Happy Reading
***
Mobil Jeff memasuki pelataran parkir tower office tempatnya bekerja. Ia mencari parkiran kosong, setelah memarkir mobilnya secara sempurna, ia mematikan mesin mobil. Jeff melepaskan sabuk pengaman, ia menatap wajah cantik wanita bernama Sarah di layar ponselnya.
Di dalam bio itu tertulis nama Sarah, statusnya kuliah di Harvard University dan tidak tertera pekerjaanya. Melihat status kuliahnya, ia yakin wanita itu terpelajar dan orang pilihan yang bisa masuk ke sana. Ia tahu Harvard merupakan universitas top dunia. Betapa susahnya masuk di sana, perlu kerja keras untuk mencapainya. Ia juga tahu bahwa di sana, akan berhadapan dengan jenius-jenius dunia yang memiliki etos kerja yang sangat tinggi.
Dulu ia merupakan alumni dari Standford University. Ia bersyukur bisa menjadi almamater di sana. Orang-orang di sana sangat inspirasional, entah itu dosen, pembicara maupun mahasiswa. Teman asramanya dulu juga sangat competitor rubiks cube Internasional. Menyelesaikan e rubiks cube sambil juggling cube-cube tersebut. Tujuan ia kuliah di sana yaitu networking sebanyak-banyaknya, kenali banyak teman koneksi jauh lebih penting dari pada kemampuan asli.
Sekarang ia bisa duduk di kursi ini, berkat kerja kerasnya selama ini. Ia membangun perusahaan perdagangan elektronik atau yang sering disebut dengan toko daring, sejak sembilan tahun yang lalu. Kini Tokopedio bertransformasi menjadi sebuah unicorn yang berpengaruh, tidak hanya di Indonesia tatapi juga sudah se-Asia Tenggara.
Ia mendirikan ini untuk membangun negri, ia tahu bahwa tingginya urbanisasi menggiring barang-barang kebutuhan terkumpul di kota-kota besar, sekarang ia menghentikan permasalahan negara ini, untuk memperpendek jurang pemisah antara kota besar dan kota kecil.
Ia tahu bahwa pemerataan ekonomi digital dengan memotivasi masyarakat Indonesia untuk berjualan secara online. Inisiatif ini dilakukan dengan membangun platform yang mungkin setiap orang dapat memulai dan menemukan apapun di sana. Dan kegiatan ini didikung penuh oleh pemerintah bahkan pak Presiden mengapresiasi dirinya yang sudah membangun platform ini.
Oke, ia kembali lagi dengan wanita bernama Sarah, jujur ia hanya iseng mendwonload aplikasi pencari jodoh ini. Di antara semua cewek yang ia swipe dan ia hanya tertarik dengan wanita bernama Sarah. Dia memiliki hidung mancung kecil, kulitnya putih, wajanya berbentuk V alami, ia tidak tahu wanita itu mengenakan filter apa tidak. Yang pasti dia terlihat sangat menarik di matanya.
Beberapa pesan masuk, namun pesan terakhir dari Sarah belum di balas. Padahal ia ingin tanya pekerjaan wanita itu apa. Ia meletakan ponselnya di meja, ia menatap ke arah jendela, memandang gedung pencakar langit dari ketinggian. Ia menyesap kopi hitam tanpa gula favorite nya.
Setelah itu ia letakan lagi cangkir itu di meja, ia melihat sekretarisnya membawakan setumpuk laporan yang harus ia tanda tangani.
“Pak, ini laporannya,” ucap Renata sekretarisnya.
“Terima kasih,” ucap Jeff.
“Oiya, pak, nanti jam sepuluh ada meeting, tentang Blog Tokopedio Product.”
“Iya, terima kasih sudah mengingatkan saya.”
Jeff melihat Renata kembali keruangannya. Jeff melihat laporan-laporan yang ada di meja kerjanya. Ia menandatangi semua berkas itu. Setelah semuanya beres. Beberapa jam kemudian ia bersiap-siap untuk pergi meeting.
Jeff keluar dari ruangannya, ia menatap Renata yang sudah berdiri di pintu ruangannya. Mereka lalu keluar dari ruangan. Rutinitas yang selalu ia kerjakan setiap harinya, tidak kata bosan untuk sebuah kerja keras. Ia percaya bahwa semakin keras bekerja untuk sesuatu, semakin besar untuk mencapainya.
***
Tepat jam sebelas Jeff sudah menyelesaikan meeting. Ia melihat ponselnya bergetar, ia menatap nama Sarah di sana. Ia bersyukur wanita itu sudah membalas pesan singkatnya.
Sarah : “Maaf, baru balas. Tadi saya baru selesai meeting.”
Jeff menyungging senyum, ia melangkah menuju ruangannya, ia melirik Renata sudah masuk ke office, wanita itu mungkin bersiap-siap untuk break. Sementara dirinya biasa selalu meminta OB untuk membelikan makanan saat jam makan siang di restoran favorite nya.
Jeff : “Saya juga baru selesai meeting. Pertanyaan saya tadi, kamu kerja apa?”
Jeff bersandar di kursi, ia menekan intercom dan menelfon OB.
“Iya, halo. Ada yang bisa saya bantu pak?”
“Tomi, saya pesan makan siang seperti biasa ya.”
“Baik pak.”
“Terima kasih.”
Jeff lalu mematikan sambungan telfonnya. Jujur sebenarnya ia bisa saja istirahat dengan Renata sekretarisnya, makan di restoran fancy yang sering dilakukan boss-boss di luar sana. Namun ia ingin bekerja secara professional. Ia menjaga jarak hubungan dirinya dan sekretarisnya.
Mungkin di luar sana banyak sekali boss-boss yang akan menggandengan sekretarisnya kemanpun ia pergi. Ia dan Renata hanya sebatas rekan kerja tidak lebih. Ia hanya ingin menciptakan ruang kerja yang sehat, tanpa adanya urusan personal jika terlalu dekat dengan Renata.
Jeff melihat ponselnya kembali bergetar ia melihat nama Sarah di ponselnya.
Sarah : “I'm a restaurant owner, tadi saya habis meeting dengan manager outlet.”
Alis Jeff terangkat, ia menyungging senyum mendengar bahwa wanita itu pemilik dari sebuah restoran. Ia percaya bahwa wanita itu pasti memiliki branding yang kuat. Ada perasaan tertarik untuk mendekatinya.
Jeff : “Can I have your whatsapp number?”
Sarah : “Of course, 08120100xxx”
Jeff menyungging senyum akhirnya ia bisa mendapatkan nomor ponsel milik Sarah. Ia tidak tahu kenapa ia memilih mencari teman wanita di aplikasi pencari jodoh ini. Karena alasannya iseng, aplikasi itu berseliweran di ponselnya dan marketing sangat baik, sehingga ia tertarik untuk mendowonloadnya di app store.
Jeff menyimpan nomor ponsel itu di dalam ponselnya, lalu ia memberinya nama Sarah di sana. Semoga saja hubungannya dengan Sarah berjalan dengan baik, itulah harapannya. Jeff menekan tombol hijau pada layar ponsel, ia menunggu sang pemilik ponsel mengangkat panggilannya.
“Iya, halo,” ucap seorang wanita di balik speaker nya.
Oh God, ia mendengar suara merdu menyapanya, ia tidak menyangka bahwa suara Sarah sebagus ini.
“Hai, Sarah. Saya Jeff, yang tadi di Tinder.”
“Hai Jeff,” ucap Sarah.
***
Happy Reading
***
Viola tidak menyangka bahwa yang menghubunginya itu adalah pria yang baru ia kenal di Tinder. Ia masih speechlees karena baru berkenalan, pria itu langsung menelfonnya. Biasanya habis dari tinder, langsung beralih ke chat whatsapp jika cocok. Tidak langsung menelfon seperti ini.
Ia tahu tipe-tipe pria di aplikasi online seperti apa. Pria-pria di sana ada yang suka short relationship, yang hanya ingin one night stand ada juga yang malas basa-basi. Padahal ia tahu bahwa dating app ini diisi dengan orang-orang yang cuma mau have sex.
Baginya keamanan dan kenyamanan tetaplah yang utama. Menurutnya si Jeff ini salah satu tipe pemaksa baru saja sapa di chatroom, kini lalu sudah menelfon. Meminta nomor WA, langsung menelfon, nanti pasti minta akun social media. Lalu berlanjut melakukan sesuatu yang belum apa-apa, misalnya hanya ingin having sex.
Come on, mereka hanyalah orang asing yang berupaya untuk saling mengenal. Tapi sudah bar-bar seperti ini. Apakah pria ini penipu? Akhir-akhir ini banyak sekali kasus penipuan dari mulai dari crypto, arisan maupun media online seperti ini. Apakah ia harus mengakhiri ini demi keamanan dirinya. Namun ia masih penasaran.
“Sarah …” ucap Jeff.
“Iya,” ucap Viola, ia menegguk air mineral dari botol.
“Bagaimana kerjaan kamu?” Tanya Jeff lagi.
“Baik, lancar. Kamu bagaimana?” Tidak sopan rasanya jika ia tidak balik bertanya.
“Baik juga,” ucap Jeff, ia menyesap kopinya.
“Maaf ya, saya langsung menghubungi kamu, kebetulan tadi saya iseng download aplikasi ini , karena dia berseliweran di branda google saya.”
“Ah, nggak apa-apa kok, saya juga iseng,” Viola terkekeh.
“Sama dong kalau begitu.”
“Sepertinya begitu.”
Jeff menarik nafas, “Kamu punya restoran apa?” Tanya Jeff penasaran, ia bersandar di sisi kursi, ia melihat OB masuk ke dalam ruangannya.
“Saya punya restoran cepat saji, Jeff.”
Jeff memandang OB masuk ke ruangannya, membawa paperbag berwarna coklat yang berisi makanannya.
“Pak, ini pesanan bapak.”
“Terima kasih,” ucap Jeff, ia memandang OB sudah menjauhinya dan menghilang dari balik pintu.
“Maaf, ya tadi ada OB saya, ngantarin makan.”
Otak Viola mulai berpikir, apa benar dia memiliki OB? Atau hanya acting agar ia percaya? Viola masih yakin bahwa pria itu bukan founder Tokopedio. Logika saja, mana ada pria kaya raya bermain dating app, apa dia tidak punya kerjaan? Apa wanita di luar sana tidak ada yang menyukainya? Itu rasanya sangat mustahil. Pria-pria yang berada di dating app, tidak lebih hanya karyawan biasa yang kesulitan mendapatkan kekasih. Fix’s ini adalah sebuah penipuan.
Viola lalu mengetik nama Jeff Tokopedio. Lalu di keluar dihalaman beranda google, ia membaca profil itu. Ia tahu pria itu bernama Jeff, apakah dia benaran Jeff yang ada di beranda google. Masalahnya banyak sekali sekarang mengaku-ngaku. Wajah itu memangg sama dengan yang ada di profil dating app.
Jeff Bastian lahir 11 Oktober, merupakan seorang pengusaha Indonesia yang juga merupakan pendiri Tokopedio, sebuah situs web perdagangan elektronik yang penggunaanya untuk membeli barang secara daring. Dikenal karena pendiri sekaligus CEO Tokopedio. Almamater Stanford University.
Viola lalu mulai berpikir, apa pria yang ia searching ini yang menelfonnya. Namun rasanya sangat tidak mungkin, pria itu pasti sangat berbohong, mana ada seorang CEO bermain tinder, kecuali CEO gadungan seperti di film The Tinder Swindler.
“Ah, nggak apa-apa kok,” ucap Viola.
“Saya lihat di bio kamu, lulusan Harvard?” Tanya Jeff.
Viola menelan ludah, sebenarnya isi sembarang saja menulis bahwa ia lulusan Harvard. ia mengubah semua data di bionya. Ia bukan lulusan universitas top dunia itu melainkan hanya lulusan Universitas Negri Jakarta. Oh Tuhan, kuliah di sana hanya mimpi untuknya.
“Iya,” ucap Viola terkekeh.
“Good, berarti cocok sama saya. Saya di Standford dulu.”
Viola menyungging senyum, ia mengisi itu tidak sengaja membaca artikel Maudy Ayunda yang bingung memilih Stanford apa Harvard. Karena semua orang mengelu-elukan anak bangsa yang diterima di universitas terbaik di dunia, sesuatu banget pokoknya. Maudy itu berasal dari keluarga berada, sekolah di sekolah Internasional, kemungkinan dia buat masuk Ivy league itu besar.
Ivy League itu asosiasi yang terdiri dari 8 universitas top Amerika Serikat, istilah ivy Leaugue mempunya konotasi kesempurnaan akademis dan elitism akademis. Anggotanya disebut Ancient Eight. Masuk ke sana untuk yang cerdas dan pekerja keras menurutnya. Di luar semua privilege yang di punya, dia terus berusaha bisa masuk. That's why she deserves it.
“Oiya, bisa bertemu?” Tanya Jeff.
Alis Viola terangkat mendengar Jeff ingin bertemu dengannya. OMG! Secepat itukah pria itu ingin meet up.
“Soalnya lebih enak kalau ngobrol langsung,” ucap Jeff.
Viola menarik nafas, ia melirik Emi yang sedang mengerjakan laporannya.
“Iya benar, jam pulang kerja saja bagaimana?” Ucap Viola menyetujui ajakan Jeff, lagian ketika pulang kerja ia tidak memiliki kesibukan apapun.
“Kita ketemu di Sofia at The Gunawarman.”
”Iya, boleh,” Viola mau tidak mau menyetuji ajakan pria itu. Baginya untuk bertemu seperti ini terkesan buru-buru untuk dating app.
“Terima kasih.”
“Oiya, saya lunch dulu Jeff. Nanti kasih tau kamu, kalau sudah sampai di sana.”
“Yaudah kalau begitu. Have nice day, Sarah.”
“Sama-sama Jeff.”
Viola mematikan sambungan telfonnya, ia memandang Emi. Ia tidak habis pikir kenapa pria itu ingin segera bertemu dengannya.
“Siapa?” Tanya Emi.
“Si Jeff yang dia bilang founder Tokopedio itu mau ketemu gue.”
Alis Emi terangkat, “Serius?”
“Iya serius lah, masa boongan.”
“Terus lo mau?”
“Mau.”
“Cuma gue masih ragu nih, tuh orang kayaknya kang tipu,” ucap Viola.
“Iya bener banget! Hari gini CEO nyari jodoh di Tinder, itu kan nggak banget,” Emi membenarkan.
“Nah itu pikiran gue. Tukang boong pasti.”
“Bener banget!”
“Lo mau ketemu di mana?” Tanya Emi penasaran.
“Dia bilang sih di Sofia.”
“Oke, sih kalau di Sofia. Setidaknya itu tempat umum, rame, lo aman kalau ada apa-apa. Asal jangan diajak staycation atau chek in aja.”
“Ya, nggak mungkin lah gue gitu. Gue juga penasaran si Jeff yang ngaku-ngaku jadi CEO nya Tokopedio. Kayaknya itu tuh aneh banget nggak sih. CEO gila mana yang main Tinder. Modelan kayak mereka mah, biasa nggak perlu nyari, cewek datang sendiri.”
“Bener banget.”
“Udahlah, palingan itu cowok gadungan ngaku-ngaku,” timpal Emi.
“Setuju sama lo!”
Emi beranjak dari kursinya, “Lunch yuk, gue pengen makan ramen deh di Sushi Tei.”
“Oke.”
***