Bab 2

“Kita keluar bareng sayang… ” ucap seto tak kalah lantangnya “AARRRRGGGGHHHHH….”

Kelojotan. Tubuh mereka berdua seolah terkena arus listrik ribuan volt. Saking puasnya, mata nissa kembali terbalik-balik dengan mulutnya menganga. Orgasme yang ia rasakan kali ini lebih hebat dari sebelum-sebelumnya. Kali ini tubuh Anissa bergetar lebih hebat, sampai-sampai vaginanya menyemburkan lendir kewanitaannya.

Terengah-tengah sambil mengatur nafas, tubuh Seto ambruk menimpa Anissa. Mereka terdiam sembari menikmati pijatan kelamin masing-masing. Menikmati orgasme pagi.

Setelah itu, hening.

***

Tak jauh dari tempat Anissa dan Seto melampiaskan nafsu birahi mereka, terdapat pula sepasang suami istri yang sepertinya tak mau kalah.

“Memek kamu legit banget Dek…” Ujar Marwan Sudiro (32) merem melek, “Bikin aku cepet keluar…”

“Tahan maaasss…. Adek masih pengen disodok lebih lama lagi…” Jawab Citra Agustina (26) sambil terus menjilati puting payudaranya.

“Aku udah ga kuat lagi Dek… Mas mau keluar…”

“Tahan Mmasss… Sodok memek Adek Mas… Teruusss…” Rintih Citra, “Kamu harus bisa mengalahkan kehebatan Seto…”

“Husshh…” Sewot Marwan

“Hihihi… Maap…” Balas Citra sambil menutup mulutnya, seolah itu adalah sebuah keceplosan biasa.

“Kalo bahas-bahas dia, Aku nggak mau nerusin ah….” Ucap Marwan sambil mencabut penisnya dari vagina Citra..

“Iya… Iya… Maa’aaafff… Yuk terusin Mas…”

Memang, sejak kepindahan Anissa dan Seto beberapa tahun lalu, membuat kehidupan seksual sepasang suami istri ini berubah drastis. Citra dan Marwan menjadi sangat menyukai seks. Entah karena mereka terangsang karena teriakan-teriakan Anissa dan Seto yang selalu terdengar jelas setiap kali mereka bersetubuh, atau memang karena nafsu mereka yang sangat besar. Namun, satu hal yang tak disukai Marwan kepada Istrinya adalah ketika ia membanding-bandingkan dirinya dengan suami Anissa.

“Aku nungging ya Mas…” Ujar Citra sambil merubah posisinya, “Kamu sodok memek aku dari belakang…”

“Janji yaa nggak bahas dia lagi ketika kita beginian…”

“Hhihihi… Iya masku sayaaaang… Ayo ah… Buruan…. Sodok memek Adek lagi Mas…” ucap Citra sambil mulai meliuk-liukan pinggulnya, mencoba menarik perhatian suaminya. “Ayo Mas.. Tancepin…” Katanya lagi sembari menjilati puting payudaranya yang menggantung indah.

Melihat godaan istrinya, Marwan pun luluh. Terlebih melihat pantat putih dan payudara super besar istrinya yang bergelantungan. Buru-buru ia segera memposisikan penisnya di mulut liang senggama istrinya

BLESSSS…

Penis kecil Marwan masuk dengan mudah.

“OOhhhhh… Massss… Iya begitu…. Sodok terus Masss..”

Namun karena di sesi sebelumnya Marwan sudah akan orgasme, tetap saja, kali ini pun sepertinya Marwan tak sanggup lagi menahan orgasmenya lebih lama. Karena tak beberapa lama kemudian, tubuhnya mulai bergetar dan meremas pantat Citra kuat-kuat.

“Aku nggak kuat lagi dek…” Bisiknya pelan ” Aku mau keluar… ” Ucap Marwan

“Looh Mmasss.. Jangan dulu… Adek belum ngerasain enaknyaaa…”

“Suudaaah Deeek… Aku udah nggak kuat… AKU KELUUAAARRR….” Teriak Marwan sambil ambruk kedepan menimpa tubuh Citra.

CROOT…CROOT…CROOT…

Enam semburan sperma hangat langsung menerobos liang vagina Citra. “Yaaahhh… Masss… Kok keluar duluuaaannn…” Ucap Citra kecewa, “Belum juga berasa Mas….Aku khan juga pengen ngerasain enak…”

Tak beberapa lama penis Marwan pun mengecil dan terlepas dari vagina Anissa.

PLOP

Bersamaan itu pula, Marwan langsung menjatuhkan diri diri disamping tubuh istrinya, mencoba mengatur nafas sambil tidur terlentang. Dan seperti biasa, entah kenapa setiap selesai melakukan persetubuhan, Marwan selalu merasa sangat mengantuk. Perlahan, kelopak matanya mulai berat.

Dilihatnya jam dinding masih menunjukkan pukul 5 pagi. “Capek sekali ya Dek… Sepertinya waktu masih cukup untuk istrirahat… Mas tidur sebentar ya Dek…” Bisik Marwan sambil mengecup pipi Anissa. “Ntar sebelum kamu berangkat kerja, bangunin Mas ya…”

“Yaaah… Mas… Kok malah tidur sih? Ayo lagi Mas…” pinta Citra “Aku khan masih belum dapet enak…”

“Istriku sayaaaang…. Mas udah capek…. Ntar sore aja lagi ya disambung lagi…”

“Tapi adek masih pengen Mas….”

DUK DUK DUK

Tiba-tiba, terdengar suara dari sebelah rumah.

“Mas Seto sudah mulai lagi tuh…” Bisik citra “Yuk Mas… sodok memek adek lagi…”

“Bener deeeekk….. Aku sudah nggak kuat lagi…”

“Ah Mas ahh… Baru begitu aja udah lemes…” rengek Citra “Denger tuh… Tetangga sebelah saja sudah mulai lagi… ”

DUK DUK DUK

“Paaahhh… Ooooohhh….” Desahan suara Anissa kembali terdengar sampai balik tembok tetangga. “Ngenttttooooott kamu Pah… Ngeeentooottt… Enak bener sayang…. Sodok tempikku Paaahhh… Sodok tempikku dengan kontol kerasmu…’

“Mas Marwaaaann… Ayo mas…” Merasa tak ada respon, Citra segera menjamah batang kejantanan suaminya. Perlahan, jemari lentiknya mulai mengocok penis suaminya yang sudah telah tergolek lunak supaya dapat bangun kembali.

“Aku kocokin ya mas… Adek masih pengen ditusuk ama titit mas yang perkasa ini…” Puji Citra sembari berharap penis suaminya segera bangun dan berdiri keras.

Namun apa daya, sudah hampir 5 menit Citra mengocok penis suaminya, tetap saja penis itu tak juga bereaksi.

“Ayo Mas… Ayo bangunin tititnya… Sodok memek Adek lagi yaaa…” pinta Citra melas, sembari terus mengocok-kocok batang penis suaminya. “Nih Masss…. Biar tititmu cepet berdiri lagi… Isep tetek Adek mas…” Tambah Citra sambil menyodorkan payudaranya yang ekstra besar, berharap supaya suaminya dapat kembali ereksi.

Walau Citra sudah berusaha semaksimal mungkin, tetap saja penis Marwan ogah-ogahan.

“Udah ya dek.. Aku capek… Aku mau tidur dulu…”

“Aaah… Kamu selalu begitu Mas… Selalu aja menolak kalo Adek pengen lagi… Mas nggak pernah mikirin aku…” Gerutu wanita cantik itu, lalu ia berjalan kearah tepi tempat tidur ” Selalu bikin Adek tanggung…”

DUK… DUK… DUK… DUK… DUK… DUK…

Suara tembok sebelah, yang seolah menertawakan persetubuhan Citra dan Marwan.

Sepertinya, pagi ini Citra harus melakukan kebiasaannya setiap kali ditinggal tidur Marwan. Masturbasi.

Buru-buru ia beranjak dari samping Marwan dan duduk di kursi rias yang ada di dekat tembok pemisah kamar rumahnya dan rumah Anissa. Tangan kirinya menjilat dan memilin putting payudara, dan tangan kanannya mulai menggelitik klitorisnya.

DUK DUK DUK

“Teruuss Paaah… Teruuss… Lebih cepet lagi nyodoknya sayang… Lebih cepet lagi…” Pinta Anissa.

“Tempik istriku memang JUARAAA…” Teriak Seto kesetanan.

“OOhhh… Pah… Enaknya sodokanmu terasa sampai rahimku sayaaang…”

DUK… DUK… DUK… DUK… PLEK… PLEK… PLEK… PLEK… PLEK…

Semakin kencang suara hantaman sandaran tempat tidur ditambah suara tumbukan kelamin mereka semakin keras membahana, semakin membuat Citra iri.

“Nikmat banget maaahh… tempikmu hangat sekali… ” Teriak Anissa

“Ohhh terus sayang…Aku mau keluar lagi…” Jawab Seto

“Kita keluar bareng lagi ya maaaahhh….

“PppPPaaahhhhh… Aku keluar lagggiiiii….”

“Enak banget ya mas jadi Anissa…. Punya Seto ” ucap Citra lirih sambil terus menjilati dan memilin puting payudaranya, “Pasti memeknya selalu terpuaskan… Pasti ia bisa orgasme berulang kali…”

“Yaaahh…Mulai deh….” Sewot Marwan ketika Citra mulai kembali membanding-bandingkan dirinya dengan suami Anissa.

“Biarin… Kalo kamu ogah-ogahan kaya gini terus, bisa-bisa aku minta disodok titit besar Seto yang perkasa…”

“CITRA AGUSTINA…!”

“Kenapa mas…? Harusnya kamu sadar mas… Harusnya kamu malu…. Aku ga minta macem-macem kok Mas… Aku cuman pengen dimanjakan mas… Aku cuman pengen dipuaskan…” Kata Citra emosi,”Aku capek kalo kamu seperti itu terus Mas… Bentar-bentar keluar… Dikit-dikit muncrat…”

“……..” Marwan hanya diam, tak sanggup berkata apa-apa. Citra memang tak salah, dirinyalah yang seharusnya disalahkan. Memang sudah cukup lama Marwan menderita ejakulasi dini, namun ia tak pernah mengakuinya.

“Aku iri mas ama Anissa dan Seto, setiap pagi mereka bisa bersenang-senang. Mesra. Ngentot sana ngentot sini… Aku iri sama kehebatan kontol Seto”

“DEK… ” bentak Marwan.

“Kenapa mas? Kamu nggak suka kalo aku berkata seperti ini? NGENTOT…KONTOL…”

“CUKUP DEK… CUKUP… ”

PLAK…

Tiba-tiba Marwan bangkit dari tempat tidurnya dan menampar Pipi Mulus Citra.

“KALO KAMU MEMANG MAUNYA SEPERTI ITU… SILAKAN… LAKUIN AJA YANG KAMU INGINKAN… SILAKAN SAJA KAMU CARI KONTOL-KONTOL YANG JAUH LEBIH BESAR… SILAKAN SAJA KAMU MINTA DIENTOT AMA KONTOL-KONTOL PRIA LAIN YANG LEBIH KUAT.. DASAR PELACUR TAK TAHU DIUNTUNG..” Raung Marwan Murka.

“Oke Mas… OKE… AKU BAKAL LAKUIN SEMUA ITU…” Jawab Citra dengan nada terisak sambil berjalan keluar dan membanting pintu kamar mandi

BRAK…

“Semua pasti akan baik-baik saja…” Ucap Marwan dalam hati, “Pasti dia akan baik-baik saja”

Sambil menghela nafas panjang, Marwan duduk termenung di tepi tempat tidur. Mencoba mengingat apa yang barus saja ia ucapkan kepada istri tercintanya.

” SILAKAN SAJA KAMU CARI KONTOL-KONTOL YANG JAUH LEBIH BESAR… SILAKAN SAJA KAMU MINTA DIENTOT AMA KONTOL-KONTOL PRIA LAIN YANG LEBIH KUAT…”

Seketika, rasa sesal muncul dihati. Konflik batin tiba-tiba muncul di hati Marwan.

“Bagaimana seandainya jika istrinya akan melakukan semua itu? Bagaimana jika seandainya ia benar-benar mencari lelaki lain? Bagaimana jika seandainya ia minta ditidurin pria lain?”

“Ahhh…. Dia nggak bakalan berani……”

“Tapi… Kalo misalnya….”

“Ah… Nggak mungkin…”

Memang, bagi orang plin-plan seperti Marwan, membayangkan semua pemikiran itu, membuat dirinya bingung. Namun satu hal yang membuatnya tambah bingung adalah ketika melihat organ kelelakian yang tumbuh diantara selangkangannya.

Seiring pemikiran tentang kemungkinan Citra yang akan mencari lelaki lain untuk ia ajak menikmati keindahan tubuhnya, penis kecilnya mendadak bangun dan berdiri keras.

Bersambung…

Bab 3

Para tokoh :

1. Citra Agustina (26), Seorang wanita cantik bertubuh kurus namun memiliki payudara ekstra besar berukuran 36 F

2. Marwan Sudiro (32), Suami Citra yang egois, gengsi namun penyayang

3. Anissa Rumina (22), Ibu rumah tangga biasa yang berkepribadian ganda.

4. Seto Maryadi (24), Suami playboy Anissa yang suka main perempuan dibelakang istrinya.

5. Utet (52), Lelaki tua mesum yang sangat jath cinta kepada Citra.

***

Hembusan semilir angin pagi meniup dedaunan yang lepas dari ranting, membawanya terbang terombang ambing ke segala penjuru arah. Sinar mentari berkilauan begitu indahnya, membawa kehangatan menembus awan. Menembus jauh ke bumi, hingga menyentuh kulit putih wanita jelita nan menawan bernama Citra Agustina.

Wajahnya yang cantik terlihat begitu muram. Sedari pagi, istri Marwan itu melamun sendirian di bangku teras rumah kontrakannya. Menatap kosong ke arah dedaunan yang beterbangan tertiup angin. Mata indahnya terlihat sedikit merona merah, sembab karena menangis.

“SILAKAN SAJA KAMU CARI KONTOL-KONTOL YANG JAUH LEBIH BESAR… SILAKAN SAJA KAMU MINTA DIENTOT AMA KONTOL-KONTOL PRIA LAIN YANG LEBIH KUAT…”

Kembali ia teringat ucapan suaminya beberapa saat lalu. Ucapan yang benar-benar menyakiti hatinya. Sepanjang pagi, berbagai macam pikiran mulai bersliweran di benak wanita cantik itu.

“Tak usahlah kamu masukkan hati perkataan Mas Marwan tadi Citra..” Ucapnya dalam hati, “Kamu sendiri sih yang memulai… Khan tahu sendiri, suamimu itu tak suka jika dibanding-bandingkan dengan orang lain… Mungkin dia berkata seperti itu hanya karena kesal akan segala permintaan anehmu…” Tambahnya mencoba menenangkan diri.

Disatu sisi Citra merasa bersalah kepada suaminya, namun disisi lain, ia merasa capek dengan segala kepribadian Marwan yang sering berubah-ubah.

“Sudahlah Citra, buat apa sih mempertahankan lelaki emosian seperti dia… Cari saja lelaki lain yang jauh lebih baik darinya… Lebih mapan… Dan yang paling penting, lebih perkasa… Hihihi…” Pikir Citra sambil membatin, “Ingat… Mas Marwan sudah memberi ijin…”

” TIIITT… TIIITT… TIIITT… TIIITT…”

“Mbak Citra yang cantik, gimana mbak? Kapan bisa bayar tunggakan rumah? Mbak telat bayar hampir 1 bulan loh…”

Seketika lamunan Citra buyar, isi pesan barusan semakin merusak suasana pagi harinya. Buru-buru Citra masuk kedalam rumah dan membangunkan suaminya yang masih tidur nyenyak.

“Mas… Bangun mas… Sepertinya kamu harus mencari pekerjaan baru. Semua perhiasanku sudah aku jual semua demi menutup kebutuhan hidup kita sehari-hari….” Omel Citra.

“Hooooaahhmmmm… Kenapa Dek?….” Tanya Marwan mencoba mencari tahu sebab istri cantiknya ngomel-ngomel di pagi hari.

“Pak Darjo minta duit kontrakan..”

“Sabar ya Dek… Mas masih belum ada duit… Kamu coba ulur lagi deh sampai minggu depan…”

“Ulur… Ulur… Ulur… Selalu saja pakai alesan itu…”

“Sini sayang… Duduk dulu disini….” Ajak Marwan supaya Citra mendekat. “Kamu Tenang saja ya… Nanti siang mas ada janji ketemuan sama pemilik tanah… Semoga bisa dijadikan obyekan…” jawab Marwan sambil mengusap rambut panjang Citra, “Nah kalau proyeknya GOAL, mas bakal lunasin semuanya…. Dan mas bakal beliin kamu semua barang yang kamu minta…” tambahnya lagi mencoba menenangkan emosi istrinya

“Yah… Semoga saja Mas… Aku udah malu mas kalo ditagih teman-temen… Masih belum sanggup buat melunasi hutang…”

“Hehehehe… Tenang saja sayang… Sekarang kamu bikinin mas kopi dulu ya… Mas mau siap-siap…”

“Bikin aja sendiri… ”

“Looohh….? Emang kamu mau kemana dek…?”

“Kamu nggak liat apa… Aku sudah telat ke kantor…”

“Ciieeeee… Masih ngambek nih ceritanya… Hahahaha…”

“Bodo….”

***

Sudah lebih dari 30 menit, Citra duduk di halte, menunggu bis langganannya yang tak kunjung datang. Semenjak motor kesayangannya dijual Marwan untuk menutupi kebutuhan rumah tangganya, hampir tiap pagi Citra harus berangkat dari rumah jam setengah 6 pagi supaya bisa tiba dikantor jam 8. Namun entah kenapa hari ini hampir semua kendaraan umum tak terlihat. Sekalipun terlihat, pasti sudah penuh terisi orang.

“Mungkin karena BBM naik kali ya mbak… ” Ujar seorang lelaki tua yang sedari tadi mencoba mengajak Citra bercakap-cakap, “Jadi bisnya pada ngambek… Hehehe…” Tambahnya lagi. Dengan mata melotot kearah payudara Citra, lelaki tua membetulkan posisi selangkangannya.

“Iya kali pak…” Jawab Citra tak peduli dengan apa yang lelaki tua itu sedang lakukan, “Dasar kakek-kakek cabul…”. Dengan cuek Citra terus menyantap sarapan paginya, sepotong lemper ayam yang baru saja ia beli di warung samping halte.

“Mbak orang kantoran ya? Pantes bajunya seksi sekali…” Tanya lelaki tua itu pantang menyerah. Melihat Citra yang sama sekali tak menggubrisnya, mata lelaki tua itu kembali jelalatan, memandang tubuh Citra dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Pahamu bener-bener mulus mbak… ” Bisik lelaki tua itu pelan sembari menggeser posisi duduknya kearah Citra. “Tetekmu juga besar sekali… Gimana kalau pagi ini kita jalan-jalan dulu? Yah sedikit bersenang-senang gitu…” Ucap lelaki tua itu sambil mencoba mengelus-elus paha putih Citra. “Aku bisa membayarmu kok… Kamu tinggal pilih aja cantik, mau dibayar pake uang atau pake kontolku ini…” Kata lelaki tua itu. Dengan santai lelaki tua itu mengambil tangan Citra yang bebas lalu mengarahkannya ke batang penisnya yang sudah menegang dari balik celananya.

Melihat ulah lelaki tua yang kurang ajar itu kemarahan Citra meledak-ledak.

“Heeeeh… BANGSAT… Pak Tua… Anda jangan kurang ajar ya… ” Bentak Citra keras sembari menarik tangannya dari genggaman lelaki tua itu. Saking kerasnya, orang-orang yang berada disekitaran halte seketika menengok kearahnya, “Saya bukan wanita murahan… Dan saya nggak tertarik dengan uang kotor atau titit busukmu itu…. PERGI…!”

Merasa mangsanya ternyata melawan dan merasa malu, lelaki tua itupun tak mau mengalah. Otak kotornya, segera memutar situasi. “Dasar LONTE… Wanita tak tahu diri… Semalam lo ngemis-ngemis minta dientot, minta kepuasan, minta uang… Eeehh… Begitu udah dikasih, sekarang malah belagak lupa. INGET… Semalam, lo ngentotin KONTOL ini, KONTOL ini yang muasin nafsu birahi lo… ” Balas lelaki tua itu berusaha menjatuhkan harga diri Citra. “Kalo lo mau minta uang lagi, jangan minta ama gw… Minta aja ama mucikari lo…” Kata lelaki tua itu sambil melangkah pergi.

“HEEEEII… BANGSAT… ” Teriak Citra makin marah, “SINI… KITA BELUM KELAR…”

“Gausah sok pura-pura deh mbak… Kalo jadi lonte ya lonte aja… Gausah jadi pembohong juga…” Teriak lelaki tua itu menutup pembicaraan dari kejauhan.

“Mimpi apa aku semalem… Sampe dikira pelacur gini… Ini pasti gara-gara baju sialan ini, orang jadi mengira aku wanita murahan.” Gerutu Citra sambil berulang kali menurunkan bagian bawah roknya, supaya tak banyak memamerkan paha mulusnya. “Sejak kapan sih baju-baju ini sudah pada kecil… Begitu Mas Marwan dapet duit, aku harus beli banyak pakaian baru…”

Sebenarnya, bukan baju Citra yang menjadi sempit, tapi tubuhnyalah yang semakin gemuk. Mungkin karena ia sering ngemil, tubuh yang dulunya kurus sekarang berubah menjadi semakin semok. Dan karena hal itu, terkadang ia merasa kesulitan untuk menutup semua aurat tubuhnya.

Memang, di kantornya Citra dituntut untuk dapat selalu tampil mempesona. Blouse plus blazer serta rok pendek dan heels, menjadi pakaian sehari-harinya. Jadi tak heran, jika ketika Citra menunggu bis, ia selalu menjadi santapan mata-mata mesum setiap lelaki yang melewatinya. Rambut hitam panjang, wajah cantik menawan, bibir tipis yang selalu terlihat basah, serta kulit putih yang mulus, selalu dapat membuat Citra seperti bunga diantara lebah, dikerubutin banyak lelaki. Terlebih ukuran payudaranya yang besar, pinggulnya yang semok dan kakinya yang jenjang, mampu menjadi senjata mematikan bagi setiap lelaki yang mendekat.

“Pagi mbak Citraaaa… ” Terdengar suara berat seorang lelaki dari arah belakang, ” Pagi-pagi udah PANAS aja mbak…”

Merasa ada orang yang memanggil namanya, Citra segera mencari tahu siapa pemilik suara berat itu, berharap bukan pria iseng lagi. “Ee… Eeeh Mas Seto…” Jawab Citra begitu tahu si pemanggil itu adalah suami Anissa, tetangga satu kontrakannya.

Tampan, tegap, berkumis tipis dan memiliki senyum menawan. Seketika, Citra merasa terpana melihat ketampanan suami tetangganya itu. Walaupun mas Marwan tak kalah tampan namun entah kenapa pagi itu pesona seto mampu membuat Citra melupakan suaminya.

“Kok belum berangkat mbak…? Tanya Seto lagi.

Sejenak, Citra menatap Seto dari ujung rambut hingga ujung kaki. Rambut jabrik berjambang, jakun besar, berjaket kain tipis dilapis kemeja, celana kain dan sepatu kulit. “Jadi ini pria yang selalu membuat membuat berisik dirumah tetangga… Jadi seperti ini tampang lelaki yang selalu membuat puas Anissa…?”

Melihat Seto yang sedang berada didekatnya, tiba-tiba Citra teringat akan permainan cinta Seto dan Anissa tadi pagi yang begitu mengganggu, teringat desahan orgasme Seto dan Anissa yang dapat mereka raih berulang kali, teringat betapa Seto mampu membuat Marwan Emosi karena selalu dibanding-bandingkan.

“SILAKAN SAJA KAMU CARI KONTOL-KONTOL YANG JAUH LEBIH BESAR… SILAKAN SAJA KAMU MINTA DIENTOT AMA KONTOL-KONTOL PRIA LAIN YANG LEBIH KUAT

Sekilas Citra mengingat kalimat kasar suaminya tadi pagi. “Oke Mas… Adek bakal lakuin semua itu…” Ucap Citra dalam hati. “Jangan sampai kamu menyesal…”

Sakit memang hati Citra ketika tadi pagi Marwan membentaknya dengan kalimat kasar seperti itu. Tapi, setelah berulang kali dipikirkan, apa untungnya bersakit hati melulu, lebih baik jika Citra menyikapi sakit hati itu menjadi hal yang lebih menyenangkan untuk dirinya. “Okee… Adek bakal cari kontol pria lain yang lebih bisa MEMUASKAN dahaga birahi Adek…”.

“Loh.. Kok malah senyum-senyum sendiri… ” Kaget Seto, “Mbak… Jangan melamun mbak… Haloo…” Sapa Seto sambil melambai-lambaikan tangannya ke wajah Citra.

“Ee… Ehhh.. Iya… Kenapa mas…?” Jawab Citra kaget.

“Jangan melamun… Disini banyak copet… ”

“Aaa… Apanya yang mau dicopet mas…. Wong aku orang yang nggak punya apa-apa…”

“Heeehh… Jangan gitu aah… Mbak masih punya banyak barang berharga loh…”

“Barang apaan mas…?”

“Itu…” Jawab Seto sambil menunjuk ke arah Citra dengan dagunya.

“Hayoooo… Matanya nakal yaaa…” Jawab Citra malu-malu, sambil berusaha menutup bagian payudaranya dengan blazer.

“Hehehe.. Bukan tetek kamu mbaaak… Maksud aku, mbak khan masih punya kecantikan dan tubuh yang indah… Bagiku itu tak ternilai mahalnya loh…” Puji Seto tipu-tipu, sambil meneruskan melirik asset terbesar Citra yang membusung indah.

“Ooooo… Kirain kamu nunjuk-nunjuk tetek aku… Hihihi…”

“Hmmm… Sebenernya iya juga sih… Hehehehe… ” Canda Seto, ” Habisan, cowok mana sih mbak yang ga tertarik kalau melihat tetek segede itu…? Apalagi yang punya cantiknya banget-banget-banget…”

“Aaaaah Mas jago gombal juga…”

“Ya Ampun mbak… Jangan panggil aku mas dooonk.. Kaya udah tua aja… ” Kata Seto basa-basi, “Panggil aku Seto atau Set aja…”

“Set…?”

“Iya, Set… Asal jangan panggil aku Setan aja…”

Hihihihii… Ternyata kamu lucu juga yaa…” Tawa Citra cekikikan.

“Omong-omong kok belum berangkat mbak..?”

” Iya nih… Aku lagi nunggu bis…”

“Oalaaah…. Kirain tadi nungguin aku… Hehehe…” Jawab Seto sambil bercanda, “Nggak bakalan dateng mbak… Hari ini supir-supir bisnya pada demo…” Jelas Seto, “Kalo mau, mbak berangkat bareng ama aku aja… Kantor kita khan dekat…”

“Hmmmm… Okedeh….” Merasa tak ada cara lain yang lebih cepat selain menerima tawaran Seto, akhirnya Citra menerima ajakan itu.

Melihat tingkah Seto yang easy going, membuat Citra seketika itu langsung tertarik. “Ternyata… Seto playboy juga…. Kita lihat, sejauh apa kenakalannya…”

Bersambung

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED