Wanita berparas cantik dengan pakaian sederhana tersebut pun menoleh. "Maaf, ada yang bisa saya bantu?" ucapnya dengan ramah.
Kedua pria tersebut saling tatap, mereka heran dengan wanita yang ada di depan mereka. Seolah tak mengenali kedua pria yang setiap hatinya melayaninya, dan cara bicara pun sudah berubah.
"Nona Asley, nona muda Jeslyn sangat merindukan anda, dan tuan Adam sangat marah karena anda yang meninggalkan rumah begitu saja, di tambah anda telah berbohong dan tertangkap basah tengah berselingkuh. Jadi, sebaiknya anda segera ikut kami pulang sebelum tuan muda benar-benar tak bisa lagi memaafkan anda."
"Emm, maaf aku tidak mengerti maksud kalian. Sepertinya kalian salah orang. Namaku Alin, bukan Asley," jawab wanita yang mengaku bernama Alin dengan nada bicara yang sangat lembut.
Kedua pria tersebut kembali saling tatap, lalu salah satu dari mereka menatap ke arah Alin. "Nona Asley, tolong jangan berpura-pura lagi, waktu anda untuk bersantai dengan bebas sudah selesai, dan kami merasa lelah mencari anda selama ini."
"Sudah aku katakan namaku bukan Asley, tapi Alin. Sebenarnya siapa kalian ini?" tanya Alin.
"Mungkin dia sedang pura-pura, atau mungkin lupa ingatan," bisik salah satu pria pada rekannya.
"Kita pakai cara berikutnya saja. Aku tidak mau buang-buang waktu." Rekannya tersebut pun mengangguk, dan mereka berlalu tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Ck, dasar orang-orang aneh," gumam Alin sambil menggelengkan kepalanya.
Alin, kembali bekerja di toko bunga seperti biasa. Setelah sore, ia pun pulang melewati jalan yang biasa ia lewati. Namun hari ini sesuatu yang tak pernah ia duga terjadi padanya.
Sebuah mobil mengikutinya, lalu berhenti tak jauh di depannya, tepat di tempat yang sepi. Alin tak begitu curiga melihat pria yang ia temui siang tadi. Pria tersebut melangkah cepat menghampiri Alin, dan saat Alin melihat tangan pria tersebut yang menggenggam sebuah sapu tangan, saat itu juga firasat Alin mulai tak baik.
Alin berbalik arah dan hendak berlari, sayangnya pria tersebut lebih cepat mendapatkannya, dan langsung membekap mulutnya sebelum ia sempat berteriak meminta pertolongan.
Alin limbung dan langsung tak sadarkan diri. Ia dibawa ke dalam mobil dan dibawa ke suatu tempat.
Adam menatap wanita yang menjadi istrinya tersebut, yang kini terbaring di atas ranjang tak sadarkan diri. Tatapan Adam penuh amarah yang tak terbendung lagi.
"Apa kamu pikir dengan berpenampilan seperti ini akan membuat aku tak mengenalimu?" gumamnya.
Dengan penuh kekesalan Adam menaiki ranjang, dan menindih kaki gadis tersebut.
Merasa ada seseorang di atas tubuhnya, Alin pun membuka mata. Ia sangat terkejut saat menyadari apa yang sedang terjadi. "Kamu siapa?" ucapnya lirih penuh kepanikan.
"Jangan berusaha membodohiku. Katakan padaku apa alasanmu menghianatiku, Asley!" bentak Adam.
"Aku bukan Asley. Kamu salah orang."
"Diam!" bentak Adam. Ia menggapai pipi Alin dan mencengkramnya kuat. "Jangan berusaha membodohiku Asley! Kamu tahu siapa aku dan tahu bagaimana perjanjian kita! Kamu mencari laki-laki lain hanya karena kurang puas denganku, hah!" bentak Adam kembali.
"Apa maksud— emm," ucapan Alin terpotong saat Adam langsung menyambar bibirnya. Sayangnya tubuhnya masih lemas hingga membuatnya tak bisa melawan.
"Eeemmm!" rintih Alin berusaha menghindar dari ciuman Adam. Namun alih-alih berhenti, Adam justru semakin mengganas. Ia terus mencumbui Alin penuh nafsu dan amarah. Pengkhianatan yang di lakukan Asley kelewat batas dan tanpa ampun.
"Aku mohon hentikan, aku bukan wanita yang kamu maksud," ucap Alin,rapi tak dihiraukan Adam.
Adam melepas semua pakaian Alin hingga membuat gadis tersebut tak memakai sehelai kain pun.
"Aku mohon dengarkan aku, kamu salah orang," ucap Alin lirih di tengah serangan Adam. "Tolong hentikan," ucapnya kembali tanpa mendapat kepedulian dari Adam.
"Ini yang kamu inginkan! Ini yang kamu mau hingga lebih memilih berkhianat, hah? Sudah aku katakan jangan pernah menghianatiku, maka apapun yang kamu inginkan akan kamu dapatkan. Tapi kenyataannya apa?" ucap Adam sambil terus menghujam Alin.
Alin hanya bisa menangis, tubuhnya yang baru sadar dari pingsan tak bisa memberontak sedikitpun. Ia hanya bisa menangis menerima hujaman dari Adam yang tak kunjung berhenti.
Sakit di tubuh dan hatinya menjadi satu. Ia sama sekali tak mengenal pria yang kini tengah menikmati tubuhnya, tapi ia pun tak bisa menghentikannya, dan itulah yang membuat ia semakin hancur.
Berbeda dengan Adam yang mengira jika saat ini ia tengah memberikan hukuman pada Asley, istri yang telah membuat ia murka dengan pengkhianatannya.
"Aaahkkk….!" Adam mengerang saat ia sampai puncaknya. Namun ada hal yang mengejutkannya setelah ia menarik tubuh dari tautannya pada Alin.
Sebuah bercak merah yang menodai sprei putih membuatnya terdiam sesaat. Ia menatap ke arah Alin yang terkulai lemas dengan isakan dan air mata di wajahnya.
Adam yang tak peduli akan perasaan Alin menunjukan betapa egois dan arogannya dia. Ia mengambil pakaiannya dan berlalu pergi meninggalkan kamar begitu saja. Menuruni anak tangga dengan langkah tanpa rasa bersalah.
"Kamu memaafkannya?" tanya seorang wanita membuat Adam menghentikan langkahnya.
"Ya," jawab Adam singkat sambil menatap wanita yang tak lain adalah Linda, ibunya.
"Adam, bagaimana bisa kamu memaafkan wanita jalang itu! Dia menghianatimu!" pekik Chelsea, wanita yang sangat di inginkan Linda untuk jadi menantunya. Sayangnya Adam selalu menolak dan tak pernah peduli dengan keinginan sang ibu.
"Karena Jeslyn membutuhkan ibunya," jawab Adam.
"Dia bukan ibu kandung Jeslyn, Adam!" pekik Chelsea kembali.
Adam menoleh ke arahnya sambil menyunggingkan senyuman. "Bagiku dia adalah ibu Jeslyn saat ini," ucapnya sambil kembali mengayunkan langkah kaki.
"Kamu mau kemana?" tanya Linda kembali membuat Adam menghentikan langkah.
"Mencari ketenangan," jawab Adam. Ia hendak melangkahkan kakinya kembali, tapi terhenti seketika dan kembali menoleh ke arah sang ibu. "Aku harap mama bisa memberi tahu semua orang agar tidak masuk ke kamar Ashley. Siapapun termasuk dia," ucap Adam sambil menatap ke arah Chelsea.
Adam berlalu tanpa menoleh kembali, sementara Linda hanya bisa menghela nafas menahan kesalnya. Andai saja semua harta peninggalan suaminya atas namanya, mungkin dia tidak akan semenurut dan setakut itu terhadap Adam.
"Tante, apa yang harus kita lakukan?" tanya Chelsea merengek seperti anak kecil.
Linda hanya melirik ke arah Chelsea, laku kembali duduk. Ia menatap ke lantai atas dengan perasaan kesal.
"Adi bilang jika mobil wanita jalang itu masuk jurang bersama pacarnya, dan ia memastikan jika mereka tidak mungkin selamat. Tapi kenapa kenyataannya si jalang itu baik-baik saja?" ucap Linda.
"Mungkin dia pura-pura mati agar Adam memaafkannya, tante," sahut Chelsea.
"Dia benar-benar wanita licik dan sangat pintar bersandiwara," ucap Linda kembali.
Sementara di kamar, gadis yang dianggap sebagai Asley kini tengah berusaha menggapai pakaiannya. Berjalan setengah menyeret badan menuju kamar mandi, memeluk pakaian yang terlepas secara paksa dari tubuhnya, di iringi air mata yang tak kunjung berhenti.
Ia membersihkan tubuhnya yang terasa sudah menjadi hina baginya. Menangis dan semakin menangis kala mengingat kesucian yang sudah di renggut paksa oleh pria yang baru pertama kali ia temui.
Ia kembali menaiki ranjang, meski tak tahu persis di mana ia saat ini. Namun yang pasti saat ini yang ia inginkan adalah beristirahat.
Alin kembali membuka matanya. Melihat waktu di jam dinding yang menunjukan pukul enam pagi. Ia turun dari ranjang, meringis kesakitan di bagian intimnya, lalu kembali menyeka air matanya.
"Aku harus segera pergi dari tempat ini," ucapnya. Ia mencari tas kecil miliknya, tapi di setiap sudut kamar tak ia temukan. "Apa mungkin mereka sudah membuangnya?" gumam Alin kembali.
Ia yang kini merasa lebih baik, memberanikan diri untuk keluar dari kamar. Ia tak peduli lagi dimana mereka menyimpan tas miliknya. Yang terpenting saat ini adalah meninggalkan tempat asing yang bagai neraka baginya itu.
Alin memberanikan diri keluar kamar, tapi ia sangat terkejut mendapati rumah yang ternyata sangat besar dan mewah. Ia melangkah, mengendalikan seperti maling menuruni tangga. Sakit di bagian intim tak ia pedulikan, meski terasa sangat perih.
"Apa kamu mencoba kabur?"
Sura Linda mengagetkan Alin, ia pun segera menoleh ke arah suara tersebut yang berada di atas anak tangga.
Linda menuruni anak tangga, mendekat ke arah Alin yang berhenti di tengah anak tangga. "Setelah kabur dengan pria lain, sekarang kembali dengan penuh kepura-puraan. Heh, dasar tidak tahu malu," ucap Linda sambil menyunggingkan senyuman.
"Maaf, tapi aku benar-benar tidak tahu apa yang anda katakan. Aku hanya ingin pergi dari sini, dan—"
"Pergilah. Pergi dan jangan pernah kembali," ucap Linda memotong ucapan Alin. "Aku rasa aku tidak perlu menunjukan di mana letak pintu rumah padamu," imbuhnya.
Alin menggeleng. Ia tidak tahu persis wanita yang ada di hadapannya, tapi ia yakin jika wanita tersebut tak lebih baik dari pria yang memperkosanya. Ia pun memilih untuk menghindar daripada menambah masalah, kembali melangkah menuruni anak tangga.
Namun sayangnya baru beberapa langkah ia menuruni anak tangga,Linda sambil menyunggingkan senyum tiba-tiba mendorongnya dari belakang.
"Aaahkkk……!" pekik Alin saat tubuhnya menggelinding menuruni anak tangga. Meski anak tangga itu sudah tidak terlalu tinggi, tapi tetap saja hal tersebut berhasil menambah rasa sakit di tubuhnya.
Alin meringkuk di bawah tangga kesakitan, tapi tak ada yang datang menolongnya, meski beberapa pelayan melihatnya.
Linda dengan santainya menuruni anak tangga, lalu mensejajarkan tubuhnya pada Alin. "Jangan terlalu banyak sandiwara, jalang," ucap Linda lalu berdiri tanpa terlihat iba sesikitpun, ia bahkan berjalan melangkahi tubuh Alin yang tengah kesakitan dan membiarkannya terkulai di lantai.
Setelah Linda pergi, baru ada seorang pelayan yang mendekat ke arah Alin. "Nona Asley, apa anda baik-baik saja," ucapnya sambil membantu Alin untuk berdiri.
"Kenapa semua orang menganggapku sebagai Asley?" tanya Alin.
"Memangnya anda bukan nona Asley?" tanya Pelayan tersebut yang langsung di jawab gelengan kepala Alin.
Kleeekkkk….
Pintu rumah terbuka. "Apa yang terjadi?" tanya Adam yang sepertinya baru pulang pagi ini.