Bab 2

Di kediaman Papa Bagaskara.

Malam telah menjelang, setelah kehilangan senja sore yang begitu indah di pandang mata, karena langit yang telah menggelap sempurna, dengan hiasan bintang yang menemani sang rembulan.

Terlihat Satria, duduk berselonjor diatas sofa kamarnya yang terlihat luas, tak mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya yang menyala di atas pangkuannya.

Karena dirinya yang tengah sibuk, membaca beberapa file yang di kirim oleh sekretarisnya lewat email.

Sebelum mengalihkan pandangannya, hanya sesaat karena suara ponselnya yang berdering di atas meja.

"Siapa sih?" gumamnya pelan, seraya meraih ponselnya tak mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya.

"Halo!" ucap Satria, sesaat setelah menggeser layar ponselnya, segera meletakkannya di telinga tak membaca nama yang tertera di dalamnya.

"Galak benar sih Yank?" protes wanita dari dalam ponselnya, menyentakkan hati Satria segera menutup layar laptopnya.

"Astaga Yank..., maaf ya aku nggak sengaja...," jawab Satria, dengan kekehan di bibirnya menyadari suara kekasih hatinya.

Azkia Caera 25 tahun, seorang pramugari yang selalu sibuk dengan jadwal terbangnya.

"Kenapa? ada apa?" tanya Satria.

"Nggak jadi!" ngambek Kia yang di sambut kembali dengan kekehan Satria.

"Jangan ngambek lah Yank..., maaf ya...," bujuk Satria, tak ingin wanita yang dicintainya marah, sebelum mengulaskan senyum termanisnya.

Karena mempannya permintaan maafnya, untuk menghilangkan rasa kesal di hati pujaan hatinya.

Satria Abraham, Direktur muda yang baru saja mengambil alih perusahaan Papanya, terlihat sangat dingin dan cuek untuk siapa saja yang tak mengenalnya.

Namun sangat sayang dan perhatian untuk orang-orang yang di kasihinya, termasuk kekasih hatinya, apapun pasti akan dia usahakan hanya untuk bisa membahagiakan wanita penghuni hatinya.

Setengah jam sudah waktu yang telah Satria habiskan untuk mengobrol bersama Azkia.

"Masuk," ucap Satria, mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamarnya yang terketuk.

Sebelum beradu pandang dengan Papa Bagaskara, sudah berdiri tegak di balik pintu kamarnya yang terbuka beradu pandang.

"Sibuk ya Sat?" tanya Papa Bagas, mengayunkan langkahnya mendekati putra tunggalnya.

"Aku tutup dulu ya Yank? ada Papa," ucap Satria kepada Kia, segera memutus panggilan teleponnya menatap Papanya.

"Nggak Pa, ada apa?" tanya Satria, meletakkan ponselnya di atas meja beradu pandang.

"Papa ingin bicara sama kamu," ucap Papa Bagas yang di sambut dengan anggukan pelan kepala anaknya.

Segera menurunkan kakinya, sesaat sebelum meletakkan laptopnya di atas meja.

"Bicara aja Pa," lanjut Satria, beradu pandang dengan Papa Bagaskara yang mengayunkan langkah hendak duduk di sofa kosong yang ada di sebelahnya.

"Papa ingin kamu nikah Sat," ucap Papa Bagas mengarutkan kening anaknya.

"Azkia belum siap nikah Pa, nanti satu satu tahun lagi katanya."

"Kelamaan! apa kamu ingin Papa meninggal dulu baru mau nikah?"

"Papa ini ngomong apa sih Pa?" protes Satria, merasa tak suka dengan kalimat Papanya.

"Makanya Sat! kamu nikah cepat! kalau memang pacar kamu itu belum siap, kamu bisa menikah sama wanita lain selain pacar kamu itu!" tegas Papa Bagas, semakin menyentakkan hati Satria.

"Ya nggak bisa seperti itu lah Pa! aku cintanya sama Azkia, nggak mungkin aku nikah sama perempuan lain selain Azkia!" jawab Satria.

"Papa sudah bicara sama Om Pras, Papa ingin melamar anaknya Alira untuk di nikahkan sama kamu!" lanjut Papa Bagas, semakin membulatkan mata anaknya menatapnya.

Dengan detak jantungnya yang berdetak sangat cepat, sama sekali tak menyangka dengan kalimat Papanya.

"Hari Minggu kita akan datang ke rumah Om Pras, kosongin jadwal kamu, dan Papa akan menyiapkan semuanya," tambah Papa Bagas, menciptakan senyum getir di bibir Satria.

Segera membuang pandangannya ke sembarang arah, sama sekali tak bisa percaya dengan kalimat yang baru di dengarnya.

"Papa bercanda kan?" jawab Satria, kembali mengalihkan pandanganya menatap Papanya.

"Papa serius Sat! Papa sangat ingin berbesan sama Om Pras!"

"Dan Papa ingin mengorbankan perasaan anak Papa untuk keinginan Papa itu?" protes Satria, dengan deru nafasnya yang mulai memburu, menahan emosi di hatinya.

Karena keinginan Papanya yang nggak masuk akal sangat jauh dari nalar.

Sebelum terdiam, karena wajah murung Papanya, dengan pandangan menerawang ke depan tak menatapnya.

"Tunggu satu tahun lagi ya Pa? aku akan menikahi Azkia," ucap Satria, dengan intonasi lirihnya mencoba untuk bernegosiasi sama Papanya.

Mengalihkan pandangan Papa Bagas menatapnya.

"Papa sangat ingin berbesan dengan Om Pras Sat, dan kamu satu-satunya anak Papa, kalau kamu nggak mau menikah sama Alira, apa kamu tahu betapa sedihnya Papa Sat?" jawab Papa Bagas, dengan wajahnya yang memelas mendesirkan hati anaknya.

Menghilangkan rasa kesal di hati Satria kembali membuang pandangannya ke sembarang arah.

Karena hatinya yang dilema, harus memilih satu di antara dua orang yang sangat dicintainya, antara Papanya atau kekasih hatinya.

"Kenapa kamu ninggalin Papa sih Setya? kamu yang paling menyayangi Papa, harusnya kamu masih hidup bersama dengan Papa di sini Ya, pasti kamu mau menikahi Alira demi kebahagiaan Papa," gumam Papa Bagas, kembali mengingat putra keduanya yang telah meninggal empat tahun yang lalu karena kecelakaan.

Semakin menyakiti hati Satria, karena kalimat papanya yang membuatnya merasa bersalah, menjadi anak durhaka yang tak bisa membahagiakan hati Papanya sendiri.

"Aku juga sayang Papa Pa!" ucap Satria, mengalihkan pandangan Papa Bagas menatapnya.

"Sayang gimana? nikah sama Alira saja kamu nggak mau!"

"Ya karena aku nggak mencintainya Pa! aku sudah punya Azkia!" jawab Satria menekankan.

Sebelum menghela nafasnya pelan karena kalimat Papanya.

"Bagaimana dengan keinginan Papa? kamu nggak ingin membahagiakan Papa?" ucap Papa Bagaskara, semakin mengecewakan hati Satria.

"Oke! aku akan kosongin jadwalku Pa! Minggu kan? kita akan datang ke rumah Om Pras," ucao Satria akhirnya.

Dengan hatinya yang penuh beban dan keterpaksaan menatap lekat manik mata Papa Bagaskara yang penuh binar.

"Kamu serius kan?" tanya Papa Bagas memastikan.

Tak membuat Satria bersuara, hanya mengangguk lemah membuang pandangannya ke sembarang arah.

"Kamu memang anak Papa Sat, terimakasih ya?" ucap Papa Bagas, menepuk pelan pundak anaknya yang tengah terluka.

"Papa keluar dulu ya? kamu juga turun, kita makan malam bersama," lanjut Papa Bagas antusias segera berdiri dari duduknya.

"Papa duluan aja, nanti aku nyusul," jawab Satria, menatap kepergian Papanya sebelum menjatuhkan tubuhnya di sandaran sofa.

"Ahhhh! br*ngsek!" dengus Satria kesal, kembali menegakkan duduknya menatap ke depan.

Memikirkan masa depannya yang akan berantakan, memikirkan kisah cintanya yang bisa saja kandas.

***

Sang Surya kembali datang dengan sinarnya yang masih begitu hangat, di hari Minggu yang tak pernah di tunggu pun tiba, Terlihat Alira, duduk terdiam di depan meja riasnya terlihat sendu dengan wajahnya yang terlihat sembab.

Hanya menatap dalam dirinya sendiri yang terlihat cantik dengan polesan make up tipis di wajah cantiknya, dari pantulan kaca rias yang ada di depannya, dengan bibirnya yang bergetar menahan rasa sesak yang begitu dalam menghimpit keras menyakitinya.

Memecahkan tangisannya, membiarkan air matanya mengalir, membasahi pipi putihnya menghilangkan make up tipis yang telah di polesnya.

Dengan bibirnya yang bergetar, tak ingin menyeka air matanya.

Sebuah aliran air matanya yang terus saja menetes, sebagai bentuk bukti baktinya kepada kedua orang tua yang sangat di sayanginya, kedua orang tua yang telah memaksanya untuk hidup bersama dengan lelaki yang tak pernah di inginkannya.

Sebelum mengalihkan pandangannya, ke arah ponselnya yang bergetar di atas meja rias yang ada di depannya.

Semakin menggetarkan bibirnya, menahan tangisnya yang semakin pecah membaca nama yang tertera di dalam layar ponselnya yang menyala.

"Adam...," gumamnya pelan tak mengalihkan pandangannya, semakin membuat bibirnya bergetar dengan tangisannya yang terisak.

"Ha...loo," ucap Alira, sesaat setelah menggeser layar ponselnya, dengan suara paraunya menjawab panggilan dari Adam, kekasih hatinya, penghuni hatinya.

"Halo Sayang..., kenapa suara kamu? kamu nangis ya? ada apa Ra? cerita sama aku," ucap Adam, dengan suara lembutnya semakin meyesakkan hati Alira.

Dengan air matanya yang mengalir, semakin deras membasahi pipi hingga ke bibirnya yang bergetar, tak mampu menjawab kalimat kekasihnya.

Karena hatinya yang terasa ngilu, membuat lidahnya menjadi kelu ingin sekali terisak dan berteriak untuk melegakan hatinya yang terasa sesak.

"Kenapa Sayang? ada masalah apa?" lirih Adam.

"Aku kangen Dam... aku kangen sama kamu...," jawab Alira akhirnya, dengan tangisannya yang terisak dan tergugu.

"Aku minta maaf Dam...," batin Alira, menepuk pelan dadanya ingin mengurai rasa sesak yang menghimpit perasaannya.

"Aku juga kangen Sayang," jawab Adam, menciptakan senyum getir di bibir Alira.

"Minggu depan aku pulang Sayang, kita ketemu ya? kita jalan-jalan berdua, kamu ingin kemana?" lanjut Adam, dengan intonasi lembutnya semakin menyakiti hati kekasihya.

"Ayolah Sayang, jangan nangis seperti itu, jangan membuatku menyesal karena tak bisa berada di samping kamu untuk memeluk dan menyeka air mata kamu,"

"Aku mencintai kamu Dam..., aku sangat mencintai kamu...," jawab Alira dengan suara paraunya tak ingin menyeka air matanya.

"Aku minta maaf," batin Alira lagi, kembali menepuk dadanya pelan ingin bisa bernafas, karena rasa sakit di hatinya yang begitu dalam meremas kuat perasaan membuatnya sesak.

"Aku lebih mencintai kamu Sayang," jawab Adam.

Sebelum pamit hendak memutus panggilan teleponnya, untuk melanjutkan tugas dan pekerjaannya yang terjeda.

"Aku tutup dulu ya Sayang, ini aku lagi lembur, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan," ucap Adam.

"Iya," lirih Alira.

"Sudah ya? jangan nangis lagi ya? nanti aku telepon lagi," bujuk Adam yang di sambut dengan anggukan kekasihnya yang tak dapat di lihatnya.

"Iya," jawab Alira lagi, tak mampu merangkai kata untuk menjawab kalimat kekasih hatinya.

Sebelum menurunkan ponsel yang di pakainya, meletakkannya di atas meja dengan tangisannya yang tergugu.

Karena rasa sakit dan sesak di hati yang menguasai, meremas kuat hatinya yang terluka dalam, di tambah dengan rasa bersalahnya yang sangat besar, kepada kekasih hatinya yang sangat mencintainya dan dicintainya.

Setelah sekian lama kisah cinta yang telah di rajutnya begitu indah penuh tawa dan kebahagian, dengan harapan di hatinya dan kekasihnya.

Ingin sekali menikah, membangun sebuah rumah tangga yang bahagia.

Naas, Tuhan ternyata tak memihak impiannya, tak ingin memihak perasaannya yang mencinta, menghancurkan impiannya bersama Adam, lelaki yang sangat di cintainya karena perjodohan yang tak di inginkannya.

Bersambung.

Bab 3

Sinar sang Surya mulai beranjak, namun tak terlalu naik bertemankan angin yang semilir menggoyangkan dedaunan yang tumbuh di halaman rumah Alira.

Tepat di saat pukul 10:00, terlihat sedan mewah Papa Bagaskara, melaju pelan memasuki pintu pagar rumah Alira yang terbuka, sebelum berhenti tepat di halaman rumah Alira yang cukup luas.

"Ayo masuk Sat!" ucap Papa Bagaskara, duduk di kursi belakang di samping anaknya.

Terlihat antusias ingin segera menemui calon besannya, sahabat baiknya sendiri.

Berbeda dengan Satria yang terlihat lesu, masih menyandarkan kepalanya di sandaran mobil tak ingin beranjak keluar dari mobil papanya.

"Ayo,"

"Aku masih belum yakin dengan keputusanku ini Pa!" lirih Satria, dengan wajah memelasnya, dengan harapannya yang sangat besar, bisa merubah pikiran Papanya.

"Sudah lah Sat! percaya sama Papa, Papa yakin kamu akan suka sama Alira, dia gadis baik juga cantik Sat! kamu nggak akan menyesal menikahinya!"

"Tapi aku nggak ada hati untuk dia Pa! aku mencintai Azkia!" jawab Satria, masih dengan tampang memelasnya mencoba menyentuh hati Papanya yang keras kepala.

Gagal, Papa Bagas masih tetap teguh dengan pendiriannya, sama sekali tak tersentuh dengan wajah melas putra tunggalnya.

Karena keinginan Papa Bagas yang begitu besar, ingin mendapatkan menantu sebaik dan secantik Alira.

Terlebih karena putri dari sahabatnya sendiri, membuatnya semakin yakin ingin segera meminang Alira sebagai menantu tunggalnya.

"Ayo cepat! itu Om Pras sudah kesini," lanjut Papa Bagas, segera turun dari mobilnya.

Menciptakan helaan nafas kasar di bibir Satria, mengacak rambutnya kesal karena rasa frustasinya yang meninggi.

"Assalamualaikum," ucap Papa Bagas, mengayunkan langkahnya mendekati Ayah Pras, segera menjabat dan memeluk tubuh calon besannya.

"Waalaikum salam," jawab Ayah Pras, mengulaskan senyum termanisnya, sebelum mengalihkan pandangan dan menjatuhkannya ke arah Satria yang baru turun dari mobil mendekatinya.

"Kenapa rambut kamu berantakan seperti itu Sat?" tanya Ayah Pras.

"Kena angin Om," jawab Satria asal, hanya memasang senyum tipis merapikan rambutnya sesaat setelah mencium tangan calon Papa mertuanya.

Menciptakan tawa di bibir Ayah Pras, segera mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam rumah.

Sementara itu di dalam sebuah kamar, Alira masih menangis, masih setia duduk di depan meja riasnya.

Sebelum mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamarnya yang terbuka, beradu pandang dengan Bu Rani yang terdiam di balik pintu menatapnya pilu.

"Calon suami kamu sudah datang Ra," lirih Bu Rani, mengayunkan langkahnya mendekati putri sulungnya.

Dengan rasa sakit di hatinya, menyayat perih perasannya beradu pandang dengan mata basah salah satu putri kesayangannya.

Putri yang selalu terlihat ceria, kini terlihat pilu dengan mata sembab menatapnya sendu.

Karena perjodohan yang di lakukan suaminya, karena hutang budi yang harus di bayar lunas oleh suaminya.

Ikut menitikan air matanya, membalas pelukan Alira yang berdiri dan berhambur ke dalam pelukannya.

"Aku nggak mau di lamar Bu! aku nggak mau di jodohkan...," ucap Alira, membenamkan wajah basahnya ke dalam pelukan ibunya, berusaha meminta dan memohon kebaikan hati wanita yang di sayanginya.

Menggetarkan bibir Bu Rani menahan tangis, seraya mencium puncak kepala putrinya mengeratkan pelukannya.

"Ibu sama Ayah minta maaf ya Ra..., kami minta maaf..."

"Aku nggak akan bisa bahagia Bu...! aku nggak mungkin bisa hidup bahagia bersama dengan orang asing, bersama dengan orang yang nggak aku kenal Bu," lanjutnya lagi, semakin terisak dengan tangisannya yang tergugu.

"Kamu mengenalnya Sayang, dia putra Om Bagaskara, kamu juga pernah bertemu dengan dia kan?" jawab Bu Rani yang di sambut dengan gelengan cepat kepala putrinya.

"Aku nggak mengenalnya Bu, aku hanya sekedar tahu, untuk bicara pun aku nggak pernah Bu..." lanjut Alira, masih dengan isakan tangisnya semakin tergugu.

Menahan gejolak rasa ego di dirinya, ingin sekali lari dari rumah, meninggalkan perjodohan paksa kedua orang tuanya.

Namun sayang, karena kelembutan hati yang dia punya, membuatnya tak berdaya untuk melawan, hanya bertahan di dalam kesedihan, penghancur impiannya bersama Adam.

Karena kasih sayangnya, rasa cintanya yang begitu besar kepada ayah dan ibunya.

Tak ingin mempermalukan kedua orang tuanya, terlebih karena dirinya yang tak ingin menyandang status durhaka, yang tak punya bakti untuk mengurangi beban hutang Budi di pundak Ayahnya.

"Kamu akan bahagia Ra, Ibu sangat yakin kamu akan bahagia, karena ibu sendiri yang akan meminta kepada Allah, Ibu akan selalu berdoa untuk kamu Ra, di setiap sujud Ibu, Ibu nggak akan pernah lupa menyebut nama kamu," ucap Bu Rani, membelai puncak kepala putrinya, menahan rasa ngilu di hatinya.

Dengan tatapan nanar lurus kedepan, sebelum beradu pandang dengan Alira yang menegakkan kepala menatapnya dalam.

"Aku mencintai Adam Bu, aku nggak mau putus sama Adam Bu, aku nggak mau..." lirih Alira, dengan bibirnya yang bergetar menatap pilu.

"Nggak semua cinta bisa menciptakan pernikahan Ra, tapi pernikahan yang sadar dan terencana yang akan menciptakan cinta, meskipun nggak sekarang, mungkin nanti, suatu hari nanti, di saat Allah sendiri yang membuka hati kalian berdua untuk saling mencintai," jawab Bu Rani, mencakup kedua pipi putrinya beradu pandang.

"Kamu hanya perlu bersahabat dengan Satria Sayang, bersikap baiklah sebagai seorang istri, ibu yakin kalian berdua akan bahagia." Lanjut Bu Rani, dengan intonasinya yang sangat lembut menyeka air mata di pipi putrinya.

Berusaha memberi kekuatan di hati Alira, dengan senyum tipis yang tersunging di bibirnya beradu pandang.

Sebelum merengkuh kembali tubuh putrinya, membawa Alira ke dalam pelukannya sesaat setelah mengecup puncak kepala putrinya dalam.

Berusaha menahan rasa sakit yang menyesakkan hatinya, karena dirinya yang tak tega melihat tangisan putrinya yang merana.

Sementara itu di ruang tamu, sudah ditemani beberapa hidangan yang tersaji dia atas meja, terlihat Papa Bagas sudah duduk di atas sofa.

Bersebelahan dengan putranya yang terlihat lesu tak bergairah, bersebrangan dengan Ayah Pras yang terlihat semringah menimpali setiap obrolannya.

"Rani sama Alira mana?" tanya Papa Bagas, mengedarkan pandangannya mencari keberadaan calon besan perempuan dan calon menantunya.

"Masih di kamar Alira, bantuin Alira dandan mungkin," jawab Ayah Pras, dengan tawa renyahnya menjawab pertanyaan sahabatnya.

"Assalamuaikum," ucap Bu Rani, mengayunkan langkahnya keluar dari dalam rumah menemui calon besan dan menantunya.

Sudah tak ada lagi air mata, yang ada hanya senyum tipis yang di ulaskannya, sebagai bentuk sopan santunnya kepada tamu yang harus di sambutnya.

"Waalaikum salam," jawab semua nya, mengalihkan pandangan kompak menatap Bu Rani.

"Alira mana?" tanya Ayah Pras, beradu pandang dengan istrinya yang baru saja selesai menjabat tangan kedua tamunya bergantian.

"Itu Yah, Alira masih ada di kamar, lagi nggak enak badan," jawab Bu Rani, seraya mengayunkan langkahnya hendak duduk di samping Ayah Pras mengerutkan kening suaminya.

"Alira sakit?" tanya Papa Bagas yang di sambut dengan anggukan pelan kepala Bu Rani.

"Iya, masuk angin Mas, jadi belum bisa menemui Mas Bagas sama Satria, kalau Mas Bagas nggak keberatan kita bisa mendiskusikan pernikahan anak kita tanpa Alira, " jawab Bu Rani yang di jawab dengan anggukan pelan calon besannya.

"Nggak papa, ini langsung saja ya Pras, Ran, aku ingin pernikahan putra putri kita di percepat, karena aku sudah nggak sabar ingin segera menggendong cucu," ucap Papa Bagas, menyentakkan hati Anaknya.

"Pa," panggil Satria menatap Papanya.

Bersamaan dengan gerakan kepala Ayah Pras dan Mama Rani yang menoleh beradu pandang.

"Papa ingin cepat punya cucu Sat! usia Papa sudah nggak muda lagi, jadi Papa ingin menggendong cucu dulu sebelum meninggal,"

"Astaga... meninggal lagi! meninggal lagi!" batin Satria frustasi, membuang pandangannya ke sembarang arah menahan kesal.

"Kapan Mas?" tanya Papa Pras.

"Bulan depan gimana?" jawab Papa Bagas.

"Ya Tuhan....!" batin Satria, menundukkan kepalanya, memejamkan matanya dalam menggosok dahinya pelan.

"Ayolah Pa, terlalu cepat...," melas Satria, mengalihkan pandangan papanya beradu pandang.

"Ya sudah tiga Minggu lagi,"

"Jangan bercanda lah Pa...,"

"Dua Minggu lagi!"

"Oke satu bulan lagi!" jawab Satria akhirnya, dengan rasa frustasinya yang meninggi mengakhiri.

Tak ingin lagi berdebat, karena gejolak rasa di hati, berusaha keras untuk menahan rasa kesal yang menguasai.

"Gimana Pras? Ran? kalian setuju kan kalau acara pernikahannya bulan depan?" tanya Papa Bagas, dengan senyum penuh harap, menatap kedua calon besannya bergantian.

"Terserah kamu saja Mas," jawab Ayah Pras, dengan senyum tipisnya beradu pandang.

***

Langit mulai menggelap tanpa sinar dari sang bintang dan rembulan, karena mendung yang menggantung bertemankan petir sebagai pertanda hujan akan turun.

Terlihat Alira, hanya berbaring di atas ranjang selepas melakukan kewajibannya kepada Tuhannya.

Tak ingin bangun dari tidurnya karena rasa lelah yang menguasainya, lelah akan tangisannya, akibat pupusnya harapan untuk masa depannya.

Yang ada hanya rasa pasrah, pasrah meskipun suram, pasrah meskipun menyakitkan.

Tok tok tok

Suara ketukan pintu kamarnya, tak membuatnya bergerak, hanya terdiam memejamkan matanya.

"Lira...," panggil Bu Rani, sesaat setelah membuka pintu kamar putrinya yang tak terkunci.

Sebelum mengayunkan langkahnya, hendak duduk di tepi ranjang mendekati Alira.

"Ibu sudah masak makanan kesukaan kamu, kamu makan dulu ya? sudah di tunggu ayah sama adik kamu di meja makan," lirih Bu Rani, menyentuh kaki putrinya.

"Aku nggak lapar Bu," jawab Alira masih memejamkan matanya tak menggerakkan tubuhnya.

Menciptakan helaan nafas di bibir Bu Rani, membenarkan posisi tubuhnya, mengalihkan pandangannya lurus ke depan.

"Om Bagas ingin pernikahan kalian di percepat, dan Ayah kamu juga sudah menyetujuinya." Lirih Bu Rani, menahan buliran bening di balik kelopak matanya tak mengalihkan pandangannya.

Membuka mata Alira, tak merubah posisi tidurnya membelakangi Ibunya.

"Kapan Bu?" lirih Alira.

"Satu bulan lagi," jawab Bu Rani.

Tak membuat Alira bersuara, hanya memejamkan matanya dalam, menitikan buliran bening di mata indahnya.

Menahan rasa sesak di hatinya, kembali menyeruak menyakiti perasaannya, karena harapannya yang telah pupus, karena impiannya yang telah hancur.

Bersambung.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED