Bab 2

***

Pintu digedor dengan amat keras. Malini yang tengah menidurkan Suma terkejut. Jantungnya berdebar sangat keras. Dengan gemetar ia keluar dari kamar biliknya dan berjalan dengan lutut yang gemetar.

"Malini!"

Wanita berkulit kuning langsat dengan rambut ikal legam menelan ludah. Tangannya juga ikut gemetar ketika membuka kunci pintu.

"Mana suamimu?"

"A-anu Bang. I-itu ...."

"Mana dia?" hardik pria dengan tinggi dua kali lipat darinya.

"Be-belum pulang, Bang Jampang," jawab Malini takut.

"Arggh. Bohong! Sudah dua kali aku ke sini. Kau selalu mengatakan bahwa suamimu belum pulang."

"Be-benar, Bang. Saya ndak bohong. Sungguh!"

"Apa kau tahu, jika dia kalah berjudi? Dan Berhutang puluhan juta. Bayar atau kalau tidak ...." sahut Jampang dengan tatapan mata yang seolah menelanjangi wanita bertubuh sintal itu.

"I-iya Bang. Pasti akan saya bayar. Tapi tolong beri waktu lagi. Saya sedang mengupayakan semuanya.

Jampang duduk berjongkok. Mengikuti Malini yang tengah duduk bersimpuh. Pria besar tinggi dengan kumis tebal itu tergoda melihat Malini yang cantik.

Kanaya, anak perempuan Malini, yang baru saja pulang sekolah melihat ibunya bersimpuh sambil menangis, tak tinggal diam. Ada amarah bergejolak dan rasa ingin melindungi.

Ia melempari tubuh besar Jampang dengan batu kerikil yang ada di luar rumah beberapa kali. Membuat pria itu meringis, menoleh dan menatap Kanaya bengis.

"Heiii kauuu ... Anak kecil!" Akan ku bu ...." ucapnya mencengkram kemeja sekolah Kanaya dengan geram.

"Tolooong .... Tolonggg!" Malini segera berteriak.

"Toloong Pak ... Toloong. Ada pencuri!" teriaknya pergi ke depan rumah.

Jampang menurunkan Kanaya yang sudah dicengkeramnya dengan sangat mudah. Beberapa orang sudah terlihat berkumpul di depan rumah dengan tatapan penuh tanda tanya.

"Aku beri kau waktu satu bulan Malini. Semua hutang suamimu sebanyak empat puluh juta beserta bunganya. Apa kau paham? Jika tidak membayarnya bulan depan. Hutang itu akan menjadi lima puluh juta."

Malini mengangguk lalu memeluk Kanaya. Sementara Suma menangis dan keluar dari kamar. Ketiganya berpelukan. Tak mempedulikan tatapan mata orang-orang kampung sepeninggal Jampang. Ada yang merasa kasihan. Ada juga bisik-bisik gunjing, seolah hidup mereka lebih baik dan lebih suci dari pada kehidupan Malini.

"Bu ... Kenapa? Apa orang itu mencari Bapak?"

Malini mengangguk. Mengusap rambut Kanaya dengan perasaan tak menentu. Terbersit bagaimana nanti kehidupan ia dan anak-anaknya nanti. Jika tanpa Prabawa. Suaminya.

"Makan dulu, Nak!" ajak Malini. Membantu Kanaya membawakan tasnya.

"Tak usah, Bu. Kanaya bisa. Ibu sudah lelah bekerja di rumah dan mengurus Suma. Maaf Kanaya belum bisa bantu ibu."

Kanaya membalikkan tubuhnya. Menahan sepasang manik matanya yang mulai menghangat.

Kehabisan kata, mereka memisahkan diri. Kanaya pergi ke kamar bilik. Menggantung pakaian sekolahnya dan menyiapkan buku untuk esok hari. Sementara Malini masuk ke dapur membentangkan tikar dan menyiapkan makan.

Bulir-bulir embun menetes di wajah bersih Kanaya. Ia mengambil sebuah bingkai poto kayu. Di dalamnya ada gambar dirinya, Prabawa, Malini dan Suma yang masih bayi. Betapa bahagianya saat itu. Namun, gadis kecil belasan tahun paham bahwa semua tak baik-baik saja. Sekarang.

Teringat beberapa hari lalu di depan sekolah ia memergoki bapaknya yang sedang bercumbu mesra dengan seorang wanita dengan bedak dan gincu tebal di dalam sebuah mobil jeep besar berwarna gelap.

Kanaya sakit hatinya. Ia memukuli dadanya berulang kali agar sesak itu bisa menghilang sekejap mata. Namun, tak bisa. Sekuat tenaga ia berusaha menata hati dan jiwanya. Berharap bahwa pria yang dilihatnya adalah pria lain. Bukan bapaknya.

"Kanaya ... Ayo makan!" teriak Malini dari ruang sebelah.

Kanaya terburu mengelap air mata dengan kaos lusuhnya. Menarik nafas. Mengembuskannya beberapa kali.

"Iya Bu, sebentar. Kanaya menyiapkan buku sekolah dulu."

Malini yang sedang meletakkan nasi dalam piring hadiah deterjen tahu betul bahwa anak perempuannya sedang menangis. Hatinya kembali nelangsa. Tapi ia tahu harus kuat setelah ini. Tak boleh berlarut-larut bersedih. Anak-anak masih membutuhkannya dan karena hidup masih akan terus berjalan.

"Ya ... hidup tak mau tahu kalau sedang bersedih. Tak mau tahu kalau sedang kesusahan. Ada baiknya mencari pekerjaan agar bisa mencicil hutang dan menghidupi anak-anak." Malini bermonolog dalam hatinya.

Wanita dengan alis tebal dan hidung bangir itu masih termenung bahkan ketika Kanaya sudah menyuap makanannya ke dalam mulut.

"Sudah baca doa belum, sayang?" tanya Kanaya kepada Suma yang juga ikut makan. Anak-anaknya adalah anak yang baik dan penurut. Malini sangat beruntung memiliki keduanya.

"Bu ... Kenapa melamun?"

"Eh, ndak apa-apa. Ayo-ayo makan yang banyak!"

"Iya, Bu. Masakan hari ini enak sekali," puji Kanaya. Malini tersenyum merasa hangatndi sudut hatinya.

"Ndak apa-apa ... jika pria jahat itu tak kembali. Yang terpenting bagiku saat ini adalah Kanaya bisa melanjutkan sekolahnya ...."

"Ibu melamun lagi?" tanya Kanaya seraya menuang air putih dari kendi ke dalam cangkir plastik yang sudah penuh dengan guratan.

"Ibu ndak melamun. Hanya memikirkan mau dibuatkan masakan apa, kamu besok?"

"Ayam, Bu ... Ayam!" teriak Suma senang. Matanya yang kecil berbinar.

Malini tersenyum senang. Jarang sekali Suma menginginkan makanan dan menyebutkannya dengan lugas.

"Ayam? Bukankah Suma ndak suka ayam?"

"Tapi pengen makan ayam, Bu."

"Baiklah. Nanti ibu belikan."

"Tapi kalau belum ada uang jangan dipaksakan ya, Bu! Kanaya sama Suma cukup makan tempe dan tahu saja. Atau sesekali sama endog. Sayur bening juga enak ya, Suma?" tanya Kanaya seraya mengusap rambut Suma dengan begitu lembut.

"Sayur bening ...." lirih bibir Malini berucap.

"Ya ... sayur bening, Bu. Ada banyak di kebun samping. Kita tinggal memetik saja. Masa ibu lupa."

Malini seolah mendapatkan sebuah jalan pencerahan. Ia lupa kalau kebun kecilnya menghasilkan berbagai macam sayuran hijau. Yang mungkin jika dijual bisa mendapatkan beberapa lembar uang.

"Benar ada banyak, Kanaya?"

"Banyak Bu. Bahkan jika ibu menjualnya. Masih akan ada banyak sisa untuk kita. Di sekolah tadi juga Pak Guru mengajarkan bagaimana caranya menanam sayuran merambat. Nah, nanti Kanaya akan coba."

Malini menyegerakan makannya. Seolah mendapatkan semangat baru. Kanaya mencuci piring di depan sumur katrol. Suma sedang bermain dengan mobilan truk kayunya. Sementara Malini sibuk di kebun samping melihat bayam, kangkung, daun katuk yang tubuh subur.

Wanita itu menimba air seraya tersenyum-senyum kecil. "Kalau ibu nanti malam berjualan di pasar bagaimana? Kanaya sama Suma berani ndak berdua saja di rumah?"

"Berani, Bu. Kan ada Allah. Memangnya ibu mau ke mana?"

"Mau ke pasar. Sepertinya sayur-sayuran di kebun samping bisa dijual."

"Tapi ... apa sebaiknya ibu izin dulu sama Wak Moko."

Malini menghela nafas. Niatannya untuk berjualan turun drastis seketika. Teringat wajah Moko, kakak suaminya yang terkenal pelit dan kikir. Pun demikian dengan Walimah. Isterinya.

"Dicoba aja, Bu. Bilang sama Wak Moko. Biar jualannya juga ndak was-was. Ya, memang bapak yang menanamnya. Tapi ini kan rumahnya Mbah Putri. Kanaya ndak mau kalau ibu malah dimarahin Mbah Putri dan Wak Moko."

Malini membenarkan pendapat Kanaya. Gadis belasan tahun itu terlihat bijak dan dewasa. Ia juga sangat terbuka mengemukakan pendapatnya.

"Iya, Nak. Nanti ibu bicara sama Wak Moko," jawab Malini bimbang.

Masuk ke dalam rumah setelah dapur dan piring kembali bersih. Malini mengajak Suma untuk main di atas tikar sementara Kanaya terlihat mengerjakan tugas sekolahnya.

Mengambil selendang lusuhnya yang tak pernah diganti dengan yang baru. Malini mengenakan kebaya batik sederhana untuk menuju sebuah rumah yang bisa di bilang cukup besar bila dibanding dengan rumah yang dihuni. Jaraknya hanya sepuluh meter saja dari gubuk kecilnya.

Dari kejauhan terdengar suara Walimah yang sedang bersenda gurau dengan beberapa perempuan lain. Mereka sedang membicarakan akan mengadakan acara apa lagi malam minggu ini. Layar tancap lagi atau wayang.

Ya ... Walimah gemar sekali menghamburkan uang. Ingin dianggap kaya dan berada oleh orang lain. Tapi tak mau membantu saudari ipar dan kemenakannya.

"Eh, kau Malini. Tumben sekali ...." sapa Walimah sambik membenahi kerudung hijaunya. Membuat gemerincing di tangannya terdengar indah.

"Iya, Mbak. Mau bertemu Mas Moko. Apa ada?"

"Sedang keluar. Melihat tanah. Ada apa?" selidik Walimah. Memicingkan matanya.

"Saya maau minta izin, Mbak."

"Minta izin untuk kawin lagi?" seloroh Walimah yang di sambut gelak tawa oleh teman-temannya. Membuat Malini malu dan menundukkan wajahnya. Tangannya mengepal keras tapi wajah Kanaya dan Suma terbayang di benaknya.

"Minta izin buat mengambil sayuran di kebun samping, Mbak!" potong Malini.

"Sayuran di kebun samping?"

"Iya, Mbak."

"Aku pikir apa? Ambilah! Aku mengizinkan dan akan kusampaikan kepada Mas Muko. Pergilah. Menganggu saja!"

"Baik, Mbak. Terima kasih banyak, ya."

"Hummm ...." sahut Walimah malas. Memberi kode dengan tangan agar Malini menjauh.

Lalu terdengar lagi suara tawa nyaring perempuan-perempuan berselendang mahal itu. Melanjutkan pembicaraan mereka mengenai acara malam minggu nanti dan juga beberapa tamu yang akan diundang mereka.

Termasuk nama Chandrakanta yang ikut disebut-sebut. Namun, Malini tak ingin tahu.

***

Bab 3

***

Pria tua itu terpaku menatap wajah seorang wanita mengenakan kerudung gelap dan penutup wajah. Hanya alis legam tebal dan bulu mata panjang lentiknya saja yang terlihat di keremangan malam.

Di punggungnya tergantung keranjang anyam bambu besar berisi beraneka macam sayuran hijau yang segar yang sudah diikat sedemikian rupa. Begitu rapi dan tertata.

"Saya boleh jualan di sini, Pak?" tanyanya membesarkan suara. Agar tak kalah dengan para pedagang lain yang juga sedang menggelar dagangannya.

"Sebenarnya lapak ini ada pemiliknya. Cuma beberapa hari ini sedang sakit. Sementara kamu boleh pakai. Tapi kalau pemiliknya sudah kembali. Ya kamu harus pergi dan mencari lapak yang lain."

"Inggih Pak. Saya paham ...." jawabnya senang. Mengucap hamdalah dalam hati lalu mulai meletakkan kain jarik sebagai alas jualannya.

Baru beberapa detik berlalu. Pria lain dengan kulit yang agak gelap tengah berbisik kepada pria tua berpeci. Lalu pria tua itu menganggukkan kepalanya.

"Maaf. Maaf, Nak! Pemilik lapaknya akan berjualan hari ini. Jadi kamu jangan di lapak ini, ya. Cari lapak yang lain saja!"

Malini urung mengeluarkan semua sayurannya. Darahnya berdesir. Tengkuknya terasa dingin karena angin. Mungkin belum terbiasa keluar tengah malam untuk berjualan di pasar.

"Inggih, Pak. Ndak apa-apa. Terima kasih. Semoga dagangan bapak habis terjual malam ini."

Pria tua mengaminkan dalam hati. Selepas Malini pergi ia segera menuju sebuah pos kecil di tengah pasar. Sebuah kelambu di pasang di sana. Dari dalam seorang pria tampan berkharisma tersenyum puas melihat apa yang dikerjakannya lalu menyodorkan beberapa lembar uang.

"Terima kasih, juragan!" pria tua itu menunduk hormat. Walau hatinya merasa tak tega kepada Malini. Siapa yang bisa melawan juragan Chandrakanta?

Sementara sepasang mata elang pria yang dipanggil juragan nampak mengekor semua pergerakan wanita yang menjadi incarannya.

"Hmm ... Malini ... Malini. Wanita bodoh! Apa untungnya berjualan tengah malam begini? Lapak saja kamu tak punya. Kapan mau melunasi hutang suamimu? Dasar keras kepala!"

Beberapa pria membawakan makanan hangat dan juga kopi dalam pos itu. Yang mengenakan topi kupluk memijat bahu Chandrakanta dengan senyum manis yang selalu disunggingkan.

"Tumben, juragan main ke sini."

"Aku lagi bosan di rumah. Kenapa? Apa tidak boleh?"

"Tentu boleh juragan. Ini pasar milik juragan. Saya bisa apa? Ya ... saya hanya kaget saja. Tak biasanya juragan rela bangun dini hari hanya untuk datang ke sini."

"Kau lihat wanita itu?" tunjuknya ke arah wanita berkebaya cokelat dengan selendang gelap. Di belakangnya tergantung keranjang anyaman bambu besar berisi puluhan ikat sayuran hijau yang belum laku satu pun.

"Malini, juragan? Isterinya Prabawa?"

"Ya benar. Malini! Aku minta kalian jangan pinjamkan lapak barang seharipun. Paham?"

"Paham juragan!"

Malini menawarkan barang dagangannya kepada satu pembeli dan pembeli lainnya. Ia juga menawarkan diri untuk membawakan barang belanjaan mereka. Namun, sama saja. Semua menolak.

Malini menepi sebentar. Berpikir dengan keras dan hampir menyerah. Tapi bayangan wajah Kanaya dan Suma menari-nari di pelupuk mata.

"Ah ... Mungkin karena aku orang baru di sini jadi belum memiliki pelanggan. Coba aku kembali ke pasar bagian depan. Siapa tahu di depan sana ada beberapa orang yang mau membeli beberapa ikat sayuran segar ini," ucapnya pelan.

Namun, Malini menelan kekecewaan. Hingga subuh tiba, tak satu orang pun yang mau membeli belanjaannya. Jasa angkut barang belanjaan pun ditolak mentah-mentah. Menahan tangis ia menuju masjid besar di seberang pasar.

Pasrah ia menggeletakkan keranjang anyaman bambunya. Lalu bergegas menuju tempat wudu. Di koridor panjang yang dihiasi dengan keramik kehijauan, Malini berpapasan dengan Chandrakanta.

Wanita itu membalikkan badan dan mengucap istighfar. Sementara Chandrakanta menatapnya dengan tatapan mata yang tak bisa dijelaskan.

Di atas sajadah berwarna terang Malini menangis. Menumpahkan segala keluh kesah. Terisak ia mengusap bulir-bulir embun yang luruh satu persatu.

"Mau makan ayam, Bu. Makan ayam ...." teringat bagaimana Suma dengan wajah polosnya menginginkan sesuatu. Untuk yang pertama kali.

Melipat sajadah dengan tangan yang gemetar. Malini ingat belum makan apapun sejak habis isya. Perutnya terasa perih. Keringat jagung keluar dari pelipis hingga memenuhi hampir seluruh tubuhnya.

Malini bahkan terhuyung-huyung ketika memaksakan punggungnya untuk kembali memanggul keranjang anyaman bambu itu. Chandrakanta menatapnya dari kejauhan.

"Dasar, wanita yang keras kepala," gumamnya pelan lalu meninggalkan tempat itu.

Baru beberapa meter berjalan ia terjatuh. Wajah mulusnya terantuk di jalanan berpasir. Seorang wanita dengan kebaya bunga berwarna cerah menghampiri.

"Ya Allah ... Malini ... Malini. Bangun Malini! Mbok ... Mbok panggilkan Hartoyo. Lekas!"

"Inggih Ndoro ...."

Mbok Giyem tergopoh. Setengah berlari menuju sebuah mobil sedan putih. Di dalamnya ada seorang pria paruh baya yang tengah merokok.

"Yo ... Yo. Dipanggil Ndoro putri. Ayo buruan!"

"Ono opo toh, Mbok?"

"Ada yang pingsan. Bantuin ...."

Belum sempat Hartoyo tiba di tempat itu. Dari kejauhan ia melihat beberapa orang sudah membantu mengangkat Malini menuju mobil sedan putih milik majikannya itu.

"Ayo kita antar pulang Malini, Yo."

"Inggih Ndoro ...."

Di dalam mobil Yuvati memeluk tubuh Malini yang dingin. Sesekali di usapnya keringat yang masih menempel di kening.

"Kamu tahu kan rumah Malini, Yo?"

"Tahu, Ndoro. Rumahnya Moko dan Walimah bukan?"

"Iya betul!" Mbok Giyem menyahut.

"Kenapa dia bisa jatuh pingsan ya? Kalian taruh di mana keranjang tadi?"

"Di belakang, Ndoro. Sepertinya Malini sedang berjualan. Mbok lihat tadi banyak sekali sayuran hijau di dalam keranjang anyam bambunya," terang wanita yang semua rambutnya hampir memutih itu.

"Berjualan?"

"Inggih Ndoro ...."

Malini sedikit meracau ketika mobil tiba di depan rumahnya. Saat itu hari sudah cukup terang sehingga beberapa orang yang berkegiatan di pagi itu bisa melihat Malini turun dari mobil.

Walimah bergegas turun dari rumah besarnya. Membuka pagar karena untuk menuju rumah Malini harus membuka pagar berwarna gelap setinggi tiga meter.

"Nyonya Yuvati!" teriak Walimah senang.

Yuvati tersenyum. Menundukkan sedikit kepalanya lalu berlalu tak mempedulikan gemerincing di leher dan pergelangan tangan Walimah. Walimah memajukan bibirnya lalu mengekor di belakang Mbok Giyem.

"Malini kenapa, Mbok?"

"Pingsan di pasar."

"Pingsan?"

"Iya," jawab Mbok Giyem singkat. Seolah tak ingin berlama-lama membicarakan tentang Malini.

Walimah urung mengikuti. Ia berbelok kembali ke rumah. Dengan rasa kesal. "Sombong sekali isteri juragan itu. Bahkan menoleh saja padaku ia tak ingin. Seberapa kayanya sih, si Chandrakanta itu?" rutuk Walimah lalu masuk ke dalam rumah sambil membanting pintu.

Yuvati mengetuk pintu. Kanaya yang sedang mencuci beras di sumur timba mendengar suara ketukan. Wajahnya nampak berseri. Tak menyangka jika ibunya akan pulang lebih cepat dari pasar.

"Sebentar, Bu!" teriaknya.

Terkejut. Kanaya terkejut ketika ibunya dengan wajah pucat dibantu oleh beberapa orang masuk ke dalam rumah.

"Ibu kenapa?"tanyanya cemas.

"Ibumu sepertinya masuk angin. Jangan cemas! Kamu Kanaya, ya?"

"Iya, Bu," jawab Kanaya.

"Boleh buatkan ibumu teh hangat?"

"Iya, Bu. Baik!"

Mereka membaringkan Malini di atas tikar. Anak laki-laki Malini terbangun ketika mendengar suara beberapa orang. Suma yang sudah lancar bicara. Duduk di dekat Malini seraya menepuk pipi wanita itu pelan.

"Ibu ... Ibu kenapa? Ibu sakit? Suma ndak apa-apa ndak makan ayam. Tapi Ibu ndak boleh sakit, ya ...."

Yuvati tersenyum. Mengambil Suma dalam pelukannya. Lalu mencium pipi anak kecil yang baru bangun itu.

"Namamu siapa, Nak?"

Suma menunduk. Lalu tersenyum malu. Giginya yang omong berwarna sedikit kehitaman terlihat lucu. "Suma ... Suma Perkasa ...." jawabnya bangga seraya memukulkan tangannya di atas dada.

Semuanya tersenyum. Juga Malini yang sudah sadar.

"Ini Bu, minum dulu!" Kanaya membantu ibunya untuk duduk.

Malini bangun perlahan. Bibirnya gemetar ketika mulai menyentuh pinggiran gelas. Perutnya mungkin sudah merasa nyaman.

"Ibu Yuvati, Mbok Giyem, Pak Hartoyo ... Maafkan saya jika merepotkan."

"Ndak merepotkan Malini. Kamu tadi kenapa?"

"Saya ... Saya tadi ...."

"Ibu kemarin ndak makan seharian. Mungkin itu yang membuat ibu masuk angin," terang Kanaya memijat kaki ibunya.

"Kamu berjualan?" tanya Yuvati lagi. Malini mengangguk pelan.

Yuvati mengeluarkan dompet kain kecil dengan bordir burung emas. Mengeluarkan beberapa lembar uang dan hendak menyerahkannya kepada Malini.

"Kebetulan saya dan Mbok Giyem mau membuat besekan. Isinya urap sayur. Saya perlu sekali sayuran hijau. Untung bertemu kamu. Sayurannya sudah saya letakkan di mobil. Terima kasih banyak, ya, Malini ...." terang Yuvati membesarkan hati Malini dan kedua anak-anaknya.

Mbok Giyem menyeka ujung matanya ketika melihat Kanaya dan Suma menangis. Tapi kebahagiaan itu terhenti seketika.

Seorang pria yang tengah mabuk mendobrak pintu. Merampas lembaran uang itu dengan paksa lalu tertawa senang ketika mendapatkan uang ditangan.

"Bapak ... Jangan!" teriak Kanaya. Hati anak perempuan itu kembali nelangsa.

***

Dukung terus ya, Bebh.

Haturnuhun ....

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED