malam Jumat, suamiku meminta jatah padaku. Sebagai istri yang patuh pada suaminya, aku mengiyakan permintaannya. Pada saat aku baru datang dari kamar mandi, kudapati suamiku hanya mengenakan sarung. Ia langsung tersenyum padaku: sebuah kode. Dia langsung berdiri dan menghampiriku. Kami berpelukan dan langsung berciuman.
Kurasakan ada sesuatu yang bergerak dalam sarung suamiku. Tangan suamiku juga mulai bergerilya menyusuri badan bagian belakangku. Daster bagian belakang ia singkap hingga menemukan bongkahan pantatku yang terbalut celana dalam. Suamiku melakukan remasan pada pantatku sementara kami terus berciuman. Tanganku sendiri juga mulai menyingkap sarung suamiku. Kudapati ia sudah tidak mengenakan apa pun di baliknya.
"Tutup pintunya," kata suamiku menghentikan kegiatan kami. Aku menutup pintu kamar.
Kulihat suamiku kini sudah melepaskan sarungnya dan ia lansung telanjang bulat. Pada saat aku menghampirinya kembali, suamiku yang membuka bajuku satu per satu. Mulai dari daster sampai celana dalam. Suamiku duduk di tepian ranjang dan memelukku yang masih berdiri sambil melahap kedua payudaraku yang tepat berada di depannya. Ia melahap keduanya secara bergantian. Aku makin terangsang dengan perlakuan suamiku itu. Apalagi saat suamiku melumat kedua puting susuku.
"Ahh..." aku mulai mendesah.
Tangan suami kini meraba bagian selangkanganku. Entah kenapa tiba-tiba aku ingat dengan ayah. Kemarin ayah juga melakukan hal yang sama padaku. Jadilah aku makin bernafsu membayangkan ayah yang melakukannya. Kurasakan memekku sudah sangat basah.
Menyadari hal itu, suamiku memintaku untuk tidur di ranjang dan ia langsung menindihku. Kulihat kontolnya sudah tegang. Lagi-lagi aku terbayang pada kontol ayah. Kenapa kontol suamiku tidak sama dengan milik ayah? Oh, andaikan kontol yang akan menggagahiku adalah milik ayah. Suamiku membuka pahaku. Ia langsung mengarahkan kontolnya ke memekku.
Malam itu, suamiku berhasil memberiku kepuasan. Entah itu karena memang kemampuannya atau karena aku yang membayangkan bahwa ayah mertuaku yang sedang menindihku.
~~~
Bersambung